Your browser does not support JavaScript!
 03 Jul 2019    18:00 WIB
Turunkan Resiko Kanker Usus Dengan Makanan Berikut
Para peneliti telah lama menemukan bahwa sayuran memang memiliki suatu zat yang dapat melawan perkembangan sel kanker. Sekarang ini, sebuah penelitian baru menemukan bahwa sayuran dapat menurunkan resiko terjadinya salah satu jenis kanker yang sering terjadi pada orang dewasa muda, yaitu kanker usus besar (kanker kolorektal). Pada penelitian ini, para peneliti mengamati pola makan sekitar 77.000 orang dewasa, dan kemudian memeriksa berapa banyak peserta yang menderita kanker usus besar 7 tahun kemudian. Para peneliti menemukan bahwa peserta yang hanya mengkonsumsi sayuran (vegetarian) memiliki resiko kanker usus besar yang lebih rendah, yaitu hingga 20% lebih rendah dibandingkan dengan peserta lain yang masih mengkonsumsi daging. Sementara itu, peserta penelitian yang merupakan peskovegetarian (vegetarian yang masih memakan ikan) memiliki resiko kanker usus besar yang lebih rendah lagi, yaitu hingga 43% lebih rendah. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa jenis makanan yang dapat membantu menurunkan resiko terjadinya kanker usus besar pada Anda.   Ikan Kandungan asam lemak omega 3 yang terdapat di dalam ikan seperti ikan salmon dan ikan tuna dapat mengurangi proses peradangan di dalam usus (berhubungan dengan pembentukan sel kanker).   Oatmeal Oatmeal merupakan makanan yang mengandung banyak serat. Serat dapat membantu proses pencernaan menjadi lebih lancar, sehingga Anda pun lebih jarang mengalami sembelit. Mengapa hal ini penting? Hal ini dikarenakan semakin lama zat sisa (kotoran/tinja) terdapat di dalam tubuh Anda, maka semakin banyak racun yang ikut masuk ke dalam tubuh Anda, dan semakin besar kemungkinan DNA Anda mengalami kerusakan, yang berujung pada terjadinya kanker.   Minyak Zaitun Minyak zaitun atau yang lebih dikenal dengan nama olive oil mengandung asam lemak omega 2 yang juga dapat mengurangi proses radang di dalam tubuh, sehingga resiko terjadinya kanker usus besar pun menjadi lebih rendah.   Kacang-kacangan Beberapa jenis kacang-kacangan seperti kacang hitam dan kacang merah, mengandung banyak asam folat, sejenis vitamin B yang dapat membantu memperbaiki DNA abnormal yang terdapat di dalam saluran pencernaan. Selain itu, kacang-kacangan juga mengandung serat yang dapat membantu kerja saluran pencernaan Anda.   Baca juga: 5 Makanan Penjaga Kesehatan Usus   Buah dan Sayuran Kandungan serat yang terdapat di dalam buah dan sayuran dapat membantu kerja saluran pencernaan Anda. Selain itu, buah dan sayuran juga mengandung berbagai mikronutrien yang dapat menurunkan resiko terjadinya kanker usus besar. Oleh karena itu, dianjurkan agar Anda mengkonsumsi 6-8 porsi buah dan sayuran setiap harinya untuk mencukupi kebutuhan mikronutrien penting tersebut.   Kunyit Kunyit mengandung suatu zat yang disebut dengan kurkumin, yang dapat melindungi saluran pencernaan dan mencegah atau memperlambat pertumbuhan sel kanker usus besar.   Tomat Tomat mengandung banyak likopen, yang dapat menurunkan resiko terjadinya kanker usus besar. Tomat yang telah dimasak bahkan mengandung lebih banyak likopen di dalamnya.   Selain meningkatkan konsumsi berbagai makanan di atas, terdapat 2 makanan yang perlu Anda hindari seperti yang akan dibahas di bawah ini.   Daging Olahan Daging merah telah diketahui dapat meningkatkan resiko terjadinya berbagai jenis kanker. Akan tetapi, daging olahan yang biasanya mengandung banyak natrium nitrat, sejenis pengawet makanan yang telah diketahui berhubungan dengan terjadinya kanker usus besar.   Gula Sukrosa merupakan sejenis gula yang banyak ditemukan di dalam gula pasir. Sukrosa akan "memaksa" pankreas untuk mengeluarkan lebih banyak insulin, yang akan mempengaruhi jumlah sejenis zat kimia yang diproduksi oleh hati yang berhubungan dengan terjadinya kanker usus besar. Oleh karena itu, gantilah gula Anda dengan madu.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: womenshealthmag
 16 Oct 2018    08:00 WIB
Cegah Kanker Usus Dengan Mengkonsumsi Minuman Tradisional
Anda mungkin sudah sering mendengar bahwa teh hijau dapat membantu mencegah terjadinya berbagai jenis kanker, akan tetapi benarkah teh hijau dapat mencegah terjadinya kanker usus besar? Menurut berbagai penelitian baru, hal ini mungkin saja. Teh hijau sendiri sebenarnya dibuat dari tanaman Camellia sinensis, yang juga digunakan untuk membuat teh hitam dan teh putih. Teh putih merupakan jenis teh yang paling sedikit melalui proses (daun teh hanya dikukus dan dikeringkan), sedangkan teh hitam merupakan jenis teh yang paling banyak melalui proses (daun teh dibiarkan layu, digulung, difermentasi, kemudian dipanggang). Teh hijau berada di antaranya. Perbedaan terbesar antara teh hijau dengan teh hitam adalah daun teh hitam melalui proses fermentasi, sedangkan daun teh hijau tidak. Berdasarkan berbagai penelitian terdahulu yang dilakukan pada hewan percobaan dan sel, teh hijau memiliki beberapa manfaat di bawah ini, yaitu: Menyebabkan kematian sel kanker Menghambat penyebaran sel kanker Menghambat pembentukan dan pertumbuhan sel kanker Menurunkan proses radang di dalam tubuh yang dapat memicu terjadinya kanker Menghambat aktivitas gen yang berfungsi sebagai penghambat pertumbuhan tumor di dalam berbagai sel Mengurangi kerusakan sel Memperbaiki komunikasi antar sel tubuh Mengatur siklus pertumbuhan sel Mengandung antioksidan yang dapat melindungi sel   Baca juga: 7 Manfaat Teh Hijau   Untuk mencari tahu apakah benar teh hijau dapat mencegah terjadinya kanker usus besar, para peneliti pun melakukan sebuah percobaan klinis. Dengan bantuan 136 orang penderita adenoma usus besar, para peneliti pun memulai percobaannya. Adenoma usus besar adalah tumor jinak pada usus besar yang dapat berubah menjadi kanker bila tidak segera diobati (diangkat). Setelah para peserta melakukan 2 tindakan kolonoskopi untuk mengangkat adenoma, para peneliti pun membagi para peserta penelitian menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok pertama diminta untuk mengkonsumsi teh hijau setiap hari (rata-rata mengkonsumsi 6 gelas teh hijau setiap harinya), sedangkan kelompok kedua diminta untuk mengkonsumsi teh hijau dan suplemen teh hijau (setara dengan 10 gelas teh hijau setiap harinya, 6 gelas teh hijau biasa ditambah dengan suplemen). Satu tahun kemudian, para peserta penelitian diminta untuk melakukan pemeriksaan kolonoskopi kembali. Para peneliti pun menemukan 3 hal di bawah ini, yaitu: 31% peserta di kelompok pertama kembali menderita adenoma 15% peserta di kelompok kedua kembali menderita adenoma Dibandingkan dengan kelompok pertama, para peserta penelitian di kelompok kedua memiliki resiko yang lebih rendah untuk kembali menderita adenoma (50% lebih rendah) Jadi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mengkonsumsi 10 gelas teh hijau setiap harinya dapat menurunkan resiko terjadinya lesi pra kanker pada usus besar secara signifikan. Walaupun demikian, para peserta penelitian telah merasakan adanya manfaat baik teh hijau pada kesehatan mereka hanya dengan mengkonsumsi 3-5 gelas teh hijau setiap harinya. Satu hal yang perlu diingat adalah bila Anda mengkonsumsi bortezomib, salah satu jenis obat kemoterapi, dianjurkan agar Anda tidak mengkonsumsi teh hijau dan suplemennya karena dapat menurunkan efektivitas obat tersebut. Bila Anda tidak mengkonsumsi obat di atas, maka tidak ada salahnya bila Anda mengkonsumsi teh hijau setiap harinya. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang  Sumber: abouthealth
 29 Jun 2018    13:00 WIB
Tanda Awal Usus Buntu
Radang usus buntu atau istilah medisnya appendicitis adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada jaringan usus buntu atau appendiks. Jaringan appendiks adalah kantung kecil jaringan yang memanjang dari usus besar pada sisi sebelah kanan bawah perut, yang dapat diangkat dengan mudah tanpa menyebabkan efek samping pada tubuh. Appendisitis terjadi ketika terdapat penyumbatan di lumen appendiks (lubang tempat untuk masuk kedalam jaringan appendiks) menyebabkan jaringan appendiks terisi oleh lendir dan hal ini membuat jaringan appendiks lebih rentan terkena infeksi bakteri yang mengakibatkan terjadinya pembengkakan dari jaringan appendiks. Appendisitis memerlukan penanganan medis yang segera, karena apabila terlambat dapat menyebabkan appendiks ini pecah dan menyebarkan bakteri dan terjadi infeksi di seluruh daerah perut, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan yang berbahaya. Ada 3 tipe appendisitis: Akut Kronis appendisitis perforata. Tanda-tanda awal dari usus buntu adalah nyeri di perut bagian bawah. Namun selain gejala tersebut, kenali gejala lain dari penyakit usus buntu Nyeri di pusar Tanda awal dari radang usus buntu adalah rasa nyeri atau ketidaknyamanan di daerah pusar. Nyeri ini kemudian menjalar hingga ke perut kanan bagian bawah. Rasa sakit perut yang sangat menyiksa Rasa sakit yang dirasakan pada awal hanya berupa rasa sakit yang ringan dan kemudian akan bertahap menjadi rasa sakit yang berat dan menyiksa. Hal ini bisa terjadi dalam beberapa jam dan dapat mengganggu aktivitas Anda. Salah satu tanda khas usus buntu adalah nyeri perut kanan bawah yang tidak tertahankan, bahkan terkadang sampai menimbulkan keringat dingin. Demam Radang usus buntu biasanya diawali dengan demam ringan dan sakit perut. Apabila penyakit ini semakin bertambah, maka demam akan naik. Mual dan muntah Gejala lain dari pecahnya usus buntu adalah mual yang diikuti dengan muntah. Diare Dalam banyak kasus, sakit perut diikuti dengan diare ringan. Apabila Anda juga mengalami hal ini, segera kunjungi dokter. Kembung Kembung dan gas di perut mungkin adalah gejala yang tidak berat. Namun apabila kembung disertai dengan rasa sakit luar biasa di perut bagian bawah, berkonsultasilah dengan dokter. Itulah tanda-tanda awal penyakit usus buntu. Apabila Anda merasakan tanda tersebut, segera kunjungi dokter.  Baca juga: Pengobatan Untuk Usus Buntu Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: merdeka
 17 Feb 2015    12:00 WIB
Hubungan Makanan Dengan Usus Sehat
Saluran pencernaan Anda memiliki 100 trilyun bakteri. Para peneliti telah menemukan bahwa mikroba tersebut mempunyai masing-masing peran yang penting dalam mempengaruhi kesehatan. Sebagai contoh salah bakteri yang menguntungkan yang dikenal sebagai probiotik, telah terbukti: Meningkatkan respon kekebalan tubuh dan mengurangi peradangan Menghasilkan vitamin, menyerap mineral dan menghilangkan racun Mengontrol asma dan mengurangi risiko alergi Mempengaruhi mood dan kesehatan mental Menjaga berat badan Selain itu bakteri yang menguntungkan juga mengontrol pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Hal ini penting karena bakteri patogen dan mikroba lainnya yang kurang menguntungkan dapat mengganggu kesehatan Anda selain itu juga dapat mempengaruhi berat badan Anda. Ada satu hipotesis yang menyatakan bahwa mungkin bakteri usus Anda mengendalikan nafsu makan Anda. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan antara makanan yang Anda konsumsi dengan komposisi mikrobiota dalam usus Anda, karena ketergantungan mikrobiota tersebut pada nutrisi yang Anda konsumsi untuk kelangsungan hidup mereka. Mikroba yang membutuhkan gula untuk berkembang akan memberi sinyal pada otak Anda untuk konsumsi lebih banyak permen. Penelitian lain menunjukkan bahwa bakteri tertentu yang ditemukan dalam usus dapat menyebabkan terjadinya gangguan produksi insulin dan mempengaruhi berat badan dengan memicu terjadinya peradangan kronis tingkat rendah dalam tubuh Anda. Pengolahan makanan, pasteurisasi, dan sterilisasi juga memiliki efek yang merugikan pada mikroba Anda. Untuk semua alasan ini maka sebaiknya Anda selalu mengkonsumsi makanan yang kaya akan nutrisi bukan konsumsi makanan olahan. Sumber: articlesmercola
 26 Mar 2014    14:00 WIB
Pemeriksaan Kolonoskopi Baik Dilakukan, Tetapi Belum Sempurna
Menurut penelitian, sebanyak 6% dari kanker usus gagal dideteksi melalui pemeriksaan kolonoskopi.  Dr. N. Jewel Samadder, dari the Huntsman Cancer Institute di the University of Utah, mengatakan "kami menemukan kolonoskopi ternyata tidak sempurna, karena kami menemukan beberapa kasus kanker usus yang tidak dapat dideteksi oleh kolonoskopi." Kanker usus kebanyakan terjadi pada pasien berusia 65 tahun keatas, pasien yang memiliki riwayat keluarga penderita kanker usus dan pasien yang memiliki riwayat polip usus. Pemeriksaan kolonoskopi dilakukan dengan cara memasukkan alat berbentuk tabung yang dilengkapi kamera khusus ke dalam tubuh melalui rektum untuk mencari tanda-tanda awal kanker didalam usus.Para peneliti mengumpulkan data dari pasien yang mengikuti prosedur kolonoskopi di Utah AS selama tahun 1995-2009. Ternyata sebanyak 6% dari pasien yang dinyatakan bebas kanker melalui pemeriksaan kolonoskopi ternyata mengidap kanker usus pada tiga sampai lima tahun berikutnya. Menurut studi, kanker ini mungkin terlewat saat deteksi dengan kolonoskopi atau kanker ini berkembang setelah pemeriksaan dilakukan. Pemeriksaan kolonoskopi untuk deteksi dini kanker usus harus dilakukan setiap 10 tahun sekali pada orang-orang berusia 50 tahun keatas dan 5 tahun sekali pada orang-orang yang memiliki faktor resiko.Peneliti juga mengungkapkan, banyak sel kanker ditemukan pada sisi kanan usus, yang merupakan daerah yang sulit dijangkau oleh kamera kolonoskopi. Dengan memahami keterbatasan dari kolonoskopi kita dapat memperbaiki penggunaannya dan memaksimalkan kemampuannya agar mengurangi angka kejadian dari kanker usus.Sumber: webmd