Your browser does not support JavaScript!
 16 Jul 2019    11:00 WIB
Tanda dan Gejala Penyakit Parkinson
Gejala awal penyakit Parkinson biasanya ringan dan berkembang secara perlahan. Pada awalnya, anda mungkin akan merasa lelah atau tidak nyaman. Selain itu, anda juga akan merasa gemetar (tremor) ringan atau kesulitan berdiri. Beberapa gejala lainnya yang dapat anda rasakan adalah suara menjadi lebih pelan, tulisan tangan berubah, gangguan daya ingat (lupa kata-kata atau pemikiran yang ingin diucapkan), dan merasa cemas atau depresi. Anggota keluarga anda biasanya lebih dulu menyadari berbagai perubahan yang anda alami. Anggota keluarga anda mungkin memperhatikan bahwa anda mengalami perubahan cara berjalan (menjadi kaku dan sulit) atau tidak adanya ekspresi wajah saat anda berbicara. Seiring dengan semakin berkembangnya penyakit, berbagai gejala yang anda alami akan mengganggu aktivitas anda sehari-hari. Perlu diingat, bahwa tidak semua penderita Parkinson mengalami seluruh gejala di atas, beberapa bahkan hanya mengalami beberapa gejala ringan.   Kekakuan Otot Kekakuan otot adalah ketidakmampuan otot untuk berelaksasi dengan normal. Sebagian besar penderita Parkinson mengalami kekakuan pada anggota geraknya. Kekakuan ini disebabkan oleh ketegangan otot yang tidak dapat dikendalikan dan dapat menghambat pergerakan anda. Selain itu, anda juga mungkin merasa nyeri pada otot yang kaku tersebut.   Tremor (Gemetar) Tremor biasanya dimulai dari tangan dan lengan, tetapi juga dapat dimulai pada rahang atau kaki. Tremor biasanya terjadi saat beristirahat atau saat anda merasa stress. Pada saat tremor, ibu jari biasanya bergerak naik turun mengenai jari telunjuk. Pada tahap awal penyakit, tremor biasanya hanya mengenai satu sisi tubuh atau satu anggota gerak. Seiring dengan berkembangnya penyakit, tremos dapat dialami oleh bagian tubuh lainnya. Akan tetapi, tidak semua penderita Parkinson mengalami gejala tremor ini.   Bradikinesia Bradikinesia adalah pergerakan yang lambat dan disertai dengan penurunan kemampuan aktivitas motorik. Bradikinesia disebabkan oleh keterlambatan otak dalam mentransmisikan impuls saraf ke bagian tubuh yang diperlukan. Gejala ini merupakan salah satu gejala yang tidak terduga dan dapat dengan cepat menyebabkan disabilitas. Bradikinesia membuat penderita Parkinson kesulitan melakukan berbagai tugas maupun kegiatan sehari-hari. Bradikinesia yang terjadi pada otot-otot wajah membuat penderita Parkinson tidak memiliki ekspresi wajah (ekspresi atau wajah seperti topeng)   Perubahan Gaya Berjalan Berbagai perubahan yang terjadi adalah Ketidakmampuan penderita untuk menggerakkan tangannya secara spontan dan normal saat berjalan Berjalan dengan langkah pendek-pendek Mengalami kesulitan untuk memulai atau berhenti berjalan Kesulitan untuk berbalik saat berjalan   Gejala Lainnya Berbagai gejala lainnya yang sering dialami oleh penderita Parkinson adalah: Gangguan keseimbangan Berjalan dengan posisi condong ke depan atau belakang yang dapat membuat penderita terjatuh Postur Parkinson (kepala menunduk ke bawah dan bahu turun) Sering menggerakkan kepala Perubahan suara dan cara berbicara (suara menjadi lebih pelan dan sulit terdengar) Gangguan kemampuan motoric (pergerakan) Gangguan daya ingat Perubahan tulisan tangan (tulisan tangan menjadi lebih kecil) Konstipasi atau sembelit Depresi Merasa takut dan cemas Bingung Demensia (pikun) Rasa lelah Keluarnya air liur dari mulut tanpa disadari (mengiler) Gangguan kulit, misalnya ketombe Kesulitan mengunyah dan menelan Gangguan tidur Gangguan buang air kecil Disfungsi seksual   Diagnosa Banding Bila anda mengalami beberapa gejala di atas, bukan berarti anda pasti menderita Parkinson. Terdapat beberapa hal lain yang dapat menyebabkan anda mengalami beberapa gejala di atas, yaitu: Depresi Penuaan Penggunaan obat anti psikosis (efek samping obat) Gangguan degeneratif otak lainnya Segera hubungi dokter anda bila anda mengalami berbagai gejala di atas untuk mengetahui penyebab dan menyingkirkan kemungkinan anda menderita penyakit Parkinson.   Sumber: webmd
 19 Mar 2019    11:00 WIB
Penyakit Parkinson (Gejala dan Pengobatan)
Guy’s kalian pasti kenal bintang film Michael J. Fox yang terkenal atas filmnya yang bertajuk 'Back to the Future', sempat didiagnosis mengidap penyakit langka Parkinson pada tahun 1991, di usianya yang ke-30. Fox menjelaskan pada majalah Parade di tahun 2012, ia menunggu waktu yang cukup lama, yakni selama 7 tahun agar ia percaya diri untuk mengumumkan penyakitnya pada publik. Walaupun ia harus melewati hari-hari yang suram, ia memandang hidup dengan Parkinson bukanlah sesuatu yang menyeramkan baginya. Menurut National Parkinson Foundation, sekitar 50 ribu sampai 60 ribu kasus baru Parkinson didiagnosis setiap tahun di AS. And guy’s penyakit degeneratif yang menyerang otak ini masih menjadi momok bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Jumlah penderita penyakit yang umumnya menyerang manula usia 65 tahun ke atas ini diperkirakan meningkat menyentuh angka 6,17 juta orang pada tahun 2030. Spesialis saraf dari Parkinson’s and Movement Diorder Center Rumah Sakit Siloam Kebun Jeruk, dr Frandy Susatia, mengatakan, satu di antara 100 orang tua berusia 65 tahun ke atas adalah penderita parkinson. Jika jumlah lansia di Indonesia sebanyak 20 juta berdasarkan data BPS 2015, maka ada sekitar 200.000 orang di antaranya menderita parkinson, atau 547 orang setiap harinya. Bahkan, berdasarkan data perhimpunan spesialis saraf di Indonesia, angka penderita parkinson sudah mencapai 400.000 orang. "Penyakit ini meningkat karena banyak masyarakat awam belum memahami tentang parkinson. Bahkan, sebagian besar datang memeriksakan diri sudah terlambat untuk ditangani atau stadium lanjut," kata Frandy di Jakarta. Penyakit Parkinson adalah kelainan neurologis kronis dan degeneratif yang ditandai, sebagaimana disebutkan, oleh keseimbangan yang buruk, kesulitan berjalan, kekakuan otot, kekakuan anggota badan, dan tremor. Gejala dapat bervariasi dari orang ke orang, tetapi dalam kebanyakan kasus, tugas sehari-hari yang sederhana dapat menjadi tugas yang berat. Gejala cenderung bertahan dan berkembang seiring waktu. Metode perawatan dan keberhasilan berbeda dari pasien ke pasien, beberapa mengalami hasil yang lebih baik dengan metode alami daripada yang lain. Penyakit Parkinson mempengaruhi orang tua lebih sering daripada orang yang lebih muda, dan pria lebih banyak daripada wanita dalam banyak kasus. Penyakit Parkinson juga mempunyai beberapa gejala, seperti: Tremor: Tremor atau gemetar dimulai pada anggota tubuh, sering kali di jari atau tangan kita. Gerakan melambat (bradikinesia): Seiring perkembangan penyakit, Parkinson menyebabkan gerakan melambat dan berkurangnya kemampuan untuk melakukan tugas terkait gerakan, termasuk berjalan atau turun dari kursi. Otot kaku: Parkinson menyebabkan kekakuan otot yang membatasi rentang gerak dan menyebabkan rasa sakit. Gangguan keseimbangan dan postur tubuh: Parkinson dapat menyebabkan masalah keseimbangan dan postur tubuh. Perubahan bicara: Penyakit Parkinson dapat mengubah bicara seseorang menjadi lunak, cadel, cepat, ragu-ragu atau monoton. Perubahan penulisan: Parkinson dapat mempersulit penulisan atau menyebabkan tulisan tangan menjadi lebih kecil. Kram (dystonia): Parkinson mungkin datang dengan memelintir atau mengencangkan otot-otot kita. Air liur (sialorrhea): Gejala-gejala motorik yang dikompromikan dapat menyebabkan kesulitan menelan, keluar air liur yang berlebihan. Diskinesia; Parkinson dapat ditandai dengan gerakan wajah, batang tubuh, tungkai dan lengan yang tidak disengaja dan tidak menentu. Festinasi: Parkinson dapat ditandai dengan langkah-langkah pendek dan cepat sambil berjalan yang mengarah ke lebih banyak jatuh. Pembekuan: Parkinson dapat menyebabkan pembekuan seperti terjebak di tempat selama gerakan yang dapat meningkatkan risiko jatuh. Wajah bertopeng (hypomimia): Kombinasi bradikinesia dan kekakuan dapat menyebabkan wajah kesulitan berekspresi. Gaya berjalan menyeret: Parkinson dapat ditandai dengan langkah-langkah pendek dan postur bungkuk. Parkinson dapat menyebabkan atau mungkin disertai dengan masalah lain (komplikasi), seperti: Kesulitan berpikir. Depresi. Perubahan emosional. Masalah tidur. Masalah menelan. Masalah kandung kemih. Sembelit. Kelelahan. Rasa sakit. Disfungsi bau. Tekanan darah berubah. Disfungsi seksual. Mungkin diantara kita bertanya, mengapa penyakit ini bisa terjadi? Penyakit Parkinson adalah gangguan neurologis di mana neuron tertentu di otak kita mulai rusak dan mati. Hilangnya neuron spesifik yang menghasilkan dopamin, pembawa pesan kimiawi otak menyebabkan penurunan kadar dopamin yang menyebabkan aktivitas otak abnormal dan banyak gejala penyakit yang tidak nyaman. Dan di bawah ini merupakan beberapa pemicunya juga, seperti: Gen: Mutasi genetik tertentu yang tidak biasa dapat menyebabkan penyakit Parkinson dalam kasus yang jarang terjadi di mana anggota keluarga lainnya telah terkena penyakit ini. Variasi gen tertentu juga dapat sedikit meningkatkan risiko kondisi ini. Pemicu lingkungan: Paparan racun tertentu atau faktor lingkungan juga dapat meningkatkan risiko pada tingkat kecil. Cidera kepala, usia, jenis kelamin, tempat tinggal (tinggal dekat dengan racun lingkungan), dan pekerjaan (kerja fisik intensif dan bekerja dengan racun) dapat meningkatkan risiko Parkinson. Perubahan di otak: Perubahan tertentu di otak dapat terjadi pada orang dengan penyakit Parkinson, tetapi mengapa dan kapan perubahan ini terjadi tidak diketahui pada saat ini. Salah satu perubahan ini adalah keberadaan tubuh Lewy, gumpalan zat khusus dalam sel-sel otak, dan juga protein alfa-synuclein yang ditemukan dalam tubuh Lewy (gumpalan protein abnormal di dalam sel saraf pengidap penyakit Parkinson). Penyakit Parkinson adalah kondisi kronis tetapi tidak mematikan. Namun komplikasi tertentu, seperti kesulitan menelan, demensia atau jatuh yang serius dapat menyebabkan kematian. Diagnosis dan perawatan dini dapat membantu perkembangan penyakit, gejala dan kualitas hidup kita. Tidak ada pengobatan standar untuk penyakit Parkinson saat ini. Namun metode konvensional untuk perawatan Parkinson dan metode pengobatan alami dapat dilakukan. Metode konvensional seperti: Perawatan simtomatik: Obat-obatan, termasuk levodopa, Inosine dan Carbidopa fokus pada perawatan gejala Parkinson. Perawatan neuroprotektif: Bedah seperti Stimulasi Otak Dalam (DBS) dan pengangkatan jaringan adalah bentuk perawatan neuroprotektif Strategi berbasis penyembuhan: Metode pengobatan tertentu, khususnya pada metode dan penggunaan DBS yang berbeda masih diselidiki karena dampaknya pada Parkinson. Dan metode pengobatan alami seperti: Menambahkan makanan padat nutrisi, segar, organik utuh, seperti sayuran, sayuran, buah-buahan dan banyak lagi dapat bermanfaat bagi penderita Parkinson. Dan hindari makanan dengan protein yang berlebihan, hindari makanan olahan, hilangkan gula halus dan pemanis buatan, kurangi atau hilangkan alcohol, hapus semua alergen makanan potensial dan makanan yang mungkin sensitif bagi kita. Olah raga ringan seperti, taichi, yoga, aerobik dalam air. Akupunktur. Demikianlah pembahasan kita mengenai penyakit Parkinson, moga makin tua kita semua makin sehat, sampai jumpa.   Sumber : www.beritasatu.com, www.khanacademy.org, www.medicinenet.com, www.mayoclinic.org
 06 Sep 2018    18:00 WIB
Penyakit Kronik dan Gangguan Tidur
Gangguan tidur dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti stress, penuaan, kehamilan, menopause, gangguan psikologis, dan penyakit kronik. Beberapa penyakit kronik yang dapat menyebabkan gangguan tidur adalah diabetes, artritis, HIV/AIDS, lupus, Parkinson, Alzheimer, dan sklerosis multipel.   Apa yang Terjadi ? Rasa nyeri dan lelah yang dialami oleh penderita penyakit kronik dapat mengganggu kehidupan mereka sehari-hari, termasuk tidur. Penyakit kronik yang mereka alami membuat mereka sulit tidur di malam hari dan mengantuk saat siang hari, terutama pada penderita gangguan neurologis, seperti penyakit Parkinson dan Alzheimer. Insomnia dan gangguan tidur lainnya dapat memperburuk rasa nyeri dan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Selain itu, beberapa obat-obatan yang digunakan untuk mengobati berbagai penyakit kronik justru dapat menyebabkan gangguan tidur. Penderita penyakit kronik seringkali juga mengalami depresi. Hal ini juga dapat menyebabkan gangguan tidur.   Apa yang Harus Dilakukan ? Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengatasi gangguan tidur akibat penyakit kronik adalah mengatasi rasa nyeri akibat penyakit. Anda dapat meminta dokter anda untuk memberikan obat anti nyeri. Bila penggunaan obat juga tidak membantu anda tertidur, cobalah untuk melakukan beberapa hal di bawah ini, yaitu: Ciptakan suasana kamar tidur yang tenang Matikan lampu kamar tidur anda Atur suhu kamar tidur anda senyaman mungkin Susu hangat dapat membuat anda mengantuk Jangan tidur siang Hindari makanan atau minuman yang mengandung kafein, seperti kopi, teh, minuman bersoda, dan coklat Bila hal ini masih tidak dapat membantu anda, segera hubungi dokter anda mengenai penggunaan obat lainnya untuk membantu tidur anda. Hindarilah penggunaan obat tidur lebih dari 2 minggu karena dapat menyebabkan ketergantungan dan toleransi obat (dosis yang sama tidak lagi memiliki efek yang sama seperti pada waktu pertama kali anda konsumsi)   Sumber: webmd
 25 Feb 2018    08:00 WIB
Tips Melakukan Kegiatan Sehari-hari Bagi Penderita Parkinson
Penderita Parkinson seringkali mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatannya sehari-hari,t ermasuk kegiatan merawat diri, seperti mandi, makan, dan berpakaian. Di bawah ini terdapat beberapa hal yang mungkin dapat membantu anda.   Tips Berpakaian Bagi Penderita Parkinson Beberapa hal yang dapat membantu anda dalam berpakaian adalah: Duduklah saat berpakaian Gunakanlah pakaian yang longgar dan mudah dikenakan Gunakan celana karet yang lebih mudah dikenakan Gunakan baju berkancing, terutama kancing yang berukuran besar Gunakan sepatu selop atau sepatu pantofel yang lebih mudah dikenakan. Hindari sepatu bertali   Tips Mandi Bagi Penderita Parkinson Beberapa hal yang dapat membantu anda saat mandi adalah: Duduklah di kursi saat mandi bila diperlukan Pilihlah shower daripada gayung Gunakanlah sabun cair daripada sabun batangan Gunakan air hangat karena air yang terlalu panas justru dapat membuat anda merasa lebih lelah Bila anda sulit mengeringkan tubuh bagian belakang anda dengan handuk, letakkanlah handuk pada sandaran kursi anda kemudian gosokkanlah tubuh anda pada sandaran kursi anda tersebut Gunakanlah kloset duduk, bila diperlukan pasanglah penyangga yang dapat membantu anda berdiri atau duduk Gunakanlah sisir dan sikat gigi yang mudah digenggam, bila perlu anda dapat menggunakan sikat gigi listrik   Tips Saat Makan Bagi Penderita Parkinson Berbagai hal yang perlu diperhatikan saat anda menikmati makanan anda adalah: Makanlah dengan perlahan, jangan terburu-buru Gunakanlah alat makan yang ringan dan sederhana Gunakanlah alas untuk menjaga agar piring anda tidak bergeser saat makan Gunakanlah piring dengan pinggiran yang lebih tinggi agar makanan tidak tumpah Gunakanlah gelas dengan pegangan yang besar Hisaplah permen untuk mengurangi air liur yang berlebihan Gunakanlah sedotan saat minum untuk membantu menguatkan otot mulut, bibir, dan tenggorokan   Tips Lainnya Bagi Penderita Parkinson Berbagai hal lainnya yang dapat membantu dalam kehidupan anda sehari-hari adalah: Bila anda kesulitan menggunakan pensil atau pen untuk menulis, gunakanlah komputer atau pen berukuran besar untuk menulis Gunakanlah kain pel atau sapu dengan gagang yang panjang untuk membantu anda saat membersihkan rumah Duduklah saat melipat pakaian, mencuci piring, atau menyetrika pakaian Saat berdiri atau duduk, lakukanlah dengan perlahan. Tekuklah pinggang anda secara perlahan saat akan berdiri, kemudian tunggulah sebentar sebelum mulai berjalan Pijatlah kaki anda untuk mengurangi kram Mandilah dengan air hangat untuk mengurangi kekakuan dan kram pada otot Gunakanlah kompres dingin untuk mengurangi nyeri otot dan sendi Genggamlah bola karet kecil untuk mengurangi gemetar pada tangan Hitunglah langkah anda setiap kali anda berjalan Gerakan badan anda bila anda berhenti dan sulit melangkah kembali Pasanglah alarm pada Hp atau jam anda untuk mengingatkan anda mengenai waktu minum obat Gunakanlah speaker phone atau earphone untuk membantu anda menelepon bila tangan anda gemetar saat menelepon    
 28 Jan 2017    15:00 WIB
Tangan Sering Gemetar, Parkinson atau Bukan?
Gemetar (tremor) merupakan suatu gerakan yang tidak disadari. Penyebab paling sering dari tremor ini adalah suatu gangguan yang disebut dengan tremor esensial. Baik tremor esensial maupun penyakit Parkinson merupakan gangguan pergerakan. Gangguan pergerakan adalah berbagai penyakit atau cedera yang dapat mengganggu pergerakan seseorang.Tremor esensial dan penyakit Parkinson merupakan gangguan yang berbeda, akan tetapi kadangkala berhubungan karena memiliki banyak gejala yang mirip.Tremor EsensialTremor esensial merupakan suatu gangguan pada sistem saraf tubuh dengan gejala utama berupa tremor. Bagian tubuh yang paling sering terkena adalah tangan, lengan, kepala, dan kadangkala suara. Tremor esensial tidak membahayakan jiwa anda, akan tetapi dapat membuat anda mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti menulis dan makan. Tremor esensial juga tidak meningkatkan resiko terjadinya penyakit Parkinson. Berbagai gejala tremor esensial yang dapat ditemukan adalah:•  Adanya tremor (gerakan yang tidak disadari) yang terjadi selama beberapa waktu (biasanya sebentar)•  Suara gemetar•  Kepala selalu mengangguk•  Tremor yang semakin memburuk selama merasa stress•  Tremor yang semakin memburuk saat melakukan suatu gerakan yang bertujuan (misalnya saat ingin mengambil sesuatu)•  Tremor berkurang saat beristirahat•  Tremor merupakan satu-satunya gejala•  Gangguan keseimbangan (jarang)Penyakit Parkinson Penyakit Parkinson merupakan gangguan pada saraf dan otak yang bersifat kronik progresif (terus memburuk seiring dengan berlalunya waktu) yang mengenai suatu area kecil pada bagian otak yang disebut dengan substansia nigra.Substansia nigra merupakan bagian otak yang berfungsi untuk menghasilkan dopamin, suatu neurotransmiter yang berfungsi untuk menghantarkan impuls di antara berbagai bagian otak. Saat berada dalam keadaan normal, impuls ini berfungsi untuk mengkoordinasi gerakan halus dan keseimbangan otot.Pada penyakit Parkinson, sel-sel saraf di dalam substansia nigra ini mengalami kematian dan menyebabkan penurunan kadar dopamin di dalam otak. Tidak adanya dopamin, membuat sel-sel saraf bekerja tak terkendali, yang menyebabkan penderita kehilangan kemampuan untuk mengendalikan pergerakan tubuh mereka. Berbagai gejala yang dapat ditemukan pada penyakit Parkinson adalah:•  Kekakuan otot•  Tremor•  Bradikinesia (pergerakan melambat dan penurunan aktivitas spontan secara perlahan)•  Perubahan gaya berjalan dan postur tubuh•  Perubahan dalam berbicara dan tulisan tangan•  Keseimbangan berkurang dan lebih mudah jatuhSumber: webmd
 23 Feb 2015    09:00 WIB
Apa yang Harus Dikonsumsi Untuk Membantu Mengatasi Gejala Parkinson?
Sembelit Sembelit merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada seorang penderita penyakit Parkinson. Meningkatkan konsumsi cairan dan serat dapat membantu memperlancar buang air besar. Konsumsilah setidaknya 6-8 gelas air putih setiap harinya. Minumlah air hangat, terutama di pagi hari karena hal ini dapat membantu menstimulasi pergerakan usus. Konsumsilah berbagai jenis makanan yang mengandung banyak serat seperti buah, sayuran, kacang-kacangan, roti gandum, dan sereal. Selain mengandung banyak serat, berbagai jenis makanan tersebut juga mengandung banyak antioksidan.   Tekanan Darah Rendah Tekanan darah rendah juga merupakan gejala penyakit Parkinson dan dapat juga merupakan salah satu efek samping dari beberapa jenis obat-obatan. Meningkatkan konsumsi cairan dan garam dapat membantu meningkatkan tekanan darah. Akan tetapi, bila Anda memiliki gangguan jantung atau ginjal, berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter Anda sebelum meningkatkan konsumsi garam Anda. Tingkatkan konsumsi berbagai jenis minuman dingin seperti air putih atau air kelapa. Konsumsilah setidaknya 8 gelas air putih setiap harinya. Batasi konsumsi minuman berkafein, air panas, dan minuman beralkohol karena ketiganya dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi dan tekanan darah rendah. Makanlah dengan porsi kecil tetapi sering untuk membantu menjaga kestabilan tekanan darah Anda.   Kesulitan Menelan Gangguan menelan dapat tampak sebagai batuk, tersedak, atau merasa ada makanan yang tersangkut di dalam kerongkongan. Berkonsultasilah dengan dokter untuk mengetahui apa saja perubahan pola makan yang perlu Anda lakukan dan makanan apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Dokter mungkin akan menganjurkan Anda untuk mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang meningkatkan fungsi sensorik seperti makanan berbumbu, dingin, asam, atau bergas; atau justru menyarankan penderita untuk mengkonsumsi makanan padat dan atas cair. Dokter juga mungkin akan meminta Anda untuk makan dengan posisi duduk tegak, sedikit-sedikit, dan lebih pelan.   Kram Otot Beberapa orang penderita Parkinson juga mengalami kram otot yang dapat terasa sangat nyeri, terutama di malam hari dan saat efektivitas obat mulai menurun. Mengkonsumsi mustard kuning yang mengandung kunyit atau mengkonsumsi air tonik yang mengandung quinine dapat membantu. Pastikan penderita mengkonsumsi cukup cairan setiap harinya karena hidrasi yang cukup dapat mencegah dan membatasi terjadinya kram.   Sumber: michaeljfox
 18 Feb 2015    12:00 WIB
Makanan yang Perlu Dihindari Oleh Penderita Parkinson
Sebenarnya tidak ada diet khusus yang dapat membantu mengatasi atau mengurangi gejala Parkinson, akan tetapi diet sehat dan seimbang memang terbukti dapat membantu menjaga kesehatan penderita secara keseluruhan. Mengkonsumsi berbagai jenis buah dan sayuran dapat membantu penderita lebih bertenaga dan dapat membantu mencukupi kebutuhan cairan harian penderita. Selain itu, mengkonsumsi makanan tinggi serat dan mengkonsumsi cukup air putih setiap harinya juga dapat membantu mengatasi gejala sembelit atau tekanan darah rendah. Walaupun tidak ada pantangan makanan tertentu bagi seorang penderita Parkinson, akan tetapi obat yang Anda konsumsi mungkin dapat mempengaruhi apa saja makanan yang sebaiknya Anda hindari dan Anda konsumsi. Dengan demikian, obat pun dapat bekerja dengan lebih efektif dan mencegah terjadinya berbagai efek samping yang tidak diinginkan. Berkonsultasilah dengan dokter Anda mengenai makanan apa saja yang harus Anda hindari.   Bila Anda Mengkonsumsi Levodopa Levodopa merupakan suatu obat yang terdiri dari protein sehingga proses penyerapannya di dalam tubuh pun akan saling berkompetisi dengan berbagai protein lainnya. Oleh karena itu, mengkonsumsi makanan tinggi protein dapat menurunkan penyerapan obat levodopa, sehingga Anda mungkin perlu menghindari konsumsi daging, ikan, dan keju di malam hari dan mengkonsumsi lebih banyak karbohidrat dan sayuran di siang hari. Konsumsilah obat saat perut kosong, yaitu sekitar 30 menit sebelum makan atau 60 menit setelah makan. Dengan demikian, obat pun akan lebih cepat sampai ke usus halus dan lebih cepat diserap ke dalam tubuh. Walaupun demikian, mengkonsumsi cemilan yang mengandung karbohidrat seperti biskuit, roti, atau oatmeal mungkin diperlukan saat mengkonsumsi obat untuk mencegah terjadinya mual. Selain makanan, bila Anda mengkonsumsi levodopa maka Anda juga perlu memperhatikan jenis suplemen apa saja yang Anda konsumsi. Suplemen zat besi dapat menurunkan penyerapan levodopa di dalam tubuh. Oleh karena itu, pastikan Anda tidak mengkonsumsi keduanya di saat yang bersamaan, berikanlah jarak setidaknya 2 jam.   Bila Anda Mengkonsumsi Agonis Dopamin Agonis dopamin seperti pramipexole dan ropinirole tidak membutuhkan penyesuaian makanan apapun.   Bila Anda Mengkonsumsi Penghambat MAO-B Bila Anda mengkonsumsi penghambat MAO-B seperti rasagiline atau selegiline, maka Anda perlu membatasi konsumsi makanan yang mengandung banyak tiramin. Hal ini dikarenakan penghambat MAO-B dapat meningkatkan kadar tiramin di dalam tubuh yang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah. Beberapa jenis makanan yang mengandung banyak tiramin yang perlu dibatasi konsumsinya adalah: Daging atau ikan yang telah diawetkan atau difermentasikan atau dikeringkan Keju yang berusia lama seperti keju cheddar, keju Swiss, blue cheese, dan keju camembert Sayuran yang telah difermentasikan seperti kimchi Berbagai jenis produk kedelai termasuk saus soy Anggur merah dan bir   Sumber: michaeljfox
 16 Feb 2015    11:00 WIB
Pilihan Pengobatan Untuk Penyakit Parkinson
Sampai saat ini, pengobatan Parkinson hanya ditujukan untuk membantu mengatasi berbagai gejala yang timbul dan bukan untuk menyembuhkan penyakit. Para ahli pun masih belum menemukan obat yang dapat menghentikan atau bahkan memperlambat perjalanan penyakit.   1.      Kombinasi Karbidopa-Levodopa Salah satu pengobatan penyakit Parkinson yang paling efektif dan banyak digunakan adalah kombinasi karbidopa-levodopa. Levodopa merupakan suatu jenis obat yang akan diubah menjadi dopamin di dalam otak. Levodopa seringkali diberikan bersamaan dengan karbidopa, yang berfungsi untuk meningkatkan efektivitas levodopa dan mengurangi resiko terjadinya berbagai efek samping levodopa, terutama rasa mual. Beberapa efek samping levodopa yang dapat ditemukan adalah diskinesia (kram otot), tekanan darah rendah, aritmia (denyut jantung abnormal), gangguan saluran pencernaan, mual, rambut rontok, gangguan tidur, bingung, rasa cemas, dan halusinasi. Dalam kurun waktu 4-6 tahun penggunaan levodopa, maka efektivitas obat akan mulai menurun pada banyak penderita, di mana efek obat akan berlangsung lebih singkat. Hal ini dapat membuat penderita kembali mengalami beberapa gejala penyakit Parkinson seperti gemetar (tremor), melambatnya pergerakan, kram otot yang sangat nyeri hingga menyebabkan tertariknya otot leher, rahang, mata, dan kaki. Pada beberapa penderita, penurunan efek obat ini dapat diprediksi sehingga penderita pun dapat menyesuaikan dosis obat, akan tetapi pada beberapa penderita lainnya, penurunan efek obat ini tidak dapat diprediksi. Walaupun sangat disayangkan, akan tetapi hingga saat ini para ahli masih tidak mengetahui mengapa penurunan efek obat ini dapat diprediksi pada beberapa penderita tetapi tidak dapat pada beberapa penderita lainnya. Untuk mengatasi penurunan efektivitas obat ini, maka dokter dapat meningkatkan dosis obat atau frekuensi konsumsi obat untuk mencegah timbulnya berbagai gejala penyakit Parkinson.   2.      Agonis Dopamin Tidak seperti levodopa, agonis dopamin tidak akan berubah menjadi dopamin di dalam otak, tetapi obat ini memiliki efek yang menyerupai dopamin. Walaupun tidak seefektif levodopa, akan tetapi agonis dopamin memiliki lama kerja yang lebih lama dan tidak akan mengalami penurunan efektivitas seperti halnya levodopa. Beberapa efek samping agonis dopamin pun hampir sama dengan kombinasi karbidopa-levodopa yaitu halusinasi, pembengkakan tubuh, dan mengantuk.   3.      Penghambat MAO B Monoamine oksidase B (MAO B) merupakan suatu enzim di dalam otak yang berfungsi untuk memetabolisme dopamin. Penghambat MAO B berfungsi untuk mencegah kerja enzim ini sehingga dapat membantu memperlambat penurunan kadar dopamin di dalam otak. Efek samping penghambat MAO B biasanya ringan.   4.      Amantadine Amantadine seringkali diberikan untuk mengatasi berbagai gejala ringan penyakit Parkinson dalam waktu singkat. Obat ini biasanya diberikan bila penyakit Parkinson masih berada pada stadium awal. Obat ini mungkin juga diberikan bersamaan dengan karbidopa-levodopa pada saat penyakit telah memasuki stadium lanjut untuk membantu mengatasi efek samping karbidopa-levodopa yang berupa kram otot. Beberapa efek samping amantadine yang dapat ditemukan adanya bintik keunguan pada kulit, pembengkakan pergelangan kaki, atau halusinasi.   5.      Tindakan Pembedahan Pada tindakan pembedahan, dokter akan memasangkan suatu implan elektroda ke dalam bagian otak tertentu. Elektroda ini akan dihubungkan dengan suatu generator yang terdapat di dada. Elektroda ini akan mengirimkan suatu impuls listrik pada otak, yang dapat membantu mengatasi berbagai gejala penyakit Parkinson dan mengurangi kebutuhan penderita akan levodopa. Tindakan ini paling sering digunakan pada stadium akhir penyakit Parkinson setelah pemberian levodopa tidak lagi efektif.   Sumber: parkinsoninfo
 13 Feb 2015    12:00 WIB
Apa Itu Penyakit Parkinson?
Penyakit Parkinson merupakan suatu gangguan neurodegeneratif progresif yang sebenarnya masih termasuk dalam kelompok gangguan sistem motorik (alat gerak). Hingga saat ini penyakit Parkinson masih belum dapat disembuhan dan penderita biasanya akan mengalami perburukan gejala seiring dengan berlalunya waktu. Yang dimaksud dengan perburukan gejala adalah penurunan fungsi tubuh normal termasuk bernapas, keseimbangan tubuh, pergerakan, dan fungsi jantung. Penderita penyakit Parkinson memiliki angka harapan hidup yang hampir sama dengan orang sehat lainnya, akan tetapi berbagai komplikasi pada stadium lanjut penyakit dapat menyebabkan penderita tersedak, mengalami pneumonia (radang paru akut), dan jatuh yang dapat berakibat fatal. Proses perjalanan penyakit atau perburukkan penyakit dapat berbeda-beda pada setiap orang. Progresivitas atau perkembangan penyakit terburuk seringkali ditemukan pada penderita yang mengalami Parkinson dini (terkena Parkinson pada saat masih berusia 40 tahun).   Siapa yang Beresiko Terkena Penyakit Parkinson? Penyakit Parkinson paling sering mengenai orang yang berusia 50 tahun atau lebih dan merupakan salah satu gangguan sistem saraf yang paling sering terjadi pada orang lanjut usia. Penyakit Parkinson dapat mengenai pria dan wanita, akan tetapi penyakit ini lebih banyak ditemukan pada pria dibandingkan dengan wanita, yaitu sekitar 50% kasus lebih banyak mengenai pria. Penyakit ini biasanya mengenai orang yang berusia sekitar 60 tahun, akan tetapi pada sekitar 5-10% kasus, penyakit mengenai orang yang berusia 40 tahun (Parkinson dini).   Apa Penyebabnya? Penyakit Parkinson terjadi akibat adanya gangguan pada sel-sel saraf otak yang terjadi secara perlahan, yaitu pada sel-sel otak yang berfungsi untuk memproduksi dopamin. Dopamin merupakan suatu bahan alami yang dapat ditemukan di dalam otak yang berfungsi untuk membantu mengendalikan pergerakan otot di seluruh tubuh. Walaupun para peneliti di berbagai belahan dunia telah melakukan penelitian intensif mengenai penyakit Parkinson, akan tetapi hingga saat ini para peneliti masih belum dapat menemukan apa sebenarnya penyebab pasti dari terjadinya penyakit Parkinson. Para dokter dan peneliti hanya mengetahui bahwa penyakit Parkinson terjadi akibat hilangnya sel-sel otak yang berfungsi untuk membentuk dopamin. Sel-sel otak pembentuk dopamin ini dapat ditemukan pada suatu bagian otak yang disebut dengan substansia nigra. Saat banyak sel yang mati, maka produksi dopamin pun akan menurun dan jumlah dopamin yang masuk ke daearah striatum pun juga akan menurun. Striatum merupakan bagian otak yang berfungsi untuk mengatur pergerakan tubuh. Setelah melakukan banyak penelitian, akhirnya para ahli dan para peneliti pun mencapai suatu kesimpulan bahwa penyakit Parkinson tidaklah disebabkan oleh satu hal saja tetapi dipengaruhi oleh beberapa hal seperti faktor genetika dan faktor lingkungan. Hal ini berarti bahwa bila salah satu atau kedua orang tua mengalami penyakit Parkinson maka resiko anaknya untuk menderita penyakit Parkinson juga akan lebih tinggi. Akan tetapi, pada kebanyakan kasus penyakit Parkinson, para ahli tidak menemukan adanya hubungan keluarga yang jelas. Selain faktor genetika, para peneliti menemukan berbagai hal lainnya yang dapat memicu terjadinya penyakit Parkinson seperti paparan terhadap berbagai jenis racun dan cedera kepala berat.   Kapan Gejala Parkinson Mulai Terjadi? Gejala penyakit Parkinson biasanya akan mulai muncul saat kadar dopamin telah mencapai titik kritis, biasanya saat 50-80% sel saraf pembentuk dopamin telah mati. Karena banyaknya sel saraf pembentuk dopamin yang telah mati saat gejala Parkinson mulai terjadi, maka para peneliti pun sangat sulit memastikan kapan sebenarnya proses perjalanan penyakit telah dimulai. Dengan demikian, hingga saat ini, para peneliti hanya dapat melakukan penelitian pada hewan percobaan.   Sumber: parkinsoninfo