Your browser does not support JavaScript!
 20 Jan 2020    18:00 WIB
Apakah Gangguan Tidur Apnea Dapat Sebabkan Gangguan Pendengaran?
Gangguan tidur apnea merupakan  gangguan tidur serius yang terjadi ketika pernapasan seseorang terganggu selama tidur, biasanya ditandai dengan adanya periode henti napas saat tidur. Sebenarnya gangguan tidur apnea bukan hanya gangguan tidur biasa, tetapi merupakan gangguan sistemik dan kronik yang mungkin dapat mempengaruhi organ tubuh lainnya.   Gangguan tidur apnea dapat mengganggu kualitas tidur penderitanya dan menyebabkan penderita merasa sangat lelah di siang hari serta menimbulkan berbagai gejala lainnya. Gangguan ini pun diduga memiliki hubungan dengan terjadinya peradangan menyeluruh pada tubuh, gangguan jantung dan pembuluh darah serta gangguan endokrin. Gangguan tidur apnea mungkin tidak hanya mempengaruhi kualitas tidur anda saja. Sebuah penelitian baru menduga bahwa gangguan tidur apnea ini mungkin berhubungan dengan terjadinya gangguan pendengaran, termasuk ketulian.   Para peneliti menemukan bahwa gangguan tidur apnea berhubungan dengan terjadinya gangguan pendengaran, baik untuk suara berfrekuensi tinggi maupun rendah. Hasil penelitian ini pun tetap valid meskipun para peneliti telah menyertakan berbagai kemungkinan lain yang dapat menyebabkan terjadinya ketulian. Para peneliti mempertimbangkan beberapa hal lain dalam penelitiannya seperti usia, jenis kelamin, ras, gangguan kesehatan lainnya yang berhubungan seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kadar lemak di dalam darah, riwayat penggunaan alkohol, kebiasaan merokok, riwayat gangguan pendengaran atau mengorok, dan paparan terhadap suara.   Para peneliti juga menemukan bahwa gangguan tidur apnea berhubungan dengan peningkatan terjadinya gangguan pendengaran suara berfrekuensi tinggi sebanyak 31% dan 90% terhadap gangguan pendengaran suara berfrekuensi rendah. Gangguan berbicara cenderung terjadi pada orang dengan gangguan pendengaran suara berfrekuensi rendah.     Sumber: newsmaxhealth
 20 Oct 2019    08:00 WIB
Berbagai Penyebab Gangguan Pendengaran
Proses pendengaran dimulai ketika gelombang suara memasuki telinga bagian luar dan kemudian masuk ke telinga bagian dalam dan menuju koklea, suatu ruangan berbentuk seperti rumah keong yang berisi cairan. Pergerakan cairan ini kemudian menyebabkan pergerakan berbagai rambut-rambut kecil yang kemudian mengubah gelombang suara menjadi suatu impuls saraf. Impuls saraf ini kemudian dikirimkan ke otak anda yang kemudian diproses menjadi suatu suara yang telah anda kenal. Gangguan atau hilangnya pendengaran terjadi bila terdapat gangguan pada berbagai bagian telinga yang terlibat dalam proses pendengaran, mulai dari telinga luar sampai telinga dalam, serta saraf pendengaran dan otak.   Usia Seiring dengan semakin bertambahnya usia anda, maka keelastisan semua bagian telinga pun berkurang. Rambut-rambut kecil di telinga dalam mulai rusak dan responnya terhadap berbagai gelombang suara pun mulai berkurang. Suatu proses yang menyebabkan hilangnya pendengaran atau ketulian dapat berlangsung selama bertahun-tahun.   Suara Keras Paparan terhadap suara keras, seperti suara mesin di pabrik, mesin pesawat, mendengarkan lagu dengan suara keras, atau berbagai polusi suara keras lainnya dapat merusak rambut-rambut kecil di dalam koklea. Tingkat keparahan gangguan pendengaran yang terjadi tergantung pada seberapa kerasnya suara dan lamanya paparan terhadap suara keras tersebut.   Infeksi Telinga Saat terjadi infeksi pada telinga, cairan dapat terbentuk di dalam telinga tengah. Biasanya gangguan pendengaran akibat infeksi telinga merupakan gangguan pendengaran ringan dan sementara. Akan tetapi, bila infeksi telinga ini tidak segera ditangani, maka dapat terjadi gangguan pendengaran yang lebih berat dan serius.   Perforasi Gendang Telinga Perforasi gendang telinga adalah robeknya gendang telinga. Gendang telinga merupakan suatu lapisan yang memisahkan liang telinga dari telinga tengah. Robeknya gendang telinga menyebabkan terbentuknya suatu lubang yang dapat atau tidak dapat sembuh. Hal ini dapat terjadi akibat infeksi telinga, suara keras, cedera kepala, atau tekanan tinggi pada telinga saat naik pesawat atau menyelam. Gangguan pendengaran yang terjadi dapat bersifat ringan atau sedang tergantung pada ukuran robekan gendang telinga yang terjadi.   Penyakit atau Infeksi Lainnya Cacar air, gondongan, meningitis, dan penyakit Meniere merupakan beberapa penyakit yang dapat menyebabkan gangguan bahkan hilangnya pendengaran.   Tumor Baik tumor jinak maupun tumor ganas dapat menyebabkan gangguan pendengaran berat. Tumor yang sering menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran adalah neuroma akustik (vestibular schwannoma) dan meningioma. Gangguan pendengaran akibat tumor biasanya juga diikuti oleh gejala lainnya seperi mati rasa atau kelemahan pada daerah wajah dan telinga berdengung.   Adanya Benda Asing di Dalam Telinga Adanya benda asing yang menyumbat liang telinga dapat menyebabkan gangguan pendengaran.   Malformasi Telinga Kelainan bentuk atau malformasi telinga yang terjadi sejak lahir juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran.   Trauma Berbagai cedera seperti patah tulang tengkorak atau tertusuknya gendang telinga juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran.   Obat-obatan Beberapa jenis obat-obatan, seperti aminoglikosida (streptomisin, neomisin, kanamisin), aspirin dosis tinggi, obat-obatan kemoterapi (cisplatin dan carboplatin), obat anti nyeri dosis tinggi, eritromisin (makrolid) dapat menyeababkan gangguan pendengaran. Kadang efek samping ini hanya berlansung sementara dan pendengaran akan kembali normal setelah penggunaan obat-obat tersebut dihentikan. Akan tetapi, pada sebagian besar kasus terjadi tuli permanen.   Genetika Para ahli telah mengemukakan bahwa beberapa jenis gen tertentu dapat menyebabkan gangguan pendengaran berat, khususnya gangguan pendengaran yang berhubungan dengan usia. Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh faktor genetika biasanya terjadi sejak lahir.    
 13 May 2019    08:00 WIB
Pilihan Terapi Untuk Mengatasi Hilangnya Pendengaran
Banyaknya pilihan pengobatan untuk mengatasi hilangnya pendengaran dapat membuat anda dan keluarga merasa kebingungan. Pengobatan terbaik bagi masalah anda tergantung pada jenis gangguan pendengaran yang anda alami. Terdapat tiga jenis gangguan pendengaran yang dapat terjadi, yaitu: Tuli konduktif yaitu suatu keadaan di mana hilangnya pendengaran diakibatkan oleh gangguan konduksi suara dari bagian telinga luar atau tengah menuju ke telinga dalam Tuli sensorineural merupakan suatu keadaan di mana hilangnya pendengaran diakibatkan oleh gangguan pada bagian telinga dalam atau gangguan pada saraf pendengaran yang menyebabkan saraf tersebut tidak dapat lagi mengenali gelombang suara dengan baik Tuli campuran merupakan kombinasi antara tuli konduktif dan tuli sensorineural   Alat Bantu Dengar yang Dapat Dilepaskan Alat bantu dengar memperkeras suara dan dengan demikian membuat suara lebih mudah dideteksi oleh telinga dalam. Terdapat dua jenis alat bantu dengar yaitu: Alat bantu dengar analog yang mengubah gelombang suara menjadi suatu impuls listrik yang kemudian mengeraskannya. Alat bantu dengar ini bekerja seperti pengeras suara yang dihubungkan dengan mikrofon. Alat ini juga dapat disesuaikan dengan lingkungan anda, seperti saat anda berada di ruangan kecil atau di tempat ramai Alat bantu dengar digital mengubah gelombang suara menjadi angka, yang kemudian akan diubah kembali menjadi suara. Alat ini bekerja seperti pemutar music (MP3) dan dapat diatur untuk hanya memperbesar suara pada frekuensi di mana anda mengalami gangguan pendengaran. Secara keseluruhan, alat ini lebih mudah digunakan dan lebih sesuai untuk mengatasi hilangnya pendengaran, akan tetapi alat ini juga lebih mahal daripada alat bantu dengar analog Jenis Pemasangan Alat Bantu Dengar Open Fit Alat bantu dengar ini juga dipasang di bagian belakang telinga. Suara ditransmisikan melalui suatu tabung kecil yang dimasukkan ke dalam liang telinga. Alat ini membuat liang telinga tetap terbuka dan lebih disukai penderita karena tidak menimbulkan perasaan telinga tersumbat, tidak mudah rusak akibat kotoran telinga, dan berukuran lebih kecil sehingga tidak terlalu terlihat. Di Dalam Liang Telinga Alat ini dapat digunakan pada tuli ringan hingga berat dan berukuran kecil sehingga dapat dimasukkan ke dalam liang telinga dan hampir tidak terlihat. Akan tetapi, karena ukurannya yang kecil membuat pemakainya kesulitan untuk mengatur dan melepaskannya. Selain itu, alat ini juga tidak cukup kuat daripada alat bantu dengar lainnya.   Implan Alat Bantu Dengar Implan Di Telinga Tengah Implan ini dilekatkan pada salah satu tulang di dalam telinga tengah melalui tindakan pembedahan. Implan ini menggerakkan tulang di telinga tengah secara langsung dan memperkuat getaran suara yang masuk ke dalam telinga dalam. Implan ini sangat berguna bagi tuli sensorineural. Karena terletak di telinga bagian tengah, maka implant ini tidak perlu dilepaskan pada saat mandi atau berenang. Alat Bantu Dengar yang Dipasang Langsung ke Tulang Alat ini dipasang ke dalam tulang di bagian belakang telinga melalui tindakan pembedahan. Alat ini dapat mentrasmisikan suara ke dalam telinga dalam melalui tulang tengkorak. Alat ini biasanya direkomendasikan bagi: Tuli yang hanya mengenai salah satu telinga Kelainan bentuk liang telinga kongenital (telah terjadi sejak lahir) Tuli konduktif atau campuran yang disertai dengan infeksi telinga kronik Implan Koklea Jika telinga dalam mengalami kerusakan berat, maka penggunaan alat bantu dengar yang terbaikpun tidak dapat memperbaiki pendengaran. Bila hal ini terjadi, maka dokter biasanya akan menganjurkan penggunaan implant koklea. Implan koklea menstimulasi saraf pendengaran secara langsung dan membuat gelombang suara sampai ke otak. Implan koklea dapat membantu orang dewasa yang tuli atau mengalami gangguan pendengaran berat. Selain itu, implant ini juga dapat membantu anak-anak dengan gangguan pendengaran berat untuk mempelajari bahasa dan berbicara. Akan tetapi, otak memerlukan waktu dan latihan untuk mengerti gelombang yang disampaikan oleh implant ini sebagai gelombang suara. Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.  Sumber: webmd  
 16 Feb 2019    16:00 WIB
Terlalu Sering Mendengar Musik Lewat Earphone Picu Tuli Mendadak?
Untuk kamu yang suka memakai earphone berlama-lama ternyata dapat mengganggu pendengaran lho! Telinga manusia memiliki struktur dan fungsi yang luar biasa. Selain proses menghantarkan bunyi sehingga kita bisa mendengar, di dalam telinga terdapat proses pengurangan paparan bising. Secara otomatis, telinga memiliki kemampuan untuk meredam suara yang keras menjadi tidak bermasalah bagi pendengaran.   Namun, telinga juga memiliki batas kemampuan untuk mendengar. Misalnya, untuk bunyi letusan senapan yang memiliki intensitas sekitar 110 desibel, telinga hanya boleh terpapar tidak lebih dari 30 detik. Lebih dari itu, maka resiko terjadinya penurunan fungsi pendengaran atau trauma bising akan menjadi lebih besar.   Demikian juga dengan pemakaian headset, earphone, MP3 atau MP4 player, dan perangkat pemutar musik portabel lainnya. Hasil penelitian  yang dilakukan oleh Universitas Ghent, Belgia yang dipublikasikan di jurnal Head & Neck Surgery menunjukkan bahwa ketika alat pemutar musik digital yang disambungkan dengan earphone diputar pada volume optimal atau maksimal (intensitas sekitar 100 desibel), telinga hanya boleh terpapar maksimal 5 menit per hari.   Pada volume 90 persen (90 desibel) hanya boleh terpapar selama 18 menit. Pada volume 80 persen (80 desibel), hanya boleh 1,2 jam dosis maksimal per hari. Dan, pada volume 70 persen (70 desibel), hanya boleh sekitar 4,6 jam maksimal per hari. Lebih dari itu, risiko terjadinya trauma bising akan lebih besar. Jadi, sebaiknya dengarkan music melalui earphone pada volume yang lebih rendah, karena akan lebih aman untuk kesehatanmu ;) Baca juga: Bagaimana Cara Mengeluarkan Air Dari Telinga Anda? Sumber: Info Sehat
 02 Oct 2018    16:00 WIB
Kenali Jenis dan Gejala Gangguan Pendengaran
Hilangnya pendengaran (tuli) dapat membuat dunia yang begitu ramai menjadi sunyi senyap. Terdapat berbagai hal yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang dapat berakhir pada hilangnya pendengaran, mulai dari polusi suara sampai pada penyakit tertentu. Diagnosis dini dan pengobatan sedini mungkin dapat mencegah terjadinya hal ini. Rentang pendengaran normal adalah 0-20 dB. Rentang gangguan pendengaran ringan adalah 26-40 dB. Rentang gangguan pendengaran sedang adalah 41-55 dB. Rentang gangguan pendengaran berat adalah 71-90 dB. Untuk menentukan derajat gangguan pendengaran yang anda alami, dokter anda akan melakukan pemeriksaan audiogram. Orang dengan pendengaran yang normal dapat mendengar suara pada semua desibel (suatu ukuran intensitas suara). Sedangkan orang dengan gangguan pendengaran berat hanya dapat mendengar suara yang sangat keras. Orang dengan gangguan pendengaran berat dapat mengalami kesulitan dalam mendengar pembicaraan orang lain, tetapi mereka masih dapat mendengar berbagai suara keras lainnya.   Jenis Gangguan Pendengaran 1.      Tuli Konduktif Tuli konduktif terjadi akibat adanya gangguan pada liang telinga, membrane timpani, atau pada telinga tengah. Gangguan ini menghambat impuls suara untuk sampai ke telinga dalam. Hal ini disebabkan oleh infeksi telinga, tumor, cairan, atau adanya benda asing di dalam telinga. 2.      Tuli Sensorineural Tuli sensorineural seringkali disebabkan oleh kerusakan sel-sel rambut di telinga dalam. Penyebab lainnya adalah kerusakan saraf ke 8 (vestibulokoklear) atau otak. Hal ini biasanya terjadi akibat proses penuaan. 3.      Tuli Kombinasi Tuli kombinasi merupakan gabungan antara tuli konduktif dan tuli sensorineural. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya gangguan pada telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam (koklea atau saraf pendengaran). Gangguan ini dapat disebabkan oleh cedera kepala, infeksi kronik pada telinga, atau gangguan yang diturunkan (herediter).   Hilangnya pendengaran dapat mengenai satu atau kedua telinga. Hal ini dapat terjadi secara mendadak (akut) atau memburuk secara perlahan. Segera hubungi dokter bila anda mengalami gangguan pendengaran.   Gejala Gangguan Pendengaran Hilangnya pendengaran dapat terjadi secara mendadak atau perlahan, tergantung pada penyebabnya. Gejala lain yang sering terjadi bersamaan dengan hilangnya pendengaran tersebut adalah: Nyeri pada salah satu atau kedua telinga Pusing Pusing berputar atau vertigo Telinga berdengung Rasa tertekan atau penuh di satu atau kedua telinga
 29 May 2018    13:00 WIB
Efek Mendengarkan Musik yang Terlalu Keras
Siapa yang tidak suka mendengarkan musik? Musik akan enak didengar saat dipasang dengan volume yang tepat. Tetapi generasi muda sangat senang mendengar musik menggunakan earphone dan memasangnya keras-keras. Tidak heran jika generasi sekarang disebut generasi gadget. Seakan Anda tidak dapat hidup tanpa mendengar musik kesukaan Anda di gadget Anda. inilah fenomena menakjubkan dari kebudayaan gadget, terutama dalam cara mendengarkan musik.Jadi apa salahnya mendengarkan musik dengan suara yang kencang? Apakah Anda pikir volume suara dapat merusak telinga dan bagian tubuh lainya? Banyak ilmuwan mengklaim bahwa mendengarkan musik dengan suara keras dapat merusak telinga dan otak Anda, bahkan dapat mengganggu fungsi tubuh Anda secara keseluruhan.   Jadi apa saja pengaruh musik keras untuk tubuh? 1. Penurunan fungsi pendengaran Salah satu efek terbesar dari mendengarkan musik yang keras adalah penurunan fungsi pendengaran. Ketika volume musik yang Anda dengarkan lebih dari 90 desibel maka akan mulai merusak gendang telinga. Anda akan mulai merasa mendengar musik berdengung di seluruh bagian telinga dan juga tubuh Anda. Pada banyak kasus banyak kejadian kehilangan pendengaran sementara karena sering mendengarkan musik terlalu keras. Tetapi bila kejadian ini terus berlangsung Anda bisa mengalami kehilangan pendengaran secara permanen. Pastikan Anda tidak menggunakan earphone dalam waktu ang lama dan pastikan Anda memasang volume pada desibel yang tepat. 2. Masalah syarafPernahkah ada seseorang yang mengatakan hal ini pada Anda? mendengarkan musik yang terlalu keras ternyata dapat membuat syaraf lemah. Anda akan merasakan adanya kerusakan syaraf berlangsung jika Anda terus mendengarkan musik dengan suara yang keras. Hal ini berarti sinyal yang mencapai otak tidak berhasil mencapai tempat tujuannya dan jika masalah ini berlanjut maka dapat terjadi kerusakan otak dan fungsi tubuh lainnya. 3. Infeksi telingaTentu Anda pernah berbagi earphone dengan seseorang yang dekat dengan Anda bukan? Tahukan Anda dengan berbagi earphone memungkinnya penyebaran infeksi yang berasal baik dari telinga Anda maupun orang yang Anda bagi. Bakteri jahat yang hidup di telinga dapat menempel di earphone dan dapat tersebar dengan mudah saat menggunakan earphone bersamaan. 4. Penurunan konsentrasiSaat musik keras secara konstan menempel di telinga Anda secara tidak langsung konsentrasi Anda akan terbagi dan semakin menurun. Anda akan menyadari bahwa mendengarkan musik dapat membuat kemampuan Anda dalam bekerja semakin menurun.   Sumber: boldsky
 03 Mar 2016    12:00 WIB
Apakah Anda Mengalami Gangguan Pendengaran? Perhatikan Gejala Berikut Ini!
Menurut sebuah penelitian di Universitas Johns Hopkins, Amerika, sekitar 48 juta orang di Amerika mengalami gangguan pendengaran (tuli) setidaknya pada salah satu telinga dan bahwa pria lebih beresiko (hingga 5 kali lipat) mengalami hal tersebut dibandingkan dengan wanita. Seorang ahli mengatakan hal ini mungkin berhubungan dengan proses penuaan. Kerusakan pada sel-sel rambut luar di dalam telinga yang memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas suara dari luar ini terjadi akibat suara yang didengar terlalu keras. Kerusakan ini pun tidak dapat diperbaiki. Kerusakan sel-sel rambut ini biasanya terjadi akibat adany akumulasi suara keras di sepanjang kehidupan seseorang. Sepanjang hidupnya, seseorang pasti lebih mungkin terpapar oleh suara keras yang merusak, yang membuatnya semakin sulit mendengar pembicaraan orang lain pada lingkungan yang berisik. Seorang ahli mengatakan bahwa seseorang dapat mempercepat proses penuaan pada telingan ini saat ia terpapar suara keras pada waktu menonton konser musik secara langsung, mendengarkan lagu dengan suara terlalu keras, memiliki lingkungan kerja yang sangat berisik, dan bahkan karena mendengar suara yang terdapat di lingkungan tempat tinggal Anda seperti suara klakson mobil dan sirene ambulans. Oleh karena itu, tidak seorang pun dapat terhindarkan dari gangguan pendengaran dan tidak seorang pun terbebas terhadap berbagai polusi suara (kebisingan) dalam kehidupannya. Akan tetapi, di bawah ini terdapat beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi resiko terjadinya kerusakan telinga tersebut, yaitu: Jauhi diri Anda dari paparan suara bising atau keras Pelankan suara televisi atau suara lagu yang Anda dengar bahkan jika suara keduanya mungkin tidak terdengar terlalu keras bagi Anda Biarkan telinga Anda beristirahat selama 10 menit setelah mendengarkan suara keras dalam waktu lama Hindari paparan berkepanjangan terhadap suara dengan frekuensi rendah dan hindari paparan singkat terhadap suara dengan frekuensi tinggi Tutupi telinga Anda dengan penutup telinga bila pekerjaan atau gaya hidup Anda tidak memungkinkan diri Anda untuk menghindari berbagai polusi suara Jika Anda ingin mengetahui apakah diri Anda mungkin mengalami gangguan pendengaran, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini, yaitu: Keluarlah dari kamar atau rumah Anda dan cobalah dengar berbagai suara yang terdapat pada lingkungan sekitar Anda. Jika pendengaran Anda masih berfungsi dengan baik, maka Anda pun akan dapat mendengar suara alam secara samar-samar, misalnya suara gemerisik daun yang tertiup angin Mintalah bantuan pada teman atau anggota keluarga Anda apakah mereka dapat mendengar hal-hal yang tidak dapat Anda dengar, misalnya percakapan yang tengah berlangsung di televisi Anda. Bila mereka dapat mendengarnya dan Anda tidak, maka Anda sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis THT Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang. Sumber: menshealth