Your browser does not support JavaScript!
 22 Aug 2017    15:00 WIB
Vaksin HPV Mampu Cegah Kanker Serviks Makin Parah?
Seperti yang Kita ketahui ada semboyan yang mengatakan "Mencegah lebih baik dari pada mengobati". Hal ini juga berlaku untuk mencegah terjadinya risiko kanker. Penyakit Kanker yang sering dialami wanita adalah kanker payudara dan kanker serviks (kanker leher rahim). Namun dewasa ini masih banyak wanita yang enggan memeriksakan diri ke dokter kandungan, kendati sudah memiliki berbagai keluhan. Padahal, bila seorang wanita yang benar mengalami kanker serviks dan hal ini dibiarkan tanpa pengobatan maka akan menjadi semakin ganas. Di Indonesia, setiap harinya 40-45 perempuan terdiagnosis kanker serviks dan 20-25 diantaranya meninggal karenanya. Dampak yang dapat ditimbulkan kanker serviks pada perempuan sangat banyak, dikarenakan kasus kanker serviks terbanyak muncul pada saat perempuan berada dalam usia produktif yaitu antara 30-50 thn. Dampak ini diantaranya gangguan kualitas hidup psikis, fisik dan kesehatan seksual, Dampak sosial dan ekonomi (finansial), Pengaruh pada perawatan, pendidikan anak dan suasana kehidupan keluarga. Dalam 99% kasus, kanker serviks terjadi sebagai akibat dari riwayat infeksi dengan jenis risiko tinggi HPV. Seringkali, infeksi HPV tidak menimbulkan gejala. Sehingga sulit untuk dibedakan penderita yang terinfeksi dan keadaan normal. Biasanya baru bergejala saat kanker serviks sudah memasuki stadium akhir.  Apakah seseorang yang sudah terkena infeksi HPV perlu diberikan vaksin HPV? Sebaiknya vaksin ini diberikan sebelum seseorang mengalami kanker serviks, namun berdasarkan penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa vaksin HPV aman bagi wanita yang sudah terkena infeksi HPV. Tetapi wanita-wanita ini tidak akan mendapat manfaat yang penuh dari vaksin ini. Vaksin ini tidak dapat mengobati infeksinya, tetapi dapat melindungi wanita terhadap 4 jenis virus yang belum tentu diderita semuanya secara sekaligus. Jadi, jika sebelumnya seorang wanita belum terkena infeksi oleh sebagian jenis virus yang ada dalam vaksin, maka dia akan diproteksi terhadap sebagian jenis virus yang belum pernah dideritanya. Sebelum kanker serviks mengegrogoti kesehatan Anda, lakukan pencegaham sedini mungkin seperti berhubungan intim yang sehat, tidak berganti-ganti pasangan dan menjaga pola hidup sehat dan melakukan vaksinasi untuk pencegahan kanker serviks.  Baca juga: Waspada gejala-gejala kanker serviks  Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur https://dokter.id/tanya-dokter"> Tanya dokter sekarang  Sumber: anakui
 18 Mar 2017    12:00 WIB
Kewaspadaan dan Deteksi Dini Kanker Mulut Rahim
Saat mendengar vonis kanker dari dokter, kebanyakan pasien langsung berpikir tentang kematian. Padahal banyak yang bisa dilakukan untuk mencegah dan mengobati kanker. Untuk mengontrol munculnya kanker, yang menjadi permasalahan utama adalah kurangnya pengetahuan dan deteksi dini yang menyebabkan 70% kanker bisa terjadi. Kanker mulut rahim merupakan jenis kanker yang paling banyak terjadi pada wanita di seluruh dunia, dan paling banyak terjadi di negara-negara berkembang.Tidak seperti jenis kanker yang lain, kanker mulut rahim biasanya bisa dicegah karena sudah diketahui penyebabnya yaitu infeksi dari  Human Papilloma Virus (HPV) dan saat ini sudah banyak peralatan dan obat-obatan yang dapat mencegah munculnya kanker ini. Dengan melakukan proses skrening yang baik dan melakukan vaksinasi tidak akan ada wanita yang kehilangan fertilitasnya atau bahkan meninggal karena disebabkan oleh kanker mulut rahim. Ada suatu studi yang dilakukan di India mengenai tingkat kewaspadaan dan faktor resiko dari kanker mulut rahim diantara orang muda yang berpendidikan yang dilakukan pada tahun 2010. Para peneliti memberikan beberapa pertanyaan kepada para peserta penelitian mengenai kewaspadaan terhadap  Human Papilloma Virus (HPV), pengetahuan mengenai faktor resiko dari kanker mulut rahim seperti apakah aktivitas seksual usia muda dapat menyebabkan kanker, kontak seksual dengan banyak pasangan, penggunaan kondom, merokok, konsumsi buah dan sayuran yang rendah dan faktor keturunan. Hasil studi mengungkapkan, walaupun sebanyak 66% peserta penelitian yang berusia muda dan berpendidikan tersebut pernah mendengar tentang kanker mulut rahim, hanya 15% yang mewaspadai faktor resiko dan pencegahan dari penyakit ini. Penelitian yang diterbitkan oleh IARC in Asia menunjukkan bahwa ada hubungan dengan tingginya edukasi dengan angka terjadinya kanker mulut rahim. Tes pap smear terbukti merupakan alat deteksi dan pencegahan terbaik di kalangan para remaja perempuan. Saat ini negara-negara berkembang sangat membutuhkan pengetahuan dasar yang baik mengenai kanker mulut rahim sehingga orang-orang dapat dengan mudah mengenali gejala-gejala dini dari penyakit ini dan juga dapat melakukan tindakan pencegahan maupun tindakan pengobatan apa yang harus dilakukan. Hasil dari penelitian tersebut adalah, "seperti kampanye ‘kebijaksanaan mutiara’ yang dilakukan di Amerika Serikat sebagai tindakan pencegahan kanker mulut rahim, negara-negara berkembang juga harus mengedukasi remaja perempuan dan juga wanita usia matang mengenai faktor resiko, gejala, skrening, pentingnya melakukan pap smear, vaksinasi HPV dan terapi dini untuk kanker."Sumber: healthmeup
 13 Sep 2015    18:00 WIB
Pengobatan Kanker Serviks
Apa Itu Kanker Serviks? Kanker serviks terjadi apabila sel-sel abnormal berkembang dan menyebar di dalam leher rahim (serviks), bagian bawah rahim. Terjadinya kanker serviks seringkali dipicu oleh adanya infeksi oleh suatu virus tertentu, yaitu Human Papilloma Virus (HPV). Bila ditemukan pada stadium dini, maka kanker serviks memiliki tingkat kesembuhan yang cukup tinggi.   Penyebab Penyebab utama terjadinya kanker serviks adalah adanya infeksi (90%). Infeksi HPV pada kemaluan biasanya akan menyembuh dengan sendirinya. Bila infeksi ini menjadi kronik, maka dapat terjadi perubahan pada sel-sel serviks. Perubahan ini dapat menyebabkan terjadinya kanker. Infeksi HPV biasanya tidak menimbulkan gejala apapun dan dapat sembuh dengan sendirinya. Beberapa jenis HPV dapat menyebabkan timbulnya kutil pada kemaluan, akan tetapi jenis ini tidak berhubungan dengan kejadian kanker serviks. Kutil kemaluan tidak akan berubah menjadi kanker, bahkan bila keadaan ini tidak diobati. Jenis HPV yang berbahaya (dapat menyebabkan kanker) dapat tinggal di dalam tubuh anda selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala apapun. Infeksi HPV sangat sering terjadi, sehingga sebagian besar orang yang pernah berhubungan seksual pasti pernah mengalami infeksi HPV. Karena infeksi HPV tidak menimbulkan gejala apapun, anda dapat tetap membawa virus ini bahkan sampai bertahun-tahun setelah anda berhubungan seksual. Jika anda terinfeksi oleh HPV yang berpotensi menyebabkan kanker, maka dapat terjadi pertumbuhan sel-sel abnormal pada serviks anda. Sel pra kanker ini tidak berarti bahwa anda telah menderita kanker saat itu, akan tetapi seiring dengan berlalunya waktu, maka sel-sel abnormal ini akan berubah menjadi sel kanker. Sel-sel kanker ini cenderung untuk menyebar ke dalam serviks dan berbagai organ serta jaringan di sekitarnya. Penggunaan kondom dapat menurunkan resiko infeksi HPV, akan tetapi kondom tidak dapat melindungi anda sepenuhnya dari infeksi virus ini. Selain kanker serviks, infeksi HPV juga telah dihubungkan dengan kejadian kanker vulva, kanker vagina, kanker penis, kanker anus, dan kanker mulut baik pada pria maupun wanita.   Faktor Resiko Lainnya Wanita Hispanik dan Afrika-Amerika memiliki resiko terkena kanker serviks yang lebih tinggi daripada wanita kulit putih. Kejadian kanker serviks juga lebih tinggi pada wanita yang terinfeksi HPV bila disertai dengan: Memiliki kebiasaan merokok Memiliki banyak anak Menggunakan pil KB dalam waktu lama Menderita HIV atau sistem kekebalan tubuhnya lemah   Gejala Pada stadium awal kanker serviks, yaitu saat sel-sel mulai berkembang secara abnormal, biasanya jarang ditemukan adanya gejala apapun. Gejala baru tampak saat kanker telah berkembang. Berbagai gejala kanker serviks yang dapat ditemukan adalah: Keluarnya darah dari vagina di luar masa menstruasi Keluarnya bercak dari yang berbeda dengan biasanya Perdarahan setelah menopause Perdarahan atau nyeri saat berhubungan seksual   Deteksi Dini Kanker Serviks Pemeriksaan Pap Smear Pemeriksaan pap smear merupakan salah satu cara deteksi dini kanker serviks yang terbaik. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan adanya sel-sel abnormal sebelum sel tersebut berubah menjadi sel kanker. Pada usia 21 tahun, wanita sebaiknya mulai melalukan pemeriksaan pap smear setiap 3 tahun sekali. Wanita yang berusia 30-65 tahun yang telah rutin melakukan pemeriksaan pap smear sebelumnya dapat memundurkan waktu pemeriksaan pap smear dan HPV menjadi 5 tahun sekali. Wanita yang beresiko tinggi perlu melakukan pemeriksaan pap smear lebih sering daripada wanita lainnya (1 tahun sekali). Jika hasil pemeriksaan pap smear menunjukkan abnormalitas kecil maka anda mungkin harus melakukan pemeriksaan pap smear ulangan. Pemeriksaan DNA HPV Pada kasus tertentu, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan DNA HPV selain pemeriksaan pap smear. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi adanya HPV yang berpotensi menyebabkan terjadinya kanker. Pemeriksaan ini biasanya dianjurkan pada wanita yang berusia lebih dari 30 tahun atau pada wanita usia berapapun dengan hasil pemeriksaan pap smear yang abnormal.   Diagnosa Diagnosa pasti kanker serviks dapat ditegakkan melalui pemeriksaan biopsi, di mana dokter akan mengambil sedikit jaringan serviks untuk melakukan pemeriksaan di bawah mikroskop.   Pembagian Stadium Kanker Serviks Disebut kanker serviks stadium 0, bila sel kanker hanya ditemukan pada permukaan serviks. Disebut stadium I, bila sel kanker telah menyebar ke seluruh serviks, tetapi belum menyebar ke bagian tubuh lainnya. Disebut stadium II, bila sel kanker telah menyebar ke bagian atas vagina. Disebut stadium III, bila sel kanker telah menyebar ke bagian bawah vagian dan mungkin telah menghambat aliran air kemih. Disebut stadium IV, bila sel kanker telah menyebar ke kandung kemih atau rektum atau bila sel kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya dan membentuk kanker lainnya.   Pilihan Pengobatan Kanker Serviks Tindakan Pembedahan Tindakan pembedahan masih dapat dilakukan bila kanker baru mencapai stadium II. Tindakan pembedahan biasanya dilakukan untuk mengangkat seluruh jaringan yang mengandung sel kanker di dalamnya. Tindakan pembedahan yang dilakukan berupa pengangkatan seluruh rahim dan serviks serta seluruh jaringan di sekitarnya (histerektomi). Dokter mungkin juga mengangkat saluran telur, indung telur, dan kelenjar limfe di sekitar tumor. Radiasi Radiasi eksternal menggunakan sinar X energy tinggi untuk membunuh sel kanker di area target. Terapi ini dapat membantu menghancurkan seluruh sel kanker yang tersisa setelah tindakan pembedahan. Radiasi internal menggunakan suatu zat radioaktif yang disuntikkan langsung ke dalam tumor. Penderita kanker serviks seringkali diobati dengan menggunakan kombinasi radiasi dan kemoterapi. Efek samping radiasi yang dapat terjadi adalah hitung jenis sel darah rendah, merasa lelah, gangguan pencernaan, mual, muntah, dan tinja lembek. Kemoterapi Kemoterapi merupakan suatu pengobatan dengan menggunakan obat-obatan untuk membunuh kanker di bagian tubuh manapun. Bila sel kanker telah menyebar ke berbagai organ tubuh yang jauh, maka kemoterapi merupakan pilihan pengobatan utama. Efek samping yang dapat timbul tergantung pada jenis dan dosis obat yang digunakan. Efek samping yang dapat terjadi adalah merasa lelah, mudah memar, rambut rontok, mual, muntah, dan hilangnya nafsu makan. Terapi Lainnya Pengobatan kanker dapat membuat anda merasa lelah dan kehilangan nafsu makan, akan tetapi menjaga berat badan dengan memenuhi kebutuhan nutrisi anda juga penting bagi penyembuhan anda. Selain itu, tetap aktif dan berolahraga ringan juga dapat meningkatkan stamina dan tenaga anda serta dapat mengurani rasa mual dan stress yang anda alami. Berkonsultasilah dengan dokter anda mengenai jenis olahraga apa yang boleh anda lakukan dan berapa lama.   Kanker Serviks dan Fertilitas Pengobatan kanker serviks seringkali berupa pengangkatan rahim dan indung telur dan dengan demikian memudarkan kemungkinan anda untuk hamil. Akan tetapi, bila kanker ditemukan pada stadium dini, anda masih mungkin hamil bahkan setelah tindakan pembedahan dilakukan. Suatu tindakan pembedahan yang disebut dengan trakelektomi dapat mengangkat serviks dan bagian vagina dengan tetap meninggalkan sebagian besar rahim.   Ketahanan Hidup Penderita Angka ketahanan hidup penderita kanker serviks sangat tergantung pada seberapa dini kanker ditemukan.   Vaksin HPV dan Kegunaannya Sekarang ini telah tersedia vaksin yang berguna untuk melindungi anda dari 2 jenis HPV yang berpotensi menyebabkan terjadinya kanker. Setiap vaksin memerlukan pemberian sebanyak 3 kali dalam waktu 6 bulan. Vaksin ini berfungsi untuk mencegah terjadinya infeksi kronik HPV yang berpotensi menyebabkan terjadinya kanker serviks. Vaksin ini digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi HPV dan bukan untuk mengobati infeksi HPV. Vaksin ini paling efektif diberikan sebelum seseorang aktif berhubungan seksual. CDC menganjurkan agar vaksin HPV diberikan pada anak perempuan yang berumur 11 atau 12 tahun. Tetapi juga dapat diberikan pada usia 13-26 tahun. Baca juga: Say No to Cancer! Sumber: webmd
 31 Jul 2015    18:00 WIB
Pernah Vaksin HPV Bukan Berarti Anda Bebas dari Infeksi HPV Lho!
Jika Anda pernah menerima vaksin HPV saat masih muda, maka hal ini berarti bahwa Anda tidak perlu khawatir akan tertular penyakit HPV lagi bukan? Jawabannya adalah salah. Sebuah penelitian baru di Amerika menemukan bahwa para wanita yang pernah menerima Gardasil (salah satu jenis vaksin HPV) masih memiliki resiko untuk tertular virus ini. Gardasil dapat diberikan pada perempuan yang berusia antara 9-26 tahun dan laki-laki yang berusia antara 9-15 tahun. Pada penelitian ini, para peneliti dari the University of Texas Medical Branch di Galveston menganalisa data dari 592 orang wanita yang berusia antara 20-26 tahun. Delapan orang wanita di antara para peserta penelitian tersebut telah menerima Gardasil, sementara sisanya tidak pernah menerima vaksin HPV jenis appaun. Para peserta yang pernah menerima Gardasil memang memiliki resiko yang lebih kecil untuk tertular salah satu jenis HPV, yaitu antara HPV 6, 11, 16, atau 18 karena vaksin tersebut memang melindungi penerimanya dari infeksi salah satu dari keempat jenis HPV di atas. Hanya sekitar 11% wanita yang pernah menerima Gardasil terinfeksi oleh salah satu dari keempat jenis HPV di atas dibandingkan dengan 20% peserta yang tidak pernah menerima vaksin HPV apapun. Para peneliti menemukan bahwa para wanita yang telah menerima vaksin HPV ini ternyata pernah menderita infeksi HPV sebelum menerima vaksin. Para peneliti mengatakan bahwa vaksin HPV tidak dapat melindungi penerimanya dari infeksi HPV yang telah terjadi sebelum orang tersebut menerima vaksin HPV. Hal mengejutkan yang juga ditemukan oleh para peneliti dalam penelitian ini adalah bahwa 60% wanita yang telah menerima Gardasil akhirnya terinfeksi oleh HPV resiko tinggi yang memang tidak dilindungi oleh vaksin, dibandingkan dengan 40% wanita yang tidak pernah menerima vaksin HPV sama sekali. Para peneliti tetap menemukan hasil yang sama walaupun mereka telah mempertimbangkan berbagai hal lainnya yang dapat meningkatkan resiko infeksi HPV seperti berapa banyak pasangan seksual yang dimiliki oleh para wanita tersebut. Akan tetapi, para peneliti mengatakan bahwa karena penelitian ini hanya dilakukan dalam waktu yang relatif singkat dan dengan jumlah peserta yang sedikit, maka diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan kebenaran penemuan mereka. Kesimpulannya adalah melakukan hubungan seks yang aman sangatlah penting untuk menjaga kesehatan tubuh Anda, tidak perduli apakah Anda telah menerima vaksinasi HPV atau belum. Walaupun penggunaan kondom tidak dapat memberikan perlindungan 100% terhadap HPV (karena HPV ditularkan melalui kontak antar kulit), akan tetapi penggunaan kondom tetap dapat menurunkan resiko tertular HPV. Selain melalui hubungan seks biasa (penetrasi penis ke dalam vagina), seks anal dan seks oral pun dapat menularkan infeksi HPV di antara pasangan seksual.   Baca juga: Efek Samping dari Vaksin HPV   Sumber: womenshealthmag
 09 Jul 2014    20:00 WIB
Vaksin HPV Sebagai Pencegah Kanker Serviks
Apa itu HPV?HPV merupakan singkatan dari Human Papiloma Virus. Virus ini adalah virus yang menyebabkan penyakit kutil pada kulit. Telah ditemukan lebih lebih dari 100 tipe virus HPV, jadi Virus papilloma yang menyebabkan kutil kelamin berbeda dengan virus papilloma yang menybabkan kutil di tangan atau kaki. Beberapa tipe HPV merupakan penyebab dari kanker serviks, yaitu HPV tipe 16 dan tipe 18. Lebih dari 80% dari kasus kanker serviks disebabkan oleh kedua tipe virus papilloma tersebut. Siapakah yang beresiko terkena infeksi HPV?Wanita yang memulai hubungan seksual lebih awal (usia 14-16 tahun) merupakan kelompok orang yang memiliki resiko tinggi untuk terkena kanker serviks. Selama masa pubertas, wanita belum memliki fungsi seksual yang sempurna dan kondisi leher Rahim yang belum matang, sehingga rentan terinfeksi virus HPV. Bagaimana cara mengurangi resiko terinfeksi HPV?Cara yang pasti untuk mencegah infeksi HPV adalah tidak melakukan hubungan seksual pada usia muda dan tidak berganti- ganti pasangan. Selain itu, infeksi HPV terutama HPV yang menyebabkan kanker serviks dapat dicegah dengan cara pemberian vaksin. Vaksin ini disuntikkan pada otot, biasanya pada lengan atas. Perlindungan terbaik didapatkan setelah 3 kali suntikan yang diberikan dalam jangka 6 bulan. Apa manfaat Vaksin HPV?Proteksi terhadap infeksi HPV tipe 16 dan 18 akan dapat bertahan selama 5 tahun. Jika vaksin ini diberikan pada wanita usia 9-26 tahun, maka Akan memberika proteksi 100%. Jika diberikan pada wanita di atas usia 26 tahun, maka proteksi yang didapatkan tergantung besarnya paparan HPV yang telah terjadi. Apa saja yang harus diperhatikan sebelum menerima HPV?Pastikan anda tidak sedang hamil atau tidak berencana untuk hamil. Pastika anda dalam ke adaan sehat, tidak flu, demam, diare. Dan yang sangat pentit, bagi yang sudah seksual aktif, harus dilakukan pemeriksaan pap test terlebih dahulu sebelum menerima vaksin HPV.