Your browser does not support JavaScript!
 13 Mar 2019    11:00 WIB
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) Virus Pernapasasn Yang Mematikan
Halo sahabat setia Dokter.ID, kita kembali lagi hari ini, dengan pembahasan tentang virus, yang tidak kalah menarik dengan virus-virus mematikan lainnya. Hari ini kita akan membahas tentang virus HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome). Apa itu Hantavirus pulmonary syndrome (HPS)? HPS adalah penyakit pernapasan serius yang ditularkan oleh tikus yang terinfeksi melalui urin, kotoran atau air liur dan gigitannya. Juga dipercayai bahwa manusia dapat terserang virus ini jika mereka menghirup debu yang terkontaminasi dari sarang atau kotoran tikus. Siapa pun yang bersentuhan dengan tikus yang membawa hantavirus berisiko terkena HPS. memiliki hewan pengerat di dalam dan sekitar rumah tetap menjadi risiko utama paparan hantavirus. Bahkan orang sehat pun berisiko terkena infeksi HPS jika terpapar virus ini. HPS pertama kali diakui pada tahun 1993 dan sejak itu telah diidentifikasi di seluruh Amerika Serikat. Meski jarang, HPS berpotensi mematikan. Penyakit ini diketahui setelah ditemukannya kasus infeksi Hantavirus pada lebih dari 3.000 tentara Amerika di Korea pada tahun 1951-1954 dan kemudian menyebar ke Amerika, yang menyebabkan banyak kematian akibat gagal jantung. Sejak saat itu infeksi Hantavirus menarik perhatian dunia. Hantavirus pertama kali diisolasi pada tahun 1976, yang kemudian dapat diidentifikasi beberapa strain/galur/serotype Hantavirus lainnya. Sebanyak 22 Hantavirus bersifat patogen bagi manusia, serta terdiri dari dua tipe penyakit, yaitu tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Tipe HFRS sering pula disebut sebagai Korean Hemorrhagic Fever (KHF), Epidemic Hemorrhagic Fever (EHF) dan Nephropathia Epidemica (NE). Tipe HPS lebih banyak menyebabkan kematian daripada tipe HFRS, karena mengakibatkan tidak berfungsinya otot miokardium dan terjadinya hypoperfusion, sehingga sering disebut sebagai Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS). Berdasarkan penyebarannya, HPS lebih mendominasi Amerika, sedangkan HFRS lebih menyebar ke Asia dan Eropa. Di Nevada Selatan, tikus kijang biasa (Peromyscus maniculatus) tampaknya bertanggung jawab atas penyebaran penyakit pada ketinggian di atas 5.000 kaki. Sekitar 12 persen dari tikus Rusa yang telah diuji ternyata terinfeksi virus. Tikus lain termasuk tikus kaktus, tikus pinon, tikus sikat, tikus ngarai, dan tikus panen barat juga dapat terinfeksi virus ini tetapi dalam jumlah yang jauh lebih rendah. Virus ini tidak membuat hewan pengerat sakit, tetapi orang-orang yang melakukan kontak dekat dengan hewan pengerat mungkin sakit. Meskipun tidak semua tikus memiliki virus, sulit untuk mengidentifikasi tikus dengan benar; jadi semua tikus harus dihindari. Orang-orang yang sakit HPS mungkin awalnya berpikir mereka menderita flu. Perbedaannya adalah bahwa dengan virus ini masalah pernafasan menjadi lebih buruk, paru-paru dipenuhi dengan cairan yang dapat menyebabkan pernafasan berhenti dan orang tersebut mati. Tingkat kematian sekitar 50 persen. Gejala awal meliputi: Kelelahan Demam Nyeri otot (terutama di paha, pinggul, punggung, dan kadang-kadang di bahu) Mual Muntah Diare Sakit perut Sakit kepala Pusing Panas dingin Gejala terlambat mulai empat sampai 10 hari setelah fase awal penyakit dan termasuk: Batuk Sesak napas Tekanan di sekitar dada Gejala yang kurang umum termasuk: Sakit telinga Sakit tenggorokan Hidung beringus Ruam Masa inkubasi tidak diketahui karena sedikitnya jumlah kasus HPS. Berdasarkan informasi, tampaknya gejala dapat berkembang antara satu dan lima minggu setelah paparan. Tidak ada perawatan khusus, penyembuhan atau vaksin untuk HPS. Orang dengan masalah pernafasan yang parah sering ditempatkan pada oksigen dan ventilator. Jika seseorang telah berada di sekitar hewan pengerat dan memiliki gejala demam, sakit otot yang dalam dan sesak napas yang parah, mereka harus segera ke dokter. Tetapi ada beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai tindakan pencegahan, yaitu: Kontrol hewan pengerat di dalam dan sekitar rumah tetap menjadi strategi utama untuk mencegah infeksi hantavirus. Kurangi ketersediaan sumber makanan dan tempat bersarang yang digunakan oleh tikus di dalam rumah kita. Simpan makanan (termasuk makanan hewan peliharaan) dan air tertutup dan disimpan dalam logam anti tikus atau wadah plastik tebal dengan tutup yang rapat. Simpan sampah di logam anti-tikus atau wadah plastik tebal dengan tutup yang rapat. Cuci piring dan peralatan memasak segera setelah digunakan dan singkirkan semua makanan yang tumpah. Rutin buang sampah, jangan biarkan sampah menumpuk berhari-hari dan jaga kebersihan lingkungan rumah. Hindari kegiatan seperti: Bertani di sekitar area yang dipenuhi tikus, Menggunakan bangunan yang dihuni tikus, Membersihkan lumbung atau bangunan tambahan yang penuh dengan tikus, Mengganggu sarang dan liang tikus saat hiking atau berkemah Setiap area di mana kita melihat aktivitas tikus seperti tikus mati atau kotoran tikus (tinja) dan urin harus dibersihkan secara menyeluruh. Dengan cara basahi dengan desinfektan sebelum dibersihkan, dan gunakan teknik mengepel atau membersihkan. Jangan menggunakan penyedot debu atau sapu karena mereka akan menciptakan partikel dan debu di udara. Kenakan sarung tangan karet, pakaian lengan panjang, dan masker debu. Menggunakan Lysol atau pembersih lain yang mengatakan desinfektan pada label dan memiliki fenol pada daftar bahan. Jangan menyentuh tikus mati. Buang dengan penguburan atau di tempat sampah. Cuci tangan bersarung tangan di desinfektan rumah tangga umum dan kemudian dengan sabun dan air. Cuci tangan lagi setelah melepas sarung tangan (Selalu cuci tangan dengan sabun dan air hangat sesudahnya) Dan info tambahan bahwa Di Indonesia, HFRS akibat virus Seoul paling mendominasi. Penyakit ini dibawa dan disebar oleh brown/Norway rat (Rattus norvegicus) yang lebih dikenal sebagai tikus got. Tikus agresif yang mudah berkembang biak ini bukan spesies asli Indonesia. Ia menyebar ke seluruh dunia lewat jalur perdagangan. Dan Hantavirus pertama di Indonesia dilaporkan pada tahun 2002, dengan 11 kasus. Jadi sahabat, moga artikel hari ini sangat membantu kita semua untuk tetap jaga kebersihan, khususnya di lingkungan rumah kita. Jika di antara kita ada yang mengalami gejala serupa di atas, segeralah periksakan diri ke Dokter.   Sumber : www.medicalnewstoday.com, www.webmd.com, www.healthline.com, medlineplus.gov, 
 12 Jan 2019    18:00 WIB
Waspada Gejala-Gejala Kanker Serviks
Kanker serviks atau yang disebut juga sebagai kanker mulut rahim merupakan salah satu penyakit kanker yang paling banyak ditakuti kaum wanita. Berdasarkan data yang ada, dari sekian banyak penderita kanker di Indonesia, penderita kanker serviks mencapai sepertiga nya dan hampir setiap jam terdapat 1 perempuan yang meninggal akibat kanker serviks. Dan dari data WHO tercatat, setiap tahun ribuan wanita meninggal karena penyakit kanker serviks ini dan merupakan jenis kanker yang menempati peringkat teratas sebagai penyebab kematian wanita dunia. Tingginya angka kematian yang disebabkan oleh kanker serviks terjadi karena kurangnya kesadaran yang  pada para wanita untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Pada tahap awal, kanker leher rahim tidak menimbulkan gejala atau keluhan sama sekali. Pada tahap awal ini, pemeriksaan pada daerah serviks menjadi sangat penting untuk mendeteksi adanya perubahan yang terjadi pada daerah serviks. Kanker serviks menyerang pada bagian organ reproduksi kaum wanita, tepatnya di daerah leher rahim atau pintu masuk ke daerah rahim yaitu bagian yang sempit di bagian bawah antara kemaluan wanita dan rahim. Human papilloma Virus (HPV) merupakan penyebab dari kanker serviks. Sedangkan penyebab banyak kematian pada kaum wanita adalah virus HPV tipe 16 dan 18. Virus ini sangat mudah berpindah dan menyebar, tidak hanya melalui cairan, tapi juga bisa berpindah melalui sentuhan kulit. Selain itu, penggunaan wc umum yang sudah terkena virus HPV, dapat menjangkit seseorang yang menggunakannya jika tidak membersihkannya dengan baik. Selain itu, kebiasaan hidup yang kurang baik juga bisa menyebabkan terjangkitnya kanker serviks ini. Seperti kebiasaan merokok, kurangnya asupan vitamin terutama vitamin c dan vitamin e serta kurangnya asupan asam folat. Gejala dan keluhan akan muncul ketika kanker serviks telah berada pada stadium yang lebih lanjut. Gejala-gejala yang perlu diwaspadai tersebut antara lain: Keputihan kronik yang berbau dan bercampur darah. Perdarahan yang terjadi di luar masa menstruasi. Periode menstruasi yang terjadi lebih berat dan lebih lama daripada biasanya. Perdarahan yang terjadi setelah masa menopause. Perdarahan yang terjadi setelah melakukan hubungan seksual. Perdarahan yang terjadi setelah pemeriksaan panggul atau pembersihan vagina (douching). Nyeri di daerah panggul. Nyeri saat melakukan hubungan seksual. Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Dalam menghadapi kanker serviks, hal yang terbaik adalah jangan menunggu hingga gejala-gejala di atas muncul. Lakukan pemeriksaan pada daerah serviks secara rutin jika Anda sudah aktif secara seksual. Hal ini dapat mencegah kematian karena kanker serviks.  
 16 Dec 2018    16:00 WIB
Kloset Umum Sebarkan Kanker Serviks? Mitos atau fakta?
Beberapa kalangan beranggapan kanker serviks bisa ditularkan melalui Human Papilloma Virus yang menempel di kloset. Kekhawatiran ini sebenarnya tidak beralasan kuat. Hal ini dikarenakan virus atau bakteri penyakit seksual menular tidak bisa hidup lama di luar tubuh apalagi di tempat yang dingin seperti toilet. Permukaan keras toilet juga menyebabkan virus dan bakteri tersebut tidak bisa hidup lama. Selain itu, bakteri dan virus penyakit seksual tersebut tidak ada di dalam urin sehingga mustahil urin bisa menyalurkan virus penyakit tersebut. Penularan penyakit seksual menular melalui penggunaan dudukan toilet sangat kecil dan hampir tidak ada. Penularan virus human papilloma (HPV) yang menyebabkan kanker serviks dari kloset umum mungkin saja terjadi jika yang duduk sebelumnya punya kutil kelamin sehingga ada kecil kemungkinan untuk menularkan. Tapi virus tersebut bisa mati dengan cairan pembersih antibakterial. HPV tidak bisa menyebabkan kanker serviks jika tidak ada kontak langsung. HPV ditularkan oleh pasangan kepada seorang perempuan. Pria dengan HPV bisa saja tetap sehat, namun istrinya yang merasakan penyakit akibat infeksi virus tersebut. Sebab HVP penyebab kanker serviks ini menyukai mukosa pada vagina yang luas. Sementara penis bukan mukosa, melainkan kulit. Lalu, bagaimana kita mengantisipasi penularan kanker yang membunuh satu perempuan setiap jam ini? Memang, gejala kanker serviks sering tidak terdeteksi karena pada stadium awal muncul tanpa gejala spesifik. Karena itu, kanker serviks disebut juga sebagai The Silent Killer. Kanker serviks atau leher rahim ini terjadi di bagian organ reproduksi seorang wanita. Leher rahim adalah bagian yang sempit di sebelah bawah antara vagina dan rahim seorang wanita. Di bagian inilah tempat terjadi dan tumbuhnya kanker serviks. Kanker serviks bisa terjadi jika terjadi infeksi yang tidak sembuh-sembuh untuk waktu lama. Sebaliknya, kebanyakan infeksi HPV akan hilang sendiri, teratasi oleh sistem kekebalan tubuh. Jika kekebalan tubuh berkurang, infeksi HPV akan mengganas dan bisa menyebabkan terjadinya kanker serviks. Beberapa gejala bisa diamati meski tidak selalu menjadi petunjuk infeksi HPV. Keputihan atau mengeluarkan sedikit darah setelah melakukan hubungan intim adalah sedikit tanda gejala dari kanker ini. Selain itu, adanya cairan kekuningan yang berbau di area genital juga bisa menjadi petunjuk infeksi HPV. Buruknya gaya hidup seseorang dapat menjadi penunjang meningkatnya jumlah penderita kanker ini. Kebiasaan merokok, kurang mengonsumsi vitamin C, vitamin E, dan asam folat dapat menjadi penyebabnya. Jika mengonsumsi makanan bergizi akan membuat daya tahan tubuh meningkat dan dapat mengusir virus HPV. Cara paling mudah untuk mengetahuinya seseorang terkena kanker serviks atau tidak, yaitu dengan melakukan pemeriksaan sitologis leher rahim atau pap smear. Pap smear metode tes yang umum yaitu dokter menggunakan pengerik atau sikat untuk mengambil sedikit sampel sel-sel serviks atau leher rahim. Kemudian sel-sel tersebut akan dianalisis di laboratorium. Tes itu dapat menyingkapkan apakah ada infeksi, radang, atau sel-sel abnormal. Menurut laporan sedunia, dengan secara teratur melakukan tes pap smear telah mengurangi jumlah kematian akibat kanker serviks. Jika terinfeksi HPV, jangan cemas, karena saat ini tersedia berbagai cara pengobatan yang dapat mengendalikan infeksi HPV. Beberapa pengobatan bertujuan mematikan sel-sel yang mengandung virus HPV. Cara lainnya adalah dengan menyingkirkan bagian yang rusak atau terinfeksi dengan pembedahan listrik, pembedahan laser, atau cryosurgery (membuang jaringan abnormal dengan pembekuan). Jika kanker serviks sudah sampai ke stadium lanjut, akan dilakukan terapi kemoterapi. Pada beberapa kasus yang parah mungkin juga dilakukan histerektomi, yaitu operasi pengangkatan rahim atau kandungan secara total. Tujuannya untuk membuang sel-sel kanker serviks yang sudah berkembang pada tubuh. Namun, mencegah lebih baik daripada mengobati. Maka, terapkanlah pola hidup sehat dan bersih, tidak bergonta-ganti pasangan, melakukan pap smear secara rutin, pemberian vaksin HPV, dan menjaga kebersihan vagina
 22 Aug 2017    15:00 WIB
Vaksin HPV Mampu Cegah Kanker Serviks Makin Parah?
Seperti yang Kita ketahui ada semboyan yang mengatakan "Mencegah lebih baik dari pada mengobati". Hal ini juga berlaku untuk mencegah terjadinya risiko kanker. Penyakit Kanker yang sering dialami wanita adalah kanker payudara dan kanker serviks (kanker leher rahim). Namun dewasa ini masih banyak wanita yang enggan memeriksakan diri ke dokter kandungan, kendati sudah memiliki berbagai keluhan. Padahal, bila seorang wanita yang benar mengalami kanker serviks dan hal ini dibiarkan tanpa pengobatan maka akan menjadi semakin ganas. Di Indonesia, setiap harinya 40-45 perempuan terdiagnosis kanker serviks dan 20-25 diantaranya meninggal karenanya. Dampak yang dapat ditimbulkan kanker serviks pada perempuan sangat banyak, dikarenakan kasus kanker serviks terbanyak muncul pada saat perempuan berada dalam usia produktif yaitu antara 30-50 thn. Dampak ini diantaranya gangguan kualitas hidup psikis, fisik dan kesehatan seksual, Dampak sosial dan ekonomi (finansial), Pengaruh pada perawatan, pendidikan anak dan suasana kehidupan keluarga. Dalam 99% kasus, kanker serviks terjadi sebagai akibat dari riwayat infeksi dengan jenis risiko tinggi HPV. Seringkali, infeksi HPV tidak menimbulkan gejala. Sehingga sulit untuk dibedakan penderita yang terinfeksi dan keadaan normal. Biasanya baru bergejala saat kanker serviks sudah memasuki stadium akhir.  Apakah seseorang yang sudah terkena infeksi HPV perlu diberikan vaksin HPV? Sebaiknya vaksin ini diberikan sebelum seseorang mengalami kanker serviks, namun berdasarkan penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa vaksin HPV aman bagi wanita yang sudah terkena infeksi HPV. Tetapi wanita-wanita ini tidak akan mendapat manfaat yang penuh dari vaksin ini. Vaksin ini tidak dapat mengobati infeksinya, tetapi dapat melindungi wanita terhadap 4 jenis virus yang belum tentu diderita semuanya secara sekaligus. Jadi, jika sebelumnya seorang wanita belum terkena infeksi oleh sebagian jenis virus yang ada dalam vaksin, maka dia akan diproteksi terhadap sebagian jenis virus yang belum pernah dideritanya. Sebelum kanker serviks mengegrogoti kesehatan Anda, lakukan pencegaham sedini mungkin seperti berhubungan intim yang sehat, tidak berganti-ganti pasangan dan menjaga pola hidup sehat dan melakukan vaksinasi untuk pencegahan kanker serviks.  Baca juga: Waspada gejala-gejala kanker serviks  Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur https://dokter.id/tanya-dokter"> Tanya dokter sekarang  Sumber: anakui
 31 May 2017    11:00 WIB
Waspada Pengguna Tembakau Lebih Berisiko Terinfeksi Infeksi Menular Seksual
Menurut sebuah penelitian menyatakan bahwa seseorang yang menggunakan tembakau lebih rentan tertular human papillomavirus tipe 16 (HPV-16) melalui mulut. Oral HPV-16 diyakini bertanggung jawab atas peningkatan kejadian kanker sel skuamosa orofaringeal. Penelitian yang dilakukan dalam meneliti hubungan antara jumlah penggunaan rokok yang dihisap per hari dan kejadian HPV. Carole Fakhry dari Universitas Kedokteran Johns Hopkins, Baltimore bersama dengan rekan-rekannya meneliti hubungan antara prevalensi kejadian oral HPV-16 dengan penggunaan rokok (lingkungan yang merokok, kebiasaan merokok). Para peneliti menggunakan data dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), peserta berusia 14-69 tahun yang memenuhi syarat untuk dilakukan tes DNA HPV oral. Penelitian ini melibatkan 6.887 peserta NHANES, di antaranya 2,012 (28,6 persen) adalah pengguna tembakau saat ini dan 63 (1,0 persen) memiliki HPV-16 yang terdeteksi. Pengguna tembakau dibanding bukan pengguna tembakau biasanya lebih banyak pada pria, pendidikan yang kurang dan mempunyai aktivitas seks oral yang lebih tinggi. Berdasarkan penelitian ditemukan para pengguna tembakau berhubungan secara signifikan dengan risiko kejadian infeksi oral HPV-16. Oral HPV-16 ini ditemukan pada para pengguna tembakau sekitar 2 persen dibandingkan dengan kejadian oral HPV-16 pada kelompok bukan pengguna tembakau hanya sekitar 0,6 persen. Kadar kotinin dan NNAL (penanda spesifik pengguna tembakau) lebih tinggi pada individu yang terinfeksi oral HPV-16 dibanding yang tidak terinfeksi oral HPV-16 Penelitian ini telah dipublikasikan di dalam Journal of American Medical Association (JAMA). Sumber: medindia
 30 Jan 2015    15:00 WIB
Kesalahan yang Membuat Anda Lebih Mudah Tertular Oleh HPV
Berdasarkan sebuah penelitian baru di Amerika, sekitar 10% wanita yang mulai menerima vaksin HPV ternyata tidak pernah menyelesaikan rangkaian vaksinasi tersebut, yang tentu saja akan membuat vaksin menjadi kurang efektif. Pada penelitian ini, para peneliti menganalisa data dari sebuah survei kesehatan di Amerika, yang terdiri dari 27.000 orang dewasa di Amerika. Para peneliti kemudian menemukan bahwa mulai dari tahun 2010, sekitar 75% wanita yang berusia antara 18-26 tahun tidak melakukan vaksinasi HPV. Selain itu, sekitar 10% wanita yang menerima setidaknya 1 dosis vaksin HPV tidak kembali melanjutkan penyuntikkan vaksin hingga selesai (vaksinasi HPV terdiri dari 3 dosis). Karena para ahli sampai saat ini masih tidak mengetahui seberapa baik perlindungan yang diperoleh para wanita ini dengan hanya menerima 1 atau 2 dosis vaksin, maka para peneliti menganjurkan agar para wanita menerima keseluruhan vaksin HPV untuk memperoleh manfaat yang optimal dari penyuntikan vaksin. Vaksin HPV yang telah diluncurkan sejak 7 tahun lalu diharapkan dapat membantu mencegah terjadinya infeksi dari 4 jenis HPV yang paling sering menyebabkan terjadinya kanker serviks (kanker leher rahim) dan kutil kemaluan. Vaksin HPV ini juga berfungsi untuk membantu mencegah terjadinya kanker vulva dan vagina serta mencegah terjadinya kanker anus baik pada pria maupun wanita. HPV sebenarnya merupakan penyakit menular seksual yang paling sering ditemukan di Amerika. Menurut CDC, setidaknya setengah dari seluruh pria dan wanita yang aktif berhubungan seksual pernah tertular oleh HPV di sepanjang hidupnya. Akan tetapi, karena pemberian vaksin HPV dibagi menjadi 3 dosis, maka banyak wanita yang tidak berhasil menyelesaikan rangkaian vaksin HPV ini. Dosis vaksin kedua biasanya diberikan 1-2 bulan setelah pemberian dosis pertama. Dosis ketiga biasanya diberikan 6 bulan setelah pemberian dosis pertama. Jika Anda telah melewatkan waktu pemberian dosis kedua dari vaksin HPV, maka bukan berarti Anda tidak lagi dapat menerima dosis kedua dan ketiga. Menurut sebuah penelitian lainnya yang juga dilakukan di Amerika, menunda pemberian dosis lanjutan dari vaksin HPV tidak akan menghilangkan keefektifan pemberian vaksin HPV lengkap. Efektivitas vaksin hanya akan berkurang bila Anda sama sekali tidak menerima dosis kedua dan ketiga dari rangkaian vaksin HPV. Para ahli menganjurkan agar pemberian vaksin HPV kembali dilakukan saat wanita telah berusia 26 tahun, baik bagi para wanita yang belum pernah menerima vaksin sebelumnya atau bagi para wanita yang hanya menerima 1 dosis vaksin saat mereka berusia lebih muda. Saat yang terbaik untuk menerima vaksin HPV adalah saat seorang perempuan masih berusia antara 11-12 tahun, akan tetapi bukan berarti Anda tidak boleh menerima vaksin bila Anda telah melewati usia tersebut.     Sumber: womenshealthmag
 21 Nov 2014    14:00 WIB
Kebiasaan Buruk yang Dapat Meningkatkan Resiko Tertular HPV
Pada sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika, para pria yang mengkonsumsi paling banyak minuman beralkohol, yaitu lebih dari 2.5 porsi minuman beralkohol setiap harinya memiliki resiko yang lebih tinggi (13% lebih tinggi) untuk mengalami infeksi HPV (human papilloma virus) dibandingkan dengan pria lain yang hanya mengkonsumsi sedikit minuman alkohol. Selain itu, seorang peminum alkohol juga memiliki resiko lebih tinggi untuk terinfeksi oleh HPV penyebab kanker, yaitu sekitar 35% lebih tinggi. Mengapa demikian? Pada penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa pria yang mengkonsumsi lebih banyak minuman beralkohol juga cenderung lebih banyak berhubungan seks dengan banyak wanita. Akan tetapi, perlu diingat bahwa penelitian ini tidak menunjukkan adanya hubungan sebab akibat dan hanya menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dengan penurunan kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi HPV. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa bahkan bila Anda hanya mengkonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah sedang, hal ini tetap saja dapat mengganggu kemampuan sistem kekebalan tubuh Anda untuk melindungi Anda dari berbagai jenis infeksi dan mengganggu kemampuan tubuh Anda untuk membentuk antibodi terhadap suatu penyakit. Hal ini dapat menyebabkan Anda menjadi lebih mudah mengalami flu, batuk, dan bahkan infeksi HPV. Berdasarkan sebuah penelitian lainnya, sebagian besar pria memang akan berkontak dengan HPV pada suatu saat selama hidupnya, akan tetapi Anda mungkin tidak menyadarinya karena infeksi ini biasanya tidak menimbulkan gejala apapun. Akan tetapi, beberapa jenis HPV dapat menyebabkan terjadinya kutil kemaluan, dan beberapa jenis HPV lainnya juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker anus, kanker penis, kanker mulut, dan kanker tenggorokan. Dan Anda tentu saja dapat menularkan HPV ini pada pasangan Anda. Karena HPV ditularkan melalui kontak langsung antara kulit penderita dengan orang lain, maka penggunaan kondom dapat mengurangi resiko penularan, akan tetapi mungkin tidak dapat mencegah terjadinya infeksi hingga 100%. Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda untuk mempertimbangkan penggunaan vaksin HPV untuk melindungi diri Anda dari infeksi HPV, terutama bila Anda memiliki lebih dari 1 pasangan seksual.     Sumber: menshealth
 24 Oct 2014    10:00 WIB
Apa Hubungan Antara Minuman Beralkohol dan Infeksi HPV yang Tidak Kunjung Sembuh?
Lebih dari setengah orang dewasa yang aktif secara seksual akan terpapar oleh HPV selama hidupnya. Sebagian besar penderita memang dapat sembuh dari infeksi HPV ini, akan tetapi terdapat juga beberapa orang yang sulit sembuh dari infeksi HPV ini (infeksi HPV persisten), yang diduga terjadi akibat konsumsi minuman beralkohol. Yang dimaksud dengan infeksi persisten adalah suatu keadaan di mana infeksi terus berlangsung (tidak juga menyembuh) dan tergantung pada jenis virus yang menginfeksi, hal ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan berat. Berdasarkan sebuah penelitian, mengkonsumsi minuman beralkohol ternyata dapat meningkatkan resiko terjadinya infeksi persisten terhadap HPV pada seorang wanita. Pada penelitian ini, para peneliti mengamati lebih dari 9.000 orang wanita di Korea mengenai riwayat infeksi HPV dan menanyakan berbagai pertanyaan seputar kebiasaan konsumsi minuman beralkohol mereka.  Para peneliti ini kemudian menemukan bahwa para wanita yang sering mengkonsumsi minuman beralkohol memiliki resiko 3 kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi HPV dibandingkan dengan wanita yang tidak mengkonsumsi minuman beralkohol.  Selain itu, para wanita yang telah mengkonsumsi minuman beralkohol selama 5 tahun atau lebih memiliki resiko lebih dari 2 kali lipat untuk mengalami infeksi HPV yang persisten dibandingkan dengan para wanita yang baru mulai mengkonsumsi minuman beralkohol (kurang dari 5 tahun). Para peneliti juga menemukan bahwa kemungkinan seorang wanita untuk mengalami infeksi HPV yang persisten akan semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya jumlah minuman beralkohol yang mereka konsumsi setiap kalinya. Pada penelitian ini, para peneliti menemukan 2 hal, yang pertama adalah bahwa konsumsi minuman beralkohol dapat menyebabkan terjadinya defisiensi folat, yang dapat menyebabkan perubahan DNA, yang dapat memicu terjadinya kanker.  Yang kedua adalah para peneliti menemukan bahwa hampir 10% wanita yang mengkonsumsi alkohol ternyata juga merokok. Tembakau dapat menyebabkan penurunan kekuatan sistem kekebalan tubuh, yang membuat tubuh semakin sulit melawan infeksi virus ini.     Sumber: foxnews
 18 Aug 2014    14:00 WIB
Vaksin HPV, Kembali Menyebabkan Kematian Seorang Remaja Perempuan!
Kematian mendadak seorang remaja perempuan berusia 12 tahun di Waukesha, Wisconsin, beberapa jam setelah menerima vaksin HPV, Gardasil membuat keluarganya sangat terkejut dan membuat media setempat bertanya-tanya bagaimana hal ini dapat terjadi. Seorang reporter di WISN 12 mewawancara seorang dokter dari departemen kesehatan setempat untuk mengetahui apa yang terjadi. Dokter tersebut mengatakan hal yang sama seperti CDC yang menyatakan bahwa reaksi alergi berat yang dapat menyebabkan kematian setelah pemberian suatu vaksin tertentu sangatlah jarang terjadi, yaitu hanya sekitar 1 dari 1.000.000 dosis vaksin. Vaksin HPV merupakan vaksin yang diberikan untuk mencegah infeksi HPV jenis tertentu yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit menular seksual dan kanker leher rahim. Pada saat berita mengenai Meredith Prohaska banyak diberitakan di media, ternyata terdapat orang tua lainnya yang menghubungi media berita setempat mengenai reaksi alergi berat yang dialami oleh putrinya yang berusia 17 tahun, yang membuatnya memerlukan perawatan di rumah sakit setempat. Selain reaksi alergi berat yang dapat membahayakan jiwa penerimanya, vaksin HPV ternyata juga memiliki beberapa efek samping lainnya seperti: • Menopause dini atau kemandulan • Narkolepsi (sejenis gangguan tidur) • Gangguan autoimun • Sindrom Guillain Barre • Stroke • Emboli pembuluh darah vena • Apendisitis (radang usus buntu) • Kejang • Sinkop (pingsan) • Berbagai reaksi alergi Sumber: healthimpactnews
 09 Jul 2014    20:00 WIB
Vaksin HPV Sebagai Pencegah Kanker Serviks
Apa itu HPV?HPV merupakan singkatan dari Human Papiloma Virus. Virus ini adalah virus yang menyebabkan penyakit kutil pada kulit. Telah ditemukan lebih lebih dari 100 tipe virus HPV, jadi Virus papilloma yang menyebabkan kutil kelamin berbeda dengan virus papilloma yang menybabkan kutil di tangan atau kaki. Beberapa tipe HPV merupakan penyebab dari kanker serviks, yaitu HPV tipe 16 dan tipe 18. Lebih dari 80% dari kasus kanker serviks disebabkan oleh kedua tipe virus papilloma tersebut. Siapakah yang beresiko terkena infeksi HPV?Wanita yang memulai hubungan seksual lebih awal (usia 14-16 tahun) merupakan kelompok orang yang memiliki resiko tinggi untuk terkena kanker serviks. Selama masa pubertas, wanita belum memliki fungsi seksual yang sempurna dan kondisi leher Rahim yang belum matang, sehingga rentan terinfeksi virus HPV. Bagaimana cara mengurangi resiko terinfeksi HPV?Cara yang pasti untuk mencegah infeksi HPV adalah tidak melakukan hubungan seksual pada usia muda dan tidak berganti- ganti pasangan. Selain itu, infeksi HPV terutama HPV yang menyebabkan kanker serviks dapat dicegah dengan cara pemberian vaksin. Vaksin ini disuntikkan pada otot, biasanya pada lengan atas. Perlindungan terbaik didapatkan setelah 3 kali suntikan yang diberikan dalam jangka 6 bulan. Apa manfaat Vaksin HPV?Proteksi terhadap infeksi HPV tipe 16 dan 18 akan dapat bertahan selama 5 tahun. Jika vaksin ini diberikan pada wanita usia 9-26 tahun, maka Akan memberika proteksi 100%. Jika diberikan pada wanita di atas usia 26 tahun, maka proteksi yang didapatkan tergantung besarnya paparan HPV yang telah terjadi. Apa saja yang harus diperhatikan sebelum menerima HPV?Pastikan anda tidak sedang hamil atau tidak berencana untuk hamil. Pastika anda dalam ke adaan sehat, tidak flu, demam, diare. Dan yang sangat pentit, bagi yang sudah seksual aktif, harus dilakukan pemeriksaan pap test terlebih dahulu sebelum menerima vaksin HPV.