Your browser does not support JavaScript!
 03 Dec 2019    16:00 WIB
Apa Yang Dimaksud Dengan Alergi dan Intoleransi Makanan?
Alergi makanan atau intoleransi makanan mempengaruhi hampir semua orang.  Seseorang yang memiliki alergi terhadap makanan sering mendapatkan reaksi yang tidak menyenangkan dan sering bertanya-tanya apakah memiliki alergi terhadap makanan atau tidak. Satu dari tiga orang mengatakan bahwa mereka memiliki alergi terhadap makanan atau mereka harus memodifikasi makanan untuk keluarga karena ada anggota keluarga mereka yang diduga memiliki alergi terhadap makanan. Tapi hanya sekitar 5% dari anak-anak telah terbukti secara klinis mempunyai reaksi alergi terhadap makanan. Pada remaja dan orang dewasa, alergi makanan terjadi sekitar 4% dari total populasi.   Apa yang dimaksud dengan alergi makanan dan intoleransi makanan? Alergi makanan adalah respon abnormal terhadap makanan, dikarenakan sistem kekebalan tubuh salah mengira dan menyerang protein makanan. Reaksi alergi terhadap makanan beragam dan bisa berpotensi fatal. Gejala yang dapat terjadi seperti sakit perut, ruam, gatal di kulit atau mulut, pembengkakan (misalnya bibir atau tenggorokan) atau sulit bernafas. Intoleransi makanan adalah ketidakmampuan tubuh untuk mencerna makanan tertentu, sebab itu penting untuk menyadari tipe intoleransi tubuh, semacam intoleransi laktosa. Gejalanya termasuk kram perut, kembung dan diare. Hal ini sangat penting bagi orang yang memiliki alergi terhadap makanan untuk mengidentifikasi apakah mereka benar mempunyai alergi terhadap makanan dan mencegah reaksi alergi terhadap makanan karena reaksi ini dapat menyebabkan penyakit yang merusak dan dalam  beberapa kasus, berakibat fatal.  Bagaimana Alergi makanan terjadi? Alergi makanan melibatkan dua fitur dari respon kekebalan tubuh manusia. Salah  satunya adalah produksi imunoglobulin E (IgE), sejenis protein yang disebut antibodi yang bersirkulasi di dalam darah. Yang lainnya adalah sel mast, sel tertentu yang terdapat pada seluruh jaringan tubuh, terutama di daerah-daerah tubuh yang rentan reaksi alergi, termasuk hidung dan tenggorokan, paru-paru, kulit, dan saluran pencernaan.  Kemampuan individu membentuk IgE yang melawan sesuatu yang jinak seperti makanan merupakan hal kemungkinan diwariskan. Umumnya, orang-orang yang berasal dari keluarga alergi terhadap sesuatu tidak selalu alergi makanan tapi mungkin alergi serbuk bunga, asma, atau gatal-gatal. Seseorang yang kedua orang tuanya memiliki reaksi alergi terhadap sesuatu, lebih mungkin mengalami reaksi alergi terhadap makanan dibanding seseorang yang hanya mempunyai satu orang tua yang memiliki alergi. Reaksi alergi tidak terjadi secara tiba-tiba. Untuk ini memerlukan waktu yang disebut proses sensitisasi, yaitu masa sejak kontak dengan alergen sampai terjadinya reaksi alergi. Reaksi alergi dapat terjadi kalau kadar imunoglobulin E sudah cukup banyak. Pada saat kontak pertama dengan allergen (dalam hal ini makanan), baru mulai timbul perlawanan dari tubuh yang mempunyai bakat atopik yaitu terbentuknya imunoglobulin yang spesifik terhadap alergen tersebut.. Bila kontak terhadap alergen ini berlangsung terus menerus, Misal terhadap suatu jenis makanan. Kadar imunoglobulin E yang spesifik terhadap makanan tertentu semakin banyak sampai suatu saat dapat menimbulkan reaksi alergi bila mengkonsumsi makanan tersebut lagi. Saat orang tersebut memakan makanan tersebut. Terjadi interaksi dengan IgE spesifik pada permukaan sel mast dan memicu sel untuk melepaskan bahan kimia seperti histamin. Tergantung pada jaringan di mana mereka dilepaskan, bahan kimia ini akan menyebabkan seseorang memiliki berbagai gejala alergi makanan. Jika sel mast melepaskan bahan kimia dalam telinga, hidung, dan tenggorokan, seseorang bisa merasakan gatal-gatal di mulut dan mungkin mengalami kesulitan bernapas atau menelan. Jika sel mast yang terkena berada di saluran pencernaan, orang mungkin mengalami sakit perut, muntah, atau diare. Bahan kimia yang dilepaskan oleh sel mast kulit, sebaliknya, dapat menimbulkan rasa gatal-gatal. Sumber: webmd