Your browser does not support JavaScript!
 20 Aug 2020    13:00 WIB
Menderita Diabetes Tipe 1, Bolehkah Mengkonsumsi Kopi?
Pada sebuah penelitian yang sangat kecil, para peneliti mengamati para atlit dewasa yang menderita diabetes tipe 1. Pada penelitian yang dilakukan di tahun 2010 ini, para peneliti mengamati 5 orang atlit dewasa yang menderita diabetes tipe 1, yang rata-rata berusia 38 tahun, yang membutuhkan beberapa kali suntikan insulin setiap harinya. Pada penelitian ini, para peserta penelitian diminta untuk menyuntikkan insulin bersamaan dengan waktu makan. Dua jam setelah makan, para atlit ini diminta untuk mengkonsumsi 5 mg/kgBB kafein atau plasebo yang terdapat di dalam sebuah minuman. Para peserta penelitian kemudian diminta untuk beristirahat selama 30 menit. Setelah itu, peserta penelitian diminta untuk berolahraga selama 40 menit. Percobaan ini dilakukan 2 kali sehingga para peneliti memiliki semua data dari peserta penelitian, baik saat mereka mengkonsumsi kafein atau plasebo untuk mengetahui apakah para peserta penelitian membutuhkan tambahan suplemen glukosa saat berolahraga. Para peneliti kemudian menemukan bahwa saat para peserta penelitian mengkonsumsi kafein, mereka tidak membutuhkan tambahan suplemen glukosa. Sedangkan saat para peserta penelitian mengkonsumsi plasebo, kadar gula darah mereka menjadi sangat rendah saat berolahraga dan membuat mereka membutuhkan tambahan suplemen glukosa. Karena pada penelitian ini jumlah peserta penelitian sangat sedikit dan jumlah kafein yang digunakan cukup tinggi, maka para peneliti mengatakan bahwa masih dibutuhkan lebih lanjut dengan jumlah peserta penelitian yang lebih banyak dan jumlah kafein yang lebih sedikit. Berdasarkan hasil penelitian ini, para peneliti mengatakan bahwa saat seorang penderita diabetes tipe 1 berolahraga di luar rencana dan tidak dapat mengurangi dosis insulin yang digunakan, maka kafein dapat membantu mengurangi kebutuhan kalori sehingga dapat mencegah terjadinya hipoglikemia. Sumber: diabetescare
 23 Jul 2020    08:00 WIB
Merasa Berdebar-debar Setelah Minum Kopi? Mengapa Demikian?
Kopi merupakan suatu stimulan karena mengandung kafein yang dapat membuat Anda lebih bersemangat, tidak mengantuk, dan meningkatkan fungsi otak serta tubuh Anda di pagi hari. Seperti halnya semua stimulan, kafein dapat mempengaruhi jantung, otak, dan otot-otot tubuh Anda.  Mengkonsumsi terlalu banyak kopi atau mengkonsumsi kopi pada waktu yang tidak tepat dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Salah satunya adalah jantung terasa berdebar-debar akibat peningkatan denyut jantung. Kafein di dalam kopi dapat memicu sistem saraf simpatik yang merupakan pengendali respon "fight" atau "flight" tubuh, yang dapat bereaksi dengan cara melepaskan sejumlah energi pada otot, meningkatkan kewaspadaan mental, dan meningkatkan aliran darah yang menuju pada anggota gerak tubuh dengan cara meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung.  Pada sebagian besar kasus, efek ini hanya menyebabkan suatu perubahan kecil, akan tetapi kadangkala dapat terjadi gangguan irama jantung yang membuat Anda merasa berdebar-debar karena adanya peningkatan denyut jantung. Pada keadaan normal, Anda mungkin tidak akan menyadari denyut jantung Anda, kecuali saat Anda sedang berolahraga. Merasa jantung Anda berdebar lebih cepat atau bahkan tidak teratur dapat membuat Anda merasa cemas dan khawatir. Walaupun sebagian besar kasus tidak berbahaya, akan tetapi bila hal ini terjadi berulang kali, maka Anda mungkin harus memeriksakan keadaan jantung Anda pada dokter. Peningkatan denyut jantung dapat disebabkan oleh berbagai stimulan. Mengkonsumsi kafein berlebihan merupakan salah satu hal yang sering menyebabkan jantung terasa berdebar-debar. Bahkan, beberapa orang merasakan peningkatan denyut jantung walau hanya mengkonsumsi sedikit kafein. Satu gelas kopi mengandung sekitar 100-200 mg kafein. Mengkonsumsi lebih dari 500 mg kafein setiap harinya dapat menyebabkan timbulnya nyeri kepala, badan terasa gemetar, dan peningkatan denyut jantung. Selain kopi, kafein juga dapat ditemukan pada teh hitam, teh hijau, teh putih, minuman bersoda, minuman energi, coklat, dan beberapa jenis obat-obatan; terutama obat yang digunakan untuk mencegah rasa kantuk. Berbagai penyebab lain dari peningkatan denyut jantung adalah anemia, tekanan darah rendah, tekanan darah tinggi, stress, dan demam.   Kapan Hubungi Dokter? Peningkatan denyut jantung yang tidak berbahaya biasanya hanya terjadi satu kali dan tidak berulang. Jika Anda mengkonsumsi terlalu banyak kopi atau lebih dari biasanya dan merasa bahwa denyut jantung Anda meningkat, maka denyut jantung Anda biasanya akan kembali normal dalam waktu beberapa menit. Segera hubungi dokter Anda bila peningkatan denyut jantung berlangsung dalam waktu lama atau terjadi berulang kali. Hal ini dapat merupakan gejala adanya gangguan jantung. Selain itu, segera cari pertolongan medis bila Anda merasa nyeri atau mati rasa pada lengan, dada terasa seperti tertekan, nyeri ulu hati yang terjadi bersamaan dengan peningkatan denyut jantung.  Baca juga: Apakah Kopi Dapat Menyebabkan Sembelit? Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: healthyeating.sfgate
 21 Apr 2020    16:00 WIB
Kopi Dan Teh Malah Bikin Efek Dehidrasi ?
Kebutuhan air putih yang diminum setiap hari ternyata tergantung pada beberapa hal seperti tingkat aktivitas, suhu lingkungan dan lain-lain. Hal lain yang mempengaruhi kebutuhan minum air putih setiap harinya adalah minuman yang dikonsumsi.  Sering orang bertanya bolehkah minum kopi atau teh sebagai pengganti minum air putih.  Ternyata kopi dan teh tidak bisa dijadikan sebagai pengganti air putih karena kopi dan teh mengandung kafein yang bersifat diuretik . Kafein adalah senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan bersifat diuretik ringan.  Menurut seorang staf pengajar di Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan bahwa "teh atau kopi sebenarnya juga terdiri dari air yang dapat menghidrasi tubuh". Tapi kandungan kafein dalam kedua minuman tersebut dapat membuat tubuh semakin kekurangan cairan". Namun untuk mengkonsumsi kopi tergantung kepada jumlah kafein yang terkandung dalam teh atau kopi. Berdasarkan saran Food Standards Agency bahwa saran harian untuk menikmati kafein sebenarnya adalah 200 miligram. Takaran tersebut biasanya setara dengan satu sampai dua cangkir kopi (tergantung kandungan kafein setiap macam kopi) dan menurut mayoclinic bahwa konsumsi kafein tidak lebih dari 500 mg tidak memicu dehidrasi.  Teh dan kopi instan biasanya mengandung kafein jauh lebih rendah dari pada kopi yang diseduh. Sehingga untuk Anda yang ingin tetap menikmati teh dan kopi ada baiknya memperhatikan jumlah kafein yang terkandung dalam teh dan kopi tersebut dan perbanyak air putih untuk mencegah terjadinya dehidrasi.    Sumber: mayoclinic
 29 Feb 2020    08:00 WIB
Mengapa Anda Sakit Kepala Setelah Minum Kopi???
Bingung mengapa Anda mengalami sakit kepala setiap kali minum kopi atau teh? Bukankah kafein merupakan salah satu pengobatan untuk sakit kepala dan migrain? Memang benar bahwa kafein sering digunakan dalam berbagai jenis obat sakit kepala untuk mengatasi sakit kepala berat dan migrain. Akan tetapi, pada sisi lain, mengurangi atau berhenti mengkonsumsi kafein juga dapat membuat Anda mengalami sakit kepala.   Baca juga: Sakit Kepala Biasa Atau Migrain Ya???   Kafein Sebagai Terapi Sakit Kepala Memang benar bahwa kafein tampaknya dapat membantu mengatasi sakit kepala dan migrain. Dengan menambahkan sekitar 130 mg kafein ke dalam obat anti nyeri, maka obat tersebut dapat membantu mengatasi sakit kepala hingga 40%. Oleh karena itu, banyak orang mengkonsumsi minuman berkafein seperti kopi, teh, dan minuman bersoda untuk membantu mengatasi nyeri kepala. Akan tetapi, hingga saat ini para ahli masih belum menemukan bagaimana cara dan mengapa kafein dapat membantu mengurangi sakit kepala. Para ahli menduga kafein memiliki efek stimulan, yang akan menyebabkan pembuluh darah melebar atau berelaksasi sehingga dapat mengurangi keluhan nyeri kepala.   Sakit Kepala Akibat Gejala Putus Kafein Di sisi lain, jika Anda pernah mencoba mengurangi jumlah kafein yang Anda konsumsi, maka Anda mungkin akan mengalami sakit kepala setelah mengkonsumsi minuman berkafein. Hal ini biasanya tidak akan terjadi bila Anda hanya mengkonsumsi 1 gelas kopi atau kurang setiap harinya dan memutuskan untuk berhenti. Bagi sebagian besar orang, gejala putus kafein biasanya tidak akan terjadi kecuali bila mereka telah terbiasa mengkonsumsi sekitar 500 mg kafein setiap harinya (sekitar 5 gelas per hari). Tidak peduli dari mana sumber kafein tersebut, yang penting adalah Anda mengkonsumsi jumlah kafein yang hampir sama setiap harinya. Jika Anda tiba-tiba tidak mengkonsumsi kafein, maka Anda mungkin akan mengalami sakit kepala. Mengapa demikian? Hingga saat ini para ahli masih belum menemukan penyebabnya. Kabar baiknya adalah efek ini biasanya hanya berlangsung sementara dan dalam waktu beberapa hari gejala putus kafein ini biasanya akan menghilang, sehingga Anda pun tidak lagi mengalami nyeri kepala. Cara terbaik untuk meminimalisir terjadinya sakit kepala akibat gejala putus kafein adalah dengan mengurangi jumlah kafein yang Anda konsumsi secara perlahan, jangan mendadak.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: everydayhealth
 21 Feb 2020    08:00 WIB
5 Perbedaan Antara Kopi dan Teh
Selama ini semua orang dari berbagai Negara di seluruh dunia telah menikmati teh maupun kopi baik dalam tujuan kesehatan , minuman santai, yang mempunyai cita rasa yang unik. Di Indonesia sangat mudah kita temukan teh ataupun kopi, dan sekarang sudah ada teh dan kopi dalam kemasan yang siap minum. Kedua minuman ini memang sangat populer dan memiliki penggemarnya sendiri-sendiri. Sementara ada orang yang tak bisa melewati pagi tanpa kopi, ada juga orang yang tak bisa bertahan sehari tanpa menyeduh teh. Sementara kedua minuman ini sama-sama bisa membuat bertenaga, namun keduanya memiliki perbedaan antara satu sama lain. Berikut adalah perbedaan antara teh dan kopi yang menarik untuk diketahui: 1.  Level kafeinTeh dan kafein sama-sama mempunyai kandungan kafein didalamnya, tetapi kopi memiliki level kafein yang lebih tinggi dibandingkan teh. Kandungan kafein didalam secangkir teh sebesar 55mg, sementara secangkir kopi memiliki kandungan kafein sebesar 125-128mg. kandungan kafein didalam teh dapat membantu meningkatkan konsentrasi, sementara kafein didalam kopi dalam membuat kita tegang atau dikenal sebagai "coffee jitters" 2.  Pencegahan kankerStudi mengungkapkan bahwa teh mengandung sejumlah quercetin yang membantu tubuh mencegah terjadinya kanker dan gangguan jantung dan pembuluh darah. Sayangnya kopi tidak mempunyai khasiat yang sama. Penelitia juga mengatakan tingkat kejadian kanker pada orang Asia lebih rendah dibandingkan orang Amerika karena orang Asia lebih banyak meminum teh. 3.  Meredakan nyeriTeh mengandung beberapa zat yang dapat meredakan nyeri karena gangguan inflamasi dan arthritis. Teh juga dapat mengurangi terjadinya endapan darah. Sementara kopi mempunyai kemampuan meringankan gejala asma dan parkinson. 4.  Efek antioksidanBaik teh dan kopi memiliki zat antioksidan yang bisa membantu kebugaran tubuh. Teh memiliki zat antioksidan yang melindungi tubuh dari stres dan menurunkan tingkat kolesterol dalam tubuh. Sementara kopi mengandung antioksidan yang bisa menjaga tingkat gula darah dan mencegah batu ginjal. 5.  Daerah asalSatu lagi perbedaan teh dan kopi adalah daerah asalnya. Teh pada awalnya diproduksi di Cina dan India, sedangkan kopi berasal dari Ethiopia dan sebagian daerah AfrikaSumber: magforwomen
 18 Dec 2019    08:00 WIB
Hubungan Antara Konsumsi Kopi dan Kadar Insulin
Sebuah penelitian menemukan bahwa kadar insulin tidak akan mengalami perubahan setelah Anda mengkonsumsi segelas espresso double atau single. Pada penelitian yang dilakukan di tahun 2012 ini, para peneliti melakukan pemeriksaan toleransi glukosa pada peserta penelitian, 1 jam setelah mereka mengkonsumsi espresso, baik yang mengandung kafein maupun yang tidak mengandung kafein.  Pada pemeriksaan toleransi glukosa, para peserta diminta untuk mengkonsumsi 75 gram glukosa dan diukur kadar gula darahnya dengan interval waktu tertentu selama 2 jam setelah konsumsi glukosa dilakukan.  Para peneliti juga menemukan bahwa juga tidak ditemukana danya perubahan sensitivitas insulin sebagai reaksi karena mengkonsumsi segelas espresso single atau double. Berdasarkan sebuah penelitian lainnya di tahun 2012, para peneliti menemukan bahwa mengkonsumsi kopi (kopi hitam tanpa gula atau krim) secara teratur setiap harinya dapat menurunkan resiko terjadinya diabetes tipe 2.  Para peneliti menemukan bahwa para peserta penelitian yang mengkonsumsi 4-6 gelas kopi setiap harinya memiliki resiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah dibandingkan dengan peserta lain yang mengkonsumsi kurang dari 2 gelas kopi setiap harinya. Kopi yang telah melalui proses filtrasi dan tidak mengandung kafein memiliki manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan kopi yang tidak difiltrasi dan mengandung kafein. Pada sebuah penelitian lainnya di tahun 2005, para peneliti menemukan bahwa konsumsi kopi, baik yang mengandung kafein maupun yang tidak mengandung kafein tidak mempengaruhi kadar insulin seseroang.  Akan tetapi, setiap orang memiliki metabolisme insulin yang berbeda-beda. Hal inilah yang mungkin menyebabkan para peneliti sulit menentukan apakah ada suatu hubungan antara konsumsi kopi dan kadar insulin seseorang. Mengkonsumsi 5 gelas kopi, baik berkafein maupun tidak setiap harinya dapat membuat kadar gula darah 2 jam setelah makan menjadi lebih rendah. Para peneliti menduga bahwa asam klorogenik yang terdapat di dalam kopilah yang dapat membantu menurunkan kadar gula darah ini. Akan tetapi, mengkonsumsi kopi sebelum makan dapat mengganggu hasil pemeriksaan toleransi glukosa. Sebuah penelitian lainnya di tahun 2008 menemukan bahwa mengkonsumsi kopi berkafein bersamaan dengan makanan mungkin dapat meningkatkan sekresi insulin, tetapi dapat menurunkan sensitivitas insulin. Pada penelitian ini, para peserta diminta untuk mengkonsumsi kopi berkafein sebanyak 5 mg/kgBB dalam waktu 1 jam sebelum makan, terlepas dari indeks glikemik makanan yang akan dikonsumsi (indeks glikemik tinggi maupun rendah).  Para peneliti menemukan bahwa mengkonsumsi kopi berkafein sebelum mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat meningkatkan sekresi insulin sebanyak 40% dibandingkan dengan mengkonsumsi kopi tanpa kafein sebelum mengkonsumsi makanan yang sama.  Mengkonsumsi kopi berkafein sebelum mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah menyebabkan peningkatan sekresi insulin sebanyak 36% dibandingkan dengan saat mengkonsumsi kopi tanpa kafein sebelum mengkonsumsi makanan yang sama. Oleh karena itu, para peneliti pun berkesimpulan bahwa kopi berkafein mungkin dapat memicu terjadinya resistensi insulin.   Sumber: healthyeating.sfgate
 22 Nov 2019    11:00 WIB
Apa Dampak Mengonsumsi Kopi Secara Berlebihan ?
Sebagian besar orang tentunya pernah mengkonsumsi kopi atau bahkan menjadi menu harian tiap pagi. Banyak pro dan kontra mengenai dampak kesehatan dari kopi. Bagi Anda penikmat kopi tak perlu khawatir, karena penelitian terbaru menunjukkan dampak positif dari kopi yang lebih besar daripada dampak negatif.  Mengkonsumsi kopi yang baik bagi tubuh adalah 1-2 gelas kopi setiap harinya yang dapat membantu mencegah berbagai penyakit dikarenakan mengandung antioksidan. Sebaliknya, jika Anda mengonsumsi 4-7 gelas kopi tiap harinya dapat menyebabkan terjadinya gangguan cemas, mudah marah, gelisah, insomnia, dan tidur kurang nyenyak. Para peneliti menemukan bahwa kopi mungkin turut berperan dalam mencegah terjadinya berbagai penyakit seperti diabetes tipe 2, kanker hati, dan penyakit Parkinson. Selain itu, sebuah penelitian lainnya menemukan bahwa orang yang mengkonsumsi kopi lebih jarang mengalami demensia, stroke, maupun gangguan irama jantung daripada orang yang tidak mengkonsumsi kopi. Wanita yang mengkonsumsi kopi secara teratur memiliki resiko depresi yang lebih rendah. Akan tetapi, para ahli juga memberikan peringatan pada beberapa orang yang mungkin mengalami beberapa efek samping kopi akibat mutasi genetik di dalam tubuhnya yang membuat mereka lebih lambat mencerna kafein. Orang yang mengalami mutasi genetik ini dan mengkonsumsi kopi secara teratur dapat menyebabkan peningkatan resiko terjadinya penyakit jantung serta mungkin dapat meningkatkan sedikit kadar kolesterol Anda. Sebuah penelitian lain di Amerika yang mengamati 130.000 pria dan wanita selama 24 tahun tidak menemukan bukti adanya hubungan antara konsumsi kopi berlebihan dengan peningkatan resiko kematian atau resiko suatu penyakit tertentu.Sumber: healthyeating.sfgate
 05 Nov 2019    11:00 WIB
Apakah Kopi Dapat Menyebabkan Sembelit?
Sembelit merupakan suatu keadaan di mana buang air besar kurang dari 3 kali seminggu. Walaupun kopi mengandung kafein yang dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi, akan tetapi kopi sebenarnya bermanfaat untuk mencegah terjadinya sembelit. Tidak mengkonsumsi cukup banyak sayuran atau air putih dapat menyebabkan terjadinya sembelit. Beberapa hal lainnya yang dapat menyebabkan terjadinya sembelit adalah suatu penyakit, jarang berolahraga, obat-obatan tertentu, salah menggunakan obat laksatif, gangguan kelenjar tiroid, gangguan sistem pencernaan, dehidrasi, sering menahan keinginan buang air besar, hamil, dan penuaan. Beberapa gejala terjadinya sembelit adalah tinja keras dan kering serta sulit buang air besar. Selain itu, Anda mungkin dapat merasa buang air besar tidak lampias. Segera hubungi dokter Anda bila Anda mengalami penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas, ada darah pada tinja, atau nyeri perut hebat. Ketiga hal ini dapat merupakan gejala suatu gangguan kesehatan yang berat. Berdasarkan sebuah penelitian di Eropa, sekitar 14-24% orang yang mengalami sembelit mengatakan bahwa kopi dapat membantu melunakkan tinja mereka. Penelitian lainnya di tahun 2006 menemukan bahwa para peserta penelitian yang mengkonsumsi lebih banyak kopi lebih jarang mengalami sembelit dibandingkan dengan orang yang mengkonsumsi lebih sedikit kopi. Jika Anda sedang mengalami sembelit dan ingin mengkonsumsi kopi, maka cegah efek dehidrasi kopi dengan mengkonsumsi kopi tanpa kafein atau minumlah banyak air putih setelah mengkonsumsi kopi. Selain itu, pastikan Anda mengkonsumsi lebih banyak sayuran dan air putih serta lebih banyak berolahraga untuk membantu mencegah terjadinya sembelit. Hubungi dokter Anda bila sembelit Anda tidak membaik setelah melakukan beberapa hal di atas. Sumber: healthyeating.sfgate
 15 Oct 2019    16:00 WIB
5 Fakta Mengkhawatirkan Tentang Kopi
1.  Kopi Mengandung Lebih Banyak Kafein Daripada Minuman BersodaSebagian besar minuman bersoda berkafein mengandung sekitar 35-40 mg kafein per 12 ons. Mengkonsumsi 5 kaleng minuman bersoda setiap harinya hanya membuat anda mengkonsumsi kafein dalam jumlah sedang bila dibandingkan dengan mengkonsumsi kopi. Kopi mengandung lebih banyak kafein, jadi 5 ons kopi encer pun mengandung 2 kali lebih banyak kafein daripada sekaleng minuman bersoda. Kopi kental dapat mengandung kafein 3 kali lebih banyak daripada minuman bersoda. Segelas kopi berukuran Grande dari Starbucks mengandung kafein yang hampir sama dengan 9 kaleng minuman bersoda yang mengandung kafein.2.  Membuat Anda Mengalami KetergantunganBerdasarkan penelitian, orang yang mengkonsumsi 100 mg kafein setiap harinya dapat mengalami gejala kecanduan jika mereka berhenti mengkonsumsi kafein secara tiba-tiba. 100 mg kafein hampir sama dengan 3 kaleng soda atau tergantung pada seberapa kental kopi yang anda minum, maka setara dengan 1 atau 2 gelas kopi. Jika anda mengalami ketergantungan pada kafein, mengkonsumsi 100 mg kafein setiap harinya biasanya tidak akan mempengaruhi kesehatan anda. Pada sebagian besar orang dewasa, mengkonsumsi 300-400 mg kafein setiap harinya masih termasuk dalam konsumsi kafein tingkat sedang, akan tetapi hal ini tergantung pada ukuran tubuh anda, faktor genetika, dan berbagai faktor lainnya. Pada beberapa orang, seperti pada perokok, mereka dapat memproses kafein lebih cepat, sehingga mereka memerlukan jumlah kafein yang lebih banyak untuk memperoleh efek yang sama. 3.  Dampak Negatif Kafein Bagi Kesehatan AndaSalah satu gangguan kesehatan yang sering terjadi akibat mengkonsumsi terlalu banyak kafein adalah insomnia atau sulit tidur. Akan tetapi, efek ini berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa orang dapat meminum kopi sebelum tidur dan tetap dapat tidur nyenyak, akan tetapi beberapa orang lainnya mengkonsumsi kopi saat makan siang dan tidak dapat tidur semalaman atau bahkan merasa berdebar-debar. Selain itu, kafein juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan cemas. Beberapa orang bahkan perlu mengkonsumsi obat tidur atau minuman beralkohol agar dapat tidur. Hal ini dapat membuat mereka pusing dan mengantuk di pagi hari sehingga mereka pun harus mengkonsumsi kopi agar tidak mengantuk. Siklus ini pun terus berulang setiap harinya.4.  Membutuhkan Dosis Lebih Tinggi Untuk Memperoleh Efek yang SamaSalah satu alasan mengapa seseorang membutuhkan kopi (kafein) walaupun terdapat berbagai efek sampingnya adalah karena kafein di dalam kopi dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi anda. Berdasarkan berbagai penelitian, kafein juga dapat membantu meningkatkan stamina bagi para atlet. Akan tetapi, berbagai efek positif di atas akan berkurang seiring dengan semakin seringnya anda mengkonsumsi kopi. Sebagian orang membutuhkan dosis yang lebih banyak untuk memperoleh efek yang sama (toleransi kafein). Berbeda dengan minuman beralkohol, anda dapat menghilangkan toleransi kafein bila anda tidak mengkonsumsi kopi atau minuman berkafein lainnya dalam waktu singkat (1 minggu). Anda mungkin akan mengalami berbagai gejala kecanduan karena tiba-tiba berhenti mengkonsumsi kopi, akan tetapi anda akan memperoleh efek yang lebih baik daripada sebelum anda berhenti.5.  Kafein Alami Tidak Memiliki Manfaat Lebih Daripada Kafein SintetikApapun jenis kafein yang anda konsumsi, alami maupun sintetik anda akan memperoleh manfaat yang sama. Kafein alami tidak memiliki manfaat yang lebih baik bila dibandingkan dengan kafein sintetik.Sumber: huffingtonpost