Your browser does not support JavaScript!
 28 Nov 2019    18:00 WIB
Seks Saat Hamil Apakah Aman ?
Selain mengalami perubahan fisik yang cukup signifikan, wanita hamil juga mengalami peningkatan dorongan seks yang tinggi dan orgasme yang kuat selama beberapa tahap kehamilan. Bagi sebagian wanita, hubungan seks selama kehamilan boleh saja dilakukan. Seorang ahli obstetry gynecology dari Columbia University Medical Center menyatakan jika kehamilan berkembang normal, hubungan seks pada masa kehamilan sama sekali tidak berbahaya bagi bayi. Bayi terlindungi dengan baik di dalam rahim. Cairan ketuban dan segel tebal berlendir yang mengunci serviks dapat melindungi bayi dari berbagai infeksi. Meski pun pada beberapa wanita orgasme dapat menyebabkan kontraksi rahim, namun hal ini tidak akan mempengaruhi proses persalinan. Biasanya wanita hamil akan mengalami peningkatan gairah seks pada trimester kedua. Ketika tingkat energi mulai meningkat seiring mual yang semakin berkurang. Seks bisa menjadi hal nomor satu yang dipikirkan wanita hamil pada masa ini, karena adanya peningkatan aliran darah ke vagina, sehingga vagina semakin membesar dan mengalami peningkatan lubrikasi (cairan pelumas). Selain itu, perubahan fisik berupa peningkatan berat badan dan perut yang semakin membesar akan membuat Anda sedikit mengalami gangguan saat melakukan hubungan seks. Oleh sebab itu, para ahli menyarankan agar Anda mencari berbagai variasi gaya yang aman dan nyaman saat berhubungan seks. Menikmati Seks pada Masa Kehamilan Ketika gairah seks semakin meningkat pada kehamilan, Anda mungkin perlu membuat beberapa penyesuaian untuk kenyamanan Anda berhubungan seks, seperti Bereksperimen dengan Gaya Baru Seiring perut Anda membuncit mungkin yang perlu Anda lakukan adalah mencoba posisi seks miring atau posisi wanita berada di atas agar bisa mengontrol kedalaman penis. Bisa juga dengan meminta pasangan pria Anda duduk bersandar dan Anda duduk di pangkuannya. Wanita hamil tidak dianjurkan melakukan posisi seks berbaring terlentang, terutama pada masa akhir kehamilan. Karena berat bayi dan pasangan dapat memberikan tekanan pada vena cava inferior, pembuluh darah besar yang membawa darah kembali menuju jantung. Hal ini dapat mengakibatkan pusing dan peningkatan detak jantung. Tetap lakukan seks yang aman Jika Anda memiliki riwayat penyakit menular atau bahkan kemungkinan terpapar HIV maka sebaiknya Anda menggunakan kondom saat berhubungan seks. HIV dapat ditularkan pada bayi. Oral seks juga diperbolehkan tapi pastikan Anda melakukannya dalam keadaan yang sama-sama bersih. Meniup udara ke dalam vagina saat melakukan oral seks juga tidak dianjurkan, karena dapat menyebabkan air embolism (keadaan di mana pembuluh darah tersumbat oleh gelembung udara) yang bisa mengancam jiwa. Dokter juga tidak menganjurkan anal seks saat kehamilan karena bisa menyebabkan paparan bakteri dari anus menuju vagina pemicu infeksi. Bahkan, kebiasaan ini juga memicu wasir selama kehamilan. Berkomunikasi secara Terbuka Komunikasi memegang peran yang penting dalam mencapai kepuasan hubungan seksual. Terutama pada masa kehamilan. Anda dan pasangan mungkin memiliki ide berbeda tentang seberapa sering berhubungan seks dan gaya apa yang disukai masing-masing. Jika hubungan seks saat hamil menjadi sangat sulit dilakukan, terutama di masa akhir kehamilan, mungkin memberikan pijatan dan pelukan penuh kasih sayang bisa menjadi gantinya. Oleh karena itu, komunikasikan secara terbuka kendala yang Anda rasakan bersama pasangan, dan temukan solusinya bersama. Kapan Hubungan Seks saat Hamil Menjadi tidak Aman? Para ahli kandungan akan menyarankan untuk tidak berhubungan seks selama kehamilan jika terjadi beberapa hal di bawah ini: Kondisi medis tertentu yang menempatkan Anda pada risiko keguguran Berisiko mengalami persalinan prematur, sebelum usia kandungan 37 minggu Anda mengalami plasenta previa. Kondisi di mana plasenta menutupi pembukaan serviks Anda mengalami perdarahan vagina. Biasanya terjadi pada kehamilan kembar Mengalami infeksi tertentu Oleh karena itu, sebelum Anda mulai berhubungan seks di masa kehamilan sebaiknya kunjungi dokter kandungan Anda terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat kemanan berhubungan seks, baik bagi Anda, pasangan dan janin yang ada di dalam kandungan. Baca juga: Yoga dan Gairah Seksual
 23 Nov 2019    08:00 WIB
Kenali Tanda Depresi Paska Melahirkan Sejak Dini
Depresi paska melahirkan merupakan depresi yang terjadi pada beberapa wanita beberapa minggu atau beberapa bulan setelah melahirkan. Gejala terjadinya depresi paska melahirkan ini dapat berupa mood yang buruk, adanya perasaan tidak mampu mengatasi berbagai kesulitan hidup, dan adanya gangguan tidur. Beberapa wanita dapat mengalami depresi paska melahirkan dan bahkan tidak menyadarinya. Sekitar 1 dari 7 wanita mengalami berbagai gejala depresi dalam waktu 3 bulan setelah melahirkan. Walaupun perubahan mood (baby blues) sering terjadi setelah melahirkan, akan tetapi depresi paska melahirkan memiliki gejala yang lebih berat daripada baby blues.Siapa yang Beresiko Mengalami Depresi Paska Melahirkan?Sebagian besar ibu baru mengalami baby blues setelah melahirkan. Sekitar 1 dari 10 wanita yang mengalami baby blues ini akan mengalami gejala yang lebih berat dan lebih lama setelah melahirkan. Sekitar 1 dari 1.000 wanita yang mengalami depresi paska melahirkan dapat mengalami gejala yang lebih berat lagi yang disebut dengan psikosis paska melahirkan (psikosis postpartum).Faktor ResikoBeberapa hal yang dapat meningkatkan resiko terjadinya depresi paska melahirkan adalah:•  Pernah mengalami depresi selama kehamilan•  Usia ibu saat hamil. Semakin muda usia ibu, maka semakin besar resiko terjadinya depresi paska melahirkan•  Adanya campuran antara perasaan bahagia dan sedih saat hamil•  Jumlah anak. Semakin banyak jumlah anak yang anda miliki, maka semakin tinggi resiko terjadinya depresi paska melahirkan pada kehamilan berikutnya•  Pernah mengalami gangguan depresi atau gangguan disforik premenstrual (sindrom premenstrual yang berat) sebelum hamil•  Kurangnya dukungan keluarga atau teman atau lingkungan saat hamil•  Tinggal atau hidup sendiri•  Adanya permasalahan dalam pernikahanGejalaGejala depresi paska melahirkan mirip dengan apa yang biasanya terjadi setelah kelahiran seorang anak. Berbagai hal yang sering dialami oleh wanita yang baru saja melahirkan adalah:•  Kurang tidur•  Perubahan nafsu makan•  Merasa sangat lelah•  Penurunan gairah seksual•  Mood sering berubah-ubah Bila berbagai hal di atas disertai dengan gejala gangguan depresi, maka wanita tersebut diduga mengalami depresi paska melahirkan. Gejala gangguan depresi yang dapat ditemukan adalah:•  Mood depresi (merasa sedih terus-menerus atau merasa bersalah)•  Tidak merasa senang saat melakukan berbagai hal yang sebelumnya disukai atau dapat memberikan kebahagiaan sebelumnya•  Merasa tidak berharga•  Merasa putus asa dan tidak berdaya•  Adanya pemikiran tentang kematian atau keinginan untuk bunuh diriGangguan Cemas dan Depresi Paska MelahirkanBila anda memiliki gangguan cemas seperti gangguan obsesif kompulsif sebelum hamil, maka gangguan ini mungkin akan memburuk atau justru timbul beberapa saat setelah melahirkan. Obsesi yang terjadi biasanya berhubungan dengan kekhawatiran tentang keselamatan atau kesehatan bayinya. Gangguan panik juga dapat terjadi beberapa saat setelah melahirkan. Baik gangguan obsesif kompulsif maupun gangguan panik dapat terjadi bersamaan dengan gangguan depresi paska melahirkan.Apakah Saya Mengalami Depresi Paska Melahirkan?Untuk menegakkan diagnosa depresi paska melahirkan, dokter biasanya akan menanyakan dan mengamati berbagai gejala yang anda alami. Dokter juga mungkin akan melakukan berbagai pemeriksaan lain untuk menyingkirkan berbagai kemungkinan lain yang menyebabkan timbulnya berbagai gejala yang anda alami.Sumber: webmd
 16 Nov 2019    11:00 WIB
Perkembangan Kehamilan Anda (Minggu ke 5-8)
Minggu 5Bayi: bayi anda masih sangat kecil. Pada saat ini terjadi pembentukan jantung, otak, saraf, otot, dan tulang. Plasenta dan kantong amnion juga masih berkembang. Mulai terbentuk tali pusar yang menghubungkan bayi anda dengan anda.Ibu: anda mulai merasakan beberapa gejala kehamilan saat ini, seperti mual, muntah, nyeri atau kesemutan pada payudara, penggelapan warna puting susu, sering berkemih (buang air kecil), dan merasa cepat lelah.Disarankan untuk mulai melakukan pemeriksaan ke dokter untuk memastikan kehamilan anda dan mulai menjadwalkan pemeriksaan kehamilan selanjutnya. Minggu 6Bayi: bayi anda telah berbentuk seperti kecebong. Pembentukan mata dan anggota gerak telah dimulai. Pada saat pemeriksaan USG, dapat terdengar denyut jantung. Minggu ke 3 sampai minggu ke 8 merupakan saat rentan bagi bayi anda, karena di saat inilah berbagai organ penting sedang terbentuk.Ibu: berat badan anda telah bertambah atau berkurang karena mual dan muntah yang anda alami. Hal ini normal. Mulai terjadi pembesaran perut, payudara, dan kaki. Pada pemeriksaan, mulai terlihat pembesaran rahim.Disarankan untuk terus mengkonsumsi vitamin, asam folat, dan diet sehat. Berhentilah merokok dan mengkonsumsi alkohol. Minggu 7Bayi: pembentukan berbagai organ, seperti jantung, paru-paru, usus, otak, saraf, hidung, mulut, mata dan anggota gerak terus berlanjut.Ibu: anda masih mengalami mual dan muntah, serta mengalami perubahan pada payudara anda (terasa lebih keras)Jangan pernah mengosongkan lambung anda untuk mencegah rasa mual. Makanlah porsi kecil dan sering. Minggu 8Bayi: mulai terbentuk kelopak mata dan telinga. Jari-jari juga mulai terbentuk dan berselaput, yang memungkinkannya untuk berenang di dalam cairan ketuban di rahim anda.Ibu: volume darah anda meningkat dan jantung anda memompa darah setengah kali lebih banyak setiap menitnya untuk mensuplai kebutuhan bayi anda. Saat ini akan terjadi perubahan mood dan mual yang disebabkan oleh bau-bauan tertentu.Jagalah payudara anda dengan bra penyangga untuk membuat anda merasa lebih nyaman. Anda juga dapat mulai berolahraga. Bulan 2 KehamilanWajah bayi anda terus berkembang. Akan terbentuk benjolan kecil di samping kanan dan kiri wajah bayi anda, yang nantinya akan berkembang menjadi telinga. Terbentuk tonjolan kecil lainnya pada tubuh, yang nantinya akan membentuk tangan, kaki, jari tangan, dan jari kaki.Sistem saraf (otak, medulla spinalis, dan serabut saraf lain) telah terbentuk sempurna. Sistem pencernaan dan organ lainnya masih berkembang. Tulang juga mulai terbentuk menggantikan tulang rawan. Baca juga: Perkembangan Kehamilan Anda (Minggu ke 1-4) Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
 15 Nov 2019    16:00 WIB
Perkembangan Kehamilan Anda (Minggu ke 1-4)
Tentunya anda merasa penasaran mengenai apa saja yang terjadi pada janin anda selama berada dalam kandungan. Selain itu, anda juga tentu ingin mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi di pada tubuh anda. Di bawah ini, akan dijelaskan mengenai perkembangan yang akan anda alami selama kehamilan.   Minggu 1 dan 2 Bayi: bayi anda masih sangat kecil saat ini. Sulit untuk mengetahui kapan pembuahan terjadi, oleh karena itu, dokter biasanya menghitung usia kehamilan anda berdasarkan hari pertama menstruasi terakhir anda. Dengan demikian, dokter juga dapat memperkirakan kapan kira-kira anda akan melahirkan. Ibu: setiap bulannya tubuh anda menghasilkan satu buah telur yang dapat dibuahi oleh sperma. Telur ini pada mulanya tersimpan di dalam ovarium dan akan matang setiap bulannya dan kemudian bergerak ke saluran telur untuk dibuahi. Jika siklus menstruasi anda adalah 28 hari, maka waktu subur anda kira-kira adalah pada hari ke 13-15 setelah menstruasi terakhir. Bila anda berencana untuk hamil dan sedang hamil, dianjurkan untuk mengkonsumsi 400-800 mcg asam folat setiap harinya untuk mencegah terjadinya kelainan saraf bawaan (spina bifida).   Minggu 3 Bayi: pada saat ini, sudah mulai terbentuk morula, walaupun masih sangat kecil, kira-kira seujung jarum. Morula belum tampak seperti janin atau bayi, morula merupakan kumpulan sel-sel yang terus menduplikasikan diri. Lapisan luar morula nantinya akan berkembang menjadi plasenta, sedangkan bagian dalamnya akan menjadi janin. Ibu: anda tidak akan mengetahui bahwa anda sedang hamil, karena pada saat ini anda belum merasakan gejala kehamilan apapun dan menstruasi anda belum terlambat.   Minggu 4 Bayi: morula telah berkembang menjadi embrio dan bergerak menuju rahim anda untuk melakukan penempelan. Ibu: pada saat ini, anda seharusnya sudah mengalami menstruasi, tetapi bila anda hamil, maka anda tidak akan mendapat menstruasi. Menstruasi yang terlambat dapat merupakan tanda awal kehamilan. Sampai saat ini anda belum merasakan gejala kehamilan apapun, kecuali mungkin adanya bercak yang keluar dari kemaluan anda. bercak ini merupakan akibat dari penempelan embrio pada rahim anda. Pada minggu ke 4 ini, plasenta dan air ketuban sudah mulai terbentuk di dalam rahim anda.   Bulan 1 Kehamilan Pada bulan pertama kehamilan, telur yang telah dibuahi akan berkembang dan terbentuklah suatu kantong berisi cairan di sekeliling telur yang telah dibuahi ini. Kantong berisi cairan ini disebut kantong amnion, yang membantu menjaga embrio anda dari benturan. Plasenta juga mulai berkembang. Plasenta adanya suatu jaringan bulat dan datar yang berfungsi untuk mengantarkan berbagai nutrisi dari ibu kepada bayinya, serta sebagai tempat mengeluarkan berbagai hasil metabolisme janin. Embrio telah berkembang, membentuk wajah dengan lingkaran gelap yang nantinya akan menjadi mata. Mulut, rahang bawah, dan tenggorokan masih sedang berkembang. Sel darah dan sistem sirkulasi juga mulai berkembang. Pada akhir minggu ke 4, bayi anda telah berukuran sekitar 0.6 cm, lebih kecil daripada sebutir beras.  Baca juga: Belum Ingin Hamil? Bisa Dicoba Pengendali Kehamilan Tanpa Hormon Ini Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber : webmd
 08 Nov 2019    08:00 WIB
Tips Untuk Mempercepat Proses Penyembuhan Paska Operasi Caesar
Operasi Caesar, baik yang direncanakan maupun merupakan tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa bayi Anda atau Anda, sebenarnya merupakan operasi besar pada perut. Proses penyembuhannya pun dapat berlangsung selama berbulan-bulan. Dokter biasanya akan meminta Anda untuk berhenti dari semua aktivitas fisik Anda selama 6 minggu paska pembedahan. Pada minggu ke 6 atau setelah 6 minggu, para ibu baru ini biasanya pun telah diperbolehkan untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari seperti olahraga, mengemudi, melakukan berbagai kegiatan rumah tangga, dan berhubungan seks.   Konsumsilah Obat yang Diberikan Dengan Teratur Saat Anda diijinkan pulang dari rumah sakit, dokter biasanya juga akan memberikan 1 atau 2 obat anti nyeri yang cukup kuat. Selain itu, perut Anda juga akan terasa nyeri sesekali, jadi jangan lupa untuk mengkonsumsi obat anti nyeri yang diberikan dengan teratur.   Bersabarlah Paska operasi Caesar, beberapa orang wanita mungkin akan mengalami kesulitan buang air kecil. Anda bahkan mungkin lupa bagaimana caranya buang air kecil, akan tetapi hal ini hanya akan berlangsung sementara. Latihlah kemampuan Anda buang air kecil dengan cara meniup sedotan saat akan buang air kecil. Dokter biasanya tidak akan membiarkan Anda pulang bila Anda belum buang gas atau belum dapat buang air besar, yang merupakan pertanda bahwa usus Anda telah kembali berfungsi.   Berjalanlah Walaupun Anda mungkin tidak ingin bergerak atau bahkan turun dari atas ranjang Anda setelah operasi Caesar, akan tetapi paksalah diri Anda untuk bangun dan bergerak segera setelah dokter menginjinkan Anda untuk turun dari atas ranjang. Hal ini dapat membantu mempercepat proses penyembuhan Anda.   Gunakan Bantal Memiliki banyak bantal di sekitar Anda saat Anda sedang dalam masa penyembuhan paska operasi Caesar sangatlah penting. Hal ini dikarenakan memeluk bantal saat Anda tertawa atau batuk akan membuat pergerakan otot menjadi terbatas dan mengurangi rasa nyeri.   Sumber: sheknows
 01 Nov 2019    16:00 WIB
Apa yang Terjadi Pada Tubuh Setelah Melahirkan Bayi Besar?
Anda tentunya telah mendengar banyaknya bayi lahir dengan berat badan 7-8 kg. hal ini dapat terjadi akibat kombinasi dari beberapa hal, seperti obesitas, faktor genetika, dan diabetes gestasional (ibu hamil menderita diabetes selama kehamilan berlangsung). Terjadinya diabetes selama hamil disebabkan oleh perubahan kadar hormonal yang membuat seorang wanita hamil menjadi kurang responsif terhadap insulin. Wanita yang mengalami diabetes gestasional cenderung lebih sering melahirkan bayi "besar" atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan nama makrosomia. Makrosomia merupakan suatu keadaan di mana bayi baru lahir memiliki berat lebih dari 4.5 kg. Walaupun terdengar menakutkan bagi para wanita untuk melahirkan bayi yang sangat besar, akan tetapi bayi-bayi besar ini biasanya memiliki keadaan kesehatan yang sama dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal. Sayangnya, hingga saat ini para dokter spesialis kandungan hanya dapat mengetahui perkiraan berat badan bayi yang akan dilahirkan melalui pemeriksaan USG perut, dengan hasil yang tidak terlalu akurat. Dengan mengetahui perkiraan berat badan bayi yang akan dilahirkan oleh seorang wanita, maka para dokter ini pun dapat menentukan proses persalinan mana yang lebih baik bagi wanita tersebut, apakah persalinan normal (persalinan melalui vagina) masih dapat dilakukan atau persalinan sebaiknya dilakukan melalui proses operasi C-section. Salah satu resiko dari melakukan persalinan normal pada bayi besar adalah bayi dapat mengalami distosia bahu, yaitu suatu keadaan di mana kepala bayi dapat keluar melalui vagina, tetapi bahunya tidak. Walaupun para dokter spesialis kandungan tetap dapat membantu bayi keluar pada akhirnya, akan tetapi proses ini dapat menyebabkan kerusakan pada saraf bahu atau lengan bayi. Resiko lainnya dari melahirkan bayi dengan berat badan berlebihan adalah robeknya vagina atau bahkan rektum (suatu bagian usus besar) selama proses persalinan berlangsung, yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan dan lamanya masa penyembuhan setelah proses persalinan selesai. Komplikasi lainnya yang dapat terjadi walaupun jarang adalah bayi "tersangkut" dan mengalami kekurangan oksigen. Untuk mengatasi keadaan ini, dokter dapat mencoba mendorong bayi kembali masuk ke dalam rahim dan melakukan tindakan pembedahan C-section darurat. Setelah proses persalinan selesai, komplikasi paska persalinan pun jarang terjadi dan jikalau Anda mengalami robekan vagina atau rektum, Anda dapat sembuh dalam waktu beberapa minggu. Akan tetapi, pada beberapa keadaan, otot rahim Anda mungkin tidak berkontraksi sebagaimana mestinya sehingga Anda pun dapat mengalami perdarahan dalam waktu 24 jam setelah proses persalinan selesai. Bagaimana keadaan vagina Anda? Pada sebagian besar wanita, vagina akan kembali normal dalam waktu 6 minggu, yang merupakan hal yang normal terjadi pada setiap wanita hamil, berapa pun berat badan bayi yang dilahirkannya. Akan tetapi apakah vagina terasa lebih "longgar"? Hal ini sebenarnya tergantung dari berbagai hal dan dari masing-masing pasangan. Jika Anda mengalami komplikasi selama proses persalinan berlangsung, maka lama penyembuhan pun dapat bervariasi.Sumber: womenshealthmag
 30 Oct 2019    08:00 WIB
Pentingnya Perawatan Gigi Selama Kehamilan
Kehamilan dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut ibu, di mana dapat terjadi pembengkakan gusi dan gusi berdarah. Selain itu, hormon yang diproduksi selama kehamilan juga dapat membuat gigi anda lebih mudah terserang plak. Perawatan Gigi Sebelum Hamil Periksakanlah kesehatan gigi anda sebelum kehamilan. Dengan demikian, anda dapat mengetahui keadaan kesehatan gigi anda dan berbagai gangguan kesehatan yang ada sehingga anda dapat mengatasi berbagai masalah tersebut sebelum kehamilan terjadi. Perawatan Gigi Selama Kehamilan Beberapa hal yang harus anda lakukan dalam merawat kesehatan gigi anda selama kehamilan adalah: Beritahukanlah pada dokter gigi anda bahwa anda sedang hamil dan jangan melakukan pemeriksaan gigi pada trimester pertama kehamilan dan pada saat kehamilan anda telah berusia 30 minggu karena saat-saat ini merupakan saat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi anda. Anda dapat melakukan pemeriksaan gigi rutin pada trimester kedua. Semua tindakan pencabutan atau penambalan atau tindakan lainnya yang tidak perlu dilakukan dengan segera dapat ditunda hingga anda telah melahirkan Beritahukan pada dokter gigi anda setiap obat yang anda konsumsi Hindari melakukan foto rontgen apapun selama kehamilan Hindari penggunaan obat kumur yang mengandung alkohol Lakukanlah pemeriksaan gigi secara teratur selama trimester kedua kehamilan karena kehamilan menyebabkan perubahan hormonal yang dapat meningkatkan resiko terjadinya berbagai gangguan pada gusi Perhatikan setiap perubahan pada gusi anda selama kehamilan Jagalah kebersihan mulut dan gigi anda untuk mencegah dan atau mengurangi berbagai gangguan kesehatan mulut Jika rasa mual dan muntah di pagi hari membuat anda sulit menyikat gigi anda, gantilah pasta gigi anda dengan pasta gigi yang tidak berasa selama kehamilan. Anda juga dapat mencoba membersihkan mulut anda dengan air dan tunggulah sekitar 1 jam sebelum mulai menyikat gigi Hal lainnya yang perlu anda perhatikan adalah agar anda menghindari berbagai makanan manis. Keinginan atau mengidam makanan manis sering terjadi selama kehamilan. Akan tetapi, ingatlah bahwa semakin banyak anda memakan makanan tersebut maka semakin besar pula resiko kerusakan gigi anda. Sebuah penelitian menemukan bahwa bakteri yang menyebabkan kerusakan gigi juga dapat ditularkan dari ibu pada anak. Konsumsilah makanan sehat dan seimbang selama kehamilan. Gigi bayi anda akan mulai berkembang saat kehamilan anda telah memasuki usia 3 bulan. Konsumsilah berbagai makanan kaya kalsium dan vitamin D seperti susu dan produknya, keju, dan yogurt bagi perkembangan gigi, gusi, dan tulang bayi anda.   Perawatan Gigi Setelah Melahirkan Bila anda mengalami gangguan kesehatan mulut apapun, baik pada gigi dan gusi, segera periksakan diri anda setelah melahirkan untuk memperoleh penanganan yang mungkin tidak dapat dilakukan selama kehamilan.    Baca juga: Gangguan Tidur Selama Kehamilan Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
 26 Sep 2019    18:00 WIB
Tips Mengatasi Mual dan Muntah Saat Hamil Muda
Mengatasi Mual saat hamil, terutama saat hamil muda, hendaknya dilakukan sebaik mungkin, walaupun mual saat hamil (morning sickness) merupakan hal yang lumrah dialami oleh wanita hamil. Kondisi ini biasanya dialami di trimester pertama dalam kehamilan, dan akan hilang dengan sendirinya saat memasuki trimester kedua dan ketiga. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi mual-muntah pada ibu hamil, agar tidak menimbulkan masalah pada ibu dan janinnya, serta tidak mengganggu aktivitas Anda.Mual dan muntah yang berlebihan akan membuat ibu dan janin menjadi kekurangan gizi. Maka mual dan muntah ini harus dikurangi,Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi mual ini adalah: 1. Ubah kebiasaan makan.Pada kondisi hamil awal, biasanya ibu hamil akan sulit makan karena rasa mual. Agar tak kekurangan nutrisi, jangan makan sekaligus dalam porsi yang besar, tapi cobalah untuk makan sedikit-sedikit dalam porsi kecil namun sering. "Sehingga dalam sehari bisa makan 4-5 kali sehari, dalam porsi kecil. Hal ini untuk mencegah perut kosong dan mempertahankan kestabilan kadar gula darah," tukas dokter ini.2. Konsumsi gizi seimbang.Ketika hamil, makanlah banyak makanan yang tinggi karbohidrat, dan tinggi protein. Jangan lupa untuk mengonsumsi buah-buahan dan sayur sebagai pelengkap gizi seimbang.3. Bergerak perlahan.Biasakan untuk bergerak perlahan, dan hindari bergerak dengan gerakan refleks dan cepat. Saat bangun pagi, jangan terburu-buru untuk bangun dan berdiri. Duduklah sebentar dan bersandar pada tempat tidur. Setelah beberapa saat, baru bergerak perlahan dan berdiri.4. Siapkan camilan.Bila merasakan mual saat bangun pagi, siapkan camilan seperti biskuit yang menjadi favorit Anda di dekat tempat tidur. Hal ini akan menghindari perut Anda kosong.5. Hindari makanan tertentu.Ketika hamil, biasanya penciuman akan menjadi lebih sensitif. "Sehingga bila ada bau tertentu akan merangsang rasa mual. Tetapi hal ini berbeda-beda setiap orangnya," tambahnya. Untuk menghindari rasa mual dan muntah, hindari makanan yang berbau tajam, rokok, dan bau yang menyengat lainnya.6. Minum jahe. Selain berfungsi sebagai penghangat badan, jahe juga berfungsi untuk meredakan rasa mual yang diderita ibu hamil. Jika merasa mual, minum saja rebusan jahe sebanyak 250-300 mg sekali minum.7. Konsumsi suplemen.Sampai sekarang, banyak suplemen yang dijual untuk mengurangi rasa mual ketika hamil. Namun, untuk mengurangi mual, konsumsilah suplemen yang mengandung vitamin B6.
 15 Sep 2019    18:00 WIB
Mengapa Kehamilan Ektopik Bisa Terjadi ?
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjadi saat telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim, biasanya pada saluran telur (tuba falopii).PengobatanPada tahap awal terjadinya kehamilan ektopik, terutama bila gejala yang timbul hanya bersifat ringan, maka terdapat kemungkinan bahwa telur yang telah dibuahi tersebut akan mati dengan sendirinya dan diserap oleh tubuh dan tidak memerlukan tindakan lebih lanjut. Pemberian ObatSebuah suntikan obat methotrexate dapat diberikan untuk menghentikan pertumbuhan embrio. Akan tetapi, terapi ini tidak dapat dilakukan pada semua wanita hamil dan hanya dapat dilakukan bila saluran telur belum robek serta saat kehamilan belum berlangsung terlalu lama. Tindakan PembedahanTindakan pembedahan bertujuan untuk mengeluarkan embrio dari dalam saluran telur bila saluran telur masih utuh. Akan tetapi, bila saluran telur telah robek, maka saluran telur ini pun mungkin harus ikut diangkat.Jika saluran telur diduga telah robek, maka diperlukan tindakan pembedahan segera untuk menghentikan perdarahan yang terjadi. Pada beberapa kasus, saluran telur dan indung telur mungkin telah hancur dan harus diangkat.Setelah pengobatan kehamilan ektopik, anda biasanya harus melakukan pemeriksaan darah untuk memastikan bahwa saluran telur yang berisi embrio telah diangkat seluruhnya. Pemeriksaan darah ini bertujuan untuk memeriksa kadar HCG (suatu hormon yang dihasilkan selama kehamilan berlangsung).Hamil Kembali Setelah Mengalami Kehamilan Ektopik, Sulitkah?Sebagian besar wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik dapat kembali hamil dan memiliki kehamilan serta persalinan yang normal. Jika salah satu saluran telur telah diangkat, anda masih dapat hamil karena saluran telur lainnya masih berfungsi dengan normal. Sekitar 65% wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik dapat kembali hamil dalam waktu 18 bulan setelah terjadinya kehamilan ektopik.Dapatkah Kehamilan Ektopik Dicegah?Kehamilan ektopik tidak selalu dapat dicegah, akan tetapi seorang wanita dapat mengurangi resiko kehamilan ektopik dengan melindungi dirinya dari infeksi penyakit menular seksual. Berhenti merokok juga dapat mengurangi resiko terjadinya kehamilan ektopik. Baca juga: Stretch Mark Akibat Kehamilan Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
 15 Sep 2019    16:00 WIB
Pengobatan dan Pencegahan Infeksi Toksoplasma Saat Hamil
Bagaimana Menegakkan Diagnosa Toksoplasmosis Saat Hamil?Untuk menegakkan diagnosa toksoplasmosis, maka dokter biasanya akan melakukan suatu pemeriksaan darah untuk memeriksa adanya antibodi terhadap parasit toksoplasma. Akan tetapi, karena hasil pemeriksaan awal kadangkala berupa positif palsu, maka pemeriksaan darah ini biasanya akan diulang kembali dalam waktu 2-3 minggu setelah pemeriksaan pertama.Apakah Bayi Saya Telah Tertular Toksoplasma?Jika saat anda hamil, hasil pemeriksaan toksoplasma menunjukkan bahwa anda baru saja mengalami infeksi toksoplasma, maka dokter anda akan melakukan berbagai pemeriksaan lainnya untuk memeriksa apakah bayi anda juga telah terinfeksi oleh toksoplasma. Salah satu pemeriksaan untuk memastikan penularan toksoplasma pada bayi anda adalah dengan melakukan amniosintesis. Tindakan amniosintesis ini memang beresiko menyebabkan terjadinya keguguran, walaupun sangat rendah (1%). Pemeriksaan amniosintesis dapat dilakukan kapan saja setelah kehamilan berusia 15 minggu. Pada amniosintesis, dokter akan memasukkan sebuah jarum kecil ke dalam perut ibu untuk mengambil contoh cairan amnion yang berada di sekeliling janin anda di dalam kandungan. Contoh cairan amnion ini kemudian akan diperiksa apakah terdapat antibodi terhadap toksoplasma. Akan tetapi, hasil dari pemeriksaan amniosintesis ini hanya dapat memastikan apakah bayi anda telah terinfeksi oleh toksoplasma atau tidak dan tidak dapat memeriksa sejauh mana gangguan perkembangan yang telah terjadi pada bayi anda.Pengobatan Toksoplasmosis Saat HamilJika anda mengalami toksoplasmosis saat hamil, maka toksoplasmosis biasanya akan diatasi dengan pemberian antibiotika. Mulailah pengobatan sedini mungkin. Spiramisin merupakan antibiotika yang dapat mengurangi resiko penularan infeksi toksoplasma pada bayi anda dan membatasi keparahan infeksi pada bayi anda. Setelah lahir, bayi anda mungkin harus melalui berbagai pemeriksaan meliputi pemeriksaan darah, pemeriksaan mata, dan pemeriksaan foto rontgen atau CT scan untuk memeriksa apakah bayi anda telah tertular oleh toksoplasma. Jika bayi anda terbukti telah terinfeksi oleh toksoplasmosis, maka bayi anda harus menerima berbagai pengobatan pada tahun pertama kehidupannya atau mungkin lebih lama.Pencegahan Infeksi Toksoplasma Saat HamilBeberapa hal yang dapat anda lakukan untuk mencegah infeksi toksoplasma adalah:•  Hindari kontak dengan kotoran kucing dan kucing liar•  Masaklah makanan hingga matang dan simpanlah pada kulkas yang bersuhu 5°C atau kurang•  Bersihkanlah buah dan sayuran yang akan dikonsumsi dengan baik•  Bersihkanlah talenan, celemek, dan pisau anda dengan air panas serta sabun setelah digunakan untuk mengolah makanan mentah•  Selalu gunakan sarung tangan saat berkebun atau saat menyentuh tanah atau pasir dan cucilah tangan dengan baik setelahnyaSumber: webmd