Your browser does not support JavaScript!
 07 Jul 2019    18:00 WIB
Hal Buruk yang Mungkin Terjadi Paska Operasi Kantong Empedu
Proses operasi untuk mengangkat kantong empedu (kolesistektomi) sebenarnya merupakan suatu operasi yang cukup aman dan cepat, akan tetapi seperti halnya berbagai jenis operasi lainnya, operasi pengangkatan kantong empedu tetap saja memiliki resiko kecil untuk mengalami komplikasi. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa komplikasi yang mungkin terjadi paska operasi pengangkatan kantong empedu.   Infeksi Infeksi dapat terjadi paska operasi perut apa pun dan biasanya terjadi pada 1 di antara 15 kasus kolesistektomi. Baik infeksi ringan pada luka bekas operasi maupun infeksi di dalam perut dapat diatasi dengan pemberian antibiotika.   Efek Samping Obat Bius Umum Terdapat beberapa komplikasi berat yang berhubungan dengan penggunaan obat bius umum, tetapi komplikasi ini sangat jarang terjadi. Beberapa komplikasi berat yang dimaksud adalah reaksi alergi dan kematian. Oleh karena itu, dianjurkan agar Anda tetap menjaga kesehatan dan stamin Anda sebelum melakukan operasi untuk menurunkan resiko terjadinya komplikasi berat tersebut.   Baca juga: 3 Hal yang Perlu Anda Ketahui Seputar LASIK   Perdarahan Perdarahan dapat terjadi setelah proses operasi selesai, walaupun jarang. Jika terjadi perdarahan, maka dokter mungkin harus melakukan tindakan operasi kedua di tempat yang sama dengan operasi pertama Anda.   Kebocoran Cairan Empedu Saat kantong empedu Anda diangkat, maka dokter akan memasang suatu klip khusus untuk menutup saluran yang menghubungkan kantong empedu dengan saluran empedu utama. Akan tetapi, kadang-kadang cairan empedu dapat mengalami kebocoran. Cairan empedu yang bocor ini biasanya dapat menghilang dengan sendirinya (diserap oleh tubuh). Akan tetapi, pada kasus yang jarang, mungkin dibutuhkan tindakan operasi kedua untuk mengeringkan cairan empedu yang bocor dan membersihkan seluruh isi perut. Kebocoran cairan empedu ini terjadi pada sekitar 1-2% kasus.   Cedera Pada Saluran Empedu Komplikasi paling berat pada operasi pengangkatan kantong empedu adalah cedera pada saluran empedu, yang terjadi pada sekitar 1 di antara 500 kasus. Jika saluran empedu mengalami cedera selama operasi berlangsung, maka dokter dapat langsung memperbaikinya. Pada sejumlah kasus, dibutuhkan operasi besar dan kompleks setelah operasi pertama untuk mengatasi cedera ini.   Cedera Pada Usus dan Pembuluh Darah Berbagai instrument operasi yang digunakan untuk mengangkat kantong empedu dapat menyebabkan cedera atau luka pada organ di sekitar kantong empedu; seperti usus dan pembuluh darah. Resiko terjadinya cedera akan semakin tinggi bila kantong empedu mengalami peradangan. Akan tetapi, cedera ini jarang terjadi dan biasanya dapat langsung diperbaiki saat operasi berlangsung. Kadangkala, cedera baru diketahui beberapa saat paska operasi sehingga operasi kedua pun diperlukan untuk mengatasi cedera.   Trombosis Vena Dalam (Deep Vein Thrombosis/DVT) Sejumlah orang memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami pembentukan bekuan darah selama operasi berlangsung. Keadaan ini disebut dengan trombosis vena dalam yang biasanya terjadi pada pembuluh darah balik (vena) kaki. Untuk mencegah terjadinya DVT, dokter mungkin akan menganjurkan Anda untuk menggunakan stoking kompresi selama proses operasi berlangsung.   Sindrom Paska Kolesistektomi Pada sekitar 1 di antara 7 orang yang melakukan operasi kolesistektomi akan mengalami beberapa gejala yang sama seperti yang dialami paska operasi pengangkatan batu empedu, walaupun biasanya lebih ringan. Beberapa gejala yang dimaksud adalah: Nyeri perut Gangguan pencernaan Diare Jaundice, bagian putih mata dan kulit menjadi berwarna kuning Demam tinggi (38 derajat atau lebih) Kumpulan gejala ini disebut dengan sindrom paska kolesistektomi. Hingga saat ini para ahli masih tidak mengerti dengan jelas apa sebenarnya penyebab dari sindrom ini. Akan tetapi, para ahli menduga bahwa sindrom ini terjadi akibat perubahan aliran cairan empedu di dalam tubuh, misalnya akibat kebocoran cairan empedu yang masuk ke dalam lambung sehingga mengiritasi lambung. Pada beberapa kasus, sindrom ini dapat terjadi akibat ada batu empedu yang masih terperangkap di dalam saluran empedu. Pada sebagian besar kasus, gejala yang dialami oleh penderita biasanya hanya berupa gejala ringan dan hanya berlangsung sementara. Akan tetapi, pada sekitar 1 di antara 3 kasus, gejala dapat berlangsung selama beberapa bulan. Segera hubungi dokter Anda bila gejala yang Anda alami menetap. Untuk mengatasinya, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan endoskopi retrograde kolangiopankreatografi (ERCP) untuk memeriksa apakah masih ada batu empedu yang tersisa di dalam saluran empedu dan menyebabkan gejala terus berlangsung. Selain itu, dokter biasanya juga akan memberikan beberapa jenis obat-obatan seperti antasida atau obat lambung lainnya, untuk membantu mengatasi gejala.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: nhs
 28 Jun 2019    11:00 WIB
Makanan Untuk Pasien Paska Operasi Pengangkatan Kandung Empedu
Sangat penting untuk mengikuti instruksi dari dokter Anda mengenai makanan yang harus Anda konsumsi setelah melakukan operasi pengangkatan kandung empedu  Saat Anda di rumah sakit, tim medis akan membantu Anda saat masa peralihan makanan cair ke makanan padat. Namun saat Anda dirawat dirumah Anda harus diperkenalkan dengan makanan secara perlahan. Dimulai dari makanan cair seperti kaldu. Apabila Anda tidak merasakan ada masalah dan tidak mual, maka secara perlahan Anda akan dikenalkan dengan makanan padat Hampir dari separuh orang yang melakukan operasi pengangkatan kandung empedu memiliki masalah dalam mencerna lemak. Hal ini disebabkan karena cairan empedu yang dibuat hati tidak ditampung lagi dan langsung dicurahkan ke dalam usus halus, maka ada beberapa penderita yang mudah terserang rasa kembung, diare dan perut penuh gas setelah mengkonsumsi lemak. Namun kebanyakan orang akan kembali normal setelah satu bulan paska pengangkatan kandung empedu. Untuk itu sementara tubuh Anda mulai menyesuaikan dengan keadaan, ada baiknya Anda menghindari konsumsi makanan yang tinggi lemak selama beberapa minggu setelah menjalani operasi pengangkatan kandung empedu Makanan tinggi lemak seperti: Makanan yang digoreng, seperti kentang goreng dan keripik kentang  Daging tinggi lemak, seperti daging,sosis, daging sapi, dan tulang rusuk  Produk susu tinggi lemak, seperti keju, es krim, krim, susu, dan krim asam Makanan olahan Mentega Sup krim atau saus Coklat Minyak, seperti minyak kelapa  Telur Kafein  Makanan yang terlalu manis Makanan tinggi serat dan banyak mengandung gas juga dapat membuat pencernaan menjadi tidak nyaman seperti brokoli, kembang kol, kubis Hindari juga makanan pedas Untuk membantu Anda yang baru melakukan operasi pengangkatan kandung empedu agar Anda tidak bingung selain Anda dapat melihat pantangan makanan yang harus dihindari. Anda dapat tanyakan kepada dokter spesialis gizi untuk membantu mengatur menu diet Anda. Sumber: everydayhealth
 19 Dec 2018    08:00 WIB
Batu Empedu (Penyebab dan Jenisnya)
Hai Sobat, hari ini kita akan membahas tentang penyakit batu empedu, tapi ada baiknya sebelum kita bahas tentang penyakit ini, kita harus kenal jelas fungsi dari kantung empedu. Kantung empedu adalah sebuah organ kecil berbentuk seperti buah pir, yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan cairan empedu (cairan yang berperan penting dalam proses pencernaan). Pada manusia panjang dari organ ini adalah sekitar 7 – 10 cm, berwarna hijau gelap dan terhubung dengan hati serta usus dua belas jari (duodenum). Kantung empedu memproduksi sekitar 600 – 1200 ml cairan empedu per harinya. Dalam keadaan norma 97% dari cairan ini adalah air. Singkatnya, fungsi kantung empedu adalah untuk: Membantu proses pencernaan lemak. Membantu Proses Absorbsi lemak. Membantu pengeluaran limbah. Membantu Menghilangkan racun dari hati. Nah sekarang kita bahas penyakitnya. Batu empedu merupakan suatu bentuk endapan padat yang mengeras dan terbentuk di dalam kantung ataupun saluran empedu kita. Kandung empedu kita terletak tepat di bawah hati kita, di sisi kanan atas perut kita. Jika kita mengalami nyeri mendadak di bagian atas atau kanan perut kita, segera konsultasikan dengan dokter, karena kemungkinan kita menderita batu empedu (cholelithiasis). Batu empedu bisa sekecil butiran pasir atau sebesar bola golf. Kita dapat memiliki satu batu atau banyak batu. Bagaimana batu empedu bisa terbentuk? Tidak jelas bagaimana batu empedu terbentuk. Tetapi menurut pernyataan Para Ilmuwan, batu empedu dapat dibentuk melalui hal-hal berikut: Kadar kolesterol tinggi disekresikan oleh hati - Normalnya, kolesterol yang disekresi oleh hati dicerna oleh empedu, tetapi empedu tidak dapat mencerna banyak kolesterol, dan ketika terlalu banyak, kolesterol dibuang ke kantong empedu. Bentuk kolesterol yang berlebih ini menjadi batu empedu. Tingginya kadar bilirubin, (yaitu, sebuah komponen yang berasal dari darah merah, yang akan dikirim kedalam empedu sehingga dikeluarkan melalui urin, kadar yang terdapat dalam urin akan mengindikasikan beberapa jenis penyakit yang ada di dalam tubuh). Kadar Bilirubin ini akan tinggi, ketika sel darah merah kita mengalami kerusakan dengan cepat, seperti gangguan darah atau infeksi saluran empedu. Ketidakmampuan kantong empedu Anda untuk mengosongkan dengan benar dan empedu menjadi terkonsentrasi, kemudian mengeras menjadi batu.   Ada tiga jenis batu empedu. Batu yang paling umum di populasi Asia adalah batu pigmen berwarna gelap, yang bisa berwarna coklat atau hitam dan terbuat dari bilirubin. Kedua, batu pigmen berwarna kuning yang terbuat dari kolesterol, yang lebih umum pada populasi Barat. Ketiga, adalah campuran dari kedua jenis batu empedu ini, batu dengan kadar kolesterol dan batu dengan kadar bilirubin. Lalu apa Gejala Umum Batu Empedu? Kebanyakan orang dengan batu empedu tidak bergejala. Ada yang merasakan sakit yang tiba-tiba (dadakan), ada juga yang berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa jam. Rasa sakitnya memang menyakitkan, dan nyeri yang ditimbulkan berada di sekitar lambung, rasa sakitnya hampir mirip dengan sakit maag. Karena letak lambung dan kantung empedu berdekatan. Tetapi orang yang terkena batu empedu, rata-rata akan mengalami tanda-tanda di bawah ini: Perut kembung, yang biasanya lebih buruk setelah makan atau malam hari. Tiba-tiba rasa sakit di bagian kanan atas perut. Tiba-tiba nyeri di daerah epigastrium atau pusat perut kita, di bawah tulang dada kita. Nyeri dari perut ke belakang. Nyeri di bahu kanan. Mual dan muntah. Nyeri perut yang parah, demam, atau terkena penyakit kuning, juga menandakan komplikasi yang timbul dari batu empedu.  Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber : www.healthline.com
 12 Mar 2018    11:00 WIB
Apa Penyebab Terjadinya Sumbatan Pada Saluran Empedu?
Bagian putih mata dan kulit yang tampak kekuningan, tinja yang berwarna terang, dan air kemih yang berwarna gelap dapat merupakan gejala dari jaundice obstruktif, suatu kondisi di mana aliran empedu yang normal dari hati ke usus halus terhambat. Jaundice obstruktif sendiri sebenarnya bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan sebuah gejala dari suatu gangguan kesehatan lain yang melibatkan hati, kandung empedu, atau pankreas. Untuk mengatasinya biasanya diperlukan tindakan pembedahan.   Penyebab Penyebab tersering dari jaundice obstruktif adalah adanya batu empedu yang mengganggu aliran cairan empedu. Penyebab lain dari jaundice obstruktif adalah kista pada saluran empedu, penyempitan saluran empedu (striktur), pankreatitis, dan kanker, seperti kanker pankreas, kanker saluran empedu, kanker kandung empedu, dan kanker hati. Keganasan yang menyebabkan penyumbatan total pada saluran empedu dapat membuat penderita mengalami keluhan gatal yang cukup berat akibat penumpukkan bilirubin di dalam kulit. Penderita juga dapat mengalami malnutrisi karena gangguan proses pencernaan makanan. Bagaimana cara mengetahui apakah penyebab terjadinya jaundice obstruktif ini adalah suatu keganasan atau bukan? Rasa nyeri yang dirasakan penderita biasanya sedikit berbeda. Bila penderita jaundice juga mengalami rasa nyeri, maka hal ini biasanya berhubungan dengan batu empedu, sementara itu jaundice yang tidak disertai oleh nyeri biasanya berhubungan dengan tumor. Hal ini dikarenakan batu empedu cenderung menyebabkan infeksi, yang akan menyebabkan penderita merasa nyeri dan demam.   Proses Terjadinya Jaundice Pada keadaan normal, hati akan memproduksi empedu untuk mencerna makanan dan mengeluarkan produk sisa metabolisme ke dalam usus untuk dikeluarkan dari dalam tubuh. Saat terjadi gangguan aliran cairan empedu, maka kadar bilirubin, suatu produk sampingan dari proses metabolisme sel darah merah, akan menumpuk di dalam hati dan akhirnya merembes ke dalam aliran darah, yang akan membuat kulit dan bagian putih mata menjadi berwarna kekuningan.   Baca juga: 10 Bahan Alami Untuk Mengatasi Batu Empedu…   Jenis Jaundice Jaundice obstruktif sendiri sebenarnya berbeda dengan jaundice medis pada umumnya. Penderita yang mengalami jaundice medis biasanya juga memiliki kulit yang kekuningan, tetapi air kemih dan tinja tidak mengalami perubahan warna. Jaundice medis biasanya disebabkan oleh: Jaundice hepatoseluler. Jaundice jenis ini biasanya disebabkan oleh gangguan hati, seperti hepatitis dan sirosis hati Jaundice hemolitik. Jaundice jenis ini biasanya disebabkan oleh peningkatan metabolisme (penghancuran) sel darah merah di dalam tubuh akibat suatu kelainan darah tertentu, seperti talasemia, penyakit autoimun, atau malaria Semua jenis jaundice ini dapat menyebabkan peningkatan kadar bilirubin, yang akan membuat kulit tampak kuning.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: healthxchange
 06 Mar 2018    08:00 WIB
Kanker Kandung Empedu. Ini Faktor Resiko dan Komplikasinya..
Kanker kandung empedu merupakan kanker saluran pencernaan yang langka. Kanker ini sulit ditemukan dan didiagnosa karena seringkali tidak menunjukkan gejala apapun pada stadium awal.   Faktor Resiko Orang lanjut usia dan penderita diabetes memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami kanker kandung empedu. Selain itu, gaya hidup tidak sehat seperti obesitas dan merokok juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kandung empedu. Walaupun masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut, para ahli menduga bahwa diet yang tidak sehat juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kandung empedu. Memiliki batu empedu dan menderita kolesistitis juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kandung empedu. Hal lain yang juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kandung empedu adalah kandung empedu porcelain, di mana terjadi penumpukkan kalsium pada dinding kandung empedu. Infeksi bakteri Salmonella pada kandung empedu juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker kandung empedu. Berbagai hal ini diketahui dapat menyebabkan peradangan atau iritasi menahun pada kandung empedu.   Baca juga: Apa Saja Gejala Gangguan Kandung Empedu?   Pengobatan Tindakan pembedahan merupakan pengobatan terbaik untuk menyembuhkan kanker bila masih memungkinkan. Sayangnya, pada sebagian besar kasus kanker baru diketahui saat sel kanker sudah menyebar ke berbagai organ tubuh lain atau berada pada posisi yang sulit sehingga tindakan pembedahan tidak dapat dilakukan. Jika tindakan pembedahan tidak dapat dilakukan, misalnya karena ukuran atau lokasi kanker, maka terapi yang dapat dilakukan adalah kemoterapi dan terapi radiasi. Kedua jenis terapi ini dapat membantu mengatasi gejala dan memperpanjang hidup penderita. Tindakan pembedahan mungkin dilakukan untuk membantu mengurangi nyeri atau mencegah terjadinya komplikasi berat.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: healthxchange
 05 Mar 2018    16:00 WIB
Kanker Kandung Empedu, Kecil-kecil Cabai Rawit…
Kandung empedu merupakan organ kecil berbentuk seperti buah pir, yang terletak tepat di bawah hati. Bila ditemukan kanker pada organ ini dan ditemukan sejak dini, di mana sel kanker belum menyebar ke organ tubuh lain, maka kemungkinan besar kanker masih dapat disembuhkan. Namun, sayangnya gejala kanker kandung empedu biasanya tidak jelas, yang membuat kanker sulit sekali terdeteksi pada stadium awal. Pada saat gejala kanker menjadi lebih jelas, sel kanker biasanya sudah menyebar ke organ lain dan kelenjar getah bening di dekatnya. Mengapa gejala awal kanker kandung empedu sulit dideteksi? Hal ini dikarenakan kandung empedu terletak sangat dalam di dalam tubuh, sehingga keabnormalan tidak dapat terlihat atau dirasakan pada pemeriksaan fisik rutin.   Baca juga: Hal Buruk yang Mungkin Terjadi Paska Operasi Kantong Empedu!   Gejala Kanker Kandung Empedu Seringkali, kanker kandung empedu diketahui secara tidak sengaja saat seorang penderita menjalani tindakan medis lain, misalnya untuk mengangkat kandung empedu karena adanya batu empedu. Beberapa gejala kanker kandung empedu yang dapat ditemukan adalah nyeri perut, demam, tidak nafsu makan, dan penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas. Gejala lain yang mungkin ditemukan adalah jaundice, mual, dan muntah. Gejala ini biasanya terjadi saat sel kanker telah menyebar ke organ di sekitarnya. Namun, karena berbagai gejala di atas mirip dengan gejala gangguan pencernaan lain, maka kanker seringkali terlambat ditemukan.   Pembagian Stadium Kanker Kandung Empedu Seperti berbagai jenis kanker lain, kanker kandung empedu terbagi menjadi 4 stadium, yaitu: Stadium 1. Pada stadium 1 sel kanker hanya ditemukan di dalam dinding kandung empedu Stadium 2. Pada stadium 2, seluruh dinding kandung empedu sudah "terinfeksi" oleh kanker, tetapi sel kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening atau organ terdekat Stadium 3. Pada stadium 3, sel kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening terdekat atau hati, lambung, usus besar, atau usus halus Stadium 4. Pada stadium 4, sel kanker sudah menyebar hingga ke dalam 2 atau lebih organ sekitarnya atau telah menyebar ke kelenjar getah bening yang jauh atau ke organ yang terletak jauh dari kandung empedu, misalnya ke paru-paru   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: healthxchange
 11 Nov 2016    08:00 WIB
Tips Mudah Agar Terbebas dari Gangguan Kandung Empedu!
  Kandung kemih merupakan sebuah kantong berbentuk seperti buah pir, berukuran 10 cm, yang terletak di bawah hati, pada perut bagian kanan atas. Kandung empedu memiliki peranan penting dalam proses pencernaan makanan. Fungsi utama kandung empedu adalah menyimpan empedu (campuran antara cairan, lemak, dan kolesterol) yang berfungsi untuk membantu proses metabolisme lemak dari makanan di dalam usus. Kandung empedu akan menyalurkan empedu ke dalam usus halus melalui saluran empedu. Kemudian, vitamin larut lemak dan nutrisi penting lainnya diserap ke dalam aliran darah. Akan tetapi, ada beberapa gangguan yang dapat mengenai kandung empedu Anda seperti batu empedu, kolesistitis (radang kandung empedu), kolik bilier, dan disfungsi kandung empedu. Semua orang dapat mengalami gangguan kandung empedu. Tetapi ada beberapa hal yang dapat meningkatkan resiko Anda menderita gangguan empedu seperti genetika, obesitas, dan jenis kelamin. Wanita memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita gangguan kandung empedu dibandingkan pria. Gangguan kandung empedu dapat bervariasi dari ringan hingga berat. Gangguan kandung empedu yang berbeda dapat menyebabkan timbulnya gejala yang berbeda-beda. Beberapa tanda dan gejala gangguan kandung empedu yang dapat ditemukan adalah nyeri pada perut bagian atas, nyeri pada bagian bawah tulang belikat kanan atau punggung (nyeri ini biasanya terjadi setelah Anda mengkonsumsi makanan tinggi lemak), nyeri dada, rasa seperti terbakar di dalam dada, gangguan pencernaan, perut kembung, dan sering buang angin. Jika Anda mencurigai diri Anda mengalami gangguan kandung empedu, segera periksakan diri Anda ke seorang dokter untuk memastikannya. Banyak gangguan kesehatan dapat diatasi dengan pengangkatan kandung empedu. Pengangkatan kandung empedu tidak akan membahayakan jiwa Anda. Jika Anda ingin mencegah atau menurunkan resiko menderita gangguan kandung empedu, di bawah ini ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan.   Jaga Berat Badan Tetap Sehat Obesitas merupakan faktor dominan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya berbagai gangguan kandung empedu. Dengan menjaga berat badan Anda tetap ideal, maka Anda pun dapat mencegah terjadinya batu empedu dan berbagai gangguan lain. Saat Anda berusaha menurunkan berat badan, hindari penurunan berat badan dalam waktu singkat. Turunkanlah berat badan Anda secara perlahan dan bertahap untuk menghindari terjadinya berbagai gangguan kesehatan. Cobalah untuk menurunkan 0.5-1 kg berat badan setiap minggunya hingga Anda berhasil mencapai berat badan yang Anda inginkan. Jangan melakukan diet ketat karena justru dapat memicu pembentukan batu empedu. Pilihlah diet sehat dan berolahragalah secara teratur untuk mencapai target berat badan Anda. Bila perlu, Anda dapat berkonsultasi dengan seorang dokter spesialis gizi atau seorang ahli gizi mengenai menu diet Anda.   Berolahraga Secara Teratur Berolahraga secara teratur merupakan kunci dari tubuh dan mental yang sehat. Bahkan, berolahraga secara teratur setiap harinya juga dapat menurunkan resiko terjadinya berbagai gangguan kandung empedu. Hal ini dikarenakan olahraga dapat menurunkan kadar kolesterol di dalam darah, yang dapat memicu terjadinya gangguan kandung empedu. Selain itu, olahraga juga dapat menjaga berat badan Anda tetap ideal, yang juga akan mencegah terbentuknya batu empedu. Berolahraga juga dapat menjaga kesehatan kandung empedu, fungsi hati, dan saluran pencernaan. Untuk mendapatkan manfaat maksimal, Anda tidak perlu berolahraga dengan intens. Berjalan cepat, berlari, jogging, berenang, berdansa, aerobik, dan bersepeda dapat membantu. Berolahragalah selama 30 menit setidaknya 5 kali seminggu.   Ubah Pola Makan Makanan juga memiliki peranan penting dalam terjadinya gangguan kandung empedu. Untuk mencegah terbentuknya batu empedu dan berbagai gangguan kesehatan lainnya, Anda mungkin perlu mengubah pola makan Anda. Pola makan yang dianjurkan adalah: Pilihlah lemak tidak jenuh tunggal seperti minyak zaitun dan hindari makanan yang mengandung lemak jenuh seperti daging penuh lemak, mentega, dan berbagai produk hewani lainnya Pilihlah makanan rendah lemak seperti daging ayam tanpa lemak, susu skim, yogurt rendah lemak, dan selai kacang Perbanyak konsumsi serat yang dapat ditemukan dalam roti gandum, sereal, dan sayuran Perbanyak konsumsi buah dan sayuran segar Gantilah cemilan Anda dengan kacang tanah, kacang almond, dan kacang walnut Jangan mengkonsumsi terlalu banyak gula atau karbohidrat Konsumsilah makanan yang mengandung banyak asam lemak omega 3 seperti ikan, minyak ikan, flaxseed, kacang walnut, dan tahu Hindari makanan pedas, digorend, dan daging berlemak   Minum Air Lemon Lemon merupakan bahan detoks alami. Beberapa zat yang ada di dalam lemon juga dapat menstimulasi kandung empedu Anda untuk memproduksi lebih banyak empedu bila diperlukan. Selain itu, lemon juga dapat membantu melarutkan batu kalsium dan membantu proses detoksifikasi di dalam hati. Selain itu, lemon juga dapat membantu Anda melawan obesitas. Campurkanlah sari buah lemon dengan segelas air hangat, tambahkan sedikit madu, dan minumlah setiap pagi saat perut kosong. Anda juga dapat mengkonsumsi air lemon setiap hari.   Minum Wine, Tapi Jangan Berlebihan Mengkonsumsi wine dalam jumlah sedang setiap hari dapat membantu menurunkan resiko terjadinya batu empedu. Seseorang yang mengkonsumsi 2 gelas wine setiap harinya dapat menurunkan resiko terjadinya batu empedu hinggga 1/3. Akan tetapi, jangan minum lebih dari 2 gelas setiap harinya karena hal ini justru akan berpengaruh buruk pada kandung empedu, paru-paru, hati, dan ginjal.   Baca juga: Tidak Punya Kantong Empedu, Apa Efeknya?   Ganti Kopi Dengan Teh Hijau Daripada mengkonsumsi kopi, cobalah teh hijau, yang sangat baik bagi kesehatan. Kandungan polifenol yang tinggi di dalam teh hijau dapat memperlancar aliran empedu dan menurunkan kadar kolesterol, yang akan mencegah terjadinya berbagai gangguan kandung empedu. Selain itu, teh hijau juga mengandung berbagai antioksidan yang dapat melawan efek radikal bebas dan meningkatkan fungsi hati yang penting bagi proses detoksifikasi tubuh.   Minum Jus Sayuran Setiap Hari Untuk menjaga kesehatan kandung empedu dan hati Anda, konsumsilah 1-2 gelas jus sayuran segar setiap harinya. Berbagai jenis sayuran seperti wortel, bayam, kol, timun, bit, dan selada dapat membantu membersihkan hati dan mendukung proses detoks di dalamnya, serta menguatkan kandung empedu. Selain itu, berbagai nutrisi yang terdapat di dalam sayuran segar juga dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan keadaan kesehatan Anda secara keseluruhan.   Berkumur Dengan Minyak Berkumur dengan menggunakan minyak merupakan teknik detoks kuno yang dipercaya dapat membantu membersihkan kandung empedu dan hati, serta dapat menjaga kesehatan mulut. Lakukanlah kegiatan berkumur (oil pulling) ini di pagi hari saat perut kosong, sebelum Anda menyikat gigi. Caranya adalah campurkan 1 sendok makan minyak kelapa, minyak wijen, atau minyak bunga matahari dan berkumurlah dengan campuran ini. Berkumurlah selama 15-20 menit, buang, kemudian bilas mulut Anda dengan air dan sikat gigi seperti biasa. Jangan menelan campuran minyak ini.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: top10homeremedies
 13 Oct 2016    08:00 WIB
Sekilas Info Seputar Pemeriksaan Gamma GT
Pemeriksaan gamma glutamil transpeptidase (gamma GT atau GGT) merupakan suatu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur kadar enzim GGT di dalam darah Anda. Enzim GGT ini berfungsi sebagai alat transportasi di dalam tubuh. GGT berperan penting dalam proses metabolisme obat-obatan dan berbagai zat racun lainnya di dalam hati. GGT terutama terdapat di dalam hati.  Selain hati, GGT juga dapat ditemukan pada kandung empedu, limpa, pankreas, dan ginjal. Peningkatan kadar GGT di dalam darah biasanya disebabkan oleh kerusakan di dalam hati. Pemeriksaan ini seringkali dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan lainnya untuk mengukur enzim-enzim hati.   Kapan Harus Melakukan Pemeriksaan GGT? Pemeriksaan GGT biasanya dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pada hati atau saluran empedu Anda. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan lainnya seperti SGOT, SGPT, dan bilirubin.  Selain itu, pemeriksaan ini juga sering digunakan untuk memonitor keberhasilan dan kepatuhan peserta rehabilitasi alkohol karena kadar GGT akan meningkat bila Anda mengkonsumsi terlalu banyak alkohol atau zat beracun lainnya seperti obat-obatan atau racun. Bila Anda sebelumnya merupakan peminum berat, maka dibutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk menurunkan kadar GGT ke dalam batas normal. Beberapa gejala yang dapat ditemukan bila Anda mengalami gangguan hati adalah: Nafsu makan berkurang Mual atau muntah Kurang bertenaga Nyeri perut Jaundice (kulit dan atau bagian putih mata berwarna kuning) Urin berwarna gelap atau tinja berwarna putih atau terang Kulit terasa gatal Sebelum melakukan pemeriksaan ini, Anda diharuskan untuk berpuasa selama 8 jam dan berhenti mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti fenobarbital, fenitoin, dan alkohol karena dapat meningkatkan kadar GGT Anda. Anda juga akan diminta untuk berhenti merokok sebelum melakukan pemeriksaan GGT karena merokok dapat menyebabkan peningkatan kadar GGT. Selain itu, pil KB dan klofibrat juga dapat menurunkan kadar GGT Anda. Bahkan jika Anda hanya mengkonsumsi sangat sedikit alkohol dalam waktu 24 jam sebelum pemeriksaan dilakukan, maka hal ini dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan Anda.   Apa Arti Hasil Pemeriksaan GGT? Kadar GGT yang normal adalah antara 0-51 IU/L. Beberapa gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan peningkatan kadar GGT Anda adalah: Mengkonsumsi alkohol secara berlebihan Menderita hepatitis Kurangnya aliran darah yang menuju ke hati (iskemia hati) Tumor hati Sirosis hati Penyalahgunaan obat-obatan atau zat beracun lainnya Gagal jantung Menderita diabetes Gangguan atau penyumbatan aliran cairan empedu dari hati (kolestasis atau batu empedu) Nekrosis hati Menderita penyakit paru Menderita gangguan pankreas Pemeriksaan GGT seringkali diukur bersamaan dengan enzim lainnya yaitu ALP (alkalin fosfatase) atau SGPT. Jika kadar GGT dan SGPT meningkat, maka diduga Anda mengalami gangguan hati ataupun saluran empedu.  Jika kadar GGT normal tetapi kadar SGPT meningkat, maka hal ini mungkin disebabkan oleh adanya gangguan tulang.   Baca juga: Deteksi Dini Alzheimer Melalui Pemeriksaan Darah Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: healthline, nlm.nih.gov