Your browser does not support JavaScript!
 16 Dec 2015    15:00 WIB
Anak Adalah Korban Dari Perceraian, Pikirkan Terlebih Dahulu!!!
Saat pasangan yang sudah menikah dan memutuskan untuk bercerai mungkin mengalami masalah yang terlalu pelik dan sulit untuk mendapatkan titik temu diantara kedua belah pihak. Namun perceraian akan memberikan dampak untuk semua pihak, untuk Anda sendiri, pasangan, keluarga pasangan dan yang paling terpukul akibat sebuah perceraian adalah anak-anak. Perceraian akan menberikan dampak pada anak-anak yang Anda cintai. Sebelum Anda memutuskan untuk bercerai, berpikirlah dengan matang dan jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi.   Berikut ini adalah dampak yang bisa terjadi pada anak-anak korban perceraian: 1.      Depresi Perceraian dapat mematahkan mental dan membuat terpukul orang dewasa, terlebih untuk anak. Anak-anak memiliki jiwa yang masih belum stabil. Bagi seorang anak, orang tua mereka adalah segalanya. Menjadi pahlawan dan panutan dalam hidup mereka. Kebersamaan dan kemesraan orang tua akan memberikan kenyamanan bagi anak-anak. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana perasaaan seorang anak jika orangtua mereka tiba-tiba mulai hidup secara terpisah? Maka mereka akan mengalami trauma mental yang berat dan dapat menyebabkan terjadinya depresi. Baca juga: Tahukah Anda Bahwa Wanita Ternyata Lebih Sulit Menerima Perceraian? 2.      Rendah diri Dunia anak-anak penuh dengan canda tawa dan kepolosan, Saat anak-anak korban bercerai berteman dengan sebayanya. Bisa membuatnya menjadi bahan ejekan oleh teman-temannya. Dalam keadaan ini anak-anak korban perceraian juga akan merasa bingung kepada siapa dia bisa mengadukan perasaannya. Yang seharusnya hal ini menjadi tanggung jawab 2 orang yaitu ayah dan ibu. Hal ini akan membuatnya menjadi rendah diri. 3.      Efek penyangkalan Tanpa ragu, anak-anak korban perceraian akan melalui sebuah fase penyangkalan. Dimana seluruh ide dan konsep perceraian akan merasa seperti mimpi. Maka mereka akan berusaha untuk menyangkal bahwa perceraian orang tuanya memang terjadi. Membuat mereka larut dalam "impian" mereka sendiri yang mengganggap dirinya masih memiliki keluarga yang utuh. Hal ini akan membuat mereka sulit berkembang dan terganggu dalam bidang akademis. 4.      Gangguan Perilaku Karena trauma mental, tekanan, ketidakbahagiaan, rasa kesepian yang dialami. Anak-anak korban perceraian bisa saja mengalami gangguan perilaku. Anak-anak korban perceraian tersebut menjadi mudah marah, tidak mau bersosialisasi dengan teman-temannya, cenderung diam dan menutup diri. Karena dia takut dan malu akan kehidupannya yang tidak lagi sempurna seperti dulu. 5.      Kebiasaan buruk Untuk membantu mengatasi rasa sedih, sakit dan kesepian yang dirasakan. Anak-anak yang orang tuanya bercerai bisa jadi mengambil jalan yang salah dan mulai melakukan kebiasaan yang buruk, seperti merokok, minum alkohol, konsumsi obat terlarang dan seks bebas. Perceraian memang suatu hal yang sulit untuk dihadapi, sebelum hal ini terjadi sebaiknya Anda memikirkannya baik-baik. Dan bila memang perceraian harus terjadi, Anda dan mantan pasangan Anda harus terus memperhatikan perilaku dan perkembangan anak-anak Anda.  Karena sebaiknya seorang anak tumbuh dalam sebuah keluarga dengan kehadiran ayah dan ibu yang terus melindungi dan memberinya dukungan. Baca juga: Hati-hati Aktivitas di Media Sosial Mampu Picu Perceraian Lho! Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: magforwomen
 09 Jun 2015    09:00 WIB
Mengenal Bipolar Syndrom, Gangguan Jiwa Bersifat Episodik
Masih ingat film Silver Lining Playbook yang dimainkan Bradley Cooper? Berperan sebagai Pat Solitano, seorang guru matematika yang sakit hati karena dikhianati istrinya, Pat menjadi tak bisa mengendalikan diri. Emosinya meledak-ledak, mudah tersinggung, dan rapuh. Setelah diperiksa, ia ternyata didiagnosis mengidap bipolar disorder. Sebenarnya penyakit apakah ini?   Gangguan bipolar (bipolar disorder) adalah gangguan pada perasaan seseorang akibat masalah otak, ditandai dengan perpindahan (swing) mood, pikiran, dan perubahan perilaku. Penderita mengalami perubahan mood yang dramatis, dari episode manic dan episode depresi selama periode waktu tertentu. Episode manik ditandai dengan kondisi mood yang sangat meningkat (hipertimik) atau irritable (mudah marah dan tersinggung), episode depresi ditandai dengan mood yang sangat menurun (hipotimik). Di antara kedua episode mood tersebut terdapat masa mood yang normal (eutimik). Istilah bipolar merujuk pada kondisi pasien yang mengalami perpindahan mood antara dua kutub atau spektrum emosi yang berlawanan tersebut.   Awam sering menyebutnya ketidakstabilan mood, tetapi gejala ini baru dapat disebut gangguan bila telah memenuhi kriteria waktu tertentu, seperti untuk episode manic, dibutuhkan kondisi mood hipertimik dalam rentang waktu minimal seminggu atau bahkan kurang dari seminggu. Pada fase ini penderita bipolar menjadi serba aktif, melakukan tindakan-tindakan yang berisiko tinggi, dan kadang-kadang deal bisnis yang berlebihan tanpa berpikir karena judgment-nya terganggu.   Pada episode depresi, dibutuhkan waktu minimal 2 minggu terus-menerus berada dalam kondisi mood hipotimik. Ada beberapa gejala dari episode depresi, di antaranya setiap hari sedih, mengurung diri, pesimis, hingga aktivitasnya menurun. Bahkan, bila penderita bipolar sedang dalam puncak episode depresi, seringkali muncul keinginan untuk bunuh diri. Bisa dipastikan disebut gangguan, bila fungsi pekerjaan atau kehidupan sosialnya terganggu. Saat terjadi gangguan, terkadang pasien perlu dirawat di rumah sakit.   Jadi, bipolar itu adalah gangguan jiwa yang sifatnya episodik, ditandai dengan gejala-gejala episode depresi, manik, dan hipomanik. Tetapi bisa juga campuran, satu rentang tertentu dua gejala bisa ada, depresi dan manik, saling bergantian. Baca juga: Apakah pengobatan bipolar menyebabkan peningkatan berat badan? Sumber: Play Buzz
 03 May 2015    18:00 WIB
Konsumsi Minyak Ikan Bantu Perbaiki Mood Penderita Gangguan Bipolar, Benarkah?
The American Heart Association (AHA) menganjurkan agar setiap orang mengkonsumsi ikan setidaknya 2 kali setiap minggunya. Beberapa jenis ikan yang baik untuk dikonsumsi adalah albacore tuna, herring, mackerel, salmon, dan trout. Jika Anda tidak menyukai ikan, maka AHA menganjurkan Anda untuk mengkonsumsi 0.5-1.8 gram minyak ikan setiap harinya dalam bentuk suplemen. Dengan demikian, Anda pun dapat mencukupi kebutuhan EPA dan DHA yang diperlukan oleh tubuh Anda. Selain dapat membantu menjaga kesehatan jantung Anda, para ahli menduga bahwa konsumsi minyak ikan juga dapat membantu seorang penderita gangguan bipolar. Hal ini dikarenakan suplemen minyak ikan memiliki peranan penting terhadap fungsi otak dan perilaku seseorang. Para ahli menemukan bahwa asam lemak omega 3 di dalam minyak ikan mungkin dapat membantu para penderita gangguan bipolar, terutama bagi mereka yang memiliki resiko tinggi terhadap gangguan jantung dan pembuluh darah atau yang memiliki kadar trigliserida yang tinggi.   Baca juga: Apakah Aman Memberikan Suplemen Minyak Ikan Pada Anak?   Para peneliti menemukan bahwa mengkonsumsi lebih banyak asam lemak omega 3 yang banyak ditemukan pada minyak ikan berhubungan dengan peningkatan volume otak di beberapa bagian otak, terutama pada bagian otak yang berhubungan dengan mood dan perilaku. Hasil dari sebuah penelitian yang mengamati sekitar 75 orang penderita gangguan bipolar menemukan bahwa asam lemak omega 3 memiliki manfaat yang lebih baik daripada plasebo. Manfaat yang dimaksud di sini adalah menurunkan terjadinya serangan depresi pada seorang penderita gangguan bipolar. Akan tetapi, secara keseluruhan, bukti manfaat minyak ikan pada seorang penderita gangguan bipolar sebenarnya masih tidak konsisten sehingga masih diperlukan lebih banyak penelitian mengenai hal ini sebelum para dokter dapat menganjurkan konsumsi suplemen minyak ikan bagi seorang penderita gangguan bipolar. Jika Anda merupakan seorang vegetarian sehingga tidak memungkinkan bagi Anda untuk mengkonsumsi minyak ikan, maka Anda dapat mengganti minyak ikan dengan beberapa jenis kacang-kacangan seperti kacang walnut, biji flaxseed, dan minyak canola. Hal ini dikarenakan ketiganya juga mengandung ALA (alpha linoleic acid), yang di dalam tubuh akan diubah menjadi asam lemak omega 3.   Sumber: webmd
 14 Apr 2015    16:00 WIB
Makanan yang Sebaiknya Dihindari Oleh Penderita Gangguan Bipolar
Beberapa rekomendasi diet untuk membantu seorang penderita gangguan bipolar adalah: Batasi konsumsi kafein dan jangan berhenti mengkonsumsi kafein secara mendadak Hindari berbagai jenis makanan yang mengandung lemak tinggi untuk menurunkan resiko terjadinya obesitas Batasi konsumsi garam jika penderita juga memiliki tekanan darah tinggi. Akan tetapi, bila Anda mengkonsumsi obat lithium, maka jangan batasi konsumsi garam Anda karena rendahnya konsumsi garam dapat meningkatkan kadar lithium di dalam darah Hindari berbagai jenis makanan yang Anda ketahui dapat memicu timbulnya gejala gangguan bipolar Selain itu, Anda pun harus berhati-hati saat mengkonsumsi berbagai jenis suplemen herbal karena beberapa tanaman herbal mungkin dapat berinteraksi dengan obat bipolar yang Anda konsumsi.   Kafein Membatasi konsumsi kafein juga dapat membantu Anda tidur lebih nyenyak, karena tidur yang nyenyak sangatlah penting bagi seorang penderita gangguan bipolar. Akan tetapi, bila Anda sedang mengalami episode depresi, maka pemberian kafein dapat membantu meningkatkan mood Anda. Selain itu, kafein juga dapat menurunkan efek sedatif beberapa jenis obat-obatan yang Anda gunakan seperti benzodiazepin yang banyak digunakan untuk mengatasi rasa cemas dan episode mania pada seorang penderita gangguan bipolar.   Lemak Karena makanan yang mengandung banyak lemak dapat menghambat kerja beberapa jenis obat bipolar sehingga obat memerlukan waktu yang lebih lama untuk berefek, maka dianjurkan agar para penderita bipolar menghindari atau membatasi konsumsi makanan tinggi lemak.   Tiramin Bila Anda mengkonsumsi obat golongan MAO inhibitor, maka hindarilah berbagai jenis makanan yang mengandung tiramin. Hal ini dikarenakan makanan tersebut dapat menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi berat pada orang yang mengkonsumsi obat golongan MAO inhibitor. Beberapa jenis makanan yang mengandung tiramin adalah: Pisang yang terlalu matang Kulit pisang Bir Keju fermentasi Daging lama Beberapa jenis wine seperti Chianti Saus soy dalam jumlah banyak   Suplemen Herbal Hindari juga konsumsi beberapa jenis suplemen herbal bila Anda sedang mengkonsumsi berbagai jenis obat bipolar. Beberapa jenis suplemen herbal yang harus Anda hindari adalah St.John’s wort dan SAM-e. Hal ini dikarenakan keduanya dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat anti depresi dan obat bipolar. Berkonsultasilah dengan dokter Anda terlebih dahulu sebelum mengkonsumsi suplemen apapun.   Sumber: webmd
 30 Mar 2015    14:00 WIB
Apakah Ada Diet Khusus Bagi Seorang Penderita Gangguan Bipolar?
Sebenarnya tidak ada diet khusus bagi seorang penderita gangguan bipolar. Akan tetapi, mengkonsumsi diet sehat dan seimbang juga merupakan hal yang penting bagi penderita untuk membantu menjaga berat badan dan keadaan kesehatannya secara keseluruhan. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang penderita bipolar saat memilih makanan yang akan dikonsumsinya.   Hindari Makanan Bergaya “Barat” Hindarilah berbagai jenis makanan bergaya “barat” yang terdiri dari banyak daging merah, lemak jenuh, lemak trans, dan karbohidrat sederhana. Hal ini dikarenakan berbagai jenis makanan ini dapat meningkatkan resiko terjadinya obesitas, diabetes tipe 2, dan gangguan jantung. Selain itu, menghindari atau membatasi konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh dan karbohidrat sederhana dapat membantu menjaga kesehatan Anda secara keseluruhan, akan tetapi sebenarnya tidak memiliki dampak langsung pada perburukkan atau perbaikan gejala gangguan bipolar.   Konsumsi Diet Sehat dan Seimbang Konsumsilah diet sehat dan seimbang, yang terdiri dari berbagai jenis makanan yang mengandung banyak nutrisi. Beberapa makanan yang dimaksud adalah buah segar, sayuran, kacang-kacangan, daging tanpa lemak, gandum, ikan, telur, produk susu rendah lemak, berbagai produk olahan kedelai, dan biji-bijian. Berbagai jenis makanan ini dapat membantu menyediakan nutrisi yang cukup yang diperlukan oleh tubuh untuk menjaga kesehatannya secara keseluruhan dan mencegah terjadinya berbagai jenis penyakit.   Batasi Jumlah Kalori yang Dikonsumsi dan Olahraga Secara Teratur Tujuan utama dari memperhatikan berapa jumlah kalori yang Anda konsumsi setiap harinya dan melakukan olahraga secara teratur adalah untuk menjaga berat badan Anda tetap ideal. Beberapa penelitian menemukan bahwa seorang penderita gangguan bipolar memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami berat badan berlebih atau obesitas. Oleh karena itu, berkonsultasilah dengan dokter Anda mengenai cara apa saja yang harus Anda lakukan untuk mencegah terjadinya peningkatan berat badan saat melakukan pengobatan gangguan bipolar.   Sumber: webmd
 18 Mar 2015    16:00 WIB
Apakah Penderita Gangguan Bipolar Boleh Mengkonsumsi Minuman Beralkohol?
Sebagian besar pengobatan kejiwaan tidak menganjurkan para penderita untuk mengkonsumsi minuman beralkohol, akan tetapi para penderita gangguan bipolar justru seringkali mengalami penyalahgunaan minuman beralkohol dan obat-obatan lainnya. Penyalahgunaan yang terjadi ini mungkin terjadi karena penderita berusaha untuk mengobati dirinya sendiri atau untuk mengatasi mood yang terus berubah-ubah. Penyalahgunaan minuman beralkohol dan obat-obatan juga dapat menyebabkan timbulnya berbagai gejala yang menyerupai gangguan bipolar. Alkohol merupakan suatu depresan. Hal inilah yang membuat banyak orang menggunakannya sebagai pengganti obat penenang saat sedang mengalami hari yang sangat buruk atau untuk membantu mengurangi rasa tertekan yang dirasakan. Walaupun beberapa penderita gangguan bipolar berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol saat mereka mengalami depresi, akan tetapi sebagian besar penderita gangguan bipolar justru akan mengkonsumsi minuman beralkohol lebih banyak saat mereka sedang mengalami depresi. Menurut the National Institute of Mental Health, seorang penderita gangguan bipolar memiliki resiko 5 kali lipat lebih tinggi untuk menyalahgunakan minuman beralkohol yang akan berakibat pada ketergantungan dibandingkan dengan populasi umum. Hubungan antara gangguan bipolar dan penyalahgunaan zat seperti minuman beralkohol dan obat-obatan sangatlah luar biasa. Alkohol merupakan salah satu zat yang dapat memicu terjadinya episode depresi pada sebagian besar orang yang memang rentan terhadap gangguan depresi atau gangguan bipolar. Ketergantungan dan penyalahgunaan zat ini dapat sangat mengganggu pengobatan gangguan bipolar.   Sumber: webmd
 16 Mar 2015    10:00 WIB
Apa Itu Gangguan Bipolar?
Jika Anda atau orang terdekat menderita gangguan bipolar, maka sangat penting bagi Anda untuk mengetahui bagaimana mengendalikan mood dengan mengkonsumsi obat-obatan bipolar dan memiliki gaya hidup sehat. Selain itu, makanan yang Anda konsumsi pun ternyata memiliki peranan yang penting untuk membantu mengatasi berbagai gejala gangguan bipolar. Gangguan bipolar merupakan suatu gangguan kompleks di mana penderitanya mengalami perubahan mood yang ekstrim, yaitu dari merasa sangat sedih hingga merasa sangat senang. Episode mania dan depresi dapat bervariasi dari ringan hingga berat. Perubahan mood ini dapat terjadi secara bertahap dalam waktu beberapa hari atau beberapa minggu atau dapat pula timbul secara mendadak. Untuk disebut sebagai sebuah episode serangan, gejala yang muncul juga harus mempengaruhi tidur, energi, pikiran, dan perilaku penderita; di mana serangan harus berlangsung selama setidaknya beberapa hari, yang membuat Anda tampak berbeda daripada diri normal Anda. Pada gangguan bipolar, penderita akan mengalami serangan depresi berat atau justru serangan manik berat, di mana penderita dapat tiba-tiba merasa sangat sedih kemudian berganti menjadi sangat senang. Perubahan mood pada gangguan bipolar ini biasanya juga disertai dengan gangguan pada cara berpikir, persepsi, dan gangguan fungsi sosial. Hingga saat ini belum ada pemeriksaan laboratorium yang dapat membantu mendiagnosa gangguan bipolar dan karena gejalanya hampir menyerupai gangguan kejiwaan lainnya, maka gangguan ini seringkali salah atau tidak terdiagnosa sehingga penderita seringkali terlambat memperoleh pengobatan yang dibutuhkannya.   Sumber: webmd