Your browser does not support JavaScript!
 20 Jul 2020    18:00 WIB
5 Tanda Usus Buntu Akan Segera Pecah!
Setiap orang pasti pernah mengalami sembelit dan diare setidaknya sekali di sepanjang kehidupannya. Akan tetapi, walaupun lebih jarang, radang usus buntu atau apendisitis juga cukup sering ditemui. Bila tidak segera diobati, radang usus buntu dapat membuat usus robek (pecah) dan menyebarkan berbagai kuman di dalamnya ke dalam rongga perut. Hal ini dapat membahayakan jiwa penderitanya. Walaupun tidak semua kasus apendisitis akan menyebabkan usus robek, akan tetapi semakin lama gangguan ini tidak diobati, maka semakin besarlah resikonya. Untuk itu, mengetahui gejala apendisitis sedini mungkin sangatlah penting. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa gejala usus buntu yang perlu Anda waspadai. Segera cari pertolongan medis bila Anda mengalami gejala ini.   Nyeri Perut yang Lebih Hebat Daripada Biasanya Apendisitis biasanya akan menyebabkan nyeri perut hebat yang menjalar dari pusar ke perut kanan bawah. Namun, bukan berarti bila Anda mengalami gejala ini, usus buntu Anda akan segera pecah. Akan tetapi, untuk memastikannya perlu dilakukan pemeriksaan USG perut atau CT scan perut. Pada beberapa kasus, nyeri perut yang dirasakan penderita apendisitis dapat berbeda. jika perut Anda terasa nyeri saat Anda berjalan, batuk, atau karena guncangan saat berada di dalam mobil; maka hal ini dapat merupakan tanda bahwa dinding perut Anda sudah meradang. Pada keadaan ini, usus buntu Anda sudah hampir pecah atau mungkin sudah pecah.   Mual, Muntah, dan Tidak Nafsu Makan Saat Anda mengalami mual, muntah, dan tidak nafsu makan; Anda mungkin hanya mengalami flu perut dan tidak semua penderita apendisitis mengalami gejala ini. Akan tetapi, bila Anda mengalami gejala ini dan nyeri perut hebat; segera periksakan diri Anda ke seorang dokter. Peradangan pada usus buntu kadangkala dapat mempengaruhi bagian lain dari saluran pencernaan dan menyebabkan terjadinya mual dan muntah.   Baca juga: Apa Sebenarnya Fungsi Usus Buntu?   Menjadi Lebih Sering BAK Pada beberapa orang, usus buntu terletak lebih rendah daripada orang lainnya, yaitu sangat dekat dengan kandung kemih. Bila usus buntu ini meradang, maka kandung kemih juga akan meradang dan teriritasi. Akibatnya, orang tersebut pun akan merasa ingin terus buang air kecil dan merasa nyeri saat berkemih. Karena hal ini juga dapat merupakan gejala dari infeksi saluran kemih, maka perlu dilakukan pemeriksaan air kemih untuk memastikannya.   Demam dan Menggigil Demam dan menggigil menandakan bahwa ada peradangan pada suatu bagian tubuh Anda. Jika usus buntu Anda meradang, maka tubuh Anda akan melepaskan sejumlah zat kimia untuk "membunyikan" tanda bahaya dan melawan infeksi yang terjadi, yang dapat menimbulkan rasa nyeri lokal, demam, dan menggigil. Jadi, bila Anda mengalami nyeri perut atau demam Anda menjadi semakin memburuk, segera periksakan diri Anda ke seorang dokter.   Kesadaran Menurun Jika Anda mulai merasa bingung atau mengalami disorientasi, maka hal ini merupakan tanda bahwa infeksi di dalam tubuh Anda sudah semakin memburuk dan mungkin sudah mulai memasuki aliran darah Anda (sepsis), yang dapat berakibat fatal. Hal ini bukan berarti infeksi sudah menyebar hingga ke otak, akan tetapi karena infeksi sudah sangat berat, maka tubuh pun memerlukan lebih banyak oksigen untuk melawan infeksi, sehingga oksigen yang masuk ke dalam otak akan berkurang, yang membuat otak tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Segera cari pertolongan medis bila Anda mengalami hal ini.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: womenshealthmag
 03 Jul 2019    08:00 WIB
Pengaruh Bakteri Usus Terhadap Kesehatan
Tahukah Anda bahwa ada berjuta-juta bakteri yang hidup pada tubuh Anda, baik di luar (kulit) maupun di dalam tubuh Anda (usus)? Pada kenyataannya, di dalam usus manusia hidup sekitar 100 triliun bakteri atau 10 kali lipat lebih banyak daripada sel-sel tubuh manusia itu sendiri. Bakteri usus atau yang juga disebut dengan flora usus, dapat mempengaruhi kesehatan seseorang dalam banyak cara; mulai dari membantu menghasilkan energi untuk membantu membangun sistem kekebalan tubuh hingga melindungi tubuh dari infeksi berbahaya yang disebabkan oleh bakteri lainnya. Hingga saat ini para ahli baru mulai mengerti apa saja dampak dari perubahan komposisi bakteri usus seseorang terhadap kesehatannya secara keseluruhan. Di bawah ini Anda dapat melihat 5 pengaruh bakteri usus terhadap kesehatan Anda.   Obesitas Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bakteri usus dapat mempengaruhi berat badan seseorang. Sebuah penelitian baru menemukan bahwa orang yang menderita obesitas memiliki bakteri usus yang tidak terlalu beragam dibandingkan dengan orang yang kurus. Penelitian lainnya menemukan bahwa peningkatan jumlah bakteri usus yang disebut dengan Firmicutes dan penurunan jumlah bakteri usus yang disebut dengan Bacteroidetes juga berhubungan dengan terjadinya obesitas.   Penyakit Jantung Menurut sebuah penelitian baru, saat bakteri usus diberi makan makanan tertentu, seperti telur dan daging sapi, maka mereka akan memproduksi suatu komponen tertentu yang dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan jantung. Para peserta penelitian yang memiliki kadar komponen yang lebih tinggi (komponen ini dikenal dengan nama trimetilamin N-oksida) di dalam darahnya memiliki resiko 2.5 kali lebih besar untuk mengalami serangan jantung, stroke, atau meninggal dalam waktu 3 tahun dibandingkan dengan orang yang memiliki kadar trimetilamin N-oksida yang lebih rendah di dalam darahnya. Oleh karena itu, kurangilah konsumsi makanan yang mengandung banyak lemak dan kolesterol.   Baca juga: Ribuan Bakteri yang Hidup di Uang Kertas   Sistem Kekebalan Tubuh Usus Anda merupakan arena utama di dalam tubuh di mana sistem kekebalan tubuh Anda akan berinteraksi dengan berbagai hal yang berasal dari luar tubuh Anda. Oleh karena itu, interaksi di antara bakteri usus Anda dengan sel-sel tubuh Anda sendiri tampaknya memiliki peranan yang sangat penting di dalam perkembangan dan kekuatan sistem kekebalan tubuh Anda. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2003, para ahli menemukan bahwa jaringan getah bening yang terdapat di dalam usus manusia mengandung banyak sekali sel-sel yang berfungsi untuk melawan kuman penyebab penyakit. Sebuah penelitian lain yang dilakukan pada tahun 2012 menemukan bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif memiliki bakteri usus yang lebih beragam dibandingkan dengan bayi yang hanya diberi susu formula. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh mereka.   Otak Sebuah penelitian yang dilakukan pada hewan percobaan menemukan bahwa gangguan pada bakteri usus manusia ternyata juga dapat mempengaruhi otak dan perilakunya. Pada penelitian yang dilakukan pada tahun 2011, para ahli menemukan bahwa tikus percobaan yang diberi antibiotika (membunuh bakteri ususnya) menjadi tidak terlalu gelisah dan saat bakteri ususnya kembali normal, para tikus percobaan pun kembali menjadi gelisah. Melalui percobaan tersebut, para ahli menemukan bahwa tikus percobaan yang diberikan antibiotika mengalami perubahan pada zat kimia di dalam otaknya, yang berhubungan dengan terjadinya depresi. Hal ini membuat para ahli menduga bahwa bakteri usus dapat menghasilkan berbagai zat kimia yang akan mempengaruhi otak. Jika bakteri usus turut berperan dalam perilaku manusia, maka terapi yang bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan bakteri usus seperti probiotik, mungkin juga dapat membantu memperbaiki perilaku dan mood seseorang.   Kolik Pada Bayi Gangguan keseimbangan bakteri usus pada bayi dapat menyebabkan terjadinya kolik atau bayi menjadi rewel. Bayi yang menderita kolik akan menangis lebih dari 3 jam sehari walaupun tidak menderita gangguan kesehatan apapun. Para ahli menemukan bahwa bayi yang menderita kolik memiliki jumlah proteobacteria yang lebih tinggi di dalam ususnya dibandingkan dengan bayi lain yang tidak menderita kolik. Proteobacteria merupakan bakteri yang telah diketahui dapat menghasilkan gas, yang dapat menyebabkan terjadinya nyeri perut pada bayi dan membuatnya menjadi lebih rewel. Gangguan ini biasanya menghilang dengan sendirinya setelah beberapa bulan pertama kehidupan bayi, yang menunjukkan bahwa gangguan ini bersifat sementara.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: livescience
 26 Mar 2019    16:00 WIB
Makanan Mentah Membuat Penyakit Cacing Usus
Guys you know what! Parasit usus ada di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 3,5 miliar orang di seluruh dunia terinfeksi dengan beberapa jenis parasit usus, dan akibatnya sebanyak 450 juta dari mereka sakit. Anak-anak paling sering terinfeksi parasit ini.  Parasit usus menyebar di daerah dengan sanitasi yang buruk dan paling umum di negara berkembang tropis di benua Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Pada dasarnya mereka bukan masalah besar di Amerika Serikat, dan orang Amerika kemungkinan besar mendapatkan parasit usus ketika mereka melakukan perjalanan ke daerah-daerah terpencil. Cacing usus, juga dikenal sebagai cacing parasit, adalah salah satu jenis utama parasit usus. Jenis umum dari cacing usus meliputi: cacing pipih, yang meliputi cacing pita dan cacing trematoda (fluke). cacing gelang, yang menyebabkan infeksi ascariasis, cacing kremi, dan cacing tambang. Cacing usus, atau cacing parasit, adalah organisme sederhana yang memberi makan tubuh manusia. Banyak orang mengenali varietas yang lebih umum, seperti cacing pita dan cacing tambang, tetapi mungkin kurang menyadari yang lain. Cacing usus dapat menyebabkan banyak gejala dalam tubuh, beberapa di antaranya mirip dengan gejala gangguan usus lainnya. Diagnosis yang cepat dan menyeluruh sangat penting dalam setiap kasus untuk menghindari komplikasi. Setiap spesies cacing usus dapat menyebabkan gejala yang berbeda, dan gejalanya juga bervariasi dari orang ke orang. Namun, beberapa tanda dan gejala umum cacing usus meliputi: Kehilangan selera makan. Kelelahan. Sakit perut. Kembung. Mual. Penurunan berat badan. Sakit perut. Dalam beberapa kasus, orang tersebut mungkin mulai melewati segmen keluarganya cacing usus di tinja mereka. Dalam kasus yang lebih jarang, cacing usus dapat menyebabkan penyumbatan parah di usus, sehingga sulit bagi orang tersebut untuk buang air besar. Kita dapat terkena parasit (cacing usus) dari banyak hal. Beberapa parasit dapat hidup di tanah untuk waktu yang lama. Mereka dapat menembus tubuh melalui kulit atau jika tanah yang terkontaminasi tertelan secara tidak sengaja. Parasit lain hidup pada hewan, seperti babi dan sapi. Orang-orang dapat terserang ini dengan makan daging yang kurang matang atau minum susu yang tidak dipasteurisasi (susu yang belum diproses dengan panas untuk membunuh parasit dan bakteri). Telur-telur dari beberapa parasit usus melewati saluran pencernaan orang yang terinfeksi dan menjadi kotoran. Parasit kemudian dapat menyebar ke orang lain melalui kontak yang tidak disengaja dengan tinja. Tergantung pada jenis parasitnya, seseorang dapat terinfeksi dengan menyentuh mulutnya setelah kontak dengan kotoran yang mengandung organisme (misalnya mengganti popok atau mencuci pakaian), atau area yang terkontaminasi. Parasit dapat menyebar ketika seseorang makan makanan yang terkontaminasi (seperti buah atau sayuran mentah yang tidak dicuci, yang dapat membawa parasit dari tanah atau dari orang yang menanganinya) atau minum air yang terkontaminasi oleh kotoran. Berenang di air yang terkontaminasi juga dapat menyebabkan terserang oleh parasit tertentu. Infestasi cacing usus sering terjadi pada wabah, ketika beberapa orang memiliki gejala pada saat yang sama. Ini sangat mungkin terjadi jika banyak orang bersentuhan dengan persediaan makanan atau air yang sama. Untuk mencegah serangan dari cacing (parasit usus) ini, kita juga harus mempraktikkan kebersihan dan keamanan kita dalam  seperti: Hindari ikan mentah dan daging. Masak daging dengan saksama sampai suhu setidaknya 145 ° F (62,8 ° C) untuk seluruh potongan daging dan 160 ° F (71 ° C) untuk daging giling dan unggas. Bekukan ikan atau daging hingga –4 ° F (–20 ° C) selama setidaknya 24 jam. Cuci, kupas, bersihkan atau masak semua buah dan sayuran mentah. Cuci tangan kita secara teratur dengan sabun dan air panas sebelum dan sesudah menggunakan toilet dan sebelum menyiapkan atau makan makanan. Jika kita mengunjungi negara berkembang, masak buah dan sayuran dengan air matang atau air murni sebelum makan, dan hindari kontak dengan tanah yang mungkin terkontaminasi dengan kotoran manusia. Cuci tangan sesering mungkin, terutama setelah mengganti popok, pergi ke kamar mandi dan bermain di luar. Air yang berpotensi terkontaminasi harus dihindari, atau direbus atau disaring. Cuci dan bersihkan tempat tidur secara teratur. Cuci mainan anak-anak dengan disinfektan. Ganti celana dalam secara teratur. Usahakan untuk tidak menelan air saat berenang di kolam, danau atau sungai. Karena telur cacing kremi peka terhadap cahaya, usahakan banyak cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan rumah. So guys, jika kita ada masalah dengan parasit usus (cacing usus) segeralah pergi ke dokter, karena dokter akan mendiognosa jenis cacing apa yang menyerang usus kita dan obat yang diberikan pun juga bisa tepat. Missal. Dokter akan meresepkan praziquantel (Biltricide) untuk membersihkan cacing pita. Obat ini melumpuhkan cacing, memaksanya untuk terlepas dari dinding usus. Ini kemudian membantu melarutkan cacing sehingga dapat melewati sistem pencernaan dan meninggalkan tubuh selama buang air besar.   Dalam kasus cacing tambang, dokter meresepkan obat-obatan anthelmintik, seperti mebendazole atau albendazole. Triclabendazole dapat membantu mengobati cacing, sementara infeksi cacing kremi sering merespon dengan baik terhadap obat-obatan yang dijual bebas maupun dengan resep dokter. Tapi poin penting yang perlu kita pelajari dan ingat hari ini adalah "lebih baik mencegah dari pada mengobati yah". Salam sehat!!!   Sumber:www.disabledworld.com, www.medicalnewstoday.com, www.healthline.com, www.aboutkidshealth.ca, www.humanillnesses.com.
 29 Jun 2018    13:00 WIB
Tanda Awal Usus Buntu
Radang usus buntu atau istilah medisnya appendicitis adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada jaringan usus buntu atau appendiks. Jaringan appendiks adalah kantung kecil jaringan yang memanjang dari usus besar pada sisi sebelah kanan bawah perut, yang dapat diangkat dengan mudah tanpa menyebabkan efek samping pada tubuh. Appendisitis terjadi ketika terdapat penyumbatan di lumen appendiks (lubang tempat untuk masuk kedalam jaringan appendiks) menyebabkan jaringan appendiks terisi oleh lendir dan hal ini membuat jaringan appendiks lebih rentan terkena infeksi bakteri yang mengakibatkan terjadinya pembengkakan dari jaringan appendiks. Appendisitis memerlukan penanganan medis yang segera, karena apabila terlambat dapat menyebabkan appendiks ini pecah dan menyebarkan bakteri dan terjadi infeksi di seluruh daerah perut, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan yang berbahaya. Ada 3 tipe appendisitis: Akut Kronis appendisitis perforata. Tanda-tanda awal dari usus buntu adalah nyeri di perut bagian bawah. Namun selain gejala tersebut, kenali gejala lain dari penyakit usus buntu Nyeri di pusar Tanda awal dari radang usus buntu adalah rasa nyeri atau ketidaknyamanan di daerah pusar. Nyeri ini kemudian menjalar hingga ke perut kanan bagian bawah. Rasa sakit perut yang sangat menyiksa Rasa sakit yang dirasakan pada awal hanya berupa rasa sakit yang ringan dan kemudian akan bertahap menjadi rasa sakit yang berat dan menyiksa. Hal ini bisa terjadi dalam beberapa jam dan dapat mengganggu aktivitas Anda. Salah satu tanda khas usus buntu adalah nyeri perut kanan bawah yang tidak tertahankan, bahkan terkadang sampai menimbulkan keringat dingin. Demam Radang usus buntu biasanya diawali dengan demam ringan dan sakit perut. Apabila penyakit ini semakin bertambah, maka demam akan naik. Mual dan muntah Gejala lain dari pecahnya usus buntu adalah mual yang diikuti dengan muntah. Diare Dalam banyak kasus, sakit perut diikuti dengan diare ringan. Apabila Anda juga mengalami hal ini, segera kunjungi dokter. Kembung Kembung dan gas di perut mungkin adalah gejala yang tidak berat. Namun apabila kembung disertai dengan rasa sakit luar biasa di perut bagian bawah, berkonsultasilah dengan dokter. Itulah tanda-tanda awal penyakit usus buntu. Apabila Anda merasakan tanda tersebut, segera kunjungi dokter.  Baca juga: Pengobatan Untuk Usus Buntu Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: merdeka
 06 Mar 2018    11:00 WIB
Pankreatitis Akut, Penyebab dan Gejalanya…
Pankreatitis akut  terjadi saat ada peradangan mendadak pada pankreas. Sangat penting untuk mendeteksi gangguan ini sedini mungkin karena pankreatitis akut dapat menyebabkan terjadinya komplikasi berat dan bahkan kematian pada kasus berat. Pankreas sendiri merupakan organ yang memiliki 2 fungsi utama, yaitu untuk mensekresikan enzim-enzim pencernaan dan untuk memproduksi insulin serta glucagon (kedua hormon ini berfungsi untuk mengatur kadar gula darah). Pada keadaan normal, enzim-enzin pencernaan ini akan dikeluarkan dalam jumlah tertentu dari pankreas ke dalam usus halus, untuk membantu proses pencernaan makan. Akan tetapi, pada pankreatitis akut, enzim-enzim pencernaan ini keluar dalam jumlah yang berlebihan dan akibatnya akan merusak pankreas. Sebagian besar kasus pankreatitis akut hanya bersifat ringan dan akan sembuh dalam waktu beberapa hari. Akan tetapi, pada beberapa kasus, pankreatitis akut dapat bersifat berat dan membutuhkan perawatan intensif. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui pankreatitis akut sedini mungkin, untuk menentukan apakah serangan yang terjadi merupakan kasus ringan atau berat, karena keduanya membutuhkan pengobatan yang berbeda. Pada pankreatitis berat mungkin perlu dilakukan tindakan pembedahan untuk mengatasinya.   Baca juga: Fakta Menarik Seputar Pankreas yang Mungkin Belum Anda Ketahui   Penyebab Pada sebagian besar kasus, pankreatitis akut terjadi akibat adanya batu empedu atau konsumsi alkohol. Penyebab yang lebih jarang adalah efek samping obat-obatan, gangguan lemak, infeksi virus, trauma pada perut, atau penyakit autoimun. Pada sebagian kecil kasus, para dokter tidak dapat menemukan penyebab pasti dari pankreatitis akut. Pada beberapa kasus, pankreatitis akut seringkali merupakan gejala awal dari adanya gangguan pada saluran atau kandung empedu.   Gejala Gejala khas dari pankreatitis akut adalah nyeri hebat pada perut atas. Nyeri perut ini biasanya terjadi secara mendadak, semakin hebat, dan seringkali menjalar hingga ke punggung. Selain itu, penderita juga dapat mengalami mual, muntah, dan demam ringan.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: healthxchange
 27 Aug 2016    11:00 WIB
Kisah Seorang Dokter yang Memotong dan Mengeluarkan Usus Buntunya Sendiri!
Di Kutub Utara, pada tanggal 29 April 1961, seorang dokter dari ekspedisi Antartika Rusia (Kutub Selatan Bumi) yang ditugaskan di stasiun ekspedisi "Novolazarevskaya", Leonid Rogozof, 27 tahun, mengalami demam dan merasakan nyeri hebat pada perut bagian bawahnya.   Baca Juga: Tanda Awal Usus Buntu (Tanda Awal Radang Usus Buntu)   Karena ketika itu mustahil baginya untuk menyewa pesawat dan pergi ke rumah sakit terdekat, serta tidak ada dokter lain di stasiun tersebut;  maka ia pun terpaksa melakukan tindakan pembedahan usus buntu pada dirinya sendiri pada malam tanggal 30 April 1961 untuk mengeluarkan usus buntunya yang telah meradang. Pada operasi ini, ia menggunakan obat bius lokal dan dibantu oleh seorang mekanik dan seorang ahli meteorologi yang ada dalam ekspedisi tersebut. Sambil berbaring setengah membungkuk ke arah sisi kiri, ia menyuntikkan dirinya cairan obat bius lokal "novocaine", kemudian melakukan torehan sepanjang 12 cm di perut bagian kanannya (iliac) dengan pisau bedah. Dengan melihat melalui cermin kecil dan meraba-raba, Leonid melakukan pembedahan, mengeluarkan usus buntunya, dan menyuntikkan antibiotik di bagian perut, dan kemudian menjahit lukanya. Kedua orang "asisten" (mekanik dan metrologist) membantu memegang cermin kecil ke dekat perut dan memberi peralatan kedokteran kepada Leonid. Operasi ini berlangsung selama 1 jam 45 menit. Lima hari paska operasi, suhu tubuh Leonid kembali normal, dan 2 hari berikutnya benang jahitan lukanya pun dilepaskan karena lukanya telah mengering. Seluruh peralatan yang dipakai untuk melakukan operasi spektakuler itu kini berada dan dipamerkan di museum "Artik dan Antartika" di St. Petersburg, Rusia.  Baca juga: Faktor Risiko Usus Buntu Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: WOW Fact