Your browser does not support JavaScript!
 25 Jul 2019    08:00 WIB
Berbagai Gejala Batu Ginjal yang Patut Diwaspadai
Batu ginjal terbentuk saat berbagai zat sisa yang ingin dikeluarkan dari dalam tubuh melalui ginjal saling bertempelan menjadi satu dan akhirnya membentuk suatu batu. Batu ini dapat terbentuk dalam ukuran yang berbeda-beda, mulai dari seukuran sebutir gula pasir hingga sebesar sebuah bola ping pong. Pada awalnya, adanya batu ginjal di dalam ginjal ini biasanya tidak menimbulkan gejala apapun sehingga jarang disadari oleh penderita. Seiring dengan semakin membesarnya batu, maka penderita pun akan merasakan nyeri, terutama di daerah pinggang. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa gejala lain dari batu ginjal yang perlu Anda waspadai. Nyeri Hebat Mendadak Saat ukuran batu ginjal telah menjadi cukup besar, maka Anda mungkin akan mengalami nyeri hebat yang muncul secara tiba-tiba di bagian pinggang, perut, selangkangan, atau daerah kemaluan.   Muntah Beberapa penderita batu ginjal akan mengalami rasa yang sangat tidak nyaman pada daerah perutnya. Beberapa di antaranya bahkan mengalami mual dan muntah.   Darah di Dalam Air Kemih Adanya darah di dalam air kemih merupakan suatu pertanda bahwa batu ginjal telah terdorong masuk ke dalam ureter (suatu saluran yang menghubungkan antara ginjal dan kandung kemih) sehingga melukai jaringan di dalam ureter, akibat gesekan antara batu ginjal dengan dinding dalam ureter.   Nyeri Saat Buang Air Kecil Beberapa penderita batu ginjal juga mengalami nyeri saat mereka buang air kecil dan beberapa orang lainnya justru menjadi lebih sering buang air kecil.   Baca Juga: Seorang Pria Mengalami Gagal Ginjal Karena Terlalu Banyak Minum Es Teh!   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur https://dokter.id/tanya-dokter"> Tanya dokter sekarang .   Sumber: medicinenet, mayoclinic
 24 Sep 2017    18:00 WIB
Posisi Bercinta Terbaik Untuk Berapa Pun Usia Anda!
Seiring dengan semakin bertambahnya usia Anda dan pasangan, maka Anda dan pasangan mungkin tidak lagi dapat bercinta dengan posisi yang biasanya karena berbagai gangguan kesehatan yang dialami. Agar kehidupan seksual Anda tetap nikmat, di bawah ini Anda dapat melihat beberapa posisi bercinta yang sesuai dengan usia Anda.   Usia 30 Tahun Sekitar 25% wanita hamil mengalami nyeri di daerah panggul dan sekitar 8% di antaranya masih mengalami keluhan ini hingga 2 tahun paska melahirkan. Akibatnya, banyak wanita yang berusia 30 tahun mengalami nyeri panggul saat berhubungan intim dengan posisi tertentu. Untuk mencegah nyeri panggul, dianjurkan untuk berhubungan intim dengan posisi doggy style karena posisi panggul Anda akan lebih netral. Selain doggy style, Anda juga dapat mencoba posisi spooning, terutama bila Anda baru saja melahirkan karena Anda dapat mengendalikan kecepatan dan kedalaman penetrasi penis.   Usia 40 Tahun Saat Anda berusia antara 30-40 tahun, nyeri pinggang akibat terjepitnya saraf di daerah pinggang sering terjadi. Posisi bercinta terbaik bagi Anda yang mengalami nyeri pinggang adalah doggy style dan spooning. Akan tetapi, bila Anda ingin sedikit "berpetualang", maka posisi reverse cowgirl juga dapat Anda lakukan. Pastikan saja tubuh Anda tegak saat melakukannya untuk mencegah semakin memburuknya nyeri pinggang yang Anda rasakan.   Baca juga:  Kurangi Nyeri Saat Bercinta Dengan Posisi Berikut Ini…   Usia 50 Tahun Saat Anda telah memasuki masa menopause, penurunan kadar hormon estrogen dapat membuat seks terasa lebih menyakitkan karena vagina yang mengering dan menipis. Posisi bercinta yang paling tepat bagi Anda yang telah berusia 50 tahun adalah posisi duduk. Duduklah di atas pangkuan pasangan Anda dengan saling berhadapan wajah. Posisi ini memungkinkan Anda untuk mengendalikan gerakan dan kedalaman penetrasi penis. Pilihan lainnya adalah berbaringlah terletak, kemudian letakkan sebuah bantal di bawah pinggul dan paha Anda sehingga vagina terbuka dan penis pun lebih mudah masuk.   Usia 60 Tahun Sekitar sepertiga pria dan wanita yang berusia 60 tahun menderita radang sendi. Jika Anda atau pasangan merupakan salah satu di antaranya, maka tidak dianjurkan untuk bercinta dengan posisi doggy style atau cowgirl. Posisi bercinta yang dianjurkan adalah posisi berdiri. Berdirilah membelakangi pasangan Anda (penetrasi dilakukan dari belakang), kemudian letakkan tangan Anda pada bangku atau meja atau perlengkapan rumah tangga lainnya untuk menjaga keseimbangan dan menyangga tubuh Anda. Akan tetapi, bila Anda mengalami nyeri punggung atau nyeri pinggang, maka posisi bercinta yang terbaik adalah posisi missionaris, dengan menyangga pinggang Anda dengan bantal.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: prevention
 21 Oct 2014    10:00 WIB
Low Back Pain
Nyeri pinggang juga merupakan penyakit di urutan kedua tersering dalam kunjungan ke dokter, penyebab kelima penyebab orang masuk rumah sakit. Nyeri pinggang ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting. Sekitar 80 persen  populasi pernah merasakan nyeri di pinggang dalam satu kali episode  kehidupan. Masalah nyeri pinggang, yang menjadi bagian dari nyeri tulang  belakang, merupakan masalah kesehatan yang besar. Terlebih lagi jika  terjadi pada usia produktif. Prevalensinya tertinggi dimana orang di atas umur 50 tahun pasti pernah mengalami sakit pinggang. Keluhan terbanyak dari gangguan pada  tulang belakang umumnya, keluhan low back pain atau tulang belakang  bagian bawah. Nyeri pinggang merupakan penyakit dengan pembedahan tiga terbesar dan penyebab disabilitas tertinggi. Penderita  masalah tulang belakang pada usia produktif biasanya berumur tidak  lebih dari 45 tahun. Gangguan pada tulang belakang mengakibatkan absensi  yang tinggi, seringnya kunjungan ke dokter, dan penyebab disabilitas  tertinggi sehingga memengaruhi produktivitas bekerja. Faktor  risiko nyeri tulang belakang antara lain kegemukan. Berat badan yang  berlebih, terutama bagian perut, memaksa tubuh membentuk postur yang  tidak sehat (memberikan tekanan berlebihan untuk tulang belakang) untuk  mengatasi gravitasi. Faktor risiko lainnya ialah mengangkat beban  berat berulang, membungkuk, gerak berlebihan, dan menggunakan alat  dengan getaran. Postur statik, misalnya, duduk terlalu lama juga  merupakan faktor risiko utama. Hal lain yang dapat memperbesar risiko  gangguan tulang belakang ialah genetik seperti serat kolagen yang lemah  dan faktor psikologi. (Mayapada Hospital Tangerang)