Your browser does not support JavaScript!
 23 Feb 2019    18:00 WIB
Bagaimana Cara Mengenali Seorang Penderita Skizofrenia?
Seorang penderita skizofrenia dapat mengalami kesulitan untuk membedakan antara kenyataan dan halusinasinya. Mereka dapat melihat berbagai hal yang tidak ada dan mempercayai bahwa hal tersebut ada, apapun yang dikatakan oleh orang lain. Oleh karena itu, memahami dengan jelas apa itu skizofrenia dapat membantu penderita dan anggota keluarganya untuk menghadapi gangguan ini. Hal pertama yang harus diketahui oleh penderita dan keluarganya adalah bahwa skizofrenia merupakan suatu penyakit, bukanlah suatu kelainan kepribadian. Berbagai penelitian yang meneliti bagaimana keadaan otak seorang penderita skizofrenia menemukan bahwa otak para penderita skizofrenia cenderung terlihat dan memiliki fungsi yang berbeda dengan orang yang tidak menderita gangguan ini.  Para ahli menduga bahwa beberapa perbedaan ini terjadi sebelum penderita lahir, walaupun gejala skizofrenia biasanya tidak akan tampak hingga penderita dewasa, yaitu antara usia 16-30 tahun. Hal kedua yang perlu diketahui adalah apa saja gejala skizofrenia tersebut. Secara umum, terdapat 3 gejala utama dari skizofrenia, yaitu: Penderita biasanya memiliki pikiran yang terganggu dan terlalu aktif, yaitu mengalami halusinasi dan atau delusi. Halusinasi merupakan suatu keadaan di mana penderita melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata. Halusinasi yang sering terjadi adalah halusinasi pendengaran. Sedangkan delusi adalah suatu keadaan di mana penderita memiliki keyakinan yang salah, yang tidak dapat digoyahkan. Beberapa penderita mungkin yakin bahwa dirinya sedang dikejar-kejar oleh seseorang, sementara beberapa penderita lainnya mungkin mempercayai bahwa mereka merupakan orang terkenal atau memiliki suatu kekuatan luar biasa Penderita biasanya memiliki beberapa gejala yang menyerupai gejala depresi, yang seringkali salah diartikan sebagai gangguan depresi. Beberapa gejala tersebut adalah suara datar dan tidak merasa senang saat melakukan sesuatu yang menyenangkan atau yang dulu disukainya Penderita skizofrenia juga dapat mengalami gangguan fungsi kognitif, yang membuatnya kesulitan berkonsentrasi, kesulitan mengingat berbagai hal, atau kesulitan membuat keputusan. Berbagai hal ini dapat membuat seorang penderita kesulitan bekerja atau melakukan berbagai aktivitas sehari-hari. Selain itu, penderita mungkin tampak mengalami penurunan motivasi Diagnosa skizofrenia biasanya ditegakkan berdasarkan pada adanya gejala psikosis seperti halusinasi atau delusi yang bukan disebabkan oleh penyalahgunaan zat atau akibat adanya gangguan kesehatan tertentu.  Memberikan pengobatan anti psikosis secepatnya dapat membantu mengatasi gejala skizofrenia. Skizofrenia yang tidak diobati dapat menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan otak. Semakin lama penderita tidak menerima pengobatan, maka semakian besar resiko kerusakan jaringan otak tersebut terjadi pada penderita.       Sumber: webmd
 17 Mar 2017    15:00 WIB
4 Jenis Gangguan Skizofrenia
Skizofrenia Paranoid Seorang penderita skizofrenia paranoid biasanya mengalami delusi dan halusinasi pendengaran, akan tetapi biasanya memiliki tingkat kecerdasan yang normal dan dapat mengekspresikan emosi dengan baik.  Delusi yang dialami biasanya berupa dianiaya oleh seseorang atau suatu organisasi tertentu atau merasa dilecehkan atau diperlakukan dengan tidak adil. Seorang penderita skizofrenia paranoid dapat mengekspresikan berbagai emosi seperti rasa marah dan cemas, serta bersikap acuh tak acuh atau bahkan argumentatif.   Skizofrenia Tidak Teratur Skizofrenia jenis ini biasanya mengalami gangguan dalam hal berbicara dan berperilaku, di mana mereka memiliki cara berbicara atau berperilaku yang tidak teratur atau sulit dimengerti oleh orang lain. Penderita biasanya juga memiliki emosi yang datar atau tidak sesuai dengan kondisi yang mereka alami. Penderita dapat tertawa tanpa alasan yang jelas, memiliki pemikiran yang tidak logis, atau tampak sibuk dengan pikiran atau persepsinya sendiri. Perilaku mereka ini dapat mengganggu aktivitas mereka sehari-hari termasuk dalam hal mandi, berpakaian, dan makan.   Skizofrenia Tidak Terdiferensiasi Skizofrenia jenis ini memiliki semua gejala skizofrenia di atas, akan tetapi tidak cukup spesifik untuk dimasukkan ke dalam salah satu kategori di atas.   Skizofrenia Residual Skizofrenia residual merupakan jenis skizofrenia di mana penderitanya pernah mengalami setidaknya satu episode skizofrenia sebelumnya, akan tetapi sekarang ini penderita tidak lagi mengalami delusi, halusinasi, gangguan berbicara, atau gangguan perilaku.  Skizofrenia jenis ini dapat merupakan suatu transisi antara episode skizofrenia sebenarnya atau remisi (sembuh). Keadaan ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa adanya gejala psikosis apapun.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: webmd
 14 Nov 2014    16:00 WIB
Penderita Gangguan Obsesif Kompulsif Lebih Beresiko Menderita Skizofrenia, Benarkah?
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa seorang penderita gangguan obsesif kompulsif memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita skizofrenia, yaitu hingga 2 kali lipat. Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa di mana penderitanya biasanya mengalami halusinasi dan atau delusi. Halusinasi yang paling sering terjadi adalah halusinasi pendengaran, di mana penderita mendengar suara-suara yang berasal dari dalam pikirannya sendiri. Delusi merupakan suatu keyakinan yang kuat mengenai sesuatu hal yang salah, misalnya penderita yakin bahwa dirinya merupakan seorang dewa atau artis terkenal. Walaupun skizofrenia dan gangguan obsesif kompulsif merupakan dua gangguan jiwa yang berbeda, akan tetapi beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan adanya hubungan di antara keduanya. Pada penelitian yang dilakukan di Denmark ini, para peneliti mengamati lebih dari 3 juta orang yang lahir di antara tahun 1955-2006. Para peneliti pun mulai melakukan pengamatan ini mulai dari tahun 1995 hingga tahun 2012. Para peneliti kemudian menemukan bahwa sekitar 3% dari 16.200 orang yang didiagnosa menderita skizofrenia ternyata telah terlebih dahulu didiagnosa menderita gangguan obsesif kompulsif. Berbagai data yang diperoleh selama penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang telah didiagnosa menderita gangguan obsesif kompulsif memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita skizofrenia di masa yang akan datang. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa anak-anak yang memiliki orang tua yang menderita gangguan obsesif kompulsif juga lebih beresiko untuk menderita skizofrenia di masa yang akan datang. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apa saja faktor genetika dan lingkungan yang dapat ditemukan pada penderita gangguan obsesif kompulsif dan skizofrenia.   Sumber: newsmaxhealth
 24 Oct 2014    12:00 WIB
Hubungan Antara Skizofrenia Dengan Struktur dan Zat Kimia Otak
Para peneliti menduga bahwa gangguan keseimbangan berbagai zat kimia di dalam otak yang saling berhubungan yang mengenai neurotransmiter dopamin dan glutamat, serta berbagai neurotransmiter lainnya mungkin juga turut berperanan dalam terjadinya skizofrenia. Neurotransmiter merupakan suatu zat yang membantu proses komunikasi di antara sel-sel otak. Selain itu, walaupun hanya sedikit, otak para penderita skizofrenia tampak berbeda dengan otak orang sehat. Misalnya suatu ruangan di bagian tengah otak yang berisi cairan yaitu ventrikel, tampak lebih besar pada penderita skizofrenia. Otak penderita skizofrenia juga cenderung memiliki lebih sedikit area abu-abu (gray matter) dan beberapa bagian otak mungkin memiliki lebih sedikit atau lebih banyak aktivitas. Berbagai penelitian pada jaringan otak penderita setelah mereka meninggal juga telah menunjukkan beberapa perbedaan antara otak seorang penderita skizofrenia dengan orang sehat. Para peneliti menemukan adanya sebuah perubahan kecil pada distribusi atau karakteristik sel-sel otak yang kemungkinan besar terjadi sebelum lahir. Para ahli menduga bahwa gangguan perkembangan otak sebelum lahir inilah yang menyebabkan terjadinya gangguan komunikasi di antara sel-sel otak.  Gangguan perkembangan otak ini mungkin tidak akan menimbulkan gejala apapun hingga memasuki masa pubertas. Hal ini dikarenakan otak mengalami perubahan besar pada masa pubertas yang mungkin memicu timbulnya berbagai gejala gangguan jiwa (psikosis).     Sumber: webmd
 22 Oct 2014    12:00 WIB
Hubungan Antara Skizofrenia Dengan Gen dan Lingkungan
Para ahli menduga bahwa skizofrenia disebabkan oleh beberapa hal seperti faktor genetika, lingkungan, struktur dan zat kimia di dalam otak. Para peneliti telah lama mengetahui bahwa skizofrenia dapat diturunkan dalam suatu keluarga. Resiko Anda akan meningkat bila Anda memiliki anggota keluarga yang menderita skizofrenia, seperti orang tua, saudara kandung, sepupu, paman, dan bibi.  Resiko ini lebih tinggi bila terjadi pada anggota keluarga tingkat pertama seperti orang tua dan saudara kandung dibandingkan dengan anggota keluarga tingkat kedua seperti sepupu, paman, dan bibi. Resiko tertinggi dialami oleh saudara kembar seorang penderita skizofrenia, di mana ia memiliki resiko sebesar 40-65% untuk menderita skizofrenia. Para peneliti menduga bahwa terdapat beberapa jenis gen yang turut berperanan dalam peningkatan resiko terjadinya skizofrenia, akan tetapi skizofrenia bukanlah penyakit yang disebabkan oleh suatu kelainan gen tertentu. Sebuah penelitian baru menemukan bahwa seorang penderita skizofrenia biasanya lebih sering mengalami mutasi genetik langka, yang mengenai beratus-ratus gen yang berbeda dan mungkin turut mempengaruhi perkembangan otak. Berbagai penelitian lainnya menemukan bahwa sebagian skizofrenia terjadi karena adanya gangguan pada gen yang berperan dalam membentuk berbagai zat kimia penting di dalam otak, yang mungkin mengenai suatu bagian otak tertentu sehingga mengganggu fungsi otak tertentu. Walaupun demikian, para peneliti menduga masih dibutuhkan hal lain selain kelainan gen untuk memicu terjadinya skizofrenia. Para peneliti menduga bahwa interaksi antara gen dan lingkungan turut berperanan dalam terjadinya skizofrenia.  Berbagai faktor lingkungan yang mungkin dapat meningkatkan resiko terjadinya skizofrenia adalah paparan terhadap berbagai jenis virus, mengalami malnutrisi sebelum dilahirkan, adanya masalah atau komplikasi selama persalinan, penggunaan ganja dalam jumlah berlebihan sejak remaja, dan berbagai faktor psikososial lainnya.     Sumber: webmd
 20 Oct 2014    11:00 WIB
Apakah Skizofrenia Dapat Dicegah?
Skizofrenia merupakan suatu penyakit kompleks, yang sebagiannya mungkin berhubungan dengan gen Anda. Akan tetapi, berbagai hal yang terjadi di dalam kehidupan Anda pun turut berperanan. Skizofrenia memang dapat diturunkan, akan tetapi tidak ada satu gen spesifik yang dapat menyebabkan terjadinya skizofrenia. Skizofrenia mungkin terjadi akibat adanya kombinasi gen tertentu atau variasi genetik tertentu yang membuat beberapa orang memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita skizofrenia. Akan tetapi, bukan berarti semua penderita skizofrenia pasti memiliki anggota keluarga lainnya yang juga menderita skizofrenia. Beberapa orang yang memang telah memiliki beberapa gen tertentu yang berhubungan dengan terjadinya skizofrenia cenderung lebih beresiko untuk menderita skizofrenia bila mengalami beberapa kejadian tertentu seperti: Komplikasi kehamilan seperti infeksi, stress, dan preeklampsia Mengalami gangguan depresi atau stressor lainnya selama hamil. Seorang wanita yang mengalami kematian orang terdekat atau tragedi lainnya selama kehamilan juga membuat anak di dalam kandungannya lebih rentan terhadap skizofrenia Pernah mengalami cedera otak saat masih anak-anak Pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual di masa kanak-kanak Pernah mengalami berbagai kejadian traumatis lainnya di masa kanak-kanak Menyalahgunakan zat atau obat-obatan terlarang sejak berusia dini Penggunaan ganja sejak berusia dini atau dalam jangka waktu lama Anak-anak yang pernah mengalami trauma apapun sebelum berusia 16 tahun memiliki resiko 3 kali lebih tinggi untuk mengalami gangguan jiwa. Bahkan jika trauma yang dialaminya cukup berat, maka anak memiliki resiko 50 kali lebih tinggi untuk mengalami gangguan jiwa.   Apa yang Harus Dilakukan Bila Ada Anggota Keluarga yang Menderita Skizofrenia? Jika ada anggota keluarga Anda yang menderita skizofrenia, maka Anda pun menjadi lebih rentan terhadap skizofrenia. Di bawah ini terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah terjadinya skizofrenia pada diri Anda, yaitu: Hindari penyalahgunaan obat-obatan terlarang, terutama pada masa remaja Hindari paparan terhadap berbagai zat kimia yang beracun bagi perkembangan otak Batasi konsumsi minuman beralkohol Hindari kejadian traumatis atau kekerasan fisik maupun seksual. Jika Anda mengalami kekerasan dalam hubungan Anda dengan pasangan atau mengalami suatu kejadian traumatis, segera cari pertolongan  Jalinlah hubungan dan komunikasi dengan orang lain di sekitar Anda karena dukungan sosial dapat membantu mengurangi stress, mencegah Anda merasa kesepian dan tidak berharga, serta membuat Anda tetap sibuk Belajar mengatasi rasa stress yang Anda alami. Stress kronik dan rasa cemas dapat berdampak buruk pada kesehatan Anda, baik kesehatan fisik maupun mental Rawatlah diri Anda sendiri dengan mengkonsumsi diet sehat dan seimbang serta berolahraga secara teratur Hindari terjadinya cedera kepala     Sumber: webmd
 08 Oct 2014    14:00 WIB
Menderita Skizofrenia Tetapi Ingin Memiliki Pasangan? Apa yang Harus Dilakukan?
Menderita skizofrenia seringkali membuat para penderitanya merasa ragu untuk memberitahu atau bahkan mulai mencari teman, apalagi pasangan. Akan tetapi, hal ini ternyata tidak berlaku bagi Penny Freese.  Freese sedang melanjutkan kuliah keseniannya di sebuah universitas di Amerika saat ia bertemu dengan seorang pria yang saat ini telah menjadi suaminya. Setelah berpacaran selama beberapa bulan, ia menyadari bahwa pasangannya tersebut selalu menghindar saat membicarakan berbagai masalah pribadi. Akhirnya, suatu hari, ia pun mulai mengkonfrontasi pasangannya tersebut dan mengatakan bahwa ia tidak jujur padanya. Pasangannya pun memberitahukan padanya bahwa ia pernah mengalami episode skizofrenia.  Walaupun pada awalnya ragu, 6 bulan kemudian mereka pun menikah dan tetap bersama hingga sekarang, 37 tahun kemudian. Freese mengatakan bahwa menjaga hubungan yang baik dan keintiman dengan pasangan dapat membantu menjaga pernikahannya hingga kini, tetapi tentu saja membutuhkan banyak usaha dari kedua belah pihak. Apakah Anda pun ingin memiliki suatu kehidupan pernikahan walaupun menderita skizofrenia? Seorang penderita skizofrenia cenderung menghindari berbagai situasi sosial, yang mengharuskannya berhubungan dengan orang lain, yang membuatnya sulit memiliki seorang teman, apalagi pasangan.  Memang bukan merupakan hal yang mudah untuk mulai berkencan saat Anda tahu Anda menderita skizofrenia. Di bawah ini terdapat beberapa hal yang mungkin dapat membantu Anda kembali menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitar Anda, seperti: Berkonsultasilah dengan dokter spesialis jiwa Anda untuk mengetahui obat mana yang paling tepat untuk mengatasi berbagai gejala skizofrenia yang Anda alami Berkonsultasilah dengan seorang terapis yang dapat membantu Anda menjalin suatu hubungan dengan orang lain Mulailah melakukan berbagai aktivitas yang membuat Anda harus keluar rumah dan berada di sekitar orang lain, misalnya berolahraga di tempat fitness   Kapan Harus Memberitahu Si Dia? Memberitahu si dia bahwa Anda menderita skizofrenia dapat merupakan hal yang sulit, terutama bila Anda baru memulai hubungan Anda tersebut. Akan tetapi, bukan berarti Anda harus menyembunyikan keadaan Anda dari si dia. Hal ini dikarenakan walaupun dengan pengobatan yang tepat, Anda tetap mungkin masih mengalami berbagai gangguan dalam hal komunikasi atau berbagai hal lainnya yang membuat si dia menyadari ada sesuatu yang aneh pada diri Anda.  Mencari tahu kapan saat yang tepat untuk memberitahu pasangan atau teman baru Anda mengenai keadaan Anda adalah kuncinya. Akan lebih baik bila Anda memberitahu sahabat baru atau pasangan Anda tersebut beberapa bulan setelah Anda mulai berkencan, jangan terlalu cepat, tetapi juga jangan terlalu lama.     Sumber: webmd
 03 Oct 2014    12:00 WIB
Cara Mencegah Penderita Skizofrenia Melakukan Tindakan Bunuh Diri
Para peneliti telah menemukan beberapa faktor resiko penting yang membuat seorang penderita skizofrenia melakukan tindakan bunuh diri, akan tetapi mungkin agak sulit bagi Anda untuk mengenali beberapa tanda awal bahwa seorang penderita skizofrenia akan melakukan tindakan bunuh diri. Seorang penderita skizofrenia memiliki resiko melakukan tindakan bunuh diri yang lebih tinggi saat ia baru saja keluar dari rumah sakit. Hal ini dikarenakan para penderita skizofrenia seringkali menganggap rumah sakit merupakan suatu tempat aman baginya dan semua pekerja di rumah sakit merupakan orang-orang penting dalam kehidupannya. Oleh karena itu, saat akhirnya mereka diperbolehkan keluar dari rumah sakit, mereka seringkali merasa putus asa. Selain itu, resiko terjadinya tindakan atau usaha bunuh diri juga lebih tinggi pada seorang penderita skizofrenia yang mulai menyadari bahwa mereka sakit dan bahwa penyakit yang mereka derita merupakan suatu penyakit berat. Hal ini terutama terjadi pada seorang penderita skizofrenia yang masih muda, yang memiliki kehidupan yang aktif sebelumnya, yang membuat mereka menyadari apa saja yang harus mereka korbankan atau kehilangan apa saja yang akan ia alami karena penyakitnya tersebut. Perasaan ini dapat membuat mereka merasa putus asa, tidak berdaya, dan akhirnya enggan hidup. Untuk mengetahui apakah seorang penderita skizofrenia beresiko melakukan tindakan bunuh diri, maka dokter dan anggota keluarga harus lebih perhatian dan sensitive terhadap perasaan dan perilaku penderita.  Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa cara paling efektif untuk mencegah terjadinya tindakan bunuh diri pada seorang penderita skizofrenia adalah dengan mengkombinasikan beberapa terapi seperti: Pengobatan untuk mengatasi berbagai gejala gangguan depresi Meningkatkan kepatuhan penderita untuk mengkonsumsi berbagai obat-obatan yang diperlukan dan melakukan berbagai terapi yang diperlukan Meningkatkan perhatian dan kewaspadaan pada para penderita skizofrenia yang memang memiliki beberapa faktor resiko untuk melakukan tindakan bunuh diri, terutama pada para penderita yang telah kehilangan berbagai hal dalam hidupnya karena penyakitnya tersebut     Sumber: webmd
 01 Oct 2014    12:00 WIB
Hubungan Antara Skizofrenia dan Bunuh Diri
Skizofrenia merupakan suatu penyakit kronik, yang menyebabkan gangguan mental, yang memiliki banyak gejala seperti: Cara berpikir yang abnormal Kehilangan kontak dengan realitas Halusinasi yaitu melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada Skizofrenia telah banyak dihubungkan dengan peningkatan resiko terjadinya percobaan bunuh diri dan kejadian bunuh diri yang sukses. Dari para penderita skizofrenia, sekitar 20-40% pernah mencoba bunuh diri, di mana sekitar 5-13% nya berhasil melakukan usaha bunuh diri tersebut dan meninggal.  Dibandingkan dengan orang lainnya, para penderita skizofrenia memiliki resiko yang lebih tinggi untuk melakukan usaha bunuh diri, yaitu sebanyak 8 kali lipat. Selain itu, para penderita skizofrenia pun memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami kematian akibat penyebab alami, misalnya seperti gangguan pernapasan. Pencegahan usaha bunuh diri pada seorang penderita skizofrenia dapat sulit dilakukan karena tindakan dan perilaku seorang penderita skizofrenia seringkali sulit ditebak dan impulsif. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi para petugas medis, anggota keluarga, dan teman penderita skizofrenia untuk mengetahui beberapa faktor resiko terjadinya usaha bunuh diri dan situasi lingkungan seperti apa yang seringkali ditemui saat usaha bunuh diri dilakukan. Seorang penderita skizofrenia memiliki resiko yang lebih tinggi untuk melakukan usaha bunuh diri bila ia merupakan seorang pria, dewasa muda, kulit putih, dan tidak pernah menikah.  Selain itu, seorang penderita skizofrenia juga memiliki resiko bunuh diri yang lebih tinggi bila ia sebelumnya dapat melakukan segala sesuatunya dengan baik sebelum didiagnosa menderita skizofrenia, lalu mengalami depresi setelah didiagnosa menderita skizofrenia, dan memiliki riwayat mengkonsumsi alkohol atau penyalahgunaan zat lainnya, serta pernah melakukan usaha bunuh diri sebelumnya. Ciri khas seorang penderita skizofrenia yang seringkali melakukan usaha bunuh diri adalah: Berjenis kelamin pria Berusia kurang dari 30 tahun Memiliki IQ yang tinggi Memiliki karir yang sukses di masa remaja dan dewasa muda Menyadari apa dampak skizofrenia pada keadaan mentalnya Faktor resiko lainnya yang sering memicu seorang penderita skizofrenia untuk melakukan usaha bunuh diri adalah: Merasa putus asa Mengisolasi diri dari lingkungan atau pergaulan sosial Dirawat di rumah sakit Mengalami penurunan keadaan kesehatan Baru saja kehilangan sesuatu atau seseorang atau baru saja mengalami suatu penolakan Kurangnya dukungan dari orang-orang di sekitarnya Adanya masalah dalam keluarga Merasa takut bahwa dirinya akan mengalami gangguan jiwa lainnya atau bahwa gangguan jiwanya akan semakin memburuk Sangat tergantung pada pengobatan Kehilangan kepercayaan pada berbagai pengobatan yang dilakukan Selain itu, usaha bunuh diri di antara penderita skizofrenia tampaknya juga berhubungan dengan beberapa hal di bawah ini, yaitu: Menderita suatu penyakit kronik Memiliki anggota keluarga yang pernah melakukan usaha bunuh diri Pernah atau sedang menderita gangguan depresi Pernah atau sedang menyalahgunakan zat Memiliki perilaku impulsif dan agitatif Memiliki pikiran untuk melakukan usaha bunuh diri Harus mengkonsumsi obat-obatan yang lebih banyak untuk mengatasi gejala skizofrenia dan depresi yang dialaminya Memiliki sikap negatif terhadap pengobatan dan tidak patuh pada pengobatan Sangat tergantung pada orang lain untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan tidak dapat bekerja  Beberapa penelitian menduga bahwa penyalahgunaan alkohol yang banyak dihubungkan dengan peningkatan resiko tindakan bunuh diri pada orang sehat secara umum, mungkin bukanlah salah satu faktor resiko terjadinya tindakan bunuh diri pada seorang penderita skizofrenia. Penyalahgunaan zat atau obat-obatan terlarang lebih banyak berhubungan dengan peningkatan resiko tindakan bunuh diri pada seorang penderita skizofrenia. Selain itu, seorang penderita skizofrenia memang dua kali lebih sering menyalahgunakan zat atau obat-obatan terlarang dibandingkan dengan orang sehat pada umumnya.     Sumber: webmd
 29 Sep 2014    10:00 WIB
Apa Saja yang Dapat Meningkatkan Resiko Terjadinya Skizofrenia?
Seorang penderita skizofrenia dapat mengalami kesulitan untuk membedakan antara kenyataan dan halusinasinya. Mereka dapat melihat berbagai hal yang tidak ada dan mempercayai bahwa hal tersebut ada, apapun yang dikatakan oleh orang lain. Oleh karena itu, memahami dengan jelas apa itu skizofrenia dapat membantu penderita dan anggota keluarganya untuk menghadapi gangguan ini. Hal pertama yang harus diketahui oleh penderita dan keluarganya adalah bahwa skizofrenia merupakan suatu penyakit, bukanlah suatu kelainan kepribadian. Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang kompleks. Para ahli pun masih tidak mengetahui apa penyebab terjadinya skizofrenia dan mengapa kelainan ini hanya terjadi pada orang-orang tertentu dan tidak pada orang lainnya.  Di bawah ini terdapat beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan resiko terjadinya skizofrenia pada seseorang seperti: Memiliki ayah atau ibu atau saudara perempuan atau saudara laki-laki yang menderita skizofrenia Ibu Anda mengalami suatu gangguan tertentu selama hamil, misalnya malnutrisi, mengalami infeksi virus, atau mengkonsumsi obat-obatan tekanan darah tinggi tertentu Bila Anda atau anggota keluarga Anda memiliki suatu kelainan jiwa lain yang mirip dengan skizofrenia seperti gangguan delusi Anda memiliki gangguan ketergantungan terhadap zat, baik alkohol maupun obat-obatan. Para ahli masih tidak mengetahui apakah penyalahgunaan zat yang memicu terjadinya skizofrenia atau skizofrenia yang membuat seseorang menyalahgunakan zat     Sumber: webmd