Your browser does not support JavaScript!
 15 Mar 2021    13:00 WIB
Ganja Bagi Kesehatan
Berbagai pemberitaan dan anggapan negatif mengenai ganja telah membuat banyak orang melupakan manfaat ganja bagi kesehatan. Sejak zaman sebelum masehi, ganja telah digunakan oleh manusia untuk mengobati berbagai gangguan kesehatan, seperti: Meredakan rasa nyeri, termasuk nyeri menstruasi maupun nyeri akibat penyakit kanker stadium lanjut Mengobati malaria, rematik, gangguan ereksi, penyakit ginjal, penyakit paru-paru, diare, demam, epilepsi, abses otak, dan tumor Mengatasi berbagai gangguan kehamilan dan gangguan pencernaan Meningkatkan gairah seksual Insektisida Mengatasi depresi dan rasa cemas Mengobati luka dan memar pada kulit Memperbaiki daya ingat Mengurangi produksi cairan dan gas yang berlebihan Meningkatkan nafsu makan Berbeda dengan narkotika, ganja tidak menyebabkan kerusakan pada sel-sel otak. Ganja membuat penggunanya merasa bahagia (efek euforia) dan menyebabkan penurunan konsentrasi. Selain itu, ganja pun dipercaya dapat meningkatkan kreativitas (jenis ganja tertentu), walaupun pada beberapa orang ganja juga membuat pemakainya merasa malas. Ganja tidak menyebabkan kecanduan. Seperti halnya obat-obatan lainnya, ganja pun memiliki efek samping bila digunakan dalam dosis yang tidak tepat atau berlebihan. Berbagai efek samping tersebut adalah: Pusing Halusinasi Paranoid Depresi Tekanan darah rendah Walaupun demikian, tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi atau menggunakan ganja tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter anda. Perlu diingat bahwa penggunaan ganja pada dosis yang tidak sesuai atau berlebihan juga dapat menyebabkan pengaruh buruk bagi kesehatan anda. Katakan Tidak Pada Penyalahgunaan Narkoba
 23 Feb 2019    18:00 WIB
Bagaimana Cara Mengenali Seorang Penderita Skizofrenia?
Seorang penderita skizofrenia dapat mengalami kesulitan untuk membedakan antara kenyataan dan halusinasinya. Mereka dapat melihat berbagai hal yang tidak ada dan mempercayai bahwa hal tersebut ada, apapun yang dikatakan oleh orang lain. Oleh karena itu, memahami dengan jelas apa itu skizofrenia dapat membantu penderita dan anggota keluarganya untuk menghadapi gangguan ini. Hal pertama yang harus diketahui oleh penderita dan keluarganya adalah bahwa skizofrenia merupakan suatu penyakit, bukanlah suatu kelainan kepribadian. Berbagai penelitian yang meneliti bagaimana keadaan otak seorang penderita skizofrenia menemukan bahwa otak para penderita skizofrenia cenderung terlihat dan memiliki fungsi yang berbeda dengan orang yang tidak menderita gangguan ini.  Para ahli menduga bahwa beberapa perbedaan ini terjadi sebelum penderita lahir, walaupun gejala skizofrenia biasanya tidak akan tampak hingga penderita dewasa, yaitu antara usia 16-30 tahun. Hal kedua yang perlu diketahui adalah apa saja gejala skizofrenia tersebut. Secara umum, terdapat 3 gejala utama dari skizofrenia, yaitu: Penderita biasanya memiliki pikiran yang terganggu dan terlalu aktif, yaitu mengalami halusinasi dan atau delusi. Halusinasi merupakan suatu keadaan di mana penderita melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata. Halusinasi yang sering terjadi adalah halusinasi pendengaran. Sedangkan delusi adalah suatu keadaan di mana penderita memiliki keyakinan yang salah, yang tidak dapat digoyahkan. Beberapa penderita mungkin yakin bahwa dirinya sedang dikejar-kejar oleh seseorang, sementara beberapa penderita lainnya mungkin mempercayai bahwa mereka merupakan orang terkenal atau memiliki suatu kekuatan luar biasa Penderita biasanya memiliki beberapa gejala yang menyerupai gejala depresi, yang seringkali salah diartikan sebagai gangguan depresi. Beberapa gejala tersebut adalah suara datar dan tidak merasa senang saat melakukan sesuatu yang menyenangkan atau yang dulu disukainya Penderita skizofrenia juga dapat mengalami gangguan fungsi kognitif, yang membuatnya kesulitan berkonsentrasi, kesulitan mengingat berbagai hal, atau kesulitan membuat keputusan. Berbagai hal ini dapat membuat seorang penderita kesulitan bekerja atau melakukan berbagai aktivitas sehari-hari. Selain itu, penderita mungkin tampak mengalami penurunan motivasi Diagnosa skizofrenia biasanya ditegakkan berdasarkan pada adanya gejala psikosis seperti halusinasi atau delusi yang bukan disebabkan oleh penyalahgunaan zat atau akibat adanya gangguan kesehatan tertentu.  Memberikan pengobatan anti psikosis secepatnya dapat membantu mengatasi gejala skizofrenia. Skizofrenia yang tidak diobati dapat menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan otak. Semakin lama penderita tidak menerima pengobatan, maka semakian besar resiko kerusakan jaringan otak tersebut terjadi pada penderita.       Sumber: webmd
 24 Apr 2015    20:00 WIB
Mengapa Orang Gila Berlagak Gila dengan Bicara dan Tertawa Sendirian
Pernahkah bertanya, kenapa orang yang kita sebut “gila” suka tersenyum sendiri? Suka tertawa sendiri? Atau bicara sendiri? Apakah mereka memang memiliki dunianya sendiri? Jawabannya adalah tidak.   Semua prilaku yang ditunjukkan oleh pasien jiwa, mulai dari tersenyum, tertawa atau bicara sendiri, hingga prilaku agresive seperti mengamuk, membakar dan membunuh sesungguhnya berasal dari satu sebab, yaitu halusinasi. Baca Juga: Lima Kategori Orang Gila Berdasarkan Penyebabnya   Halusinasi merupakan istilah psykiatri untuk menjelaskan tentang keadaan pasien disaat ia dengan sadar memperoleh persepsi tanpa adanya rangsangan terhadap panca indera. Dengan kata lain, halusinasi adalah persepsi yang kuat atas suatu objek atau peristiwa yang sebenarnya tidak ada.   Pasien yang mengalami halusinasi dengar misalnya, iya akan mendengarkan bisikan atau suara suara tertentu yang tidak nyata dan tidak didengar oleh orang yang tidak sakit. Isi halusinasi dengar ini bisa beragam, ada yang cuma mengajak pasien berbicara, berbisik, ribut, perintah berprilaku aneh.   Ada juga isi halusinasi yang hanya mengajaknya berbicara, tentang hal hal yang dianggapnya lucu, sehingga sering pasien tertawa sendiri, sedangkan saat isi halusinasinya tentang hal yang sedih, maka ia akan menangis sejadi jadinya. Selain halusinasi dengar, dikenal juga halusinasi penglihatan. Pada keadaan ini, pasien biasanya melihat sesuatu yang tidak nyata dan tidak dilihat oleh orang normal. Atas apa yang dilihat ini juga, pasien akan berprilaku aneh misalnya akan terfokus pada satu titik yang dilihatnya.