Your browser does not support JavaScript!
 30 Apr 2014    13:30 WIB
Minyak Ganja Ternyata Dapat Membunuh Sel Kanker
Pada setiap sel tubuh terdapat suatu jenis sfingolipid yang berfungsi untuk mengendalikan hidup dan matinya suatu sel. Sfingolipid ini disebut dengan sfingolipid rheostat. Jika kadar ceramida endogenik (suatu zat yang memicu kerja sfingosin 1 fosfat) tinggi, maka kematian sel (apoptosis) akan segera terjadi. Akan tetapi bila kadar ceramide rendah, maka sel sedang berada pada masa primanya. Ganja mengandung cannabidiol (CBD) dan tetrahidrocannabinol (THC). Saat THC terhubung dengan reseptor cannabinoid CB1 atau CB2 pada sel kanker, hal ini menyebabkan peningkatan sintesis cermaida yang memicu terjadinya apoptosis (kematian sel). Sel sehat normal tidak memproduksi ceramida walaupun terdapat THC di dalamnya, sehingga tidak ikut mati bersamaan dengan sel kanker. Beberapa komponen yang terdapat pada hampir setiap sel adalah inti sel (nukleus), mitokondria, dan berbagai hal lainnya pada sitoplasma sel. Mitokondira merupakan bagian dari sel yang berfungsi untuk menghasilkan energi (ATP) bagi metabolisme sel. Saat terjadi akumulasi ceramida, maka sfingolipid rheostat pun ikut meningkat, yang menyebabkan peningkatan permeabilitas membran mitokondria sehingga sitokrom C dapat keluar dari mitokondria. Sitokrom C merupakan suatu protein penting bagi sintesis energi. Keluarnya sitokrom C dari dalam mitokondria inilah yang membuat mitokondria tidak dapat menghasilkan energi yang diperlukan oleh sel untuk hidup. Oleh karena itu, kematian sel kanker ini bukan diakibatkan oleh zat kimia sitotoksik, akan tetapi akibat adanya perubahan yang sangat kecil di dalam mitokondria (penghasil energi pada setiap sel). Selain itu, ceramida juga menyebabkan stress genotoksik di dalam inti sel-sel kanker (nukleus) sehingga menghasilkan protein p53, yang berfungsi untuk mengganggu metabolisme kalsium di dalam mitokondria. Ceramida juga mengganggu proses lisosom di dalam sel. Lisosom merupakan suatu sistem pencernaan sel-sel yang berfungsi untuk menutrisi sel sehingga sel dapat menjalankan fungsinya. Ceramida dan berbagai sfingolipid lainnya di dalam ganja secara aktif menghambat berbagai cara sel kanker untuk hidup. Setiap hewan dan manusia memiliki endocannabinoid yang hanya membutuhkan pengaktivasi eksocannabinoid untuk menjalankan fungsi penyembuhan ini. Pada manusia, endocannabinoid terdapat pada seluruh sel tubuh dan sel saraf manusia, yang berfungsi sebagai penghantar pesan di antara sistem kekebalan tubuh dan sistem saraf pusat anda. Endocannabinoid ini berfungsi untuk melindungi sel saraf dan mengatur sistem imunitas anda. Endocannabinoid dihasilkan oleh sel-sel saraf (sinap). Saat tubuh mengalami suatu serangan penyakit atau cedera, maka sel-sel tubuh akan mengaktifkan sistem endocannabinoid ini, yang membuat sistem kekebalan tubuh bekerja untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Terdapat 2 jenis reseptor cannabinoid di dalam sel tubuh, yaitu CB1 yang terdapat pada sistem saraf pusat dan CB 2 yang terdapat pada sistem kekebalan tubuh anda. Secara umum, CB1 berfungsi untuk mengaktivasi sistem penghantaran impuls sistem saraf pusat dan CB2 berfungsi untuk mengaktivasi sistem kekebalan tubuh. THC dan anandamida dapat mengaktivasi CB1 dan CB2 ini. Anandamida merupakan suatu neurotransmiter endocannabinoid yang terdapat pada otak. Di antara berbagai spesies ganja, Cannabis sativa cenderung mengaktivasi CB1 dan Cannabis indica cenderung mengaktivasi CB2. C. sativa sebagian besar mengandung THC, sementara C. indica sebagian besar mengandung CBD. THC dan CBD telah diketahui sangat mirip (biomimetik) dengan anandamida, sehingga tubuh pun dapat menggunakan keduanya. Sumber: higherperspective
 01 Jan 1970    07:00 WIB
Ganja Bagi Kesehatan
Berbagai pemberitaan dan anggapan negatif mengenai ganja telah membuat banyak orang melupakan manfaat ganja bagi kesehatan. Sejak zaman sebelum masehi, ganja telah digunakan oleh manusia untuk mengobati berbagai gangguan kesehatan, seperti: Meredakan rasa nyeri, termasuk nyeri menstruasi maupun nyeri akibat penyakit kanker stadium lanjut Mengobati malaria, rematik, gangguan ereksi, penyakit ginjal, penyakit paru-paru, diare, demam, epilepsi, abses otak, dan tumor Mengatasi berbagai gangguan kehamilan dan gangguan pencernaan Meningkatkan gairah seksual Insektisida Mengatasi depresi dan rasa cemas Mengobati luka dan memar pada kulit Memperbaiki daya ingat Mengurangi produksi cairan dan gas yang berlebihan Meningkatkan nafsu makan Berbeda dengan narkotika, ganja tidak menyebabkan kerusakan pada sel-sel otak. Ganja membuat penggunanya merasa bahagia (efek euforia) dan menyebabkan penurunan konsentrasi. Selain itu, ganja pun dipercaya dapat meningkatkan kreativitas (jenis ganja tertentu), walaupun pada beberapa orang ganja juga membuat pemakainya merasa malas. Ganja tidak menyebabkan kecanduan. Seperti halnya obat-obatan lainnya, ganja pun memiliki efek samping bila digunakan dalam dosis yang tidak tepat atau berlebihan. Berbagai efek samping tersebut adalah: Pusing Halusinasi Paranoid Depresi Tekanan darah rendah Walaupun demikian, tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi atau menggunakan ganja tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter anda. Perlu diingat bahwa penggunaan ganja pada dosis yang tidak sesuai atau berlebihan juga dapat menyebabkan pengaruh buruk bagi kesehatan anda. Katakan Tidak Pada Penyalahgunaan Narkoba