Your browser does not support JavaScript!
 19 Sep 2019    11:00 WIB
9 Fakta Tentang Eksim yang Perlu Diketahui
Eksim sejak lama diketahui sebagai salah satu penyakit kulit yang menyerang anak-anak. Padahal hal ini tidak sepenuhnya benar, karena eksim juga dapat menyerang orang dewasa dan mereka yang terkena eksim sejak kecil juga akan tetap terkena eksim saat mereka dewasa. Eksim juga dikenal sebagai dermatitis atopi dengan gejala-gejala munculnya inflamasi dan ruam di kulit. Kulit dapat menjadi sangat gatal dan saat Anda menggaruknya akan menimbulkan resiko infeksi. Pada beberapa tingkat kronis, kulit dapat menjadi sangat kasar. Baik pada anak-anak atau orang dewasa, eksim bisa menimbulkan kesulitan tersendiri. Berikut adalah fakta-fakta yang Anda harus ketahui mengenai eksim. 1.  Menyerang hampir 17% dari populasi penduduk duniaDermatitis atopi merupakan penyakit yang menyerang hampir 17% penduduk dunia. Hampir 40%-60% merupakan anak-anak yang akan membawa penyakit ini sampai mereka dewasa. 2.  Belum ada pengobatan untuk eksimWalaupun banyak penelitian untuk eksim, tetapi saat ini belum ada pengobatan untuk eksim. Saat membaik eksim akan meninggkan bekas kulit yang kemerahan. 3.  Alergi sering dikaitkan dengan eksim karena riwayat keluargaJika Anda mempunyai riwayat penyakit eksim, maka hampir pasti Anda juga menderita asma dan hay fever. Kemungkinan besar juga keluarga Anda yang lain memiliki alergi yang sama. 4.  Orang dewasa sering terkena eksim tanganPada banyak kasus tangan eksim ditangan ditandai dengan gatal-gatal, kulit bersisik dan terus menerus mengelupas. Jika kondisi ini memburuk, tangan Anda dapat membengkak, pecah-pecah dan terasa sangat sakit. 5.  Jenis pekerjaan dapat memperburuk kondisi eksimJika jenis pekerjaan Anda melibatkan tangan yang basah dalam jangka waktu yang lama, maka akan memperburuk eksim Anda. 6.  Eksim dapat dipengaruhi faktor lingkunganLingkungan yang mempengaruhi eksim misalnya udara yang kering, sirkulasi udara yang buruk, cuaca dingin, stess emosioanl, pakaian berbahan wool, detergen yang keras, parfum losion atau sabun, keringat. 7.  Alergi makanan dan intolerasi juga memperburuk eksimMakanan dari susu, gandum, dan kacang kedelai selain menyebabkan alergi juga dapat memperburuk eksim yang sudah ada. Disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mencari penyebab alergi dan apa yang dapat memperburuk eksim. 8.  Beberapa perubahan gaya hidup dapat membantu mengurangi gejalaMandilah dengan air dingin dibandingkan air hangat. Hindari membiarkan kulit yang kering dan jangan gunakan hair dryer. Turunkan tingkat stress Anda juga akan sangat membantu mengurangi tingkat keparahan eksim. 9.  Obat-obatan akan sangat membantuAntibiotik, kortikosteroid dan antihistamin merupakan jenis obat yang banyak dipergunakan untuk mengurangi gejala eksim pengobatan topikal yang disebut calcinuerin inhibitor juga dapat mengurangi inflamasi kulit.Sumber: magforwomen
 23 Apr 2019    16:00 WIB
Jenis Terapi Bagi Penderita Eksim
Eksim atau dermatitis merupakan suatu reaksi alergi yang terjadi pada kulit. Kelainan ini dapat terjadi pada siapa saja dan biasanya diturunkan. Pengobatan eksim bertujuan untuk mengurangi rasa gatal, mencegah kekambuhan, dan mencegah terjadinya infeksi. Pengobatan yang dilakukan tergantung pada umur, riwayat penyakit, dan keparahan penyakit. Terapi kombinasi merupakan pilihan pengobatan yang sering dilakukan. Hal lainnya yang juga dapat dilakukan adalah menghindari pemicu kambuhnya eksim. Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap berbagai langkah pengobatan yang ada. Mencari jenis pengobatan yang sesuai untuk anda merupakan langkah awal yang penting dalam pengobatan anda.   OBAT-OBATAN Kortikosteroid Topikal Berbagai jenis kortikosteroid topikal dapat digunakan untuk mengurangi rasa gatal dan inflamasi pada kulit. Penggunaan kortikosteroid ringan atau yang lebih kuat tergantung pada lokasi dan tingkat keparahan eksim yang terjadi. Pemilihan kortikosteroid yang tepat dapat mencegah terjadinya berbagai efek samping yang tidak diinginkan seperti penipisan kulit atau terbentuknya stretch mark pada kulit.   Pelembab Pelembab berfungsi untuk mempertahankan kadar air di dalam kulit, memperbaiki kulit yang rusak, dan mengurangi rasa gatal, kemerahan, dan kulit kering. Perlu diperhatikan komposisi dari pelembab yang anda gunakan, karena mungkin mengandung beberapa hal yang justru dapat mengiritasi kulit anda.   Immunomodulator Topikal Untuk pengobatan eksim sedang sampai berat dapat digunakan suatu immunomodulator topikal, seperti pimecrolimus dan tacrolimus. Obat ini bekerja dengan cara mengurangi inflamasi. Akan tetapi, penggunaan obat ini dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kulit dan limfoma non Hodgkin.   Kortikosteroid Sistemik Obat ini biasanya digunakan pada eksim berat atau yang sulit diobati. Akan tetapi, akibat efek sampingnya yang berat, seperti kerusakan kulit dan penurunan massa tulang, maka kortikosteroid sistemik biasanya hanya digunakan dalam jangka waktu singkat.   Immunosupresan Yang termasuk obat immunosupresan adalah siklosporin, methotrexate, dan mofetil mikofenolat. Obat-obat ini berfungsi untuk menekan reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan. Immunosupresan digunakan untuk penanganan eksim sedang sampai berat yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan lainnya. Efek samping obat ini adalah tekanan darah tinggi dan gangguan ginjal. Untuk mengurangi resiko terjadinya efek samping tersebut, maka obat ini hanya diberikan dalam jangka waktu singkat.   Antibiotika Eksim menyebabkan rasa gatal pada kulit. Menggaruk dapat merusak lapisan kulit dan membuat bakteri dapat masuk dan menyebabkan infeksi. Antibiotika biasanya digunakan untuk mengobati infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri.   Antihistamin Biasanya digunakan pada waktu malam hari sebelum tidur untuk mengurangi rasa gatal. Selain itu, efek sedasinya dapat membuat anda mengantuk dan tidur lebih nyenyak.   FOTOTERAPI Sinar ultraviolet dapat membantu mengobati eksim sedang hingga berat. Sinar ultraviolet dapat membantu menekan reaksi sistem imun yang berlebihan. Efek samping yang dapat terjadi akibat paparan sinar ultraviolet jangka panjang adalah penuaan kulit dini dan kanker kulit.   Terapi Sinar Ultraviolet (UV) Pada terapi ini, penderita diberikan paparan sinar UVA atau UVB atau keduanya. Terapi biasanya diberikan selama 2-5 kali seminggu, tergantung pada jenis terapi yang digunakan.   Terapi PUVA Pada jenis terapi ini, penderita diberikan psoralen, suatu obat yang dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar UVA. Terapi ini biasanya diberikan pada penderita yang tidak berespon terhadap terapi sinar ultraviolet saja.   Sumber: webmd
 20 Feb 2019    18:00 WIB
Kenali Gejala Luka Pada Usus Besar Sejak Dini
Luka pada usus besar atau dalam istilah kedokteran disebut dengan kolitis ulserativa dapat terjadi pada siapa saja, termasuk anak remaja. Kolitis ulserativa merupakan suatu keadaan di mana terjadi peradangan saluran cerna, yaitu pada usus besar dan rektum (bagian usus yang berhubungan dengan anus).GejalaGejala kolitis ulserativa yang dapat ditemukan adalah:•  Diare atau adanya keinginan mendesak untuk buang air besar. Beberapa penderita mungkin dapat mengalami diare hingga 10-20 kali setiap harinya. Keinginan mendesak untuk buang air besar seringkali membuat anda terbangun di malam hari•  Keluarnya darah dari anus. Kolitis ulserativa biasanya menyebabkan terjadinya diare yang disertai dengan darah dan lendir. •  Nyeri perut atau kram perut. Perut anda dapat terasa nyeri saat disentuh•  Sembelit (lebih jarang). Terjadinya gejala ini tergantung pada bagian usus besar mana yang terkena•  Hilangnya nafsu makan•  Demam (pada keadaan berat)•  Anemia karena penurunan kadar zat besi akibat seringnya darah keluar melalui anus bersamaan dengan tinja karena terjadinya peradangan pada usus Berbagai gangguan kesehatan lain yang memiliki gejala yang mirip dengan kolitis ulserativa adalah penyakit Crohn, divertikulitis, irritable bowel syndrome, dan kanker usus besar.PengobatanPengobatan yang diberikan pada penderita kolitis ulserativa bertujuan untuk mengurangi gejala, mempercepat proses penyembuhan jaringan, mencegah terjadinya kekambuhan, dan mencegah perlu dilakukannya tindakan pembedahan. Obat-obatan yang digunakan tergantung pada seberapa berat keadaan penderita, bagian usus besar yang terkena, dan komplikasi apa yang telah terjadi. Untuk mengatasi kolitis ulserativa ringan hingga sedang, dokter biasanya akan memberikan obat aminosalisilat, yang dapat meredakan peradangan pada usus dan membantu proses penyembuhan serta mencegah kekambuhan. Bila gejala terus berlangsung, maka dokter mungkin akan memberikan obat golongan steroid untuk membantu meredakan peradangan pada usus. Untuk kolitis ulserativa berat, maka dibutuhkan pengobatan yang lebih intensif (dapat berupa pengobatan tunggal maupun kombinasi). Beberapa obat yang sering digunakan adalah:•  Obat-obatan yang berfungsi untuk menekan sistem kekebalan tubuh•  Siklosporin•  Kortikosteroid intravena (disuntikkan) Jika anda sedang hamil atau berencana untuk hamil atau sedang menyusui, maka jangan lupa untuk memberitahukan pada dokter anda sehingga dokter dapat menyesuaikan pengobatan anda. Kadangkala, kolitis ulserativa berat dapat membahayakan bayi anda, bahkan lebih berbahaya daripada obat-obatan yang anda konsumsi untuk meredakan gejala kolitis ulserativa. Sumber: webmd
 18 May 2018    16:00 WIB
9 Penyebab Meningkatnya Kadar Gula Darah
1.      Kafein Kadar gula darah dapat meningkat setelah mengkonsumsi kopi, bahkan kopi hitam yang sama sekali tidak mengandung kalori, karena adanya kafein. Selain itu, teh hitam, teh hijau, minuman energi lainnya juga dapat mengganggu kadar gula darah penderita diabetes. Akan tetapi, setiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda, jadi sebaiknya anda mengenali reaksi tubuh anda terhadap berbagai makanan dan aktivitas. Sebenarnya, berbagai zat lain di dalam kopi dapat membantu mencegah terjadinya diabetes tipe 2 pada orang yang sehat.   2.      Makanan Bebas Gula Banyak makanan yang bertuliskan bebas gula juga dapat meningkatkan kadar gula darah anda karena makanan tersebut masih mengandung berbagai jenis karbohidrat, seperti tepung, lemak, dan serat. Periksalah jumlah karbohidrat pada bungkus makanan anda sebelum mengkonsumsinya. Selain itu anda juga harus mewaspadai gula lainnya seperti sorbitol dan xylitol. Keduanya merupakan pemanis dengan kadar karbohidrat yang lebih rendah daripada gula (sukrosa), tetapi tetap dapat meningkatkan kadar gula darah anda.   3.      Mengkonsumsi "Chinese Food" Berbagai jenis makanan yang mengandung banyak lemak dapat menyebabkan kadar gula darah anda tetap tinggi lebih lama daripada biasanya. Pizza, kentang goreng, chinese food, dan berbagai makanan lain yang mengandung banyak karbohidrat dan lemak juga memiliki efek yang sama. Periksalah kadar gula darah anda sekitar 2 jam setelah makan untuk mengetahui bagaimana makanan tersebut mempengaruhi kadar gula darah anda.   4.      Menderita Flu Berat Kadar gula darah anda akan meningkat saat tubuh anda berusaha untuk melawan berbagai infeksi. Konsumsilah cukup air putih dan berbagai jenis cairan lainnya untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Segera hubungi dokter anda bila anda mengalami diare atau muntah selama lebih dari 2 jama atau bila anda telah sakit selama 2 hari dan tidak membaik. Berbagai jenis obat-obatan seperti antibiotika dan dekongestan untuk mengatasi sinusitis (radang sinus) juga dapat mempengaruhi kadar gula darah anda.   5.      Stress Rasa stress, tidak bahagia, dan lelah juga dapat mempengaruhi kadar gula darah anda. Saat stress, tubuh anda akan melepaskan hormon yang dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Hal ini lebih sering terjadi pada penderita diabetes tipe 2 dibandingkan dengan penderita diabetes tipe 1. Belajarlah melakukan yoga atau meditasi untu mengurangi rasa stress anda.   6.      Mengkonsumsi Buah Kering Buah-buahan memang baik bagi kesehatan anda, akan tetapi waspadai buah-buahan kering. Buah kering mengandung lebih banyak karbohidrat walaupun dalam porsi kecil. 2 sendok teh kismis atau cranberi kering atau chery kering mengandung karbohidrat yang sama dengan buah kecil. 3 butir kurma mengandung sekitar 15 g karbohidrat.   7.      Menggunakan Obat Golongan Steroid dan Diuretika Obat golongan kortikosteroid seperti prednison dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah dan bahkan dapat memicu terjadinya diabetes pada beberapa orang. Obat golongan steroid sering digunakan untuk mengatasi alergi, radang sendi, asma, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya. Obat golongan diuretika yang digunakan untuk mengatasi tekanan darah tinggi juga dapat meningkatkan kadar gula darah anda bila anda menderita diabetes. Beberapa jenis antidepresan juga dapat meningkatkan atau menurunkan kadar gula darah anda.   8.      Pengunaan Obat Flu Dekongestan yang terdiri dari pseudoefedrin atau fenilefrin dapat meningkatkan kadar gula darah anda. Beberapa jenis obat flu kadang juga mengandung gula atau alkohol.   9.      Penggunaan Pil KB Pil KB yang mengandung estrogen dapat mempengaruhi respon tubuh anda terhadap insulin. Akan tetapi, wanita penderita diabetes tetap dapat menggunakan pil KB. KB suntik dan implan juga dapat digunakan oleh penderita diabetes, walaupun dapat mempengaruhi kadar gula darah anda.   Hal ini bukan berarti anda tidak boleh mengkonsumsi karbohidrat sama sekali, anda hanya perlu membatasi jumlahnya agar tidak terjadi peningkatan kadar gula darah yang terlalu tinggi.   Baca juga: Terapi Magnet Membantu Mengatasi Bekuan Darah Lebih Cepat, Benarkah?   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang     Sumber: medicinenet
 10 May 2017    15:00 WIB
Pengobatan Lupus
Pengobatan lupus berbeda-beda, tergantung beberapa faktor, yang mencakup usia penderita, tipe obat yang dikonsumsi, kondisi kesehatan secara umum, latar belakang kesehatan, lokasi dan berat penyakit yang terjadi. Karena kondisi lupus dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu dan sering kali tidak dapat diprediksi, penting untuk kunjungan yang teratur dengan dokter yang memiliki pengalaman yang baik dan kerjasama dengan dokter lain seperti seorang ahli rheumatology. Penderita lupus denga gejala-gejala yang ringan sedang mungkin tidak memerlukan penanganan khusus, sementara penderita lupus dengan kondisi serius seperti komplikasi ginjal memerlukan pengobatan yang serius. Obat-obat yang sering dipakai pada pengobatan lupus adalah : Steroid Krim steroid dapat diaplikasikan langsung di tempat terjadi rash. Penggunaan krim atau tablet steroid cukup aman untuk rash yang ringan. Steroid tablet atau krim dosis rendah dapat efektif untuk ruam ringan-sedang. Steroid juga dapat diberikan pada dosis yang besar ketika organ-organ dalam terancam oleh gangguan Lupus. Sayangnya steroid dosis tinggi juga memiliki efek samping  yang merugikan. Plaquenil (hydrochloroquine) Biasanya digunakan untuk Lupus dengan masalah yang ringan, seperti kelainan kulit dan sendi. Obat ini juga efektif untuk mencegah terjadinya flare lupus. Cytoxan (cyclophosphamide) Merupakan obat kemoterapi yang mempunyai efek yang kuat untuk menurunkan akitifitas dari system imunitas. Digunakan untuk lupus berat yang memngaruhi ginjal dan otak Imuran (azathioprine) Merupakan obat yang biasanya digunakan untuk mencegah penolakan organ pada ransplantasi organ. Biasanya digunakan pada lupus yang berat Rheumatrex (methotrexate) Juga merupakan obat kemoterapi yang digunakan untuk menekan system imunitas tubuh. Saat ini sangat popular dalam pengobatan penyakit kulit, arthritis dan penyakit lain yang tidak mengancam jiwa tetapi tidak memberi respon baik pada pengobatan lain seperti dengan hydrochloroquine dan prednison Benlysta ( belimumab) Obat ini melemahkan sistem kekebalan tubuh dengan menargetkan protein yang dapat mengurangi sel B yang abnormal yang dianggap berkontribusi menyebabkan lupus. Cellcept (mycophenolate mofetil) Obat ini menekan system imunitas tubuh, juga mencegah penolakan tubuh dalam transplantasi organ. Digunakan pada lupus berat Rituxan Adalah suatu agen biologic yang digukan untuk mengobati lymphoma dan theumatoid arthritis. Digunakan untuk lupus yang berat yang tidak berespon dengan pengobatan lain   Sumber : webmd
 19 Dec 2015    09:00 WIB
Berbagai Pengobatan Rematik Sendi
Kunci utama pengobatan rematik sendi atau artritis reumatoid adalah dengan mengendalikan proses peradangan yang terjadi karena peradangan inilah yang menyebabkan terjadinya nyeri sendi, pembengkakan sendi, dan kekakuan pada sendi. Pengobatan rematik sendi sedini mungkin memiliki peranan yang sangat penting terhadap perkembangan penyakit. Pengobatan artritis reumatoid ini terbagi dalam 2 kelompok, yaitu: Obat-obatan yang mengendalikan penyakit dan membatasi kerusakan sendi yang terjadi, yaitu DMARD (disease modifying anti rheumatic drugs) dan terapi biologis Obat-obatan untuk mengatasi nyeri dan peradangan akan tetapi tidak membatasi kerusakan sendi, yaitu kortikosteroid, NSAID (non steroidal anti inflammatory drugs) dan obat anti nyeri lainnya Tindakan pembedahan untuk mengganti sendi atau berbagai tindakan pembedahan lainnya digunakan untuk mengatasi kerusakan sendi berat. Para ahli biasanya menggunakan DMARD dan terapi biologis sebagai terapi lini pertama pada artritis reumatoid yang disertai dengan pengobatan steroid dan NSAID.   DMARD (Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs) Obat golongan DMARD yang paling sering digunakan adalah hidroksiklorokuin, leflunomide, methotrexate, dan sulfasalazine. Semua pengobatan ini dapat diberikan melalui mulut (pil), akan tetapi methotrexate kadang dapat juga diberikan melalui suntikan. Obat golongan DMARD ini dapat memperlambat atau menghentikan progresivitas (perkembangan) kerusakan sendi. Obat ini mungkin memerlukan waktu 4-6 minggu atau beberapa bulan untuk mulai menunjukkan efeknya dan mungkin memerlukan waktu yang lebih lama lagi untuk mencapai efek maksimalnya. Efek samping berat yang mungkin terjadi adalah infeksi, kerusakan ginjal, atau kerusakan hati. Methotrexate dan leflumomide dapat menyebabkan kelainan kongenital yang berat pada bayi. Berkonsultasilah dengan dokter anda sebelum mengkonsumsi obat-obatan ini, terutama bila anda berencana untuk hamil.   Terapi Biologis Terapi biologis bekerja pada suatu bagian sistem kekebalan tubuh tertentu untuk membantu menghentikan atau mengurangi proses peradangan. Obat-obatan ini dapat mengurangi nyeri sendi dan pembengkakan sendi dengna cepat. Pada pengobatan jangka panjang, terapi biologis telah terbukti dapat memperlambat kerusakan sendi dan memperbaiki pergerakan sendi. Terapi biologis biasanya digunakan untuk mengobati artritis reumatoid sedang hingga berat yang tidak dapat dikendalikan lagi oleh DMARD atau bila tidak adanya respon apapun setelah memperoleh pengobatan DMARD selama 6-8 minggu. Terapi biologis dapat diberikan sebagai terapi tunggal atau dikombinasikan dengan obat golongan DMARS atau obat artritis reumatoid lainnya yang digunakan untuk mengendalikan gejala dan penyakit. Terapi biologis ini dapat diberikan melalui suntikan atau pil (diminum). Terapi biologis ini dapat bekerja melalui menghambat TNF (suatu zat kimia yang dibentuk oleh tubuh dan menyebabkan terjadinya peradangan), atau sel kekebalan tubuh atau berbagai zat kimia lainnya yang juga menyebabkan terjadinya peradangan. Karena terapi biologis ini memperlambat kerja sistem kekebalan tubuh anda, maka terapi ini juga menurunkan kemampuan anda dalam melawan infeksi. Anda mungkin dapat mengalami kekambuhan beberapa penyakit, seperti tuberkulosis. Selain itu, beberapa orang juga dapat mengalami suatu reaksi alergi pada bekas tempat suntikan. Reaksi alergi lainnya juga dapat timbul dan biasanya ringan, berupa nyeri dada, kesulitan bernapas, dan terbentuknya biduran. Setiap obat dalam terapi biologi memiliki efek sampingnya masing-masing, berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter anda sebelum menggunakannya.   Kortikosteroid Obat golongan kortikosteroid merupakan suatu agen anti peradangan yang kuat yang dapat segera mengurangi gejala dan pembengkakan. Akan tetapi, obat ini tidak dapat memperlambat perkembangan artritis reumatoid ini. Dokter anda biasanya akan memberikan obat golongan ini untuk mengendalikan peradangan yang anda alami atau saat anda mengalami kekambuhan. Efek samping obat golongan steroid adalah peningkatan berat badan, penipisan tulang (meningkatkan resiko terjadinya osteoporosis), memperburuk diabetes, dan meningkatkan resiko terjadinya infeksi. Pemberian dosis obat yang lebih rendah dan menggunakannya dalam jangka waktu yang lebih singkat dapat mengurangi berbagai efek samping di atas.   NSAID (Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs) Yang termasuk obat golongan NSAID adalah celecoxib, ibuprofen, atau naproxen. Obat golongan NSAID ini dapat mengurangi peradangan dan membantu meredakan rasa nyeri. Akan tetapi, obat ini tidak memperlambat perkembangan penyakit maupun kerusakan sendi. Efek samping yang mungkin terjadi adalah gangguan lambung, termasuk peradarahan. Selain itu, penggunaan obat golongan NSAID ini juga telah dihubungkan dengan peningkatan resiko terjadinya penyakit jantung, dan diperlukan pengawasan khusus pada penderita penyakit jantung, ginjal, dan hati.   Penggantian Sendi Melalui Pembedahan Penggantian sendi melalui tindakan pembedahan dapat membantu penderita artritis reumatoid di mana kerusakan sendi yang dialaminya menyebabkan nyeri dan membatasi pergerakannya. Tindakan penggantian sendi ini dapat mengurangi rasa nyeri dan mengembalikan fungsi sendi yang terkena. Anda mungkin memerlukan fisioterapi setelah tindakan ini, berkonsultasilah dengan dokter anda mengenai hal ini.   Sumber: webmd