Your browser does not support JavaScript!
 30 Apr 2019    08:00 WIB
Kenali Kanker Ovarium dan Faktor Resikonya
Apa Itu Kanker Ovarium? Kanker ovarium merupakan suatu jenis kanker yang berasal dari ovarium (indung telur), yang berfungsi untuk menghasilkan sel telur pada wanita dan merupakan sumber utama hormon estrogen dan progesteron pada wanita.   Faktor Resiko Terjadinya Kanker Ovarium Riwayat Keluarga Kemungkinan seorang wanita menderita kanker ovarium meningkat bila ada anggota keluarga lain yang mengalami kanker ovarium, kanker payudara, atau kanker usus besar. Para ahli menduga adanya pengaruh suatu gen, termasuk BRCA1 dan BRCA2. Usia Faktor resiko utama kanker ovarium adalah usia. Kanker ovarium paling sering mengenai wanita yang telah memasuki masa menopause. Penggunaan terapi sulih hormon dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker ovarium. Kejadian kanker ovarium lebih tinggi pada wanita yang menggunakan estrogen tanpa progesteron selama setidaknya 5-10 tahun. Obesitas Wanita yang mengalami obesitas memiliki resiko menderita kanker ovarium lebih tinggi daripada wanita dengan berat badan ideal.   Gejala Berbagai gejala kanker ovarium yang dapat ditemukan adalah: Perut kembung atau terasa adanya tekanan di dalam perut Nyeri perut Nyeri panggul Cepat merasa kenyang Lebih sering buang air kecil Berbagai gejala di atas juga dapat disebabkan oleh berbagai hal lainnya selain kanker. Segera hubungi dokter anda bila anda mengalami berbagai gejala di atas setiap hari selama lebih dari beberapa minggu.   Deteksi Dini Kanker Ovarium Terdapat dua cara untuk mendeteksi kanker ovarium sedini mungkin, yaitu sebelum kanker menimbulkan gejala apapun atau tampak pada pemeriksaan apapun. Cara ke satu adalah melalui pemeriksaan CA-125 di dalam darah dan USG abdomen (perut).   Apakah Saya Menderita Kanker Ovarium? CT scan dapat memperlihatkan adanya massa pada ovarium. Akan tetapi, pemeriksaan ini tidak dapat menentukan apakah massa tersebut merupakan suatu tumor jinak atau kanker. Pemeriksaan lainnya yang dapat memastikan diagnosa adalah pemeriksaan biopsi. Terdapat beberapa jenis kanker ovarium, yang tersering adalah karsinoma ovarium epitelial. Kanker ovarium jenis ini terbentuk dari sel permukaan ovarium. Jenis kanker ovarium lainnya adalah low malignant potensial tumor (tumor LMP). Kanker jenis ini lebih lambat berkembang dan lebih tidak berbahaya daripada jenis kanker ovarium lainnya.   Stadium Kanker Ovarium Disebut kanker ovarium stadium I, bila ditemukan adanya sel kanker pada salah satu atau kedua ovarium. Disebut kanker ovarium stadium II, bila sel kanker telah menyebar ke rahim atau organ lainnya di dekat ovarium. Disebut kanker ovarium stadium III, bila sel kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening dan cabang-cabangnya di daerah perut. Disebut kanker ovarium stadium IV, bila sel kanker telah menyebar ke organ jauh, seperti paru-paru atau hati.   Pilihan Pengobatan Kanker Ovarium Tindakan Pembedahan Tindakan pembedahan biasanya digunakan untuk menentukan diagnosa dan stadium kanker ovarium, sekaligus sebagai pengobatan awal kanker ovarium. Tujuan tindakan pembedahan ini adalah untuk mengangkat sebanyak mungkin sel kanker. Pada kanker ovarium stadium I, dokter bedah biasanya akan mengangkat salah satu ovarium berserta jaringan di sekitarnya. Pada kanker ovarium stadium lanjut, mungkin diperlukan pengangkatan kedua ovarium beserta rahim dan jaringan di sekitarnya. Kemoterapi Pada semua stadium kanker ovarium, kemoterapi biasanya dilakukan setelah tindakan pembedahan. Pada kemoterapi, dokter akan menggunakan suatu obat-obatan yang berfungsi untuk membunuh sel kanker yang masih tersisa di dalam tubuh anda. Obat dapat diberikan melalui mulut, pembuluh darah, atau disuntikkan langsung ke dalam perut (kemoterapi intraperitoneal). Wanita yang menderita tumor LMP biasanya tidak memerlukan tindakan kemoterapi setelah pembedahan, kecuali bila tumor kembali tumbuh. Terapi Sel Target Terapi ini bertujuan untuk menyumbat pembuluh darah yang memberikan nutrisi pada sel kanker dengan menggunakan sebuah obat (avastin). Dengan tersumbatnya pembuluh darah ini, maka diharapkan agar jaringan tumor mengecil dan berhenti bertumbuh.   Efek Pengobatan Bila pengobatan kanker ovarium menyebabkan dokter harus mengangkat kedua ovarium anda, maka anda tidak lagi dapat memproduksi hormon estrogen. Hal ini dapat memicu terjadinya menopause, berapapun usia anda. Selain itu, penurunan kadar hormon estrogen juga dapat meningkatkan resiko terjadinya osteoporosis. Pengobatan kanker seringkali membuat anda merasa lelah dan tidak bersemangat. Berolahraga teratur dapat menjadi salah satu cara untuk mengembalikan tenaga anda dan memperbaiki mood anda.   Berbagai Hal yang Dapat Menurunkan Resiko Kanker Ovarium Kehamilan Wanita yang pernah melahirkan memiliki resiko yang lebih rendah daripada wanita yang tidak pernah melahirkan. Resiko terjadinya kanker ovarium menurun dengan setiap kehamilan. Selain itu, menyusui juga dapat membantu melindungi anda dari kanker ovarium. Pil KB Kanker ovarium juga lebih jarang terjadi pada wanita yang mengkonsumsi pil KB. Wanita yang telah mengkonsumsi pil KB selama 5 tahun memiliki resiko setengah kali lebih rendah daripada wanita yang tidak pernah mengkonsumsi pil KB. Seperti halnya kehamilan, pil KB juga mencegah terjadinya ovulasi. Para ahli menduga bahwa semakin sedikit ovulasi maka semakin rendah resiko terjadinya kanker ovarium. Ligasi Tuba Ligasi tuba merupakan suatu tindakan kontrasepsi permanen, di mana saluran telur ditutup secara permanen melalui tindakan pembedahan. Ligasi tuba dan histerektomi (mengangkat rahim tanpa mengangkat kedua ovarium) diduga dapat melindungi anda dari kanker ovarium. Pengangkatan Ovarium Jika anda memiliki anggota keluarga yang menderita kanker ovarium, kanker payudara, atau kanker usus besar; maka anda memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita kanker ovarium. Mengangkat kedua ovarium dapat menjadi langkah pencegahan atau bila anda telah berusia lebih dari 40 tahun dan akan melakukan prosedur histerektomi. Diet Rendah Lemak Walaupun tidak ada hubungan yang signifikan antara makanan dan kejadian kanker ovarium, suatu penelitian menemukan bahwa wanita yang mengkonsumsi diet rendah lemak selama setidaknya 4 tahun memiliki resiko terjadinya kanker ovarium yang lebih rendah. Beberapa penelitian lainnya juga menemukan bahwa, kejadian kanker ovarium lebih rendah pada wanita yang mengkonsumsi banyak sayuran.   Sumber: webmd
 23 Apr 2019    18:00 WIB
Pentingnya Kembang Kol untuk Pencegahan Kanker
Kembang kol termasuk dalam sayuran dari jenis cruciferous. Dari berbagai hasil penelitian terbukti sayuran kembang kol memiliki banyak manfaat bagi kesehatan terutama sebagai bahan makanan pencegah berbagai penyakit atau protective food. Selain kaya dengan berbagai vitamin, mineral, antioksidan dan serat, kembang kol juga mengandung senyawa fitokimia yang mampu mencegah beberapa jenis penyakit seperti kanker dan serangan jantung. Berikut adalah manfaat dari kembang kol: Kanker ususKembang kol merupakan sumber serat yang sangat baik dan mampu memperbaiki proses pencernaan karena mengandung glucoraphin. Glucoraphin akan melindungi usus dan mengurangi resiko terkena kanker usus dan penyakit lain yang bermanifestasi di usus. Kanker prostatKembang kol mampu mengurangi terjadinya inflamasi dan meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh terutama area prostat. Kembang kol juga kaya akan antioksidan yang mempu memerangi radikal bebas dan menjadi penyebab utama terjadinya kanker. Kanker payudaraKembang kol mengandung senyawa fitokimia seperti sulforaphane, sterol yang penting dalam pencegahan pertumbuhan kanker. Kanker mulut rahimKembang kol mampu mencegah timbulnya kanker mulut rahim karena mengandung kombinasi senyawa fitokimia, plant sterol, antioksidan dan vitamin C. Kembang kol terbukti merupakan sayuran yang mampu menjaga kesehatan wanita terutama dalam pencegahan kanker. Kanker indung telurKanker indung telur memang tidak segera memunculkan gejala-gejala, tetapi Anda dapat mencegahnya dengan mengkonsumsi kembang kol. Resiko kanker indung telur lebih tinggi terjadi pada wanita yang tidak memiliki anak, wanita yang menggunakan terapi hormon replacement, mengidap kanker payudara atau kanker usus dan secara teratur mengkonsumsi obat-obatan fertilitas.Sumber: healthmeup
 24 Dec 2018    08:00 WIB
Berbagai Macam Kista Ovarium dan Hal yang Dapat Memicunya
Seorang wanita dapat menderita kista ovarium (kista indung telur) pada usia berapa pun, bahkan saat ia masih berada di dalam kandungan ibunya. Ada 3 jenis kista ovarium yang dapat diderita oleh seorang wanita, yaitu kista fisiologis, kista jinak, dan kanker. Kista yang paling sering terbentuk adalah kista fisiologis.   Kista Fisiologis Sebagian besar kista fisiologis biasanya terbentuk akibat kadar hormon yang berfluktuasi di dalam tubuh. Kista fisiologis biasanya tidak membutuhkan pengobatan karena biasanya kista ini akan menghilang dengan sendirinya.   Kista Ovarium Jinak (Non Kanker) Tingginya kadar hormon pada seorang wanita hamil dapat menyebabkan bayi perempuan di dalam kandungannya memiliki kista ovarium, bahkan sebelum ia dilahirkan. Sebagian besar kista ovarium fetal akan menghilang dengan sendirinya sebelum bayi dilahirkan. Jika masih ada kista yang tersisa, sekitar 90% nya akan menghilang dengan sendirinya saat bayi berusia 3 bulan. Setiap bulan, saat seorang wanita mengalami menstruasi, maka akan terjadi perubahan kadar hormon di dalam tubuhnya. Perubahan kadar hormon inilah yang dapat memicu terbentuknya kista ovarium. Jadi, satu-satunya resiko adalah menjadi seorang perempuan. Kista sederhana biasanya hanya berisi cairan, sedangkan kista kompleks dapat berisi benda padat. Kista ovarium jinak juga jarang membutuhkan tindakan pembedahan karena biasanya kista dapat menghilang dengan sendirinya saat seorang wanita memasuki masa menopause. Akan tetapi, bila diperlukan, ada obat-obatan yang dapat membantu mengecilkan ukuran kista.   Baca juga: Segala Hal yang Anda Ingin Ketahui Tentang Kista Ovarium   Kanker Ovarium Kanker ovarium merupakan kanker yang paling sering menyebabkan terjadinya kematian pada wanita. Cara terbaik untuk mendeteksinya sejak dini adalah dengan melakukan pemeriksaan USG panggul dengan kontras. Masalah utama dalam pengobatan kanker ovarium adalah bahwa kanker terlambat ditemukan, biasanya setelah kanker memasuki stadium 3 atau 4. Sebenarnya tidak ada hal tertentu yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker ovarium. Akan tetapi, beberapa penelitian menemukan bahwa penggunaan pil KB dapat mencegah terjadinya kanker ovarium. Menggunakan pil KB secara terus-menerus selama 10 tahun dapat menurunkan resiko terjadinya kanker ovarium hingga 60%. Selain itu, semakin banyak anak yang dimiliki seorang wanita, maka semakin rendah resiko kanker ovarium yang dimilikinya. Faktor genetika juga memiliki peranan dalam terjadinya kanker ovarium. Jika seorang wanita merupakan karier gen BRCA1 atau BRCA2, maka resikonya untuk menderita kanker ovarium akan meningkat hingga 15% dan 40%.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: livestrong
 08 Nov 2015    09:00 WIB
5 Gejala Penyakit yang Harus Diwaspadai Wanita
Bagi wanita,  ada beberapa gejala penyakit tidak boleh diabaikan begitu saja. Gejala ini bisa saja merujuk kepada satu penyakit yang berbahaya. Anda tentu mnegenal istilah mencegah lebih baik daripada mengobati bukan? Dengan mengenal gejala-gejala penyakit lebih awal, Anda bisa mencegahnya sebelum menjadi berbahaya. Berikut adalah gejala-gejala penyakit yang tidak boleh diabaikan oleh wanita 1.      Benjolan atau perubahan abnormal lainnya di payudara Benjolan, kulit mengelupas ataupun gejala lain yang tidak normal terjadi di payudara dapat saja merupakan tanda awal kanker payudara. Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak menyerang wanita dan tidak selalu merupakan penyakit keturunan seperti yang selama ini dipercaya. Anda harus waspada pada setiap benjolan yang timbul di payudara. Anda bisa melakukan pemeriksaan SADARI untuk memeriksa apakah ada benjolan di payudara Anda. Jika Anda menemukan kelainan pada payudara Anda, segera hubungi dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Deteksi lebih awal akan membuat pengobatan lebih mudah. 2.      Sering buang air kecil dan sensasi terbakar Terdapat banyak kondisi lain yang menyebabkan frekuensi buang air kecil meningkat. Tetapi ketika gejala ini disertai rasa terbakar saat buang air kecil maka kemungkinan Anda menderita infeksi saluran kemih, yang dapat menjadi serius jika tidak diobati. 3.      Sakit luar biasa saat berhubungan seksual Merupakan hal yang normal jika mengalami sedikit rasa nyeri saat melakukan hubungan seksual. Tetapi jika rasa sakit dirasakan semakin hebat saat setiap kali berhubungan seksual, maka ini merupakan tanda dari suatu penyakit. Kondisi ini mencakup ketidakseimbangan hormonal, infeksi pelvis, kista ovarium, atau endometriosis. Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami gejala ini. 4.      Kembung yang terus menerus Mengalami perut kembung sesaat atau kembung saat sedang menstruasi merupakan hal yang umum terjadi. Tetapi jika gejala ini terjadi terus menerus sampai berminggu-minggu Anda sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Gejala perut kembung disertai sering buang air kecil, penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas atau perubahan kebiasaan buang air besar dapat menjadi indikator penyakit serius seperti kanker ovarium 5.      Keputihan Keputihan banyak terjadi pada wanita. Walaupun tiap-tiap wanita berbeda jumlah keputihannya, tetapi harus diawasi setiap perubahan abnormal yang terjadi seperti perubahan warna dan bau. Biasanya gejala yang terjadi diawali dengan bau yang lebih menyengat kemudian diikuti perubahan warna dari kekuningan menjadi kehijauan. Hal ini merupakan tanda terjadinya infeksi.   Sumber: healthmeup