Your browser does not support JavaScript!
 14 Mar 2019    08:00 WIB
Benarkah Konsumsi Vitamin D Dapat Memperpanjang Usia Penderita Kanker Usus Besar?
Sebuah penelitian menemukan bahwa penderita kanker usus besar tahap lanjut yang memiliki kadar vitamin D yang lebih tinggi tampaknya berespon lebih baik terhadap kemoterapi dan obat anti kanker lainnya. Para peneliti menemukan bahwa para penderita yang memiliki kadar vitamin D tertinggi di dalam tubuhnya memiliki angka ketahanan hidup dan kesembuhan yang lebih baik dibandingkan dengan penderita lainnya yang memiliki kadar vitamin D terendah. Para penderita dengan kadar vitamin D yang tinggi dapat hidup sepertiga kali lebih lama dibandingkan dengan penderita lain yang memiliki kadar vitamin D yang rendah. Rata-rata lama  hidup seorang penderita kanker usus besar dengan kadar vitamin D yang tinggi adalah 32.6 bulan, sedangkan lama hidup seorang penderita kanker usus besar dengan kadar vitamin D yang rendah adalah 24.5 bulan. Hasil penelitian ini membuat para ahli semakin yakin bahwa vitamin D mungkin memang berguna sebagai salah satu suplemen pelawan kanker. Akan tetapi, perlu diingat bahwa hasil penelitian ini hanya menunjukkan adanya hubungan antara kadar vitamin D dengan angka ketahanan hidup seorang penderita kanker usus besar dan bukannya suatu hubungan sebab akibat. Oleh karena itu, para ahli tetap tidak menganjurkan para penderita kanker usus besar untuk meningkatkan konsumsi vitamin D nya hingga melebihi batas normal. Pada penelitian ini, para peneliti mengukur kadar vitamin D pada 1.043 orang penderita kanker usus besar yang mengikuti uji klinis obat (tahap 3) bagi kanker usus besar tahap lanjut. Pengobatan tersebut meliputi kemoterapi yang dikombinasikan dengan obat anti kanker lainnya seperti bevacizumab dan atau cetuximab (targeted anti-cancer). Vitamin D sendiri sebenarnya merupakan vitamin yang dapat dibentuk di dalam tubuh manusia dengan bantuan sinar matahari. Vitamin D berfungsi untuk meningkatkan penyerapan kalsium dan berbagai mineral penting lainnya di dalam usus; yang berfungsi untuk menjaga kekuatan dan kesehatan tulang. Selain itu, vitamin D juga mempengaruhi fungsi selular dalam berbagai aspek yang tampaknya bermanfaat untuk pengobatan kanker. Vitamin D dapat mengurangi atau memperlambat pertumbuhan sel, memicu terjadinya kematian sel kanker, dan menghambat pembentukan pembuluh darah baru yang berfungsi untuk memberi makan sel-sel kanker. Para peneliti menemukan bahwa penderita kanker tertentu cenderung memiliki kadar vitamin D yang lebih rendah. Orang-orang yang biasanya memiliki kadar vitamin D yang rendah adalah orang yang tinggal di negara yang memiliki 4 musim (terutama di musim dingin dan musim gugur), orang yang tinggal di Amerika bagian utara dan timur laut, orang lanjut usia, keturunan Afrika, orang yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas, orang yang jarang berolahraga, dan orang yang memiliki keadaan kesehatan yang buruk. Para peneliti membagi peserta penelitian menjadi 5 kelompok berdasarkan pada kadar vitamin D di dalam darahnya, yaitu dari rendah hingga tinggi. Setelah menyesuaikan data dengan prognosis dan perilaku sehat setiap penderita, para peneliti menemukan bahwa para penderita yang memiliki kadar vitamin D paling tinggi ternyata dapat hidup sekitar 8 bulan lebih lama dibandingkan dengan penderita lainnya yang memiliki kadar vitamin D paling rendah. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa diperlukan waktu lebih lama bagi sel kanker untuk berkembang pada orang yang memiliki kadar vitamin D yang lebih tinggi yaitu sekitar 12.2 bulan dibandingkan dengan para penderita yang memiliki kadar vitamin D yang paling rendah, yaitu sekitar 10 bulan. Para peneliti tidak menemukan adanya perbedaan yang cukup signifikan di antara para penderita yang menerima pengobatan kanker yang berbeda-beda.   Sumber: newsmaxhealth  
 20 Feb 2019    18:00 WIB
Kenali Gejala Luka Pada Usus Besar Sejak Dini
Luka pada usus besar atau dalam istilah kedokteran disebut dengan kolitis ulserativa dapat terjadi pada siapa saja, termasuk anak remaja. Kolitis ulserativa merupakan suatu keadaan di mana terjadi peradangan saluran cerna, yaitu pada usus besar dan rektum (bagian usus yang berhubungan dengan anus).GejalaGejala kolitis ulserativa yang dapat ditemukan adalah:•  Diare atau adanya keinginan mendesak untuk buang air besar. Beberapa penderita mungkin dapat mengalami diare hingga 10-20 kali setiap harinya. Keinginan mendesak untuk buang air besar seringkali membuat anda terbangun di malam hari•  Keluarnya darah dari anus. Kolitis ulserativa biasanya menyebabkan terjadinya diare yang disertai dengan darah dan lendir. •  Nyeri perut atau kram perut. Perut anda dapat terasa nyeri saat disentuh•  Sembelit (lebih jarang). Terjadinya gejala ini tergantung pada bagian usus besar mana yang terkena•  Hilangnya nafsu makan•  Demam (pada keadaan berat)•  Anemia karena penurunan kadar zat besi akibat seringnya darah keluar melalui anus bersamaan dengan tinja karena terjadinya peradangan pada usus Berbagai gangguan kesehatan lain yang memiliki gejala yang mirip dengan kolitis ulserativa adalah penyakit Crohn, divertikulitis, irritable bowel syndrome, dan kanker usus besar.PengobatanPengobatan yang diberikan pada penderita kolitis ulserativa bertujuan untuk mengurangi gejala, mempercepat proses penyembuhan jaringan, mencegah terjadinya kekambuhan, dan mencegah perlu dilakukannya tindakan pembedahan. Obat-obatan yang digunakan tergantung pada seberapa berat keadaan penderita, bagian usus besar yang terkena, dan komplikasi apa yang telah terjadi. Untuk mengatasi kolitis ulserativa ringan hingga sedang, dokter biasanya akan memberikan obat aminosalisilat, yang dapat meredakan peradangan pada usus dan membantu proses penyembuhan serta mencegah kekambuhan. Bila gejala terus berlangsung, maka dokter mungkin akan memberikan obat golongan steroid untuk membantu meredakan peradangan pada usus. Untuk kolitis ulserativa berat, maka dibutuhkan pengobatan yang lebih intensif (dapat berupa pengobatan tunggal maupun kombinasi). Beberapa obat yang sering digunakan adalah:•  Obat-obatan yang berfungsi untuk menekan sistem kekebalan tubuh•  Siklosporin•  Kortikosteroid intravena (disuntikkan) Jika anda sedang hamil atau berencana untuk hamil atau sedang menyusui, maka jangan lupa untuk memberitahukan pada dokter anda sehingga dokter dapat menyesuaikan pengobatan anda. Kadangkala, kolitis ulserativa berat dapat membahayakan bayi anda, bahkan lebih berbahaya daripada obat-obatan yang anda konsumsi untuk meredakan gejala kolitis ulserativa. Sumber: webmd
 24 Jan 2019    12:00 WIB
Berbagai Hal yang Dapat Meningkatkan Resiko Terjadinya Kanker Usus Besar
Kanker usus besar (kanker kolorektal) merupakan jenis kanker yang cukup sering terjadi (urutan keempat), baik pada pria maupun wanita di Amerika Serikat. Mengetahui apa saja hal yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker usus besar ini dapat membantu Anda mencegah terjadinya penyakit ini atau setidaknya menurunkan resiko terjadinya kanker ini.   Faktor Resiko Umum Usia Walaupun kanker usus besar dapat terjadi pada semua usia, akan tetapi resiko kanker ini akan meningkat secara drastic saat seseorang berusia lebih dari 50 tahun. Ras dan Etnis Seorang keturunan Afrika-Amerika memiliki resiko paling tinggi untuk menderita jenis kanker ini. Selain itu, seorang keturunan Yahudi juga memiliki resiko menderita kanker usus besar yang lebih tinggi.   Berat Badan Memiliki berat badan berlebih atau mengalami obesitas juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker usus besar.   Faktor Genetika Bila ada anggota keluarga Anda yang menderita kanker usus besar, maka kemungkinan Anda untuk menderita kanker ini juga menjadi lebih tinggi. Kombinasi antara gen dan lingkungan juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker usus besar. Selain itu, terdapat beberapa gangguan kesehatan lainnya (kelainan bawaan) yang juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker usus besar seperti poliposis adenomatosa familial, kanker kolorektal non poliposis, sindrom Lynch, sindrom Turcot, dan sindrom Peutz-Jeghers.   Gaya Hidup Mengkonsumsi banyak daging merah dan daging olahan juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker usus besar. Selain itu, mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang digoreng, dipanggang, atau dimasak pada suhu yang sangat tinggi juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker usus besar karena terbentuknya beberapa jenis bahan kimia berbahaya. Memiliki gaya hidup tidak aktif juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker usus besar. Selain itu, merokok dan mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker usus besar.   Gangguan Kesehatan Lainnya Menderita gangguan kesehatan tertentu juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker usus besar. Beberapa gangguan kesehatan tersebut adalah: Pernah menderita kanker usus besar atau polip Menderita gangguan saluran pencernaan seperti kolitis ulserativa dan penyakit Crohn Menderita diabetes tipe 2   Sumber: cancercenter
 16 Oct 2018    08:00 WIB
Cegah Kanker Usus Dengan Mengkonsumsi Minuman Tradisional
Anda mungkin sudah sering mendengar bahwa teh hijau dapat membantu mencegah terjadinya berbagai jenis kanker, akan tetapi benarkah teh hijau dapat mencegah terjadinya kanker usus besar? Menurut berbagai penelitian baru, hal ini mungkin saja. Teh hijau sendiri sebenarnya dibuat dari tanaman Camellia sinensis, yang juga digunakan untuk membuat teh hitam dan teh putih. Teh putih merupakan jenis teh yang paling sedikit melalui proses (daun teh hanya dikukus dan dikeringkan), sedangkan teh hitam merupakan jenis teh yang paling banyak melalui proses (daun teh dibiarkan layu, digulung, difermentasi, kemudian dipanggang). Teh hijau berada di antaranya. Perbedaan terbesar antara teh hijau dengan teh hitam adalah daun teh hitam melalui proses fermentasi, sedangkan daun teh hijau tidak. Berdasarkan berbagai penelitian terdahulu yang dilakukan pada hewan percobaan dan sel, teh hijau memiliki beberapa manfaat di bawah ini, yaitu: Menyebabkan kematian sel kanker Menghambat penyebaran sel kanker Menghambat pembentukan dan pertumbuhan sel kanker Menurunkan proses radang di dalam tubuh yang dapat memicu terjadinya kanker Menghambat aktivitas gen yang berfungsi sebagai penghambat pertumbuhan tumor di dalam berbagai sel Mengurangi kerusakan sel Memperbaiki komunikasi antar sel tubuh Mengatur siklus pertumbuhan sel Mengandung antioksidan yang dapat melindungi sel   Baca juga: 7 Manfaat Teh Hijau   Untuk mencari tahu apakah benar teh hijau dapat mencegah terjadinya kanker usus besar, para peneliti pun melakukan sebuah percobaan klinis. Dengan bantuan 136 orang penderita adenoma usus besar, para peneliti pun memulai percobaannya. Adenoma usus besar adalah tumor jinak pada usus besar yang dapat berubah menjadi kanker bila tidak segera diobati (diangkat). Setelah para peserta melakukan 2 tindakan kolonoskopi untuk mengangkat adenoma, para peneliti pun membagi para peserta penelitian menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok pertama diminta untuk mengkonsumsi teh hijau setiap hari (rata-rata mengkonsumsi 6 gelas teh hijau setiap harinya), sedangkan kelompok kedua diminta untuk mengkonsumsi teh hijau dan suplemen teh hijau (setara dengan 10 gelas teh hijau setiap harinya, 6 gelas teh hijau biasa ditambah dengan suplemen). Satu tahun kemudian, para peserta penelitian diminta untuk melakukan pemeriksaan kolonoskopi kembali. Para peneliti pun menemukan 3 hal di bawah ini, yaitu: 31% peserta di kelompok pertama kembali menderita adenoma 15% peserta di kelompok kedua kembali menderita adenoma Dibandingkan dengan kelompok pertama, para peserta penelitian di kelompok kedua memiliki resiko yang lebih rendah untuk kembali menderita adenoma (50% lebih rendah) Jadi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mengkonsumsi 10 gelas teh hijau setiap harinya dapat menurunkan resiko terjadinya lesi pra kanker pada usus besar secara signifikan. Walaupun demikian, para peserta penelitian telah merasakan adanya manfaat baik teh hijau pada kesehatan mereka hanya dengan mengkonsumsi 3-5 gelas teh hijau setiap harinya. Satu hal yang perlu diingat adalah bila Anda mengkonsumsi bortezomib, salah satu jenis obat kemoterapi, dianjurkan agar Anda tidak mengkonsumsi teh hijau dan suplemennya karena dapat menurunkan efektivitas obat tersebut. Bila Anda tidak mengkonsumsi obat di atas, maka tidak ada salahnya bila Anda mengkonsumsi teh hijau setiap harinya. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang  Sumber: abouthealth
 24 Jan 2018    11:00 WIB
Ayo Cegah Kanker Usus Besar Dengan Melakukan 6 Hal Ini!
Seiring dengan semakin bertambahnya usia Anda, maka resiko Anda untuk menderita berbagai jenis kanker pun akan meningkat, termasuk kanker usus besar. Sebenarnya ada 2 hal yang dapat Anda lakukan untuk mengantisipasi datangnya kanker usus besar ini, yaitu dengan melakukan pemeriksaan kolonoskopi secara teratur dan lakukan gaya hidup sehat. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa kebiasaan sehat yang dapat Anda lakukan untuk membantu mencegah terjadinya kanker usus besar.   Olahraga Secara Teratur Menjaga berat badan ideal dan berolahraga teratur dapat membantu menurunkan resiko terjadinya kanker usus besar. Cobalah untuk berjalan kaki sebanyak 10.000 langkah (sekitar 6-9 km) setiap harinya atau berolahraga selama setidaknya 30 menit dengan intensitas sedang (membuat Anda berkeringat dan denyut jantung meningkat) sebanyak 5 hari setiap minggunya. Jika Anda tampaknya tidak dapat melakukan keduanya, maka olahraga ringan pun dapat membantu, yang penting Anda berolahraga setiap harinya.   Perbanyak Konsumsi Buah, Sayuran, dan Gandum Utuh Dengan mengkonsumsi banyak buah, sayuran, dan gandum utuh (terutama buah dan sayuran berwarna terang), resiko kanker usus besar pun akan menurun. Selain itu, jangan lupa untuk mengkonsumsi banyak air putih saat Anda mengkonsumsi makanan berserat.   Konsumsi Makanan Sumber Bakteri Baik Yogurt dan berbagai jenis makanan yang mengandung bakteri baik dapat membantu meningkatkan kesehatan saluran pencernaan dan meningkatkan daya tahan tubuh Anda. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa bakteri baik ini dapat membantu menurunkan resiko terjadinya kanker usus besar. Berbagai jenis makanan yang difermentasi seperti kefir, sauerkraut, acar, miso, dan kimchi mengandung bakteri baik (probiotik).   Baca juga: Tanda Awal Usus Buntu   Batasi Konsumsi Lemak Jenuh dan Garam Kurangilah konsumsi daging merah dan daging yang digoreng, diasap, dan diasinkan. Berbagai jenis makanan laing yang mengandung banyak lemak jenuh dan garam adalah keju, pizza, dan makanan siap saji. Sebaliknya, konsumsilah makanan yang mengandung banyak asam lemak omega 3 seperti ikan salmon.   Batasi Konsumsi Minuman Beralkohol Penelitian telah menunjukkan bahwa mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan (3 gelas atau lebih setiap hari) dapat berpengaruh buruk terhadap metabolisme berbagai jenis nutrisi yang dapat menurunkan resiko terjadinya kanker usus besar.   Hindari Rokok Menurut berbagai penelitian, selain dapat meningkatkan resiko terjadinya semua jenis kanker, merokok juga telah diketahui dapat meningkatkan resiko terjadinya kematian pada para penderita kanker usus besar.   Jadi, cara terbaik untuk mencegah terjadinya kanker usus besar adalah dengan melakukan gaya hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan (screening) sejak dini, yaitu saat Anda berusia 50 tahun.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: everydayhealth
 09 Feb 2015    09:00 WIB
Berbagai Gejala Kanker Usus Besar yang Perlu Diwaspadai
Pada stadium awal, kanker usus besar mungkin hanya memiliki gejala minimal atau bahkan sama sekali tidak bergejala. Seiring dengan semakin berkembangnya penyakit, berbagai gejala pun akan mulai bermunculan atau gejala yang ada akan semakin berat. Karena gejala kanker usus besar seringkali tidak timbul hingga penyakit mencapai stadium lanjut, maka diperlukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk mengetahui adanya kanker usus besar sedini mungkin, terutama bila Anda telah berusia lebih dari 50 tahun. Akan tetapi, bila Anda berusia kurang dari 50 tahun dan memiliki anggota keluarga lain yang menderita kanker usus besar, maka jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter Anda mengenai kapan Anda sebaiknya mulai melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Gejala kanker usus besar (kanker kolorektal) terbagai menjadi 2 kategori, yaitu gejala lokal dan gejala sistemik. Gejala lokal merupakan berbagai gejala yang terjadi akibat efek langsung dari usus besar. Beberapa gejala lokal yang dapat ditemukan adalah: Perubahan pola buang air besar Sembelit Diare Sembelit dan diare yang terjadi secara bergantian Keluarnya darah dari dalam anus atau adanya darah di tinja Perut terasa kembung atau kram atau tidak nyaman Rasa bahwa BAB tidak lampias Tinja yang berbentuk lebih kecil daripada normal Gejala sistemik merupakan gejala yang dapat terjadi di dalam seluruh tubuh penderita. Beberapa gejala sistemik kanker usus besar yang dapat ditemukan adalah: Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas Penurunan nafsu makan tanpa penyebab yang jelas Mual atau muntah Anemia Jaundice yaitu suatu keadaan di mana kulit dan atau bagian putih mata berwarna kekuningan Badan terasa lemah atau merasa sangat lelah   Sumber: cancercenter
 24 May 2014    09:00 WIB
Benarkah Teh Herbal Dapat Mencegah Kanker Usus Besar?
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa mengkonsumsi teh herbal, walaupun hanya satu kali seminggu dapat menurunkan resiko terjadinya kanker usus besar.  Pada penelitian ini, para peneliti membandingkan berbagai manfaat antara kopi panas, es kopi, teh herbal, dan teh hitam untuk mencegah terjadinya kanker usus besar, baik bagian proksimal, distal, maupun rektum.Pada penelitian ini, para peneliti berhasil menemukan adanya hubungan yang kuat antara konsumsi teh herbal dengan penurunan resiko kanker usus. Akan tetapi, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan bukti pasti hubungan ini.Pada penelitian ini, para peneliti membandingkan keadaan kesehatan antara 854 orang yang mengkonsumsi kopi dan teh dengan 948 orang yang tidak mengkonsumsi kopi maupun teh di Australia barat, di antara tahun 2005-2007.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi teh herbal memiliki hubungan dengan penurunan resiko kanker kolorektal bagian bawah. Efek ini tidak ditemukan pada orang yang mengkonsumsi teh hitam (dengan atau tanpa susu), teh hijau, kopi tanpa kafein, dan susu.Salah satu penyebab orang yang mengkonsumsi teh herbal memiliki resiko kanker yang lebih rendah adalah mungkin karena mereka memang mengkonsumsi diet yang lebih sehat daripada orang yang tidak mengkonsumsi teh herbal tersebut. Teh herbal ini mungkin hanya merupakan penanda bahwa orang tersebut mengkonsumsi diet sehat dan bukanlah penyebab sebenarnya.Karena banyaknya jenis teh herbal saat ini, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan teh jenis mana yang memberikan manfaat yang lebih baik di antara the lainnya. Para peneliti masih membutuhkan penelitian yang lebih lanjut dan lebih lengkap, yang meliputi jenis teh apa yang dikonsumsi dan para peneliti pun harus mengamati keadaan kesehatan peminum teh herbal ini selama beberapa puluh tahun untuk memastikan efek tersebut.Sumber: newsmaxhealth