Your browser does not support JavaScript!
 21 Sep 2014    21:00 WIB
Apakah Saya Menderita Gangguan Jiwa?
Gangguan jiwa terdiri dari berbagai macam gangguan psikologis, mulai dari gangguan cemas, gangguan mood, ketergantungan zat, dan gangguan psikosis. Anda mungkin mengira bahwa mengetahui adanya gejala gangguan jiwa merupakan suatu hal yang mudah seperti yang banyak Anda lihat di televisi. Akan tetapi, mendeteksi gangguan jiwa sedini mungkin bukanlah suatu hal yang mudah. Walaupun setiap gangguan jiwa memiliki gejala yang berbeda-beda, akan tetapi terdapat beberapa gejala gangguan jiwa yang dapat ditemukan pada hampir setiap gangguan jiwa, yaitu: Perubahan pola tidur dan kebiasaan makan Rasa sedih berkepanjangan Khawatir atau cemas berlebihan Menarik diri dari pergaulan sosial Perubahan hubungan dengan anggota keluarga dan teman Mengalami delusi atau halusinasi Mood yang berubah-ubah Adanya pikiran atau niat untuk bunuh diri Setiap orang tentunya pernah merasa sedih atau khawatir, akan tetapi bagaimana membedakannya dengan gejala gangguan jiwa? Pertama-tama Anda harus membedakan apakah Anda sedang mengalami hari yang buruk atau justru merasa sedih secara berlebihan.  Salah satu cara membedakannya adalah dengan menentukan apakah rasa sedih yang Anda alami mengganggu kemampuan Anda untuk melakukan aktivitas Anda sehari-hari atau apakah rasa sedih ini mempengaruhi hubungan Anda dengan orang lain. Jika gejala yang Anda alami mengganggu kehidupan Anda sehari-hari, maka mungkin sudah saatnya bagi Anda untuk mencari bantuan medis. Selain itu, beberapa gejala lain yang mungkin merupakan pertanda bahwa Anda harus segera mencari pertolongan medis, yaitu: Anda sering menghindari berpergian bersama teman atau anggota keluarga Anda karena Anda berpikiran negatif tentang mereka Anda tidak dapat menikmati film yang sedang Anda tonton karena sedang mengkhawatirkan berbagai hal yang tidak dapat Anda kendalikan dalam kehidupan Anda Selalu terlambat masuk kerja karena tidak dapat bangun dari atas ranjang Anda Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis jiwa bila Anda mengalami berbagai gejala di atas.    Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: howstuffworks
 30 May 2014    15:00 WIB
Mengenal Gangguan Kepribadian Paranoid
Apa itu gangguan kepribadian paranoid? Gangguan kepribadian paranoid merupakan kondisi mental dimana seseorang memiliki rasa curiga dan ketidakpercayaan pada orang lain untuk waktu yang lama, tetapi tidak memiliki kelainan psikotik, seperti pada skizofrenia. Orang-orang dengan gangguan kepribadian paranoid selalu bersikap waspada, mereka percaya bahwa orang lain selalu mencoba untuk melukai, membahayakan, atau merendahkan mereka. Keyakinan yang tidak berdasar ini bisa mengganggu kemampuan mereka untuk berhubungan dengan orang lain. Penderita seringkali juga mengambil jalur hukum untuk melawan orang lain, khususnya jika mereka merasa sepantasnya untuk marah. Apa penyebab dari gangguan kepribadian paranoid? Penyebab gangguan kepribadian paranoid tidak diketahui. Gangguan ini tampaknya lebih cenderung terjadi pada keluarga dengan gangguan psikotik, seperti skizofrenia dan gangguan waham. Oleh karena itu, sepertinya gangguan ini berhubungan dengan faktor genetik. Selain itu, faktor lingkungan juga bisa berperan untuk munculnya gangguan, misalnya pengalaman masa kecil yang buruk, seperti trauma fisik atau emosional. Gangguan kepribadian paranoid tampaknya lebih sering terjadi pada pria. Apa gejala dari gangguan kepribadian paranoid? Orang-orang dengan gangguan kepribadian paranoid sangat curiga pada orang lain, akibatnya mereka sangat membatasi kehidupan sosial mereka. Mereka seringkali merasa bahwa dirinya berada dalam bahaya dan mencari bukti-bukti untuk menunjukkan kecurigaan mereka. Gejala-gejala yang sering terjadi antara lain : merasa bahwa orang lain memiliki motif tersembunyi meragukan komitmen, loyalitas, atau kepercayaan orang lain merasa bahwa dirinya akan dieksploitasi oleh orang lain menangkap makna-makna tersembunyi dari tanda-tanda yang biasa berulang kali curiga atau cemburu tanpa alasan bahwa pasangannya tidak setia padanya tidak mampu bekerja sama dengan orang lain mengucilkan diri ada sikap permusuhan tidak bisa memaafkan dan pendendam sangat sensitif dan tidak bisa menerima kritik merasa enggan untuk mengatakan hal-hal atau informasi tentang diri sendiri karena merasa takut bahwa informasi tersebut akan digunakan untuk melawan dirinya keras kepala, merasa dirinya selalu benar sulit untuk bersikap santai Apa pengobatan untuk gangguan kepribadian paranoid? Pengobatan untuk gangguan kepribadian paranoid sulit untuk dilakukan karena penderita seringkali sangat curiga terhadap dokter. Karena hampir semua orang dengan gangguan kepribadian tidak menyadari gangguan yang ada dan perlunya terapi, maka motivasi seringkali datang dari orang lain. Jika penderita mau diobati, maka konseling dan pemberian obat-obatan seringkali efektif untuk mengatasinya. Terapi akan difokuskan pada bagaimana meningkatkan kemampuan umum, seperti memperbaiki interaksi sosial, komunikasi, dan harga diri. Namun karena orang-orang dengan gangguan kepribadian paranoid memiliki rasa ketidakpercayaan pada orang lain, maka banyak penderita yang tidak mengikuti rencana terapi. Pemberian obat-obatan umumnya tidak menjadi fokus utama pengobatan. Namun, obat-obatan bisa diberikan jika terdapat gejala-gejala yang ekstrim, atau jika penderita juga mengalami gangguan lainnya, seperti kecemasan atau depresi.  Ingin mengetahui lebih dalma mengenai ganguan kepribadian paranoid? Silahkan baca disini http://www.pilihdokter.com/id/cek-gejala-penyakit/tags/387/gangguan-kepribadian-paranoid  sumber: cek gejala penyakit http://www.pilihdokter.com/id/cek-gejala-penyakit 
 30 May 2014    14:30 WIB
Gangguan Jiwa Lebih Berbahaya Dibandingkan Merokok
Penelitian terbaru yang dilakukan di Oxford University mengenai gangguan jiwa mengatakan sebenarnya gangguan jiwa dapat mempersingkat harapan hidup seseorang. Penelitian ini mengatakan harapan hidup yang berkurang bisa mencapai 10 tahun dimana hal ini lebih buruk dibandingkan pengurangan harapan hidup pada seorang perokok yang meroko 20 rokok per hari. Setelah meneliti 1,7 juta pasien dan menganalisis data dari berbagai negara maju, penelitian ini menyimpulkan bahwa seorang perokok berar dapat mengurangi harapan hidup selama 8-10 tahun dibandingkan pengurangan harapan hidup pada pasien gangguan jiwa bisa sampai 10-25 tahun. The Guardian Liberty Voice melaporkan bahwa penelitian yang sama juga mengklaim bahwa rata-rata harapan hidup penderita skizofenia berkurang 10-20 tahun dibandingkan mereka yang normal, 10-20 tahun pengurangan harapan hidup untuk penderita gangguan bipolar, 10-15 tahun untuk pasien penderita depresi dan antara 10-25 tahun lebih singkat untuk penderita penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan. Peneliti senior pada tim peneliti ini mengatakan sudah banyak penekanan yang disebarluaskan ke masyarakat mengenai bahaya merokok dan bagaimana merokok dapat menyebabkan kematian, sementara tidak demikian dengan gangguna jiwa. Peneliti juga menekankan bahwa gangguan jiwa juga dapat menyebabkan gangguan fisik yang dapat berakhir menjadi diabetes, penyakit jantung dan kanker. Sayangnya banyak kasus yang terjadi pada pasien gangguan jiwa tidak mendapatkan akses cukup ke fasilitas kesehatan.   Sumber: healthmeup
 30 May 2014    14:00 WIB
Gangguan Jiwa Eksebisionisme
Pernahkan Anda melihat orang yang memamerkan alat kelaminnya didepan umum? Jika Anda pernah melihatnya mungkin orang tersebut mengalami gangguan jiwa eksebisionisme. Pada gangguan jiwa eksibisionisme, seseorang, biasanya laki-laki suka dan sering memamerkan alat kelaminnya kepada orang lain yang sama sekali tidak menduga hal ini akan terjadi. Pada saat melakukan hal tersebut, penderita akan terangsang secara seksual bahkan bisa memicu masturbasi setelah penderita melakukan hal tersebut. Hubungan seksual yang lebih jauh hampir tidak pernah terjadi, sehingga penderita jarang melakukan pemerkosaan. Sebagian penderita yang tertangkap berusia dibawah 40 tahun. Seorang wanita bisa memamerkan tubuhnya dengan cara-cara yang mengganggu, tetapi pada wanita, eksibisionisme jarang dihubungkan dengan kelainan psikoseksual. Apa yang menyebabkan gangguan jiwa eksebisionisme? Sejauh ini belum bisa dipastikan apa yang menjadi penyebab pasti munculnya gangguan jiwa eksebisionisme, tetapi para peneliti mempunyai teori bahwa penyebab orang bisa mengidap eksebisionisme ini adalah ia pernah mengalami kekerasan seksual yang traumatis pada saat masih kecil. Bagaimana mendiagnosa gangguan jiwa eksebisionisme? Diagnosa didasarkan dari gejala-gejala gangguan yang ada. Pengobatan yang tersedia untuk gangguan jiwa eksebisionisme Sebagian besar kasus parafilia ditangani dengan konseling dan terapi perilaku. Obat-obat bisa membantu mengurangi tindakan kompulsif yang berhubungan dengan eksebisionisme dan mengurangi terjadinya perilaku dan fantasi seksual yang menyimpang. Pada beberapa kasus, terapi hormon diberikan pada penderita yang sering mengalami kekambuhan perilaku seksual yang berbahaya. Obat-obat ini bekerja dengan mengurangi gairah seksual penderita.   Sumber: merckmanual
 07 Apr 2014    12:30 WIB
Mitos dan Fakta Tentang Gangguan Jiwa
Masyarakat banyak menganggap bahwa orang yang mengidap gangguan jiwa atau gangguan mental emosional hanyalah orang gila. Faktanya, tidak semua orang yang mengalami gangguan jiwa dapat disebut “gila” secara medis. Secara medis mungkin yang disebut “gila” oleh masyarakat adalah orang-orang yang mengalami gangguan psikotik. Gangguan psikotik adalah keadaan dimana seseorang tidak dapat membedakan dunia nyata dan dunia khayalnya. Artikel ini akan membahas mitos yang beredar di masyarakat tentang gangguan jiwa dan manakah mitos yang benar dan salah. Gangguan jiwa bisa menyerang siapa sajaSelama ini orang menganggap gangguan jiwa hanya terjadi pada orang yang lemah, tetapi Anda salah. Winston Churcill, seorang mantan perdana mentri yang hebat dari Inggris ternyata menderita depresi berat. Ia sampai membabtis anjing hitamnya. Calvin Colidge, presiden ke 13 Amerika Serikat juga menderita depresi setelah anaknya meninggal. Kedua orang tersebut bukanlah orang-orang yang lemah. Jadi gangguan jiwa dapat menyerang siapa saja dan kapan saja.Kepercayaan di masyarakat juga mengatakan bahwa orang gangguan jiwa adalah individu yang sulit, bodoh dan tidak mampu membuat keputusan, sehingga mereka tidak mampu untuk bekerja Apakah orang dengan gangguan jiwa berprilaku kriminal?Memang sulit dipercaya kesalahpahaman jika seseorang dengan gangguan jiwa harus berprilaku kriminal. Sekali lagi hal ini salah, tidak ada hubungan antara gangguan jiwa dengan prilaku kriminal, walaupun tidak dipungkiri beberapa jenis gangguan jiwa dapat menyebabkan si individu berbuat kejahatan. Penelitian yang dilakukan di Inggris mengatakan hanya 3-5% angka kejahatan yang memang dilakukan oleh seseorang yang menderita gangguan jiwa. Penelitian ini juga menyebutkan orang dengan gangguan jiwa justru lebih sering menjadi korban kejahatan, bahkan sampai 10 kali lipat. Seseorang dengan gangguan jiwa harus diasingkanSalah satu kesalahpahaman yang terbentuk di masyarakat mengenai gangguan jiwa adalah harus diasingkan. Hal ini dapat menyebabkan diskriminasi di lingkungan tempat tinggal, pekerjaan dan pelayanan kesehatan. Mungkin munculnya pemahaman jika seseorang dengan gangguan jiwa harus diasingkan dan didiskrimasi karena masyarakat menganggap gangguan jiwa tidak dapat disembuhkan. Ternyata hal ini juga salah. Sudah banyak kasus gangguan jiwa yang dapat disembuhkan dan dapat beraktifitas dengan normal. Sudah banyak pengobatan dan terapi yang sangat efektif untuk mengobati gangguan jiwa.Sumber: healthmeup