Your browser does not support JavaScript!
 04 Jul 2015    11:00 WIB
Pengobatan Penyakit Jiwa Paling Mengerikan di Dunia Part I
Psikiatri merupakan suatu bidang dalam ilmu kedokteran yang mempelajari mengenai jiwa seorang manusia memang memiliki reputasi yang kurang baik pada zaman dahulu. Hal ini dikarenakan, para dokternya banyak yang mencoba melakukan berbagai tindakan medis dan pengobatan yang mengerikan untuk menyembuhkan para penderitanya seperti yang akan dibahas di bawah ini.   TREPANASI (MELUBANGI KEPALA) Trepanasi adalah suatu metode pengobatan sakit jiwa tertua, yang bahkan telah mulai dilakukan oleh para manusia di zaman purba. Mengapa metode pengobatan satu ini dianggap mengerikan bahkan terkesan agak kejam? Hal ini dikarenakan kepala para penderita akan dibedah dan tulang tengkoraknya dilubangi. Tujuan dari trepanasi ini adalah untuk mencari tahu apa yang salah pada otak si penderita. Namun bisa ditebak, banyak pembedahan yang akhirnya berujung pada maut. Metode ini juga cukup populer di Eropa pada abad ke-17   PENGANGKATAN ORGAN TUBUH Bagi Dr. Henry Cotton, gangguan jiwa disebabkan oleh infeksi. Alhasil, satu-satunya penanganan adalah dengan mengangkat organ-organ tubuh yang terinfeksi. Prakteknya dimulai sejak awal abad ke-20. Awalnya, ia mengambil gigi pasien satu persatu, dan jika penyakitnya masih belum sembuh juga ia akan mengambil organ lainnya.   Sepanjang karirnya, hanya ada 50% penderita yang ia tangani yang berhasil bertahan hidup setelah melalui metode ini. Padahal, belum tentu juga pasien itu berhasil sembuh secara mental. Kengerian ini sampai diabadikan dalam buku berjudul MADHOUSE, yang ditulis oleh Andrew Scull.   LOBOTOMI Pencetus lobotomi adalah Edgar Monis yang sempat berkesimpulan bahwa masalah kejiwaan bersumber dari lobus frontal (salah satu bagian di otak). Dan satu-satunya cara untuk menghilangkannya adalah dengan menghancurkan bagian tersebut.   Pada lobotomi, dokter akan memasukkan suatu alat ke dalam rongga mata untuk memotong saraf bagian depan otak. Pemecah es adalah alat yang paling sering digunakan untuk metode ini. Awalnya lobotomi berhasil memberikan kesembuhan untuk para pasien. Namun setelah sukses dan dilakukan pada banyak orang baru terungkap bahwa dalam jangka panjang metode ini akan membuat penderita mengalami kelumpuhan secara permanen.   TERAPI KEJUT LISTRIK Melihat namanya, mungkin kalian sudah bisa membayangkan listrik bertekanan tinggi yang dialirkan ke tubuh pasien. Terapi ini pertama kali digunakan oleh seorang dokter Italia setahun sebelum perang dunia pertama. Pada terapi kejut listrik, dokter akan mengalirkan listrik sebesar 400 volt pada otak. Metode ini membuat para penderita mengalami amnesia dan bahkan kerusakan otak. Walaupun sangat kontroversial dan berbahaya, namun masih banyak psikiater yang menggunakan cara ini.   DIBUAT KOMA Koma adalah kondisi yang cukup menakutkan di dunia medis. Namun Manfred Sekel justru menggunakan metode koma untuk menyembuhkan pasien. Bagaimana bisa?  Metode ini dilakukan dengan cara menyuntikkan insulin dalam jumlah besar pada penderita. Setelah bangun dari tidur panjang, penderita mengaku sembuh. Namun pada akhirnya, metode ini dihentikan karena efek samping mengerikan mulai muncul. Banyak penderita yang meninggal akibat overdosis insulin.   Baca juga: Mitos dan Fakta Menarik Seputar Gangguan Jiwa   Sumber: zonainfo
 26 Jun 2015    18:00 WIB
Kecanduan Obat Terlarang dan Gangguan Jiwa, Apa Hubungannya?
Berdasarkan pada the National Institute on Drug Abuse di Amerika, kecanduan obat-obatan terlarang merupakan salah satu jenis gangguan jiwa. Hal ini dikarenakan kecanduan dapat mengubah otak hingga ke fungsi dasarnya, yang mengubah kebutuhan dan keinginan dasar seseorang menjadi sesuatu hal yang berhubungan dengan keinginan untuk terus menggunakan obat-obatan terlarang tersebut. Akibatnya, sebagian besar pecandu memiliki perilaku kompulsif dan melakukan suatu tindakan atau hal tertentu tanpa mempertimbangkan berbagai resiko yang akan terjadi. Berdasarkan DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), para ahli membagi gangguan penggunaan obat-obatan terlarang menjadi penyalahgunaan obat-obatan dan ketergantungan obat. Oleh karena itu, kecanduan obat-obatan sendiri sebenarnya sudah merupakan gangguan jiwa. Berdasarkan the National Alliance on Mental Illness, sekitar sepertiga penderita gangguan jiwa juga memiliki gangguan penyalahgunaan obat-obatan. Resiko ini akan meningkat hingga 50% bila gangguan jiwa yang dialami cukup berat seperti gangguan bipolar atau skizofrenia. Sebuah penelitian menemukan bahwa sekitar sepertiga hingga setengah pecandu alkohol dan penyalahguna obat-obatan biasanya juga memiliki gangguan jiwa lainnya. Beberapa gangguan jiwa seperti gangguan cemas dan depresi dapat tidak terdeteksi karena tertutupi oleh berbagai gejala kecanduan obat-obatan terlarang atau alkohol. Penderita gangguan cemas atau depresi seringkali menggunakan minuman beralkohol atau obat-obatan untuk mengatasi gejala yang mereka alami, tetapi justru malah menyebabkan mereka mengalami kecanduan dan memperburuk berbagai gejala yang mereka alami. Oleh karena itu, bila gejala kecanduan telah berhasil diatasi, penderita masih memerlukan pengobatan lebih lanjut untuk mengatasi gangguan cemas atau depresi yang dialami.   Sumber: alcoholrehab
 24 Sep 2014    13:00 WIB
Mitos dan Fakta Seputar Skizofrenia (Gangguan Jiwa)
  Mitos: Penderita Skizofrenia Memiliki Kepribadian Ganda Mitos ini merupakan kesalahpahaman terbesar mengenai skizofrenia. Seorang penderita skizofrenia tidak memiliki 2 kepribadian. Mereka hanya memiliki pemahaman yang salah atau kehilangan kontak dengan realitas. Skizofrenia dan kepribadian ganda merupakan 2 gangguan jiwa yang berbeda dan tidak saling berhubungan.   Mitos: Sebagian Besar Penderita Skizofrenia Berbahaya Walaupun pada sebagian besar film yang Anda tonton seorang pembunuh sadis dan psikopat merupakan penderita skizofrenia, akan tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian.  Memang benar penderita skizofrenia dapat melakukan sesuatu yang tak terduga sesekali, akan tetapi sebagian besarnya bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan. Mereka biasanya hanya melakukan tindakan kekerasan bila merasa terancam. Jika seorang penderita skizofrenia melakukan suatu tindakan kekerasan, maka hal ini biasanya disebabkan oleh adanya gangguan lain seperti gangguan kekerasan semasa kanak-kanak atau penyalahgunaan zat.   Mitos: Skizofrenia Terjadi Akibat Asuhan Orang Tua yang Buruk Banyak orang mengira bahwa skizofrenia terjadi akibat kesalahan asuhan orang tua, terutama ibu. Akan tetapi, pada kenyataannya, kesalahan asuhan orang tua bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya skizofrenia. Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa, yang memiliki banyak penyebab, termasuk gangguan genetika, trauma, dan penyalahgunaan obat-obatan.    Mitos: Jika Orang Tua Anda Menderita Skizofrenia, Maka Anda Pasti Juga Akan Mengalaminya Faktor genetika memang memiliki peranan dalam terjadinya skizofrenia, akan tetapi bukan berarti bila salah satu orang tua Anda mengalami skizofrenia, maka Anda pun akan mengalaminya. Jika salah satu orang tua Anda menderita skizofrenia, maka kemungkinan Anda untuk menderita skizofrenia adalah sekitar 10%. Semakin banyak anggota keluarga Anda yang menderita skizofrenia, maka semakin besar resiko Anda untuk juga menderita skizofrenia.   Mitos: Penderita Skizofrenia Biasanya Bodoh Pada berbagai penelitian, para peneliti menemukan bahwa penderita skizofrenia mengalami lebih banyak kesulitan saat melakukan pemeriksaan fungsi mental, termasuk dalam hal konsentrasi, kemampuan belajar, dan daya ingat. Akan tetapi, bukan berarti para penderita skizofrenia merupakan seseorang yang bodoh. Banyak orang yang cerdas dan kreatif menderita skizofrenia. Para ahli bahkan telah menemukan sebuah gen yang menghubungkan gangguan mental tertentu seperti skizofrenia dengan kreativitas dan kecerdasan seseorang.   Mitos: Jika Anda Menderita Skizofrenia Berarti Anda Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa Memang pada beberapa keadaan tertentu, seorang penderita skizofrenia harus dirawat di rumah sakit jiwa, akan tetapi tidak berarti semua penderita skizofrenia harus dirawat di rumah sakit jiwa. Beberapa dari mereka bahkan dapat bekerja dan melakukan aktivitasnya sehari-hari dengan normal.   Mitos: Anda Tidak Dapat Bekerja Bila Menderita Skizofrenia Menderita skizofrenia memang dapat membuat Anda sulit mencari pekerjaan atau pergi bekerja setiap harinya. Akan tetapi, dengan pengobatan yang tepat banyak penderita skizofrenia dapat melakukan suatu pekerjaan yang memang sesuai dengan kemampuannya.   Mitos: Menderita Skizofrenia Membuat Seseorang Menjadi Malas Seorang penderita skizofrenia mungkin memang lebih sulit mengurus dirinya sendiri, termasuk dalam hal berpakaian dan mandi. Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa mereka malas, mereka hanya membutuhkan pertolongan untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari.   Mitos: Skizofrenia Tidak Dapat Disembuhkan Skizofrenia memang cukup sulit diobati, akan tetapi bukan berarti tidak mungkin. Dengan pengobatan dan terapi yang tepat, sekitar 25% penderita skizofrenia dapat sembuh. Sementara itu, sekitar 50% lainnya dapat mengalami perbaikan gejala.     Sumber: webmd
 21 Sep 2014    21:00 WIB
Apakah Saya Menderita Gangguan Jiwa?
Gangguan jiwa terdiri dari berbagai macam gangguan psikologis, mulai dari gangguan cemas, gangguan mood, ketergantungan zat, dan gangguan psikosis. Anda mungkin mengira bahwa mengetahui adanya gejala gangguan jiwa merupakan suatu hal yang mudah seperti yang banyak Anda lihat di televisi. Akan tetapi, mendeteksi gangguan jiwa sedini mungkin bukanlah suatu hal yang mudah. Walaupun setiap gangguan jiwa memiliki gejala yang berbeda-beda, akan tetapi terdapat beberapa gejala gangguan jiwa yang dapat ditemukan pada hampir setiap gangguan jiwa, yaitu: Perubahan pola tidur dan kebiasaan makan Rasa sedih berkepanjangan Khawatir atau cemas berlebihan Menarik diri dari pergaulan sosial Perubahan hubungan dengan anggota keluarga dan teman Mengalami delusi atau halusinasi Mood yang berubah-ubah Adanya pikiran atau niat untuk bunuh diri Setiap orang tentunya pernah merasa sedih atau khawatir, akan tetapi bagaimana membedakannya dengan gejala gangguan jiwa? Pertama-tama Anda harus membedakan apakah Anda sedang mengalami hari yang buruk atau justru merasa sedih secara berlebihan.  Salah satu cara membedakannya adalah dengan menentukan apakah rasa sedih yang Anda alami mengganggu kemampuan Anda untuk melakukan aktivitas Anda sehari-hari atau apakah rasa sedih ini mempengaruhi hubungan Anda dengan orang lain. Jika gejala yang Anda alami mengganggu kehidupan Anda sehari-hari, maka mungkin sudah saatnya bagi Anda untuk mencari bantuan medis. Selain itu, beberapa gejala lain yang mungkin merupakan pertanda bahwa Anda harus segera mencari pertolongan medis, yaitu: Anda sering menghindari berpergian bersama teman atau anggota keluarga Anda karena Anda berpikiran negatif tentang mereka Anda tidak dapat menikmati film yang sedang Anda tonton karena sedang mengkhawatirkan berbagai hal yang tidak dapat Anda kendalikan dalam kehidupan Anda Selalu terlambat masuk kerja karena tidak dapat bangun dari atas ranjang Anda Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis jiwa bila Anda mengalami berbagai gejala di atas.    Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: howstuffworks
 30 May 2014    14:30 WIB
Gangguan Jiwa Lebih Berbahaya Dibandingkan Merokok
Penelitian terbaru yang dilakukan di Oxford University mengenai gangguan jiwa mengatakan sebenarnya gangguan jiwa dapat mempersingkat harapan hidup seseorang. Penelitian ini mengatakan harapan hidup yang berkurang bisa mencapai 10 tahun dimana hal ini lebih buruk dibandingkan pengurangan harapan hidup pada seorang perokok yang meroko 20 rokok per hari. Setelah meneliti 1,7 juta pasien dan menganalisis data dari berbagai negara maju, penelitian ini menyimpulkan bahwa seorang perokok berar dapat mengurangi harapan hidup selama 8-10 tahun dibandingkan pengurangan harapan hidup pada pasien gangguan jiwa bisa sampai 10-25 tahun. The Guardian Liberty Voice melaporkan bahwa penelitian yang sama juga mengklaim bahwa rata-rata harapan hidup penderita skizofenia berkurang 10-20 tahun dibandingkan mereka yang normal, 10-20 tahun pengurangan harapan hidup untuk penderita gangguan bipolar, 10-15 tahun untuk pasien penderita depresi dan antara 10-25 tahun lebih singkat untuk penderita penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan. Peneliti senior pada tim peneliti ini mengatakan sudah banyak penekanan yang disebarluaskan ke masyarakat mengenai bahaya merokok dan bagaimana merokok dapat menyebabkan kematian, sementara tidak demikian dengan gangguna jiwa. Peneliti juga menekankan bahwa gangguan jiwa juga dapat menyebabkan gangguan fisik yang dapat berakhir menjadi diabetes, penyakit jantung dan kanker. Sayangnya banyak kasus yang terjadi pada pasien gangguan jiwa tidak mendapatkan akses cukup ke fasilitas kesehatan.   Sumber: healthmeup