Your browser does not support JavaScript!
 13 Feb 2018    11:00 WIB
Benarkah Obat Anti Depresi Dapat Mencegah Penyakit Alzheimer?
Sebuah penelitian menemukan bahwa obat anti depresi yang banyak digunakan saat ini dapat menghambat pembentukan salah satu hal yang diduga merupakan penyebab terjadinya penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer dicirikan dengan adanya plak yang melekat pada sel-sel otak yang telah mulai terbentuk 10-15 tahun sebelum gejala pertama Alzheimer muncul. Plak ini tersusun dari suatu protein, yaitu beta amiloid. Pada penelitian ini, para peneliti sedang memeriksa apakah mungkin untuk menghambat pembentukan plak dengan cara mengubah proses pembentukan amiloid di dalam tubuh. Pada penelitian ini, para penelitian melakukan pemeriksaan melalui 2 tahap. Pada tahap pertama, para peneliti memberikan citalopram (salah satu jenis obat anti depresan) pada tikus yang sudah tua, yang juga mengalami kerusakan otak seperti halnya penderita Alzheimer. Walaupun plak pada hewan percobaan yang diamati tidak menghilang, akan tetapi plak ini tidak lagi bertambah banyak atau hanya mengalami sedikit pembentukan plak bila dibandingkan dengan tikus lain yang hanya diberikan air gula. Pada tahap kedua, para peneliti memberikan dosis tunggal citalopram atau plasebo pada 23 orang dewasa muda sehat, yang tidak menderita depresi atau cukup tua untuk memiliki plak pada otak. Melalui pemeriksaan cairan medulla spinalis para peserta penelitian satu setengah hari setelah pemberian citalopram, para peneliti menemukan bahwa produksi amiloid mereka mengalami penurunan hingga 37%. Citalopram merupakan obat anti depresi golongan SSRI yang dapat mengatasi gangguan depresi dengan cara mempengaruhi kadar serotonin di dalam otak. Seperti halnya obat-obatan, citalopram juga memiliki efek samping, terutama bila digunakan dalam dosis tinggi, yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan irama jantung. Akan tetapi, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah obat anti depresi dapat benar-benar membantu mencegah pembentukan plak baru di dalam otak, serta apakah obat ini dapat digunakan dalam jangka waktu lama untuk menurunkan produksi amiloid atau apakah tubuh akan mengalami reaksi toleransi obat. Sumber: newsmaxhealth
 06 Jan 2016    18:00 WIB
Mudah Lupa? Makan Makanan Ini!!
Bagaimana bila ada suatu cara yang dapat menurunkan resiko Alzheimer Anda hingga 50%? Sejumlah ahli gizi mungkin telah menemukan cara menakjubkan tersebut dari diet Mediteranian, yang mengandung banyak nutrisi penting dan rendah gula serta lemak tidak sehat. Menurut sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh Rush University, diet MIND (Mediterranean-DASH Intervention for Neurodegenerative Delay) telah terbukti cukup efektif dalam menurunkan resiko terjadinya Alzheimer, bahkan bila tidak dilakukan secara ketat. Untuk mencari tahu apakah benar diet MIND ini dapat membantu menurunkan resiko terjadinya Alzheimer, para peneliti menganalisa data dari 900 orang lanjut usia di Amerika. Pada penelitian ini, para peneliti hanya mengamati pola makan para peserta penelitian. Para peserta penelitian terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu: Kelompok yang melakukan diet MIND dengan ketat Kelompok yang melakukan diet Mediterania dengan ketat Kelompok yang melakukan diet DASH dengan ketat Kelompok yang melakukan diet MIND tetapi tidak ketat Kelompok yang melakukan diet Mediterania tetapi tidak ketat Kelompok yang melakukan diet DASH tetapi tidak ketat. Pada diet MIND ini, seseorang diminta untuk mengkonsumsi banyak ikan, lemak sehat, sayuran, dan gandum utuh. Selain dapat membantu menurunkan resiko terjadinya Alzheimer, diet MIND ini telah terbukti dapat menurunkan resiko terjadinya gangguan jantung dan kanker. Sedangkan diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) yang menganjurkan seseorang untuk mengkonsumsi banyak buah, sayuran, dan produk susu rendah lemak telah terbukti dapat menurunkan resiko terjadinya tekanan darah tinggi, serangan jantung, dan stroke. Di bawah ini Anda dapat melihat contoh menu dari diet MIND di atas, seperti: 3 porsi gandum utuh Semangkok salad dan 1 porsi sayuran lain Segelas wine Kacang sebagai cemilan Buah blueberi atau strawberi Ayam atau ikan Kacang-kacangan 2 hari sekali Selain dianjurkan untuk mengkonsumsi beberapa jenis makanan di atas, pada diet MIND seseorang juga dianjurkan untuk menghindari beberapa makanan seperti mentega, keju, daging merah, pastry, permen, makanan yang digoreng, dan makanan olahan. Secara keseluruhan diet MIND menganjurkan agar seseorang mengkonsumsi lebih banyak sayuran serta protein nabati dan membatasi konsumsi berbagai jenis produk hewani dan makanan yang mengandung banyak lemak jenuh, tetapi tetap menekankan seseorang untuk mengkonsumsi berbagai jenis buah beri dan sayuran berdaun hijau.   Baca juga: 6 Hobi yang Bisa Membuat Anda Lebih Pintar   Setelah melakukan pengamatan selama 5 tahun, para peneliti menemukan bahwa peserta penelitian yang melakukan diet MIND memiliki resiko Alzheimer yang lebih rendah, yaitu hingga 53%. Sementara itu, peserta lainnya yang melakukan diet Mediterania memiliki resiko Alzheimer yang lebih rendah, yaitu hingga 54% lebih rendah. Sedangkan peserta yang melakukan diet DASH memiliki resiko Alzheimer yang juga lebih rendah, yaitu sekitar 39% lebih rendah. Peserta penelitian yang tidak melakukan diet MIND dengan ketat juga memiliki resiko Alzheimer yang lebih rendah, yaitu hingga 35% lebih rendah. Yang mengejutkan adalah bahwa hanya dengan melakukan diet MIND (walaupun tidak ketat), seseorang dapat menurunkan resiko Alzheimernya, sedangkan diet Mediterania dan diet DASH yang tidak dilakukan dengan ketat tampaknya tidak menunjukkan manfaat apapun. Walaupun masih banyak hal lainnya yang dapat mempengaruhi resiko seseorang untuk menderita Alzheimer seperti genetika, lingkungan, dan gaya hidup; akan tetapi diet ini tampaknya juga merupakan salah satu hal yang cukup mempengaruhi terjadinya Alzheimer.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: huffingtonpost
 04 Mar 2015    10:00 WIB
Depresi Merupakan Pertanda Awal Penyakit Alzheimer, Benarkah?
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa gangguan depresi, gangguan tidur, dan perubahan perilaku dapat muncul terlebih dahulu sebelum terjadinya gangguan daya ingat pada orang yang mengalami penyakit Alzheimer. Akan tetapi, bukan berarti bila Anda mengalami gangguan cemas, depresi, atau merasa sangat lelah maka Anda pasti sedang mengalami gejala awal dari penyakit Alzheimer karena pada sebagian besar kasus, berbagai gangguan tersebut tidak berhubungan dengan penyakit Alzheimer. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati sekitar 2.400 orang paruh baya selama sekitar 7 tahun. Para peneliti menemukan bahwa orang yang menderita demensia (pikun) memiliki resiko yang lebih tinggi untuk juga menderita gangguan depresi dibandingkan dengan orang yang tidak menderita demensia. Pada penelitian ini, para peneliti bertujuan untuk menemukan seperti apa keadaan orang-orang yang menderita penyakit Alzheimer, bahkan sebelum didiagnosa menderita penyakit tersebut. Selain itu, berbagai perubahan perilaku dan mood, seperti perilaku acuh tak acuh, selalu merasa cemas atau khawatir, perubahan nafsu makan, dan menjadi lebih mudah marah juga terjadi lebih cepat pada para peserta yang menderita demensia. Penyakit Alzheimer merupakan suatu penyakit progresif dan fatal yang tidak hanya mempengaruhi daya ingat penderitanya tetapi juga menyebabkan berbagai perubahan pada kepribadian penderita dan kemampuan penderita untuk menganalisis dan menilai sesuatu hal. Pada penelitian ini, para peneliti menganalisa data dari para peserta penelitian yang berusia 50 tahun atau lebih yang tidak memiliki gangguan daya ingat atau gangguan dalam proses berpikir pada awal penelitian dimulai. Setelah diamati selama 7 tahun, sekitar setengah dari para peserta penelitian masih tetap memiliki fungsi kognitif yang normal, sementara setengah lainnya mulai mengalami gangguan daya ingat atau gangguan berpikir yang menunjukkan telah terjadinya demensia. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa sekitar 30% dari para peserta yang mengalami demensia juga mengalami gangguan depresi dalam waktu 4 tahun setelah penelitian dimulai. Hingga akhir penelitian, para peneliti masih tidak dapat memastikan mengenai apakah gangguan depresi atau gangguan mood dan perilaku lainnya terjadi akibat adanya perubahan yang sama di dalam otak seperti yang terjadi pada penderita penyakit Alzheimer atau disebabkan oleh suatu respon psikologis untuk menghadapi berbagai kesulitan yang sedang terjadi. Walaupun penelitian ini berhasil menemukan adanya suatu hubungan antara perubahan perilaku dengan peningkatan resiko terjadinya penyakit Alzheimer, akan tetapi penelitian ini tidak menemukan adanya hubungan sebab akibat di antara keduanya. Satu hal yang perlu diketahui mengenai penyakit Alzheimer adalah bahwa penyakit ini bukan hanya menyebabkan terjadinya gangguan pada proses berpikir dan daya ingat, tetapi merupakan suatu penyakit pada otak yang menyebabkan hilangnya sel-sel otak seiring dengan berlalunya waktu dan dapat menimbulkan berbagai gejala yang berbeda, termasuk gangguan depresi, gangguan cemas, atau gangguan tidur.   Sumber: newsmaxhealth