Your browser does not support JavaScript!
 07 Oct 2017    15:00 WIB
Gangguan Stress Akut
Apa itu gangguan stress akut?Gangguan stress akut adalah periode singkat munculnya ingatan-ingatan yang mengganggu segera setelah terjadinya peristiwa traumatik yang hebat. Apa penyebab dari gangguan stress akut?Orang-orang dengan gangguan stress akut pernah mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan. Secara mental, penderita seperti mengalami kembali peristiwa traumatik yang pernah dialami sehingga mereka menghindari hal-hal yang bisa mengingatkan mereka akan peristiwa tersebut dan menimbulkan kecemasan. Apa gejala dari gangguan stress akut?Gejala-gejala biasanya cepat terjadi dalam waktu beberapa menit atau jam, sebagai reaksi terhadap peristiwa yang membuat stress. Gejala biasanya bisa mereda dengan cukup cepat, namun terkadang bisa tetap ada selama beberapa hari atau minggu. Gejala-gejala yang dialami biasanya berupa :•  Gejala psikologis, seperti cemas, mudah marah, emosi naik-turun, gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, dan ingin menyendiri•  Gejala fisik, seperti berdebar-debar, merasa sakit, nyeri dada, sakit kepala, nyeri perut, dan sesak nafas Gejala-gejala fisik disebabkan oleh hormon stress, seperti adrenalin, yang dilepaskan ke dalam aliran darah, dan oleh impuls saraf yang terlalu aktif ke berbagai bagian tubuh. Penderita juga bisa mengalami gejala-gejala seperti :•  Menurunnya kesadaran akan lingkungan sekitar (misalnya menjadi linglung)•  Merasa seperti semuanya tidak nyata•  Tidak mampu mengingat bagian penting dari peristiwa traumatik yang dialami•  Menarik diri atau kurangnya respon emosional•  Merasa seperti terlepas dari dirinya sendiri atau tidak nyata Apa pengobatan untuk gangguan stress akut?Banyak orang yang pulih dari gangguan stress akut setelah mereka keluar dari situasi traumatik yang mereka alami, mendapatkan dukungan dalam bentuk pengertian dan empati untuk tekanan yang dialaminya, serta mendapat kesempatan untuk mengungkapkan apa yang terjadi dan apa reaksi mereka. Sebagian penderita merasa terbantu dengan beberapa kali mengutarakan pengalamannya. Terkadang penderita bisa diberikan obat-obat sementara untuk membantu tidur, tetapi obat-obat lainnya (seperti obat anti-depresan) biasanya tidak diberikan. Sumber: healthtalk
 12 Feb 2017    18:00 WIB
Makan Larut Malam, Indikasi Gangguan Jiwa?
Waspadai kebiasaan makan larut malam, karena orang yang suka  bangun larut malam untuk makan biasanya memiliki masalah kejiwaan, Hal tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan Perelman School of Medicine di The University of Pennsylvania Opini ini diperkuat lagi oleh penelitian yang dilakukan oleh Dr. Rebecka Peebles setelah melakukan survey dan tes terhadap 1.600 siswa. Tes ini didesain khusus untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan makan dan hubungannya dengan gangguan jiwa yang mungki n terjadi pada para sukarelawan."Kami pikir makan saat malam larut adalah sesuatu yang harus diperhatikan, meskipun hanya terjadi hanya di bawah 3 persen dari siswa yang mengalami gangguan makan berlebih,"kata Rebecka Peebles, dokter anak sekaligus peneliti dari Perelman School of Medicine di The University of Pennsylvania. Hal ini bertolak belakang dengan anoreksia yang membuat penderitanya tidak mau makan dan  sering membuat pelakunya mengalami kekurangan nutrisi. Justru pada sindrom makan malam, orang menjadikan memakan ibarat hobi. Mereka sulit melepaskan camilan saat malam mulai makin larut. Pada studi lain yang dilakukan tahun 2008, siswa yang diketahui memiliki sindrom ini  dapat menimbulkan perilaku depresi yang merugikan dirinya sendiri. Sementara studi terbaru ini makin menguatkan pendapat bahwa sindrom tersebut merupakan bentuk dari tidak kewajaran pasikologis seseorang.  Penderita sindrom makan malam sebaiknya segera mendapatkan bantuan terapi dari ahli kejiwaan.Sumber: geniusbeauty
 02 Nov 2016    15:00 WIB
Mantan Pengen Jadi Temen??? Hati-hati Ia Mungkin Seorang Psikopat!
Jika Anda baru saja mengalami perpisahan yang penuh dengan gejolak dan kemudian mantan Anda tersebut justru memaksa Anda untuk "tetap berteman" dengannya, maka segera jauhkan diri Anda darinya! Menurut sebuah penelitian baru, sejumlah orang yang memiliki kepribadian "kelam" seperti narsisistik dan psikopat, seringkali ingin menjaga hubungan "dekat" dengan mantannya bagi kepentingannya sendiri. Beberapa penelitian terdahulu dan analisa para ahli menunjukkan bahwa orang-orang dengan kepribadian "kelam" seperti psikopat hanya melakukan sesuatu hal dan menjalin hubungan asmara bila kedua hal tersebut menguntungkan bagi mereka. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Oakland University, para ahli menyimpulkan bahwa tidak semua orang yang ingin tetap berteman dengan mantannya memiliki tujuan yang baik, apalagi bila ia memiliki kepribadian "kelam" di atas.   Baca juga: Mantan Pacar Terus Mengganggu Anda? Coba Tips Berikut Ini!   Selain itu, bila seseorang dan mantannya tidak putus dengan baik-baik, maka kemungkinan besar salah satu pihak memiliki agendanya sendiri bila ia tetap ingin berteman dengan mantannya tersebut. Akan tetapi, bukan berarti semua mantan merupakan orang jahat yang hanya ingin memanfaatkan Anda bagi kepentingannya sendiri. Banyak mantan yang justru dapat menjadi teman yang baik bagi Anda. Namun, bila Anda tidak merasa ingin berteman dengan mantan atau hubungan Anda dan mantan tidak terasa seperti hubungan pertemanan atau bila perpisahan tidak terjadi secara baik-baik; maka akan lebih baik bila Anda tidak menjalin hubungan pertemanan dengan mantan Anda tersebut.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.
 06 Mar 2016    12:00 WIB
Apakah Skizofrenia Sama Artinya Dengan Sakit Jiwa?
Apakah skizofrenia itu?Skozofrenia adalah penyakit yang bersifat kronis dimana otak tidak mampu bekerja dengan baik. Skizofrenia menyerang hampir 1% dari penduduk Amerika. Skizofrenia menyebabkan orang yang menderitanya merasa mendengarkan suara, melihat hal-hal imajinatif atau percaya jika orang lain dapat mengontrol pikirannya. Sensasi ini dapat menjadi sangat menakutkan dan bahkan bisa menimbulkan perilaku yang berbahaya. Sampai saat ini skizofrenia belum ditemukan obatnya, tetapi biasanya dilakukan terapi untuk mengontrol munculnya gejala-gejala yang berbahaya. Gejala dari skozofreniaGejala skizofenia mencakup:•  Halusinasi: melihat atau mendengar hal-hal yang imajinatif•  Delusional: kepercayaan yang salah•  Paranoia: ketakutan akan ada sesuatu yang menghancurkan Anda Beberapa gejala seperti seperti kurangnya kenikmatan dalam kehidupan sehari-hari dan penarikan diri dari kegiatan sosial, mungkin gejala yang timbul hampir menyerupai depresi. Bagaimana skizofrenia mempengaruhi pikiran?Orang dengan skozofrenia sering mempunyai jalan pikiran yang abnormal. Penderita skizofrenia mungkin memiliki kesulitan untuk mengatur pikiran mereka atau membuat hubungan yang logis mengenai suatu kejadian.  Mereka merasa pikiran-pikirannya saling berlomba dari satu pemikiran ke pemikiran yang lain, tetapi tidak saling berhubungan. Terkadang mereka merasa pikiran mereka diblok. Mereka merasa pemikiran mereka diambil keluar dari kepala mereka. tetapi skizofrenia bukanlah gangguan kepribadian (multiple personality disorder). Bagaimana skizofrenia mempengaruhi perilaku?Skizofrenia menyebabkan perubahan perilaku. Penderita skozofrenia dapat berbicara mengenai hal-hal yang inkoheren atau menggunakan bahasa-bahasa baru. Mereka bisa memunculkan perilaku gelisah atau bahkan memunculkan muka datar dan dingin. Kebanyakan dari penderita skizofrenia tidak dapat menjaga kebersihan tubuh dengan baik atau menjaga rumah tetap bersih. Skizofrenia dapat menyebabkan penderitanya berperilaku berulang-ulang  seperti mondar-mandir. Berbeda dengan pandangan  umum, kemungkinan penderita skizofrenia berperilaku kriminal sangatlah kecil. Siapa saja yang bisa mengidap skizofrenia?Skizofrenia dapat menyerang pria maupun wanita dengan tingkat resikoyang sama dan bisa menyerang semua etnis di seluruh dunia. Gejala biasanya muncul pada usia 16-30 tahun. Gejala biasanya lebih cepat muncul pada pria dibandingkan wanita. Skizofrenia sangat jarang terjadi pada usia anak-anak atau setelah 45 tahun keatas. Jika Anda mempunyai keluarga yang mengidap skizofenia maka Anda memiliki kemungkinan lebih besar terkena penyakit ini. Apa yang menyebabkan terjadinya skizofrenia?Penyebab pasti dari skizofrenia memang belum diketahui, tetapu para peneliti menduga faktor lingkungan memainkan peranan penting terjadinya penyakit ini. Didalam otak tingkat keseimbangan kimia dopamin dan glutamat sangat tidak seimbang dan struktur otak dari penderita skizofrenia juga bisa abnormal. Bagaimana mendiagnosa skizofrenia?Tidak ada tes lab yang bisa mendiagnosa munculnya skizofenia. Jadi diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat dan gejala. Obat-obatan untuk skizofernia?Ada banyak obat yang diresepkan untuk mengurangi gejala skizofrenia seperti pemikiran abnormal, halusinasi dan delusi. Pemikiran dari penderita skizofrenia diatur oleh zat kimia tertentu yang ada di otak yang mempengaruhi pemikiran, persepsi dan tingkah laku mereka. beberapa orang akan merasakan efek samping dari obat skozofrenia yang dikonsumsi seperti tangan gemetar tanpa disadari (tremor) dan peningkatan berat badan. Obat-obatan skizofrenia juga bisa berinteraksi dengan obat dan suplemen lain. Pada kebanyakan kasus skizofrenia diperlukan pengobatan jangka panjang untuk meredam munculnya gejala dari skizofrenia.Sumber: webmd.com
 17 Dec 2015    18:00 WIB
Mimpi Buruk dan Gangguan Jiwa Pada Anak
Sebuah penelitian menemukan bahwa sering mengalami mimpi buruk selama masa kanak-kanak dapat merupakan tanda awal gangguan psikosis (gangguan jiwa) pada saat dewasa. Penelitian ini menemukan bahwa seorang anak yang berusia di bawah 12 tahun dan sering mengalami mimpi buruk memiliki resiko mengalami gangguan psikosis saat dewasa hingga tiga sekali kali lebih tinggi daripada anak-anak yang jarang bermimpi buruk. Jika anak tersebut juga mengalami teror malam (ketakutan akibat mimpi buruk yang dialami), seperti halusinasi, gangguan dalam berpikir, atau mengalami delusi (khayalan) maka hal ini dapat meningkatkan resiko gangguan psikosis pada masa dewasa hingga dua kali lipat.   Apa yang Harus Dilakukan? Mimpi buruk merupakan hal yang sangat sering terjadi pada anak-anak dan cenderung berkurang seiring dengan semakin bertambahnya usia anak anda. Akan tetapi, mimpi buruk yang berlangsung lama atau teror malam yang berlangsung hingga anak memasuki usia dewasa dapat merupakan tanda awal akan adanya gangguan psikosis nantinya. Diagnosa dini dan penanganan secepatnya merupakan salah satu cara untuk mencegah keparahan gangguan ini. Selain itu, terdapat beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk membantu agar anak anda dapat tidur lebih nyenyak, yaitu: Ciptakanlah lingkungan yang tenang, matikan lampu kamar tidur, matikan semua benda yang menimbulkan bunyi bising, dan atur suhu kamar senyaman mungkin Hindarilah minuman manis sebelum tidur Jangan letakkan televisi atau video games atau berbagai permainan lainnya di kamar anak anda Tetapkanlah waktu tidur dan bangun yang sama setiap harinya   Sumber: webmd
 09 Nov 2015    09:00 WIB
Jangan Sepelekan, Narsis Ternyata Berbahaya Lho!
Tahukah Anda bahwa bersikap narsis ternyata merupakan suatu tanda gangguan jiwa? Narcissistic Personality Disorder (NPD) merupakan suatu gangguan kejiwaan di mana seseorang memiliki rasa percaya diri yang berlebihan, hanya mementingkan dirinya sendiri, dan selalu ingin dikagumi oleh orang lain.   Narcissistic Personality Disorder (NPD) ini termasuk dalam suatu gangguan kepribadian, di mana penderitanya akan mengalami beberapa perubahan dalam sikap dan kepribadiannya. Seorang penderita NPD biasanya gampang marah, sering berpura-pura, anti sosial, dan sering mendramatisir segala sesuatu.   NPD biasanya mengenai orang yang berusia muda dan seringkali disebabkan oleh pola asuh yang salah, misalnya karena terlalu dimanjakan oleh orang tuanya. Hal ini dikarenakan anak yang selalu dimanja dan mendapatkan banyak perhatian di masa kecilnya cenderung mengharapkan perhatian dan perlakuan yang sama di kemudian hari.   Penyebab lain dari NPD adalah selalu diabaikan oleh orang tua atau orang lain atau pernah mengalami pelecehan saat masih anak-anak. Seseorang yang tidak mendapatkan cukup perhatian di waktu mudanya akan selalu berusaha untuk menarik perhatian dari orang-orang di sekitarnya untuk menggantikan perhatian yang dulu tidak diperolehnya. Kebutuhan akan selalu diperhatikan inilah yang dapat membuat seseorang mengalami NPD.   Baca Juga: 7 Tanda Pasangan Anda Merupakan Seorang Narsisis   Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders serta American Psychiatric Association menyebutkan beberapa gejala dan kriteria penyakit narsis ini, gejalanya adalah: Mementingkan diri sendiri Melebih-lebihkan prestasi dan bakat yang dimiliki Berharap dikenal sebagai orang unggul tanpa ada hasil atau pencapaian tertentu Percaya bahwa dirinya sangat spesial dan hanya bisa bergabung atau bergaul dengan orang-orang yang juga memiliki status tinggi Memerlukan pujian yang berlebihan ketika melakukan sesuatu Mudah terluka Gampang marah Memiliki pribadi yang lemah   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang .   Sumber: healthmad
 04 Jul 2015    11:00 WIB
Pengobatan Penyakit Jiwa Paling Mengerikan di Dunia Part I
Psikiatri merupakan suatu bidang dalam ilmu kedokteran yang mempelajari mengenai jiwa seorang manusia memang memiliki reputasi yang kurang baik pada zaman dahulu. Hal ini dikarenakan, para dokternya banyak yang mencoba melakukan berbagai tindakan medis dan pengobatan yang mengerikan untuk menyembuhkan para penderitanya seperti yang akan dibahas di bawah ini.   TREPANASI (MELUBANGI KEPALA) Trepanasi adalah suatu metode pengobatan sakit jiwa tertua, yang bahkan telah mulai dilakukan oleh para manusia di zaman purba. Mengapa metode pengobatan satu ini dianggap mengerikan bahkan terkesan agak kejam? Hal ini dikarenakan kepala para penderita akan dibedah dan tulang tengkoraknya dilubangi. Tujuan dari trepanasi ini adalah untuk mencari tahu apa yang salah pada otak si penderita. Namun bisa ditebak, banyak pembedahan yang akhirnya berujung pada maut. Metode ini juga cukup populer di Eropa pada abad ke-17   PENGANGKATAN ORGAN TUBUH Bagi Dr. Henry Cotton, gangguan jiwa disebabkan oleh infeksi. Alhasil, satu-satunya penanganan adalah dengan mengangkat organ-organ tubuh yang terinfeksi. Prakteknya dimulai sejak awal abad ke-20. Awalnya, ia mengambil gigi pasien satu persatu, dan jika penyakitnya masih belum sembuh juga ia akan mengambil organ lainnya.   Sepanjang karirnya, hanya ada 50% penderita yang ia tangani yang berhasil bertahan hidup setelah melalui metode ini. Padahal, belum tentu juga pasien itu berhasil sembuh secara mental. Kengerian ini sampai diabadikan dalam buku berjudul MADHOUSE, yang ditulis oleh Andrew Scull.   LOBOTOMI Pencetus lobotomi adalah Edgar Monis yang sempat berkesimpulan bahwa masalah kejiwaan bersumber dari lobus frontal (salah satu bagian di otak). Dan satu-satunya cara untuk menghilangkannya adalah dengan menghancurkan bagian tersebut.   Pada lobotomi, dokter akan memasukkan suatu alat ke dalam rongga mata untuk memotong saraf bagian depan otak. Pemecah es adalah alat yang paling sering digunakan untuk metode ini. Awalnya lobotomi berhasil memberikan kesembuhan untuk para pasien. Namun setelah sukses dan dilakukan pada banyak orang baru terungkap bahwa dalam jangka panjang metode ini akan membuat penderita mengalami kelumpuhan secara permanen.   TERAPI KEJUT LISTRIK Melihat namanya, mungkin kalian sudah bisa membayangkan listrik bertekanan tinggi yang dialirkan ke tubuh pasien. Terapi ini pertama kali digunakan oleh seorang dokter Italia setahun sebelum perang dunia pertama. Pada terapi kejut listrik, dokter akan mengalirkan listrik sebesar 400 volt pada otak. Metode ini membuat para penderita mengalami amnesia dan bahkan kerusakan otak. Walaupun sangat kontroversial dan berbahaya, namun masih banyak psikiater yang menggunakan cara ini.   DIBUAT KOMA Koma adalah kondisi yang cukup menakutkan di dunia medis. Namun Manfred Sekel justru menggunakan metode koma untuk menyembuhkan pasien. Bagaimana bisa?  Metode ini dilakukan dengan cara menyuntikkan insulin dalam jumlah besar pada penderita. Setelah bangun dari tidur panjang, penderita mengaku sembuh. Namun pada akhirnya, metode ini dihentikan karena efek samping mengerikan mulai muncul. Banyak penderita yang meninggal akibat overdosis insulin.   Baca juga: Mitos dan Fakta Menarik Seputar Gangguan Jiwa   Sumber: zonainfo
 26 Jun 2015    18:00 WIB
Kecanduan Obat Terlarang dan Gangguan Jiwa, Apa Hubungannya?
Berdasarkan pada the National Institute on Drug Abuse di Amerika, kecanduan obat-obatan terlarang merupakan salah satu jenis gangguan jiwa. Hal ini dikarenakan kecanduan dapat mengubah otak hingga ke fungsi dasarnya, yang mengubah kebutuhan dan keinginan dasar seseorang menjadi sesuatu hal yang berhubungan dengan keinginan untuk terus menggunakan obat-obatan terlarang tersebut. Akibatnya, sebagian besar pecandu memiliki perilaku kompulsif dan melakukan suatu tindakan atau hal tertentu tanpa mempertimbangkan berbagai resiko yang akan terjadi. Berdasarkan DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), para ahli membagi gangguan penggunaan obat-obatan terlarang menjadi penyalahgunaan obat-obatan dan ketergantungan obat. Oleh karena itu, kecanduan obat-obatan sendiri sebenarnya sudah merupakan gangguan jiwa. Berdasarkan the National Alliance on Mental Illness, sekitar sepertiga penderita gangguan jiwa juga memiliki gangguan penyalahgunaan obat-obatan. Resiko ini akan meningkat hingga 50% bila gangguan jiwa yang dialami cukup berat seperti gangguan bipolar atau skizofrenia. Sebuah penelitian menemukan bahwa sekitar sepertiga hingga setengah pecandu alkohol dan penyalahguna obat-obatan biasanya juga memiliki gangguan jiwa lainnya. Beberapa gangguan jiwa seperti gangguan cemas dan depresi dapat tidak terdeteksi karena tertutupi oleh berbagai gejala kecanduan obat-obatan terlarang atau alkohol. Penderita gangguan cemas atau depresi seringkali menggunakan minuman beralkohol atau obat-obatan untuk mengatasi gejala yang mereka alami, tetapi justru malah menyebabkan mereka mengalami kecanduan dan memperburuk berbagai gejala yang mereka alami. Oleh karena itu, bila gejala kecanduan telah berhasil diatasi, penderita masih memerlukan pengobatan lebih lanjut untuk mengatasi gangguan cemas atau depresi yang dialami.   Sumber: alcoholrehab
 24 Sep 2014    13:00 WIB
Mitos dan Fakta Seputar Skizofrenia (Gangguan Jiwa)
  Mitos: Penderita Skizofrenia Memiliki Kepribadian Ganda Mitos ini merupakan kesalahpahaman terbesar mengenai skizofrenia. Seorang penderita skizofrenia tidak memiliki 2 kepribadian. Mereka hanya memiliki pemahaman yang salah atau kehilangan kontak dengan realitas. Skizofrenia dan kepribadian ganda merupakan 2 gangguan jiwa yang berbeda dan tidak saling berhubungan.   Mitos: Sebagian Besar Penderita Skizofrenia Berbahaya Walaupun pada sebagian besar film yang Anda tonton seorang pembunuh sadis dan psikopat merupakan penderita skizofrenia, akan tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian.  Memang benar penderita skizofrenia dapat melakukan sesuatu yang tak terduga sesekali, akan tetapi sebagian besarnya bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan. Mereka biasanya hanya melakukan tindakan kekerasan bila merasa terancam. Jika seorang penderita skizofrenia melakukan suatu tindakan kekerasan, maka hal ini biasanya disebabkan oleh adanya gangguan lain seperti gangguan kekerasan semasa kanak-kanak atau penyalahgunaan zat.   Mitos: Skizofrenia Terjadi Akibat Asuhan Orang Tua yang Buruk Banyak orang mengira bahwa skizofrenia terjadi akibat kesalahan asuhan orang tua, terutama ibu. Akan tetapi, pada kenyataannya, kesalahan asuhan orang tua bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya skizofrenia. Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa, yang memiliki banyak penyebab, termasuk gangguan genetika, trauma, dan penyalahgunaan obat-obatan.    Mitos: Jika Orang Tua Anda Menderita Skizofrenia, Maka Anda Pasti Juga Akan Mengalaminya Faktor genetika memang memiliki peranan dalam terjadinya skizofrenia, akan tetapi bukan berarti bila salah satu orang tua Anda mengalami skizofrenia, maka Anda pun akan mengalaminya. Jika salah satu orang tua Anda menderita skizofrenia, maka kemungkinan Anda untuk menderita skizofrenia adalah sekitar 10%. Semakin banyak anggota keluarga Anda yang menderita skizofrenia, maka semakin besar resiko Anda untuk juga menderita skizofrenia.   Mitos: Penderita Skizofrenia Biasanya Bodoh Pada berbagai penelitian, para peneliti menemukan bahwa penderita skizofrenia mengalami lebih banyak kesulitan saat melakukan pemeriksaan fungsi mental, termasuk dalam hal konsentrasi, kemampuan belajar, dan daya ingat. Akan tetapi, bukan berarti para penderita skizofrenia merupakan seseorang yang bodoh. Banyak orang yang cerdas dan kreatif menderita skizofrenia. Para ahli bahkan telah menemukan sebuah gen yang menghubungkan gangguan mental tertentu seperti skizofrenia dengan kreativitas dan kecerdasan seseorang.   Mitos: Jika Anda Menderita Skizofrenia Berarti Anda Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa Memang pada beberapa keadaan tertentu, seorang penderita skizofrenia harus dirawat di rumah sakit jiwa, akan tetapi tidak berarti semua penderita skizofrenia harus dirawat di rumah sakit jiwa. Beberapa dari mereka bahkan dapat bekerja dan melakukan aktivitasnya sehari-hari dengan normal.   Mitos: Anda Tidak Dapat Bekerja Bila Menderita Skizofrenia Menderita skizofrenia memang dapat membuat Anda sulit mencari pekerjaan atau pergi bekerja setiap harinya. Akan tetapi, dengan pengobatan yang tepat banyak penderita skizofrenia dapat melakukan suatu pekerjaan yang memang sesuai dengan kemampuannya.   Mitos: Menderita Skizofrenia Membuat Seseorang Menjadi Malas Seorang penderita skizofrenia mungkin memang lebih sulit mengurus dirinya sendiri, termasuk dalam hal berpakaian dan mandi. Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa mereka malas, mereka hanya membutuhkan pertolongan untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari.   Mitos: Skizofrenia Tidak Dapat Disembuhkan Skizofrenia memang cukup sulit diobati, akan tetapi bukan berarti tidak mungkin. Dengan pengobatan dan terapi yang tepat, sekitar 25% penderita skizofrenia dapat sembuh. Sementara itu, sekitar 50% lainnya dapat mengalami perbaikan gejala.     Sumber: webmd