Your browser does not support JavaScript!
 15 Nov 2015    20:00 WIB
Cuaca dan Peningkatan Resiko Stroke
Walaupun kedengaran aneh, para peneliti telah menemukan adanya kemungkinan hubungan antara cuaca tertentu dengan kejadian stroke. Perubahan suhu yang cukup jauh setiap harinya dan kelembaban yang tinggi diduga dapat meningkatkan resiko stroke. Para peneliti juga menemukan bahwa suhu yang lebih dingin dari biasanya juga berhubungan dengan kejadian stroke dan bahkan kematian. Suhu rata-rata pada musim dingin, yaitu -15°C dapat meningkatkan resiko terjadinya stroke hingga 6%. Penyebab mengapa hal ini terjadi masih belum jelas. Selain itu, walaupun para peneliti telah berhasil menemukan adanya hubungan antara cuaca dengan resiko stroke, akan tetapi hubungan timbal balik antar keduanya masih belum dapat dibuktikan. Perubahan suhu setiap harinya dan peningkatan kelembaban udara dapat merupakan suatu stressor. Oleh karena itu, orang yang beresiko tinggi menderita stroke disarankan agar menghindari paparan udara dingin dan kelembaban udara yang tinggi ini.   Bagaimana Perubahan Suhu Membuat Tubuh Merasa Stress? Saat suhu dingin, berbagai pembuluh darah di dalam kulit anda akan mengecil sehingga tubuh tidak membuang panas terlalu banyak. Bila udara hangat, maka pembuluh-pembuluh darah ini akan melebar untuk meningkatkan pengeluaran panas melalui kulit. Stroke iskemik merupakan stroke yang terjadi akibat adanya obstruksi atau sumbatan di dalam pembuluh darah yang memperdarahi otak. Apabila lumen pembuluh darah yang telah mengecil akibat penumpukan lemak bertambah kecil akibat suhu dingin, maka hal ini diduga dapat menyebabkan terjadinya serangan stroke.   Faktor Resiko Stroke Lainnya Selain perubahan cuaca, terdapat faktor resiko lain yang berhubungan dengan peningkatan resiko stroke seperti usia, jenis kelamin, ras, berat badan, gaya hidup, kadar kolesterol, dan riwayat kesehatan penderita (apakah penderita juga menderita gangguan kesehatan lain, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi).   Sumber: webmd
 02 Sep 2015    16:00 WIB
Kesepian Versus Obesitas, Hayo Mana Yang Lebih Berbahaya?
Seiring dengan kemajuan teknologi yang terjadi saat ini, maka semakin mudah bagi seseorang untuk mengisolasi dirinya dari lingkungan di sekitarnya. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa hal ini ternyata dapat berdampak buruk pada kesehatan Anda?   Para peneliti dari Brigham Young University di Utah, Amerika Serikat, menemukan bahwa isolasi diri dan rasa kesepian dapat membuat usia seseorang menjadi lebih pendek karena dapat mengganggu kesehatan orang tersebut, sama seperti gangguan kesehatan yang disebabkan oleh obesitas. Mereka menemukan bahwa rasa kesepian, isolasi diri, dan hidup sendirian dapat meningkatkan resiko terjadinya kematian dini hingga 26%, 29%, dan 32%.   Para peneliti menduga hal ini dikarenakan kurangnya pergaulan sosial, terutama yang bukan dikarenakan pilihan orang tersebut, dapat menyebabkan terjadinya gangguan emosional dan psikologis pada seseorang, terutama bila orang tersebut berusia kurang dari 65 tahun.   Oleh karena itu, para peneliti mengingatkan setiap orang untuk mulai memperhatikan kehidupan dan pergaulan sosialnya, bukan hanya berat badan dan apa makanan yang dikonsumsinya setiap hari.   Selain itu, para ahli lainnya juga menemukan bahwa rasa kesepian ternyata dapat meningkatkan kadar hormon stress, yaitu kortisol, yang dapat meningkatkan resiko terjadinya stroke dan serangan jantung.   Baca juga: 5 Cara Kembali Ceria Saat Merasa Kesepian   Sumber: huffingtonpost
 11 Mar 2015    16:00 WIB
Terapi Magnet Membantu Mengatasi Bekuan Darah Lebih Cepat, Benarkah?
Sebuah pengobatan stroke baru yang terdiri dari partikel magnet yang berukuran sangat kecil (nano) telah terbukti dapat menghancurkan bekuan darah di dalam otak 100-1.000 kali lebih cepat dibandingkan dengan pengobatan bekuan darah lainnya. Obat ini biasanya dimasukkan ke dalam tubuh penderita stroke melalui pembuluh darah (disuntikkan). Obat baru ini pun menjadi sangat populer karena dapat memberikan kemajuan yang sangat pesat pada pencegahan berbagai penyakit serius seperti stroke, serangan jantung, emboli paru, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya yang disebabkan oleh adanya bekuan darah yang merusak jaringan dengan cukup berat dan menyebabkan terjadinya kematian. Para peneliti yang menemukan obat ini mendesain partikel nano di dalam obat tersebut agar mereka dapat “tersangkut” pada bekuan darah sehingga obat penghancur bekuan darah (tPA atau tissue plasminogen activator) pun dapat bekerja secara maksimal di tempat yang diperlukan. Para peneliti melapisi obat ini dengan albumin, sejenis protein yang memang dapat ditemukan di dalam tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh pun tidak akan menyerang partikel nano (oksida besi) di dalamnya. Para dokter pun menyambut baik obat stroke baru ini karena adanya partikel nano di dalamnya membuat obat tersebut bekerja tepat sasaran sehingga dosis obat yang diperlukan pun menjadi lebih rendah. Sebenarnya, tPA dan obat lain sejenisnya cukup efektif untuk menolong para penderita, akan tetapi karena obat ini dimetabolisme dengan cepat di dalam tubuh, maka dokter pun harus memberikan dosis yang lebih tinggi agar obat dapat bekerja dengan efektif. Pemberian dosis obat-obatan ini pun membutuhkan perhatian lebih karena dapat menyebabkan terjadinya perdarahan, yang juga dapat membahayakan jiwa penderita.   Sumber: newsmaxhealth
 04 Feb 2015    14:00 WIB
Tes Resiko Stroke Anda Dengan Melakukan Hal Ini!
Sebuah penelitian di Jepang menemukan bahwa bila seseorang tidak dapat menjaga keseimbangannya saat berdiri dengan 1 kaki selama setidaknya 20 detik, maka orang tersebut beresiko untuk terkena stroke. Kesulitan berdiri dengan satu kaki dapat merupakan salah satu petunjuk bahwa telah terjadi stroke kecil atau perdarahan kecil di dalam otak, yang merupakan salah satu resiko terjadinya serangan stroke yang lebih berat. Peneliti menganjurkan agar orang yang menunjukkan tanda-tanda kesulitan menjaga keseimbangan saat berdiri dengan satu kaki dan kesulitan berjalan untuk lebih memperhatikan keadaan kesehatannya secara keseluruhan karena hal ini dapat merupakan pertanda adanya abnomalitas di dalam otak dan penurunan fungsi mental. Stroke merupakan suatu gangguan kesehatan yang terjadi karena adanya gangguan aliran darah di dalam otak akibat adanya suatu sumbatan atau perdarahan. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati sekitar 1.400 oragn pria dan wanita, yang rata-rata berusia 67 tahun. Para peneliti kemudian meminta seluruh peserta penelitian untuk berdiri dengan satu kaki selama 1 menit. Selain itu, para peneliti juga melakukan pemeriksaan MRI otak untuk mendeteksi ada tidaknya gangguan di dalam pembuluh darah kecil otak yang dapat menyebabkan terjadinya stroke tersembunyi atau perdarahan kecil. Para peneliti menemukan bahwa ketidakmampuan untuk menjaga keseimbangan saat berdiri dengan 1 kaki selama 20 detik berhubungan dengan adanya stroke “kecil” atau perdarahan kecil di dalam otak. Gangguan keseimbangan ini juga berhubungan dengan penurunan kemampuan berpikir dan daya ingat. Seorang ahli di Amerika mengatakan bahwa penyempitan atau sumbata pada pembuluh darah kecil di dalam otak dapat meningkatkan resiko terjadinya stroke “kecil” atau perdarahan kecil. Stroke “kecil” ini merupakan salah satu penyebab utama terjadinya penurunan fungsi mental dan demensia (pikun), serta juga berhubungan dengan terjadinya kesulitan berjalan dan kesulitan menjaga keseimbangan serta kemungkinan untuk jatuh pada seseorang. Peneliti mengatakan bahwa di antara orang yang memiliki 2 atau lebih stroke “kecil”, sekitar sepertiganya mengalami kesulitan menjaga keseimbangan dan pada orang yang pernah mengalami stroke, sekitar 16% di antaranya mengalami kesulitan menjaga keseimbangan. Selain itu, sekitar 30% orang yang mengalami 2 atau lebih perdarahan kecil juga mengalami kesulitan untuk menjaga keseimbangan. Sedangkan pada orang yang hanya memiliki 1 perdarahan kecil di dalam otak, sekitar 15% di antaranya juga mengalami kesulitan menjaga keseimbangan. Para peneliti juga menemukan bahwa orang yang mengalami kerusakan pembuluh darah otak biasanya berusia lebih tua, menderita tekanan darah tinggi, dan memiliki pembuluh darah karotis yang lebih tebal dibandingkan dengan orang yang tidak pernah mengalami stroke atau perdarahan. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa orang yang kesulitan menjaga keseimbangannya saat berdiri dengan 1 kaki selama sejangka waktu juga berhubungan dengan penurunan kemampuan daya ingat dan berpikir.   Sumber: newsmaxhealth