Your browser does not support JavaScript!
 24 Jul 2019    09:00 WIB
Sekilas Info Seputar Pemeriksaan Gamma GT
Pemeriksaan gamma glutamil transpeptidase (gamma GT atau GGT) merupakan suatu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur kadar enzim GGT di dalam darah Anda. Enzim GGT ini berfungsi sebagai alat transportasi di dalam tubuh. GGT berperan penting dalam proses metabolisme obat-obatan dan berbagai zat racun lainnya di dalam hati. GGT terutama terdapat di dalam hati.  Selain hati, GGT juga dapat ditemukan pada kandung empedu, limpa, pankreas, dan ginjal. Peningkatan kadar GGT di dalam darah biasanya disebabkan oleh kerusakan di dalam hati. Pemeriksaan ini seringkali dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan lainnya untuk mengukur enzim-enzim hati.   Kapan Harus Melakukan Pemeriksaan GGT? Pemeriksaan GGT biasanya dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pada hati atau saluran empedu Anda. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan lainnya seperti SGOT, SGPT, dan bilirubin.  Selain itu, pemeriksaan ini juga sering digunakan untuk memonitor keberhasilan dan kepatuhan peserta rehabilitasi alkohol karena kadar GGT akan meningkat bila Anda mengkonsumsi terlalu banyak alkohol atau zat beracun lainnya seperti obat-obatan atau racun. Bila Anda sebelumnya merupakan peminum berat, maka dibutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk menurunkan kadar GGT ke dalam batas normal. Beberapa gejala yang dapat ditemukan bila Anda mengalami gangguan hati adalah: Nafsu makan berkurang Mual atau muntah Kurang bertenaga Nyeri perut Jaundice (kulit dan atau bagian putih mata berwarna kuning) Urin berwarna gelap atau tinja berwarna putih atau terang Kulit terasa gatal Sebelum melakukan pemeriksaan ini, Anda diharuskan untuk berpuasa selama 8 jam dan berhenti mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti fenobarbital, fenitoin, dan alkohol karena dapat meningkatkan kadar GGT Anda. Anda juga akan diminta untuk berhenti merokok sebelum melakukan pemeriksaan GGT karena merokok dapat menyebabkan peningkatan kadar GGT. Selain itu, pil KB dan klofibrat juga dapat menurunkan kadar GGT Anda. Bahkan jika Anda hanya mengkonsumsi sangat sedikit alkohol dalam waktu 24 jam sebelum pemeriksaan dilakukan, maka hal ini dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan Anda.   Apa Arti Hasil Pemeriksaan GGT? Kadar GGT yang normal adalah antara 0-51 IU/L. Beberapa gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan peningkatan kadar GGT Anda adalah: Mengkonsumsi alkohol secara berlebihan Menderita hepatitis Kurangnya aliran darah yang menuju ke hati (iskemia hati) Tumor hati Sirosis hati Penyalahgunaan obat-obatan atau zat beracun lainnya Gagal jantung Menderita diabetes Gangguan atau penyumbatan aliran cairan empedu dari hati (kolestasis atau batu empedu) Nekrosis hati Menderita penyakit paru Menderita gangguan pankreas Pemeriksaan GGT seringkali diukur bersamaan dengan enzim lainnya yaitu ALP (alkalin fosfatase) atau SGPT. Jika kadar GGT dan SGPT meningkat, maka diduga Anda mengalami gangguan hati ataupun saluran empedu.  Jika kadar GGT normal tetapi kadar SGPT meningkat, maka hal ini mungkin disebabkan oleh adanya gangguan tulang.   Baca juga: Deteksi Dini Alzheimer Melalui Pemeriksaan Darah Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: healthline, nlm.nih.gov
 21 Jun 2019    16:00 WIB
Apa Saja Penyebab dan Gejala Sirosis (Pengerasan) Hati ?
GejalaPenderita sirosis hati dapat mengalami beberapa gejala gangguan hati atau malah tidak mengalami gejala apapun. Beberapa gejala mungkin tidak terlalu spesifik sehingga penderita tidak menduga gangguan hatilah penyebab gejala tersebut. Beberapa gejala sirosis hati yang dapat ditemukan adalah:•  Kulit atau bagian putih mata tampak kekuningan akibat penumpukkan bilirubin di dalam darah•  Merasa sangat lelah•  Badan terasa lemas•  Hilangnya nafsu makan•  Badan terasa gatal•  Mudah merah akibat penurunan produksi faktor pembekuan darah karena adanya gangguan pada hatiPenyebab 1.  AlkoholAlkohol merupakan penyebab tersering dari sirosis hati. Terjadinya sirosis ini tergantung pada seberapa banyak dan seberapa sering konsumsi minuman beralkohol tersebut. Mengkonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu lama (kronik) dapat menyebabkan cedera atau luka pada sel-sel hati. Sekitar 30% orang yang mengkonsumsi minuman beralkohol sebanyak 8-16 ons setiap harinya dapat mengalami sirosis dalam waktu 15 tahun mendatang atau lebih. Konsumsi minuman beralkohol dapat menyebabkan berbagai penyakit hati, mulai dari perlemakkan hati tanpa komplikasi, perlemakkan hati dengan peradangan (hepatitis alkoholik), hingga sirosis hati.2.  Perlemakkan Hati NonalkoholikPada keadaan ini, terjadi penumpukkan lemak di dalam hati yang terjadi pada orang-orang yang tidak mengkonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah berlebihan, akan tetapi kelainan atau kerusakan yang terjadi pada sel-sel hati mirip dengan kerusakan yang diakibatkan oleh konsumsi minuma beralkohol secara berlebihan. Gangguan ini juga dapat menyebabkan terjadinya resistensi insulin, sindroma metabolik dan diabetes tipe 2. Selain gangguan ini, obesitas merupakan penyebab tersering dari terjadinya resistensi insulin, sindroma metabolik, dan diabetes tipe 2. 3.  Sirosis Tanpa Penyebab yang Jelas (Sirosis Kriptogenik)Sirosis kriptogenik merupakan salah satu penyebab diperlukannya transplantasi hati. Sirosis kriptogenik merupakan suatu gangguan hati yang menyebabkan pengerasan hati tetapi tanpa suatu penyebab yang jelas. Para dokter menduga bahwa keadaan ini berhubungan dengan obesitas dalam waktu lama, diabetes tipe 2, dan resistensi insulin. Para ahli juga menemukan bahwa sirosis kriptogenik ini dapat terjadi pada orang-orang yang mengalami perlemakkan hati nonalkoholik.4.  Hepatitis KronikHepatitis kronik merupakan suatu keadaan di mana virus hepatitis B atau C menginfeksi hati selama bertahun-tahun. Sebagian besar penderita hepatitis tidak akan mengalami hepatitis kronik dan sirosis hati. Bila infeksi virus hepatitis ini berlangsung lama, maka dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel-sel hati dan menyebabkan terjadinya sirosis hati, atau bahkan kanker hati.5.  Kelainan Genetika (Herediter)Adanya kelainan genetika tertentu menyebabkan penumpukkan zat-zat beracun di dalam hati, yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan hati dan sirosis hati. Beberapa hal yang disebabkan oleh kelainan genetika dan dapat menyebabkan terjadinya sirosis hati adalah hemokromatosis (penumpukkan zat besi secara abnormal di dalam berbagai organ) atau penyakit Wilson (penumpukkan tembaga secara abnormal di dalam berbagai organ). Pada penderita hemokromatosis, penderita cenderung untuk menyerap zat besi di dalam makanan dalam jumlah yang berlebihan. Seiring dengan berlalunya waktu, maka zat besi ini akan menumpuk pada berbagai organ tubuh dan menyebabkan terjadinya sirosis, radang sendi, gagal jantung akibat kerusakan otot jantung, dan disfungsi buah zakar yang menyebabkan hilangnya gairah seksual. Pengobatan ditujukan untuk mencegah kerusakan pada berbagai organ dengan membuang kelebihan zat besi dari dalam tubuh melalui pengeluaran darah. Pada penyakit Wilson, terjadi keabnormalan salah satu protein yang berfungsi untuk mengatur tembaga di dalam tubuh. Seiring dengan berlalunya waktu, kelebihan tembaga ini akan menumpuk di dalam hati, mata, dan otak yang menyebabkan terjadinya sirosis, tremor (gemetar), gangguan psikologis, dan berbagai gangguan neurologis lainnya bila keadaan ini tidak segera ditangani. Pengobatannya adalah dengan pemberian obat oral (dikonsumsi melalui mulut), yang berfungsi untuk meningkatkan pengeluaran tembaga dari dalam tubuh melalui air kemih.6.  Sirosis Bilier PrimerSirosis bilier primer merupakan kelainan sistem imunitas (kekebalan tubuh) yang sering ditemukan pada wanita. Kelainan imunitas ini menyebabkan terjadinya peradangan kronik da kerusakan saluran empedu kecil di dalam hati. Cairan empedu diproduksi oleh hati yang mengandung berbagai zat yang diperlukan untuk membantu proses pencernaan dan penyerapan lemak di dalam usus, serta berbagai zat sisa seperti bilirubin. Bilirubin merupakan hasil pemecahan hemoglobin pada sel darah merah tua. Pada sirosis bilier primer, kerusakan saluran empedu kecil ini menghambat aliran normal cairan empedu ke dalam usus. Bersamaan dengan itu, peradangan terus terjadi yang menyebabkan lebih banyak kerusakan pada saluran empedu, yang menyebar dan menyebabkan kerusakan sel-sel hati. Kematian sel-sel hati ini menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada daerah yang rusak. Kombinasi dari peradangan, jaringan parut, dan penumpukkan zat-zat beracun di dalam hati menyebabkan terjadinya sirosis hati.7.  Kolangitis Sklerosing PrimerKolangitis sklerosing primer merupakan penyakit yang jarang ditemukan, yang biasanya terjadi pada penderita penyakit Crohn dan kolitis ulserativa. Pada kolangitis sklerosing primer, saluran empedu besar di luar hati mengalami peradangan, kemudian menyempit, dan tersumbat. Penyumbatan aliran empedu ini menyebabkan terjadi infeksi pada saluran empedu dan menimbulkan jaundice (kulit dan bagian putih mata berwarna kekuningan), yang pada akhirnya dapat menyebabkan sirosis. Pada beberapa penderita, cedera pada saluran empedu (biasanya akibat tindakan pembedahan) juga dapat menyebabkan penyumbatan dan sirosis hati.8.  Hepatitis AutoimunHepatiti autoimun merupakan gangguan hati yang lebih sering ditemukan pada wanita, yang disebabkan oleh kelainan sistem kekebalan tubuh. Kelainan ini menyebabkan peradangan progresif dan kerusakan sel-sel hati yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya sirosis.9.  Atresia BilierAtresia bilier merupakan suatu keadaan di mana seorang bayi lahir tanpa adanya saluran empedu. Atresia bilier dapat menyebabkan terjadinya sirosis. 10.  Penyebab LainnyaBerbagai penyebab lain dari sirosis hati adalah reaksi abnormal pada obat-obatan tertentu dan paparan terhadap zat racun dalam waktu lama, serta gagal jantung kronik yang dapat menyebabkan terjadinya sirosis. Pada beberapa negara (terutama Afrika Utara), penyebab tersering dari gangguan hati dan sirosis hati adalah infeksi hati oleh parasite. Pada bayi, dapat terjadi suatu kelainan di mana bayi tidak dapat membentuk enzim-enzim penting untuk mengatur gula dalam jumlah cukup yang dapat menyebabkan terjadinya penumpukkan gula dan sirosis hati.   Defisiensi alfa 1 antitripsin (salah satu jenis enzim) juga dapat menyebabkan terjadinya sirosis dan pembentukan jaringan parut pada paru.Sumber: medicinenet
 07 Mar 2019    11:00 WIB
Berbagai Cara Penularan Virus Hepatitis
Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh infeksi beberapa jenis virus, yaitu virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Akan tetapi, virus yang sering menyerang manusia adalah virus hepatitis A, B, dan C. Hepatitis A memiliki gejala yang mirip dengan infeksi saluran pencernaan akibat virus, yang biasanya akan menyembuh dalam waktu 1 bulan. Hepatitis B dan C timbul secara tiba-tiba dan dapat menyebabkan terjadinya kanker hati atau infeksi kronik yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan hati berat (sirosis hati). Virus hepatitis A biasanya menular melalui mengkonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh tinja penderita. Selain itu, anda juga dapat terinfeksi hepatitis melalui kontak dekat dengan penderita, yaitu saat mengganti popok atau melalui hubungan seksual. Sanitiasi dan higienitas yang buruk dapat meningkatkan resiko terjadinya hepatitis A. Virus hepatitis B dan C menular melalui kontak dengan darah, cairan mani, atau berbagai cairan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi. 1.  Makanan dan MinumanWabah hepatitis A terjadi akibat mengkonsumsi buah segar, sayuran, atau berbagai makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh virus hepatitis A. Cucilah buah dengan baik sebelum anda memakannya, bahkan bila anda berencana untuk mengupas kulitnya. Infeksi hepatitis A juga dapat terjadi akibat mengkonsumsi air yang terkontaminasi oleh virus hepatitis A. Rebuslah hingga mendidih air ledeng atau air tanah sebelum mengkonsumsinya. Telah tersedia vaksin untuk virus hepatitis A, dan B.2.  Mengkonsumsi Kerang MentahKarena kerang seringkali diperoleh melalui air yang terpolusi, maka berbagai jenis kerang dan tiram mentah juga dapat menularkan virus hepatitis A.3.  Tidak Mencuci TanganVirus hepatitis A dapat bertahan hidup di luar tubuh selama beberapa bulan. Menjaga kebersihan diri dengan cara selalu mencuci tangan setelah menggunakan kamar mandi, mengganti popok atau sebelum menyiapkan makanan atau makan dapat membantu mencegah penularan virus hepatitis A.4.  Darah yang Telah Terkontaminasi Oleh Virus HepatitisDarah dan berbagai cairan tubuh yang terkontaminasi oleh virus hepatitis dapat menularkan hepatitis B dan C. Infeksi juga dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya saat proses persalinan, antar pasangan seksual, atau melalui luka pada kulit. Penularan juga dapat terjadi melalui berbagai alat dokter gigi yang terkontaminasi dan alat sterilisasi yang terkontaminasi. Penularan juga dapat terjadi melalui transfusi darah yang terkontaminasi.5.  Peralatan Tato atau TindikanSaat anda berkeinginan untuk membuat tato atau menindik bagian tubuh anda, maka pastikan alat yang digunakan telah dibersihkan sebelumnya. Hepatitis B dan C dapat ditularkan melalui berbagai peralatan yang tidak disterilisasi dengan baik dan melalui penggunaan jarum suntik yang sama secara bergantian. 6.  Peralatan Pedicure, Manicure, dan Alat Potong RambutVirus hepatitis juga dapat menular melalui berbagai peralatan pedicure, manicure, dan peralatan salon lainnya, terutama bila alat tersebut berpotensi terkena dengan darah.7.  Hubungan SeksualBerhubungan seksual dengan seseorang yang menderita hepatitis B dapat menyebabkan anda tertular hepatitis B. Virus hepatitis B dapat ditularkan melalui darah, cairan vagina, atau cairan mani orang yang terinfeksi. Gunakanlah kondom berbahan lateks atau vaksinasi untuk mencegah infeksi bila pasangan seksual anda terinfeksi oleh hepatitis.8.  Menggunakan Barang yang Sama Dengan PenderitaHepatitis B dan C dapat ditularkan melalui menggunakan barang yang sama dengan penderita. Barang-barang yang seringkali menjadi tempat penularan virus hepatitis adalah sikat gigi. pisau cukur, gunting kuku, jarum, atau berbagai benda lainnya yang dapat terkontaminasi oleh darah penderita. Untuk mencegah terjadinya infeksi, maka jangan gunakan benda yang sama dengan penderita hepatitis.Sumber: medicinenet
 14 Feb 2019    11:00 WIB
Hepatitis Alkoholik (Penyebab, Gejala dan Pengobatan)
Apa itu hepatitis alkoholik?Hepatitis alkoholik menggambarkan peradangan hati yang disebabkan oleh minuman alkohol. Meskipun hepatitis alkoholik yang paling mungkin terjadi pada pecandu minuman keras selama bertahun-tahun, namun mengonsumsi alkohol dan hepatitis alkoholik mempunyai hubungan yang kompleks. Tidak semua pecandu minuman keras menderita hepatitis alkoholik, dan penyakit ini juga dapat terjadi pada orang yang hanya minum sedikit. Jika telah didiagnosis menderita hepatitis alkoholik, hal ini berarti harus berhenti total minum alkohol. Orang yang terus minum alkohol dapat terus memperparah kerusakan hati yang lebih serius yaitu sirosis dan gagal hati. Apa penyebab dari hepatitis alkoholik?Hepatitis alkoholik terjadi ketika hati rusak oleh alkohol yang telah dikonsumsi. Mekanisme bagaimana alkohol dapat menimbulkan kerusakan hati pada pecandu alkohol belum diketahui secara jelas. Proses pemecahan etanol yang merupakan alkohol yang terkandung dalam bir, anggur dan minuman keras dapat menghasilkan bahan kimia sangat beracun, seperti asetaldehida. Bahan kimia ini memicu peradangan yang menghancurkan sel-sel hati. Kemudian jaringan hati yang sehat digantikan oleh jaringan parut yang ditimbulkan akibat luka peradangan. Hal tersebut akan mengganggu kemampuan hati untuk berfungsi dengan baik. Pembentukan jaringan parut merupakan kerusakan irreversible yang disebut sirosis, merupakan tahap akhir dari hepatitis alkoholik. Apa gejala dari hepatitis alkoholik?Bentuk ringan dari hepatitis alkoholik mungkin tidak menyebabkan masalah yang nyata, tetapi perkembangan penyakit ini akan menyebabkan hati lebih rusak, tanda dan gejala yang mungkin terjadi, antara lain:•  Kehilangan nafsu makan•  Mual dan muntah•  Nyeri perut dan nyeri teka•  Kulit dan putih mata menguning (jaundice)•  Demam•  Perut bengkak akibat penumpukan cairan (asites)•  Kelelahan Berkonsultasilah dengan dokter jika memiliki tanda atau gejala hepatitis alkoholik. Jika pernah merasa seolah-olah tidak bisa mengontrol minum, maka berkonsultasilah dengan dokter. Apa pengobatan untuk hepatitis alkoholik?Hentikan minum alkohol – Jika telah didiagnosa menderita hepatitis alkoholik, maka harus berhenti minum alkohol. Ini satu-satunya cara untuk menghentikan kerusakan hati atau untuk mencegah berkembangnya penyakit menjadi lebih parah. Jika terus minum alkohol, maka kemungkinan akan mengalami komplikasi yang serius. Jika sudah ketergantungan dengan alkohol dan ingin berhenti, dokter dapat merekomendasikan terapi yang disesuaikan pada kondisi ketergantungan. Terapi tersebut mungkin termasuk obat-obatan, konseling, dll.•  Terapi untuk malnutrisi – Dokter mungkin menyarankan diet khusus untuk memperbaiki kondisi kekurangan gizi yang dapat terjadi pada orang dengan hepatitis alkoholik. •  Obat untuk mengurangi peradangan hati •  Transplantasi hati Ingin mengetahui lebih dalam mengenai hepatitis alkoholik? Silahkan baca di sini Baca juga: 6 Tanda Si Dia Telah Siap Menikah Sumber: cek gejala penyakit
 20 Dec 2018    18:00 WIB
Penyebab dan Gejala Jaundice
Seseorang yang menderita jaundice akan memiliki kulit dan bagian putih mata yang berwarna kuning. Jaundice dapat terjadi pada setiap orang pada usia berapa pun, walaupun lebih banyak ditemui pada bayi baru lahir. Jaundice disebabkan oleh penumpukkan bilirubin di dalam darah dan jaringan tubuh. Penumpukkan ini seringkali terjadi akibat berbagai gangguan pada hati, seperti sirosis, hepatitis, atau batu empedu.Penyebab Sel darah merah akan hancur dengan sendirinya setelah hidup selama 120 hari dan bilirubin merupakan produk sisa dari sel darah merah yang hancur ini. Bilirubin kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui hati, di mana bilirubin akan digabungkan dengan cairan empedu, yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui tinja dan air kemih. Bilirubinlah yang membuat tinja dan air kemih anda berwarna coklat dan kuning terang. Infeksi atau berbagai kerusakan yang mengganggu proses pengeluaran bilirubin ini dapat menyebabkan terjadinya jaundice. Penyebab Pre-HepatikJika sebuah infeksi atau gangguan kesehatan tertentu membuat sel darah merah hancur lebih cepat daripada seharusnya, maka kadar bilirubin pun akan meningkat. Berbagai hal yang dapat menyebabkan terjadinya jaundice pre hepatik adalah:•    Malaria•    Sickle cell disease•    Talasemia•    Sindrom Gilbert•    Sferositosis herediter•    Sindrom Crigler-Najjar Penyebab Intra-HepatikJika hati mengalami kerusakan, maka akan terjadi gangguan dalam proses pengeluaran bilirubin. Kerusakan hati ini dapat disebabkan oleh:•    Hepatitis•    Penyakit hati akibat mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan (sirosis hati)•    Kanker hati•    Penyalahgunaan obat-obatan terlarang•    Overdosis parasetamolSelain berbagai hal di atas, obesitas dan perlemakkan hati juga dapat menyebabkan terjadinya sirosis hati dan jaundice. Mengkonsumsi diet tinggi lemak dapat meningkatkan kadar kolesterol anda dan juga meningkatkan resiko terjadinya batu empedu. Penyebab Post-HepatikBerbagai gangguan kesehatan seperti adanya batu empedu, pankreatitis, kanker pankreas, dan kanker kandung empedu atau saluran empedu juga dapat mengganggu proses pengeluaran bilirubin dari dalam tubuh dan menyebabkan terjadinya jaundice. GejalaSelain kulit dan bagian putih mata berwarna kuning, lapisan mukosa pada mulut dan hidung anda pun akan ikut menguning. Tinja anda akan berwarna pucat, sedangkan air kemih anda akan berwarna gelap seperti teh.Berbagai gejala lain yang dapat ditemukan pada penderita jaundice adalah:•    Demam•    Menggigil•    Nyeri ulu hati•    Tubuh terasa gatal•    Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelasSumber: webmd
 12 Sep 2018    18:00 WIB
Berhubungan Seksual dan Penularan Hepatitis
Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis, baik A, B, C, D, dan E. Virus yang umum ditemukan adalah virus hepatitis A, B, dan C. Penularan hepatitis biasanya terjadi melalui makanan, jarum suntik, dan darah. Akan tetapi, hubungan seksual ternyata juga dapat menularkan penyakit ini.   Hepatitis A Penularan hepatitis A biasanya terjadi melalui kontak fekal oral, di mana tinja orang yang terinfeksi kemudian termakan oleh orang lainnya. Bahkan jumlah virus yang sangat sedikit juga dapat menyebabkan seseorang terinfeksi.   Hepatitis B Virus hepatitis B lebih mudah ditularkan melalui hubungan seksual daripada virus HIV. Virus hepatitis B dapat ditemukan pada cairan vagina, air liur, dan air mani. Seks oral ataupun seks anal merupakan salah satu cara penularan virus hepatitis B melalui hubungan seksual. Akan tetapi, virus hepatitis B tidak dapat ditularkan melalui berpegangan tangan atau bersentuhan atau berpelukan dengan penderita. Penularan melalui ciuman mungkin dapat terjadi karena virus terdapat dalam air liur, terutama bila pasangan penderita memiliki luka pada mulutnya. Resiko terinfeksi hepatitis B semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya pasangan seksual anda. Oleh karena itu, hindarilah berganti-ganti pasangan seksual untuk mencegah tertular virus hepatitis B ini.   Hepatitis C Penularan hepatitis C terjadi melalui kontak dengan darah penderita, yang mungkin terjadi saat berhubungan seksual melalui luka pada kemaluan atau menstruasi. Hepatitis C lebih sering ditemukan pada orang yang memiliki riwayat penyakit seksual, berhubungan seksual dengan pekerja seks komersial, berhubungan seksual dengan lebih dari 5 orang dalam satu tahunnya, atau kombinasi berbagai hal di atas. Akan tetapi, bila anda hanya memiliki satu pasangan seksual dan pasangan anda terinfeksi virus hepatitis C, jarang sekali terjadi penularan (hanya sekitar 2%). Tidak ada vaksin bagi hepatitis C.   Apakah Pria dan Wanita Memiliki Resiko yang Sama ? Resiko terkena hepatitis tergantung pada perilaku seseorang, bukan pada jenis kelaminnya, walaupun beberapa penelitian menunjukkan bahwa pria lebih mudah menularkanvirus hepatitis C pada wanita daripada sebaliknya. Pria homoseksual memiliki resiko 10-15 kali lebih tinggi terinfeksi hepatitis B daripada pria heteroseksual.   Apakah Pasangan Saya Menderita Hepatitis ? Seorang penderita hepatitis biasanya tidak menunjukkan gejala tertentu, terutama bila penyakit masih berada pada tahap awal, bahkan beberapa penderita hepatitis tetap terlihat sehat walaupun penyakit telah berada pada stadium lanjut. Beberapa gejala hepatitis yang biasa ditemukan adalah: Jaundice (kulit atau bagian putih mata berwarna kekuningan) Demam Rasa lelah Penurunan nafsu makan Mual Muntah Nyeri sendi Nyeri perut Perubahan warna tinja (tinja berwarna seperti dempul) Pemeriksaan darah biasanya dapat digunakan untuk menentukan apakah seseorang menderita hepatitis atau tidak. Hepatitis dapat menular melalui hubungan seksual.   Anal Seks dan Hepatitis Setiap aktivitas seksual yang menyebabkan terjadinya luka atau trauma kulit lainnya sangat beresiko bagi penularan hepatitis. Anal seks memiliki resiko penularan hepatitis yang lebih tinggi daripada  seks melalui vagina. Untuk meminimalkan resiko tertular virus hepatitis, para ahli menyarankan penggunaan kondom setiap kali anda berhubungan seksual, terutama bila anda sering berganti-ganti pasangan seksual. Kondom berbahan lateks memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi untuk mencegah penularan hepatitis (99%). Gunakanlah kondom tanpa perasa tambahan, karena kondom dengan perasa atau pewangi tambahan lebih mudah robek. Selain itu, jangan menggunakan pelumas vagina berbahan dasar minyak, karena dapat merusak lateks.  
 19 Aug 2018    18:00 WIB
Pentingnya Melakukan Pemeriksaan Pra Nikah
Sering orang bertanya apakah perlu melakukan pemeriksaan sebelum menjelang pernikahan. Pemeriksaan Pra Nikah atau sering disebut Medical Check Up Premarital.   Berikut adalah pembahasan mengenai MCU premarital. Manfaat pemeriksaan MCU premarital? Pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui kesehatan, terutama untuk mendeteksi adanya penyakit menular masing-masing pasangan dan keadaan yang dapat diturunkan serta mempengaruhi kesehatan janin. Dengan melakukan pemeriksaan premarital, Anda dapat melakukan tindakan pencegahan terhadap masalah kesehatan terkait kesuburan dan kebugaran serta penyakit yang diturunkan. Pemeriksaan apa saja yang biasa dilakukan? Pemeriksaan darah lengkap Untuk mengetahui kondisi kesehatan masing-masing pasangan secara umum. Merupakan deteksi awal adanya kemungkinan penyakit keturunan seperti Thalassemia adalah penyakit keturunan yang tidak dapat disembuhkan dan membutuhkan biaya perawatan yang besar. Golongan darah + rhesus  Untuk mengetahui kecocokan golongan darah antara ibu dan golongan darah calon janin, yang apabila terjadi ketidakcocokan, secara alami si ibu akan menghasilkan antibodi yang menyerang darah janinnya, sehingga janin dapat mengalami kerusakan otak, jantung dan akibat fatal lainnya. Glukosa darah puasa Berguna untuk mendeteksi adanya penyakit kencing manis yang cenderung dapat diturunkan kepada janin dapat menimbulkan masalah selama persalinan. Selain itu penyakit kencing manis merupakan salah satu faktor yang mempegaruhi kesuburan Urin lengkap  Berguna untuk mengetahui adanya infeksi pada saluran kemih. HBsAg, Anti HCV Berguna untuk mengetahui adanya infeksi Hepatitis B dan Hepatitis C yang dapat ditularkan kepada pasangan melalui kotak fisik dan kepada bayi yang akan dikandung VDRL  Salah satu pemeriksaan untuk mendeteksi adanya penyakit menular seksual dan dapat mengakibatkan cacat dan kematina pada janin Pemeriksaan tambahan untuk pria (sperma analisa) Untuk mengetahui kualitas sperma (penentu kesuburan pria) Pemeriksaan tambahan untuk wanita (USG Ginekologi) Untuk mendeteksi adanya kelainan/ gangguan pada organ reprodusi wanita Kapan saat yang tepat untuk melakukan pemeriksaan MCU Premarital? Tidak ada batasan waktu yang pasti, namun pemeriksaan sebaiknya dilakukan enam bulan atau lebih sebelum pernikahan. Karena setiap pasangan punya waktu yang cukup untuk melakukan konsultasi dan memutuskan penanganan yang tepat terhadap penyakit yang diderita dan masalah yang ditemukan. 
 04 Feb 2017    11:00 WIB
Bahaya Tersembunyi dari Teh Hijau Bagi Kesehatan
Akhir-akhir ini, teh hijau telah dikenal sebagai salah satu makanan super karena memiliki sangat banyak manfaat seperti anti radang, anti kanker, dan mengandung berbagai jenis antioksidan.   Akan tetapi, tahukah Anda bahwa bagi beberapa orang, teh hijau ternyata berbahaya? Seseorang yang memiliki gangguan imunitas tertentu mungkin sebaiknya tidak mengkonsumsi teh hijau. Hal ini dikarenakan teh hijau dapat meningkatkan kadar sel B (salah satu jenis sel imun).   Jika Anda menderita suatu gangguan imunitas yang membuat kadar sel B di dalam tubuh Anda menjadi sangat banyak, maka Anda mungkin harus menghindari konsumsi teh hijau untuk mencegah timbulnya berbagai gejala yang tidak diinginkan.   Baca juga: Tips Cepat Turunkan Kolestrol   Beberapa keadaan yang membuat kadar sel B di dalam tubuh menjadi lebih banyak dari normal adalah:        - Alergi       - Asma       - Sinusitis kronik       - Berbagai jenis kanker       - Hepatitis B dan C       - Kolitis ulserativa (radang usus besar)       - Infeksi virus       - Sistemik lupus eritematosus       - Infeksi cacing   Jadi, bila Anda menderita salah satu gangguan di atas, maka dianjurkan agar Anda menghindari konsumsi teh hijau.     Selain teh hijau, terdapat beberapa jenis makanan dan minuman lainnya yang perlu Anda hindari seperti red wine (minuman anggur merah), buah anggur, dan kunyit.   Sementara itu, bila Anda memiliki kadar sel T (jenis sel imun lainnya) yang lebih tinggi dari normal karena menderita suatu gangguan sistem kekebalan tubuh, maka konsumsi teh hijau mungkin dapat membantu mengurangi gejala. Hal ini dikarenakan berbagai komponen di dalam teh hijau dapat membantu menyeimbangkan kadar sel T dan sel B di dalam tubuh Anda. Walaupun demikian, dianjurkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter Anda sebelum mulai mengkonsumsi teh hijau.   Beberapa gangguan sistem kekebalan tubuh yang membuat kadar sel T di dalam tubuh Anda meningkat adalah: Sklerosis multipel Penyakit Crohn/IBD Diabetes tipe 1 Penyakit Hashimoto Penyakit Grave Psoriasis Artritis reumatoid Ulkus peptikum yang disebabkan oleh infeksi helicobacter pylori Bila Anda memiliki kadar sel T yang tinggi di dalam tubuh, maka terdapat beberapa jenis makanan yang perlu Anda hindari karena dapat meningkatkan kadar sel T di dalam tubuh seperti jamur, beberapa jenis suplemen seperti Echinacea, dan beberapa jenis ginseng.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur https://dokter.id/tanya-dokter"> Tanya dokter sekarang .   Sumber: menshealth
 08 Nov 2015    16:00 WIB
Banjir? Waspada Penyakit ini
Ancaman berbagai penyakit pasca banjir menjadi beban dan masalah baru. Kurangnya persediaan air bersih dan sanitasi yang memadai makin memperburuk kondisi. Belum lagi di tempat pengungsian yang biasanya berjejal. Air banjir merupakan sarana yang paling mudah untuk penularan berbagai penyakit melalui virus dan bakteri yang bisa mengganggu beberapa organ tubuh. Berikut kami jabarkan penyakit-penyakit yang harus Anda waspadai pada saat dan pasca banjir melanda: 1.       Diare. Penyakit Diare sangat erat kaitannya dengan kebersihan individu (personal hygiene). Pada musim hujan dengan curah hujan yang tinggi, potensi banjir meningkat. Pada saat banjir, sumber-sumber air minum masyarakat, khususnya sumber air minum dari sumur dangkal, akan ikut tercemar. Di samping itu, pada saat banjir biasanya akan terjadi pengungsian dengan fasilitas dan sarana serba terbatas, termasuk ketersediaan air bersih. Itu semua menjadi potensial menimbulkan penyakit diare disertai penularan yang cepat. Langkah antisipasi: masyarakat diingatkan untuk tetap waspada dan menghindari serangan penyakit diare dengan cara, pertama, membiasakan cuci tangan dengan sabun setiap akan makan atau minum serta sehabis buang hajat. Kedua, membiasakan merebus air minum hingga mendidih setiap hari. Ketiga, menjaga kebersihan lingkungan, hindari tumpukan sampah di sekitar tempat tinggal. Keempat, hubungi segera petugas kesehatan terdekat bila ada gejala-gejala diare. 2.       Penyakit saluran cerna lain Misalnya demam tifoid. Dalam hal ini, faktor kebersihan makanan memegang peranan penting. 3.       Demam berdarah. Pada saat musim hujan, biasanya akan terjadi peningkatan tempat perindukan nyamuk aedes aegypti, yaitu nyamuk penular penyakit demam berdarah. Hal ini dikarenakan pada saat musim hujan, banyak sampah seperti kaleng bekas, ban bekas, dan tempat-tempat tertentu terisi air dan terjadi genangan selama beberapa waktu. Genangan air itulah yang akhirnya menjadi tempat berkembang biak nyamuk tersebut. Dengan meningkatnya populasi nyamuk sebagai penular penyakit, risiko terjadinya penularan juga semakin meningkat. Langkah antisipasi: Masyarakat ikut berpartisipasi secara aktif melalui gerakan 3 M, yaitu mengubur kaleng-kaleng bekas, menguras tempat penampungan air secara teratur, dan menutup tempat penyimpanan air dengan rapat. Selain itu, masyarakat diharapkan segera membawa anggota keluarganya ke sarana kesehatan bila ada yang sakit dengan gejala panas tinggi tanpa sebab yang jelas, disertai adanya tanda-tanda pendarahan. 4.       Penyakit leptospirosis. Penyakit leptospirosis disebabkan oleh bakteri yang disebut leptospira. Penyakit ini termasuk salah satu penyakit zoonosis karena ditularkan melalui hewan atau binatang. Di Indonesia, hewan penular terutama adalah tikus, melalui kotoran dan air kencingnya. Pada musim hujan, terutama saat banjir, tikus-tikus yang tinggal di liang-liang tanah akan ikut keluar menyelamatkan diri. Tikus tersebut akan berkeliaran di sekitar manusia sehingga kotoran dan air kencingnya akan bercampur dengan air banjir tersebut. Seseorang yang memiliki luka, kemudian bermain atau terendam air banjir yang sudah tercampur dengan kotoran atau kencing tikus yang mengandung bakteri lepstopira, berpotensi terinfeksi dan jatuh sakit. Langkah antisipasi: Untuk menghindari timbulnya penyakit leptospirosis, masyarakat diimbau untuk melakukan langkah-langkah antisipasi sebagai berikut: Pertama, menekan populasi dan hindari adanya tikus yang berkeliaran di sekitar tempat tinggal, dengan selalu menjaga kebersihan. Kedua, hindari bermain air saat terjadi banjir, terutama bila memiliki luka. Ketiga, gunakan pelindung, misalnya sepatu, bila terpaksa harus masuk daerah banjir. Keempat, segera berobat ke sarana kesehatan bila sakit punya gejala panas tiba-tiba, sakit kepala, dan menggigil. 5. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Penyebab ISPA dapat berupa bakteri, virus, dan berbagai mikroba lainnya. Gejala utama dapat berupa batuk dan demam. Jika berat, maka dapat atau mungkin disertai sesak napas, nyeri dada, dan lain-lain. Penanganannya: Istirahat; pengobatan simtomatis sesuai gejala, dan mungkin diperlukan pengobatan kausal untuk mengatasi penyebab; meningkatkan daya tahan tubuh; dan mencegah penularan terhadap orang sekitar (misalnya dengan menutup mulut ketika batuk, tidak meludah sembarangan). Faktor berkumpulnya banyak orang—misalnya di tempat pengungsian korban banjir—juga berperan dalam penularan ISPA. 6. Penyakit kulit. Penyakit kulit dapat berupa infeksi, alergi, atau bentuk lain. Jika musim banjir datang, maka masalah utamanya adalah kebersihan yang tidak terjaga baik. Seperti juga pada ISPA, berkumpulnya banyak orang juga berperan dalam penularan infeksi kulit. Penyakit saluran cerna lain, misalnya demam tifoid. Dalam hal ini, faktor kebersihan makanan memegang peranan penting. 7.       Infeksi mata Infeksi mata dapat ditularkan melalui air adalah moluskum kontagiosum dan konjungtivitis (adenovirus), cirinya adalah mata tampak merah. Sebaiknya hindari memegang atau mengucek mata jika terasa gatal dan jauhkan mata dari percikan air banjir. Penanganannya : segera obati jika ada anggota keluarga yang terkena sakit mata merah. Jangan menggunakan obat tetes mata sembarangan sebab infeksi mata memerlukan obat tetes antibiotika dari dokter. 8.       Hepatitis A Infeksi lainnya yang dapat terjadi adalah Hepatitis A atau penyakit infeksi virus yang terjadi pada hati atau lever. Gejala yang timbul adalah kulit dan mata tampak kuning, mual, muntah, demam dan badan lemas. 9.       Campak dan cacar air Gejala campak antara lain batuk, demam berhari-hari, dan beberapa hari setelah demam muncul bercak kemerahan. Sedangkan gejala cacar air yaitu demam tinggi selama berhari-hari yang lalu disertai munculnya bintik-bintik. Untuk menghindari terjadinya penularan, sebaiknya segera dilakukan imunisasi massal di tempat penampungan baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. 10.   Memburuknya penyakit kronis yang mungkin memang sudah diderita. Hal ini terjadi karena penurunan daya tahan tubuh akibat musim hujan berkepanjangan, apalagi bila banjir yang terjadi selama berhari-hari.