Your browser does not support JavaScript!
 07 Jul 2019    16:00 WIB
Gangguan pencernaan dan hepatitis B
Hepatitis B adalah penyakit serius yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Infeksi virus ini dapat menyebabkan timbulnya jaringan parut di hati, gagal hati, kaknker hati dan bahkan kematian. Hepatitis disebarkan melalui darah yang terinfeksi virus dan cairan tubuh lainnya seperti cairan semen, cairan vagina dan luka terbuka.   Apa yang terjadi jika terinfeksi virus Hepatitis B ? Pada kebanyakan kasus, Hepatitis B menyebabkan infeksi yang sangat terbatas. Biasanya oranf-orang mampu mengatasi infeksi hepatitis B dalam waktu beberapa bulan dan mengembangkan imunitas yang dapat bertahan seumur hidup (artinya anda tidak akan terkena infeksi lagi seumur hidup anda). Test darah akan menunjukkan imunitas ini, tetapi tidakdisertai tanda-tanda infeksi yang aktif. Tetapi ada beberapa orang yang tidak dapat menyingkirkan infeksi hepatitis B. Jika anda terinfeksi hepatitis B selama lebih dari  6 bulan, maka anda dianggap carrier hepatitis B, bahkan jika anda tidak memiliki gejala-gejala penyakit tersebut. Ini artinya anda dapat menularkan penyakit ke orang lain melalui hubungan seks tanpa pelindung, melalui darah atau luka terbuka dengan orang lain atau denga berbagi jarum suntik. Untuk alasan yang tidak diketahui, infeksi dapat hilang pada sebagian kecil pengidap carrier hepatitis. Untuk pengidap lain, infeksi berubah menjadi kronis. Hepatitis kronis adalah infeksi yang berkembang di hati dan dapat berkembang menjadi sirosis dan kanker hati. Sirosis atau pengerasan hati, menyebabkan terbentuknya jaringan parut dan hati berhenti berfungsi. Jika anda mengidap virus hepatitis B, anda tidak boleh mendonorkan darah, plasma, organ tubuh, jaringan atau sperma.   Bagaimana saya mengetahui apakah saya mengidap hepatitis B atau tidak ? Gejala-gejala dari infeksi akut hepatitis B adalah : Jaundice ( warna kuning di kulit dan bagian putih mata, urine berwarna coklat atau oranye) Tinja berwarna pucat Demam Kelelahan dan kelemahan tanpa alasan yang jelas Penurunan nafsu makan, mual, muntah Nyeri perut Terkadang infeksi tidak disertai gejala, hanya terlihat dari hasil test darah. Terkadang gejala baru muncul setelah 6 bulan terkena infeksi. Diperkirakan 30% dari infeksi hepatitis B tidak menunjukkan gejala atau tanda-tanda. Jika dokter anda mencurigai anda menderita hepatitis B, maka dia akan melakukan pemeriksaan fisik yang lengkap dan meminta anda untuk melakukan test darah untuk mengetahui fungsi hati anda. Hepatitis B dikonfirmasi dengan hasil test darah untuk mendeteksi virus hepatitis dan antibody yang sudah terbentuk untuk melawan virus tersebut. Jika infeksi anda sudah bersifat kronik, biopsi hati (contoh jaringan) dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan penyakit.   Bagaimana mengobati hepatitis B ? Jika anda menemui dokter anda dalam waktu 2 minggu setelah terinfeksi hepatitis B, anda akan mendapatkan vaksinasi dan suntikan imunoglobulin hepatitis untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh untuk melawan infeksi tersebut. Tetapi jika anda sudah sakit, tirah baring sangat penting untuk mempercepat proses penyembuhan. Sebagian dokter merekomendasikan diet tinggi kalori dan tinggi lemak dan menyarankan agar penderita makan sebanyak mungkin walaupun mengalami mual yang parah. Jika anda terinfeksi hepatitis B, anda harus memperhatikan kondisi hati anda lebih lagi. Hindari alkohol, hindari penggunaan asetaminofen sebagai obat nyeri karena dapat memperberat kerja hati. Konsultasikan dengan dokter anda sebelum anda mengkonsumsi obat, perangkat herbal, suplemen apapun, karena dapat memperberat kerja hati anda. Jika anda menderita hepatitis B selama 6 bulan dan dalam posisi aktif ( kronis aktif hepatitis B) dokter anda akan meresepkan pengobatan yang lebih agresif. Jika infeksi tidak berlangsung aktif  (tingkat carrier tidak aktif) maka dokter anda hanya akan melakukan pengamatan secara ketat. Penderita kronis hepatitis akan diobati dengan kombinasi beberapa obat. Obat-obat ini termasuk : Interferon Interferon adalah suatu  peningkat sistem imunitas tubuh yang akan disuntikkan ke dalam tubuh Selama 6 bulan. Interferon dengan masa aktif yang lama (long acting interferon) juga diketahui sangat bermanfaat. Interferon juga memiliki efek samping yang sangat tidak diinginkan seperti : kelemahan, depresi dan penurunan nafsu makan, juga dapat menurunkan hitung jenis dari sel darah putih. Epivir Obat ini dikonsumsi secara oral sekali sehari Hepsera Obat ini bekerja dengan baik pada orang-orang yang tidak merespon baik epivir, tetapi hepsera pada dosis tinggi dapat menimbulkan masalah di ginjal Baraclude Merupakan oabt terbaru untuk pengobatan hepatitis B Viread Pengawasan kerja ginjal sangat diperlukan jika mengkonsumsi obat ini Hepatitis B dan kehamilan Seorang wanita hamil dapat menularkan virus ke bayinya saat proses kelahiran. Jadi ibu hamil tidak menginfeksi bayinya saat masih dalam masa kandungan. Jika tidak diobati, banyak bayi akan mengalami masalah hati jangka panjang. Semua bayi baru lahir dari ibu yang terkena infeksi epatitis B harus diberikan immunoglobulin dan vaksin hepatitis pada saat lahir dan 1 tahun pertama dari kehidupannya. Bagaimana mencegah Hepatitis B dan bagaimana penyebarannya ? Untuk mencegah penyebaran Hepatitis B : Vaksinasi (jika anda belum terkena infeksi) Gunakan kondom jika berhubungan seksual Gunakan sarung tangan ketika menyentuh atau ketika membersihkan cairan tubuh oarng lain Tutup semua luka Jangan berbagi pisau cukur, sikat gigi, peralatan manikur atau anting dengan orang lain Jangan berbagi permen karet atau mengunyah makan terlebih dahulu untuk bayi. Pastikan jarum suntik untuk obat, alat tindik telinga, alat tattoo sudah disteril dengan baik dan benar Dapatkah saya terkena Hepatitis B melalui Transfusi darah ? Kemungkinan terkena infeksi hepatitis B dari transfuse darah sangatlah kecil karena darah yang didonorkan akan diperiksakan darahnya. Apakah saya harus mendapatkan vaksinasi hepatitis B ? Seluruh bayi baru lahir Orang-orang yang terekspose oleh darah atau cairan tubuh yang terinfeksi dari teman atau keluarga. Orang yang menggunakan jarum suntik Orang dengan seks bebas Penyedia sarana kesehatan Orang-orang yang bekerja di pusat daycare dan institusi pengasuh anak dan di penjara.   sumber : webmd
 04 Jul 2019    18:00 WIB
Apa Beda Hepatitis B dan Hepatitis C?
Walaupun setiap virus hepatitis berbeda, tetapi semuanya menyerang hati. Hati merupakan organ penting yang memiliki sekitar 500 fungsi vital di dalam tubuh. Berbagai fungsi hati adalah membersihkan darah, melawan infeksi, dan penyimpan cadangan makanan. Virus hepatitis dapat mengganggu berbagai fungsi hati ini.Terdapat 5 jenis virus hepatitis, yaitu virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Jenis virus hepatitis yang paling sering menginfeksi manusia adalah virus hepatitis A, B, dan C. Virus hepatitis B dan C dapat menyebabkan penyakit yang cukup berat bagi manusia.GejalaSemua jenis hepatitis memiliki gejala yang hampir mirip, yaitu:•  Demam•  Nyeri sendi•  Merasa sangat lelah•  Mual•  Hilangnya nafsu makan•  Muntah•  Nyeri perut Beberapa gejala lainnya yang dapat ditemukan adalah tinja berwarna keabuan dan jaundice (kulit atau bagian putih mata berwarna kuning. Pada saat menderita hepatitis C tahap awal, anda bahkan mungkin tidak menyadarinya dan mungkin salah menduganya sebagai infeksi flu biasa.Penularan Hepatitis B dan C Hepatitis BHepatitis B biasanya menular melalui hubungan seksual atau akibat proses persalinan (bayi terkena hepatitis B akibat tertular ibunya saat lahir). Virus dapat ditularkan melalui cairan mani dan darah. Jarang, hepatitis B juga dapat ditularkan melalui jarum suntik. Hepatitis CHepatitis C dapat menular akibat kontak dengan darah orang yang terinfeksi. Hal ini biasanya terjadi melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian. Hepatitis C juga dapat menular melalui hubungan seksual dan proses persalinan.Masa Inkubasi dan Orang yang Beresiko Hepatitis BMasa inkubasi (selang waktu antara paparan terhadap virus hepatitis dengan saat timbulnya gejala pertama) rata-rata virus hepatitis B adalah 120 hari, dan dapat bervariasi antara 45-160 hari.Orang yang memiliki resiko tertinggi untuk tertular virus hepatitis B adalah bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi. Orang lain yang juga beresiko tinggi tertular virus hepatitis B adalah pasangan seksual dari orang yang terinfeksi dan orang yang memiliki banyak pasangan seksual. Hepatitis CMasa inkubasi rata-rata virus hepatitis C adalah 45 hari, dan dapat bervariasi antara 14-180 hari.Orang yang beresiko tinggi terinfeksi oleh virus hepatitis C adalah pengguna atau mantan pengguna obat suntik dan orang yang pernah menerima transfusi darah sebelum tahun 1992.Infeksi Akut atau Kronik?Dokter membedakan suatu infeksi hepatitis sebagai akut maupun kronik melalui berapa lama penyakit telah berlangsung. Disebut infeksi akut bila gejala berlangsung dalam waktu singkat, kurang dari 6 bulan. Disebut infeksi kronik bila gejala berlangsung dalam wakut lama atau lebih dari 6 bulan.Infeksi hepatitis B dapat berupa infeksi akut atau kronik. Infeksi hepatitis C biasanya berupa suatu infeksi kronik, infeksi akut hepatitis C jarang terjadi, yaitu hanya terjadi pada 15% penderita.Infeksi hepatitis B dan hepatitis B dapat terjadi dalam waktu yang bersamaan, karena disebabkan oleh 2 jenis virus yang berbeda.PengobatanUntuk mengatasi infeksi hepatitis B dan C, dokter anda dapat memberikan obat antivirus dan obat yang berfungsi untuk melindungi hati serta obat simptomatik lainnya (obat yang berfungsi untuk mengurangi gejala, misalnya obat penurun panas untuk mengatasi demam). Hindari konsumsi alkohol untuk mencegah terjadinya kerusakan hati lebih lanjut.PencegahanBagi hepatitis B, terdapat vaksin yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi hepatitis B dan direkomendasikan untuk:•  Semua bayi saat lahir•  Anak-anak yang belum pernah memperoleh vaksinasi•  Pasangan seksual orang yang terinfeksi•  Orang yang memiliki banyak pasangan seksual•  Pria yang berhubungan seksual dengan pria•  Pengguna obat suntik•  Penderita infeksi HIV Tidak ada vaksin yang dapat mencegah terjadinya hepatitis C, tetapi anda dapat mencegah tertular hepatitis C dengan tidak menggunakan jarum atau alat cukur yang sama dengan orang yang telah terinfeksi.Sumber: healthline
 18 Oct 2018    16:00 WIB
Apakah Vaksin Hepatitis Boleh Diberikan Pada Wanita Hamil?
Secara umum, belum ada bukti pasti bahwa pemberian vaksinasi pada ibu hamil dapat membahayakan janin di dalam kandungan. Akan tetapi, secara teoritis, pemberian vaksin berisi bakteri atau virus hidup yang dilemahkan mungkin dapat membahayakan janin di dalam kandungan. Oleh karena itu, pemberian vaksin berisi bakteri atau virus hidup ini tidak dianjurkan (kontraindikasi) pada ibu hamil. Pemberian vaksin pada ibu hamil seringkali dipertimbangkan berdasarkan apakah manfaat pemberian vaksin lebih besar daripada resikonya. Bila manfaat pemberian vaksin lebih besar daripada resikonya, maka pemberian vaksin pun dapat dipertimbangkan. Vaksin hepatitis A merupakan vaksin inaktif seperti halnya vaksin hepatitis B. Pemberian vaksin hepatitis A biasanya dianjurkan bila terdapat resiko lainnya yang lebih tinggi daripada resiko pemberian vaksin. Seperti halnya vaksin hepatitis A, vaksin hepatitis B pun dapat diberikan pada ibu hamil. Berdasarkan beberapa data penelitian, vaksin hepatitis B tidak menimbulkan efek samping apapun pada janin di dalam kandungan dan tidak akan menyebabkan terjadinya infeksi hepatitis B pada janin. Wanita hamil yang diduga beresiko tinggi terkena infeksi hepatitis B selama kehamilan sebaiknya memperoleh vaksinasi hepatitis B. Beberapa hal yang menyebabkan peningkatan resiko terjadinya infeksi hepatitis B pada wanita hamil adalah: Memiliki lebih dari 1 pasangan seksual dalam waktu 6 bulan terakhir Pernah atau sedang menjalani pengobatan untuk mengatasi penyakit  menular seksual Pernah atau sedang menggunakan obat-obatan yang disuntikkan Memiliki pasangan seksual yang menderita HBsAg positif (menderita infeksi hepatitis B)   Sumber: cdc
 04 Aug 2016    18:00 WIB
Gagal Hati
Gagal hati terjadi ketika sebagian besar bagian hati rusak dan tidak dapat berfungsi kembali dengan normal. Gagal hati merupakan kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan medis segera. Kebanyakan kasus gagal hati terjadi secara bertahap selama beberapa waktu. Tetapi pada kasus tertentu gagal hati dapat terjadi dengan cepat atau dikenal sebagai gagal hati akut dan terjadi sangat cepat (kurang dari 48 jam) dan sulit dideteksi dari awal. Penyebab gagal hati Kebanyakan kasus gagal hati disebabkan oleh: Hepatitis B Hepatitis C Konsumsi alkohol jangka panjang Sirosis  Malnutrisi Apa saja gejala dari gagal hati? Gagal hati dapat memberikan gejala lebih dari satu. Berikut adalah beberapa gejala awal dari gagal hati yang mungkin sulit untuk didiagnosa karena hampir mirip dengan kondisi penyakit lain. Gejala mencakup: Mual Penuruna nafsu makan Kelelahan Diare Tetapi saat gagal hati semakin bertambah berat, gejala yang muncul akan semakin serius dan memerlukan penanganan secepatnya. Gejala mencakup: Jaundice (kulit, mata menjadi kuning) Mudah berdarah Perut membesar atau membengkak Disorientasi  Mengantuk Koma Bagaimana mengatasi gagal hati? Jika gagal hati didiagnosa sejak dini, gagal hati akut yang disebabkan kelebihan dosis asetaminofen masih dapat diobati dan pulih. Begitu juga jika gagal hati disebabkan oleh virus, dapat diberikan perawatan di rumah sakit sampai virus benar-benar menghilang. Dalam kasus ini kemungkinan hati akan pulih dengan sendirinya. Untuk gagal hati yang disebabkan kasus yang lama, diperlukan terapi awal yang akan mencoba mengembalikan fungsi hati yang rusak supaya kembali seperti semula. Jika hal tersebut gagal maka perlu dilakukan transplantasi hati. Untungnya, transplantasi hati merupakan prosedur dengan angka keberhasilan yang cukup tinggi Bagaimana mencegah terjadinya gagal hati? Langkah terbaik untuk mencegah gagal hati adalah memperkecil resiko terkena sirosis hati atau hepatitis. Berikut adalah beberapa tips untuk mencegah kondisi tersebut: Melakukan vaksinasi hepatitis atau imunoglobulin untuk mencegah tertular hepatitis A atau B Menjalankan diet yang sehat Batasi konsumsi alkohol. Hindari konsumsi alkohol saat Anda harus memakan asetaminofen Meningkatkan kebersihan diri Jangan menyentuh produk darah atau urin dengan tangan telanjang Jangan berbagi peralatan mandi, misalnya sikat gigi dan pisau cukur dengan orang lain Pastikan menggunakan kondom saat berhubungan seksual Jangan melakukann penyuntikan obat secara ilegal, jangan berbagi jarum suntik dengan orang lain.   Sumber: webmd
 15 Jul 2014    16:00 WIB
Siapa yang Tidak Boleh Menerima Vaksin Hepatitis?
Karena usia, keadaan kesehatan tertentu, dan berbagai faktor lainnya; beberapa orang mungkin tidak dapat menerima suatu jenis vaksin tertentu atau harus menunggu selama beberapa waktu sebelum menerima vaksin tersebut, termasuk vaksin hepatitis, baik vaksin hepatitis A maupun B.   Vaksin Hepatitis A Beberapa keadaan yang membuat seseorang tidak dapat menerima vaksin hepatitis A atau harus menunggu selama beberapa waktu sebelum diperbolehkan menerima vaksin hepatitis A adalah: Seseorang yang pernah mengalami reaksi alergi berat pada saat menerima vaksin hepatitis A sebelumnya Seseorang yang pernah mengalami reaksi alergi berat terhadap komponen vaksin apapun Seseorang yang sedang sakit, baik sakit sedang maupun berat pada saat akan menerima vaksin harus menunggu hingga sembuh sebelum dapat menerima vaksin. Seseorang yang sakit ringan biasanya masih dapat menerima vaksin Seseorang yang sedang hamil   Vaksin Hepatitis B Orang-orang yang tidak boleh menerima vaksin hepatitis B adalah: Seseorang yang menderita alergi terhadap ragi atau jamur atau komponen vaksin lainnya Seseorang yang pernah mengalami reaksi alergi berat setelah menerima vaksin hepatitis B Seseorang yang sedang mengalami sakit sedang maupun berat saat akan menerima vaksin harus menunggu hingga sembuh sebelum diperbolehkan menerima vaksin Bila Anda berniat mendonorkan darah dan baru saja menerima vaksin hepatitis B, maka dianjurkan agar Anda menunggu selama 28 hari. Hal ini dikarenakan pemeriksaan skrining dapat memberikan hasil positif palsu (dianggap menderita hepatitis B) karena masih adanya vaksin di dalam darah.   Sumber: cdc