Your browser does not support JavaScript!
 19 Feb 2018    16:00 WIB
Kesalahpahaman Yang Sering Terjadi Mengenai Pemeriksaan Penyakit Menular Seksual
Pemeriksaan penyakit menular seksual adalah salah satu  pemeriksan yang penting. Pemeriksaan ini akan membantu mendiagnosa secara dini dan dapat dilakukan penanganan segera sehingga dapat mencegah komplikasi. Jangan merasa bodoh apabila Anda tidak terlalu mengerti masalah pemeriksaan penyakit menular seksual (PMS) dan menjadi salah paham. Agar Anda lebih tahu lebih jauh mengenai pemeriksaan tersebut, di bawah ini akan dibahas pemeriksaan PMS yang lebih spesifik.   Berikut Adalah Fakta Tentang Berbagai Jenis Pemeriksaan Untuk PMS: Banyak wanita beranggapan bahwa pap smear yang mereka dapatkan saat pemeriksan rutin tahunan juga bisa menjadi pemeriksaan PMS, padahal bukan. Tidak semua dokter secara rutin menyaring pasien mereka untuk pemeriksaan PMS, terutama jika seorang wanita berusia di atas 24 tahun. Ini berarti bahwa banyak wanita yang mengalami PMS namun tidak memiliki gejala tidak akan terdeteksi. Tes VDRL hanya tes sifilis, bukan untuk virus PMS. Pemeriksaan ini tidak akan mendeteksi HIV, HPV, herpes, atau hepatitis B. Tes HIV hanya mencari apakah mengalami infeksi HIV atau tidak. Jika dokter mengatakan bahwa Anda menderita gonore atau klamidia, jangan berasumsi bahwa Anda akan baik-baik saja setelah konsumsi antibiotik. Sayangnya, ketika pasien mendengar mereka menderita gonore atau klamidia dan hal itu dapat diobati, mereka sering menganggap bahwa itu berarti kondisi mereka mudah disembuhkan dan merasa sudah aman tidak mengalami PMS lain.   Terkadang bila Anda tidak menceritakan kondisi Anda, maka tidak semua dokter akan melakukan pemeriksaan lengkap dan hanya melakukan pemeriksaan dasar, hal ini karena seperti Kita ketahui pemeriksaan untuk PMS cukup banyak. Oleh karena itu tidak ada salahnya bila Anda menanyakan secara langsung apakah perlu melakukan pemeriksaan untuk PMS karena yang paling tahu kondisi tubuh Anda adalah diri Anda sendiri. Agar Anda bisa melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap dan menyeluruh apabila dibutuhkan.   Baca juga: Hati-hati, Seks Bebas Akibatkan Kencing Nanah!   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: verywell
 06 Feb 2018    18:00 WIB
Supaya Semakin Tahu! Ini Panduan Pemeriksaan Penyakit Menular Seksual
Penyakit Menular Seksual adalah penyakit yang sering ditakuti oleh kebanyakan orang. Tentu Anda tidak ingin mengalaminya. Namun terkadang Kita tidak tahu apakah diri sendiri, pasangan atau mungkin orang yang Anda kenal mengalami penyakit menular seksual atau tidak. Agar terhindar dari komplikasi dari penyakit menular seksual maka ada beberapa pemeriksaan yang perlu dilakukan.   Pemeriksaan apa yang harus Anda lakukan dan seberapa sering. Temukan jawabannya di bawah ini: Pemeriksaan Yang Dilakukan Setiap Tahun Klamidia Gonorea/ kencing nanah HIV Pemeriksaan Yang Harus Diuji Secara Rutin, Tapi Tidak Tahunan: Kanker Serviks melalui Pap Smear. Mayoritas kanker serviks disebabkan oleh virus HPV yang menular secara seksual. Pemeriksaan HPV tidak bisa dilakukan pada pria, namun untuk pria bisa dilakukan pemeriksaan pap smear anal. Namun, tes HPV langsung tidak digunakan untuk mendeteksi infeksi genital pada pria. Pemeriksaan PMS Yang Tidak Direkomendasikan Kecuali Anda Curiga Anda Mengalaminya Dan Harus Diperiksa Bila Anda Memiliki Gejala: Sipilis Trikomoniasis Herpes Genital Hepatitis B Chancroid Pemeriksaan PMS Yang Harus Diperiksa Saat Hamil: Klamidia: Semua wanita harus diperiksa pada kunjungan prenatal pertama. Wanita berisiko tinggi, dan wanita berusia kurang dari 25 tahun, harus diuji lagi pada trimester ketiga. Gonore: Wanita muda dan wanita berisiko tinggi harus diperiksa pada kunjungan prenatal pertama. Wanita berisiko tinggi harus diperiksa lagi selama trimester ketiga. HIV: Diperiksa pada kunjungan prenatal pertama dan pada trimester ketiga. Wanita yang tidak pernah diperiksa harus segera diperiksa pada saat persalinan. Sifilis: Diperiksa pada kunjungan prenatal pertama (semua wanita), selama trimester ketiga (hanya perempuan berisiko tinggi), dan saat melahirkan (semua wanita). Hepatitis B: Diperiksa pada kunjungan prenatal pertama dan pada trimester ketiga, jika mereka berisiko tinggi Hepatitis C: Wanita berisiko harus diperiksa pada kunjungan prenatal pertama mereka.   Di atas adalah panduan untuk pemeriksaan penyakit menular seksual, karena komplikasi penyakit menular seksual bisa menyebabkan gangguan kesuburan, menularkan pada janin untuk wanita hamil dan juga kematian. Pemeriksaan dini akan membantu Anda dalam mencegah komplikasi.   Baca juga: Hati-hati, Seks Bebas Akibatkan Kencing Nanah!   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: verywell
 05 Feb 2018    18:00 WIB
Penyakit Menular Seksual Bisa Menular Pada Anda, Bagaimana Cara Mengetahuinya Bila Pasangan Anda Terinfeksi Atau Tidak?
Saat Anda memutuskan akan menikah dengan pasangan Anda, maka ada banyak hal yang perlu Anda lihat seperti karakternya apakah cocok dengan Anda, keluarga dan beberapa hal. Salah satu hal yang sebenarnya penting namun sering diabaikan adalah kesehatan dari pasangan. Saat Anda menikah, maka Anda akan berhubungan intim dengan pasangan. Apabila pasangan Anda ternyata memiliki PMS (Penyakit Menular Seksual) maka Anda juga bisa tertular karenanya. Bukan berarti Anda tidak percaya, namun hal ini penting untuk diketahui.   Apa yang harus Anda lakukan untuk mengetahui apakah pasangan Anda mengalami penyakit menular seksual atau tidak? Perlu Anda ketahui yang pertama adalah penyakit menular seksual tidak selalu memberikan gejala, selain itu gejalanya akan sulit Anda lihat karena Anda belum menikah dengannya. Kemudian, apakah PMS hanya menyerang orang yang terlihat "baik"? Jawabannya tentu saja tidak, siapapun mereka yang pernah melakukan hubungan intim yang tidak aman maka bisa mengalami penyakit menular seksual. Jadi apa cara yang tepat untuk mengetahuinya. Jawabannya adalah dengan melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan laboratorium adalah hal yang penting untuk dapat memeriksa apakah seseorang terinfeksi atau tidak. Mengajak pasangan untuk melakukan pemeriksaan bisa jadi adalah hal yang tidak mudah karena bisa mengganggu perasaan Anda dan pasangan. Pasangan bisa saja menjadi tersinggung dan untuk Anda bila ternyata pasangan Anda terinfeksi maka bisa saja Anda merasa seperti dikhianati. Meski tidak mudah Anda harus mampu membicarakan hal ini dengan baik, cobalah memberi alasan yang logis yaitu risikonya bisa mengalami komplikasi seperti gangguan kesuburan, gangguan pada janin dan juga bisa berakibat kematian. Pemeriksaan yang dilakukan akan membantu Anda atau pasangan melakukan pemeriksaan dini, sehingga bila memang terinfeksi maka Anda dan pasangan bisa segera mengambil tindakan tepat.
 01 Feb 2018    16:00 WIB
Hasil Tes PMS (Penyakit Menular Seksual) Negatif, Apa Berarti Sudah Aman?
Pemeriksaan kesehatan Anda adalah hal yang penting, karena Anda akan mengetahui kondisi tubuh Anda apakah Anda sehat atau tidak. Semua pemeriksaan pada dasarnya penting, salah satu pemeriksaan yang penting untuk dilakukan dengan rutin adalah pemeriksaan PMS (Penyakit Menular Seksual). Pemeriksaan ini menjadi penting karena dengan pemeriksaan yang tepat akan membantu Anda mencegah terjadinya komplikasi seperti gangguan kesuburan dan bisa menularkan kepada pasangan. Saat Anda melakukan pemeriksaan PMS dan dinyatakan negatif apakah artinya Anda aman? maka jawabannya adalah tidak.   Berikut Adalah Alasannya: Pemeriksaan Tidak Lengkap Perlu Anda ketahui bahwa PMS itu ada banyak, bisa saja saat Anda melakukan pemeriksaan, pemeriksaan tersebut kurang lengkap. Sehingga tidak membuat Anda mendapatkan diagnosa yang tepat dan sesungguhnya.   Pemeriksaan Yang Dilakukan Terlalu Cepat Beberapa tes PMS tidak efektif apabila infeksi baru didapat. Penelitian terakhir, misalnya, menunjukkan bahwa tes darah standar untuk sifilis tidak efektif untuk mendeteksi kasus awal penyakit ini. Beberapa tes PMS seperti pemeriksaan HIV memerlukan waktu sampai adanya respon antibodi dan bisa terlihat apakah benar terinfeksi atau tidak.   Pemeriksaan Tersebut Memberikan Hasil Yang Tidak Akurat Saat melakukan pemeriksaan, selalu ada perbedaan antara sensitivitas dan spesifisitas. Hampir tidak ada pemeriksaan yang bisa sempurna untuk menentukan apakah seseorang terinfeksi atau tidak. Seberapa akurat hasil tes yang diberikan untuk memprediksi keadaan penyakit seseorang bergantung, sebagian, pada populasi dimana tes digunakan. Sebagian besar pemeriksaan dirancang untuk menjadi lebih baik dan hampir selalu ada cara untuk membuat diagnosis lebih akurat, namun positif palsu dan negatif palsu bisa menjadi masalah tergantung pada penyakit yang dimaksud dan tes yang digunakan untuk mendeteksinya.   Anda Melakukan Tes Yang Salah Seperti diketahui karena pemeriksaan PMS ada banyak dan memberikan keluhan yang hampir mirip maka Anda akan disarankan melakukan pemeriksaan yang sebenarnya kurang tepat.   Tidak Aman Selamanya Apabila Anda sudah pernah melakukan pemeriksaan dan dinyatakan Anda aman. Bukan berarti Anda akan aman selamanya. Karena bila Anda melakukan hubungan intim yang tidak aman kembali maka Anda bisa saja mengalami PMS lain yang mungkin lebih berbahaya dari yang Anda alami sebelumnya. Pemeriksaan PMS adalah cara yang tepat untuk membantu mendiagnosa asal dilakukan dengan tepat. Selain itu perilaku hubungan intim yang aman dan setia kepada pasangan resmi lebih membantu dalam mencegah PMS.   Baca juga: Penyakit Menular Seksual Mengakibatkan Kemandulan?   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: verywell
 07 Jan 2018    16:00 WIB
Apakah Penyakit Menular Seksual Sebabkan Kanker Prostat?
Sebuah penelitian menemukan bahwa suatu penyakit menular seksual, trikomoniasis berhubungan dengan kanker prostat. Trikomoniasis disebabkan oleh infeksi parasit Trichomonas vaginalis. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 70% penderita trikomoniasis tidak mengetahui bahwa mereka menderita penyakit ini karena tidak adanya gejala.   Para peneliti di Amerika dan Italia menemukan bahwa parasit ini menghasilkan suatu protein yang dapat memicu terjadinya proses peradangan (inflamasi) di dalam prostat dan memicu pertumbuhan sel-sel kanker prostat. Sebuah penelitian lain di tahun 2009 menemukan bahwa pria yang memiliki antibodi terhadap Trichomonas vaginalis memiliki resiko kanker prostat agresif (kanker yang menyebar di luar prostat) 2 kali lebih tinggi daripada orang yang tidak memiliki antibodi terhadap parasit ini.   Kedua penelitian ini menemukan bahwa infeksi parasit ini mungkin menyebabkan terjadinya inflamasi dan proliferasi sel, yang memicu terjadinya kanker prostat. Infeksi trikomoniasis ini dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotika. Akan tetapi, karena tidak adanya gejala, maka penderita pun seringkali tidak menyadari dirinya telah terinfeksi. Beberapa pria yang mengalami infeksi trikomoniasis merasa gatal atau mengalami iritasi di bagian dalam penis, adanya rasa seperti terbakar setelah buang air kecil atau ejakulasi, dan keluarnya cairan dari dalam penis. Wanita yang mengalami infeksi trikomoniasis mengalami rasa gatal pada kemaluan, rasa terbakar atau tidak nyaman setelah buang air kecil, kemaluan tampak kemerahan, adanya luka pada kemaluan, atau keluarnya cairan dari vagina.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: newsmaxhealth
 30 Dec 2017    18:00 WIB
6 Tindakan Aman Saat Pertama Kali Berhubungan Seksual
Seks sering kali dipandang sebagai sesuatu yang berlebihan bagi mereka yang belum pernah berhubungan seksual atau baru akan melakukan hubungan seksual untuk pertama kalinya. Seks bukanlah sesuatu yang harus ditakuti atau membuat panik. Tetepi Anda tetap harus memperhatikan detail dan keamanannya.   Berikut adalah 6 tindakan aman untuk mereka yang belum pernah berhubungan seksual:1.  Anda perlu membersihkan tubuhJika Anda mempunyai rencana untuk berhubungan seksual dengan pasangan Anda, maka penting untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu misalnya dengan bercukur, waxing atau perawatan tubuh lainnya. Juga jangan lupa membersihkan tubuh dan organ intim Anda agar bersih dan wangi. 2.  Dapatkan informasi dari orang yang berpengalamanSangat penting untuk bertanya dan memperoleh informasi dari orang-orang yang Anda kenal dan sudah berpengalaman. Tanyakanlah kepada mereka semua pertanyaan yang membuat Anda bingung dan ragu. 3.  Tetap amanSeks yang aman harus menjadi prioritas utama Anda. Pastikan pasangan Anda atau Anda sendiri mempunyai kondom. Dengan penggunaan kondom akan melimitasi kemungkinan penyebaran penyakit menular seksual dan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. 4.  Pastikan ini adalah hal yang benar-benar Anda inginkanSebelum melakukan hubungan seksual Anda harus yakin jika memang Anda siap untuk melakukannya. Hal ini harus merupakan keputusan Anda sendiri dan tanpa paksaan dari siapapun. 5.  Tetap dalam kondisi sadarSaat Anda mabuk, Anda tidak dapat berpikir secara jelas. Itu bukanlah waktu yang baik untuk berhubungan seksual. Kapanpun Anda memutuskan untuk berhubungan, pastikan Anda dalam kondisi sadar dan aman. 6.  Cari tahu tentang metode KB alternatifSebagai seorang wanita Anda harus mengetahui secara pribadi mengenai hubungan seksual yang aman. Jika Anda mempunyai jadwal menstruasi yang tetap maka Anda bisa menggunakan metode kalender dan berhubungan seksual di masa Anda tidak subur. Pilihan lain yang bisa Anda gunakan adalah pil kb dan diafragma. Sumber: megforwomen
 29 Dec 2017    18:00 WIB
Baru Saja Melakukan Seks Yang Tidak Aman, Bagaimana Anda Bisa Mengetahui Apakah Mengalami Penyakit Menular Seksual Atau Tidak?
Melakukan hubungan seks yang tidak aman dapat berujung pada penyakit menular seksual, saat mulai muncul tanda aneh di kemaluan dan membuat mereka menjadi panik Kondisi ini membuat mereka bertanya-tanya apakah saya mengalami PMS?   Di bawah ini, Anda akan menemukan beberapa panduan untuk berapa lama biasanya gejala PMS muncul setelah terpapar (ini adalah masa inkubasi PMS waktu antara saat terinfeksi dan saat gejala muncul). Hal ini akan membantu seseorang lebih waspada, melakukan pemeriksaan dini dan nantinya bias mengambil tindakan yang tepat.   Masa Inkubasi PMS: Klamidia Kebanyakan orang tidak mengalami gejala saat terinfeksi klamidia, namun untuk timbul gejala maka gejala bisa muncul 1-3 minggu setelah terpapar bakteri. Perlu Anda ketahui bahwa meski tidak bergejala namun bisa mengalami komplikasi.   Gonore/ Kencing Nanah Ada beberapa orang yang mengalami kencing nanah, namun tidak mengalami gejala. Untuk pasien yang mengalami gejala, maka paling cepat muncul 2 hari setelah terpapar atau membutuhkan waktu selama satu bulan.   Sifilis Karakteristik chancre pada tahap pertama sifilis muncul rata-rata 21 hari setelah infeksi, namun dapat terjadi kapan saja antara 10-90 hari setelah terpapar bakteri.   Trikomoniasis Meskipun kebanyakan pria tidak pernah memiliki gejala trikomoniasis, namun untuk wanita biasanya muncul antara 5-28 hari setelah terpapar.   Kudis Jika Anda belum pernah menderita kudis sebelumnya, diperlukan 1-2 bulan untuk gejala muncul. Namun, jika sebelumnya Anda sudah terinfeksi, gejala mungkin muncul setelah beberapa hari terinfeksi kembali.   Kutil kelamin Kebanyakan orang yang memiliki kutil kelamin akan mengalami infeksi pertama mereka dalam waktu 3 bulan setelah infeksi awal.   Herpes Genital Meskipun kebanyakan orang tidak pernah tahu mereka terinfeksi, jika gejala muncul biasanya dalam dua minggu setelah terpapar virus. Beberapa orang juga akan mengalami demam.   HIV Di sebagian besar populasi yang terinfeksi, HIV tetap tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun, meskipun beberapa orang yang terinfeksi akan mengalami demam dan gejala mirip flu sekitar dua minggu setelah terpapar. Namun, karena kebanyakan orang tidak mengalami atau mengenali gejala ini, satu-satunya cara untuk mengetahui apakah Anda memiliki HIV maka harus dilakukan pemeriksaan.   Penting untuk diketahui, apabila seseorang terinfeksi HIV maka butuh waktu hingga 6 bulan baru akan terlihat positif atau negatif.  Walaupun kebanyakan orang yang terinfeksi dapat memiliki hasil positif dalam waktu 3 bulan, namun hasil kurang akurat. Pemeriksaan yang mencari langsung HIV RNA, materi genetik virus, dapat mendeteksi infeksi lebih awal namun lebih sulit ditemukan.   Hepatitis B Gejala hepatitis B biasanya muncul antara 4-6 minggu setelah infeksi. Namun, hepatitis B benar-benar dapat dicegah dengan vaksinasi.   Penting diingat bahwa terkadang PMS tidak  memberikan gejala, sehingga Anda harus cermat dalam memperhatikan kondisi tubuh Anda dan melakukan pemeriksaan dini untuk mencegah komplikasi.   Baca juga: Penyakit Menular Seksual Mengakibatkan Kemandulan?   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: womansday
 18 Dec 2017    16:00 WIB
Pentingnya Melakukan Cek Penyakit Menular Seksual
Skrining PMS adalah sesuatu yang setiap orang butuhkan setidaknya sekali dalam hidup mereka, dan kebanyakan orang perlu melakukan pemeriksaan secara teratur. Karena PMS memiliki banyak risiko, sayangnya banyak orang yang kurang perhatian dan tidak melakukan pemeriksaan.   Berikut Alasan Mengapa Harus Melakukan Pemeriksaan PMS: 1.      Karena PMS Bisa Menular Meski Tidak Melakukan Hubungan Intim Hanya karena Anda tidak pernah berhubungan seks tidak berarti Anda tidak dapat memiliki PMS. Sejumlah PMS dapat menyebar melalui kontak kulit-ke-kulit, kondisi menular seksual lainnya, seperti herpes oral. 2.      Karena Komplikasi Yang Bisa Ditimbulkan Apabila seseorang mengalami PMS dan tidak diobati maka bisa menyebabkan berbagai komplikasi. Komplikasi yang timbul seperti gangguan kesuburan yang membuat Anda dan pasangan sulit untuk mendapat momongan. Kemudian komplikasi lain adalah saat Anda atau pasangan Anda hamil yang bisa menyebabkan masalah sepert keguguran, bayi yang lahir dengan berat badan yang rendah dan berisiko menularkan ke anak. 3.      Karena Khawatir Lebih Menakutkan Daripada Mengetahui Didiagnosis PMS memang tidak menyenangkan. Namun, saat Anda merasa was-was memikirikan apakah Anda mengalaminya atau tidak. Hal ini juga sangat tidak menyenangkan malah semakin terasa menakutkan. Dengan melakukan pemeriksaan Anda jadi tahu apakah memang benar terinfeksi atau tidak dan bisa secepatnya mengambil tindakan. 4.      Karena Anda Melindungi Diri dan Pasangan Anda Dengan pemeriksaan dini akan membantu menjaga diri Anda dari kemungkinan komplikasi dan membantu Anda dalam melindungi pasangan Anda. Apabila memang Anda mengalami infeksi dan pasangan Anda tidak maka dengan cara ini akan membantu Anda untuk menghindari mereka terinfeksi.   Semua pemeriksaan dini meski terasa begitu menakutkan namun lebih baik, karena Anda bisa melakukan penanganan yang lebih cepat dan penyakit lebih mudah dikendalikan atau disembuhkan.   Baca juga: Penyakit Menular Seksual Mengakibatkan Kemandulan?   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: verywell
 15 Dec 2017    16:00 WIB
Kenali Lebih Jauh Soal PMS (Penyakit Menular Seksual) Sebelum Terlambat
Penyakit menular seksual (PMS) adalah penyakit menular yang menyebar dari orang ke orang melalui kontak intim. PMS dapat terjadi pada pria dan wanita dari segala umur dan latar belakang yang berhubungan seks, tidak masalah apakah mereka kaya atau miskin. PMS lebih dari sekedar rasa malu namun PMS merupakan masalah kesehatan yang serius. Jika tidak diobati, beberapa PMS dapat menyebabkan kerusakan permanen, seperti ketidaksuburan dan bahkan kematian (dalam kasus HIV / AIDS).   Bagaimana Cara PMS Menyebar? Salah satu alasan PMS menyebar adalah karena orang mengira mereka hanya bisa terinfeksi jika mereka melakukan hubungan seksual. Itu salah. Seseorang dapat terkena PMS, seperti herpes atau kutil kelamin, melalui kontak kulit-ke-kulit dengan daerah yang terinfeksi atau sakit. Mitos lain tentang PMS adalah Anda tidak bisa mendapatkannya jika Anda memiliki seks oral atau anal. Itu juga salah karena virus atau bakteri penyebab PMS bisa masuk tubuh melalui tetesan cairan dan luka kecil di mulut dan anus, serta alat kelamin. PMS juga menyebar dengan mudah karena Anda tidak tahu apakah seseorang memiliki infeksi dan beberapa orang dengan PMS bahkan tidak tahu bahwa mereka memilikinya. Orang-orang ini dalam bahaya karena dapat menularkan infeksi ke pasangan seks mereka bahkan tanpa menyadarinya.   Beberapa Hal Yang Meningkatkan Kemungkinan Seseorang Terkena PMS Adalah: Aktivitas seksual di usia muda. Semakin muda seseorang mulai berhubungan seks, semakin besar kemungkinannya terinfeksi dengan PMS. Sering Berganti Pasangan Seks. Orang yang melakukan hubungan intim dengan banyak pasangan berbeda lebih berisiko daripada mereka yang setia dengan satu pasangan. Seks tanpa pelindung. Kondom lateks adalah satu-satunya bentuk pengendalian kehamilan yang mengurangi risiko terkena PMS dan harus digunakan setiap saat. Spermisida, diafragma, dan metode pengendalian kehamilan lainnya dapat membantu mencegah kehamilan, namun tidak melindungi seseorang dari penyakit menular seksual.   Baca juga: Gatal Pada Mr. P, Apakah Selalu Berarti Penyakit Menular Seksual?   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: kidshealth
 07 Dec 2017    18:00 WIB
4 Mitos Penyakit Menular Seksual Ini Terlanjur Dipercaya Namun Ternyata Salah...
Begitu banyak informasi yang salah tentang penyakit menular seksual (PMS), yang seringkali dipercaya oleh hamper kebanyakan orang. Padahal bila Anda tidak mengetahui kebenarannya maka ini bisa berbahaya bagi kesehatan Anda.   Berikut Adalah 4 Mitos Yang Salah Tentang PMS: Mitos: Jika pasangan Anda mengalami PMS, Maka Anda Bisa Melihat Gejalanya Fakta: Seringkali tidak ada tanda bahwa seseorang menderita PMS. Gejala PMS tidak selalu terlihat terlebih masih dalam tahap awal, untuk mengetahuinya maka diperlukan pemeriksaan seperti pemeriksaan darah. Orang yang mengalami PMS pun seringkali tidak menyadarinya, meski begitu orang yang memiliki PMS tetap bisa membawa dan menyebarkan infeksi. PMS yang tidak diobati dapat menambah gangguan kesehatan yang serius, seperti gangguan kesuburan atau penyakit radang panggul (PID).   Mitos: Anda dapat menghindari PMS dengan melakukan seks oral atau anal. Fakta: Saat Anda melakukan hubungan intim dengan cara oral, anal, vagina, atau bahkan sekedar kontak seksual, bisa menyebabkan penularan PMS. Virus atau bakteri penyebab PMS dapat masuk ke tubuh melalui tetesan cairan dan luka kecil yang ada di mulut dan anus, serta alat kelamin. Beberapa PMS, seperti herpes atau kutil kelamin, dapat menyebar hanya melalui kontak kulit-ke-kulit dengan daerah yang terinfeksi atau sakit.   Mitos: Begitu Anda mengalami PMS, tidak ada kemungkinan mendapatkannya lagi. Fakta: Anda bisa mengalami beberapa kali PMS Beberapa PMS adalah milik Anda seumur hidup, seperti herpes dan HIV. Yang lainnya, seperti klamidia dan gonore, bisa diobati, tapi Anda mungkin terinfeksi lagi jika Anda berhubungan seksual dengan seseorang yang memilikinya.   Mitos: Jika Anda diperiksa dan Anda bebas PMS, pasangan Anda juga tidak perlu diperiksa. Fakta: Pasangan Anda bisa mengalami PMS dan tidak mengetahuinya. Untuk mengetahui dengan pasti maka Anda dan pasangan harus melakukan pemeriksaan secara bersama.   PMS lebih dari sekedar rasa malu tapi ini adalah masalah kesehatan yang serius. Apabila tidak diobati, beberapa PMS dapat menyebabkan kerusakan permanen, seperti ketidaksuburan dan bahkan menyebabkan kematian. Cara terbaik untuk menghindari PMS adalah dengan setia pada pasangan Anda yang sah dan menggunakan kondom, selain itu rutin melakukan pemeriksaan diri.   Baca juga: Gatal Pada Mr. P, Apakah Selalu Berarti Penyakit Menular Seksual?   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: kidshealth