Your browser does not support JavaScript!
 27 Oct 2020    09:00 WIB
8 Tanda Anda Menderita OCD
Gangguan obsesif kompulsif atau Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) mungkin terlihat ringan dan tidak berbahaya, akan tetapi bila tidak diobati, gangguan ini dapat mempengaruhi aktivitas Anda sehari-hari dan mempengaruhi hubungan Anda dengan orang lain. Curiga bahwa Anda mungkin mengalami OCD? Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa gejala OCD yang perlu Anda waspadai. Anda Selalu Merasa Takut Akan Kuman Rasa takut akan kuman dan kontaminasi merupakan salah satu gejala OCD yang paling sering ditemui. Jika Anda merasa bahwa Anda perlu mencuci tangan atau mandi terus-menerus untuk menghindari bakteri atau kontaminan lainnya, maka hal ini merupakan tanda bahwa Anda menderita OCD. Banyak penderita OCD yang satu ini merasa bahwa mereka tidak cukup bersih, sehingga mereka terobsesi oleh kebersihan. Semakin penderita mencoba untuk mencegah dirinya terkontaminasi oleh kuman, maka semakin buruklah obsesinya akan kebersihan. Bila Anda merasakan hal yang sama, segera cari pertolongan medis. Semua Hal Harus Tampak Rapi atau Simetris Apakah Anda merasa bahwa sesuatu di rumah Anda kurang rapi? Mungkin Anda merasa tidak nyaman bila melihat sesuatu tampak tidak simetris. Bila ya, maka hal ini merupakan gejala lain dari OCD yang perlu diwaspadai. Penderita OCD yang satu ini biasanya merasa bahwa segala sesuatu selalu perlu dibetulkan dan dirapikan sehingga penderita biasanya sering memindahkan barang-barangnya agar menjadi lebih rapi, sehingga mereka pun merasa lega. Penderita OCD ini biasanya tahu bahwa tidak ada alasan bagi mereka melakukan hal yang dilakukannya, tetapi karena mereka merasa lebih baik setelah melakukannya, mereka pun terus melakukannya. Tidak Dapat Mengendalikan Pikiran yang Tidak Diinginkan Jika Anda pernah memiliki pikiran negatif yang menakutkan, Anda tidaklah sendirian. Bahkan, sebenarnya sebagian besar orang pasti memiliki pikiran aneh, menakutkan, atau bahkan porno. Yang menjadi masalah bukanlah berbagai pikiran buruk ini, tetapi reaksi Anda terhadapnya. Jika Anda menderita OCD, maka Anda dapat menjadi terobsesi pada pikiran buruk ini dan tidak dapat berhenti memikirkannya. Jika Anda mulai mempertimbangkan bahwa pikiran buruk Anda memiliki arti yang lebih dalam, maka hal ini dapat menyebabkan Anda mengalami obsesi. Yang pada akhirnya akan membuat Anda sangat cemas dan mulai melakukan gerakan yang sama berulang kali. Tidak Dapat Membuang Benda Tua Tentu saja selama Anda hidup pasti banyak barang tua yang menjadi kenangan tersendiri bagi Anda. Akan tetapi, sebagian besar orang biasanya dapat membuang sejumlah barang dan membersihkan gudangnya. Namun, bagi seorang penderita OCD, membuang barang-barang tua ini hampir mustahil. Orang yang suka menimbun barang dapat memiliki keinginan berlebihan untuk membeli barang diskon atau mengalami kecemasan hebat saat akan membuang suatu barang tertentu, bahkan barang rusak. Bahkan adanya pikiran untuk membuang barang-barang ini dapat membuatnya merasa semakin cemas. Anda Menghindari Situasi yang Memicu Pikiran Buruk Jika pikiran Anda selalu saja dipenuhi dengan pikiran negatif sepanjang hari, maka Anda mungkin akan mulai berpikir untuk menghindari situasi tertentu yang memicu munculnya pikiran negatif tersebut. Jadi, bila kerumunan orang banyak membuat Anda merasa cemas, Anda mungkin akan mulai menghindari berpergian. Jika pantai membuat Anda takut tenggelam, maka Anda pun akan menghindari pantai. Pikiran Obsesif Berlangsung Selama Setidaknya 1 Jam Setiap Harinya Memikirkan hal yang sama sesekali biasanya bukanlah hal yang perlu Anda khawatirkan, akan tetapi bila Anda terus memikirkan hal yang sama untuk waktu yang lama dan bahkan menyadari bahwa ini bukanlah hal yang normal, maka Anda perlu segera memeriksakan diri. Seorang penderita OCD biasanya tidak dapat mengendalikan pikirannya, bahkan saat mereka tahu bahwa hal ini sudah berlebihan. Jadi, bila Anda menghabiskan waktu lebih dari 1 jam dalam sehari untuk memikirkan sesuatu atau melakukan ritual tertentu, maka hal ini merupakan tanda bahwa Anda menderita OCD. Segera cari pertolongan medis. Merasa Takut Akan Melukai Diri Anda Sendiri Atau Orang Lain Hal berbahaya dari OCD adalah adanya pikiran untuk melukai diri Anda sendiri atau orang-orang di sekitar Anda. Hal ini dikarenakan seorang penderita OCD sulit mengendalikan pikiran buruknya, misalnya membayangkan memukul orang, yang membuatnya akan benar-benar melakukannya. Mengulang Gerakan yang Sama Membuat Anda Merasa Lega Seringkali para penderita OCD akan melakukan gerakan yang sama berulang-ulang karena ritual ini akan membuat mereka merasa lebih baik dan menyingkirkan berbagai pikiran negatif. Akan tetapi, gerakan ritual ini biasanya hanya memberikan kedamaian sementara.  Keadaan penderita bahkan dapat bertambah buruk, di mana semakin banyak gerakan ritual dilakukan, semakian berkurang efektivitasnya. Jika Anda menemukan bahwa Anda terus saja mengulang gerakan yang sama, misalnya mencuci tangan Anda berulang kali secara beruntun atau menyalakan dan mematikan lampu berulang kali, dan sebagainya hanya untuk membuat Anda merasa nyaman sementara dan kembali melakukannya lagi; Anda mungkin menderita OCD. Sumber: cheatsheet
 16 Mar 2020    18:00 WIB
Kecanduan Obat Terlarang dan Gangguan Jiwa, Apa Hubungannya?
Berdasarkan pada the National Institute on Drug Abuse di Amerika, kecanduan obat-obatan terlarang merupakan salah satu jenis gangguan jiwa. Hal ini dikarenakan kecanduan dapat mengubah otak hingga ke fungsi dasarnya, yang mengubah kebutuhan dan keinginan dasar seseorang menjadi sesuatu hal yang berhubungan dengan keinginan untuk terus menggunakan obat-obatan terlarang tersebut. Akibatnya, sebagian besar pecandu memiliki perilaku kompulsif dan melakukan suatu tindakan atau hal tertentu tanpa mempertimbangkan berbagai resiko yang akan terjadi. Berdasarkan DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), para ahli membagi gangguan penggunaan obat-obatan terlarang menjadi penyalahgunaan obat-obatan dan ketergantungan obat. Oleh karena itu, kecanduan obat-obatan sendiri sebenarnya sudah merupakan gangguan jiwa. Berdasarkan the National Alliance on Mental Illness, sekitar sepertiga penderita gangguan jiwa juga memiliki gangguan penyalahgunaan obat-obatan. Resiko ini akan meningkat hingga 50% bila gangguan jiwa yang dialami cukup berat seperti gangguan bipolar atau skizofrenia. Sebuah penelitian menemukan bahwa sekitar sepertiga hingga setengah pecandu alkohol dan penyalahguna obat-obatan biasanya juga memiliki gangguan jiwa lainnya. Beberapa gangguan jiwa seperti gangguan cemas dan depresi dapat tidak terdeteksi karena tertutupi oleh berbagai gejala kecanduan obat-obatan terlarang atau alkohol. Penderita gangguan cemas atau depresi seringkali menggunakan minuman beralkohol atau obat-obatan untuk mengatasi gejala yang mereka alami, tetapi justru malah menyebabkan mereka mengalami kecanduan dan memperburuk berbagai gejala yang mereka alami. Oleh karena itu, bila gejala kecanduan telah berhasil diatasi, penderita masih memerlukan pengobatan lebih lanjut untuk mengatasi gangguan cemas atau depresi yang dialami.   Sumber: alcoholrehab
 16 Nov 2019    18:00 WIB
Mengenal Gangguan Kepribadian Paranoid
Apa itu gangguan kepribadian paranoid? Gangguan kepribadian paranoid merupakan kondisi mental dimana seseorang memiliki rasa curiga dan ketidakpercayaan pada orang lain untuk waktu yang lama, tetapi tidak memiliki kelainan psikotik, seperti pada skizofrenia. Orang-orang dengan gangguan kepribadian paranoid selalu bersikap waspada, mereka percaya bahwa orang lain selalu mencoba untuk melukai, membahayakan, atau merendahkan mereka. Keyakinan yang tidak berdasar ini bisa mengganggu kemampuan mereka untuk berhubungan dengan orang lain. Penderita seringkali juga mengambil jalur hukum untuk melawan orang lain, khususnya jika mereka merasa sepantasnya untuk marah. Apa penyebab dari gangguan kepribadian paranoid? Penyebab gangguan kepribadian paranoid tidak diketahui. Gangguan ini tampaknya lebih cenderung terjadi pada keluarga dengan gangguan psikotik, seperti skizofrenia dan gangguan waham. Oleh karena itu, sepertinya gangguan ini berhubungan dengan faktor genetik. Selain itu, faktor lingkungan juga bisa berperan untuk munculnya gangguan, misalnya pengalaman masa kecil yang buruk, seperti trauma fisik atau emosional. Gangguan kepribadian paranoid tampaknya lebih sering terjadi pada pria. Apa gejala dari gangguan kepribadian paranoid? Orang-orang dengan gangguan kepribadian paranoid sangat curiga pada orang lain, akibatnya mereka sangat membatasi kehidupan sosial mereka. Mereka seringkali merasa bahwa dirinya berada dalam bahaya dan mencari bukti-bukti untuk menunjukkan kecurigaan mereka. Gejala-gejala yang sering terjadi antara lain : merasa bahwa orang lain memiliki motif tersembunyi meragukan komitmen, loyalitas, atau kepercayaan orang lain merasa bahwa dirinya akan dieksploitasi oleh orang lain menangkap makna-makna tersembunyi dari tanda-tanda yang biasa berulang kali curiga atau cemburu tanpa alasan bahwa pasangannya tidak setia padanya tidak mampu bekerja sama dengan orang lain mengucilkan diri ada sikap permusuhan tidak bisa memaafkan dan pendendam sangat sensitif dan tidak bisa menerima kritik merasa enggan untuk mengatakan hal-hal atau informasi tentang diri sendiri karena merasa takut bahwa informasi tersebut akan digunakan untuk melawan dirinya keras kepala, merasa dirinya selalu benar sulit untuk bersikap santai Apa pengobatan untuk gangguan kepribadian paranoid? Pengobatan untuk gangguan kepribadian paranoid sulit untuk dilakukan karena penderita seringkali sangat curiga terhadap dokter. Karena hampir semua orang dengan gangguan kepribadian tidak menyadari gangguan yang ada dan perlunya terapi, maka motivasi seringkali datang dari orang lain. Jika penderita mau diobati, maka konseling dan pemberian obat-obatan seringkali efektif untuk mengatasinya. Terapi akan difokuskan pada bagaimana meningkatkan kemampuan umum, seperti memperbaiki interaksi sosial, komunikasi, dan harga diri. Namun karena orang-orang dengan gangguan kepribadian paranoid memiliki rasa ketidakpercayaan pada orang lain, maka banyak penderita yang tidak mengikuti rencana terapi. Pemberian obat-obatan umumnya tidak menjadi fokus utama pengobatan. Namun, obat-obatan bisa diberikan jika terdapat gejala-gejala yang ekstrim, atau jika penderita juga mengalami gangguan lainnya, seperti kecemasan atau depresi.  Ingin mengetahui lebih dalma mengenai ganguan kepribadian paranoid? Silahkan baca disini sumber: cek gejala penyakit
 26 Oct 2019    18:00 WIB
Mengenal Gangguan Jiwa Eksebisionisme
Pernahkan Anda melihat orang yang memamerkan alat kelaminnya didepan umum? Jika Anda pernah melihatnya mungkin orang tersebut mengalami gangguan jiwa eksebisionisme. Pada gangguan jiwa eksibisionisme, seseorang, biasanya laki-laki suka dan sering memamerkan alat kelaminnya kepada orang lain yang sama sekali tidak menduga hal ini akan terjadi. Pada saat melakukan hal tersebut, penderita akan terangsang secara seksual bahkan bisa memicu masturbasi setelah penderita melakukan hal tersebut. Hubungan seksual yang lebih jauh hampir tidak pernah terjadi, sehingga penderita jarang melakukan pemerkosaan. Sebagian penderita yang tertangkap berusia dibawah 40 tahun. Seorang wanita bisa memamerkan tubuhnya dengan cara-cara yang mengganggu, tetapi pada wanita, eksibisionisme jarang dihubungkan dengan kelainan psikoseksual. Apa yang menyebabkan gangguan jiwa eksebisionisme? Sejauh ini belum bisa dipastikan apa yang menjadi penyebab pasti munculnya gangguan jiwa eksebisionisme, tetapi para peneliti mempunyai teori bahwa penyebab orang bisa mengidap eksebisionisme ini adalah ia pernah mengalami kekerasan seksual yang traumatis pada saat masih kecil. Bagaimana mendiagnosa gangguan jiwa eksebisionisme? Diagnosa didasarkan dari gejala-gejala gangguan yang ada. Pengobatan yang tersedia untuk gangguan jiwa eksebisionisme Sebagian besar kasus parafilia ditangani dengan konseling dan terapi perilaku. Obat-obat bisa membantu mengurangi tindakan kompulsif yang berhubungan dengan eksebisionisme dan mengurangi terjadinya perilaku dan fantasi seksual yang menyimpang. Pada beberapa kasus, terapi hormon diberikan pada penderita yang sering mengalami kekambuhan perilaku seksual yang berbahaya. Obat-obat ini bekerja dengan mengurangi gairah seksual penderita.   Sumber: merckmanual
 15 Sep 2019    11:00 WIB
Kenali Tanda Seseorang Mengalami Stres Akut
Apa itu gangguan stress akut?Gangguan stress akut adalah periode singkat munculnya ingatan-ingatan yang mengganggu segera setelah terjadinya peristiwa traumatik yang hebat. Apa penyebab dari gangguan stress akut?Orang-orang dengan gangguan stress akut pernah mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan. Secara mental, penderita seperti mengalami kembali peristiwa traumatik yang pernah dialami sehingga mereka menghindari hal-hal yang bisa mengingatkan mereka akan peristiwa tersebut dan menimbulkan kecemasan. Apa gejala dari gangguan stress akut?Gejala-gejala biasanya cepat terjadi dalam waktu beberapa menit atau jam, sebagai reaksi terhadap peristiwa yang membuat stress. Gejala biasanya bisa mereda dengan cukup cepat, namun terkadang bisa tetap ada selama beberapa hari atau minggu. Gejala-gejala yang dialami biasanya berupa :•  Gejala psikologis, seperti cemas, mudah marah, emosi naik-turun, gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, dan ingin menyendiri•  Gejala fisik, seperti berdebar-debar, merasa sakit, nyeri dada, sakit kepala, nyeri perut, dan sesak nafas Gejala-gejala fisik disebabkan oleh hormon stress, seperti adrenalin, yang dilepaskan ke dalam aliran darah, dan oleh impuls saraf yang terlalu aktif ke berbagai bagian tubuh. Penderita juga bisa mengalami gejala-gejala seperti :•  Menurunnya kesadaran akan lingkungan sekitar (misalnya menjadi linglung)•  Merasa seperti semuanya tidak nyata•  Tidak mampu mengingat bagian penting dari peristiwa traumatik yang dialami•  Menarik diri atau kurangnya respon emosional•  Merasa seperti terlepas dari dirinya sendiri atau tidak nyata Apa pengobatan untuk gangguan stress akut?Banyak orang yang pulih dari gangguan stress akut setelah mereka keluar dari situasi traumatik yang mereka alami, mendapatkan dukungan dalam bentuk pengertian dan empati untuk tekanan yang dialaminya, serta mendapat kesempatan untuk mengungkapkan apa yang terjadi dan apa reaksi mereka. Sebagian penderita merasa terbantu dengan beberapa kali mengutarakan pengalamannya. Terkadang penderita bisa diberikan obat-obat sementara untuk membantu tidur, tetapi obat-obat lainnya (seperti obat anti-depresan) biasanya tidak diberikan. Sumber: healthtalk
 07 Sep 2019    11:00 WIB
Mitos dan Fakta Tentang Gangguan Jiwa
Masyarakat banyak menganggap bahwa orang yang mengidap gangguan jiwa atau gangguan mental emosional hanyalah orang gila. Faktanya, tidak semua orang yang mengalami gangguan jiwa dapat disebut "gila" secara medis. Secara medis mungkin yang disebut "gila" oleh masyarakat adalah orang-orang yang mengalami gangguan psikotik. Gangguan psikotik adalah keadaan dimana seseorang tidak dapat membedakan dunia nyata dan dunia khayalnya. Artikel ini akan membahas mitos yang beredar di masyarakat tentang gangguan jiwa dan manakah mitos yang benar dan salah. Gangguan jiwa bisa menyerang siapa sajaSelama ini orang menganggap gangguan jiwa hanya terjadi pada orang yang lemah, tetapi Anda salah. Winston Churcill, seorang mantan perdana mentri yang hebat dari Inggris ternyata menderita depresi berat. Ia sampai membabtis anjing hitamnya. Calvin Colidge, presiden ke 13 Amerika Serikat juga menderita depresi setelah anaknya meninggal. Kedua orang tersebut bukanlah orang-orang yang lemah. Jadi gangguan jiwa dapat menyerang siapa saja dan kapan saja.Kepercayaan di masyarakat juga mengatakan bahwa orang gangguan jiwa adalah individu yang sulit, bodoh dan tidak mampu membuat keputusan, sehingga mereka tidak mampu untuk bekerja Apakah orang dengan gangguan jiwa berprilaku kriminal?Memang sulit dipercaya kesalahpahaman jika seseorang dengan gangguan jiwa harus berprilaku kriminal. Sekali lagi hal ini salah, tidak ada hubungan antara gangguan jiwa dengan prilaku kriminal, walaupun tidak dipungkiri beberapa jenis gangguan jiwa dapat menyebabkan si individu berbuat kejahatan. Penelitian yang dilakukan di Inggris mengatakan hanya 3-5% angka kejahatan yang memang dilakukan oleh seseorang yang menderita gangguan jiwa. Penelitian ini juga menyebutkan orang dengan gangguan jiwa justru lebih sering menjadi korban kejahatan, bahkan sampai 10 kali lipat. Seseorang dengan gangguan jiwa harus diasingkanSalah satu kesalahpahaman yang terbentuk di masyarakat mengenai gangguan jiwa adalah harus diasingkan. Hal ini dapat menyebabkan diskriminasi di lingkungan tempat tinggal, pekerjaan dan pelayanan kesehatan. Mungkin munculnya pemahaman jika seseorang dengan gangguan jiwa harus diasingkan dan didiskrimasi karena masyarakat menganggap gangguan jiwa tidak dapat disembuhkan. Ternyata hal ini juga salah. Sudah banyak kasus gangguan jiwa yang dapat disembuhkan dan dapat beraktifitas dengan normal. Sudah banyak pengobatan dan terapi yang sangat efektif untuk mengobati gangguan jiwa.Sumber: healthmeup
 12 Feb 2017    18:00 WIB
Makan Larut Malam, Indikasi Gangguan Jiwa?
Waspadai kebiasaan makan larut malam, karena orang yang suka  bangun larut malam untuk makan biasanya memiliki masalah kejiwaan, Hal tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan Perelman School of Medicine di The University of Pennsylvania Opini ini diperkuat lagi oleh penelitian yang dilakukan oleh Dr. Rebecka Peebles setelah melakukan survey dan tes terhadap 1.600 siswa. Tes ini didesain khusus untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan makan dan hubungannya dengan gangguan jiwa yang mungki n terjadi pada para sukarelawan."Kami pikir makan saat malam larut adalah sesuatu yang harus diperhatikan, meskipun hanya terjadi hanya di bawah 3 persen dari siswa yang mengalami gangguan makan berlebih,"kata Rebecka Peebles, dokter anak sekaligus peneliti dari Perelman School of Medicine di The University of Pennsylvania. Hal ini bertolak belakang dengan anoreksia yang membuat penderitanya tidak mau makan dan  sering membuat pelakunya mengalami kekurangan nutrisi. Justru pada sindrom makan malam, orang menjadikan memakan ibarat hobi. Mereka sulit melepaskan camilan saat malam mulai makin larut. Pada studi lain yang dilakukan tahun 2008, siswa yang diketahui memiliki sindrom ini  dapat menimbulkan perilaku depresi yang merugikan dirinya sendiri. Sementara studi terbaru ini makin menguatkan pendapat bahwa sindrom tersebut merupakan bentuk dari tidak kewajaran pasikologis seseorang.  Penderita sindrom makan malam sebaiknya segera mendapatkan bantuan terapi dari ahli kejiwaan.Sumber: geniusbeauty
 02 Nov 2016    15:00 WIB
Mantan Pengen Jadi Temen??? Hati-hati Ia Mungkin Seorang Psikopat!
Jika Anda baru saja mengalami perpisahan yang penuh dengan gejolak dan kemudian mantan Anda tersebut justru memaksa Anda untuk "tetap berteman" dengannya, maka segera jauhkan diri Anda darinya! Menurut sebuah penelitian baru, sejumlah orang yang memiliki kepribadian "kelam" seperti narsisistik dan psikopat, seringkali ingin menjaga hubungan "dekat" dengan mantannya bagi kepentingannya sendiri. Beberapa penelitian terdahulu dan analisa para ahli menunjukkan bahwa orang-orang dengan kepribadian "kelam" seperti psikopat hanya melakukan sesuatu hal dan menjalin hubungan asmara bila kedua hal tersebut menguntungkan bagi mereka. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Oakland University, para ahli menyimpulkan bahwa tidak semua orang yang ingin tetap berteman dengan mantannya memiliki tujuan yang baik, apalagi bila ia memiliki kepribadian "kelam" di atas.   Baca juga: Mantan Pacar Terus Mengganggu Anda? Coba Tips Berikut Ini!   Selain itu, bila seseorang dan mantannya tidak putus dengan baik-baik, maka kemungkinan besar salah satu pihak memiliki agendanya sendiri bila ia tetap ingin berteman dengan mantannya tersebut. Akan tetapi, bukan berarti semua mantan merupakan orang jahat yang hanya ingin memanfaatkan Anda bagi kepentingannya sendiri. Banyak mantan yang justru dapat menjadi teman yang baik bagi Anda. Namun, bila Anda tidak merasa ingin berteman dengan mantan atau hubungan Anda dan mantan tidak terasa seperti hubungan pertemanan atau bila perpisahan tidak terjadi secara baik-baik; maka akan lebih baik bila Anda tidak menjalin hubungan pertemanan dengan mantan Anda tersebut.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.
 06 Mar 2016    12:00 WIB
Apakah Skizofrenia Sama Artinya Dengan Sakit Jiwa?
Apakah skizofrenia itu?Skozofrenia adalah penyakit yang bersifat kronis dimana otak tidak mampu bekerja dengan baik. Skizofrenia menyerang hampir 1% dari penduduk Amerika. Skizofrenia menyebabkan orang yang menderitanya merasa mendengarkan suara, melihat hal-hal imajinatif atau percaya jika orang lain dapat mengontrol pikirannya. Sensasi ini dapat menjadi sangat menakutkan dan bahkan bisa menimbulkan perilaku yang berbahaya. Sampai saat ini skizofrenia belum ditemukan obatnya, tetapi biasanya dilakukan terapi untuk mengontrol munculnya gejala-gejala yang berbahaya. Gejala dari skozofreniaGejala skizofenia mencakup:•  Halusinasi: melihat atau mendengar hal-hal yang imajinatif•  Delusional: kepercayaan yang salah•  Paranoia: ketakutan akan ada sesuatu yang menghancurkan Anda Beberapa gejala seperti seperti kurangnya kenikmatan dalam kehidupan sehari-hari dan penarikan diri dari kegiatan sosial, mungkin gejala yang timbul hampir menyerupai depresi. Bagaimana skizofrenia mempengaruhi pikiran?Orang dengan skozofrenia sering mempunyai jalan pikiran yang abnormal. Penderita skizofrenia mungkin memiliki kesulitan untuk mengatur pikiran mereka atau membuat hubungan yang logis mengenai suatu kejadian.  Mereka merasa pikiran-pikirannya saling berlomba dari satu pemikiran ke pemikiran yang lain, tetapi tidak saling berhubungan. Terkadang mereka merasa pikiran mereka diblok. Mereka merasa pemikiran mereka diambil keluar dari kepala mereka. tetapi skizofrenia bukanlah gangguan kepribadian (multiple personality disorder). Bagaimana skizofrenia mempengaruhi perilaku?Skizofrenia menyebabkan perubahan perilaku. Penderita skozofrenia dapat berbicara mengenai hal-hal yang inkoheren atau menggunakan bahasa-bahasa baru. Mereka bisa memunculkan perilaku gelisah atau bahkan memunculkan muka datar dan dingin. Kebanyakan dari penderita skizofrenia tidak dapat menjaga kebersihan tubuh dengan baik atau menjaga rumah tetap bersih. Skizofrenia dapat menyebabkan penderitanya berperilaku berulang-ulang  seperti mondar-mandir. Berbeda dengan pandangan  umum, kemungkinan penderita skizofrenia berperilaku kriminal sangatlah kecil. Siapa saja yang bisa mengidap skizofrenia?Skizofrenia dapat menyerang pria maupun wanita dengan tingkat resikoyang sama dan bisa menyerang semua etnis di seluruh dunia. Gejala biasanya muncul pada usia 16-30 tahun. Gejala biasanya lebih cepat muncul pada pria dibandingkan wanita. Skizofrenia sangat jarang terjadi pada usia anak-anak atau setelah 45 tahun keatas. Jika Anda mempunyai keluarga yang mengidap skizofenia maka Anda memiliki kemungkinan lebih besar terkena penyakit ini. Apa yang menyebabkan terjadinya skizofrenia?Penyebab pasti dari skizofrenia memang belum diketahui, tetapu para peneliti menduga faktor lingkungan memainkan peranan penting terjadinya penyakit ini. Didalam otak tingkat keseimbangan kimia dopamin dan glutamat sangat tidak seimbang dan struktur otak dari penderita skizofrenia juga bisa abnormal. Bagaimana mendiagnosa skizofrenia?Tidak ada tes lab yang bisa mendiagnosa munculnya skizofenia. Jadi diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat dan gejala. Obat-obatan untuk skizofernia?Ada banyak obat yang diresepkan untuk mengurangi gejala skizofrenia seperti pemikiran abnormal, halusinasi dan delusi. Pemikiran dari penderita skizofrenia diatur oleh zat kimia tertentu yang ada di otak yang mempengaruhi pemikiran, persepsi dan tingkah laku mereka. beberapa orang akan merasakan efek samping dari obat skozofrenia yang dikonsumsi seperti tangan gemetar tanpa disadari (tremor) dan peningkatan berat badan. Obat-obatan skizofrenia juga bisa berinteraksi dengan obat dan suplemen lain. Pada kebanyakan kasus skizofrenia diperlukan pengobatan jangka panjang untuk meredam munculnya gejala dari skizofrenia.Sumber: webmd.com