Your browser does not support JavaScript!
 26 Nov 2014    11:00 WIB
Hilangnya Kromosom Y Sebabkan Umur Seorang Pria Menjadi Lebih Pendek, Benarkah?
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa seorang pria lanjut usia yang tidak lagi memiliki kromosom Y di dalam sel-sel darahnya memiliki resiko untuk mengalami kematian dini dan kematian akibat kanker. Hilangnya kromosom Y di dalam sel-sel darah merupakan hal yang sering ditemukan di antara pria karena proses penuaan dan merupakan salah satu penyebab mengapa pria cenderung meninggal di usia muda dan memiliki resiko terkena kanker yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita, yang memang tidak memiliki kromosom Y. Pada penelitian ini, para peneliti memeriksa contoh darah lebih dari 1.150 orang pria, yang berusia antara 70-84 tahun, yang telah diamati selama 40 tahun. Para peneliti menemukan bahwa pria yang mengalami kehilangan kromosom Y yang cukup signifikan di dalam sel-sel darahnya biasanya meninggal 5.5 tahun lebih cepat dibandingkan dengan pria lainnya yang masih memiliki kromosom Y ini. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa pria yang mengalami kehilangan kromosom Y yang cukup signifikan di dalam sel-sel darahnya juga memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami kematian akibat kanker. Banyak orang mengira bahwa kromosom Y hanya terdiri dari berbagai jenis gen yang berhubungan dengan penentuan jenis kelamin dan produksi sperma. Akan tetapi, pada kenyataannya, berbagai gen ini juga memiliki berbagai fungsi penting lainnya yaitu kemungkinan turut berperan dalam mencegah pertumbuhan kanker. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemeriksaan darah untuk memeriksa ada tidaknya kromosom Y pada pria dapat menjadi salah satu cara baru untuk mendeteksi adanya resiko kanker sejak dini pada seorang pria. Hilangnya kromosom Y dalam jumlah kecil di dalam sel-sel darah sebenarnya tidak berbahaya bagi kesehatan seorang pria, akan tetapi bila jumlah kromosom Y yang hilang cukup banyak, maka resiko terjadinya kanker pun akan semakin meningkat. Saat ini para peneliti masih melakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari tahu apakah gaya hidup dan gangguan kesehatan tertentu dapat mempengaruhi seberapa banyak jumlah kromosom Y yang hilang.   Sumber: newsmaxhealth