Your browser does not support JavaScript!
 03 Aug 2019    16:00 WIB
Berbagai Efek Samping Kemoterapi yang Perlu Diketahui
Memang benar bahwa kemoterapi dapat mengobati berbagai jenis kanker dengan cukup efektif. Akan tetapi, seperti berbagai jenis obat lainnya, kemoterapi seringkali menyebabkan terjadinya berbagai jenis efek samping.Efek samping yang terjadi dapat berbeda-beda, tergantung pada jenis kanker, lokasi, jenis obat, dosis obat, dan keadaan kesehatan Anda secara keseluruhan. Mengapa Kemoterapi Menimbulkan Efek Samping?Kemoterapi bekerja pada sel-sel tubuh yang aktif. Sel-sel tubuh yang aktif adalah sel-sel yang bertumbuh dan membelah diri. Sel-sel kanker merupakan sel aktif, tetapi begitu pula dengan sel-sel tubuh yang sehat.Sel-sel tubuh sehat yang termasuk sel-sel aktif adalah sel-sel di dalam darah, mulut, saluran pencernaan, dan folikel rambut. Efek samping terjadi saat kemoterapi merusak sel-sel aktif yang sehat ini. Apakah Efek Samping Kemoterapi Bisa Diobati?Bisa. Dokter Anda biasanya akan membantu Anda mencegah atau mengobati berbagai efek samping yang timbul. Selain itu, dokter Anda mungkin akan memberikan kombinasi obat atau menggunakan cara pengobatan tertentu sehingga efek samping yang timbul pun lebih sedikit. Obat kemoterapi yang berbeda biasanya akan memiliki efek samping yang berbeda. Segera beritahu dokter Anda bila Anda mengalami efek samping. Bagi sebagian besar jenis obat kemoterapi, efek samping tidak berhubungan dengan efektivitas pengobatan. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa efek samping kemoterapi yang cukup sering ditemukan. 1.      FatigueFatigue adalah merasa lelah atau sangat lelah hampir di sepanjang hari. Fatigue merupakan efek samping kemoterapi yang paling sering ditemukan. 2.      NyeriKemoterapi kadangkala membuat penderitanya merasa kesakitan, termasuk sakit kepala, nyeri otot, nyeri perut, nyeri akibat kerusakan saraf (rasa seperti terbakar, mati rasa, atau seperti tertusuk-tusuk) yang biasa terjadi pada jari tangan dan jari kaki.Nyeri ini biasanya akan semakin berkurang seiring dengan berlalunya waktu. Akan tetapi, sejumlah orang dapat mengalami kerusakan saraf permanen. Hal ini dapat membuat seseorang kesakitan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah pengobatan.Pengobata nyeri akibat kemoterapi yang biasanya diberikan oleh dokter adalah mengobati sumber nyeri, memberikan obat anti nyeri, dan menghambat sinyal nyeri dari saraf ke otak.  3.      SariawanKemoterapi dapat merusak sel-sel di bagian dalam mulut dan tenggorokan. Hal ini dapat menyebabkan terbentuknya sariawan yang terasa sangat nyeri di kedua bagian tubuh tersebut. Keadaan ini disebut dengan mukositis.Sariawan biasanya mulai muncul pada hari ke 5-14 paska kemoterapi. Sariawan ini dapat mengalami infeksi. Mengkonsumsi makanan sehat dan menjaga kebersihan mulut dan gigi dapat menurunkan resiko terjadinya sariawan. Sariawan ini biasanya akan menghilang seluruhnya setelah pengobatan selesai. 4.      DiareSejumlah kemoterapi dapat menyebabkan diare cair. Mencegah atau mengobati diare sejak dini dapat mencegah terjadinya dehidrasi. 5.      Mual dan MuntahKemoterapi dapat menyebabkan mual dan muntah. Terjadinya efek samping ini dan seberapa buruk gejalanya tergantung pada jenis obat dan dosis obat yang digunakan. Pemberian obat yang tepat sebelum dan setelah kemoterapi biasanya dapat mencegah terjadinya mual dan muntah. 6.      SembelitKemoterapi dapat menyebabkan terjadinya sembelit. Hal ini berarti sulit atau tidak sering buang air besar. Beberapa jenis obat-obatan lain seperti obat anti nyeri juga dapat menyebabkan terjadinya sembelit. Untuk menurunkan resiko terjadinya sembelit; konsumsilah banyak air putih, makan makanan sehat, dan cukup olahraga. 7.      Gangguan Darah Sumsum tulang merupakan suatu jaringan seperti spons yang berada di dalam tulang Anda. Sumsum tulang berfungsi untuk membentuk sel-sel darah baru. Kemoterapi biasanya akan mengganggu proses ini, sehingga Anda mungkin akan mengalami berbagai gangguan kesehatan akibat kurang darah.Dokter Anda biasanya akan melakukan pemeriksaan darah rutin untuk mengetahui berapa kadar sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit di dalam darah Anda.Kekurangan sel darah merah dapat menyebabkan terjadinya anemia, dengan gejalanya berupa fatigue, pusing, dan sesak napas. Sementara itu, kekurangan sel darah putih (leukopenia) akan membuat Anda lebih mudah jatuh sakit. Kekurangan trombosit akan membuat Anda lebih mudah mengalami perdaharan dan memar daripada biasanya. Baca juga: Cara Atasi Rasa Mual Akibat Kemoterapi Sekarang ini, telah tersedia obat-obatan yang dapat mengobati berbagai jenis gangguan darah di atas dan mencegah terjadinya leukopenia pada pasien dengan resiko tinggi. Obat-obatan ini dapat membantu sumsum tulang Anda membentuk sel-sel darah baru. 8.      Gangguan Sistem SarafSejumlah obat kemoterapi dapat menyebabkan kerusakan saraf. Obat ini dapat menyebabkan timbulnya beberapa gejala seperti kesemutan, rasa seperti terbakar, kelemahan atau mati rasa pada tangan, kaki, atau keduanya; otot terasa lemah, nyeri, atau mudah lelah; hilang keseimbangan, dan gemetar.Anda mungkin juga akan mengalami kaku leher, nyeri kepala, kesulitan melihat, kesulitan mendengar, atau kesulitan berjalan dengan normal. Anda akan merasa mudah jatuh. Berbagai gejala ini biasanya akan membaik saat dosis obat kemoterapi diturunkan atau dihentikan. Akan tetapi, kadangkala kerusakan yang terjadi bersifat permanen. 9.      Perubahan Cara Berpikir dan Daya IngatSejumlah orang dapat mengalami kesulitan berpikir jernih dan berkonsentrasi setelah melakukan kemoterapi.  10.  Gangguan Seksual dan Organ ReproduksiKemoterapi dapat mempengaruhi kesuburan Anda. Bagi wanita, kemoterapi akan mempengaruhi kemampuannya untuk hamil. Sementara itu, bagi pria, kemoterapi akan mempengaruhi kemampuannya untuk membuat seorang wanita hamil.Selain itu, merasa lelah atau tidak enak badan karena menderita kanker atau karena kemoterapi juga dapat mempengaruhi kemampuan Anda untuk menikmati seks. Berkonsultasilah dengan dokter Anda mengenai efek samping yang satu ini sebelum Anda memulai kemoterapi.Kemoterapi juga dapat membahayakan jiwa janin, terutama bila kehamilan masih berusia kurang dari 3 bulan saat semua organ bayi masih dalam masa pembentukan. Jika Anda memiliki kemungkinan untuk hamil selama pengobatan, gunakanlah pil KB. Jika Anda hamil, segera beritahu dokter Anda. 11.  Hilangnya Nafsu MakanSaat melakukan kemoterapi, Anda mungkin akan makan lebih sedikit daripada biasanya, tidak merasa lapar sama sekali, atau merasa kenyang setelah makan sedikit. Jika hal ini terus berlangsung selama pengobatan, maka Anda mungkin akan mengalami penurunan berat badan dan kurang gizi. Anda juga mungkin akan mengalami penurunan massa otot dan kekuatan otot. Semua hal ini dapat mempengaruhi kemampuan Anda untuk sembuh. 12.  Rambut RontokBeberapa jenis kemoterapi dapat menyebabkan rambut rontok dari seluruh bagian tubuh. Hal ini mungkin terjadi secara perlahan atau sekaligus. Rambut rontok biasanya mulai terjadi setelah beberapa minggu pertama kemoterapi dan cenderung meningkat dalam waktu 1-2 bulan. Dokter Anda dapat memprediksi hal ini berdasarkan pada jenis obat dan dosis obat yang Anda terima. 13.  Efek Samping Jangka PanjangSebagian besar efek samping di atas akan menghilang setelah pengobatan dihentikan. Akan tetapi, sejumlah efek samping akan tetap berlanjut, kambuh, atau baru timbul kemudian. Contohnya, beberapa jenis kemoterapi dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jantung, paru-paru, hati, ginjal, atau sistem reproduksi. Dan sejumlah orang mungkin akan mengalami kesulitan berpikir, berkonsentrasi, dan mengingat selama beberapa bulan atau beberapa tahun paska kemoterapi.Kerusakan atau perubahan sistem saraf dapat terjadi paska pengobatan. Anak-anak yang menjalani kemoterapi mungkin akan mengalami efek samping yang akan berlangsung selama beberapa bulan atau beberapa tahun paska kemoterapi. Orang yang berhasil sembuh dari kanker juga memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita kanker lagi di kemudian hari. Pentingnya Perawatan Paska KemoterapiPerawatan saat kemoterapi telah selesai sangat penting. Dokter Anda dapat membantu Anda mengatasi berbagai efek samping jangka panjang dan memperhatikan apakah ada efek samping baru (late effects) yang timbul paska kemoterapi. Dokter Anda mungkin akan meminta Anda untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang. Sumber: cancer 
 20 May 2019    18:00 WIB
Dampak Jangka Panjang Dari Kemoterapi Pada Tubuh
Kemoterapi merupakan pengobatan kuat yang digunakan untuk membunuh sel-sel kanker, yang juga dapat menyebabkan beberapa efek samping. Obat-obatan kemoterapi merupakan suatu bahan kimia kuat yang dapat membunuh sel-sel kanker dan menghambat perkembangan serta penyebaran sel kanker ke seluruh tubuh. Walaupun obat kemoterapi ini sangat efektif dalam membunuh sel-sel kanker, akan tetapi obat ini tidak dapat memilih antara sel sehat dan sel kanker, sehingga obat ini juga membunuh sel-sel sehat beserta sel-sel kanker. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya beberapa efek samping jangka pendek seperti rasa sangat lelah, mual, muntah, sembelit, dan rambut rontok. Selain itu, beberapa gangguan kesehatan yang timbul sebagai efek samping pengobatan kemoterapi dapat menetap walaupun pengobatan telah dihentikan karena kadang-kadang obat kemoterapi ini menyebabkan perubahan permanen pada beberapa sistem tubuh Anda. Oleh karena itu, dianjurkan agar para penderita kanker yang berhasil sembuh dari kanker yang dideritanya tetap memperhatikan keadaan kesehatannya secara ketat sehingga dapat mendeteksi secara dini berbagai penyakit lain yang timbul paska kemoterapi. Keparahan efek samping yang timbul tergantung pada usia penderita dan teratur tidaknya pengobatan. Salah satu efek samping paska kemoterapi yang paling berbahaya adalah kemungkinan terjadinya keganasan sekunder.  Walaupun kemungkinannya relatif rendah, baik kemoterapi maupun terapi radiasi bersifat racun terhadap sel-sel di dalam sumsum tulang, yang dapat meningkatkan resiko terjadinya leukemia (kanker darah).  Jantung dan pembuluh darah juga sangat terpengaruh oleh terapi radiasi dan kemoterapi, terutama bila menggunakan antrasiklin. Bukan hal yang jarang bila para penderita kanker yang berhasil bertahan dari kankernya justru mengalami beberapa gangguan jantung seperti pembengkakan otot jantung, penyakit jantung, dan gagal jantung kongestif. Selain itu, kemoterapi juga dapat menyebabkan kerusakan paru dalam jangka panjang dan menyebabkan terjadinya penebalan lapisan paru, inflamasi (radang) jaringan paru, dan kesulitan bernapas. Efek samping kemoterapi yang mungkin paling sering terjadi adalah penekanan sistem kekebalan tubuh. Jika hal ini berlangsung dalam waktu lama, maka lemahnya sistem kekebalan tubuh penderita dapat menyebabkan terjadinya berbagai infeksi sekunder di sepanjang kehidupan penderita.  Pengobatan kemoterapi juga dapat meninggalkan bekas pada sistem saraf, yang menyebabkan nyeri atau kelemahan saraf jari tangan dan jari kaki penderita. Walaupun sebagian besar efek samping kemoterapi telah diketahui dan biasanya dapat diatasi, para ahli khawatir mengenai suatu efek samping baru yang disebut dengan "otak kemo", yang menyebabkan beberapa perubahan pada kemampuan kognitif seseorang yang membuatnya menjadi mudah lupa dan gangguan kesadaran ringan. Akan tetapi, para peneliti di sebuah penelitian lainnya menemukan bahwa efek ini tidak terjadi pada semua orang yang menjalani pengobatan kemoterapi. Melalui pemeriksaan MRI para peneliti dapat melihat secara langsung perubahan otak akibat efek obat kemoterapi, di mana terjadi perubahan pada kemampuan daya ingat dan fungsi daya ingat.  Hal ini dikarenakan obat kemoterapi ini mempengaruhi lemak-lemak otak sehingga impuls tidak dapat dihantarkan melalui cara yang normal. Para peneliti menduga bahwa mungkin terjadi kerusakan saraf yang sama pada sel saraf otak seperti yang terjadi pada sel saraf jari tangan dan jari kaki. Walaupun sampai saat ini belum banyak hal yang diketahui seputar "otak kemo", akan tetapi para ahli meyakini bahwa fungsi kognitif akan kembali normal setelah pengobatan kemoterapi selesai dan penderita pun tidak mengalami peningkatan resiko terjadinya berbagai gangguan mental seiring dengan semakin bertambahnya usia mereka.  Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apa saja efek jangka panjang dari kemoterapi terhadap otak seseorang.   Sumber: foxnews
 08 Apr 2019    08:00 WIB
Olahraga Membantu Meningkatkan efek Kemoterapi
Dalam sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam American Journal of Physiology, menunjukkan bahwa olahraga dapat meningkatkan efek kemoterapi dalam menyusutkan ukuran tumor. Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan dari Universitas Pennsylvania di Philadelphia yang melakukan penelitian pada tikus dengan melanoma bahwa efek kemoterapi meningkat dalam menyusutkan ukuran tumor bila dikombinasikan dengan olahraga. Peneliti senior Joseph Libonati, seorang profesor di Universitas Pennsylvania dan rekan-rekannya mencoba mencari tahu apakah olahraga dapat melindungi pasien kanker terhadap kerusakan jantung akibat penggunaan obat kanker doxorubicin. Meskipun obat ini efektif terhadap berbagai kanker, namun memiliki efek samping terhadap kerusakan sel-sel jantung dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan gagal jantung. Prof Libonati mengatakan "Bahwa semua pasien kanker akan perhatian terhadap penyakit kanker yang dialaminya dan akan melakukan apapun untuk mengobatinya namun bila mereka sudah berusaha dan melakukan pengobatan jangka panjang tetapi kemudian harus mempunyai risiko tinggi penyakit jantung" Ada sebuah bukti yang mengatakan bahwa dengan melakukan olahraga teratur sebelum menjalani kemoterapi dapat melindungi sel-sel jantung dari kerusakan akibat penggunaan doxorubicin. Namun selama ini tidak banyak yang melakukan penelitian manfaat antara olahraga dengan kemoterapi. Dalam penelitian yang mereka lakukan, tim tersebut memilih empat kelompok tikus kemudian diinduksi dengan melanoma. Selama 2 minggu ke depan, dua kelompok tikus menerima suntikan doxorubicin dan dua kelompok tikus berikut menerima suntikan plasebo. Pada saat yang sama, satu tikus yang menerima doxorubicin dan plasebo melakukan olahraga yaitu berjalan di treadmill selama 45 menit sehari 5 hari dalam satu minggu. Sedangkan tikus-tikus lain tidak melakukan olahraga selama masa pengobatan, Olahraga membantu efek kemoterapi dalam menyusutkan ukuran tumor dan tidak mengubah efek obat tersebut pada jantung Setelah 2 minggu, tim peneliti tersebut menemukan bahwa tikus yang dilakukan kemoterapi terlepas dari mereka berolahraga atau tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan jantung. Kerusakan yang terjadi terdiri dari fungsi jantung yang berkurang, terjadi fibrosis atau penebalan jaringan Kemudian Prof Libonati mengatakan bahwa olahraga tidak mengubah efek doxorubicin pada jantung, tidak memperburuk namun juga tidak membantu. Namun kemudian Prof Libonati dan timnya kagum saat melihat ukuran tumor. Mereka menemukan bahwa tikus yang menerima kemoterapi dan melakukan olahraga memiliki tumor dengan ukuran yang lebih kecil dibanding tikus yang menerima kemoterapi dan tidak melakukan olahraga dalam 2 minggu. Mereka menyimpulkan bahwa pada tikus dengan melanoma, olahraga tampaknya meningkatkan efek kemoterapi doxorubicin dalam menyusutkan ukuran tumor. Mereka menyarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat bagaimana efek olahraga dalam  meningkatkan efek kemoterapi. Mungkin alasannya adalah karena olahraga meningkatkan aliran darah, yang memungkinkan lebih banyak obat dapat mencapai sel-sel kanker. Prof Libonati menambahkan, "Apabila olahraga dapat membantu, maka Anda dapat menggunakan dosis yang lebih kecil dari obat dan mendapatkan efek samping yang lebih sedikit." Sumber: medicalnewstoday 
 21 Feb 2019    08:00 WIB
Kanker Pankreas (Penyebab, Gejala dan Terapi)
Pankreas merupakan suatu organ berbentuk seperti tabung dengan panjang sekitar 15 cm dan terletak di perut bagian belakang, tepat di belakang lambung. Dua tugas utama pankreas adalah membentuk enzim-enzim pencernaan yang berfungsi untuk mencerna makanan dan untuk memproduksi hormon-hormon, termasuk insulin, yaitu suatu hormone yang berfungsi untuk mengatur kadar gula di dalam darah. Kanker pankreas terjadi saat sel-sel kanker bertumbuh, membelah, dan menyebar di dalam jaringan pankreas.   Penyebab dan Faktor Resiko Terjadinya Kanker Pankreas Penyebab pasti dari kanker pankreas tidak diketahui, akan tetapi merokok merupakan faktor resiko utama terjadinya kanker pankreas. Perokok memiliki resiko 2-3 kali lebih tinggi untuk menderita kanker pankreas daripada orang yang tidak merokok. Selain itu, usia juga berpengaruh. Kanker pankreas biasanya terjadi pada orang yang berusia lebih dari 45 tahun. Diabetes juga diduga berhubungan dengan terjadinya kanker pankreas, di mana sekitar 10-20% penderita kanker pankreas juga menderita diabetes. Beberapa hal lainnya yang juga meningkatkan resiko terjadinya kanker pankreas adalah pankreatitis kronik (peradangan pankreas yang terjadi dalam waktu lama) dan sirosis hati. Selain itu, adanya anggota keluarga yang menderia kanker pankreas, diet tinggi lemak, obesitas, dan kurangnya olahraga juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker pankreas.   Gejala Kanker pankreas biasanya tidak menimbulkan gejala apapun pada stadium awal penyakit. Gejala mulai timbul saat penyakit telah berkembang dan menyebar ke organ tubuh lainnya. Gejala yang biasa ditemukan adalah: Nyeri pada perut bagian atas, yang kadang menyebar ke punggung. Rasa nyeri ini biasanya memburuk setelah makan atau berbaring Jaundice (kulit dan bagian putih mata berwarna kekuningan) Mual Hilangnya nafsu makan Penurunan berat badan Kelelahan Badan terasa lemah dan lemas Depresi   Apakah Saya Menderita Kanker Pankreas ? Kanker pankreas sulit terdeteksi pada stadium awal dan tidak dapat ditemukan melalui pemeriksaan fisik abdomen (perut). Diagnosa ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan CT scan abdomen. Selain itu, CT scan juga dapat menunjukkan sejauh mana penyakit telah berkembang. Pemeriksaan lainnya untuk menegakkan diagnosa kanker pankreas adalah biopsi jaringan pankreas. Biopsi dapat dilakukan melalui memasukkan jarum ke dalam perut dan mencapai pankreas atau melalui tindakan pembedahan.   Pilihan Terapi Pada Kanker Pankreas Tindakan Pembedahan Tindakan pembedahan dapat menyembuhkan kanker pankreas bila kanker belum menyebar ke organ tubuh lainnya. Pengangkatan tumor dilakukan dengan terus mempertahankan sebanyak mungkin jaringan pankreas normal. Efek samping tindakan pembedahan tergantung pada seberapa banyak jaringan pankreas yang diangkat. Akan tetapi, karena kanker pankreas biasanya baru terdiagnosa saat sel kanker telah menyebar jauh dari pankreas dan membuat tindakan pembedahan saja tidak dapat menyembuhkan kanker secara menyeluruh. Tindakan pembedahan tetap dapat dilakukan walaupun sel kanker telah menyebar ke organ lainnya untuk mengurangi gejala dan mencegah terjadinya berbagai komplikasi akibat besarnya ukuran kanker pankreas ini. Radiasi Terapi radiasi merupakan suatu langkah pengobatan kanker dengan menggunakan radiasi kuat untuk membunuh sel-sel kanker. Terapi radiasi biasanya dilakukan selama 5 hari dalam seminggu selama beberapa minggu atau bulan. Pembatasan ini bertujuan untuk melindungi jaringan atau sel normal dari radiasi ini. Terapi radiasi seringkali dikombinasikan dengan tindakan pembedahan untuk membunuh sel kanker yang masih tersisa setelah tindakan pembedahan. Selain itu, terapi radiasi juga dapat membantu mengurangi rasa nyeri atau gangguan pencernaan akibat besarnya massa kanker. Kemoterapi Kemoterapi merupakan suatu pengobatan kanker dengan menggunakan obat untuk menghancurkan sel kanker dan menghentikan pertumbuhan serta perkembangan sel kanker. Kemoterapi dapat hanya menggunakan satu jenis obat atau kombinasi beberapa obat-obatan. Obat ini dapat diberikan secara per oral (melalui mulut) atau melalui suntikan (melalui pembuluh darah). Karena obat ini masuk ke dalam aliran darah dan mengalir ke seluruh tubuh, maka kemoterapi merupakan pengobatan pilihan pada kanker yang telah menyebar. Kemoterapi juga dapat dikombinasikan dengan tindakan pembedahan untuk membunuh sel kanker yang masih tersisa setelah tindakan pembedahan. Terapi Sel Target Terapi sel target dapat menyerang sel kanker secara spesifik. Terapi ini memiliki efek samping yang lebih sedikit daripada kemoterapi dan lebih tidak berbahaya bagi sel normal. Terapi Paliatif Terapi paliatif merupakan terapi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penderta dengan cara mengurangi gejala dan mengatasi nyeri yang terjadi akibat penyakit.   Pencegahan Karena penyebab pasti kanker pankreas belum diketahui, maka tidak ada hal khusus yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini. Akan tetapi, menghindari berbagai faktor resiko terjadinya kanker pankreas dapat membantu anda, seperti: Berhenti merokok Kurangi konsumsi lemak anda dan mulailah mengkonsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah-buahan Berolahragalah secara teratur   Sumber: webmd  
 11 Sep 2018    11:00 WIB
Atasi Mual Akibat Kemoterapi
Terjadinya mual dan muntah akibat penggunaan obat kemoterapi sekarang ini telah jarang karena ditemukannya berbagai obat anti kanker yang baru dan adanya berbagai obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengatasi efek samping atau mencegah terjadinya efek samping ini. Efek obat berbeda-beda pada setiap orang, anda mungkin membutuhkan lebih dari satu macam obat untuk mengatasi rasa mual atau muntah yang anda alami akibat kemoterapi. Segera beritahu dokter anda bila anda merasa sangat mual atau muntah lebih dari satu hari atau muntah terus-menerus hingga tidak dapat mengkonsumsi air atau makanan apapun. Muntah terus-menerus dapat membuat anda mengalami dehidrasi. Dehidrasi merupakan suatu keadaan di mana berbagai jaringan tubuh mengalami kehilangan cairan secara berlebihan dan dapat menyebabkan gangguan pada kinerja berbagai organ tubuh anda. Dehidrasi ini dapat menyebabkan gangguan yang berat jika tidak segera diatasi.   Tips Mengatasi Rasa Mual Berberapa hal yang dapat anda lakukan saat anda merasa mual adalah: Makanlah dalam porsi kecil dan sering karena rasa mual seringkali semakin memburuk bila lambung anda kosong Makanlah secara perlahan dan kunyahlah makanan anda dengan baik Makanlah makanan yang dingin atau sama dengan suhu ruangan. Bau dari makanan yang panas atau hangat dapat membuat anda merasa semakin mual Hindari makanan pedas atau makanan berlemak karena makanan jenis ini lebih sulit dicerna Beristirahatlah setelah makan, dengan posisi kepala lebih tinggi daripada kaki anda Bila anda merasa mual setiap kali terbangun di pagi hari, sediakanlah sebungkus biskuit sebagai cemilan sebelum tidur dan saat bangun tidur atau makanlah makanan tinggi protein, seperti daging tanpa lemak atau keju sebelum tidur karena protein lebih lama terdapat di dalam lambung anda Minumlah air atau cairan lainnya berlainan dengan waktu makan Minumlah air sebanyak 6-8 gelas setiap harinya untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Pilihlah minuman yang dingin seperti air putih atau jus buah atau berbagai minuman dingin lainnya Makanlah lebih banyak saat anda tidak merasa mual Beritahu dokter anda bila anda merasa mual sebelum kemoterapi dimulai atau bila anda muntah terus-menerus dan membuat anda tidak dapat mengkonsumsi apapun, baik cairan maupun makanan Minumlah obat anti mual anda tepat waktu   Efek Mual atau Muntah Bagi Kesehatan Anda Saat muntah, tubuh anda dapat kehilangan banyak air dan nutrisi penting. Jika anda muntah lebih dari 3 kali sehari dan anda tidak dapat mengkonsumsi cairan yang cukup, maka anda dapat mengalami dehidrasi.   Kapan Hubungi Dokter? Segera hubungi dokter adna bila anda muntah terus-menerus dan mengalami beberapa gejala dehidrasi di bawah ini, yaitu: Air kemih berwarna gelap Jumlah air kemih sedikit Denyut jantung cepat Nyeri kepala Pusing saat berdiri Wajah kemerahan dan kulit terasa kering Lidah kotor dengan pinggir berwarna kemerahan Mudah marah dan merasa bingung Muntah yang berlangsung terus-menerus dapat membuat obat anti kanker yang anda gunakan tidak bekerja sebagaimana mestinya. Jika anda muntah terus-menerus, maka dokter anda mungkin akan menghentikan pemberiant obat kemoterapi selama beberapa waktu. Dokter juga dapat memberikan cairan melalui pembuluh darah (infus) untuk mengembalikan nutrisi dan tenaga bagi tubuh anda. Baca juga: Vitamin C bantu kemoteraphi  Sumber: webmd  
 05 Jan 2018    16:00 WIB
Apa Saja Pilihan Terapi Untuk Mengatasi Kanker?
Jika Anda baru saja mengetahui bahwa Anda menderita kanker, maka Anda pasti merasa bingung saat ini, apakah harus berobat sesuai anjuran dokter atau hanya mencoba pengobatan alternatif. Dokter Anda biasanya akan menyarankan sebuah rencana pengobatan sesuai dengan keadaan Anda. Anda mungkin merasa ragu mengenai apa saja efek samping pengobatan tersebut dan dampaknya pada kehidupan Anda. Salah satu cara untuk mengurangi rasa khawatir Anda adalah dengan mempelajari sebanyak mungkin mengenai pengobatan yang diajukan dan mencari tahu apa saja yang mungkin terjadi setelahnya. Berdiskusilah dengan dokter Anda mengenai pengobatan apa yang terbaik bagi Anda, berdasarkan pada jenis kanker Anda, lokasinya, dan seberapa jauh penyebarannya.   Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa jenis pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kanker: Tindakan Pembedahan Sebagian besar penderita kanker akan menjalani suatu tindakan pembedahan. Tujuan utamanya adalah untuk mengangkat tumor, jaringan, atau area yang mengandung sel kanker seperti kelenjar getah bening. Tindakan pembedahan juga mungkin diperlukan untuk mendiagnosa suatu penyakit atau mengetahui seberapa parah kanker yang Anda derita. Pada sebagian besar kasus, tindakan pembedahan merupakan cara terbaik untuk mengangkat sel kanker, terutama bila sel kanker belum menyebar ke bagian tubuh lain. Selain tindakan pembedahan tradisional, ada beberapa tindakan pembedahan lain yang dapt dilakukan, seperti: Pembedahan laser Pembedahan elektro Cryosurgery Anda biasanya akan diberikan obat anti nyeri selama dan setelah tindakan pembedahan dilakukan. Dokter biasanya juga akan memberikan obat lain seperti antibiotika untuk menurunkan resiko terjadinya infeksi.   Kemoterapi Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dengan menggunakan obat untuk membunuh sel-sel kanker. Ada 2 jenis kemoterapi, yaitu kemoterapi tradisional dan kemoterapi oral.   Kemoterapi Tradisional Pada kemoterapi tradisional, obat kemo akan disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Efek samping obat kemo tradisional ini dapat berbeda-beda pada tiap penderita, bahkan jika penderita menderita jenis kanker yang sama dan menerima obat yang sama dengan dosis yang sama. Beberapa efek samping yang sering ditemukan adalah: Fatigue Muntah Mual Diare Rambut rontok Sariawan Nyeri Kemoterapi kadangkala juga dapat menimbulkan efek samping jangka panjang seperti kemandulan dan kerusakan saraf. Berkonsultasilah dengan dokter Anda mengenai apa saja resiko pengobatan Anda dan bagaimana cara mencegah terjadinya efek samping yang tidak diinginkan.   Kemoterapi Oral Pada kemoterapi oral, Anda akan diberikan obat kemo berbentuk kapsul atau tablet, yang dapat Anda minum di rumah. Obat ini akan sama efektifnya dengan kemoterapi tradisional yang disuntikkan. Jenis obat kemo apa yang akan Anda peroleh tergantung pada jenis kanker Anda karena tidak semua jenis obat kemo dapat dikonsumsi per oral (melalui mulut) karena ada beberapa jenis obat kemo yang tidak dapat diserap oleh lambung, sedangkan jenis lainnya menjadi berbahaya bila ditelan. Efek samping yang terjadi pun dapat berbeda-beda pada tiap penderita, tetapi efek sampingnya hampir sama dengan kemoterapi tradisional. Jika dokter Anda memberikan obat kemo oral, pastikan Anda mengkonsumsinya sesuai dengan anjuran dokter. Jangan mengubah dosis obat tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter Anda.   Baca juga: Benarkah Makan Sehat Bisa Cegah Kanker???   Radiasi Terapi radiasi menggunakan partikel tinggi energi atau gelombang untuk menghancurkan atau merusak sel-sel kanker dan mencegahnya menyebar ke bagian tubuh lain. Terapi radiasi dapat merupakan pengobatan tunggal atau dikombinasikan dengan terapi lainnya seperti tindakan pembedahan atau kemoterapi. Terapi biasanya diberikan dalam dosis kecil, 5 hari dalam seminggu, selama 6-7 minggu. Terapi radiasi sendiri sebenarnya tidak menyakitkan, akan tetapi paska terapi Anda dapat merasa kesakitan, fatigue, dan timbulnya bercak kemerahan pada kulit di sekitar area terapi. Efek samping yang terjadi tergantung pada jenis kanker yang Anda derita. Misalnya jika terapi radiasi dilakukan di sekitar kepala atau leher, maka efek samping yang mungkin muncul adalah mulut kering.   Pengobatan Lainnya Selain berbagai pengobatan di atas, dokter Anda mungkin dapat mengajukan beberapa jenis pengobatan lainnya, seperti: Targeted therapy, di mana obat kemo hanya disuntikkan ke bagian tertentu dari sel kanker untuk mencegah sel kanker menyebar ke bagian tubuh lain atau berkembang Imunoterapi atau terapi biologis, di mana daya tahan tubuh dibuat melawan sel kanker Transplantasi stem cell. Pada terapi ini, dokter akan menggunakan terapi kemo atau radiasi untuk menghancurkan sel kanker sebanyak mungkin, kemudian mengganti sel yang rusak dengan sel stem yang sehat dari sumsum tulang atau darah Terapi fotodinamik. Pada terapi ini, dokter akan menyuntikkan suatu obat khusus ke dalam pembuluh darah, kemudian menggunakan cahaya tertentu untuk membunuh sel kanker Apapun jenis pengobatan kanker yang Anda pilih, pengobatan biasanya membutuhkan sejangka waktu untuk menunjukkan efeknya (kecuali tindakan pembedahan). Oleh karena itu, dianjurkan agar Anda bersabar dan mengikuti rencana pengobatan yang sudah disusun. Bila Anda tidak tahan dengan efek samping yang terjadi, segera beritahu dokter Anda.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: webmd
 04 Feb 2016    11:00 WIB
Faktor Resiko dan Penyebab Kanker Rahim
Kanker rahim atau kanker endometrium merupakan tipe kanker yang tumbuh disepanjang garis rahim. Kebanyakan kanker ini dapat dideteksi sejak awal karena biasanya ditandai dengan munculnya perdarahan vagina yang abnormal. Sebanyak 25% penderita kanker rahim mengidap penyakit ini sebelum masuk masa menopause dan mengeluhkan keluarnya darah per vagina yang tidak teratur sebelum masa menopause dan sebanyak 75% penderita kanker rahim mengeluhkan perdarahan per vagina setelah masa menopause.Faktor resiko dari kanker rahim:    •    Obesitas    •    Hipertensi    •    Wanita yang tidak pernah melahirkan    •    Hipotiroid    •    Diabetes    •    Riwayat kanker payudara dan kanker usus Penyebab dari kanker rahimPenyebab utama dari kanker rahim adalah peningkatan level hormon estrogen didalam tubuh. Jika pasien tersebut pernah menjalani terapi hormon estrogen akan mengalami peningkatan resiko terkena kanker rahim. Jika seorang wanita harus melakukan terapi pengganti hormonal maka harus ditambahkan hormon progesteron juga jika kondisi rahim masih sehat.Jika seorang wanita dengan riwayat kanker payudara sebelumnya, ia harus mengkonsumsi obat yang disebut tomoxifen selama lima tahun untuk mencegah kekambuhan dari kanker. Tomoxifen sangat dibutuhkan untuk penderita kanker payudara tetapi juga mempunyai efek buruk terhadap lapisan dinding rahim dan dapat meningkatkan resiko terkena kanker rahim. Jadi jika seorang wanita harus mengkonsumsi tomoxifen maka ia harus memeriksakan diri ke dokter secara teratur untuk mengetahui secara dini apakah muncul penebalan dari dinding rahim yang diperiksa melalui ultrasonografi.Jika seorang dokter mencurigai adanya tanda-tanda keganasan, maka ia akan melakukan pemeriksaan sitologi dan USG transvaginal. Jika kedua pemeriksaan ini tidak memberikan hasil yang cukup jelas maka akan dilakukan pemeriksaan histeroskopi atau kuretase dari dinding rahim. Jika benar ditemukan tanda keganasan melalui pemeriksaan histologi maka diperlukan pemeriksaan USG/MRI/CT scan untuk membantu penegakkan diagnosa.Pengobatan yang dapat dilakukan untuk kanker rahim:    •    Terapi bedah    •    Terapi radiasi    •    Kemoterapi tambahanSumber: healthmeup
 09 Jan 2015    10:00 WIB
Efek Samping dari Pengobatan Kanker Jangka Panjang Pada Anak
Setelah anak Anda selesai melakukan rangkaian pengobatan kanker, baik kemoterapi maupun radioterapi, sangatlah penting untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan ini berfungsi untuk mengetahui bagaimana kondisi kesehatan anak dan apakah anak Anda mengalami efek samping tertentu akibat pengobatan kanker jangka panjang. Di bawah ini terdapat beberapa efek samping yang dapat timbul setelah seorang anak melakukan pengobatan kemoterapi dalam jangka panjang, yang tentu saja dapat mempengaruhi masa depan anak Anda.   1.      Pengaruh Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Radioterapi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak, terutama pada pertumbuhan tulang anak. Jika radioterapi dilakukan pada tulang belakang anak, maka anak tersebut mungkin tidak dapat bertumbuh setinggi anak-anak lainnya seumurannya atau bila radioterapi dilakukan pada salah satu kakinya, maka kaki tersebut mungkin akan lebih pendek dibandingkan dengan kakinya yang lain. Kelenjar pituitari yang terletak di dasar otak berfungsi untuk menghasilkan hormon yang membantu mengatur pertumbuhan dan perkembangan seorang anak dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Radioterapi ke otak dapat mempengaruhi produksi hormon pertumbuhan yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari. Jika anak Anda tidak memiliki cukup banyak hormon ini, maka pertumbuhan normal anak pun akan terganggu dan membuat anak tersebut mungkin membutuhkan terapi hormon tambahan.   2.      Pengaruh Terhadap Fungsi Jantung dan Paru Beberapa jenis pengobatan kanker tertentu juga dapat mempengaruhi fungsi jantung dan paru-paru. Beberapa jenis pengobatan tersebut adalah kemoterapi dan radioterapi. Efek ini mungkin tidak akan terlihat langsung setelah pengobatan selesai. Oleh karena itu, dibutuhkan pemeriksaan lanjutan secara teratur untuk memantau kesehatan jantung dan paru anak paska pengobatan kanker.   3.      Gangguan Pendengaran Walaupun jarang, gangguan pendengaran dapat terjadi setelah pengobatan kanker dengan menggunakan obat-obatan tertentu dan setelah proses radioterapi ke daerah kepala, terutama bila dilakukan di dekat daerah telinga. Cisplatin merupakan obat kemoterapi yang paling sering menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran (tuli sebagian), yang menyebabkan anak mengalami kesulitan untuk mendengar suara bernada tinggi. Kelainan ini dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan pendengaran dan biasanya tidak terlalu parah hingga seringkali tidak disadari, baik oleh anak maupun orang tua serta teman-temannya. Hal ini dikarenakan suara bernada rendah yang lebih banyak digunakan saat berbicara biasanya tidak terkena.   4.      Gangguan Ginjal Gangguan ginjal dapat terjadi setelah anak menerima pengobatan kanker tertentu, akan tetapi biasanya tidak berat. Pengangkatan salah satu ginjal untuk mengatasi gangguan ginjal yang terjadi biasanya juga tidak menimbulkan komplikasi apapun karena ginjal yang tersisa biasanya masih dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Beberapa jenis obat kemoterapi dapat menyebabkan terjadinya gangguan ginjal. Jadi, bila anak Anda menggunakan obat-obatan tertentu seperti GFR, dianjurkan agar Anda memeriksakan kesehatan ginjal anak Anda secara teratur.   5.      Pengaruh Terhadap Kemampuan Intelektual dan Pendidikan Setelah pengobatan kanker selesai, sebagian besar anak dapat melanjutkan pendidikannya dan pengobatan kanker biasanya tidak mempengaruhi kemampuan berpikir dan intelektual anak. Akan tetapi, beberapa orang anak, terutama yang menderita tumor otak, mungkin dapat mengalami kesulitan belajar dan membutuhkan bantuan khusus di sekolah. Seberapa parah kesulitan belajar yang terjadi tergantung pada usia anak saat memulai pengobatan dan pengobatan apa yang mereka terima.   6.      Kanker Kedua Sejumlah kecil anak yang telah berhasil sembuh dari kanker yang dideritanya mungkin menderita jenis kanker lainnya di masa yang akan datang. Hal ini mungkin dikarenakan oleh 2 hal. Yang pertama adalah karena beberapa ada beberapa anggota keluarga yang menderita kanker (keturunan), walaupun hal ini sangat jarang. Penyebab kedua adalah beberapa jenis pengobatan kanker dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker jenis lain.     Sumber: macmillan