Your browser does not support JavaScript!
 09 Sep 2014    10:00 WIB
Atur Otak Anda Untuk Atasi Stress
Anda dapat mengatur otak Anda pada saat mengalami stress. Ada tiga langkah mudah untuk menjaga keseimbangan Anda dan mendapatkan hasil yang terbaik untuk diri Anda: 1. Mengalihkan pikiran Anda. Kegiatan sehari-hari, rutinitas yang selalu dijalankan akan membuat berat pikiran Anda. Masalah yang menjulang besar dalam pikiran Anda. Cobalah untuk mengalihkan pikiran Anda yang memikirkan atau beraksi terhadap konflik dan mulai fokus bagaimana menemukan solusi. Tanyakan pada diri Anda: Bagaimana cara mengatasi masalah ini? Otak mencintai pertanyaan dan mencari jawabannya apabila Anda dalam keadaan fokus. Semua pikiran yang dihasilkan kemudian akan mengikuti jalan yang berbeda apabila Anda sedang mencari jawaban untuk pertanyaan Anda. 2. Bernapaslah, bernapas dan bernapas Ketika Anda bernapas dengan kecepatan yang konsisten. Hal ini akan menyebabkan perlambatan denyut jantung. Kemudian kerja jantung akan berpengaruh kepada sistem saraf dan hiperfokus terhadap suatu masalah untuk memberikan solusi. 3. Membuat pilihan dengan tenang Kendurkan otot Anda, yang secara spontan akan menegang apabila sedang mengalami konflik atau bahaya. Dimana tubuh Anda akan bersiap untuk membuat tubuh Anda terhadap suatu keadaan yang dihadapi seringkali menimbulkan reaksi tubuh yang berlebihan terhadap peristiwa yang genting. Namun bila Anda dalam keadaan tenang masalah yang dihadapi akan lebih mudah untuk diselesaikan. Dalam keadaan tenang akan menimbulkan kreativitas yang lebih besar dan kecerdasan yang lebih tinggi dalam mengatasi masalah. Ingat, Anda yang menciptakan kehidupan Anda sendiri. Semakin sadar bahwa apa yang Anda hasilkan, berhubungan dengan apa yang sudah Anda perbuat, maka Anda akan mencapai kehidupan yang Anda inginkan. Tetap cerdas dalam hidup dengan mengelola otak Anda sendiri. Sumber: cnn
 03 Sep 2014    08:00 WIB
Bagaimana Lekukan Otak Terbentuk?
Sebuah penelitian yang meneliti mengapa otak manusia memiliki lekukan menemukan bahwa lekukan ini mungkin terbentuk karena terbatasnya tempat bagian otak berwarna abu-abu untuk bertumbuh dikarenakan adanya bagian otak berwarna putih (white matter). Bagian otak berwarna abu-abu atau lebih dikenal dengan gray matter ini merupakan bagian otak yang bertumbuh dengan sangat cepat. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa pembentukan lekukan otak manusia tergantung pada kecepatan pertumbuhan gray matter dan ketebalan bagian tersebut. Selain terbatasnya tempat pertumbuhan gray matter di dalam otak, faktor genetika juga turut berperan dalam proses pembentukan lekukan otak tersebut. Hal ini dikarenakan faktor genetika turut berperan dalam proses proliferasi (pertumbuhan) dan migrasi sel-sel saraf di dalam otak. Semua spesies mamalia memiliki lapisan otak yang mirip, akan tetapi hanya mamalia besar yang memiliki lekukan otak. Lekukan pada otak membuat permukaan otak menjadi lebih besar, yang berarti otak ini pun memiliki kemampuan lebih besar untuk memproses suatu informasi.  Akan tetapi, para peneliti masih tidak dapat menemukan secara pasti apa saja yang mempengaruhi proses pembentukan lekukan otak manusia. Para ahli berharap dengan mengetahui bagaimana lekukan otak terbentuk, maka mereka pun dapat mengetahui apa yang terjadi pada orang yang mengalami kelainan kongenital seperti polimikrogyria (suatu kelainan di mana penderitanya memiliki banyak lekukan otak), pachygyria (suatu kelainan di mana penderitanya memiliki lekukan otak yang lebih tebal daripada biasanya), dan lissencephalia (suatu kelainan di mana penderita tidak memiliki lekukan otak sama sekali). Secara umum, terdapat 3 teori mengenai bagaimana lekukan otak yang terdiri dari gyri dan sulci terbentuk.  Teori pertama adalah bahwa ada suatu area tertentu pada lapisan terluar dari otak yang bertumbuh lebih banyak dan cepat dibandingkan dengan area lainnya sehingga terbentuklah gyri. Teori kedua adalah ada suatu gugusan saraf di dalam lapisan otak luar yang saling terhubung melalui suatu jaringan seperti benang-benang saraf dan membentuk white matter. Akan tetapi, berbagai bukti yang ditemukan dalam berbagai penelitian membuat kedua teori ini tidak lagi berlaku. Teori ketiga adalah bahwa gray matter tumbuh lebih cepat daripada white matter, sehingga terbentuklah lekukan otak.  Pada penelitian barunya, para peneliti menduga bahwa baik gray matter maupun white matter memiliki kekakuan yang sama, tetapi memiliki laju pertumbuhan yang berbeda. Dengan menggunakan suatu simulasi berdasarkan berbagai perhitungan, para peneliti berhasil menemukan apa yang membedakan bentuk permukaan otak, yaitu ukuran otak itu sendiri. Pada otak yang kecil, yaitu yang hanya berukuran kurang dari 1 cm, permukaan otak lebih halus, tidak memiliki lekukan apapun. Sementara itu, otak yang berukuran sedang memiliki lekukan pada daerah gray matter. Sedangkan otak yang berukuran besar, memiliki lekukan yang sangat dalam hingga ke bagian white matter. Para peneliti juga melakukan percobaan pembentukan lekukan otak manusia ini dengan menggunakan 2 jenis material berbahan dasar gel. Para peneliti menemukan bahwa hanya bila keduanya memiliki tingkat kelembutan yang sama, maka lekukan otak yang terbentuk pun mirip dengan lekukan otak manusia.     Sumber: foxnews
 18 Aug 2014    13:00 WIB
Tahukah Anda Bahwa Ada Area Otak yang Tidak Pernah Menua?
Para peneliti di Australia sedang melakukan suatu penelitian mengenai suatu bagian otak tertentu pada orang lanjut usia yang masih berfungsi seperti saat mereka masih muda. Otak manusia terbagi menjadi dua bagian besar yaitu otak kiri dan kanan. Otak kanan merupakan bagian otak yang berfungsi untuk mengatur respon terhadap berbagai stimulus visual dan non visual. Proses penuaan tidak hanya mempengaruhi tubuh secara fisik, tetapi juga mempengaruhi fungsi otak Anda, termasuk fungsi kognitif, terutama yang berhubungan dengan kecepatan respon, yang seringkali semakin melambat seiring dengan semakin bertambahnya usia seseorang. Akan tetapi, pada penelitian ini, para peneliti menduga bahwa ada suatu bagian otak tertentu yang mengatur fungsi kognitif tertentu pada bagian otak kanan yang tidak terpengaruh oleh proses penuaan. Peserta penelitian pada penelitian ini terdiri dari 60 orang yang berusia antara 18-38 tahun dan 55-95 tahun. Para peserta diminta untuk melakukan beberapa hal yang berhubungan dengan menyentuh, melihat, dan mendengar untuk memeriksa kemampuan spasialnya. Para peneliti kemudian menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok peserta penelitian tersebut. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai mengapa dan bagaimana bagian otak ini tidak terpengaruh oleh proses penuaan serta mengapa bagian otak lainnya lebih rentan terhadap proses penuaan. Sumber: newsmaxhealth
 14 Dec 1901    04:05 WIB
Apa Dampak Olahraga Pada Otak Anda?
Para peneliti pun sebenarnya masih belum mengetahui secara pasti bagaimana pengaruh olahraga pada otak dan mengapa olahraga dapat membantu mengatasi depresi. Akan tetapi, para peneliti menduga hal ini mungkin dikarenakan olahraga dapat membantu proses neurogenesis, yaitu pembentukan sel-sel saraf baru di dalam otak. Berdasarkan teori di atas, sel-sel saraf baru tersebut biasanya diproduksi di bagian otak yang disebut dengan hipokampus, yang merupakan bagian otak yang berperan penting untuk mengatur mood seseorang. Berbagai penelitian mengenai depresi telah menunjukkan bahwa seorang penderita depresi biasanya memiliki area hipokampus yang lebih kecil daripada orang lainnya yang tidak menderita depresi. Hal ini pun membuat para peneliti menduga bahwa depresi mungkin terjadi akibat sel-sel otak penderita tidak memproduksi cukup banyak sel-sel saraf baru. Sebuah penelitian di tahun 2006 menunjukkan bahwa olahraga tampaknya dapat memicu pembentukan sel-sel saraf baru di dalam otak, mungkin dengan cara meningkatkan kadar endorfin tertentu. Hal inilah yang mungkin menyebabkan mengapa olahraga dapat membantu mengatasi berbagai gejala depresi. Sementara itu, sebuah penelitian lainnya di Swedia memiliki teori berbeda, yaitu bahwa olahraga menyebabkan terjadinya berbagai perubahan pada otot-otot tubuh Anda, yang membantu mengeluarkan berbagai zat berbahaya di dalam darah akibat stress yang dapat mengganggu kesehatan otak. Pada penelitian ini, para peneliti mengembangbiakkan tikus dengan cara tertentu sehingga mereka memiliki kadar protein PGC-1a1 yang tinggi. Berdasarkan penelitian sebelumnya, para peneliti telah menemukan bahwa kadar protein ini dapat ditingkatkan dengan berolahraga. Kemudian, para peneliti pun memaparkan tikus yang memiliki kadar protein PGC-1a1 yang tinggi dengan situasi stress dan membandingkannya dengan tikus biasa. Walaupun semua hewan percobaan mengalami stress, tikus yang memiliki kadar protein PGC-1a1 yang tinggi di dalam ototnya tidak mengalami gejala-gejala depresi. Hal ini dikarenakan tikus-tikus tersebut juga memiliki kadar enzim KAT yang lebih tinggi. Para pneleiti menduga enzim ini murupakan enzim penting yang berfungsi untuk menghancurkan suatu zat tertentu yang terbentuk saat stress yang berhubungan dengan terjadinya depresi. Enzim KAT ini berfungsi untuk mencegah zat berbahaya tersebut masuk ke dalam otak melalui aliran darah. Untuk mengetahui bagaimana efek olahraga pada manusia, maka peneliti pun melakukan penelitian pada manusia. Para peneliti memeriksa keadaan otot para peserta penelitian setelah berolahraga selama 3 minggu. Para peneliti pun menemukan bahwa kadar protein dan enzim di atas juga meningkat. Akan tetapi, para peneliti menyatakan masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah mekanisme benar-benar merupakan hal yang membuat olahraga mampu melindungi seseorang dari gangguan depresi.     Sumber: menshealth