Your browser does not support JavaScript!
 02 Sep 2019    18:00 WIB
Fakta Tentang Virus MERS yang Mematikan
Virus mematikan pada saluran pernafasan yang dikenal dengan nama MERS ternyata sudah menyebar ke seluruh dunia. Virus ini pertama kali ditemukan di Saudi Arabia pada tahun 2012, dan banyak berkembang di timur tengah. MERS merupakan virus yang sangat berhubungan dengan virus mematikan lainnya yaitu SARS (severe acute respiratory syndrome) yaitu virus yang menginfeksi 8.000 orang diseluruh dunia pada tahun 2003, dan 774 diantaranya meninggal dunia. Apakah MERS itu?MERS atau Middle East Respiratoru Syndrome adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut coronavirus. Terkadang MERS dikenal sebagai MERS-CoV untuk Middle East respiratory syndrome coronavirus. MERS masih satu keluarga dengan SARS. Coronavirus sudah menyebar ke seluruh dunia, dan CDC mengatakan ada lima tipe coronavirus yang menyebabkan orang sakit. Coronavirus juga dapat menyerang hewan. Gejala MERSGeraja yang timbul dari infeksi MERS adalah batuk, demam dan nafas pendek-pendek. Berapa banyak penderita MERS?Sampai saat ini telah ditemukan 401 kasus MERS di 12 negara. Sebanyak 93 diantaranya telah meninggal dunia. Bagaimana mengobati MERS?Sampai saat ini belum ada pengobatan untuk MERS, tetapi dokter dapat mengobati gejala-gejala yang dialami oleh pasien. Bagaimana MERS menyebar?Secara umum MERS menyebar diantara mereka yang melakukan kontak langsung. Sebagai contoh pada pasien yang sudah terinfeksi dapat menyebarkan virus kepada para tenaga medis yang sedang menanganinya. Tetapi virus tidak dapat dengan mudah menyebar begitu saja, misalnya saat berbelanja di mall. Dimana saja virus MERS ditemukan?Selain Saudi Arabia, ada lima negara lain yang tercatat sudah melaporkan kasus MERS, yaitu:•  Uni Emirat Arab•  Qatar•  Oman•  Yordania•  Kuwait Ditambah, enam negara lain yang dilaporkan mendapat kasus MERS berhubungan dengan orang yang sedang dalam perjalanan, yaitu:•  Amerika Serikat•  Perancis•  Tunisia•  Italia•  Malaysia•  Inggris Darimanakah asal virus MERS?Petugas kesehatan publik mengatakan bahwa virus berasal dari hewan, tetapi hal ini masih harus diteliti lebih lanjut. Virus ini telah ditemukan pada unta di Qatar, Mesir dan Saudi Arabia. MERS juga ditemukan pada kelelawar di Saudi Arabia. Tetapi para petugas belum bisa memastikan apakah unta memang sumber dari virus. Sejauh ini para petugas mengatakan unta, kelelawar dan binatang lain mungkin memiliki peranan penting dalam persebaran virus Apakah ada vaksin?Sampai saat ini tidak ada vaksin yang tersedia untuk virus MERS.Sumber: webmd
 23 Aug 2019    16:00 WIB
Pentingnya Vaksin DPT Untuk Mencegah Difteri, Tetanus dan Pertusis
Saat anak Anda lahir, maka saat itu adalah saat terbaik dalam hidup Anda. Anda sudah membayangkan bahwa bayi Anda akan tumbuh sehat dan menjadi kebanggaan untuk diri Anda dan keluarga besar. Untuk menjaga kesehatan bayi  yang baru lahir selain memberikan ASI dan susu formula bila ternyata ASI ibu tidak keluar, Anda juga harus melakukan vaksinasi. Dengan vaksinasi maka Anda akan menjaga anak agar tidak mudah terjangkit penyakit yang berbahaya. Ada beberapa macam vaksin wajib untuk bayi. Salah satunya adalah vaksin DPT. Agar Anda para orang tua menjadi lebih tahu, ini manafaat dari vaksin DPT. Vaksin DPT diberikan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah infeksi bakteri pada selaput lendir hidung dan tenggorokan yang memiliki efek yang serius. Bakteri menyebabkan penyakit ini dapat menghasilkan racun yang merusak jaringan, terutama pada hidung dan tenggorokan. Difteri akan membentuk lapisan tebal di tenggorakan, menyebabkan gangguan pernapasan, gangguan pada jantung dan kerusakan saraf. Tetanus menyebabkan pengetatan otot, terutama kepala dan leher, itulah sebabnya disebut "lockjaw" atau rahang terkunci. Pengencangan otot ini membuat sulit untuk membuka mulut, menelan, dan bernafas. Bahkan di zaman kesehatan yang lebih modern, satu dari 10 orang yang terinfeksi tetanus meninggal, namun risikonya sangat berkurang jika anak Anda mendapatkan vaksinasi sesuai anjuran. Rekomendasi booster direkomendasikan mulai usia 11 dan setiap 10 tahun setelahnya Pertusis lebih dikenal sebagai "batuk rejan." Penyakit ini sangat menular yang menyebabkan penyakit batuk yang berlangsung dua minggu atau lebih dan bisa disertai dengan muntah. Pertusis paling berbahaya di kalangan bayi dan bisa menyebabkan pneumonia, kerusakan otak, kejang, dan kematian. Pertusis adalah penyakit yang paling tidak terkontrol yang dapat dicegah dengan menggunakan vaksin. Vaksinasi DPT memiliki keefektifan antara 80-89 %. Dengan kata lain, bahkan jika anak divaksinasi, mungkin masih terjangkit pertusi, namun efeknya tentu tidak akan seberat bila dilakukan vaksin.   Vaksin DPT diberikan pada usia 2,4,6 bulan kemudian dilakukan booster kembali pada usia 15-18 bulan, usia 4-6 tahun. Diberikan melalui suntikan.   Baca juga: 7 Jenis Kekerasan Orang Tua Terhadap Anak Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: verywell
 06 Aug 2019    18:00 WIB
Apa Efek Samping Vaksin DPT?
Vaksin DPT merupakan suatu vaksin gabungan untuk mencegah difteria, pertusis, dan tetanus. Akan tetapi, seperti halnya obat-obatan, vaksin pun memiliki beberapa efek samping. Efek samping ini biasanya merupakan efek samping ringan yang dapat hilang dengan sendirinya. Dianjurkan untuk duduk atau berbaring selama sekitar 15 menit setelah menerima vaksin karena ada kemungkinan Anda merasa pusing atau pingsan, untuk mencegah terjadinya cedera akibat terjatuh.   Efek Samping Ringan Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi setelah menerima vaksin DPT tetapi tidak mengganggu aktivitas sehari-hari adalah: • Nyeri pada daerah bekas suntikan • Kulit kemerahan atau pembengkakan pada daerah bekas suntikan • Demam ringan (38 derajat Celcius) • Nyeri kepala • Merasa lelah • Mual, muntah, diare, nyeri ulu hati • Menggigil • Nyeri otot • Nyeri sendi • Timbul bercak kemerahan pada kulit • Pembesaran kelenjar getah bening   Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi setelah menerima vaksin DPT yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi tidak membutuhkan perawatan medis adalah: • Nyeri pada daerah bekas suntikan • Kulit kemerahan atau pembengkakan pada daerah bekas suntikan • Demam lebih dari 39 derajat Celcius • Nyeri kepala • Mual, muntah, diare, nyeri ulu hati • Pembengkakan pada seluruh lengan tempat suntikan dilakukan   Efek Samping Berat Beberapa efek samping berat yang dapat terjadi setelah menerima vaksin DPT dan membuat penerimanya tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan membutuhkan perawatan medis adalah pembengkakan, nyeri hebat, perdarahan, dan kulit kemerahan pada daerah bekas suntikan. Reaksi alergi berat yang membahayakan jiwa setelah menerima vaksin dapat terjadi walaupun sangat jarang (kurang dari 1 dari 1.000.000 dosis).   Sumber: cdc
 17 Jul 2019    08:00 WIB
Apa Efek Samping Vaksin Cacar Air?
Vaksin cacar air biasanya diberikan pada anak-anak saat berusia 1-1.5 tahun (dosis pertama) dan biasanya diulang setelah anak berusia 4-6 tahun (dosis kedua). Akan tetapi, seperti halnya obat-obatan, vaksin pun memiliki beberapa efek samping, mulai dari efek samping ringan yaitu reaksi alergi ringan hingga efek samping berat yaitu reaksi alergi berat yang dapat membahayakan jiwa penerimanya. Akan tetapi, reaksi alergi berat setelah pemberian vaksin ini sangat jarang terjadi. Manfaat vaksin cacar air lebih besar daripada terkena penyakit cacar air. Selain itu, sebagian besar orang yang menerima vaksin cacar air tidak mengalami efek samping apapun. Berbagai efek samping ini lebih sering terjadi setelah pemberian dosis pertama vaksin dibandingkan dengan dosis kedua vaksin. Efek Samping Ringan Beberapa efek samping ringan yang dapat terjadi setelah menerima vaksin cacar air adalah: • Nyeri atau pembengkakan pada daerah bekas suntikan • Demam • Kulit kemerahan, hingga sebulan setelah menerima vaksinasi Walaupun sangat jarang, orang yang mengalami gangguan kulit ringan setelah menerima vaksin cacar air, dapat menularkan virus ini pada anggota keluarga lainnya. Efek Samping Sedang Efek samping sedang yang dapat terjadi setelah pemberian vaksin cacar air adalah kejang yang disebabkan oleh demam, akan tetapi efek samping ini sangat jarang terjadi. Efek Samping Berat Walaupun amat sangat jarang, menerima vaksin cacar juga dapat menyebabkan terjadinya pneumonia (radang paru-paru). Beberapa gangguan berat lainnya yang dapat terjadi setelah menerima vaksin cacar air adalah gangguan otak berat dan rendahnya jumlah sel-sel darah. Akan tetapi, karena kejadian ini sangat jarang terjadi, maka para ahli tidak dapat memastikan apakah hal ini memang terjadi akibat pemberian vaksin cacar air atau disebabkan oleh gangguan lainnya. Sumber: cdc
 12 Feb 2019    08:00 WIB
Pelihara Kucing Tapi Takut Kena Toksoplasma ? Cegah Dengan Cara Ini
Apakah Anda suka memelihara kucing? Bila iya mungkin Anda merasa takut akan terinfeksi toksoplasma.  Toksoplasma adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Toxoplasma gondii (T.gondii). Apa akibat toksoplasma pada manusia? WanitaInfeksi toksoplasma dapat menginfeksi saluran telur wanita dan menyebabkan saluran ini menyempit atau tertutup. Sehingga sel telur yang telah dihasilkan oleh indung telur (ovarium) tidak dapat sampai ke rahim untuk dibuahi oleh sperma. Janin Kista toksoplasma bisa berada di otak janin menyebabkan cacat dan berbagai macam gangguan saraf seperti terjadi gangguan saraf mata yang berakibat kebutaan. Akibat lainnya adalah janin dengan ukuran kepala yang besar dan berisi cairan atau hidrosefalus PriaToksoplasma juga dapat menginfeksi pria. Infeksi akut toksoplasma dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening dan dapat menyebabkan kemandulan. Toksoplasma dapat menginfeksi dan menyebabkan peradangan pada saluran sperma. Radang yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya penyempitan bahkan tertutupnya saluran sperma. Akibatnya pria tersebut menjadi mandul, karena sperma yang diproduksi tidak dapat dialirkan untuk membuahi sel telur. Ada beberapa cara mengapa seseorang dapat terinfeksi parasit toksoplasma : - Menyentuh atau kontak dengan kotoran binatang misalnya kucing atau anjing yang terinfeksi. Kucing biasanya mendapatkan infeksi ini jika makan tikus, burung atau binatang lain yang mengonsumsi daging mentah.- Mengonsumsi daging mentah yang terkontaminasi atau dimasak kurang matang.- Mencuci buah atau sayuran kurang bersih, yang telah terkontaminasi oleh pupuk kandang.- Anak yang lahir dari ibu yang terkontaminasi, hal ini karena parasit bisa melewati aliran darah dan menginfeksi janin.- Umumnya toksoplasma dikeluarkan dari tubuh kucing melalui kotorannya dan bukan dari bulunya. Selain itu kasus toksoplasma umumnya paling banyak terjadi akibat kucing atau anjing mengonsumsi daging mentah atau kurang matang yang sudah terinfeksi. Berikut cara yang dapat Anda ikuti dalam merawat kucing Anda agar terhindar dari toksoplasma yaitu : 1.      Hindari kontak langsung dengan kotoranApabila ingin membersihkan kotak kotorannya sebaiknya menggunakan sarung tangan dan cuci tangan setelahnya. Rajin membersihkan tempat kotorannya 1-2 kali dalam sehari dan gunakan pasir khusus untuk kotoran kucing 2.      Makanan khusus Beri makanan kering atau basah yang memang khusus untuk kucing dan hindari memberikan makanan mentah seperti ikan atau daging mentah. 3.      Pelihara kucing dalam rumahDengan memelihara kucing di dalam rumah akan membantu mencegah kucing mengonsumsi tikus atau binatang lain yang mungkin terkontaminasi toksoplasma. 4.      Jaga kebersihan kucingMandikan kucing setidaknya 3 kali dalam sebulan atau seminggu sekali dengan menggunakan sampo kucing, dan mengeringkan bulunya hingga kering. 5.      Berikan vaksinBerilah vaksin untuk kucing sesuai dengan usianya, untuk mencegah toksoplasma berikan vaksin tokso dan juga kucing bisa diberi vaksin rabies. 6.      Konsultasi dokter hewanJika kucing menunjukkan tanda-tanda sakit seperti tidak nafsu makan, lebih banyak diam atau kurang lincah, pilek atau diare, maka segera konsultasikan dengan dokter hewan. 7.      Cuci tanganSelain itu jangan lupa untuk selalu mencuci tangan setiap kali bermain atau kontak dengan kucing.Jadi rawat terus kucing Anda atau binatang peliharaan Anda agar Anda dan binatang peliharaan kesayangan Anda selalu sehat Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: KF
 22 Dec 2018    08:00 WIB
Pentingnya Vaksinasi Untuk Kekebalan Tubuh
Guys! Kita semua tahu apa itu vaksinasi, tapi apa kita tahu bahwa sebenarnya setiap orang perlu vaksinasi, baik Pria maupun wanita, baik tua maupun muda, seperti kalangan anak-anak (batita atau balita), anak remaja, pemuda ataupun yang sudah menikah dan bahkan orang tua pun perlu vaksinasi. Fungsi dari Vaksin adalah memperkuat sistem imun tubuh kita dan membantu kita, mengurangi/ menghindari risiko penyakit tertentu yang disebabkan oleh bakteri, kuman/ virus yang merusak, melemahkan dan mematikan sel-sel tubuh kita. Vaksin melindungi orang yang rentan di komunitas kita - seperti anak-anak yang sangat muda, orang tua, atau mereka yang terlalu sakit untuk diimunisasi. Ada juga beberapa jenis vaksin yang memberikan kekebalan seumur hidup. Imunisasi / Vaksinasi juga sangat mengurangi risiko penularan penyakit, dan mengurangi risiko komplikasi. Lalu kapan vaksinasi dikembangkan? Vaksin bukan hal yang baru. Tehnik imunisasi ini dipelopori lebih dari 200 tahun yang lalu, ketika cacar adalah penyakit yang ditakuti dan mematikan pada jaman itu. Namun ada seorang dokter abad kedelapan belas bernama Edward Jenner (17 Mei 1749 - 26 Januari 1823), dia adalah seorang dokter dan ilmuwan Inggris yang merupakan pelopor vaksin cacar, yaitu vaksin pertama di dunia. Ia mencatat bahwa para pekerja di peternakan yang terkena penyakit cacar sapi ringan, kebal terhadap cacar. Melalui vaksinasi yang dia berikan. Istilah "vaksin" dan "vaksinasi" berasal dari Variolae vaccinae (cacar sapi), istilah yang dirancang oleh Jenner sendiri untuk menamakan cacar sapi. Bagaimana cara kerja vaksin? Sistem kekebalan tubuh kita terdiri dari sel-sel khusus dan bahan kimia (disebut antibodi) yang melawan infeksi. Kita mendapatkan kekebalan terhadap penyakit baik secara alami (dengan menangkap penyakit), atau melalui imunisasi. Vaksin terdiri dari versi modifikasi dari kuman penyebab penyakit atau toksin (dikenal sebagai 'antigen'). Sistem kekebalan tubuh merespon kuman yang melemah, atau yang sudah mati atau toksin yang sudah tidak aktif (antigen), seolah-olah itu adalah kuman yang lengkap, dan membuat antibodi untuk menghancurkannya. Antibodi ini dibuat tanpa kita tertular penyakitnya. Apa yang terdapat dalam vaksin? Tergantung pada infeksi, bahan-bahan dalam vaksin dapat bervariasi, juga dapat berubah dari tahun ke tahun karena serangan virus baru muncul. Beberapa vaksin mungkin mengandung dosis kecil: Kuman hidup (tetapi lemah). Kuman mati. Bagian kecil kuman (misalnya, molekul dari permukaan kuman). Toksin yang diinaktivasi yang diproduksi oleh bakteri. Antibiotik atau pengawet untuk menghentikan vaksin agar tidak terkontaminasi atau mati. Pengencer (seperti air steril atau garam). Apakah vaksin aman? Jutaan orang - terutama bayi dan anak kecil - diimunisasi setiap tahun, dan tanpa efek samping. Vaksin jauh lebih aman daripada sakit karena penyakit. Penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin dapat menyebabkan komplikasi seumur hidup atau kematian - bahkan pada orang yang sehat secara normal. Dari waktu ke waktu, keamanan vaksin telah dipertanyakan. Sebagian besar reaksi ringan dan biasanya berlangsung satu hingga dua hari. Seperti obat lain, vaksin membawa risiko kecil, tetapi efek samping yang serius sangat jarang terjadi. Risiko efek samping yang serius harus ditimbang terhadap risiko penyakit. Sebagai contoh, meskipun ada risiko kecil mengembangkan kondisi langka yang dikenal sebagai idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP), setelah vaksin campak, gondong, rubella dan varicella (MMRV) dan MMR. Namun, risiko pengembangan ITP dengan campak itu sendiri, lebih dari 10 kali lebih besar, daripada risiko yang terkait dengan vaksin. Berapa lama waktu yang diperlukan agar vaksin berfungsi? Ketika kita menerima vaksin, sistem kekebalan tubuh kita segera bekerja untuk membuat antibodi dan sel memori untuk melawan infeksi. Rata-rata, ‘respons imun’ akan memakan waktu sekitar 7-21 hari. Namun, durasi kekebalan dapat bergantung pada sejumlah faktor, seperti sifat vaksin, waktu dosis, usia kita, dan apakah kita telah mengalami infeksi secara alami. Jadi sahabat, agar terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin, pastikan untuk tetap mengikuti jadwal yang disarankan dokter dan upayakan kehidupan imunisasi kita up to date dan rutin.   Sumber : www.medbroadcast.com, www.vaccines.gov, 
 18 Oct 2018    16:00 WIB
Apakah Vaksin Hepatitis Boleh Diberikan Pada Wanita Hamil?
Secara umum, belum ada bukti pasti bahwa pemberian vaksinasi pada ibu hamil dapat membahayakan janin di dalam kandungan. Akan tetapi, secara teoritis, pemberian vaksin berisi bakteri atau virus hidup yang dilemahkan mungkin dapat membahayakan janin di dalam kandungan. Oleh karena itu, pemberian vaksin berisi bakteri atau virus hidup ini tidak dianjurkan (kontraindikasi) pada ibu hamil. Pemberian vaksin pada ibu hamil seringkali dipertimbangkan berdasarkan apakah manfaat pemberian vaksin lebih besar daripada resikonya. Bila manfaat pemberian vaksin lebih besar daripada resikonya, maka pemberian vaksin pun dapat dipertimbangkan. Vaksin hepatitis A merupakan vaksin inaktif seperti halnya vaksin hepatitis B. Pemberian vaksin hepatitis A biasanya dianjurkan bila terdapat resiko lainnya yang lebih tinggi daripada resiko pemberian vaksin. Seperti halnya vaksin hepatitis A, vaksin hepatitis B pun dapat diberikan pada ibu hamil. Berdasarkan beberapa data penelitian, vaksin hepatitis B tidak menimbulkan efek samping apapun pada janin di dalam kandungan dan tidak akan menyebabkan terjadinya infeksi hepatitis B pada janin. Wanita hamil yang diduga beresiko tinggi terkena infeksi hepatitis B selama kehamilan sebaiknya memperoleh vaksinasi hepatitis B. Beberapa hal yang menyebabkan peningkatan resiko terjadinya infeksi hepatitis B pada wanita hamil adalah: Memiliki lebih dari 1 pasangan seksual dalam waktu 6 bulan terakhir Pernah atau sedang menjalani pengobatan untuk mengatasi penyakit  menular seksual Pernah atau sedang menggunakan obat-obatan yang disuntikkan Memiliki pasangan seksual yang menderita HBsAg positif (menderita infeksi hepatitis B)   Sumber: cdc
 20 Sep 2018    08:00 WIB
Mengapa Vaksinasi Pada Anak Itu Penting?
Mungkin Anda sering mendengar pentingnya melakukan vaksinasi pada anak, vaksin tidak hanya diberikan pada anak namun juga pada orang dewasa. Mengapa anak perlu divaksin? Bagaimana cara vaksin bekerja? Imunisasi atau vaksinasi bekerja dengan cara "menipu" tubuh Anda, dimana Anda vaksinasi membuat tubuh Anda percaya bahwa saat itu tubuh Anda sedang diserbu mikroorganisme yang menular, sehingga tubuh Anda akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk memperkuat pertahanan tubuhnya. Vaksinasi dilakukan dengan menyuntikkan suatu bentuk kuman berbahaya yang telah dilemahkan. Kemudian tubuh akan mengingat "invasi’ yang dilakukan kuman tersebut sehingga tubuh dengan mudah mengenali serangan dan mentralisir penyebab penyakit saat penyakit yang sesungguhnya menyerang.   Mengapa vaksinasi pada anak penting untuk dilakukan? Kekebalan dari ibu diberikan kepada bayi yang baru lahir, namun kekebalan ini menghilang dalam tahun pertama kehidupan mereka. Sehingga bayi tidak memiliki lagi kekebalan alami. Saat seorang anak tidak dilakukan vaksinasi dan terkena kuman yang menular, kemungkinan tubuhnya belum dapat melawan penyakit tersebut. Banyak anak yang meninggal akibat beberapa penyakit seperti campak, batuk rejan, dan polio. Mengimunisasi anak juga membantu melindungi orang lain termasuk bayi yang sangat kecil yang mungkin tidak dapat divaksinasi (seperti anak-anak yang mengidap leukemia) dan mereka yang tidak dapat merespon vaksinasi.   Sumber: newhealthguide
 09 Sep 2018    08:00 WIB
Vaksin Jerawat Lebih Efektif dan Ampuh Dari Yang Lainnya
Jerawat adalah hal yang mungkin banyak orang telah alami. Setidaknya ketika seorang menginjak masa remaja atau mengalami pubertas. Jerawat tidak hanya membuat seorang tidak nyaman namun juga bisa berdapka pada kondisi psikologis seorang. Merasa tidak percaya diri karena adanya jerawat yang menggangu penampilan. Lebih-lebih lagi jerawat kadangkala meninggalkan bekas pada wajah yang bisa bertahan untuk waktu yang lama. Beberapa perawatan yang paling umum untuk jerawat antara lain di dalmnya adalah antibiotik dan retinoid, yang merupakan jenis senyawa kimia yang membantu menjaga kesehatan dan penampilan kulit. Namun perawatan ini tidak selalu efektif dan terkadang bisa menyebabkan efek samping lainnya seperti kulit kering dan iritasi. Menurut Chun-Ming Huang, salah seorang peneliti dari Universitas California di San Diego, pengobatan saat ini tidak efektif bagi 85 persen remaja dan 40 juta orang dewasa di Amerika. Karena kebutuhan ini maka Huang dan timnya sedang mengembangkan vaksin yang efektif dan aman untuk jerawat seperti yang ditampilkan dalam  the Journal of Investigative Dermatology. Untuk pertama kalinya para peneliti berhasil melawan racun yang disekresikan oleh bakteri. Bakteri yang disebut Propionibacterium acnes (biasa disebut sebagai Cutibacterium acnes) menghasilkan racun yang disebut faktor Christie-Atkins-Munch-Peterson (CAMP). Peradangan luka jerawat sebagian besar disebabkan oleh faktor CAMP ini. Dan kabar baiknya sobat sekalian, sejauh ini usaha para peneliti ini menunjukan hasil yang menjanjikan  dan antibodi terbukti efektif melawan sifat-sifat peradangan yang memicu toksin. Emannuel Contassot dari Universitas Zürich di Swiss menjelaskan bagaimana vaksin untuk jerawat bisa lebih aman dan lebih efektif daripada perawatan yang ada dalam sebuah editorial makalah. Namun di sana dia juga mengingatkan vaksin harus memastikan bahwa keseimbangan bakteri pada kulit tidak terpengaruh. Ini dikarenakan ada beberapa bakteri yang juga membantu melindungi kesehatan kulit. Jadi sobat semoga vaksin ini benar-benar terealisasi. Sehingga permasalahan jerawat yang mengganggu kita baik wanita, pria, remaja dan dewasa bisa teratasi. Sobat juga bisa tampil lebih percaya diri. Jika saat ini sobat mengalami peradangan yang disebabkan oleh jerawat dan sangat mengganggu, lebih baik sejak dini segera dikonsultasikan dengan dokter. Tetaplah sehat, tetap semangat.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.  Sumber : www.medicalnewstoday.com