Your browser does not support JavaScript!
 05 Sep 2014    13:00 WIB
Benarkah Ganja Dapat Membantu Mengatasi Gejala Sklerosis Multipel?
Benarkah ganja dapat membantu mengatasi gejala sklerosis multipel? Sklerosis multipel merupakan suatu penyakit kronik di mana terjadi kerusakan pada lapisan pelindung serat-serat saraf. Banyak penderita sklerosis multipel telah mengatakan bahwa menghisap ganja dapat membantu mengurangi nyeri otot akibat kram. Sebuah penelitian baru pun telah turut mengkonfirmasi hal ini. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa menghisap ganja selama beberapa hari dapat membantu mengatasi nyeri otot pada sekitar 30 penderita sklerosis multipel yang mengalami kram otot (spastisitas), di mana gejala tidak juga membaik setelah penderita menerima pengobatan standar sklerosis multipel. Akan tetapi, para peneliti masih belum mengetahui secara pasti apakah manfaat ini melebihi dampak negatif ganja pada kesehatan para penggunanya.  Beberapa orang penderita sklerosis multipel telah mulai menggunakan ganja untuk mengatasi beberapa gejala sklerosis multipel, termasuk spastisitas, yaitu suatu keadaan di mana otot-otot kaki atau tangan berkontraksi (kram), yang membuat penderita merasa sangat nyeri. Para peneliti mengatakan bahwa memang benar bahwa tubuh memproduksi cannabinoid secara alami untuk membantu mengatur spastisitas otot. Walaupun demikian, karena belum adanya bukti ilmiah yang kuat mengenai manfaat ganja yang satu ini, para ahli pun belum dapat memastikan apakah menghisap ganja benar-benar dapat membantu mengatasi spasme atau kram otot yang dialami oleh banyak penderita sklerosis multipel. Para peneliti menemukan bahwa selain membantu mengatasi rasa nyeri akibat kram otot, ganja juga menimbulkan beberapa efek samping seperti pusing dan rasa sangat lelah pada beberapa pengguna. Selain itu, ganja juga dapat memperlambat kemampuan mental seseorang. Walaupun demikian, para ahli masih belum mengetahui apakah konsumsi ganja dapat menimbulkan efek samping lainnya bila digunakan dalam jangka waktu lama. Pada penelitian ini, para peneliti meminta para penderita untuk menghisap ganja atau plasebo, yang memiliki bentuk, bau , dan rasa yang sama seperti ganja; akan tetapi tidak memiliki bahan aktif ganja (THC). Setiap penderita menghisap ganja sekali setiap harinya selama 3 hari dan menghisap plasebo sekali setiap harinya selama 3 hari berikutnya. Para peneliti kemudian memeriksa spastisitas otot penderita sebelum dan setelah terapi diberikan. Para peneliti kemudian menemukan bahwa spastisitas otot para penderita menurun hingga 30% saat mereka menghisap ganja dan tidak berubah bila mereka hanya menghisap plasebo. Walaupun terbukti cukup efektif, akan tetapi para peneliti masih khawatir akan efek konsumsi ganja dalam waktu lama, yaitu karena ganja mempengaruhi fungsi kognitif. Hal ini dikarenakan para penderita sklerosis multipel juga telah rentan terhadap perubahan kognitif. Para peneliti mengatakan bahwa penelitian ini masih memiliki beberapa kelemahan seperti: Sekitar 17 dari 30 penderita mengetahui kapan mereka sedang menghisap ganja dan kapan mereka sedang menghisap plasebo, yang dapat menimbulkan efek bias Waktu penelitian yang terlalu singkat membuat para peneliti tidak mengetahui apa efek jangka panjang dari penggunaan ganja Dianjurkan agar Anda berkonsultasi dengan dokter Anda bila Anda merasa obat-obatan yang Anda konsumsi tidak dapat membantu mengatasi gejala spastisitas otot yang Anda alami.     Sumber: healthmeup