Your browser does not support JavaScript!
 25 Jan 2020    16:00 WIB
Dampak Terlalu Lama Menonton Televisi Pada Anak
Sebuah penelitian di Skotlandia menemukan bahwa menonton televisi selama 3 jam atau lebih setiap harinya dapat meningkatkan resiko anak untuk memiliki perilaku antisosial, walaupun bermain video games tampaknya tidak menimbulkan efek yang sama. Walaupun demikian, sebuah penelitian lainnya yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa resiko tersebut sangatlah kecil. Pada penelitian di Skotlandia ini, para peneliti mengamati sekitar 11.000 orang anak dan menganalisa apa sebenarnya dampak menonton televisi dan bermain video game pada anak yang berusia antara 5-7 tahun. Setelah memasukkan berbagai faktor lain yang juga dapat mempengaruhi perilaku anak seperti keadaan keluarga dan peran orang tua, para peneliti menemukan bahwa sekitar 15% anak yang menonton televise selama lebih dari 3 jam setiap harinya, memiliki resiko yang sedikit lebih tinggi untuk memiliki perilaku antisosial pada saat mereka berusia 7 tahun. Para peneliti menekankan bahwa hubungan antara banyaknya waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi dan resiko terjadinya gangguan perilaku pada anak mungkin hanya merupakan suatu hubungan tidak langsung. Peningkatan resiko terjadinya perilaku antisosial dapat dipengaruhi oleh berapa lama waktu yang dihabiskan oleh seorang anak untuk duduk diam tanpa melakukan aktivitas fisik apapun atau apakah anak mengalami kesulitan tidur setelah menonton televisi. Pada penelitian ini, para peneliti tidak mencatat jenis film atau acara televisi apa yang ditonton oleh anak. Para peneliti menyatakan bahwa menonton televisi tidak memiliki efek langsung pada keadaan emosional anak atau kemampuan anak untuk mempertahankan konsentrasinya. Selain itu, para peneliti juga tidak menemukan adanya hubungan antara bermain video game dengan perilaku antisosial atau gangguan kesehatan lainnya. Walaupun para peneliti tidak menemukan adanya hubungan langsung antara menonton televisi dan kemungkinan timbulnya perilaku antiososial, para peneliti tetap menganjurkan agar para orang tua membatasi waktu menonton televisi pada anak karena hal ini dapat menyebabkan gangguan pada prestasi akademik dan kesehatan fisik anak. Sebuah penelitian lainnya yang dilakukan di New Zealand yang juga meneliti hubungan antara terlalu banyak menonton televisi dengan perilaku antisosial menemukan hal yang berbeda. Pada penelitian ini, para peneliti menganalisa data dari 1.037 penduduk New Zealand yang diamati sejak mereka lahir hingga mereka berusia 26 tahun. Para peneliti kemudian membandingkan antara berapa banyak waktu yang dihabiskan mereka untuk menonton televisi semasa kanak-kanak dengan aktivitas criminal, kepribadian agresif, atau gangguan mental, terutama gangguan kepribadian antisosial saat mereka telah dewasa. Para peneliti juga memperhitungkan berbagai faktor lainnya yang mungkin mempengaruhi perilaku dan kepribadian anak seperti perilaku orang tua, status sosial ekonomi, dan berbagai faktor lainnya. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu menonton televisi semasa kanak-kanak dan dewasa cenderung lebih banyak terlibat dengan tindakan kriminal, memiliki gangguan kepribadian antisosial, dan cenderung memiliki kepribadian agresif dibandingkan dengan anak yang lebih jarang menonton televisi. Berdasarkan hasil penelitian ini, para peneliti pun mengajurkan agar anak-anak tidak menghabiskan lebih dari 1-2 jam untuk menonton televisi setiap harinya. Sebuah penelitian lainnya menemukan bahwa karena anak-anak balita akan meniru setiap perilaku agresif atau perilaku baik yang mereka lihat di televisi dan film, maka pengawasan orang tua sangatlah penting karena hal ini dapat mempengaruhi perilaku anak di masa mendatang. Sebuah penelitian lainnya di tahun 1999 juga menganjurkan para orang tua untuk membatasi lama waktu menonton televisi dan bermain video game pada anak sebagai salah satu cara untuk mencegah terjadinya obesitas pada anak.   Sumber: healthline
 09 Feb 2015    13:00 WIB
Mengapa Kemajuan Teknologi Berbahaya Bagi Anak?
Dua puluh tahun lalu, Anda mungkin tidak pernah menduga bahwa Anda dapat membawa komputer Anda ke mana saja atau bahwa Anda dapat menonton televisi melalui telepon genggam Anda; akan tetapi kemajuan teknologi membuat semuanya dapat Anda lakukan saat ini. Adanya telepon genggam, tablet, dan laptop; membuat anak-anak di zaman sekarang ini dapat terus online di sepanjang hari. Selain perlu memperhatikan berapa lama waktu yang dihabiskan anak di depan berbagai alat tersebut, para orang tua juga perlu memperhatikan bagaimana anak menggunakan semua alat di atas. Berbagai penelitian baru menemukan bahwa menghabiskan terlalu banyak waktu bersantai dan bermain dengan berbagai alat di atas dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, emosional, dan fisik anak. Akan tetapi, para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang bermain video games masih lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang hanya menonton televisi tanpa melakukan aktivitas fisik apapun. Terdapat 2 buah penelitian baru yang mengamati apa sebenarnya hubungan antara keadaan kesehatan anak secara keseluruhan, indeks massa tubuh anak, dan penggunaan media elektronik. Pada penelitian pertama, para peneliti mengamati sekitar 3.604 orang anak yang berusia antara 2-6 tahun di 8 negara Eropa. Walaupun hasilnya berbeda di antara anak laki-laki dan perempuan, para peneliti menemukan bahwa peningkatan penggunaan media elektronik dapat mempengaruhi keadaan anak secara keseluruhan seperti memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah, lebih jarang berinteraksi dengan anggota keluarga lain, dan kemampuan bersosialisasi yang lebih rendah. Para peneliti menemukan bahwa anak yang menonton televisi setiap harinya memiliki hasil yang lebih buruk dibandingkan dengan anak yang bermain video games atau bermain komputer setiap harinya. Penelitian kedua meneliti mengenai hubungan antara berapa lama seorang anak menonton dengan berat badan anak. Para peneliti kemudian mengamati bagaimana pola menonton dari 112 orang ibu, 103 orang ayah, dan apa efeknya pada 213 orang anak yang berusia 5, 7, dan 9 tahun. Para peneliti kemudian menemukan bahwa semakin lama waktu yang dihabiskan anak menonton televisi, maka semakin tinggi indeks massa tubuh mereka. Indeks massa tubuh merupakan salah satu cara untuk mengukur berapa massa lemak tubuh. Hal menarik yang ditemukan oleh para peneliti adalah bila sang ibu membatasi berapa lama waktu yang dihabiskan anak untuk menonton televisi atau bermain komputer, maka anak pun memiliki indeks massa tubuh yang lebih baik saat berusia 7 tahun. Akan tetapi, para peneliti tidak menemukan adanya efek ini bila sang ayah yang melakukan intervensi. Pada berbagai penelitian sebelumnya, para peneliti menemukan bahwa adanya televisi di dalam kamar anak ternyata tidak hanya mempengaruhi anak, tetapi juga orang tua. Para peneliti menemukan bahwa dengan adanya televisi di dalam kamar anak, maka hal ini dapat mempengaruhi keadaan kesehatan anak secara keseluruhan, membuat anak memiliki aktivitas fisik yang rendah, lebih banyak mengemil, kurang tidur, dan membuat anak menjadi lebih gemuk. Akan tetapi, keadaan ini ternyata juga dapat membuat orang tua sang anak juga menjadi lebih gemuk. Sebuah penelitian lainnya menemukan bahwa anak yang menderita autisme, yang memang memiliki sifat anti sosial, menghabiskan lebih banyak waktu yaitu hingga 62% untuk menonton televisi dan bermain video games dibandingkan dengan saudaranya yang tidak menderita autisme. Anak autis juga lebih jarang menghabiskan waktu untuk bermain suatu permainan bersama anak-anak lain.   Sumber: healthline