Your browser does not support JavaScript!
 29 Apr 2019    08:00 WIB
Merasa Sangat Lelah? Hati-hati Dampaknya Pada Jantung Anda!
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa orang yang secara keseluruhan tampak sehat tetapi selalu merasa kelelahan lebih beresiko untuk mengalami penyakit jantung. Para peneliti menemukan bahwa orang yang mengalami kombinasi dari kelelahan berat dan mudah marah dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan jantung hingga 36%. Pada zaman modern sekarang ini, banyak hal yang dapat membuat seseorang mengalami stress dan bila stress ini tidak diatasi dalam waktu lama, maka stress ini pun dapat mengganggu kesehatan fisik dan psikologis orang tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelelahan fisik ternyata juga merupakan faktor resiko terjadinya gangguan jantung seperti halnya berbagai gangguan psikologis seperti gangguan depresi dan cemas. Kelelahan fisik ini bukan hanya suatu kelelahan berat. Keadaan ini terjadi saat stress yang telah berlangsung lama mulai mengganggu kemampuan seseorang untuk pulih dari rasa lelah. Bila seseorang mengalami hal ini, maka ia mungkin terus merasa sangat lelah dan tidak bertenaga bahkan saat ia telah tidur nyenyak dan cukup di malam hari, walaupun ia tidak menderita gangguan kesehatan apapun. Dengan adanya rasa lelah yang berkepanjangan, maka orang tersebut sangat mudah marah atau tersinggung. Pada penelitian ini, para peneliti mencari tahu hubungan di antara kelelahan fisik dengan terjadinya gangguan jantung dengan menganalisa 11 data penelitian, yang meneliti lebih dari 60.000 orang yang tidak menderita gangguan jantung apapun yang diamati selama 6.5 tahun. Setelah menyingkirkan berbagai faktor resiko terjadinya gangguan jantung yang lain, kelelahan fisik tetap saja dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan jantung pada seseorang, hingga sepertiganya. Rasa stress dan lelah dapat mempengaruhi kesehatan jantung dengan 2 cara. Rasa stress dan lelah dapat mempengaruhi kadar hormon stress seperti adrenalin dan serotonin di dalam tubuh. Kedua hormon ini dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh seseorang dan menyebabkan terjadinya proses inflamasi (radang) di dalam tubuh. Selain itu, stress dan lelah juga dapat mempengaruhi keadaan psikologis seseorang yang membuatnya melakukan berbagai hal seperti merokok dan mengkonsumsi minuman beralkohol atau makanan tiddak sehat lainnya, yang dapat meningkatkan resiko terjadinya gangguan jantung pada orang tersebut. Untuk mengatasi kelelahan fisik ini, para ahli menganjurkan para penderita untuk berolahraga, mengkonsumsi diet sehat, dan melakukan berbagai aktivitas fisik yang dapat membantu mengurangi rasa stress seperti yoga dan meditasi. Baca juga: Apakah Nyeri Dada Berarti Serangan Jantung? Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: webmd
 16 Nov 2016    11:00 WIB
Benarkah Ukuran Leher Dapat Pengaruhi Kesehatan?
Jika Anda tidak dapat mengancingi kerah baju Anda, maka Anda mungkin memiliki masalah yang lebih besar dari sekedar terlihat gemuk. Sebuah penelitian baru yang dilakukan di Brazil menemukan bahwa pria yang memiliki leher besar memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita gangguan jantung. Untuk menentukan berapa ukuran leher pria pada umumnya, para peneliti pun melakukan pengukuran pada hampir 4.000 orang pria. Hasilnya adalah ukuran lingkar leher rata-rata pada pria adalah sekitar 30 cm. Pada penelitian ini, para ahli menemukan bahwa untuk setiap penambahan sebesar 1 inchi atau 2.54 cm pada lingkar leher seorang pria, maka resiko mereka terhadap berbagai macam gangguan kesehatan pun akan meningkat seperti: Resiko terjadinya resistensi insulin akan meningkat hingga 32% Resiko terjadinya tekanan darah tinggi akan meningkat hingga 24% Resiko terjadinya peningkatan kadar trigliserida akan meningkat hingga 50% Resiko terjadinya penurunan kadar kolesterol HDL akan meningkat hingga 22% Akibatnya, para pria yang memiliki ukuran lingkar leher lebih dari 30 cm akan memiliki resiko terkena gangguan jantung 3 kali lipat lebih tinggi daripada pria yang memiliki ukuran lingkar leher kurang dari 30 cm. Hal ini dikarenakan lemak yang menumpuk di sekitar area leher dapat memproduksi zat anti radang, yang akan memicu penumpukan lemak di arteri karotis di dalam leher, yang pada akhirnya akan membahayakan kesehatan jantung Anda.   Baca juga: Wanita dan Berusia 40 Tahun? Perhatikan Hal Berikut Ini!   Akan tetapi, hal ini tidak berlaku bagi pria yang memang memiliki leher besar, tetapi bukan disebabkan oleh lemak, melainkan oleh otot. Jadi, yang perlu Anda lakukan adalah ambillah pita pengukur dan ukurlah berapa lingkar leher Anda. Bila hasilnya lebih dari 30 cm, maka ada baiknya bila Anda mulai mengubah gaya hidup Anda sekarang.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: menshealth
 11 Nov 2016    18:00 WIB
Merasa Kesepian Ternyata Bahaya Lho Bagi Jantung Anda!
  Tahukah Anda bahwa jarang berpergian keluar bersama sahabat dan keluarga Anda ternyata benar-benar dapat mematahkan hati Anda? Menurut sebuah penelitian baru yang dilakukan di the University of York, menghabiskan terlalu banyak waktu sendirian dapat meningkatkan resiko terjadinya serangan jantung dan stroke lho. Pada penelitian ini, para ahli menemukan bahwa orang yang jarang berhubungan dengan orang lain memiliki resiko 29% lebih tinggi untuk mengalami serangan jantung dan memiliki resiko 32% lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan dengan orang yang lebih sering berinteraksi dengan orang lain. Resiko gangguan jantung di atas bahkan akan menjadi semakin tinggi bila orang tersebut merasa terganggu dengan rasa kesepian yang dirasakannya dibandingkan dengan orang yang memang menyukai kesendiriannya. Misalnya seseorang yang pindah ke luar kota dan meninggalkan semua teman dekatnya akan memiliki resiko gangguan jantung yang lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang memang memilih untuk bekerja dari rumah.   Baca juga: Kesepian Versus Obesitas, Hayo Mana Yang Lebih Berbahaya?   Jadi, bagaimana sebenarnya rasa kesepian bisa membuat Anda mengalami serangan jantung atau stroke? Salah satunya adalah karena rasa kesepian dapat mengganggu tidur Anda. Saat Anda dikelilingi oleh orang-orang yang Anda kenal dan percayai, maka Anda pun dapat tidur dengan leibh tenang. Akan tetapi, saat Anda merasa tidak aman dengan orang-orang di sekeliling Anda, maka Anda pun akan menjadi lebih mudah terbangun karena khawatir akan adanya bahaya. Hal ini tentu saja akan mengganggu tidur nyenyak Anda di malam hari. Kurang tidur dapat melemahkan kemampuan tubuh untuk memperbaiki kerusakan di dalamnya dan menjalankan fungisnya dengan benar, yang tentu saja akan menyebabkan jantung Anda menjadi "stress" bila hal ini terus berlangsung. Rasa kesepian juga dapat menyebabkan seseorang mengalami depresi dan cemas, yang mana telah diketahui berhubungan dengan pembentukan plak lemak di dalam dinding pembuluh darah Anda. Kabar baiknya adalah bila Anda mulai berinteraksi dengan orang lain, maka hal ini dapat meminimalisir efek di atas, bahkan bila Anda hanya melakukannya melalui telepon genggam.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: menshealth
 30 Sep 2016    15:00 WIB
Obat Anti Nyeri Dapat Menimbulkan Gangguan Irama Jantung
Obat anti nyeri yang sangat populer penggunaannya saat ini terjadi dapat meningkatkan resiko timbulnya gangguan irama jantung seperti atrial fibrilasi. Studi terbaru yang diterbitkan di BMJ Open, Belanda, telah melakukan penelitian yang melibatkan 8.432 orang dengan usia rata-rata 69 tahun, mempunyai irama jantung yang normal pada awal dimulainya penelitian. Penelitian berlangsung selama 13 tahun dan sebanyak 87 orang mengalami atrial fibrilasi.Secara keseluruhan, para peneliti menemukan bahwa orang dewasa yang mengkonsumsi obat Anti nyeri dari golongan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (Nsaids) mengalami peningkatan resiko terkena atrial fibrilasi sebanyak 80%. Apa yang menjadi penyebab dari atrial fibrilasi memang belum jelas, tetapi teori dari peneliti adalah obat anti nyeri menyebabkan peningkatan tekanan darah dan retensi cairan. Kedua hal tersebut akan mempengaruhi fungsi dari jantung. Obat nonsteroidal anti-inflammatory drugs (Nsaids) seperti ibuprofen dan aspirin juga telah lama diasosiasikan dengan peningkatan resiko penyakit jantung koroner dan serangan jantung. Dr. Bruno H. Stricker, seorang profesor pharmaco-epidemiology di Erasmus University Medical Center in Rotterdam mengatakan agar orang-orang yang sudah berusia lanjut agar lebih berhati-hati saat memilih dan menggunakan obat anti nyeri. "Sebaiknya mereka tidak melakukan apa-apa untuk meredakan nyeri. Nyeri memang mengganggu, tetapi menjadi sekarat akan lebih mengganggu." Baca juga: Tips Mencegah Penyakit Jantung dan Stroke  Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.Sumber: foxnews
 20 Sep 2016    18:00 WIB
Dampak Serangan Jantung Ternyata Lebih Buruk Pada Wanita
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh American Heart Association di tahun 2014 menemukan bahwa wanita memiliki dampak jangka panjang yang lebih buruk daripada pria setelah mengalami serangan jantung. Para peneliti memeriksa sekitar 3.501 pasien yang berusia 55 tahun dan kurang, yang pernah mengalami serangan jantung (MCI). Sekitar 67% dari pasien ini terdiri dari wanita dan usia rata-rata peserta penelitian adalah 48 tahun. Para peneliti juga meminta para pasien yang menjadi peserta dalam penelitian ini untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar berbagai hal yang terjadi setelah mereka mengalami serangan jantung. Para peneliti juga melakukan sebuah survei untuk memeriksa keadaan fisik dan mental pasien 3-4 minggu setelah peserta mengalami serangan jantung, segera setelah masuk rumah sakit, dan 12 bulan setelah masuk rumah sakit, serta menanyakan apakah peserta masih mengalami nyeri dada setelah serangan jantung. Berdasarkan berbagai hasil pengamatan ini, para peneliti menemukan bahwa para pasien wanita lebih sering memiliki keadaan atau fungsi fisik dan mental yang lebih buruk, kualitas hidup yang lebih rendah, lebih sering mengalami nyeri dada, dan memiliki berbagai keterbatasan fisik berat dibandingkan dengan para pasien pria paska serangan jantung. Para peneliti menduga bahwa hal ini mungkin disebabkan oleh berbagai gangguan kesehatan yang telah dimiliki sebelumnya, faktor sosial lingkungan, dan berbagai penyebab biologis lainnya.  Beberapa gangguan kesehatan yang dapat mempengaruhi keadaan fisik dan mental penderita paska suatu serangan jantung adalah diabetes, penyakit paru-paru, kanker, gagal jantung, dan depresi.   Baca juga: Bercinta picu serangan jantung? Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: foxnews
 20 Sep 2016    15:00 WIB
Hati-hati, Terlalu Banyak Tidur Ternyata Akibatkan Penyakit Jantung?
Kita tentu tahu bahwa waktu tidur yang kurang dapat mempengaruhi performa kerja serta dapat meningkatkan resiko hipertensi, penyakit jantung dan diabetes. Namun, ternyata waktu tidur yang lama pun memiliki efek yang kurang baik bagi kesehatan! Penelitian menunjukkan bahwa responden yang memiliki waktu tidur lebih dari 8 jam per hari lebih rentan terkena metabolic syndrome dibandingkan responden yang tidur 6-8 jam per hari.   Apa itu Metabolic Syndrome? Metabolic syndrome merupakan kelompok faktor risiko terkait obesitas yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke. Adapun faktor resiko tersebut antara lain: -          Tingginya kadar lemak di perut (ditandai dengan nilai lingkar pinggang lebih dari 80 cm bagi wanita atau lebih dari 90 cm bagi pria) -          Kadar trigliserida tinggi (lebih dari 150 mg/dl) -          Kadar kolesterol HDL yang rendah (lebih dari 35 mg/dl untuk pria dan lebih dari 39 mg/dl untuk wanita) -          Tekanan darah tinggi (lebih dari 140/90 mmHg) -          Gula darah puasa tinggi (lebih dari 100 mg/dl) Seseorang didiagnosis mengalami metabolic syndrome apabila memiliki 3 atau lebih faktor resiko di atas. Adapun seseorang yang mengalami metabolic syndrome akan lebih rentan terhadap penyakit jantung koroner, diabetes, hipertensi, stroke, dan masalah kesehatan lainnya. Baca Juga: Berapa Lama Waktu Tidur Yang Efektif?  Baca juga: Apa Hubungan Antara Diabetes dan Gangguan Jantung? Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: Info Sehat
 18 Sep 2016    15:00 WIB
Ketahui Empat Gejala Awal Jantung yang Tidak Sehat
Jantung merupakan salah satu organ vital pada tubuh manusia, karena bertugas memompa darah, membawa nutrisi  dan oksigen yang akan di distribusikan keseluruh tubuh. "Ketika Jantung mengalami gangguan gejalanya akan timbul di berbagai bagian tubuh," ujar Jonathan Goldstein, ahli jantung dari St. Michael's Medical Center di Newark, New Jersey. Mari Ketahui berbagai tanda jantung yang tidak sehat: SAKIT PADA RAHANG & TELINGA Sakit pada rahang memang menjadi gejala yang misterius karena terjadi akibat beberapa sebab, tapi kadang bisa juga menjadi petunjuk dari penyakit jantung koroner dan serangan jantung. Kondisi ini terjadi karena jaringan jantung yang rusak mengirimkan sinyal ke sumsum tulang belakang hingga mempengaruhi saraf di sepanjang rahang hingga telinga. Rasa sakit yang muncul berbeda dengan sakit gigi atau infeksi telinga yang biasanya hanya di satu titik, tapi lebih bersifat menyebar dan kadang mempengaruhi bahu serta lengan terutama di bagian kiri.   GANGGUAN PENCERNAAN Serangan gangguan pencernaan parah dan mual bisa menjadi tanda awal serangan jantung atau myocardial infarction, terutama pada perempuan. Dalam sebuah penelitian diketahui perempuan 2 kali lebih mungkin mengalami muntah, mual dan gangguan pencernaan selama beberapa bulan menjelang serangan jantung dibanding laki-laki. Kondisi ini terjadi karena sumbatan lemak di arteri akan mengurangi suplai darah ke jantung yang biasanya terjadi di dada kadang bisa muncul di perut. Hal ini tergantung pada bagian mana dari jantung yang mengalami gangguan. SAKIT LEHER Pasien yang telah mengalami serangan jantung kebanyakan baru menyadari bahwa ia sering merasa pegal, sakit dan rasa seperti tertarik di leher akibat ketegangan otot. Tanda ini sering terabaikan karena pasien lebih fokus pada rasa sesak atau sakit di bagian kiri dada. Kondisi ini terjadi karena saraf dari jaringan jantung mengirimkan sinyal rasa sakit yang naik turun ke sumsum tulang belakang yang membentang ke leher dan bahu. Nyeri ini tidak terletak pada satu tempat spesifik dan biasanya tidak hilang dengan kompres dingin, hangat atau pijat otot. PUSING & SESAK NAFAS Journal of the American Heart Association melaporkan lebih dari 40% perempuan melaporkan sering mengalami sesak napas dihari-hari sebelum serangan jantung.  Seseorang mungkin akan mengalami sesak napas, pusing atau pingsan bahkan saat tengah melakukan hal yang biasa seperti berjalan atau membersihkan rumah. Kondisi ini terjadi karena darah yang melalui arteri untuk membawa oksigen ke jantung tidak mencukupi. Plak yang menumpuk akan membuat jantung sulit mendapatkan oksigen yang cukup, sehingga kadang seseorang merasa sakit saat harus menarik napas dalam-dalam. Demikian empat tanda yang menunjukkan bahwa jantung tidak sehat, jika memiliki lebih dari dua tanda tersebut sebaiknya segera hubungi dokter untuk melakukan pemeriksaan. Baca juga: Kolesterol Rendah Belum Tentu Jantung Sehat? Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: Log Viva