Your browser does not support JavaScript!
 07 Mar 2019    16:00 WIB
Mengenal Penyebab, Gejala dan Pengobatan Bibir Sumbing
Apa itu bibir sumbing?Bibir Sumbing atau Celah Bibir dan Celah Langit-langit adalah suatu kelainan bawaan yang terjadi pada bibir bagian atas serta langit-langit lunak dan langit-langit keras mulut. Celah bibir (Bibir sumbing) adalah suatu ketidaksempurnaan pada penyambungan bibir bagian atas, yang biasanya berlokasi tepat dibawah hidung pada saat proses pembentukannya. Celah langit-langit adalah suatu saluran abnormal yang melewati langit-langit mulut dan menuju ke saluran udara di hidung. Apa penyebab dari bibir sumbing?Celah bibir dan celah langit-langit bisa terjadi secara bersamaan maupun sendiri-sendiri. Kelainan ini juga bisa terjadi bersamaan dengan kelainan bawaan lainnya. Penyebabnya mungkin adalah mutasi genetik atau teratogen (zat yang dapat menyebabkan kelainan pada janin, contohnya virus atau bahan kimia). Selain tidak sedap dipandang, kelainan ini juga menyebabkan anak mengalami kesulitan ketika makan, gangguan perkembangan berbicara dan infeksi telinga. Faktor resiko untuk kelainan ini adalah riwayat celah bibir atau celah langit-langit pada keluarga serta adanya kelainan bawaan lainnya. Apa gejala dari bibir sumbing?Gejalanya berupa:•  pemisahan bibir •  pemisahan langit-langit •  pemisahan bibir dan langit-langit •  distorsi hidung •  infeksi telinga berulang •  berat badan tidak bertambah •  regurgitasi nasal ketika menyusu (air susu keluar dari lubang hidung). Apa pengobatan untuk bibir sumbing?Pengobatan melibatkan beberapa disiplin ilmu, yaitu bedah plastik, ortodontis, terapi bicara dan lainnya. Pembedahan untuk menutup celah bibir biasanya dilakukan pada saat anak berusia 3-6 bulan. Penutupan celah langit-langit biasanya ditunda sampai terjadi perubahan langit-langit yang biasanya berjalan seiring dengan pertumbuhan anak (maksimal sampai anak berumur 1 tahun). Sebelum pembedahan dilakukan, bisa dipasang alat tiruan pada langit-langit mulut untuk membantu pemberian makan/susu. Pengobatan mungkin berlangsung selama bertahun-tahun dan mungkin perlu dilakukan beberapa kali pembedahan (tergantung kepada luasnya kelainan), tetapi kebanyakan anak akan memiliki penampilan yang normal serta berbicara dan makan secara normal pula. Beberapa diantara mereka mungkin tetap memiliki gangguan berbicara. Ingin mengetahui lebih dalam mengenai bibir sumbing? Silahkan baca di siniSumber: cek gejala penyakit
 14 Aug 2016    11:00 WIB
Lahir Tanpa Hidung, Sang Ortu Tetap Mencintainya Apa Adanya
Saat dokter meletakkan putranya yang baru lahir, Eli, di dadanya, Brandi McGlathery melihatnya dan tahu ada sesuatu yang salah pada putranya tersebut. Pada awalnya, para dokter berusaha meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja, akan tetapi ia tahu bahwa Eli tampak berbeda dan mengatakan bahwa "Ia tidak memiliki hidung." Para dokter kemudian melihat bayinya, mengambilnya dari gendongan McGlathery dan segera membawanya pergi. Ia pun mulai merasa panik. Ibu berusia 23 tahun tersebut tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia hanya tahu bahwa putranya tersebut tidak memiliki hidung dan merasa khawatir bagaimana putranya akan bernapas. Tidak ada satu orang pun yang kembali ke dalam kamar inapnya selama 10 menit dan ia merasa sangat khawatir bahwa sesuatu hal yang sangat buruk telah terjadi. Saat Dr. Craig Brown akhirnya datang kembali, McGlathery tahu bahwa sang dokter membawa suatu kabar buruk. McGlathery benar saat mengatakan bahwa putranya tersebut tidak memiliki hidung dan para dokter di rumah sakit tempatnya melahirkan tidak pernah menemukan kasus seperti ini. Eli lahir dengan kongenital arhinia, suatu kondisi yang sangat jarang, yaitu hanya sekitar 41 kasus di seluruh dunia. Eli pun kemudian dirujuk ke USA Children’s & Women’s Hospital. Dokter di rumah sakit ini pun sama terkejutnya dengan dokter yang menangani kelahiran Eli, akan tetapi mereka pun memutuskan untuk memperlakukan Eli seperti seorang bayi yang mengalami gangguan pernapasan. Sementara itu, berdasarkan insting, Eli pun tahu caranya bernapas dengan membuka mulutnya, akan tetapi ia tetap saja mengalami kesulitan pernapasan saat diberi makan. Dokter pun melakukan tindakan trakeotomi sehingga Eli tidak lagi mengalami kesulitan bernapas saat makan. Pada saat yang bersamaan, McGlathery tidak dapat beristirahat dengan tenang, dan menelepon rumah sakit tempat anaknya berada setiap 30 menit. Ia selalu memulai percakapan teleponnya dengan menanyakan, "apakah ia masih hidup?" McGlathery mengatakan bahwa "kami masih tidak tahu apa yang salah dengan diri anak kami atau apa yang terjadi. Aku tidak tahu apakah ia dapat bertahan hidup malam itu." Eli merupakan anak kedua dan putra pertama dari dirinya dan kekasihnya, Troy Thompson, 25 tahun. Pada sebagian besar masa kehamilannya, McGlathery tidak merasakan adanya keanehan apapun. Akan tetapi, pada saat usia kehamilannya memasuki usia 17 minggu, ia mengalami mual muntah berat dan mengalami penurunan berat badan hingga 5 kg. Ia kemudian mengkonsumsi obat anti mual dan kembali normal. Ia telah melakukan pemeriksaan kehamilan sebanyak 3 kali sebelum akhirnya melahirkan Eli pada tanggal 4 Maret saat kehamilannya berusia 37 minggu. Dokter yang menanganinya mengatakan bahwa dalam pemeriksaan USG dan berbagai pemeriksaan lainnya, ia tidak menemukan adanya kelainan apapun pada Eli. Eli bahkan memiliki tulang hidung. Keesokkan paginya, McGlathery pun pergi mengunjungi putranya tersebut. Para dokter di USA Children’s & Women’s Hospital yang telah melakukan berbagai pemeriksaan pada Eli tidak menemukan adanya kelainan apapun pada diri Eli. Para dokter hanya menemukan bahwa kadar hormon testosteron Eli sedikit rendah, tetapi ia dapat memperoleh suntikan hormon testosteron saat ia berusia 8 minggu nanti, yang akan mengembalikan kadar hormon testosteronnya ke kadar normal. Pada hari Senin, yaitu setelah Eli berhasil lolos dari percobaan duduk di mobil, para dokter pun memperbolehkannya pulang bersama dengan ayah dan ibunya. McGlathery mengatakan bahwa putranya baik-baik saja dan tampak seperti bayi lainnya, hanya saja ia tidak memiliki hidung. Akan tetapi, bukan berarti hal ini memudahkan tugas sang ayah dan ibu. Kedua orang tuanya harus selalu membersihkan trakeotominya setidaknya 2 kali sehari. Mereka juga harus mengganti kain yang mengikat trakeotomi di tempatnya karena air liur dan air susu yang terdapat pada kain tersebut dapat mengiritasi kulit dan memicu terjadinya infeksi. Saat Eli tidur, ia dipasangi alat monitor jantung, yang akan berbunyi seperti alarm saat denyut jantung Eli meningkat saat ia menangis. Jadi, orang tuanya pun harus selalu berada di dekatnya. Saat Eli telah cukup dewasa, pada dokter mungkin dapat "membentuk" hidung pada tulang tengkoraknya sehingga ia pun akan memiliki hidung sama seperti orang lainnya. Akan tetapi, karena langit-langit lunak Eli tidak terbentuk dengan sempurna dan otaknya terletak lebih rendah di dalam kepalanya, maka prosedur pembentukan hidung ini mungkin tidak dapat dilakukan. Selain itu, kelenjar pituitari Eli pun tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga ia mungkin akan membutuhkan terapi hormon saat ia memasuki masa pubertas. Saat ini, para dokter memang dapat membentuk hidung palsu bagi Eli, tetapi hidung palsu ini tidak dapat bekerja sebagaimana hidung normal. Jika orang tuanya memilih untuk melakukan hal ini, maka Eli pun harus melalui tindakan pembedahan saat ia bertumbuh untuk menyesuaikan letak hidung pada wajahnya. Akan tetapi, kedua orang tua Eli, McGlathery dan Thompson mengatakan bahwa mereka tidak ingin putranya tersebut melalui berbagai prosedur pembedahan yang tidak diperlukan. Sang ayah mengatakan bahwa anaknya sempurna dengan apa adanya ia, ia akan tetap mencintainya apa adanya, karena Eli adalah anaknya.   Baca juga: Apa Penyebab Kematian Bayi di Dalam Kandungan?   Sumber: today