Your browser does not support JavaScript!
 13 Mar 2019    11:00 WIB
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) Virus Pernapasasn Yang Mematikan
Halo sahabat setia Dokter.ID, kita kembali lagi hari ini, dengan pembahasan tentang virus, yang tidak kalah menarik dengan virus-virus mematikan lainnya. Hari ini kita akan membahas tentang virus HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome). Apa itu Hantavirus pulmonary syndrome (HPS)? HPS adalah penyakit pernapasan serius yang ditularkan oleh tikus yang terinfeksi melalui urin, kotoran atau air liur dan gigitannya. Juga dipercayai bahwa manusia dapat terserang virus ini jika mereka menghirup debu yang terkontaminasi dari sarang atau kotoran tikus. Siapa pun yang bersentuhan dengan tikus yang membawa hantavirus berisiko terkena HPS. memiliki hewan pengerat di dalam dan sekitar rumah tetap menjadi risiko utama paparan hantavirus. Bahkan orang sehat pun berisiko terkena infeksi HPS jika terpapar virus ini. HPS pertama kali diakui pada tahun 1993 dan sejak itu telah diidentifikasi di seluruh Amerika Serikat. Meski jarang, HPS berpotensi mematikan. Penyakit ini diketahui setelah ditemukannya kasus infeksi Hantavirus pada lebih dari 3.000 tentara Amerika di Korea pada tahun 1951-1954 dan kemudian menyebar ke Amerika, yang menyebabkan banyak kematian akibat gagal jantung. Sejak saat itu infeksi Hantavirus menarik perhatian dunia. Hantavirus pertama kali diisolasi pada tahun 1976, yang kemudian dapat diidentifikasi beberapa strain/galur/serotype Hantavirus lainnya. Sebanyak 22 Hantavirus bersifat patogen bagi manusia, serta terdiri dari dua tipe penyakit, yaitu tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Tipe HFRS sering pula disebut sebagai Korean Hemorrhagic Fever (KHF), Epidemic Hemorrhagic Fever (EHF) dan Nephropathia Epidemica (NE). Tipe HPS lebih banyak menyebabkan kematian daripada tipe HFRS, karena mengakibatkan tidak berfungsinya otot miokardium dan terjadinya hypoperfusion, sehingga sering disebut sebagai Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS). Berdasarkan penyebarannya, HPS lebih mendominasi Amerika, sedangkan HFRS lebih menyebar ke Asia dan Eropa. Di Nevada Selatan, tikus kijang biasa (Peromyscus maniculatus) tampaknya bertanggung jawab atas penyebaran penyakit pada ketinggian di atas 5.000 kaki. Sekitar 12 persen dari tikus Rusa yang telah diuji ternyata terinfeksi virus. Tikus lain termasuk tikus kaktus, tikus pinon, tikus sikat, tikus ngarai, dan tikus panen barat juga dapat terinfeksi virus ini tetapi dalam jumlah yang jauh lebih rendah. Virus ini tidak membuat hewan pengerat sakit, tetapi orang-orang yang melakukan kontak dekat dengan hewan pengerat mungkin sakit. Meskipun tidak semua tikus memiliki virus, sulit untuk mengidentifikasi tikus dengan benar; jadi semua tikus harus dihindari. Orang-orang yang sakit HPS mungkin awalnya berpikir mereka menderita flu. Perbedaannya adalah bahwa dengan virus ini masalah pernafasan menjadi lebih buruk, paru-paru dipenuhi dengan cairan yang dapat menyebabkan pernafasan berhenti dan orang tersebut mati. Tingkat kematian sekitar 50 persen. Gejala awal meliputi: Kelelahan Demam Nyeri otot (terutama di paha, pinggul, punggung, dan kadang-kadang di bahu) Mual Muntah Diare Sakit perut Sakit kepala Pusing Panas dingin Gejala terlambat mulai empat sampai 10 hari setelah fase awal penyakit dan termasuk: Batuk Sesak napas Tekanan di sekitar dada Gejala yang kurang umum termasuk: Sakit telinga Sakit tenggorokan Hidung beringus Ruam Masa inkubasi tidak diketahui karena sedikitnya jumlah kasus HPS. Berdasarkan informasi, tampaknya gejala dapat berkembang antara satu dan lima minggu setelah paparan. Tidak ada perawatan khusus, penyembuhan atau vaksin untuk HPS. Orang dengan masalah pernafasan yang parah sering ditempatkan pada oksigen dan ventilator. Jika seseorang telah berada di sekitar hewan pengerat dan memiliki gejala demam, sakit otot yang dalam dan sesak napas yang parah, mereka harus segera ke dokter. Tetapi ada beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai tindakan pencegahan, yaitu: Kontrol hewan pengerat di dalam dan sekitar rumah tetap menjadi strategi utama untuk mencegah infeksi hantavirus. Kurangi ketersediaan sumber makanan dan tempat bersarang yang digunakan oleh tikus di dalam rumah kita. Simpan makanan (termasuk makanan hewan peliharaan) dan air tertutup dan disimpan dalam logam anti tikus atau wadah plastik tebal dengan tutup yang rapat. Simpan sampah di logam anti-tikus atau wadah plastik tebal dengan tutup yang rapat. Cuci piring dan peralatan memasak segera setelah digunakan dan singkirkan semua makanan yang tumpah. Rutin buang sampah, jangan biarkan sampah menumpuk berhari-hari dan jaga kebersihan lingkungan rumah. Hindari kegiatan seperti: Bertani di sekitar area yang dipenuhi tikus, Menggunakan bangunan yang dihuni tikus, Membersihkan lumbung atau bangunan tambahan yang penuh dengan tikus, Mengganggu sarang dan liang tikus saat hiking atau berkemah Setiap area di mana kita melihat aktivitas tikus seperti tikus mati atau kotoran tikus (tinja) dan urin harus dibersihkan secara menyeluruh. Dengan cara basahi dengan desinfektan sebelum dibersihkan, dan gunakan teknik mengepel atau membersihkan. Jangan menggunakan penyedot debu atau sapu karena mereka akan menciptakan partikel dan debu di udara. Kenakan sarung tangan karet, pakaian lengan panjang, dan masker debu. Menggunakan Lysol atau pembersih lain yang mengatakan desinfektan pada label dan memiliki fenol pada daftar bahan. Jangan menyentuh tikus mati. Buang dengan penguburan atau di tempat sampah. Cuci tangan bersarung tangan di desinfektan rumah tangga umum dan kemudian dengan sabun dan air. Cuci tangan lagi setelah melepas sarung tangan (Selalu cuci tangan dengan sabun dan air hangat sesudahnya) Dan info tambahan bahwa Di Indonesia, HFRS akibat virus Seoul paling mendominasi. Penyakit ini dibawa dan disebar oleh brown/Norway rat (Rattus norvegicus) yang lebih dikenal sebagai tikus got. Tikus agresif yang mudah berkembang biak ini bukan spesies asli Indonesia. Ia menyebar ke seluruh dunia lewat jalur perdagangan. Dan Hantavirus pertama di Indonesia dilaporkan pada tahun 2002, dengan 11 kasus. Jadi sahabat, moga artikel hari ini sangat membantu kita semua untuk tetap jaga kebersihan, khususnya di lingkungan rumah kita. Jika di antara kita ada yang mengalami gejala serupa di atas, segeralah periksakan diri ke Dokter.   Sumber : www.medicalnewstoday.com, www.webmd.com, www.healthline.com, medlineplus.gov, 
 26 Aug 2018    11:00 WIB
Waspada Beberapa Faktor Penyebab Terjadinya Asma
Asma merupakan suatu keadaan di mana saluran pernapasan anda mengalami reaksi berlebihan terhadap suatu bahan tertentu (alergen) yang menyebabkan penyempitan saluran pernapasan dan dapat menimbulkan berbagai gejala seperti batuk, sesak napas, dan mengi (suara napas berbunyi "ngik-ngik"). Terjadinya serangan asma dapat dipicu oleh beberapa hal, mulai dari jenis kelamin sampai pada kehamilan. Di bawah ini terdapat beberapa hal yang merupakan faktor resiko terjadinya asma.   Jenis Kelamin Pada anak-anak, asma lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Penyebab hal ini tidak diketahui dengan jelas, akan tetapi beberapa ahli menemukan bahwa ukuran saluran pernapasan anak laki-laki lebih kecil daripada anak perempuan. Hal ini dapat merupakan salah satu penyebab timbulnya mengi setelah flu atau infeksi virus lainnya. Akan tetapi seiring dengan semakin bertambahnya usia anak, maka resiko terjadinya asma antara pria dan wanita menjadi sama. Pada usia 40 tahun, wanita memiliki resiko menderita asma yang lebih tinggi daripada pria   Riwayat Keluarga Asma merupakan salah satu penyakit yang diturunkan dalam keluarga (herediter). Jika salah satu orang tua anda menderita asma, maka anda memiliki resiko 3-6 kali lebih tinggi untuk menderita asma daripada anak yang kedua orang tuanya tidak menderita asma.   Hiperaktivitas Saluran Pernapasan Memiliki saluran pernapasan yang bereaksi berlebihan terhadap bahan-bahan tertentu (alergen) merupakan salah satu faktor resiko asma. Pada penderita asma, saluran pernapasan menjadi hiperaktif dan meradang saat terpapar oleh alergen atau udara dingin. Tidak semua orang dengan saluran pernapasan yang hiperaktif menderita asma, akan tetapi saluran pernapasan yang hiperaktif dapat meningkatkan resiko terjadinya asma.   Alergi Atopi merupakan suatu reaksi alergi pada berbagai bagian tubuh yang bahkan tidak bersentuhan dengan alergen atau zat yang menyebabkan timbulnya reaksi alergi. Beberapa penyakit yang dapat timbul akibat atopi adalah eksim (dermatitis atopik), rhinitis alergika, konjungtivitis alergika, dan asma. Beberapa alergen seperti bulu binatang, berbagai serangga, dan jamur dapat menyebabkan timbulnya suatu reaksi alergi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan resiko terjadinya asma.   Lingkungan Berbagai polusi udara, baik yang berasal dari asap rokok, jamur, atau berbagai zat berbahaya lainnya dapat menimbulkan suatu reaksi alergi dan asma. Polusi udara, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon, udara dingin, dan kelembaban udara yang tinggi merupakan pemicu terjadinya serangan asma. Ozon, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menyebabkan timbulnya batuk, sesak napas, mengi, nyeri dada, dan serangan asma. Cuaca dingin dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan dan meningkatkan produksi lendir pada saluran pernapasan. Peningkatan kelembaban udarah juga dapat menyebabkan timbulnya gangguan pernapasan pada beberapa orang tertentu.   Asap Rokok Merokok saat usia remaja atau dewasa muda dapat meningkatkan resiko anda menderita asma. Selain itu, paparan terhadap asap rokok pada bayi atau anak-anak juga dapat meningkatkan resiko bayi atau anak tersebut untuk menderita asma di kemudian hari.   Obesitas Berdasarkan penelitian, asma lebih sering terjadi pada orang dewasa dan anak yang mengalami obesitas (kegemukan). Serangan asma pada penderita asma yang juga mengalami obesitas seringkali lebih sulit dikendalikan dan membutuhkan lebih banyak pengobatan.   Kehamilan Merokok selama hamil dapat menyebabkan penurunan fungsi paru pada bayi yang anda kandung. Selain itu, bayi yang lahir sebelum waktunya (prematur) juga memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita asma di kemudian hari.   Sumber: webmd