Your browser does not support JavaScript!
 19 Feb 2021    13:00 WIB
Apakah Mungkin Penis Terlalu Besar untuk Vagina Anda?
Secara umum, sebagian besar vagina biasanya memiliki ukuran yang sesuai untuk semua bentuk dan ukuran penis. Dengan pemanasan dan pelumas yang cukup, sebagian besar vagina dapat melebar hingga sesuai dengan ukuran penis sang pria, berapa pun itu. Selain itu, sangat jarang bagi seorang wanita muda yang masih berusia antara 20-40 tahun untuk mengalami masalah di atas. Beberapa orang wanita mungkin akan mengalami masalah ini saat mereka bertambah tua karena adanya gangguan pada keadaan kesehatan atau keseimbangan kadar hormonal. Akan tetapi, pada beberapa keadaan, ukuran penis seorang pria dapat terlalu besar bagi pasangannya. Jika demikian, hal terpenting yang harus Anda lakukan adalah mencari tahu apa penyebabnya, dengan demikian permasalahan ini pun dapat diatasi. Terdapat 2 penyebab mengapa ukuran penis pasangan Anda tampak terlalu besar bagi vagina Anda. Yang pertama adalah Anda tidak merasa cukup bergairah, yang dapat membuat penis sulit masuk ke dalam vagina atau membuat vagina terasa nyeri atau bahkan mengalami robekan atau perdarahan saat penis berhasil masuk (penetrasi). Untuk mengatasi hal ini, pastikan Anda telah merasa bergairah dan menghasilkan pelumas yang cukup sebelum proses penetrasi. Mintalah pasangan Anda untuk melakukan pemanasan yang cukup sebelum penetrasi atau menggunakan pelumas. Penyebab kedua adalah Anda sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu yang membuat vagina Anda menjadi kering, tanpa Anda sadari. Banyak pil KB dosis rendah yang dapat menyebabkan vagina menjadi kering. Selain itu, obat anti histamin (anti alergi) dan bahkan pengobatan kanker seperti radiasi juga dapat menyebabkan vagina menjadi kering. Jadi, bila vagina Anda tetap kering walaupun Anda telah merasa bergairah dan pasangan telah melakukan pemanasan yang cukup, maka jangan ragu untuk segera memeriksakan diri Anda ke dokter atau dokter spesialis kandungan. Dengan demikian, Anda dapat mengetahui apakah ada obat yang membuat vagina Anda menjadi kering di antara obat-obatan yang Anda konsumsi. Sumber: womenshealthmag
 18 Feb 2021    13:00 WIB
Lima Penyebab Vagina Selalu Basah
Suka ngerasa vaginamu selalu basah? Padahal kondisimu bukan habis buang air kecil, enggak keputihan juga enggak lagi terangsang? Jangan khawatir dulu ya, Ladies. Terkadang hal ini normal, karena vagina memang butuh pelumasan agar tidak kering dan infeksi. Berikut ini lima penyebab yang bikin vaginamu basah. Simak yuk! Hormon Ketika hormon esterogen tinggi, biasanya produksi cairan pada vagina menjadi lebih banyak. Jadi enggak heran kalau kamu ngerasa vaginamu menjadi lebih basah. Untuk mengatasinya, kamu bisa makan-makanan yang rendah esterogen dulu ya, seperti sayuran brokoli, kol, kangkung, jamur dan buah anggur. Baca juga: Lima Fakta Tentang Vagina, Wanita Wajib Tahu Fistula Fistula adalah kondisi ketika saluran kandung kemih dan vagina menjadi terhubung. Saat kamu ingin pipis, airnya keluar dari vagina sehingga vagina menjadi terasa basah terus-menerus. Fistula sendiri bisa menutup sendirinya. Namun, fistula terkadang juga butuh penanganan dokter. Beberapa kasus harus dilakukan operasi agar bisa ditutup dengan sempurna. Pelvic Congestion Ini adalah kondisi yang mirip seperti varises pada kaki. Dengan kata lain, pembuluh vena dalam panggul kita membengkak, sehingga panggul menjadi lebar dan menekan daerah lain, seperti usus, ovarium, rahim, hingga kandung kemih. Karena kondisi itu, maka biasanya vagina akan lebih sering mengeluarkan cairan karena terstimulasi terus dari dalam tubuh. Pelvic Organ Prolapse Penyakit ini bisa terjadi karena otot yang menyokong organ di sekitar panggul melemah, sehingga organ-organ tersebut jadi menekan bagian rahim, kandung kemih, hingga dubur. Uterus Fibroids Ini adalah kondisi saat adanya tumor jinak yang tumbuh di dalam rahim. Tumor ini bisa hanya kecil atau sebesar bola. Kondisi tumor yang menekan bagian usus dan kandung kemih inilah yang menyebabkan vagina menjadi selalu basah. Baca juga: Jaga Kesehatan Vagina dengan Tips Berikut Ini Sumber: Grid
 10 Feb 2021    15:00 WIB
Ini Ukuran Normal Vagina
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengenai bagaimana sebenarnya ukuran vagina yang normal? Vagina atau yang juga dikenal dengan miss V memang merupakan bagian tubuh wanita yang cukup misterius. Pada sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2005, para ahli melakukan pengukuran vagina pada sekitar 50 orang wanita, berikut hasil pengukurannya. Labia Minora Labia minora merupakan bibir dalam yang berukuran lebih kecil yang mengelilingi lubang vagina seorang wanita. Labia minora terbagi menjadi kiri dan kanan. Lebar rata-rata labia minora kiri adalah sekitar 2.1 cm dengan variasi antara 0.4-6.4 cm. Lebar rata-rata labia minora kanan adalah sekitar 1.9 cm, dengan variasi antara 0.3-7 cm. Panjang rata-rata labia minora kiri adalah sekitar 4 cm (hampir sama dengan panjang baby wortel), dengan variasi antara 1.2-7.5 cm. Panjang rata-rata labia minora kanan adalah sekitar 3.8 cm, dengan variasi antara 0.8-8 cm. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran panjang dan lebar labia minora setiap wanita dapat berbeda-beda. Selain itu, ukuran antara labia minora kanan dan kiri pun berbeda. Labia Majora Labia majora merupakan bibir luar yang mengelilingi labia minora Anda. Panjang rata-rata dari labia majora adalah sekitar 8.1 cm (hampir sama dengan panjang sebotol kutek), dengan variasi antara 4-11.5 cm. Perlu diketahui bahwa seiring dengan semakin bertambahnya usia Anda, maka ukuran labia minora dan majora Anda juga akan semakin mengecil. Klitoris Seperti halnya ukuran labia minora dan labia majora berbeda pada setiap wanita, demikian pula halnya dengan klitoris. Menurut penelitian, lebar rata-rata klitoris para peserta adalah sekitar 0.8 cm, dengan variasi antara 0.2-2.5 cm. Sementara itu, panjang rata-rata klitoris para peserta adalah sekitar 1.6 cm (sedikit lebih kecil daripada kancing celana Anda), dengan variasi antara 0.4-4 cm. Satu hal menarik yang ditemukan para ahli adalah bahwa ukuran klitoris ini berhubungan dengan seberapa sering seorang wanita berhasil mencapai orgasme saat berhubungan intim. Jika Anda dapat mencapai orgasme setiap kali berhubungan intim dengan pasangan, maka Anda mungkin memiliki klitoris yang lebih besar dibandingkan dengan para wanita yang hanya dapat mencapai orgasme dengan cara lain. Liang Vagina Para ahli menemukan bahwa kedalaman liang vagina rata-rata seorang wanita adalah sekitar 9.6 cm (hampir sama dengan panjang sebotol lip gloss), dengan variasi antara 6.5-12.5 cm. Sementara itu, lebar liang vagina rata-rata seorang wanita adalah sekitar 2.1-3.5 cm. Lebar liang vagina yang terlalu kecil (2.1 cm) dapat membuat seorang wanita merasa nyeri setiap kali berhubungan intim. Perlu diingat bahwa ukuran kedalaman dan lebar liang vagina ini dapat berubah saat seorang wanita berhubungan intim dan melahirkan. Intinya adalah bila Anda tidak mengalami keluhan atau nyeri saat berhubungan intim, maka kemungkinan besar Anda memiliki bentuk dan ukuran kemaluan yang normal.
 29 Jan 2021    13:05 WIB
Ingin Vagina yang Sehat dan Kencang? Ini Tipsnya
Vagina adalah organ yang sangat sensitif dan memerlukan perawatan ekstra. Vagina dapat kehilangan elastisitasnya dan juga timbul bau yang tidak sedap. Tetapi dengan kebiasaan yang baik dan beberapa tips akan mecegah terjadinya masalah pada vagina. Latihan untuk mengencangkan vagina Olahraga, dan lebih spesifik lagi latihan kegel dapat membantu membuat vagina lebih kencang. Latihan kegel tidak hanya meningkatkan kekuatan otot pelvis, tetapi juga dapat mencegah terjadinya hernia dan inkonsinensia urin. Lakukan latihan kegel dengan mengkontraksikan otot-otot paggul Anda, yang biasanya Anda gunakan saat menahan buang air kecil. Tetapi jangan libatkan kaki, otot perut atau otot bokong. Setelah Anda menemukan otot pelvis, tahan kontraksi selama Anda mampu dan lepaskan, kemudian ulang lagi. Atau kontraksikan otot panggul dan hitung sampai lima dan lepaskan. Anda bisa melakukan ini tiga kali sehari. Direkomendasikan untuk melakukan latihan ini 50 kali setiap harinya. Metode alternatif untuk mengencangkan vagina • Bedah plastik direkomendasikan untuk wanita yang sudah memiliki anak atau wanita yang sudah berumur• Terdapat gel atau obat yang dapat digunakan untuk mengencangkan vagina, tetapi pastikan penggunaannya dibawah pengawasan dokter. Pembersih vagina untuk kesehatan vagina Selama masa menstruasi. Sangat disarankan untuk mencuci area feminim Anda agar mencegah bau yang disebabkan menstruasi. Juga gantilah pembalut atau tampon lebih sering untuk menghindari perkembangan bakteri di vagina. Hindari penggunaan sabun yang keras untuk membersihkan area sensitif Anda Sabun dan body wash mengandung pH yang lebih tinggi sehingga dapat mematikan bakteri baik yang hidup di daerah feminim Anda. untuk mempertahankan kesehatan vagina Anda, gunakan pembersih khusus untuk vagina jika diperlukan, atau membersihkan dengan air mengalir juga sudah cukup. Salah satu langkah yang bisa Anda lakukan untuk mempertahankan kesehatan area sensitif Anda adalah dengan memendekkan rambut disekitar vagina karena jika dibiarkan akan membuat kelembaban berkurang dan bakteri tumbuh subur hingga menyebabkan infeksi. Selain itu akan menyebabkan bau yang tidak sedap. Saat udara lembab atau saat musim hujan, gunakanlah pakaian dalam berbahan katun sehingga kulit Anda bisa bernafas dengan baik dan sirkulasi juga baik. Jangan lupa untuk mengganti pakaian dalam Anda dengan teratur untuk mencegah munculnya bakteri. Pakaian dalam yang lembab akan membuat bakteri tumbuh dengan subur. Baca juga: Tips untuk Mencegah Bau Tak Sedap pada Vagina
 27 Jan 2021    19:00 WIB
Bau Tak Sedap pada Miss V? Ini Penyebabnya
Sebagian besar wanita pasti pernah mengalami gangguan yang satu ini, yaitu bau tidak sedap pada daerah kemaluan. Bau tidak sedap pada daerah kemaluan ini dapat membuat seorang wanita merasa malu, frustasi, dan bahkan jijik pada dirinya sendiri. Di bawah ini Anda dapat melihat 5 hal yang paling sering menyebabkan timbulnya bau tidak sedap pada kemaluan wanita. 1.      Vaginosis Bakterial Walaupun terdengar menakutkan, akan tetapi vaginosis bacterial sebenarnya merupakan hal yang sangat sering terjadi. Vaginosis bakterial merupakan penyebab tersering dari timbulnya bau tidak sedap pada kemaluan wanita. Setiap vagina sebenarnya dipenuhi oleh flora alami (bakteri yang memang umum ditemukan pada vagina) dan vaginosis bakterial sebenarnya terjadi akibat pertumbuhan berlebihan dari bakteri. Menurut seorang dokter spesialis kandungan, sebagian besar wanita yang masih berada pada usia produktif biasanya pasti akan mengalami vaginosis bakterial ini setidaknya satu kali. Sampai saat ini, para ahli masih tidak mengetahui apa penyebab pasti dari vaginosis bakterial, akan tetapi seks yang tidak aman dan seringnya membersihkan daerah kewanitaan dengan berbagai pembersih vagina yang dijual secara bebas dapat meningkatkan resiko terjadinya vaginosis bakterial. Selain bau tidak sedap, vaginosis bakterial biasanya juga menimbulkan rasa gatal, nyeri, dan adanya cairan yang keluar dari dalam vagina. Beberapa kasus vaginosis bakterial dapat sembuh dengan sendirinya, akan tetapi dianjurkan agar setiap wanita yang mengalami vaginosis bakterial untuk berobat ke dokter untuk mencegah terjadinya komplikasi berat. Pengobatan yang biasa dilakukan adalah pemberian antibiotika. 2.      Infeksi Jamur Infeksi jamur juga merupakan penyebab paling sering dari timbulnya bau tidak sedap pada kemaluan. Gejalanya biasanya hampir sama dengan vaginosis bakterial, akan tetapi pada infeksi jamur gejala biasanya disertai dengan keluarnya cairan putih dan kental dari dalam vagina. Untuk mengatasi infeksi jamur, tidak diperlukan pemberian antibiotik. Infeksi jamur biasanya diatasi dengan pemberian obat anti jamur. 3.      Penyakit Menular Seksual Beberapa jenis penyakit menular seksual dapat menyebabkan timbulnya bau tidak sedap pada kemaluan. Penyakit menular seksual yang paling sering ditemukan adalah klamidia dan gonorea. Keduanya dapat diobati dan dapat menyebabkan terjadinya komplikasi serius bila tidak diobati. Akan tetapi, keduanya seringkali tidak terdiagnosa karena tidak menimbulkan gejala apapun atau hanya menimbulkan sedikit gejala. Gejala yang paling sering ditemukan pada klamidia dan gonorea adalah nyeri saat buang air kecil dan keluarnya cairan kuning seperti nanah dari kemaluan, serta bau tidak sedap. 4.      Penyakit Radang Panggul Penyakit radang panggul terjadi saat bakteri, biasanya yang menyebabkan terjadinya penyakit menular seksual, masuk ke dalam vagina dan sampai ke rahim. Penyakit radang panggul seringkali merupakan tahap akhir dari penyakit menular seksual yang tidak terdiagnosa seperti klamidia. Penyakit radang panggul biasanya tidak terdiagnosa hingga Anda mengalami nyeri kronik atau sulit hamil karena seringkali tidak bergejala. Jika bergejala, penyakit radang panggul biasanya menyebabkan timbulnya nyeri panggul, bau tidak sedap pada daerah kemaluan, keluarnya cairan dari dalam vagina dalam jumlah banyak, demam, merasa sangat lelah, nyeri saat berhubungan seksual, dan nyeri saat buang air kecil. Penyakit radang panggul dapat diatasi dengan pemberian antibiotika, akan tetapi dapat menyebabkan timbulnya jaringan parut yang akan menimbulkan efek permanen seperti nyeri kronik, kemandulan, atau kehamilan ektopik. 5.      Kurangnya Kebersihan Pada Daerah Kemaluan Kurangnya kebersihan pada daerah kemaluan juga dapat menyebabkan timbulnya bau tidak sedap. Oleh karena itu, pastikan Anda selalu membersihkan daerah kewanitaan Anda setiap harinya. Karena pada daerah kemaluan terdapat kelenjar minyak dan kelenjar keringat, maka merupakan hal yang normal bila daerah tersebut berbau tidak sedap bila jarang dibersihkan. Bersihkanlah daerah kemaluan Anda dengan sabun ringan yang tidak mengandung pewangi untuk mencegah terjadinya iritasi pada daerah sensitif Anda tersebut dan menimbulkan terjadinya berbagai gangguan lainnya yang lebih berat. Pastikan Anda selalu membersihkan vagina dari depan ke belakang setelah buang air kecil dan selalu gunakan pakaian dalam bersih setiap harinya, bahkan bila Anda tidak mandi seharian. Hindarilah penggunaan berbagai jenis pembersih daerah kewanitaan, spray, pakaian, dan krim yang berfungsi untuk membuat daerah kewanitaan menjadi super bersih karena mereka justru dapat menimbulkan berbagai gangguan lainnya yang lebih berat. Hal ini dikarenakan berbagai pembersih tersebut berfungsi untuk menyingkirkan berbagai bakteri, yang sebenarnya berfungsi untuk menjaga kesehatan vagina Anda. Berbagai pewangi yang terdapat di dalamnya juga dapat menyebabkan terjadinya iritasi pada daerah kemaluan. Gunakanlah pakaian dalam berbahan katun untuk membuat daerah kewanitaan tetap kering sepanjang hari karena katun dapat menyerap keringat. Sumber: sheknows
 21 Jan 2021    15:00 WIB
Sensasi Terbakar di Area Vagina, Apa Penyebabnya?
Sensasi terbakar di sekitar area vagina merupakan keluhan yang relatif umum. Ada banyak penyebab luka bakar pada vagina, termasuk iritan, penyakit menular seksual, dan menopause. Setiap penyebab memiliki gejala dan bentuk pengobatannya sendiri. 1. Iritasi Hal-hal tertentu dapat mengiritasi kulit vagina jika bersentuhan langsung dengannya. Ini dikenal sebagai dermatitis kontak. Iritan yang dapat menyebabkan dermatitis kontak termasuk sabun, kain, dan parfum. Selain rasa terbakar, tanda dan gejala lain termasuk: gatal parah, kementahan, pedas, rasa sakit. Bentuk utama pengobatan iritasi adalah menghindari apa pun yang menyebabkan iritasi. Menghindari iritasi dan tidak gatal pada area memungkinkan kulit sembuh. Terkadang, seseorang mungkin memerlukan obat. 2. Bakteri vaginosis Bacterial vaginosis (BV) adalah suatu kondisi yang terjadi ketika terdapat terlalu banyak jenis bakteri tertentu di dalam vagina, yang memengaruhi keseimbangan normal area tersebut. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), BV adalah infeksi vagina paling umum pada wanita berusia 15 hingga 44 tahun. Salah satu gejala BV adalah sensasi terbakar di vagina, yang juga bisa terjadi saat buang air kecil. BV tidak selalu menimbulkan gejala. Jika ya, gejalanya juga bisa meliputi: keputihan putih atau abu-abu, rasa sakit, gatal, bau seperti ikan yang kuat, terutama setelah berhubungan seks. Memiliki BV dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit menular seksual (PMS), jadi jika ada yang mengalami gejala BV, harus memeriksakan diri dan dirawat oleh dokter. Perawatan untuk kondisi ini sering kali melibatkan antibiotik. 3. Infeksi jamur Infeksi pada vagina yang disebabkan oleh jamur dapat menyebabkan sensasi terbakar. Istilah medis untuk ini adalah kandidiasis, dan ini juga dikenal sebagai sariawan. Gejala terkait meliputi: gatal, rasa sakit, sakit saat berhubungan seks, rasa sakit atau ketidaknyamanan saat buang air kecil, keluarnya cairan dari vagina. Banyak wanita terkena infeksi jamur, tetapi beberapa wanita lebih mungkin terkena infeksi jika mereka: sedang hamil, menggunakan kontrasepsi hormonal, menderita diabetes, memiliki sistem kekebalan yang terganggu, baru saja diminum, atau sedang minum antibiotik. Perawatan biasanya berupa obat antijamur, yang dapat dioleskan oleh wanita secara langsung dalam bentuk krim atau diminum sebagai kapsul. 4. Infeksi saluran kemih Bagian saluran kemih yang berbeda dapat terinfeksi, termasuk kandung kemih, uretra, dan ginjal. Seorang wanita dengan infeksi saluran kemih (ISK) kemungkinan akan merasa terbakar di vagina saat buang air kecil. Gejala lain dari ISK meliputi: ingin buang air kecil tiba-tiba atau lebih sering, nyeri saat buang air kecil, urin berbau atau keruh, darah dalam urin, nyeri di perut bagian bawah, merasa lelah atau tidak enak badan. Dokter biasanya akan meresepkan antibiotik untuk mengatasi infeksi saluran kemih. Secara umum, infeksi akan sembuh dalam waktu sekitar 5 hari setelah memulai pengobatan antibiotik. Resep ulang mungkin diperlukan jika infeksi kembali. 5. Trikomoniasis Juga dikenal sebagai trich, itu adalah PMS paling umum di Amerika Serikat. Trikomoniasis disebabkan oleh parasit yang ditularkan dari satu orang ke orang lain selama hubungan seksual. Hanya sekitar 30 persen penderita trich yang menunjukkan gejala apa pun. Selain sensasi terbakar di vagina, gejala ini mungkin termasuk: gatal, kemerahan, atau nyeri, ketidaknyamanan saat buang air kecil, keputihan yang bisa bening, putih, kuning, atau hijau dan dengan bau amis. Trikomoniasis diobati menggunakan metronidazole atau tinidazole, yaitu pil yang diminum. Baca juga: Vaginitis, Infeksi pada Vagina Sumber: Medical News Today
 16 Jan 2021    13:00 WIB
5 Gejala Sifilis Pada Wanita
Sifilis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri treponema pallidum. Penyakit ini menular melalui hubungan seksual dengan orang yang sudah terinfeksi. Hubungan seksual yang dimaksud bisa berupa seks vaginal, anal dan juga oral. Penyakit ini juga bisa menular melalui darah. Sebagian penderita sifilis tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Agar Anda lebih waspada, berikut adalah beberapa gejala sifilis pada wanita: Luka, tapi tidak sakit Tahap permata sifilis berlangsung dalam waktu 3-6 minggu setelah terinfeksi, dimana biasanya terdapat luka di organ intim wanita tapi tidak terlihat dan juga tidak menimbulkan rasa sakit. Biasanya ada beberapa luka di satu area yang sama dan bentuknya terlihat seperti jerawat namun di dalamnya berisi cairan. Demam, kelenjar getah bening membengkak Demam merupakan suatu tanda tubuh Anda terinfeksi oleh bakteri atau virus. Gejala sifilis pada wanita juga ditandai dengan demam yang tidak terlalu tinggi. Selain demam yang terjadi selama beberapa hari, gejala lainnya adalah kelenjar getah bening di sekitar leher terasa membengkak. Rambut rontok Kerontokan rambut memang bisa disebabkan oleh berbagai macam hal, mulai dari perubahan hormon, konsumsi obat-obatan tertentu dan juga kondisi medis. Jika Anda sudah mengalami beberapa gejala sifilis dan Anda mengalami kerontokan rambut, hal itu dapat memperkuat dugaan Anda telah terinfeksi bakteri treponema pallidum. Penurunan berat badan Jangan terlalu senang dulu ketika mengetahi berat badan Anda turun. Pasalnya, gejala sifilis tahap kedua biasanya disertai penurunan berat badan. Walau penurunannya tidak signifikan, namuan penderita sifilis akan mengalami sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan dan kelelahan hebat. Penglihatan kabur Infeksi sifilis tahap ketiga akan membuat bakteri mempengaruhi saraf optik pada otak. Gejala itu membuat penglihatan menjadi kabur dan dapat menyebabkan kebutaan permanen.  Baca juga: Kebutuhan Nutrisi untuk Wanita Usia 20 hingga 40 Tahun
 12 Jan 2021    19:00 WIB
Vaginitis, Infeksi pada Vagina
Apa itu vaginitis ? Ini ialah infeksi yang terjadi pada vagina dalam wujud keputihan. Data menunjukan bahwa 7 dari 10 wanita pernah mengalami keputihan karena area kewanitaan yang tidak terjaga kebersihannya, dan 5 % mengalami infeksi berulang. Apa dampaknya? Kondisi ini bisa membuat kamu tidak nyaman beraktivitas, tidak percaya diri sampai aktivitas seksual jadi terganggu. Seperti dikutip dari Herworld menurut Educator & Trainer Mundipharma Indonesia, dr. Mery Sulastri, banyak wanita yang memiliki keluhan keputihan, hanya mengira keputihan itu hanya satu jenis saja. Padahal keputihan ada tiga jenisnya, yakni jamur, trikomonas, dan bakteri. Dan tiga jenis sumber keputihan memunculkan keluhan yang berbeda, dan berbeda pula cara mengatasinya. Berikut penjelasannya. Keputihan akibat bakteri Keputihan karena bakteri biasanya muncul bau amis dan muncul bau tak sedap. Jika di bawa ke aktivitas seksual akan memunculkan rasa nyeri. Keputihan akibat jamur Ini hal yang sudah umum dirasakan wanita. Ciri keputihan yang diakibatkan jamur ialah warna putih susu, kental, dan disertai dengan gatal yang dominan. Jenis keputihan ini biasanya muncul karena wanita kurang menjaga kebersihan Miss V-nya. Keputihan akibat trikomonas Trikomoniasis ialah penyakit menular seksual yang muncul karena paparan bernama Trichomonas vaginalis. 70 % penderita tidak muncul gejala apapun. Dan yang khas dari keputihan trikomonas itu warna keputihan kuning kehijauan. Keputihan apa yang paling banyak wanita alami? Keputihan akibat bakteri, kata dokter Merry. Hal itu bisa terjadi karena area kelembapan di area yang tinggi.  "Biasanya, saat sedang haid tuh. Kan gampang banget lembap area Miss V. Efeknya, bikin muncul bau yang tak sedap," jelasnya. Baca juga: Otot Vagina Kencang, Hati-hati Vaginismus
 12 Jan 2021    11:00 WIB
Lakukan Hal Ini Agar Kesehatan Vagina Terjaga
Pastikan pasangan mengganti kondom saat mengubah posisi bercinta dari oral ke vaginal sex (atau sebaliknya). Langkah ini dapat menghindari Anda dari bakteri yang akan masuk ke organ intim. Hindari pemakaian celana yang terlalu ketat. Pakaian jenis ini hanya akan membuat area intim jadi lebih lembab sehingga lebih rawan akan infeksi jamur. Cuci dengan hati-hati. Saat mandi, bersihkan vulva Anda menggunakan sabun yang lembut. Tak perlu khawatir, area vagina Anda bisa membersihkan bagiannya sendiri. Hindari juga menyemprotkan air atau cairan lain secara langsung ke dalam vagina. Hal ini bisa mengurangi level pH sehingga membuat Anda rentan akan infeksi jamur. Lakukan diet yang aman bagi vagina. Konsumsi lebih banyak makanan yang tinggi akan vitamin A seperti tahu, soya, dan flaxseed untuk menghindari vagina yang terlalu kering. Yoghurt juga bisa menjadi pilihan tepat karena memiliki lactobacillus yang mampu menunda infeksi kandung kemih. Buang air kecil setelah bercinta. Ini merupakan cara terbaik untuk menghindari UTI (infeksi di saluran kemih) karena mampu membuang bakteri yang ada. Lakukan check-up rutin ke dokter untuk pemeriksaan Pap smearsaat Anda berusia 21 tahun atau telah aktif secara seksual. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan satu kali setiap tiga tahun hingga menginjak usia 65 tahun. Hindari penggunaan panty liner. Meski fungsinya yang cukup membantu, menggunakan panty liner terlalu lama hanya akan mengunci keputihan Anda dalam satu tempat hingga melembapkan area vagina. Bukan tak mungkin Anda akan terkena infeksi jamur akibat hal ini. Baca juga: Lima Penyebab Vagina Selalu Basah Sumber: Herworld
 11 Jan 2021    15:00 WIB
Waspada Penyakit HPV
HPV atau Human Papilloma Virus, adalah penyakit menular seksual paling umum yang sering menyebabkan kutil kelamin. Sayangnya, gejala seringkali tak terasa sehingga penderita tidak tahu saat ia telah terjangkiti. Ada beberapa macam jenis virus HPV yang wajib diwaspadai. Beberapa memang tidak membahayakan karena bisa diobati dengan cepat, terutama yang berupa kutil kulit luar. Namun jika ia tumbuh di dalam rahim, maka lambat laun pertumbuhannya bisa menyebabkan kanker serviks. Tak hanya itu, HPV yang bercokol di dalam tubuh juga bisa mengakibatkan kanker penis, kanker vagina, kanker vulva, kanker anus, kanker mulut, hingga kanker tenggorokan. Berikut adalah beberapa jenis kutil yang segera bisa Anda perhatikan dan waspadai: Kutil Biasa yang berupa benjolan bulat kasar. Kutil Plantar yang berbentuk rata dengan lubang di tengahnya di mana kadang disertai dengan titik-titik hitam. Kutil Datar yang berbentuk seperti bekas cakaran di kulit yang berwarna cokelat, kekuningan, atau bahkan merah muda. Kutil Filiform yang berupa bintil daging tumbuh dengan warna yang sama seperti warna kulit, dan Kutil Periungual yang biasa tumbuh di kaki atau tangan dengan permukaan pecah-pecah seperti kembang kol. Kontak seksual yang menyebabkan HPV berpindah dari penular kepada yang tertular adalah ketika terjadi sentuhan antara kulit dengan kulit baik secara anal, oral, atau vaginal. So, tak selamanya seks oral itu aman. Untuk mendeteksi secara dini, Anda bisa lakukan pengecekan ke dokter kulit dan kelamin jika menemukan tanda-tanda kutil yang tumbuh di sekitar genital. Namun akan lebih baiknya, lakukan vaksinasi khusus HPV yang dianjurkan pada wanita usia 10 - 26 tahun yaitu vaksinasi Cervarix, Gardasil, serta Gardasil 9 yang bisa mencegah kutil kelamin serta kanker serviks. "Penularan HPV 85 persen melalui hubungan seksual, tetapi 10-15 persen bukan seksual, bisa dari tangan, handuk, atau pakaian," ujar Prof. Dr.dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, K-AI dari Indonesian Working Group on HPV. Berikut adalah cara-cara pencegahannya 1. Menggunakan kondom tiap kali berhubungan seks 2. Pastikan Anda dan pasangan terbebas dari virus HPV 3. Tidak berganti-ganti pasangan 4. Hindari menyentuh kutil secara langsung 5. Menjaga kebersihan area sekitar kelamin (terutama jika Anda sering berenang di kolam renang umum, dan 6. Hindari bergantian memakai barang-barang pribadi seperti celana dalam, pisau cukur, atau bahkan gunting kuku. Baca juga: Kenali Gejala Penyakit Menular Seksual