Your browser does not support JavaScript!
 03 Dec 2018    11:00 WIB
Mengenal Arti Macam-Macam Tanda Lahir (Birthmark)
Tanda lahir atau birthmark merupakan ruam berwarna yang muncul di permukaan atau dibawah permukaan kulit yang terlihat saat lahir atau berkembang sesaat setelah lahir. Beberapa tanda lahir dapat memudar seiring dengan waktu, sementara yang lain justru akan terlihat semakin jelas. Tanda lahir biasanya disebabkan oleh sel pigmentasi yang berlebihan di kulit atau pembuluh darah yang tumbuh tidak normal. Pada kasus yang langka, tanda lahir ini dapat menimbulkan komplikasi yang berhubungan dengan kondisi lain. Semua tanda lahir harus di periksa oleh dokter. Bercak-bercak berwarna salmon (Salmon patches) Bercak salmon ini terbentuk karena kelainan pembuluh darah yang terlihat sebagai tanda berwarna pink kecil-kecil di permukaan kulit. Bercak salmon ini biasanya muncul di bagian belakang leher, diantara mata, di kening, hidung, bibir atas atau kelopak mata. Pada beberapa bayi tanda ini bisa menghilangm tetapi tanda yang muncuk di leher biasanya tidak hilang. Tanda lahir ini tidak memerlukan terapi apapun. Port wine stain Port wine stain biasanya dimulai dengan tanda lahir yang datar berwarna merah muda yang datar dan kemudian semakin lama akan berubah menjadi merah keunguan seiring bertambahnya usia. Portwine stain disebabkan karena pelebaran dinding pembuluh darah dan terjadi tiga dari 1.000 bayi. Port wine stain yang muncul dikelopak mata mungkin dapat meningkatkan resiko glaukoma. Terapi yang bisa dilakukan misalnya terapi laser, skin graft dan ditutup makeup. Mongolian spot Mongolian spot biasanya rata dan halus. Tanda ini bianya muncul di bokong, punggung bawah dan biasanya berwarna kebiruan. Terkadang tanda ini sering disangka sebagai memar. Mongolian spot ini lebih sering terjadi pada bayi berkulit gelap dan biasanya menghilang pada usia sekolah. Tanda lahir ini tidak memerlukan terapi apapun Spot cafe au lait tanda dari cafe au lait ini biasanya halus dan berbentu oval dengan warna berkisar dari coklat muda sampai coklat. Tanda ini biasanya ditemukan di punggung, bokong dan kaki. Biasanya tanda ini tidak berbahaya, tetapi jika muncul beberapa Anda harus mengkonsultasikannya dengan dokter. Strawberry hemangioma hemangioma merupakan kumpulan dari pembuluh darah kecil dan tertutuo. Strawberry hemangioma sering terjadi pada permukaan kulit di daerah wajah, kulit kepala, punggung atau dada. Hemangioma ini berwarna merah atau ungu dengan batasan yang jelas. Tanda ini terjadi pada dua orang setiap 100 kelahiran. Strawberry hemangioma biasanya membesar pada beberapa minggu setelah kelahiran dan akan menghilang sekitar usia 9 tahun. Tidak dibutuhkan terapi untuk tanda lahir ini, tetapi jika muncul didaerah mata atau ulut mungkin dapat berdarah dan menimbulkan infeksi sehingga harus segera ditangani dengan baik. Hemangioma kavernosa tanda ini biasanya muncul pada kelahiran sebagai masa berbentuk spons berwarna kebiruan dan terisi oleh darah. Tanda ini biasanya muncul di kepala atau leher. Hemangioma kavernosa biasanya akan menghilang di usia puber. Tahi lalat kongenital ( congenital nevi) congenital nevi merupakan tahi lalat yang terlihat saat lahir. Permuakaan tahi lalat tersebut bisa rata, menimbul atau terlihat seperti benjolan. Tahi lalat ini bisa muncul dimana saja di seluruh tubuh dan berukuran antara satu inchi sampai delapan inchi. Kebanyakan tahi lalat tidak berbahaya, tetapi congenital nevi terutama yang berukuran besar dapat berpotensi tumbuh menjadi melanoma, yaitu kanker kulit yang mematikan. Semua jenis tahi lalat harus diperhatikan apabila terjadi perubahan yang mencurigakan.   Sumber: webmd
 28 Oct 2017    18:00 WIB
Eksim Dapat Menurunkan Resiko Terjadinya Kanker Kulit
Eksim merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi dan menyerang 30% orang di Amerika. Gejala mencakup kulit yang kering, gatal dan munculnya ruam. Tetapi menurut penelitian terbaru ternyata eksim tidak berpengaruh terlalu buruk karena eksim dapat menurunkan resiko terjadinya kanker kulit.Studi yang dipublikasikan dijurnal eLife ini menyimpulkan bahwa eksim atau yang dikenal dengan terjadinya dermatitis atopik dapat mengaktifkan suatu respon imunitas yang berpotensial dapat mencegah timbulnya sel kanker dan tumor. Menurut tim peneliti, terjadinya eksim dapat menurunkan resiko terjadinya kanker. Tetapi mereka mencatat bahwa studi ini sulit dibuktikan dengan manusia karena pengobatan eksim dapat mempengaruhi resiko kanker. Lebih jauh lagi, gejala dan kondisi beratnya penyakit dapat berbeda pada tiap-tiap individu.Eksim dapat menurunkan pembentukan tumor pada tikus percobaan Untuk penelitian ini, tim peneliti menggunakan tikus yang sudah dimodifikasi secara genetik untuk mengalami eksim seperti yang dialami oleh manusia. Para peneliti melakukan hal tersebut dengan mengubah struktur protein yang ada diluar kulit tikus yang menyebabkan tikus tersebut memiliki berrier kulit yang abnormal. Para peneliti kemudian menguji dua jenis kanker menggunakan bahan kimia pada tikus yang sudah diubah secara genetik itu. Tes tersebut juga dilakukan dengan tikus normal.Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa walaupun kedua jenis tikus ini memiliki kemungkinan mutasi yang sama karena disebabkan oleh bahan kimia tersebut, tetapi tikus yang sudah mengalami perubahan genetik memiliki respon inflamasi yang menyebabkan sel kanker potensial tidak berkembang di kulit. Kanker kulit merupakan penyebab kanker nomor enam terbanyak di Amerika dan menyerang dua juta orang setiap tahunnya. Menurut the American Academy of Dermatology, angka kejadian dari melanoma kanker (bentuk kanker paling awal sebelum menyebar ke seluruh tubuh) terus meningkat selama 30 tahun belakangan ini. Kini sebanyak satu dari limapuluh orang di Amerika memiliki resiko terkena kanker.Sumber: medicaltoday
 28 Jan 2017    12:00 WIB
Berbagai Gangguan Kulit Pada Kulit Hitam
Kulit memiliki warna yang beragam, mulai dari putih gading sampai pada coklat gelap. Berbagai gangguan pada kulit dapat terjadi pada setiap warna kulit, tanpa kecuali. Akan tetapi, terdapat beberapa gangguan kulit yang tampaknya lebih sering terjadi dan lebih berat pada kulit gelap.   Apa yang Dimaksud Dengan Kulit Gelap ? Warna pada kulit ditentukan oleh sebuah sel, melanosit, yaitu suatu sel yang memproduksi melanosom, yang mengandung melanin. Berdasarkan penelitian, semua orang memiliki jumlah melanosit yang sama pada jaringan kulitnya, tidak tergantung pada warna kulit orang tersebut. Yang berbeda adalah ukuran dan distribusi melanosom. Semakin banyak jumlah dan semakin besar ukuran melanosom, maka kulit akan semakin gelap. Melanin yang terdapat pada jaringan kulit berfungsi untuk menyerap dan menghancurkan energy yang berasal dari sinar ultraviolet. Dengan demikian, kulit gelap memiliki resiko kerusakan kulit akibat sinar matahari yang lebih rendah, termasuk resiko kanker kulit dan penuaan. Akan tetapi, kulit gelap cenderung lebih mudah mengalami gangguan pigmentasi kulit, bahkan luka yang sangat kecil seperti gigitan serangga dapat menyebabkan perubahan pada pigmen kulit dan menyebabkan terbentuknya bintik hitam atau hiperpigmentasi pada kulit. Selain itu, bila berbagai pengobatan kecantikan seperti laser, dermabrasi, atau penyuntikan obat anti penuaan tidak dilakukan dengan benar, maka hal ini justru dapat menyebabkan ganguan pigmentasi pada kulit.   Perubahan Pigmentasi Pada Kulit Gelap Hiperpigmentasi dapat disebabkan oleh kulit terlalu banyak memproduksi pigmen atau pigmen tersimpan di lapisan kulit yang sangat dalam dan menyebabkan timbulnya noda hitam. Hipopigmentasi merupakan suatu bercak yang berwarna lebih putih daripada jaringan sekitarnya pada kulit. Semua orang dengan kulit gelap beresiko untuk mengalami baik hiperpigmentasi maupun hipopigmentasi. Salah satu gangguan pigmentasi yang paling sering ditemukan pada kulit gelap adalah hiperpigmentasi paska inflamasi. Hal ini biasa terjadi akibat cedera kulit seperti luka lecet maupun luka bakar. Selain itu, hiperpigmentasi ini juga dapat terjadi akibat eksim atau jerawat. Noda hitam pada kulit membutuhkan waktu beberapa bulan sampai beberapa tahun untuk memudar. Pengobatan dapat membantu mempersingkat masa penyembuhan ini. Akan tetapi, pengobatan yang bekerja dengan cara mengelupas lapisan kulit atau memutihkan kulit tidak akan berguna bila pigmen terletak pada lapisan kulit yang sangat dalam. Penggunaan tabir surya setiap hari juga dapat mencegah noda hitam yang telah terbentuk menjadi semakin hitam. Orang dengan kulit sensitif memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan pigmentasi kulit (noda hitam). Bahkan, setiap produk kecantikan dan perawatan kulit yang menyebabkan iritasi atau membuat kulit kering juga meningkatkan resiko pembentukan noda hitam. Produk-produk tersebut adalah produk yang mengandung benzoil peroksida, asam salisilat, zat anti penuaan (retinoid dan asam glikolik). Pada beberapa orang, hidrokuinon juga dapat mengiritasi kulit. Pada orang dengan kulit putih, iritasi yang disebabkan berbagai produk kecantikan dan perawatan kulit ini dapat mereda begitu penggunaannya dihentikan. Akan tetapi, pada orang dengan kulit gelap, iritasi seringkali berlanjut menjadi hiperpigmentasi paska inflamasi. Hiperpigmentasi ini dapat terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah penggunaan dihentikan dan dapat bertahan selama beberapa bulan atau bahkan lebih lama lagi. Penggunaan berbagai produk pemutih dan penghilang noda hitam dapat membantu mengatasi noda hitam pada kulit anda bila digunakan dengan cara yang tepat.   Eksim Eksim atau dermatitis merupakan suatu keadaan di mana terbentuk bercak kemerahan yang gatal pada kulit, yang terjadi hilang timbul dan berlangsung lebih lama. Eksim dapat dipicu oleh stress, perubahan suhu yang ekstrim, kulit kering, alergen yang berasal dari tanaman, atau iritasi akibat produk kecantikan. Eksim diduga 2 kali lebih sering terjadi pada anak dengan kulit gelap.   Jerawat Jerawat dapat terjadi pada semua jenis kulit. Jerawat terjadi ketika kulit memproduksi minyak secara berlebihan. Minyak ini kemudian bercampur dengan bakteri yang terdapat di dalam pori-pori dan menyumbat pori-pori kulit tersebut. Hal ini menyebabkan peradangan di bawah kulit, yang kemudian membentuk jerawat. Orang dengan kulit gelap memiliki kecenderungan hiperpigmentasi yang menyebabkan terbentuknya noda hitam akibat luka pada kulit, jerawat merupakan salah satunya. Selain itu, antibiotika (minoksiklin) yang digunakan untuk mengobati jerawat juga dapat menyebabkan pembentukan noda hitam.   Keloid Setiap kali kulit gelap terluka, maka resiko pembentukan keloid pun meningkat. Penyebab keloid yang paling sering adalah luka lecet atau luka bakar. Tempat keloid sering ditemukan adalah pada cuping telinga, dada, punggung, dan tangan. Keloid biasanya segera tumbuh setelah suatu cedera, akan tetapi keloid juga dapat tumbuh dalam beberapa bulan atau tahun dan terus membesar seiring dengan berlalunya waktu. Pada beberapa orang, keloid dapat menyebabkan timbulnya rasa gatal, nyeri, dan rasa seperti terbakar. Penyebab pasti kolagen masih tidak diketahui, diduga akibat kecacatan dalam pembentukan kolagen.   Vitiligo Vitiligo merupakan suatu keadaan di mana kulit kehilangan pigmennya, yang menyebabkan timbulnya bercak berwarna putih pada kulit. Vitiligo diduga terjadi akibat kerusakan sel pembentuk melanin, di mana penyebab kerusakan sel ini tidak diketahui. Bila vitiligo mengenai kulit kepala, maka rambut akan berubah menjadi putih. Vitiligo lebih mudah terlihat pada orang dengan kulit gelap.   Melanoma Kulit gelap memang memiliki perlindungan yang lebih tinggi terhadap kanker daripada kulit putih, akan tetapi bukan berarti kanker kulit tidak dapat terjadi. Kanker kulit biasanya terjadi pada kulit yang berwarna lebih putih, seperti pada telapak tangan, telapak kaki, dan di sekitar bantalan kuku. Baca juga: Penyebab Kulit Selangkangan Menjadi Hitam Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang. Sumber: webmd
 08 Nov 2016    08:00 WIB
Luka Bakar Akibat Sinar Matahari Dapat Tingkatkan Resiko Terjadinya Kanker Kulit
Seringnya terpapar oleh sinar matahari telah banyak diketahui dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kulit dan melanoma merupakan yang paling jarang. Akan tetapi, sebuah penelitian baru menemukan bahwa seringnya terpapar sinar matahari sejak usia dini dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kulit ganas, seperti melanoma.  Para peneliti menemukan bahwa wanita yang mengalami luka bakar akibat sinar matahari sebanyak 5 kali atau lebih sebelum berusia 20 tahun memiliki resiko melanoma yang lebih tinggi, yaitu hingga 80% dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami luka bakar akibat sinar matahari sejak muda ini. Penelitian ini berlangsung selama 20 tahun. Pada penelitian ini para peneliti mengamati sekitar 109.000 wanita Kaukasia yang berusia antara 25-42 tahun yang tinggal pada berbagai tempat berbeda di Amerika. Para peneliti kemudian memeriksa beberapa faktor resiko yang berhubungan dengan terjadinya kanker kulit seperti paparan sinar matahari dalam waktu lama pada usia dewasa dan ada tidaknya paparan sinar matahari di usia dini. Para peserta penelitian diminta untuk memberikan berbagai informasi mengenai keadaan kesehatan mereka dan berbagai faktor resiko kanker kulit lainnya sesperti  jumlah tahi lalat pada kaki, berapa kali mereka pernah mengalami luka bakar akibat sinar matahari, dan apakah mereka pernah melakukan tanning. Karena banyak orang mungkin tidak dapat mengingat dengan pasti jumlah paparan sinar matahari yang mereka alami, para peneliti juga menghitung jumlah paparan radiasi sinar UV selama penelitian berlangsung berdasarkan pada berapa lama mereka telah tinggal di suatu daerah tertentu dan perubahan sudut sinar matahari berdasarkan ketinggian tempat tinggal mereka. Pada akhir masa penelitian, hampir sekitar 7.000 peserta penelitian terdiagnosa menderita jenis kanker kulit yang paling sering yaitu karsinoma sel basal dan sekitar 900 peserta menderita jenis kanker kulit lainnya yaitu karsinoma sel skuamosa. Sekitar 800 peserta menderita jenis kanker kulit terparah yaitu melanoma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok wanita yang memiliki paparan sinar matahari terbanyak selama masa penelitian setelah mereka dewasa mengalami peningkatan resiko terjadinya kanker kulit jenis karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa sebanyak 2 kali lipat dibandingkan dengan kelompok wanita yang paling jarang terpapar oleh sinar matahari. Akan tetapi, para peneliti tidak menemukan adanya hubungan antara paparan sinar UV matahari di usia dewasa dengan resiko terjadinya melanoma. Para peneliti justru menemukan bahwa resiko melanoma meningkat pada orang yang sering terpapar oleh sinar matahari sejak usia dini. Terlepas dari di mana mereka tinggal, para peserta yang mengalami setidaknya 5 luka bakar akibat sinar matahari saat berusia antara 15-20 tahun memiliki resiko melanoma yang lebih tinggi yaitu sebanyak 80% dan 68% untuk karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa.  Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa para wanita yang memiliki rambut berwarna merah dan memiliki kulit yang sensitif terhadap paparan sinar matahari sejak anak-anak memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami berbagai jenis kanker kulit. Adanya anggota keluarga yang menderita melanoma dan jumlah tahi lalat pada kaki juga memiliki hubungan yang kuat dengan resiko terjadinya melanoma.   Sumber: foxnews
 19 Aug 2016    18:00 WIB
Sering Berpergian Dengan Pesawat Terbang? Hati-hati Kanker Kulit!
Berjemur di bawah sinar matahari dan memiliki kulit yang terlalu pucat memang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kulit, melanoma. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa ada hal lainnya yang juga dapat meningkatkan resiko terjadinya melanoma, yaitu sering berpergian dengan pesawat terbang. Berdasarkan data dari 19 penelitian sebelumnya, para peneliti menemukan bahwa para awak pesawat terbang seperti pilot dan pramugara/i memiliki resiko 2 kali lebih tinggi untuk menderita melanoma dibandingkan dengan pekerja lainnya.  Pada penelitian ini, para peneliti mengamati berapa banyak awak pesawat yang mengalami melanoma dan berapa angka kematian yang terjadi di antara 266.000 awak pesawat tersebut di antara tahun 1990-2013.  Para peneliti menemukan bahwa selain para awak pesawat memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita melanoma (2 kali lipat dibandingkan dengan orang dewasa lainnya), para pilot ternyata memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami kematian akibat melanoma, yaitu sekitar 83% lebih tinggi dibandingkan dengan orang lainnya. Para peneliti menduga hal ini mungkin diakibatkan oleh tingginya paparan radiasi sinar UV pada awak pesawat. Pada ketinggian tertentu, yaitu pada ketinggian di mana pesawat komersial biasanya berada, kadar sinar UV ternyata lebih banyak 2 kali lipat dibandingkan dengan kadarnya di atas permukaan tanah. Kadar ini bahkan lebih tinggi lagi (85% lebih tinggi) bila pesawat terbang melintasi awan tebal atau salju.  Terdapat 2 macam sinar UV, yaitu UVA dan UVB. Radiasi sinar UVA dan UVB dapat memicu terjadinya berbagai perubahan pada DNA yang terdapat di kulit, yang dapat menyebabkan terjadinya melanoma. Kaca depan kokpit pesawat tempat pilot berada sebenarnya telah dapat menghalangi radiasi sinar UVB, akan tetapi tidak demikian dengan radiasi sinar UVA, di mana radiasi sinar UVA ini dapat menembus kaca pesawat. Jadi, bila Anda bukan seorang pilot tetapi sering berpergian dengan menggunakan pesawat terbang, apakah resiko melanoma Anda juga meningkat? Walaupun penelitian ini tidak dapat memberikan kepastian mengenai hal ini, akan tetapi para peneliti menyatakan bahwa resiko melanoma memang lebih tinggi pada orang yang sering berpergian dengan menggunakan pesawat terbang. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menentukan kebenaran hal ini, akan tetapi tetap lebih baik bila Anda menggunakan tabir surya saat akan berpergian dengan menggunakan pesawat terbang, terutama bila Anda berada cukup lama di dalamnya. Baca juga: Gejala Tidak Terduga dari Kanker Kulit Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: womenshealthmag
 10 Nov 2014    11:00 WIB
Efek Samping Menakutkan dari Viagra
Sebagian besar orang, terutama kaum pria tentunya sudah mengetahui apa itu Viagra atau yang biasa dikenal dengan nama obat kuat. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa mengkonsumsi obat yang dapat membantu ereksi ini juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kulit paling mematikan alias melanoma? Pada sebuah penelitian baru yang mengamati lebih dari 25.000 orang pria selama lebih dari 10 tahun, para peneliti menemukan bahwa para pria yang mengkonsumsi sildenafil (Viagra) dalam waktu 3 bulan sebelum penelitian dimulai memiliki resiko lebih tinggi (hingga 84%) untuk menderita melanoma. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa para pria yang menggunakan obat ini sebelum penelitian dimulai juga lebih beresiko (hingga 92%) untuk menderita berbagai jenis kanker lainnya dibandingkan dengan para pria lainnya yang tidak pernah menggunakan obat ini. Para peneliti mengatakan bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apa sebenarnya penyebab dari peningkatan resiko terjadinya kanker pada para pengguna Viagra ini. Akan tetapi, para peneliti menduga hal ini mungkin dikarenakan Viagra menekan kerja enzim PDE5A, yang bertujuan untuk membantu mempertahankan ereksi, yang ternyata juga menyebabkan terjadinya mutasi, yang banyak ditemukan pada para penderita melanoma. Sebelum memutuskan untuk menghentikan penggunaan Viagra Anda, para peneliti memberitahukan bahwa penelitian ini tidak menemukan adanya hubungan sebab akibat antara penggunaan Viagra dan terjadinya melanoma. Selain itu, para peneliti juga mengatakan bahwa terjadinya melanoma pada para pria pengguna Viagra terbilang cukup kecil, yaitu hanya 14 orang pria di antara 1.378 orang pria. Para peneliti mengatakan masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah dosis dan frekuensi penggunaan obat ini juga berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya melanoma.   Sumber: menshealth