Your browser does not support JavaScript!
 08 Jul 2018    13:00 WIB
Stop Pil KB, Kapan Bisa Hamil Lagi?
Saat ini banyak wanita menggunakan kontrasepsi atau KB untuk mencegah terjadinya kehamilan. Terdapat berbagai jenis kontrasepsi non permanen yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan seperti pil KB, kondom, KB suntik atau implan, dan pemasangan IUD (spiral). Akan tetapi, apa yang terjadi bila anda telah siap hamil dan berhenti menggunakan kontrasepsi apapun? Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar anda dapat hamil setelah berhenti menggunakan KB? Banyak wanita menemukan bahwa dirinya sulit hamil walaupun telah berhenti menggunakan kontrasepsi apapun.Akan tetapi, tidak semua wanita sulit hamil setelah berhenti menggunakan kontrasepsi. Beberapa wanita dapat hamil hanya 1 atau 2 minggu setelah berhenti menggunakan pil KB. Bila anda menggunakan kontrasepsi yang mengandung hormon, seperti pil KB atau KB suntik atau KB implan, maka selesaikanlah penggunaannya sebelum berusaha untuk hamil. Setelah anda menyelesaikan program KB anda, akan lebih baik bila anda menunggu hingga menstruasi anda kembali normal sebelum berusaha untuk hamil. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya perdarahan atau menstruasi yang tidak teratur. Secara umum, pertengahan bulan merupakan waktu terjadinya ovulasi yaitu pelepasan sel telur dari indung telur menuju ke tuba falopii (saluran telur, tempat terjadinya pembuahan), yang merupakan masa subur seorang wanita di mana kehamilan lebih mudah terjadi. Oleh karena itu, 2 minggu setelah anda berhenti menggunakan kontrasepsi merupakan saat paling subur bagi anda. Jika anda pernah hamil atau pernah mengalami keguguran sebelumnya, maka berikanlah tubuh anda waktu selama setidaknya 3 bulan untuk memulihkan dirinya sebelum kembali berusaha untuk hamil. Bila anda menggunakan IUD (spiral), maka anda harus mengangkat spiral tersebut sebelum berusaha untuk hamil. Bila anda menggunakan kondom untuk mencegah kehamilan, maka berhentilah menggunakan kondom bila anda telah siap untuk hamil Baca juga: Efek Konsumsi Pil KB Dalam Jangka Panjang Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
 11 Apr 2018    18:00 WIB
Lelah Minum Pil KB, IUD Bisa Jadi Pilihan Anda. Ini Alasannya...
Menggunakan alat kontrasepsi adalah pilihan yang tepat untuk mengontrol kehamilan. Tetapi memilih alat kontrasepsi yang mana bisa dibilang susah-susah gampang. Mengapa? Karena alat kontrasepsi yang Anda pilih harus cocok dengan kondisi tubuh Anda dan membuat Anda nyaman saat menggunakannya. Misal pil KB, alat kontrasepsi ini sangat mudah digunakan hanya tinggal mengikuti jadwal minum obat yang tepat, tetapi kadang ada beberapa masalah yang dirasakan misal badan menjadi lebih gemuk dan malas minum obat setiap hari. Untuk Anda para wanita yang sedang mencari alat kontrasepsi yang tepat maka bisa memilih IUD. IUD, atau alat kontrasepsi yang bersifat fleksibel, kecil, plastik yang berbentuk seperti "T" dan dimasukkan ke dalam rahim untuk mencegah kehamilan. Alat ini efektif, nyaman, dan dapat mengontrol kehamilan yang bersifat tahan lama - dapat mencegah kehamilan selama bertahun-tahun.   Bagaimana cara kerja IUD? Bagaimana cara IUD mencegah kehamilan tergantung pada jenis IUD yang digunakan. IUD mengandung salah satu dari dua zat yang mencegah kehamilan: tembaga (copper) atau hormon levonorgestrel. IUD Copper IUD yang mengandung tembaga disebut ParaGard. Tembaga dalam IUD mencegah sperma pergi ke tuba falopi (dimana tempat pembuahan terjadi). Jika sperma mampu mencapai sel telur dan membuahinya, tembaga akan menjaga sel telur yang telah dibuahi agar tidak menempel ke rahim, sehingga kehamilan tidak terjadi. IUD tembaga 99% efektif mencegah kehamilan, dan dapat tetap ditanamkan selama sekitar 10 tahun sebelum perlu diganti. IUD Hormon Mengandung hormon levonorgestrel (hormon progesteron yang biasa digunakan dalam alat kontrasepsi), yang perlahan-lahan dan secara teratur dirilis untuk mencegah ovulasi, atau pelepasan sel telur. IUD hormon antara 98-99% persen efektif dan akan berlangsung hingga lima tahun. Risiko dan Efek Samping dari IUD IUD adalah, metode pengendalian kehamilan yang aman dan efektif, namun ada risiko kesehatan dan efek samping yang perlu dipertimbangkan, seperti: Perlindungan terhadap penyakit menular seksual IUD memang melindungi agar tidak terjadi kehamilan, namun tidak mencegah penyakit menular bila melakukan hubungan intim yang sembarangan, Untuk perlindungan terhadap penyakit menular seksual. Anda harus menggunakan kondom selain IUD. Perubahan menstruasi Adanya bercak dan periode yang lebih berat bisa terjadi saat menggunakan IUD. Ada beberapa wanita yang benar-benar mengalami pendarahan ringan sampai berat. Perdarahan saat menstruasi dapat menjadi begitu berat sehingga mengalami anemia (kekurangan sel darah merah). IUD juga dapat meningkatkan kram menstruasi dan menyebabkan beberapa wanita mengalami nyeri punggung bagian belakang. Tergelincir Kondisi ini jarang terjadi, tapi bisa saja IUD tergelincir dari tempatnya, bisa terdorong ke arah rahim atau menyelinap keluar dari rahim dan masuk ke dalam vagina. IUD dapat diambil dan ditaruh kembali ke tempat semula, tapi IUD tidak dapat mencegah kehamilan bila tidak berada di tempat yang tepat. Infeksi Kondisi ini juga jarang terjadi, tetapi IUD bisa menyebabkan infeksi. Ini adalah masalah yang jarang terjadi, hanya mempengaruhi 1 dari setiap 1.000 wanita yang menggunakan IUD). Infeksi tersebut dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang untuk sistem reproduksi dan bisa menyebabkan sulit hamil nantinya. Reaksi alergi Siapapun wanita yang alergi terhadap tembaga maka jangan gunakan copper IUD. IUD hanya boleh dipasang oleh ahlinya seperti dokter spesialis kandungan atau bidan. Dan saat Anda memutuskannya untuk menggunakannya harus dipertimbangkan dahulu dengan baik. Apa keuntungan dan efek samping yang akan terjadi. Namun bila Anda ingin mencegah kehamilan jangka panjang dan merasa repot bila harus minum pil KB setiap hari maka IUD bisa menjadi pilihan yang tepat untuk Anda.   Baca juga: Memilih alat kontrasepsi   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang     Sumber: everydayhealth