Your browser does not support JavaScript!
 18 Aug 2014    13:00 WIB
Tahukah Anda Bahwa Ada Area Otak yang Tidak Pernah Menua?
Para peneliti di Australia sedang melakukan suatu penelitian mengenai suatu bagian otak tertentu pada orang lanjut usia yang masih berfungsi seperti saat mereka masih muda. Otak manusia terbagi menjadi dua bagian besar yaitu otak kiri dan kanan. Otak kanan merupakan bagian otak yang berfungsi untuk mengatur respon terhadap berbagai stimulus visual dan non visual. Proses penuaan tidak hanya mempengaruhi tubuh secara fisik, tetapi juga mempengaruhi fungsi otak Anda, termasuk fungsi kognitif, terutama yang berhubungan dengan kecepatan respon, yang seringkali semakin melambat seiring dengan semakin bertambahnya usia seseorang. Akan tetapi, pada penelitian ini, para peneliti menduga bahwa ada suatu bagian otak tertentu yang mengatur fungsi kognitif tertentu pada bagian otak kanan yang tidak terpengaruh oleh proses penuaan. Peserta penelitian pada penelitian ini terdiri dari 60 orang yang berusia antara 18-38 tahun dan 55-95 tahun. Para peserta diminta untuk melakukan beberapa hal yang berhubungan dengan menyentuh, melihat, dan mendengar untuk memeriksa kemampuan spasialnya. Para peneliti kemudian menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok peserta penelitian tersebut. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai mengapa dan bagaimana bagian otak ini tidak terpengaruh oleh proses penuaan serta mengapa bagian otak lainnya lebih rentan terhadap proses penuaan. Sumber: newsmaxhealth
 20 May 2014    09:00 WIB
Dampak “Junk Food” Pada Otak Anda
Sebagian besar orang telah mengetahui bahwa junk food berdampak buruk pada kesehatan anda, yang dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya. Akan tetapi, entah mengapa anda terus ingin mengkonsumsinya, bahkan setelah anda mengetahui bahwa mengkonsumsi junk food juga telah berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya depresi.Mengapa Anda Ingin Terus Mengkonsumsi Junk Food?Terdapat 2 hal yang menyebabkan seseorang ingin terus mengkonsumsi suatu jenis makanan tertentu. Hal pertama adalah sensasi yang anda rasakan saat anda mengkonsumsi makanan tersebut seperti rasa asin, manis, gurih, dan sebagainya; bagaimana baunya, dan bagaimana rasa makanan tersebut di dalam mulut anda. Atau dengan kata lain membuat otak anda mengingat bagaimana rasa makanan tersebut dan betapa menyenangkannya hal tersebut. Hal kedua adalah komposisi makanan tersebut, yaitu berapa jumlah protein, lemak, dan karbohidrat yang terdapat di dalamnya. Pada junk food, para pembuatnya meneliti berapa kombinasi sempurna dari garam, gula, dan lemak yang dapat menyenangkan otak anda sehingga anda ingin terus mengkonsumsi makanan tersebut.Bagaimana Membuat Anda Kecanduan Makanan? Kontras DinamikKontras dinamik merupakan adanya suatu kombinasi berbeda pada suatu makanan saat anda mengunyahnya di dalam mulut anda. Berbagai perbedaan sensasi inilah yang membuat otak anda tertarik dan membuat anda ingin terus mengkonsumsinya. Respon Saliva (Air Liur)Pengeluaran air liur merupakan bagian dari proses pencernaan makanan. Semakin banyak suatu makanan membuat anda mengeluarkan air liur, maka semakin membuat makanan tersebut tersebar merata ke seluruh mulut dan mengenai hampir seluruh indra pengecap anda, yang merangsang otak anda dan membuat makanan tersebut terasa lebih nikmat. Beberapa makanan yang dapat menciptakan sensasi seperti ini adalah mentega, coklat, mayonaise, thousand island, dan es krim. Kecepatan Pelarutan atau Pencairan MakananBerbagai jenis makanan yang dapat meleleh dengan cepat di dalam mulut anda dapat membuat otak anda mengira anda tidak makan sebanyak yang sebenarnya anda konsumsi. Dengan kata lain, makanan ini membuat otak anda mengira bahwa anda belum merasa kenyang walaupun anda sebenarnya telah mengkonsumsi banyak kalori. Respon Sensorik SpesifikOtak anda menyukai keberagaman. Hal ini menyebabkan anda tidak lagi mengalami rasa senang atau nikmat yang sama saat anda mengkonsumsi makanan yang sama terus-menerus. Dengan kata lain, respon sensorik spesifik anda terhadap suatu makanan akan berkurang seiring dengan berlalunya waktu atau bahkan hanya dalam beberapa menit. Makanan junk food telah dirancang untuk menghindari respon sensorik spesifik ini. Makanan junk food dirancang untuk membuat otak anda tidak merasa bosan tetapi juga tidak terlalu nikmat hingga membuat respon anda menumpul. Hal inilah yang membuat anda dapat mengkonsumsi beberapa bungkus keripik kentang tanpa merasa bosan. Jumlah KaloriMakanan junk food dirancang untuk menyakinkan otak anda bahwa tubuh anda telah memperoleh cukup nutrisi dengan mengkonsumsinya, tetapi tidak membuat anda merasa kenyang. Berbagai reseptor di dalam mulut dan lambung anda memberitahu otak anda bahwa apa yang anda makan mengandung protein, lemak, dan karbohidrat seperti makanan lainnya yang sebenarnya telah cukup bagi tubuh anda. Akan tetapi, makanan junk food sebenarnya hanya memiliki cukup kalori untuk membuat otak anda menganggap bahwa anda telah memperoleh cukup banyak energi, tetapi sebenarnya tidak sebanyak itu hingga membuat anda berpikir bahwa anda telah kenyang. Hal ini membuat anda dapat mengkonsumsi banyak makanan junk food tersebut sebelum merasa kenyang karenanya. Ingatan Akan Betapa Nikmatnya Makanan TersebutSaat anda mengkonsumsi suatu makanan yang terasa enak, maka otak anda pun akan menyimpan ingatan tersebut. Oleh karena itu, bila suatu saat anda melihat makanan tersebut, mencium bau makanan tersebut, atau bahkan membaca tentang makanan tersebut; maka otak anda akan membuat anda kembali mengingat pengalaman anda saat mengkonsumsi makanan tersebut sehingga membuat mulut anda dipenuhi dengan air liur. Hal ini akan membuat anda ingin kembali mengkonsumsi makanan tersebut.Sumber: huffingtonpost
 14 Dec 1901    04:05 WIB
Apa Dampak Olahraga Pada Otak Anda?
Para peneliti pun sebenarnya masih belum mengetahui secara pasti bagaimana pengaruh olahraga pada otak dan mengapa olahraga dapat membantu mengatasi depresi. Akan tetapi, para peneliti menduga hal ini mungkin dikarenakan olahraga dapat membantu proses neurogenesis, yaitu pembentukan sel-sel saraf baru di dalam otak. Berdasarkan teori di atas, sel-sel saraf baru tersebut biasanya diproduksi di bagian otak yang disebut dengan hipokampus, yang merupakan bagian otak yang berperan penting untuk mengatur mood seseorang. Berbagai penelitian mengenai depresi telah menunjukkan bahwa seorang penderita depresi biasanya memiliki area hipokampus yang lebih kecil daripada orang lainnya yang tidak menderita depresi. Hal ini pun membuat para peneliti menduga bahwa depresi mungkin terjadi akibat sel-sel otak penderita tidak memproduksi cukup banyak sel-sel saraf baru. Sebuah penelitian di tahun 2006 menunjukkan bahwa olahraga tampaknya dapat memicu pembentukan sel-sel saraf baru di dalam otak, mungkin dengan cara meningkatkan kadar endorfin tertentu. Hal inilah yang mungkin menyebabkan mengapa olahraga dapat membantu mengatasi berbagai gejala depresi. Sementara itu, sebuah penelitian lainnya di Swedia memiliki teori berbeda, yaitu bahwa olahraga menyebabkan terjadinya berbagai perubahan pada otot-otot tubuh Anda, yang membantu mengeluarkan berbagai zat berbahaya di dalam darah akibat stress yang dapat mengganggu kesehatan otak. Pada penelitian ini, para peneliti mengembangbiakkan tikus dengan cara tertentu sehingga mereka memiliki kadar protein PGC-1a1 yang tinggi. Berdasarkan penelitian sebelumnya, para peneliti telah menemukan bahwa kadar protein ini dapat ditingkatkan dengan berolahraga. Kemudian, para peneliti pun memaparkan tikus yang memiliki kadar protein PGC-1a1 yang tinggi dengan situasi stress dan membandingkannya dengan tikus biasa. Walaupun semua hewan percobaan mengalami stress, tikus yang memiliki kadar protein PGC-1a1 yang tinggi di dalam ototnya tidak mengalami gejala-gejala depresi. Hal ini dikarenakan tikus-tikus tersebut juga memiliki kadar enzim KAT yang lebih tinggi. Para pneleiti menduga enzim ini murupakan enzim penting yang berfungsi untuk menghancurkan suatu zat tertentu yang terbentuk saat stress yang berhubungan dengan terjadinya depresi. Enzim KAT ini berfungsi untuk mencegah zat berbahaya tersebut masuk ke dalam otak melalui aliran darah. Untuk mengetahui bagaimana efek olahraga pada manusia, maka peneliti pun melakukan penelitian pada manusia. Para peneliti memeriksa keadaan otot para peserta penelitian setelah berolahraga selama 3 minggu. Para peneliti pun menemukan bahwa kadar protein dan enzim di atas juga meningkat. Akan tetapi, para peneliti menyatakan masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah mekanisme benar-benar merupakan hal yang membuat olahraga mampu melindungi seseorang dari gangguan depresi.     Sumber: menshealth