Your browser does not support JavaScript!
 22 Feb 2017    15:00 WIB
Dapatkah Depresi Membuat Anda Mengalami Serangan Jantung?
Sejak tahun 1980, para ahli telah berspekulasi mengenai ada tidaknya hubungan antara penyakit jantung dan depresi. Para ahli pun melakukan penelitian, yang menunjukkan bahwa depresi mungkin memiliki peranan dalam terjadinya gangguan jantung. Selain itu, terdapat beberapa alasan mengapa seorang penderita depresi lebih sering mengalami penyakit jantung seperti: Penderita depresi lebih sering merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, dan jarang berolahraga Seorang penderita depresi lebih jarang mengkonsumsi obat jantung walaupun jika mereka menderita penyakit jantung Stress mental yang terjadi akibat depresi dapat meningkatkan pembentukan plak lemak di dalam pembuluh darah Depresi dapat meningkatkan produksi radikal bebas dan asam lemak, yang dapat merusak dinding pembuluh darah Orang yang paling sering menderita penyakit jantung yang berhubungan dengan depresi adalah orang lanjut usia. Orang lanjut usia adalah kelompok orang yang paling jarang mencari bantuan medis untuk mengatasi depresi yang dideritanya. Sekitar 19-30% orang yang berusia 65 tahun atau lebih mengalami berbagai gejala dan tanda depresi. Wanita biasanya lebih sering mengalami depresi dibandingkan dengan pria. Selain itu, orang yang hidup sendirian juga lebih sering menderita depresi. Sebuah penelitian yang dilakukan di sebuah universitas di Amerika menemukan bahwa orang lanjut usia yang mengalami beberapa gejala depresi memiliki resiko yang lebih tinggi (40% lebih tinggi) untuk menderita penyakit jantung koroner.  Pada penelitian ini para peneliti mengamati sekitar 4.500 orang lanjut usia yang sebelumnya tidak memiliki riwayat gangguan jantung maupun penyakit jantung. Sebuah penelitian lainnya menemukan bahwa seorang penderita depresi, berapa pun usianya, memiliki resiko yang lebih tinggi (4 kali lipat) untuk mengalami serangan jantung dalam waktu 14 tahun mendatang selama penelitian berlangsung. Walaupun penelitian mengenai apakah depresi berhubungan dengan terjadinya penyakit jantung masih berada dalam tahap awal, para peneliti menduga bahwa depresi memang merupakan salah satu faktor resiko terjadinya penyakit jantung seperti halnya tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol darah yang tinggi.       Sumber: howstuffworks
 22 Sep 2016    18:00 WIB
Benarkah Stress Dapat Meningkatkan Resiko Terjadinya Serangan Jantung?
Stress dapat menyebabkan berlebihannya produksi sel darah putih, yang turut berperan dalam pembentukan sumbatan di dalam pembuluh darah yang merupakan salah satu faktor resiko terjadinya serangan jantung.  Sel darah putih sebenarnya merupakan bagian penting dari tubuh yang berfungsi untuk melawan berbagai jenis infeksi dan membantu proses penyembuhan. Akan tetapi, bila Anda memiliki terlalu banyak sel darah putih di dalam tubuh Anda atau bila sel darah putih berada di tempat yang salah, maka hal ini justru dapat membahayakan kesehatan Anda. Para peneliti menemukan bahwa stress ternyata dapat menyebabkan pembentukan sel darah putih yang berlebihan. Sel darah putih yang berlebihan ini dapat menempel pada dinding pembuluh darah dan menyebabkan gangguan aliran darah serta membantu pembentukan bekuan darah yang menyebabkan terbentuknya sumbatan pada pembuluh darah di seluruh tubuh. Hal inilah yang membuat para ahli berpikir bahwa mungkin ada hubungan antara stress kronik dengan terjadinya serangan jantung. Para ahli ini kemudian melakukan penelitian dengan cara mengamati 29 orang residen yang bekerja pada ruang ICU di rumah sakit, yang merupakan tempat bekerja dengan banyak tekanan.  Para peneliti kemudian mengambil contoh darah dari para residen pada hari kerja dan pada hari libur. Para peneliti juga meminta para peserta penelitian untuk menjawab beberapa pertanyaan seputar kadar stress yang mereka alami.  Para peneliti menemukan bahwa terjadi peningkatan kadar sel darah putih pada para residen. Para peneliti kemudian melakukan percobaan pada tikus yang memberikan hasil serupa.  Walaupun masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini, Anda juga perlu mempertimbangkan berbagai hal lain yang dapat meningkatkan resiko terjadinya serangan jantung seperti tekanan darah, faktor genetika, kadar kolesterol yang tinggi, dan kebiasaan merokok.   Sumber: time
 20 Sep 2016    18:00 WIB
Dampak Serangan Jantung Ternyata Lebih Buruk Pada Wanita
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh American Heart Association di tahun 2014 menemukan bahwa wanita memiliki dampak jangka panjang yang lebih buruk daripada pria setelah mengalami serangan jantung. Para peneliti memeriksa sekitar 3.501 pasien yang berusia 55 tahun dan kurang, yang pernah mengalami serangan jantung (MCI). Sekitar 67% dari pasien ini terdiri dari wanita dan usia rata-rata peserta penelitian adalah 48 tahun. Para peneliti juga meminta para pasien yang menjadi peserta dalam penelitian ini untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar berbagai hal yang terjadi setelah mereka mengalami serangan jantung. Para peneliti juga melakukan sebuah survei untuk memeriksa keadaan fisik dan mental pasien 3-4 minggu setelah peserta mengalami serangan jantung, segera setelah masuk rumah sakit, dan 12 bulan setelah masuk rumah sakit, serta menanyakan apakah peserta masih mengalami nyeri dada setelah serangan jantung. Berdasarkan berbagai hasil pengamatan ini, para peneliti menemukan bahwa para pasien wanita lebih sering memiliki keadaan atau fungsi fisik dan mental yang lebih buruk, kualitas hidup yang lebih rendah, lebih sering mengalami nyeri dada, dan memiliki berbagai keterbatasan fisik berat dibandingkan dengan para pasien pria paska serangan jantung. Para peneliti menduga bahwa hal ini mungkin disebabkan oleh berbagai gangguan kesehatan yang telah dimiliki sebelumnya, faktor sosial lingkungan, dan berbagai penyebab biologis lainnya.  Beberapa gangguan kesehatan yang dapat mempengaruhi keadaan fisik dan mental penderita paska suatu serangan jantung adalah diabetes, penyakit paru-paru, kanker, gagal jantung, dan depresi.   Baca juga: Bercinta picu serangan jantung? Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: foxnews
 17 Sep 2016    15:00 WIB
5 Gejala Tersembunyi dari Serangan Jantung
Sebagian besar orang tentunya pernah mendengar mengenai gejala klasik dari serangan jantung seperti nyeri dada, nyeri yang menjalar ke lengan, sesak napas, mual, dan sebagainya. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa beberapa gejala lain yang tidak begitu jelas juga dapat merupakan penanda adanya gangguan jantung yang berat? Tanda awal adanya gangguan jantung adalah adanya perubahan pada energi atau fungsi tubuh tertentu. Tidak semua orang yang mengalami serangan jantung mengalami gejala klasik serangan jantung seperti di atas. Beberapa orang justru mengalami gejala yang tidak begitu jelas seperti beberapa hal di bawah ini. 1. Merasa Sangat Lelah Tanpa Sebab yang Jelas Jika Anda tiba-tiba tidak dapat melakukan aktivitas normal Anda tanpa merasa sangat lelah atau pusing, maka hal ini dapat merupakan penanda adanya kelainan pada jantung Anda. Jantung Anda merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh agar Anda dapat bergerak. Oleh karena itu, bila terjadi perubahan pada keadaan fisik Anda, maka mungkin terjadi gangguan pada jantung Anda seperti gangguan aliran listrik jantung atau kerja katup jantung. 2. Disfungsi Ereksi Sebuah penelitian di Australia menemukan bahwa semakin berat disfungsi ereksi yang dialami seorang pria, maka semakin besar resiko adanya penyakit jantung dan kematian dini. Penelitian ini melakukan pengamatan pada sekitar 90.000 orang pria. Penelitian lainnya di tahun 2010 menunjukkan bahwa pria dengan disfungsi ereksi memiliki resiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami penyakit jantung atau meninggal akibat serangan jantung dibandingkan dengan pria lainnya yang tidak mengalami disfungsi ereksi. 3. Pembengkakan Pada Kaki Kadangkala, pembengkakan pada kaki atau pergelangan kaki hanya berlangsung sementara dan dapat disebabkan oleh berbagai hal lainnya seperti gangguan hormonal pada wanita hamil, diet rendah garam, atau obat-obatan tertentu. Akan tetapi, pembengkakan pada kaki dapat merupakan penanda adanya gangguan pada kemampuan pompa jantung. Segera hubungi dokter Anda bila Anda mengalami pembengkakan pada kaki. 4. Perubahan Perilaku Merasa cemas, panik, atau mudah marah ternyata juga dapat merupakan salah satu gejala dari serangan jantung. Beberapa orang yang pernah menderita serangan jantung mengatakan bahwa tanda pertama yang mereka rasakan merupakan rasa cemas yang tidak diketahui penyebabnya atau adanya serangan panik. Selain itu, kemarahan juga dapat merupakan pemicu terjadinya serangan jantung. Sebuah penelitian di tahun 2000 menemukan bahwa seseorang yang sangat pemarah memiliki resiko mengalami penyakit jantung 2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang lainnya dan memiliki resiko mengalami serangan jantung 3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang lainnya. 5. Rasa Berdebar-debar Pada beberapa kasus, rasa berdebar-debar ternyata juga dapat berakhir pada serangan jantung. Baca juga: Apakah Asma Dapat Merusak Kehidupan Seksual Anda? Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: newsmaxhealth
 17 Aug 2016    08:00 WIB
Pulih Dari Serangan Jantung
Kebanyakan orang mampu selamat dari serangan jantung pertama mampu hidup dan melanjutkan kehidupannya dan menjalani hidup yang produktif. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan setelah serangan jantung dan memastikan Anda pulih sempurna. Pemulihan berawal di rumah sakit Pemulihan berawal di rumah sakit. Biasanya, seseorang akan dirawat selama tiga hari sampai satu minggu setelah serangan jantung. Tetapi jika ada komplikasi lain yang terjadi atau jika Anda harus menjalani prosedur lain seperti operasi bypass, maka Anda akan dirawat lebih lama lagi. Anda tidak akan diijinkan untuk keluar dari rumah sakit sampai kondisi Anda stabil dan aman untuk pulang ke rumah. Salah satu perubahan awal yang dapat Anda kenali saat di rumah sakit adalah rutinitas obat-obatan Anda berubah. Dokter akan melakukan penyesuaian terhadap dosis yang harus Anda konsumsi atau banyaknya jumlah obat yang harus Anda konsumsi. Obat-obat ini berguna untuk mengobati dan mengontrol gejala (seperti nyeri dada) dan berbagai faktor yang berkontribusi (seperti tekanan darah tinggi atau peningkatan kolesterol) yang berhubungan dengan serangan jantung Anda. Sangat penting untuk berbicara dengan dokter Anda mengenai obat-obatan. Pastikan Anda: Mengetahui nama dari obat Anda dan kenali bagaimana cara memakan dan kapan waktu makan obat. Tanya dokter Anda mengenai kemungkinan efek samping dari obat yang Anda konsumsi Tanyakan mengenai cara kerja setiap obat dan mengapa Anda harus mengkonsumsi obat tersebut Buatlah daftar dari obat yang harus Anda konsumsi. Peganglah daftar tersebut untuk berjaga-jaga jika Anda dalam kondisi gawat darurat atau jika Anda perlu berkonsultasi dengan penyedia kesehatan lain. Kesehatan emosional Anda setelah serangan jantung Setelah mengalami serangan jantung, sangat umum Anda mengalami perasaan negatif seperti: Ketakutan Depresi Penyangkalan Kecemasan Perasaan ini sering berlangsung paling tidak untuk dua sampai enam minggu. Perasaan ini dapat mempengaruhi kemampuan Anda berolahraga, mengganggu hubungan Anda dengan keluarga dan pekerjaan, dan dapat memberikan dampak negatif terhadap proses pemulihan Anda. Bicarakan dengan dokter Anda atau dengan spesialis kesehatan jiwa yang dapat membantu Anda mengatasi perasaan negatif ini. Biarkan keluarga dan dokter Anda mengetahui jika Anda mengalami perasaan negatif ini. Jika mereka mengetahui masalah yang Anda alami, maka mereka bisa mencari cara untuk membantu Anda. Baca juga: 10 cara mengoptimalkan nutrisi dan melindungi jantung Sumber: webmd
 09 Aug 2016    11:00 WIB
7 Langkah Meningkatkan Kesehatan Jantung Anda
Mungkin kalimat yang paling sering Anda dengan dari dokter Anda adalah: lindungi jantung Anda dan kesehatan dimulai dari gaya hidup sehat. diduga sebanyak 600.000 orang di Amerika mengalami sakit jantung setiap tahunnya, tetapi sebenarnya sangat mudah untuk terhindar dari serangan jantung. Makan sehat dan berolahraga merupakan perubahan gaya hidup paling utama yang harus Anda lakukan untuk kesehatan jantung Anda. Tetapi para peneliti mengungkapkan bahwa serangan jantung dapat dihindari dengan 7 langkah mudah. Berikut adalah 7 langkah yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan kesehatan jantung Anda. Langkah 1Aktif bergerak. Hampir 70% penduduk di Amerika menjalani gaya hidup yang dapat meningkatkan tekanan untuk jantung dan tubuhnya. Tetapi hanya dengan berlatih kardio selama 30 menit perhari dapat membantu untuk meningkatkan kesehatan jantung dan fisik secara keseluruhan. Langkah 2Mengkonsumsi makanan sehat. Makanan yang dimasak secara sederhana dengan bahan-bahan rendah lemak merupakan langkah terbaik untuk mendapatkan jantung sehat. jika memungkinkan, gantilah bahan makanan Anda menjadi organik, diet sayur-sayuran dan ikan  untuk meningkatkan kesehatan jantung Anda. Langkah 3Pembentukan tubuh. Hilangkan lemak tubuh dengan menambahkan olahraga rutin sekali seminggu. Aerobik sederhana, berjalan dan berenang selama 30 menit dapat mengurangi timbunan lemak didalam tubuh sampai 30% Langkah 4Berhenti merokok. Merokok dapat menyebabkan tekanan darah tidak stabil, peningkatan kadar kolesterol dan diabetes. Pada saat yang bersamaan merokok dapat merusak paru-paru dan sistem peredaran darah. Langkah 5Kontrol penyakit yang aktif, misalnya diabetes. Jika Anda sudah mengalami diabetes, Anda harus mengalami mengkonsultasikan dengan dokter Anda dan memulai pengobatan secara rutin. Diabetes tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal, tekanan darah tinggi dan berbagai kondisi medis lainnya. Jika Anda tidak mengidap diabetes, konsultasikan resiko terkena diabetes yang ada pada diri Anda dengan ahli diabetes dan periksa kadar gula darah setiap enam bulan sekali untuk mendapatkan kesehatan yang optimal. Langkah 6 Kontrol tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol akan mendorong darah melalui arteri dengan tekanan yang sangat besar dan dapat membahayakan. Kondisi ini dapat merusak jantung dan dinding pembuluh darah, juga dpaat menyebabkan serangan jantung dan stroke. Pastikan tekanan darah Anda berada di kisaran 120/80mmHg-130/80mmHg. Langkah 7Periksa kesehatan jantung Anda secara teratur. Bahkan jika Anda sudah melakukan perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat, sangat penting untuk Anda tetap melakukan evaluasi medis secara teratur setiap tahunnya, terlebih jika Anda berusia 35 tahun keatas, memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi dalam keluarga, dan memiliki indeks massa tubuh lebih dari 30.Sumber: newsmaxhealth
 05 Aug 2016    08:00 WIB
Berhubungan Seksual Setelah Serangan Jantung, Apakah Aman?
Untuk kebanyakan pasien, mengalami serangan jantung merupakan pengalaman yang sangat menakutkan dan mengubah hidup. Banyak orang yang selamat daris serangan jantung mengalami keterbatasan dalam melakukan akitivitas. Tetapi, sangat penting untuk pasien memulai aktivitas normalnya untuk mengatur faktor resiko dan menghindari perubahan gaya hidup. Kebiasaan menghindari yang biasanya terjadi pada pasien yang selamat dari serangan jantung dapat menimbulkan kegugupan dan depresi dan dapat memperlambat proses penyembuhan. Secara umum, jika Anda naik tangga tanpa mengalami episode nyeri dada atau nafas pendek-pendek selama seminggu setelah serangan jantug, berarti Anda siap untuk memulai kembali melakukan hubungan seksual. Kebanyakan pasien dapat kembali melakukan hubungan seksual seminggu setelah terjadinya serangan jantung. Tetapi ada beberapa faktor yang harus menjadi pertimbangan saat akan mulai hubungan seksual. Beberapa pasien harus menjalani beberapa tipe prosedur untuk mengembalikan aliran darah mengalir kembali ke jantung. Tipe prosedur ini dilakukan untuk mengembalikan aliran darah kembali lancar ke arah jantung sehingga setelah ini pasien dapat kembali melakukan hubungan seksual kembali.Jika pasien menjalani prosedur kateter yaitu prosedur stent ( dimana tabung metal kecil dimasukkan ke jantung melalui tusukan di paha atau lengan maka aktivitas seksual dapat segera dilakukan setelah pasien tersebut pulih dari prosedur yang dijalani. Jika pasien tersebut melakukan operasi jantung terbuka seperti by-pass maka pasien tersebut harus menunggu 6-8 minggu sampai luka di tulang dada pulih sepenuhnya. Beberapa pasien yang pulih dari serangan jantung mungkin akan menggunakan jenis obat-obatan yang dapat memperburuk kondisi seperti disfungsi ereksi. Sebagai tambahan, banyak pria dengan penyakit jantung juga mengidap disfungsi ereksi. Untuk pria yang mengkonsumsi obat-obatan untuk disfungsi ereksi, maka sangat penting untuk mendiskusikan dengan dokter Anda terlebih dahulu. Jika Anda memang mengkonsumsi obat nitrat untuk kondisi nyeri dada, maka sangatlah tidak aman untuk mengkonsumsi obat disfungsi ereksi juga. Beberapa pasien khawatir tentang keamanan berhubungan seksual setelah mengalami serangan jantung, padahal kenyataanya hanya 1% dari semua serangan jantung yang terjadi disebabkan oleh hubungan seksual. Sebenarnya resiko mengalami serangan jantung saat berhubungan seksual sama besarnya untuk pria yang tidak mempunyai penyakit jantung sama sekali. Bahkan dengan melakukan hubungan seksual secara rutin ternyata dapat menurunkan resiko serangan jantung karena disebabkan peningkatan kapasitas latihan tubuh. Studi yang dilakukan oleh the American Heart Association, hanya sebanyak 0,6-1,7% serangan jantung yang berakibat kematian disebabkan oleh hubungan seksual.Sumber: foxnews
 22 Jul 2016    18:00 WIB
Terapi Testosteron Tingkatkan Resiko Serangan Jantung, Benarkah?
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa terapi testosteron yang digunakan untuk membantu mengatasi disfungsi seksual dan penurunan gairah seksual dapat meningkatkan resiko terjadinya serangan jantung.Pada penelitian ini, para peneliti mengamati lebih dari 55.000 pria, di mana pria yang berusia lebih dari 65 tahun dan menggunakan terapi testosteron mengalami peningkatkan resiko terjadinya serangan jantung hingga 2 kali lipat dibandingkan dengan orang yang tidak menggunakan obat atau terapi testosterone ini.Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa terjadi peningkatan resiko terjadinya serangan jantung yang tidak terlalu berat hingga 2 kali lipat pada pria yang berusia kurang dari 65 tahun dengan riwayat penyakit jantung setelah memulai penggunaan terapi testosteron. Pria yang tidak menggunakan terapi testosterone memiliki resiko serangan jantung sebesar 5 per 1.000 pria setiap tahunnya. Sementara itu, pria yang menggunakan terapi testostern dan berusia 65 tahun atau kurang dari 65 tahun dengan riwayat penyakit jantung mengalami peningkatan resiko hingga 10 per 1.000 pria setiap tahunnya. Para peneliti juga telah mempertimbangkan faktor resiko serangan jantung lainnya seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan kebiasaan merokok. Seiring dengan semakin bertambahnya usia seorang pria, maka produksi testosteron pun akan menurun. Pada beberapa pria, kadar testosteron sangat rendah hingga menyebabkan terjadinya berbagai gangguan kesehatan. Sebuah penelitian lainnya di tahun 2010 menemukan bahwa terjadi peningkatan kasus serangan jantung, stroke, dan kematian di antara 1.223 pria yang menggunakan terapi testosterone dibandingkan dengan 7.486 pria yang tidak menggunakan terapi ini. Akan tetapi, masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak testosteron pada kesehatan jantung seorang pria untuk menemukan bukti kuat mengenai peningkatkan resiko serangan jantung pada para pengguna terapi testosteron.Sumber: npr
 05 Jun 2016    11:00 WIB
Kurus Pasti Bebas Lemak?
Orang yang berbadan kurus belum tentu terbebas dari lemak jahat.  Para dokter khawatir akan muncul asumsi salah dari orang-orang berbadan kurus yang merasa mereka sehat-sehat saja karena tidak kelebihan berat badan. Padahal keadaan bisa sebaliknya. Beberapa dokter sekarang berpendapat bahwa lemak yang ada di dalam tubuh disekitar organ-organ vital seperti jatung, liver dan pankreas adalah sama berbahayanya dengan lemak yang terlihat di tubuh bagian luar yang menonjol di bawah kulit. Menurut data-data yang ditemukan, orang-orang yang menjaga berat ideal tubuhnya dengan berdiet makanan namun tanpa berolahraga, cenderung memiliki timbunan lemak yang besar di dalam tubuhnya, bahkan meski mereka bertubuh langsing sekalipun. "Konsep keseluruhan tentang pengertian gemuk perlu dijelaskan ulang," ungkap Dr. Bell yang penelitiannya didanai oleh Britain's Medical Research Council (Dewan Penelitian Medis Inggris). Dari hasil scan MRI tersebut didapati pula bahwa orang yang mempunyai skor BMI (Body Mass Index) normalpun bisa menunjukkan kadar lemak yang cukup mengejutkan dalam tubuhnya. Sebanyak 45 persen wanita dengan skor BMI normal diketahui memilik kelebihan lemak di dalam tubuhnya. Sementara untuk pria angka tersebut mencapai lebih dari 55 persen. Para ilmuwan meyakini bahwa secara alami tubuh akan cenderung menumpuk lemak di perut. Dan pada kondisi tertentu, tubuh akan menyimpannya di mana saja bahkan sampai menutupi organ internal tubuh. Para dokter berpendapat jika lemak menutupi organ tubuh maka secara langsung akan mengganggu kerja organ tubuh tersebut, sehingga dalam jangka panjang bisa berakibat fatal. Lemak yang menutupi organ internal tubuh dapat mengirimkan sinyal kimiawi yang salah, terutama jika menutupi organ penting seperti liver dan pankreas. Kondisi ini dapat memicu gangguan fungsi insulin dan mengakibatkan penyakit diabetes hingga jantung. Para dokter tidak yakin secara persis akan bahaya timbunan lemak di dalam organ tubuh, tetapi sebagian dari mereka menduga kondisi tersebut dapat terkait dengan bahaya penyakit diabetes dan jantung. Teori mereka adalah lemak di dalam organ tubuh dapat mengganggu sistem kerja tubuh secara keseluruhan. Lemak yang menyelubungi organ internal dapat mengirimkan sinyal kimiawi yang salah untuk menimbun lemak dalam organ-organ seperti di liver atau pankreas. Kondisi ini pada akhirnya beresiko akan gangguan insulin, diabetes tipe 2 atau penyakit jantung. Untungnya aktivitas fisik seperti berolahraga dan diet sehat secara efektif dapat mengurangi timbunan lemak yang menumpuk di dalam tubuh, terutama pada organ internal tubuh. Jika Anda ingin terlihat langsing sekaligus sehat, maka olahraga dan diet sehat harus menjadi bagian dari hidup Anda.   Sumber: dailynews