Your browser does not support JavaScript!
 04 Aug 2016    18:00 WIB
Gagal Hati
Gagal hati terjadi ketika sebagian besar bagian hati rusak dan tidak dapat berfungsi kembali dengan normal. Gagal hati merupakan kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan medis segera. Kebanyakan kasus gagal hati terjadi secara bertahap selama beberapa waktu. Tetapi pada kasus tertentu gagal hati dapat terjadi dengan cepat atau dikenal sebagai gagal hati akut dan terjadi sangat cepat (kurang dari 48 jam) dan sulit dideteksi dari awal. Penyebab gagal hati Kebanyakan kasus gagal hati disebabkan oleh: Hepatitis B Hepatitis C Konsumsi alkohol jangka panjang Sirosis  Malnutrisi Apa saja gejala dari gagal hati? Gagal hati dapat memberikan gejala lebih dari satu. Berikut adalah beberapa gejala awal dari gagal hati yang mungkin sulit untuk didiagnosa karena hampir mirip dengan kondisi penyakit lain. Gejala mencakup: Mual Penuruna nafsu makan Kelelahan Diare Tetapi saat gagal hati semakin bertambah berat, gejala yang muncul akan semakin serius dan memerlukan penanganan secepatnya. Gejala mencakup: Jaundice (kulit, mata menjadi kuning) Mudah berdarah Perut membesar atau membengkak Disorientasi  Mengantuk Koma Bagaimana mengatasi gagal hati? Jika gagal hati didiagnosa sejak dini, gagal hati akut yang disebabkan kelebihan dosis asetaminofen masih dapat diobati dan pulih. Begitu juga jika gagal hati disebabkan oleh virus, dapat diberikan perawatan di rumah sakit sampai virus benar-benar menghilang. Dalam kasus ini kemungkinan hati akan pulih dengan sendirinya. Untuk gagal hati yang disebabkan kasus yang lama, diperlukan terapi awal yang akan mencoba mengembalikan fungsi hati yang rusak supaya kembali seperti semula. Jika hal tersebut gagal maka perlu dilakukan transplantasi hati. Untungnya, transplantasi hati merupakan prosedur dengan angka keberhasilan yang cukup tinggi Bagaimana mencegah terjadinya gagal hati? Langkah terbaik untuk mencegah gagal hati adalah memperkecil resiko terkena sirosis hati atau hepatitis. Berikut adalah beberapa tips untuk mencegah kondisi tersebut: Melakukan vaksinasi hepatitis atau imunoglobulin untuk mencegah tertular hepatitis A atau B Menjalankan diet yang sehat Batasi konsumsi alkohol. Hindari konsumsi alkohol saat Anda harus memakan asetaminofen Meningkatkan kebersihan diri Jangan menyentuh produk darah atau urin dengan tangan telanjang Jangan berbagi peralatan mandi, misalnya sikat gigi dan pisau cukur dengan orang lain Pastikan menggunakan kondom saat berhubungan seksual Jangan melakukann penyuntikan obat secara ilegal, jangan berbagi jarum suntik dengan orang lain.   Sumber: webmd