Your browser does not support JavaScript!
 18 Feb 2021    13:00 WIB
Lima Penyebab Vagina Selalu Basah
Suka ngerasa vaginamu selalu basah? Padahal kondisimu bukan habis buang air kecil, enggak keputihan juga enggak lagi terangsang? Jangan khawatir dulu ya, Ladies. Terkadang hal ini normal, karena vagina memang butuh pelumasan agar tidak kering dan infeksi. Berikut ini lima penyebab yang bikin vaginamu basah. Simak yuk! Hormon Ketika hormon esterogen tinggi, biasanya produksi cairan pada vagina menjadi lebih banyak. Jadi enggak heran kalau kamu ngerasa vaginamu menjadi lebih basah. Untuk mengatasinya, kamu bisa makan-makanan yang rendah esterogen dulu ya, seperti sayuran brokoli, kol, kangkung, jamur dan buah anggur. Baca juga: Lima Fakta Tentang Vagina, Wanita Wajib Tahu Fistula Fistula adalah kondisi ketika saluran kandung kemih dan vagina menjadi terhubung. Saat kamu ingin pipis, airnya keluar dari vagina sehingga vagina menjadi terasa basah terus-menerus. Fistula sendiri bisa menutup sendirinya. Namun, fistula terkadang juga butuh penanganan dokter. Beberapa kasus harus dilakukan operasi agar bisa ditutup dengan sempurna. Pelvic Congestion Ini adalah kondisi yang mirip seperti varises pada kaki. Dengan kata lain, pembuluh vena dalam panggul kita membengkak, sehingga panggul menjadi lebar dan menekan daerah lain, seperti usus, ovarium, rahim, hingga kandung kemih. Karena kondisi itu, maka biasanya vagina akan lebih sering mengeluarkan cairan karena terstimulasi terus dari dalam tubuh. Pelvic Organ Prolapse Penyakit ini bisa terjadi karena otot yang menyokong organ di sekitar panggul melemah, sehingga organ-organ tersebut jadi menekan bagian rahim, kandung kemih, hingga dubur. Uterus Fibroids Ini adalah kondisi saat adanya tumor jinak yang tumbuh di dalam rahim. Tumor ini bisa hanya kecil atau sebesar bola. Kondisi tumor yang menekan bagian usus dan kandung kemih inilah yang menyebabkan vagina menjadi selalu basah. Baca juga: Jaga Kesehatan Vagina dengan Tips Berikut Ini Sumber: Grid
 10 Feb 2021    15:00 WIB
Ini Ukuran Normal Vagina
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengenai bagaimana sebenarnya ukuran vagina yang normal? Vagina atau yang juga dikenal dengan miss V memang merupakan bagian tubuh wanita yang cukup misterius. Pada sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2005, para ahli melakukan pengukuran vagina pada sekitar 50 orang wanita, berikut hasil pengukurannya. Labia Minora Labia minora merupakan bibir dalam yang berukuran lebih kecil yang mengelilingi lubang vagina seorang wanita. Labia minora terbagi menjadi kiri dan kanan. Lebar rata-rata labia minora kiri adalah sekitar 2.1 cm dengan variasi antara 0.4-6.4 cm. Lebar rata-rata labia minora kanan adalah sekitar 1.9 cm, dengan variasi antara 0.3-7 cm. Panjang rata-rata labia minora kiri adalah sekitar 4 cm (hampir sama dengan panjang baby wortel), dengan variasi antara 1.2-7.5 cm. Panjang rata-rata labia minora kanan adalah sekitar 3.8 cm, dengan variasi antara 0.8-8 cm. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran panjang dan lebar labia minora setiap wanita dapat berbeda-beda. Selain itu, ukuran antara labia minora kanan dan kiri pun berbeda. Labia Majora Labia majora merupakan bibir luar yang mengelilingi labia minora Anda. Panjang rata-rata dari labia majora adalah sekitar 8.1 cm (hampir sama dengan panjang sebotol kutek), dengan variasi antara 4-11.5 cm. Perlu diketahui bahwa seiring dengan semakin bertambahnya usia Anda, maka ukuran labia minora dan majora Anda juga akan semakin mengecil. Klitoris Seperti halnya ukuran labia minora dan labia majora berbeda pada setiap wanita, demikian pula halnya dengan klitoris. Menurut penelitian, lebar rata-rata klitoris para peserta adalah sekitar 0.8 cm, dengan variasi antara 0.2-2.5 cm. Sementara itu, panjang rata-rata klitoris para peserta adalah sekitar 1.6 cm (sedikit lebih kecil daripada kancing celana Anda), dengan variasi antara 0.4-4 cm. Satu hal menarik yang ditemukan para ahli adalah bahwa ukuran klitoris ini berhubungan dengan seberapa sering seorang wanita berhasil mencapai orgasme saat berhubungan intim. Jika Anda dapat mencapai orgasme setiap kali berhubungan intim dengan pasangan, maka Anda mungkin memiliki klitoris yang lebih besar dibandingkan dengan para wanita yang hanya dapat mencapai orgasme dengan cara lain. Liang Vagina Para ahli menemukan bahwa kedalaman liang vagina rata-rata seorang wanita adalah sekitar 9.6 cm (hampir sama dengan panjang sebotol lip gloss), dengan variasi antara 6.5-12.5 cm. Sementara itu, lebar liang vagina rata-rata seorang wanita adalah sekitar 2.1-3.5 cm. Lebar liang vagina yang terlalu kecil (2.1 cm) dapat membuat seorang wanita merasa nyeri setiap kali berhubungan intim. Perlu diingat bahwa ukuran kedalaman dan lebar liang vagina ini dapat berubah saat seorang wanita berhubungan intim dan melahirkan. Intinya adalah bila Anda tidak mengalami keluhan atau nyeri saat berhubungan intim, maka kemungkinan besar Anda memiliki bentuk dan ukuran kemaluan yang normal.
 21 Jan 2021    15:00 WIB
Sensasi Terbakar di Area Vagina, Apa Penyebabnya?
Sensasi terbakar di sekitar area vagina merupakan keluhan yang relatif umum. Ada banyak penyebab luka bakar pada vagina, termasuk iritan, penyakit menular seksual, dan menopause. Setiap penyebab memiliki gejala dan bentuk pengobatannya sendiri. 1. Iritasi Hal-hal tertentu dapat mengiritasi kulit vagina jika bersentuhan langsung dengannya. Ini dikenal sebagai dermatitis kontak. Iritan yang dapat menyebabkan dermatitis kontak termasuk sabun, kain, dan parfum. Selain rasa terbakar, tanda dan gejala lain termasuk: gatal parah, kementahan, pedas, rasa sakit. Bentuk utama pengobatan iritasi adalah menghindari apa pun yang menyebabkan iritasi. Menghindari iritasi dan tidak gatal pada area memungkinkan kulit sembuh. Terkadang, seseorang mungkin memerlukan obat. 2. Bakteri vaginosis Bacterial vaginosis (BV) adalah suatu kondisi yang terjadi ketika terdapat terlalu banyak jenis bakteri tertentu di dalam vagina, yang memengaruhi keseimbangan normal area tersebut. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), BV adalah infeksi vagina paling umum pada wanita berusia 15 hingga 44 tahun. Salah satu gejala BV adalah sensasi terbakar di vagina, yang juga bisa terjadi saat buang air kecil. BV tidak selalu menimbulkan gejala. Jika ya, gejalanya juga bisa meliputi: keputihan putih atau abu-abu, rasa sakit, gatal, bau seperti ikan yang kuat, terutama setelah berhubungan seks. Memiliki BV dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit menular seksual (PMS), jadi jika ada yang mengalami gejala BV, harus memeriksakan diri dan dirawat oleh dokter. Perawatan untuk kondisi ini sering kali melibatkan antibiotik. 3. Infeksi jamur Infeksi pada vagina yang disebabkan oleh jamur dapat menyebabkan sensasi terbakar. Istilah medis untuk ini adalah kandidiasis, dan ini juga dikenal sebagai sariawan. Gejala terkait meliputi: gatal, rasa sakit, sakit saat berhubungan seks, rasa sakit atau ketidaknyamanan saat buang air kecil, keluarnya cairan dari vagina. Banyak wanita terkena infeksi jamur, tetapi beberapa wanita lebih mungkin terkena infeksi jika mereka: sedang hamil, menggunakan kontrasepsi hormonal, menderita diabetes, memiliki sistem kekebalan yang terganggu, baru saja diminum, atau sedang minum antibiotik. Perawatan biasanya berupa obat antijamur, yang dapat dioleskan oleh wanita secara langsung dalam bentuk krim atau diminum sebagai kapsul. 4. Infeksi saluran kemih Bagian saluran kemih yang berbeda dapat terinfeksi, termasuk kandung kemih, uretra, dan ginjal. Seorang wanita dengan infeksi saluran kemih (ISK) kemungkinan akan merasa terbakar di vagina saat buang air kecil. Gejala lain dari ISK meliputi: ingin buang air kecil tiba-tiba atau lebih sering, nyeri saat buang air kecil, urin berbau atau keruh, darah dalam urin, nyeri di perut bagian bawah, merasa lelah atau tidak enak badan. Dokter biasanya akan meresepkan antibiotik untuk mengatasi infeksi saluran kemih. Secara umum, infeksi akan sembuh dalam waktu sekitar 5 hari setelah memulai pengobatan antibiotik. Resep ulang mungkin diperlukan jika infeksi kembali. 5. Trikomoniasis Juga dikenal sebagai trich, itu adalah PMS paling umum di Amerika Serikat. Trikomoniasis disebabkan oleh parasit yang ditularkan dari satu orang ke orang lain selama hubungan seksual. Hanya sekitar 30 persen penderita trich yang menunjukkan gejala apa pun. Selain sensasi terbakar di vagina, gejala ini mungkin termasuk: gatal, kemerahan, atau nyeri, ketidaknyamanan saat buang air kecil, keputihan yang bisa bening, putih, kuning, atau hijau dan dengan bau amis. Trikomoniasis diobati menggunakan metronidazole atau tinidazole, yaitu pil yang diminum. Baca juga: Vaginitis, Infeksi pada Vagina Sumber: Medical News Today
 16 Jan 2021    13:00 WIB
5 Gejala Sifilis Pada Wanita
Sifilis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri treponema pallidum. Penyakit ini menular melalui hubungan seksual dengan orang yang sudah terinfeksi. Hubungan seksual yang dimaksud bisa berupa seks vaginal, anal dan juga oral. Penyakit ini juga bisa menular melalui darah. Sebagian penderita sifilis tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Agar Anda lebih waspada, berikut adalah beberapa gejala sifilis pada wanita: Luka, tapi tidak sakit Tahap permata sifilis berlangsung dalam waktu 3-6 minggu setelah terinfeksi, dimana biasanya terdapat luka di organ intim wanita tapi tidak terlihat dan juga tidak menimbulkan rasa sakit. Biasanya ada beberapa luka di satu area yang sama dan bentuknya terlihat seperti jerawat namun di dalamnya berisi cairan. Demam, kelenjar getah bening membengkak Demam merupakan suatu tanda tubuh Anda terinfeksi oleh bakteri atau virus. Gejala sifilis pada wanita juga ditandai dengan demam yang tidak terlalu tinggi. Selain demam yang terjadi selama beberapa hari, gejala lainnya adalah kelenjar getah bening di sekitar leher terasa membengkak. Rambut rontok Kerontokan rambut memang bisa disebabkan oleh berbagai macam hal, mulai dari perubahan hormon, konsumsi obat-obatan tertentu dan juga kondisi medis. Jika Anda sudah mengalami beberapa gejala sifilis dan Anda mengalami kerontokan rambut, hal itu dapat memperkuat dugaan Anda telah terinfeksi bakteri treponema pallidum. Penurunan berat badan Jangan terlalu senang dulu ketika mengetahi berat badan Anda turun. Pasalnya, gejala sifilis tahap kedua biasanya disertai penurunan berat badan. Walau penurunannya tidak signifikan, namuan penderita sifilis akan mengalami sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan dan kelelahan hebat. Penglihatan kabur Infeksi sifilis tahap ketiga akan membuat bakteri mempengaruhi saraf optik pada otak. Gejala itu membuat penglihatan menjadi kabur dan dapat menyebabkan kebutaan permanen.  Baca juga: Kebutuhan Nutrisi untuk Wanita Usia 20 hingga 40 Tahun
 12 Jan 2021    19:00 WIB
Vaginitis, Infeksi pada Vagina
Apa itu vaginitis ? Ini ialah infeksi yang terjadi pada vagina dalam wujud keputihan. Data menunjukan bahwa 7 dari 10 wanita pernah mengalami keputihan karena area kewanitaan yang tidak terjaga kebersihannya, dan 5 % mengalami infeksi berulang. Apa dampaknya? Kondisi ini bisa membuat kamu tidak nyaman beraktivitas, tidak percaya diri sampai aktivitas seksual jadi terganggu. Seperti dikutip dari Herworld menurut Educator & Trainer Mundipharma Indonesia, dr. Mery Sulastri, banyak wanita yang memiliki keluhan keputihan, hanya mengira keputihan itu hanya satu jenis saja. Padahal keputihan ada tiga jenisnya, yakni jamur, trikomonas, dan bakteri. Dan tiga jenis sumber keputihan memunculkan keluhan yang berbeda, dan berbeda pula cara mengatasinya. Berikut penjelasannya. Keputihan akibat bakteri Keputihan karena bakteri biasanya muncul bau amis dan muncul bau tak sedap. Jika di bawa ke aktivitas seksual akan memunculkan rasa nyeri. Keputihan akibat jamur Ini hal yang sudah umum dirasakan wanita. Ciri keputihan yang diakibatkan jamur ialah warna putih susu, kental, dan disertai dengan gatal yang dominan. Jenis keputihan ini biasanya muncul karena wanita kurang menjaga kebersihan Miss V-nya. Keputihan akibat trikomonas Trikomoniasis ialah penyakit menular seksual yang muncul karena paparan bernama Trichomonas vaginalis. 70 % penderita tidak muncul gejala apapun. Dan yang khas dari keputihan trikomonas itu warna keputihan kuning kehijauan. Keputihan apa yang paling banyak wanita alami? Keputihan akibat bakteri, kata dokter Merry. Hal itu bisa terjadi karena area kelembapan di area yang tinggi.  "Biasanya, saat sedang haid tuh. Kan gampang banget lembap area Miss V. Efeknya, bikin muncul bau yang tak sedap," jelasnya. Baca juga: Otot Vagina Kencang, Hati-hati Vaginismus
 12 Jan 2021    11:00 WIB
Lakukan Hal Ini Agar Kesehatan Vagina Terjaga
Pastikan pasangan mengganti kondom saat mengubah posisi bercinta dari oral ke vaginal sex (atau sebaliknya). Langkah ini dapat menghindari Anda dari bakteri yang akan masuk ke organ intim. Hindari pemakaian celana yang terlalu ketat. Pakaian jenis ini hanya akan membuat area intim jadi lebih lembab sehingga lebih rawan akan infeksi jamur. Cuci dengan hati-hati. Saat mandi, bersihkan vulva Anda menggunakan sabun yang lembut. Tak perlu khawatir, area vagina Anda bisa membersihkan bagiannya sendiri. Hindari juga menyemprotkan air atau cairan lain secara langsung ke dalam vagina. Hal ini bisa mengurangi level pH sehingga membuat Anda rentan akan infeksi jamur. Lakukan diet yang aman bagi vagina. Konsumsi lebih banyak makanan yang tinggi akan vitamin A seperti tahu, soya, dan flaxseed untuk menghindari vagina yang terlalu kering. Yoghurt juga bisa menjadi pilihan tepat karena memiliki lactobacillus yang mampu menunda infeksi kandung kemih. Buang air kecil setelah bercinta. Ini merupakan cara terbaik untuk menghindari UTI (infeksi di saluran kemih) karena mampu membuang bakteri yang ada. Lakukan check-up rutin ke dokter untuk pemeriksaan Pap smearsaat Anda berusia 21 tahun atau telah aktif secara seksual. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan satu kali setiap tiga tahun hingga menginjak usia 65 tahun. Hindari penggunaan panty liner. Meski fungsinya yang cukup membantu, menggunakan panty liner terlalu lama hanya akan mengunci keputihan Anda dalam satu tempat hingga melembapkan area vagina. Bukan tak mungkin Anda akan terkena infeksi jamur akibat hal ini. Baca juga: Lima Penyebab Vagina Selalu Basah Sumber: Herworld
 11 Jan 2021    15:00 WIB
Waspada Penyakit HPV
HPV atau Human Papilloma Virus, adalah penyakit menular seksual paling umum yang sering menyebabkan kutil kelamin. Sayangnya, gejala seringkali tak terasa sehingga penderita tidak tahu saat ia telah terjangkiti. Ada beberapa macam jenis virus HPV yang wajib diwaspadai. Beberapa memang tidak membahayakan karena bisa diobati dengan cepat, terutama yang berupa kutil kulit luar. Namun jika ia tumbuh di dalam rahim, maka lambat laun pertumbuhannya bisa menyebabkan kanker serviks. Tak hanya itu, HPV yang bercokol di dalam tubuh juga bisa mengakibatkan kanker penis, kanker vagina, kanker vulva, kanker anus, kanker mulut, hingga kanker tenggorokan. Berikut adalah beberapa jenis kutil yang segera bisa Anda perhatikan dan waspadai: Kutil Biasa yang berupa benjolan bulat kasar. Kutil Plantar yang berbentuk rata dengan lubang di tengahnya di mana kadang disertai dengan titik-titik hitam. Kutil Datar yang berbentuk seperti bekas cakaran di kulit yang berwarna cokelat, kekuningan, atau bahkan merah muda. Kutil Filiform yang berupa bintil daging tumbuh dengan warna yang sama seperti warna kulit, dan Kutil Periungual yang biasa tumbuh di kaki atau tangan dengan permukaan pecah-pecah seperti kembang kol. Kontak seksual yang menyebabkan HPV berpindah dari penular kepada yang tertular adalah ketika terjadi sentuhan antara kulit dengan kulit baik secara anal, oral, atau vaginal. So, tak selamanya seks oral itu aman. Untuk mendeteksi secara dini, Anda bisa lakukan pengecekan ke dokter kulit dan kelamin jika menemukan tanda-tanda kutil yang tumbuh di sekitar genital. Namun akan lebih baiknya, lakukan vaksinasi khusus HPV yang dianjurkan pada wanita usia 10 - 26 tahun yaitu vaksinasi Cervarix, Gardasil, serta Gardasil 9 yang bisa mencegah kutil kelamin serta kanker serviks. "Penularan HPV 85 persen melalui hubungan seksual, tetapi 10-15 persen bukan seksual, bisa dari tangan, handuk, atau pakaian," ujar Prof. Dr.dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, K-AI dari Indonesian Working Group on HPV. Berikut adalah cara-cara pencegahannya 1. Menggunakan kondom tiap kali berhubungan seks 2. Pastikan Anda dan pasangan terbebas dari virus HPV 3. Tidak berganti-ganti pasangan 4. Hindari menyentuh kutil secara langsung 5. Menjaga kebersihan area sekitar kelamin (terutama jika Anda sering berenang di kolam renang umum, dan 6. Hindari bergantian memakai barang-barang pribadi seperti celana dalam, pisau cukur, atau bahkan gunting kuku. Baca juga: Kenali Gejala Penyakit Menular Seksual
 09 Jan 2021    13:00 WIB
Seks Saat Menstruasi, Apakah Bisa Hamil?
Banyak yang menganggap bahwa berhubungan seks saat menstruasi dapat mencegah kehamilan. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Meski kemungkinannya kecil, Anda bisa saja hamil apabila hubungan seks dilakukan saat sedang haid. Risiko kehamilan akan lebih besar bila hubungan seks dilakukan selama ovulasi, yang terjadi sekitar 14 hari sebelum menstruasi. Namun durasi siklus menstruasi setiap wanita berbeda-beda, dan dapat berubah setiap bulannya. Pertimbangkan pula bahwa sperma yang telah masuk ke rahim dapat bertahan hidup hingga sekitar lima hari.  Jika Anda memiliki siklus haid yang pendek (misalnya, 21-24 hari) dan mengalami ovulasi segera setelah selesai haid, kemungkinan hamil akan lebih tinggi. Apa alasannya? Pasalnya, ada kemungkinan sel telur akan keluar saat sperma masih bertahan dalam saluran reproduksi Anda. Lalu, pembuahan pun bisa berlangsung. Selain masih berpeluang hamil, berhubungan seks saat menstruasi juga dapat menimbulkan risiko, apa saja itu? TERTULAR PENYAKIT MENULAR SEKSUAL Berhubungan seks saat haid membuat Anda lebih berisiko terkena penyakit menular seksual. Infeksi menular seksual yang berkaitan dengan haid adalah jenis yang ditularkan melalui darah, seperti HIV dan hepastitis. Wanita berisiko terkena penyakit menular seksual apabila pasangannya positif mengidap infeksi menular seksual, kemudian mereka melakukan hubungan seks tanpa menggunakan kondom. Pasalnya, leher rahim akan sedikit terbuka selama masa haid. Kondisi ini memungkinkan kuman lebih mudah untuk memasukinya. Baca juga: Cara Mencegah Kehamilan Setelah Berhubungan! TERKENA INFEKSI JAMUR Vagina memiliki kadar pH (indikator tingkat asam atau basa) antara 3,8 hingga 4,5 setiap bulannya. Namun selama menstruasi, kadar pH dapat meningkat akibat pH darah menjadi lebih tinggi. Inilah yang dapat menyebabkan jamur atau ragi berkembang lebih cepat di vagina. Gejala infeksi jamur pada vagina cenderung terjadi seminggu sebelum menstruasi. Jadi, apabila hubungan seksual dilakukan selama waktu tersebut, gejala bisa saja bertambah parah. Meski begitu, infeksi jamur ketika bercinta saat haid masih memerlukan penelitian yang lebih luas agar hasilnya akurat. Berikut ini adalah tips aman berhubungan seks ketika sedang menstruasi: - Lakukan saat volume darah menstruasi berkurang - Bercinta di kamar mandi - Pastikan pasangan menggunakan kondom Meski begitu, Anda sebaiknya tetap berhati-hati agar penetrasi tidak terlalu dalam. Hal ini karena Penetrasi yang terlalu dalam dapat menyentuh leher rahim (serviks). Pasalnya, posisi serviks akan lebih rendah dan lebih sensitif saat wanita datang bulan sehingga rasa nyeri bisa saja muncul. Beri tahu pasangan Anda apabila seks mulai memicu rasa sakit atau tidak nyaman. Kemudian, Anda dan pasangan bisa melanjutkan bercinta dengan lebih perlahan-lahan. Baca juga: Selain Mencegah Kehamilan, Ini Manfaat Lain dari Pil KB
 06 Jan 2021    10:00 WIB
Lima Fakta Tentang Vagina, Wanita Wajib Tahu
Organ intim wanita atau vagina itu memiliki banyak keunikan lho. Apa saja? Yuk simak ulasannya berikut ini: 1. Vagina punya pembersih alami Vagina memiliki sistem kebersihan sendiri dari dalam. Di dalam vagina terdapat beberapa kelenjar yang memproduksi cairan pembersih. Cairan itulah yang akan membersihkan kuman dan bakteri di dalam vagina, sekaligus berfungsi sebagai pelumas saat berhubungan seksual. 2. Ada ribuan saraf di dalam klitoris Di bagian dalam lipatan vagina terdapat klitoris yang bersifat sensitif. Organ yang berbentuk seperti biji kacang ini berfungsi memberikan kenikmatan seksual. Hmm... Nah di dalam klitoris itu ternyata ada 8.000 sel saraf. Duh, pantes yaa organ ini sensitif banget! 3. Vagina bisa keriput lho! Selain kulit tubuh, vagina juga bisa keriput seiring bertambahnya usia wanita. Penyebabnya yaitu menurunnya kadar esterogen, yaitu hormon seksual wanita. Eits, tapi tak perlu khawatir, kalian bisa lakukan senam kegel untuk kembali mengencangkan otot vagina. Gerakan senamnya seperti menahan kencing. 4. Vagina punya banyak titik rangsangan Berbeda dengan pria, wanita punya banyak titik rangsangan seksual di vaginanya. Selain klitoris, beberapa bagian lain seperti lubang vagina dan labia juga bisa memberikan sensasi kenikmatan seksual. Oia, tidak semua wanita memiliki titik rangsang yang sama ya, maka tak perlu membanding-bandingkannya. 5. Masa subur bisa diketahui dari lendir vagina Ketika masa subur, lendir vagina berasal dari serviks, sementara jika lendir stimulasi seksual keluar dari kelenjar atau dinding vagina. Untuk membedakannya, larutkan lendir ke dalam segelas air. Lendir serviks akan menggumpal membentuk bola dan tenggelam sementara lendir vagina akan larut di dalam air. Nah, sudah tahu kan fakta-fakta soal vagina. Lindungi selalu vagina-mu ya dengan menjaga kebersihan serta menerapkan gaya hidup sehat. Baca juga: Lima Penyebab Vagina Selalu Basah
 05 Jan 2021    13:00 WIB
Tips Mudah Mencukur Bulu Kemaluan
Anda tentu ingin terlihat seksi dihadapan pasangan dan bisa membuat pasangan lebih bergairah. Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan seperti menjaga bentuk tubuh, menggunakan wewangian, menggunakan pakaian seksi dan mencukur bulu kemaluan. Ya, sekarang ini semakin banyak pasangan yang berharap pasangannya memiliki rambut kemaluan yang terpotong dengan rapi. Namun cara mencukur bulu kemaluan yang tidak benar dapat membuat iritasi, terlebih daerah intim adalah bagian yang cukup sensitif. Berikut ini adalah tips untuk Anda yang ingin mencukur bulu kemaluan: Gunting terlebih dahulu rambut kemaluan Anda Pisau cukur dirancang untuk mencukur rambut yang cukup pendek. Bila digunakan untuk mencukur rambut yang panjang maka akan cepat tersumbat dan menjadi tumpul. Untuk memangkas rambut kemaluan tersebut, tarik rambut dengan lembut, menjauh dari tubuh dan kemudian potong dengan gunting kecil yang tajam, atau menggunakan alat pemotong rambut (clippers) karena beberapa di antaranya dilengkapi dengan pengaman. Potong hingga Anda mendapatkan rambut yang lebih pendek dari 0,6 cm. Mandi atau berendam dalam air panas Air panas akan membantu melembutkan rambut dan folikel rambut. Langkah ini membuat rambut kemaluan yang kasar menjadi lebih mudah untuk dicukur. Berikan busa untuk menghindari iritasi Gunakan busa, krim atau gel cukur tanpa aroma untuk memberikan busa pada rambut kemaluan Anda. Namun sebelum Anda menggunakan bahan-bahan tersebut usahakan untuk uji alergi bahan-bahan tersebut sebelumnya. Gunakan pisau cukur yang masih baru Semakin baru pisau cukur Anda, semakin baik hasil kerjanya. Pisau cukur yang memiliki  banyak mata pisau, memudahkan dalam mencukur dan lebih aman untuk kulit Anda. Tarik kulit Anda dengan kencang Bila Anda mencukur dengan kulit yang tidak diregangkan dapat melukai diri sendiri. Pisau cukur hanya dapat bekerja dengan baik pada permukaan yang hampir rata. Regangkan kulit Anda dengan kencang menggunakan tangan yang bebas dan pegang dengan kuat. Selain itu cara ini memudahkan untuk melihat daerah yang akan dicukur. Anda bisa mulai mencukur dari bawah pusar Anda Cukurlah dengan perlahan dan lembut Mencukur mengikuti arah tumbuh rambut akan mencegah iritasi dan rambut yang tumbuh ke dalam. Sementara mencukur melawan arah tumbuh rambut akan menyebabkan hasil yang lebih pendek. Namun bila Anda memiliki kulit sangat sensitif, sepertinya harus tetap mencukur mengikuti arah tumbuh rambut, meskipun hal itu akan membuat rambut kemaluan Anda dua kali lebih panjang dari hasil yang Anda inginkan. Jangan berlebihan saat mencukur Cukur sebanyak yang Anda butuhkan untuk menghilangkan bulu di daerah tersebut. Apabila Anda mencukur satu daerah berkali-kali, kemungkinan besar daerah itu akan meradang. Pada tahap awal mencukur, kemungkinan akan timbul benjolan merah dan rasa gatal. Hal ini memang dapat terjadi dan sebaiknya selama beberapa hari Anda jangan menggunakan pakaian dalam terlalu ketat karena bisa menghambat sirkulasi udara. Kenakanlah pakaian dalam yang agak longgar dan terbuat dari katun. Baca juga: 6 Mitos Salah Mengenai Rambut Kemaluan Sumber: wikihow