Your browser does not support JavaScript!
 26 Nov 2019    08:00 WIB
Pecinta Es Teh Manis, Berhati-Hatilah Terhadap Penyakit yang Satu Ini!
Bagi kebanyakan orang Indonesia, khususnya orang Jawa, es teh manis pastinya bukan suatu hal yang baru.  Minuman ini telah menjadi favorit sejak zaman dahulu kala, baik sebagai pelepas dahaga ataupun sebagai teman saat makan.   Baca Juga: Efek Samping Dari Terlalu Banyak Mengkonsumsi Teh Oolong   Akan tetapi, tahukah Anda bahwa minuman nikmat yang satu ini ternyata sangat berbahaya bagi kesehatan Anda?  Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Loyola University Medical Center di Chicago, Amerika Serikat; es teh ternyata dapat menyebabkan terbentuknya batu ginjal bila dikonsumsi secara berlebihan.   Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan teh mengandung oksalat yang lama-kelamaan akan menyatu dan membentuk suatu kristal atau batu kecil di dalam ginjal. Batu ini dapat terus membesar dan menyumbat saluran kemih seseorang.   Selain dipengaruhi oleh makanan dan minuman yang biasa Anda konsumsi, terbentuknya batu ginjal juga dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti: Jenis kelamin. Batu ginjal berkembang 4 kali lebih cepat pada pria dibandingkan pada wanita Usia. Orang yang berusia lebih dari 40 tahun memiliki resiko menderita batu ginjal yang lebih tinggi Pernah menderita batu ginjal. Orang yang pernah menderita penyakit batu ginjal memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami hal yang sama Memiliki riwayat keluarga. Orang yang memiliki anggota keluarga yang pernah menderita batu ginjal akan memiliki resiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki anggota keluarga yang menderita penyakit ini   Untuk mencegah terbentuknya batu ginjal, batasilah konsumsi teh Anda setiap hari. Ingatlah bahwa minuman paling sehat adalah air putih. Oleh karena itu, pastikan Anda mengkonsumsi setidaknya 2 liter air putih setiap harinya untuk membantu menjaga kesehatan ginjal Anda.   Selain itu, kurangilah konsumsi garam Anda dan konsumsilah suplemen kalsium, yang dapat membantu mengurangi penyerapan oksalat di dalam tubuh. Sitrat yang terdapat di dalam lemon juga dapat membantu mencegah terbentuknya batu di dalam ginjal.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang   Sumber: everydayhealth
 19 Nov 2019    08:00 WIB
5 Jenis Makanan Untuk Ginjal yang Sehat
Ginjal merupakan salah satu organ tubuh yang sangat penting, bahkan sama pentingnya seperti jantung. Ginjal mempunyai peran penting untuk mengatur keseimbangan asam dan basa, mengatur tekanan darah, mempertahankan kalsium bagi tulang, dan merangsang sumsum tulang agar dapat membuat sel darah merah. Seseorang dengan masalah ginjal akan mengalami banyak sekali kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Masalah yang terjadi mulai dari kesulitan buang air kecil, pembengkakan kelopak mata, kaki dan tangan. Oleh karena itu, kita dituntut untuk selalu menjaga kesehatan ginjal agar selalu berfungsi dengan baik. Berikut 5 makanan yang bisa Anda konsumsi untuk mempertahankan ginjal sehat: 1.  Putih telurJika Anda mengalami masalah ginjal, Anda membutuhkan protein dengan kandungan fosfor sedikit. Makanan yang cocok adalah putih telur karena putih telur kaya akan protein tetapi memiliki kandungan fosfor lebih rendah dibandingkan sumber protein lainnya. Satu hal yang perlu diingat orang-orang yang memiliki masalah ginjal harus menghindari kuning telur. 2.  Kembang kolCara termudah untuk makan kembang kol adalah dengan merebus kemudian menambahkan merica dan garam. Kembang kol memiliki kandungan antioksidan yang tinggi yang dapat mencegah perkembangan radikal bebas di tubuh Anda. Kembang kol juga kaya akan kandungan indoles , glucosinolates dan tiosianat yang dapat membuang zat beracun dalam tubuh Anda. 3.  KubisKubis memiliki senyawa fitokimia yang dapat melawan radikal bebas. Radikal bebas sanagt berbahaya bagi tubuh karena dapat merusak tubuh dan kulit. Pada dasarnya, setiap buah dan sayuran dapat melawan radikal bebas tapi kubis mentah memiliki zat antioksidan tinggi untuk membuat sehat ginjal. Kubis mentah sangat baik untuk dikonsumsi sebelum menjalani proses cuci darah. 4.  IkanIkan sangat baik untuk ginjal karena ikan mengandung asam lemak omega 3 yang dapat mengurangi masalah pada ginjal. Ikan juga salah satu sumber protein yang cukup aman dimakan oleh seseorang dengan masalah ginjal. 5.  Jus buah atau jus sayuranBaik jus buah atau jus sayur, keduanya memiliki sifat untuk melawan radikal bebas. Jus sayuran khususnya, memiliki senyawa fitokimia sangat baik dikonsumsi oleh seseorang yang akan menjalani proses cuci darah dan juga mampu membantu mencegah terjadinya gagal ginjal. Sementara jus buah kaya antioksidan yang bisa menghindari masalah ginjal dan meningkatkan kesehatan ginjal.Sumber: healthmeup
 11 Nov 2019    16:00 WIB
Sayangi Ginjal dengan Hindari Minuman Bersoda
Siapa yang tidak suka minum minuman ringan bersoda? Meminum minuman ini saat di tengah terik matahari, rasanya amat menyegarkan. Mendapatkan minuman ini pun mudah, minuman bersoda tersedia di kios penjual rokok, restoran, hingga kafe. Namun tahukah Anda apa bahaya minuman semacam ini bila dikonsumsi secara berlebihan? Ternyata cukup 2 kaleng soda dalam sehari dapat membuat ginjal Anda rusak. Jika selama ini kasus yang ada menunjukkan bahwa mengonsumsi minuman bersoda hingga berliter-liter setiap hari bisa berujung pada kematian. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa minum dua kaleng minuman soda sehari sudah bisa menyebabkan kerusakan ginjal Hasil ini didapatkan peneliti di University of Japan setelah mengamati 12.000 karyawan melalui tes urine. Hasilnya menunjukkan bahwa karyawan yang minum dua kaleng minuman soda atau lebih dalam sehari memiliki lebih banyak protein pada urine mereka, dibandingkan dengan karyawan yang meminum sedikit minuman soda atau tidak sama sekali. Adanya protein pada urine adalah pertanda vital adanya kerusakan ginjal. Sekitar 11 persen karyawan yang mengonsumsi banyak minuman ringan diketahui memiliki protein pada urine mereka saat menjalani tes lanjutan selama tiga tahun. Hasil ini tentunya menunjukkan bahwa mengonsumsi minuman bersoda bisa meningkatkan risiko kerusakan ginjal. Namun peneliti menjelaskan bahwa adanya protein pada urine merupakan gejala awal dan masih bisa dirawat atau disembuhkan jika orang tersebut segera memeriksakan diri ke dokter dan mengurangi konsumsi minuman sodanya. Penelitian lain yang dilakukan oleh tikus juga menunjukkan bahwa mengonsumsi fruktosa terlalu banyak bisa berpengaruh buruk terhadap ginjal. Penelitian juga menjelaskan bahwa adanya protein pada urine merupakan tanda awal dari penyakit jantung, stroke, dan gagal jantung. Konsumsi soda yang meningkatkan penyerapan garam oleh sel pada ginjal juga bisa berujung pada diabetes, obesitas, gagal ginjal, dan tekanan darah tinggi, seperti diungkap oleh peneliti di case Western reserve University. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahkan orang yang memiliki ginjal normal juga bisa mengalami risiko kerusakan ginjal jika terlalu banyak minum soda. Jika Anda sering minum soda, bahkan lebih dari dua kaleng sehari, sebaiknya segera periksakan diri dan lakukan check up untuk mengetahui kesehatan ginjal. Akan sangat baik untuk mencegah dan merawat ginjal sejak dini sebelum terlambat. Selain itu minuman soda juga berpengaruh pada organ tubuh lain: Kelebihan gula yang berkontribusi terhadap kelebihan berat badan, yang juga dapat menyebabkan penyakit diabetes mellitus tipe 2, serangan jantung, stroke, dan kanker. Orang yang mengonsumsi minuman soda secara rutin juga berpotensi meningkatkan risiko munculnya batu ginjal, dan penyakit jantung. Kafein, yang ditambahkan ke dalam kebanyakan minuman soda, juga menimbulkan kecanduan. Kafein juga meningkatkan pembuangan kalsium. Pewarna buatan dalam soda juga menyebabkan penyakit gatal, asma, dan reaksi alergi lainnya pada beberapa orang. Ahli kesehatan gigi terus mendorong orang untuk mengurangi konsumsi minuman bersoda, khususnya saat makan, untuk mencegah kerusakan gigi (karena gula), dan erosi gigi (karena asamnya). Baca juga: Minuman Soda Itu Ternyata Pembunuh!
 22 Oct 2019    16:00 WIB
Ini Dia Fobia Aneh Terhadap Makanan!
Menurut the American Psychiatric Association, fobia merupakan suatu ketakutan yang berlebihan dan tidak wajar terhadap suatu benda atau situasi. Anda mungkin sudah sering mendengar berbagai jenis fobia, misalnya fobia terhadap ketinggian atau terhadap binatang. Keduanya merupakan jenis fobia yang tidak akan membahayakan jiwa, walaupun akan membuat penderitanya merasa tidak nyaman. Akan tetapi, salah satu jenis fobia, cibofobia atau fobia terhadap makanan, dapat sangat membatasi aktivitas fisik seseorang dan bahkan menyebabkan terjadinya berbagai gangguan kesehatan. Seseorang yang mengalami fobia terhadap makanan biasanya tidak menyukai atau takut pada bentuk, bau, dan rasa dari makanan tersebut. Mereka biasanya tidak akan mengkonsumsi makanan tersebut dan justru kabur setiap kali melihat makanan tersebut. Alektorofobia, merupakan salah satu jenis fobia makanan di mana penderitanya takut dengan ayam dan berbagai hal yang berkaitan dengannya seperti telur, bulu, bahkan bangkai ayam. Dalam beberapa kasus, mendengar kata ayam saja dapat membuat sang penderita sangat ketakutan. Selain ayam, ada juga orang yang menderita fobia terhadap beras atau nasi karena bentuknya yang kecil dan dirasa menggelikan. Penderita biasanya tidak pernah mengkonsumsi nasi dan lebih memilih berbagai jenis sumber karbohidrat lainnya seperti mie atau kentang. Akan tetapi, tidak semua penderita fobia makanan memiliki ketakutan yang sama akan suatu makanan. Beberapa orang penderita mungkin takut terhadap berbagai jenis makanan yang mudah rusak seperti mayonnaise, sedangkan yang lainnya mungkin akan merasa takut untuk mencoba berbagai jenis makanan baru. Penderita mungkin akan merasa mual atau bahkan muntah saat mencoba suatu makanan baru. Sementara itu, beberapa orang lainnya mungkin takut untuk memasak suatu makanan atau takut mengkonsumsi makanan yang tidak dimasak oleh dirinya sendiri karena takut diracuni. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa jenis fobia makanan yang unik dan mungkin tidak disadari oleh sang penderita itu sendiri.   Takut Mencoba Makanan Baru Anak-anak kecil kadangkala memang memiliki ketakutan untuk mencoba berbagai jenis makanan baru. Akan tetapi, pada beberapa anak, ketakutan ini akan terus berlanjut hingga mereka dewasa sehingga mereka pun biasanya memiliki pola makan yang sangat ketat, di mana mereka biasanya hanya akan mengkonsumsi makanan yang sama setiap harinya.   Takut Memasak Megeirkofobia adalah ketakutan untuk memasak bagi orang lain. Penderita biasanya takut bahwa masakannya kurang menarik, kurang enak, atau kurang matang. Penderita lainnya mungkin takut memasak karena takut melukai dirinya sendiri saat memasak.   Takut Mual atau Muntah Beberapa orang merasa khawatir bahwa mereka akan merasa mual atau muntah bila mereka mengkonsumsi suatu jenis makanan tertentu. Mereka mungkin hanya akan mengkonsumsi makanan lunak atau makanan yang telah mereka siapkan sendiri. Ketakutan ini dikarenakan mereka khawatir bahwa masakan yang disediakan tidak dimasak dengan baik, atau terlalu pedas, atau dapat mengganggu sistem pencernaannya. Penderita biasanya tidak  mau makan di luar atau bahkan tidak akan makan bila ada orang lain di sekitarnya. Ketakutan ini kadang akan membuat penderita tidak dapat menelan atau bahkan merasa ada suatu benjolan di tenggorokannya.   Baca Juga: 10 Jenis Fobia Ekstrim dan Aneh   Salah satu gejala yang paling sering ditemukan pada seorang penderita fobia makanan adalah penderita biasanya cukup pemilih dalam hal makanan. Ia akan dengan teliti memeriksa komposisi suatu makanan untuk mengetahui bahan apa saja yang ada di dalam makanan tersebut. Beberapa gejala lainnya yang dapat ditemukan adalah: Pusing Keringat berlebihan Mual Merasa sesak napas Berdebar-debar Gemetar Mengalami suatu serangan panik, seperti merasa mereka akan menjadi gila atau mati bila mengkonsumsi suatu jenis makanan   Seperti halnya fobia lainnya, fobia terhadap makanan juga dapat disembuhkan dengan melakukan terapi yang dibantu oleh seorang tenaga ahli seperti seorang psikolog atau psikiater. Salah satu terapi yang dianggap dapat sangat membantu seorang penderita fobia adalah dengan terapi paparan atau desensitisasi. Pada terapi ini, penderita biasanya akan diminta untuk menjelaskan apa sebenarnya ketakutan yang mereka rasakan saat melihat makanan yang tidak disukainya tersebut, di mana makanan tersebut akan diletakkan di hadapannya. Setelah itu, penderita biasanya akan diminta untuk berkonsultasi dengan seorang ahli gizi, di mana mereka akan diminta untuk mencoba makanan tersebut sendiri kemudian di rumah dan akhirnya di depan umum.   Apa Sebenarnya Bahaya dari Fobia Makanan? Agar tubuh dapat menjalankan fungsinya dengan baik, maka setiap orang perlu mengkonsumsi berbagai jenis makanan. Jadi, saat seseorang menghindari suatu jenis makanan tertentu, maka mereka pun secara tidak langsung akan mengeliminasi berbagai jenis nutrisi yang terdapat di dalam makanan tersebut, yang sebenarnya diperlukan oleh tubuh untuk menjalankan fungsinya dengan baik. Hal ini dapat membuat penderita mengalami berbagai gejala malnutrisi seperti merasa sangat lelah, pusing, dan mengalami penurunan berat badan. Bila malnutrisi terus berlangsung untuk waktu yang cukup lama, maka hal ini dapat menyebabkan terjadinya beberapa gejala lainnya seperti: Rambut rontok Anemia Tekanan darah rendah Tulang rapuh Gagal ginjal Berbagai gangguan kesehatan lainnya Pada anak-anak, malnutrisi dapat membuat seorang anak mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Sumber: healthcentral
 04 Oct 2019    16:00 WIB
Bahaya Minuman Energi Untuk Kesehatan
Apa sebenarnya minuman energi? Minuman energi adalah jenis minuman ringan yang diharapkan dapat menambah energi dan kekuatan seseorang yang meminumnya. Bagi beberapa kalangan, minuman energi diminum dengan tujuan mencegah kelelahan dan kantuk. Di Indonesia, minuman energi digolongkan sebagai minuman kesehatan. Sebaliknya, di luar negeri, khususnya Amerika Serikat minuman energi digolongkan sebagai minuman ringan, karena dampak dan manfaatnya bagi kesehatannya belum terbukti secara ilmiah. Apa pengaruh minuman energi pada tubuh ? Minuman energi biasanya mengandung kafein dan taurin. Kedua zat ini dapat menyebabkan berbagai gangguan pa da tubuh. Kafein dan taurin dapat menyebabkan peningkatan kontraksi jantung secara signifikan satu jam setelah meminum minuman energi. Minuman energi juga dapat merusak keseimbangan garam didalam tubuh sehingga mempercepat irama jantung. Hal ini menyebabkan minuman energi sangat berbahaya, terutama untuk orang yang sudah memiliki gangguan jantung atau sudah pernah mengalami serangan jantung. Kafein yang dikandung dalam minumam energi tidak akan mampu memberi energi kepada peminumnya, hanya membangkitkan semangat dengan cara menstimulasi sistem saraf pusat. Sebagian besar produk memasukkan komposisi kafein yang melebihi kandungan didalam minuman bersoda. Kafein bisa menyebabkan ketagihan, pening dan sakit kepala bila konsumsinya berlebih.Batas konsumsi aman kafein per hari adalah 150 miligram atau setara satu botol minuman energi bervolume 150 ml. Jika berlebihan maka akan mengakibatkan susah tidur, tubuh gemetaran, kejang, jantung berdebar-debar dan asam lambung berlebihan dan memicu sakit maag atau gastritis.Meminum minuman energi sehabis aktifitas atau saat berkeringat apalagi lebih dari 1 kaleng bisa menyebabkan dehidrasi, karena kafein yang dikandungnya bisa menyebabkan ginjal bekerja lebih keras untuk membuang cairan dari tubuh anda. Taurine adalah sejenis asam amino yang salah satu perannya sebagai pengemulsi lemak sehingga dapat diproses dan dicerna. Taurine juga berperan sebagai antioksidan sehingga mencegah kerusakan sel dan jaringan yang disebabkan oleh oksidan. Taurine banyak digunakan oleh atlet untuk mengurang kelelahan otot dan nyeri otot. Tetapi selain keuntungan diatas taurine juga memberi pengaruh sedative atau bius terhadap otak. Taurin juga menyebabkan denyut jantung yang tidak stabil. Zat pemanis, bahan pengawet dan pewarna didalam minuman energi yang biasanya berwarna cerah ini membuat pekerjaan ginjal juga semakin berat. Beratnya beban ginjal dalam menyaring zat-zat tersebut mengakibatkan ginjal lelah, yang berakibat rusaknya ginjal dan dapat menyebabkan gagal ginjal kronik (GGK). Jika hal itu terjadi maka cuci darah atau hemodialisa adalah satu-satunya jalan untuk bertahan hidup. Jalan lain dengan cangkok ginjal yang biayanya sangat mahal.  
 25 Jul 2019    08:00 WIB
Berbagai Gejala Batu Ginjal yang Patut Diwaspadai
Batu ginjal terbentuk saat berbagai zat sisa yang ingin dikeluarkan dari dalam tubuh melalui ginjal saling bertempelan menjadi satu dan akhirnya membentuk suatu batu. Batu ini dapat terbentuk dalam ukuran yang berbeda-beda, mulai dari seukuran sebutir gula pasir hingga sebesar sebuah bola ping pong. Pada awalnya, adanya batu ginjal di dalam ginjal ini biasanya tidak menimbulkan gejala apapun sehingga jarang disadari oleh penderita. Seiring dengan semakin membesarnya batu, maka penderita pun akan merasakan nyeri, terutama di daerah pinggang. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa gejala lain dari batu ginjal yang perlu Anda waspadai. Nyeri Hebat Mendadak Saat ukuran batu ginjal telah menjadi cukup besar, maka Anda mungkin akan mengalami nyeri hebat yang muncul secara tiba-tiba di bagian pinggang, perut, selangkangan, atau daerah kemaluan.   Muntah Beberapa penderita batu ginjal akan mengalami rasa yang sangat tidak nyaman pada daerah perutnya. Beberapa di antaranya bahkan mengalami mual dan muntah.   Darah di Dalam Air Kemih Adanya darah di dalam air kemih merupakan suatu pertanda bahwa batu ginjal telah terdorong masuk ke dalam ureter (suatu saluran yang menghubungkan antara ginjal dan kandung kemih) sehingga melukai jaringan di dalam ureter, akibat gesekan antara batu ginjal dengan dinding dalam ureter.   Nyeri Saat Buang Air Kecil Beberapa penderita batu ginjal juga mengalami nyeri saat mereka buang air kecil dan beberapa orang lainnya justru menjadi lebih sering buang air kecil.   Baca Juga: Seorang Pria Mengalami Gagal Ginjal Karena Terlalu Banyak Minum Es Teh!   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur https://dokter.id/tanya-dokter"> Tanya dokter sekarang .   Sumber: medicinenet, mayoclinic
 12 Feb 2019    16:00 WIB
Ternyata Menghentikan Cegukan Mudah Sekali
Merasa malu karena tiba-tiba mengalami cegukan padahal sedang meeting dengan si bos atau justru klien? Hampir sebagian besar orang, baik yang tua maupun muda pasti pernah mengalami cegukan, termasuk bayi yang masih berada di dalam kandungan sang ibu. Cegukan merupakan suatu keadaan di mana otot diafragma mengalami kontraksi tanpa disadari atau dengan kata lain kram. Saat otot diafragma kram, maka ruang pita suara pun akan menutup, sehingga terjadilah cegukan. Cegukan biasanya hanya berlangsung singkat, akan tetapi bila cegukan berlangsung untuk waktu yang lama atau menetap, maka cegukan dapat merupakan gejala dari adanya suatu gangguan kesehatan yang serius. Baik pria maupun wanita dapat mengalami cegukan, tetapi pria biasanya lebih sering mengalami cegukan yang berlangsung selama lebih dari 48 jam. Apa Penyebab Cegukan? Pada sebagian besar kasus cegukan tidak ditemukan penyebab yang jelas. Walaupun demikian, terdapat beberapa hal yang seringkali menyebabkan terjadinya cegukan seperti: Makan terlalu cepat sehingga ada udara yang tertelan bersama dengan makanan Makan terlalu banyak (terutama makanan pedas atau berlemak) atau minum terlalu banyak (teruama minuman bersoda atau minuman beralkohol). Keduanya akan membuat lambung meregang dan mengiritasi diafragma Berbagai jenis penyakit atau gangguan kesehatan yang mengiritasi saraf yang mengatur gerakan diafragma seperti gangguan hati, radang paru-paru (pneumonia), atau berbagai gangguan paru lainnya Baru saja melakukan tindakan pembedahan pada perut Stroke atau tumor otak yang mengenai batang otak Gangguan kesehatan kronis seperti gagal ginjal Mengkonsumsi beberapa jenis obat-obatan yang memang memiliki efek samping cegukan seperti obat lambung, obat penenang (golongan benzodiazepin), levodopa, dan nikotin Perubahan suhu udara secara tiba-tiba Rasa takut atau senang Baca juga: Tips Mudah Untuk Mengatasi Stress Bagaimana Cara Menghentikan Cegukan? Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghentikan cegukan adalah dengan menahan napas, yang bertujuan untuk meningkatkan kadar karbondioksida di dalam tubuh, sehingga otot-otot diafragma menjadi lebih rileks dan cegukan pun berhenti. Cara lainnya yang dapat digunakan untuk mengatasi cegukan adalah dengan menstimulasi daerah hidung dan tenggorokan, serta menstimulasi saraf vagus dengan melakukan beberapa hal di bawah ini: Minum segelas air putih Dibuat terkejut Menghisap lemon atau mengkonsumsi makanan asam Berkumur Bila cegukan telah berlangsung cukup lama dan tidak juga berhenti dengan menggunakan beberapa metode di atas, maka dokter biasanya akan memberikan beberapa jenis obat-obatan untuk mengatasinya seperti klorpromazin, haloperidol, dan metoklopramid. Kapan Hubungi Dokter? Sebagian besar kasus cegukan biasanya dapat hilang dengan sendirinya setelah sejangka waktu dan jarang membahayakan jiwa penderita. Akan tetapi, bila cegukan telah berlangsung lebih dari 3 jam atau mengganggu tidur atau kebiasaan makan Anda, maka jangan ragu untuk segera menghubungi dokter Anda. Segera cari pertolongan medis bila cegukan yang Anda alami juga disertai dengan beberapa gejala di bawah ini, yaitu: Nyeri perut Demam Sesak napas Muntah Batuk darah Tenggorokan terasa penuh Bisakah Cegukan Dicegah? Cegukan tidak selalu dapat dicegah, akan tetapi menghindari beberapa hal di bawah ini dapat membantu mencegah terjadinya cegukan: Makan berlebihan Makan terlalu cepat Minum terlalu banyak Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur https://dokter.id/tanya-dokter"> Tanya dokter sekarang . Sumber: medicinenet
 02 Nov 2018    11:00 WIB
Apakah Pendonor Ginjal Memiliki Resiko Terkena Gagal Ginjal ?
Banyak orang mengira bahwa dengan menjadi donor ginjal maka kehidupan mereka sendiri akan berada dalam bahaya. Akan tetapi, sebuah penelitian baru menemukan bahwa pendonor ginjal hidup juga dapat hidup dengan normal dan sehat lho. Memang benar bahwa seorang donor ginjal hanya akan memiliki 1 buah ginjal setelah melakukan transplantasi, akan tetapi bukan berarti ginjal yang tersisa ini tidak akan dapat bekerja dengan baik. Sekitar 4 di antara 10 orang pendonor dapat memiliki kembali 75% fungsi ginjalnya sebelum mendonor dalam waktu 5 tahun. Bahkan, pendonor ginjal sendiri tidak memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami kegagalan ginjal atau meninggal dibandingkan dengan populasi umum. Para peneliti di Singapore General Hospital (SGH) dan Duke-NUS Medical School menemukan bahwa fungsi ginjal pendonor justru tidak akan mengalami penurunan dan cenderung stabil.   Baca juga: Manfaat Olahraga Pada Penderita Gagal Ginjal   Tindakan transplantasi ginjal sendiri sebenarnya merupakan langkah pengobatan akhir bagi mereka yang mengalami kegagalan ginjal tahap akhir, di mana ginjal yang ada sudah benar-benar tidak dapat berfungsi sehingga pasien membutuhkan tindakan cuci darah secara teratur sebelum akhirnya menerima transplantasi ginjal. Karena takut akan resiko operasi dan paska operasi, maka banyak orang enggan mendonorkan ginjal mereka saat mereka masih hidup. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa resiko tindakan pembedahan transplantasi ginjal sendiri cukup kecil, di mana resiko terjadinya komplikasi saat tindakan pembedahan berlangsung hanya berkisar antara 1-5%. Para peneliti berharap melalui hasil penelitian mereka, makin banyak orang yang bersedia mendonorkan ginjalnya bagi orang atau keluarga yang membutuhkan.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: healthxchange
 02 Oct 2018    11:00 WIB
Bahaya Tekanan Darah Tinggi Pada Ginjal dan Mata
Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan berbagai kerusakan pada pembuluh darah di seluruh tubuh, terutama bila penderita juga menderita diabetes yang dapat semakin memperberat kerusakan pada dinding pembuluh darah.   KERUSAKAN PADA GINJAL Ginjal merupakan suatu organ penting yang berfungsi untuk memfiltrasi dan membuang cairan serta berbagai zat beracun dari dalam tubuh anda. Gangguan pada pembuluh darah yang memperdarahi ginjal maupun gangguan pada pembuluh darah di dalam ginjal itu sendiri dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal. 1.      Gagal Ginjal Tekanan darah tinggi merupakan penyebab tersering dari gagal ginjal. Hal ini disebabkan oleh tekanan darah tinggi dapat merusak dinding pembuluh darah besar yang menuju ke ginjal maupun pembuluh darah kecil di dalam ginjal (glomeruli). Kedua hal ini dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal, yang lama-kelamaan dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang lebih luas dan menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi ginjal. Bila hal ini sampai terjadi, maka langkah pengobatan yang dapat dilakukan adalah hemodialisa (cuci darah) atau transplantasi ginjal. 2.      Glomerulosklerosis Merupakan suatu kelainan pada ginjal yang disebabkan oleh terbentuknya jaringan parut pada glomerulus ginjal. Glomerulus merupakan suatu kumpulan pembuluh darah kecil pada ginjal anda yang berfungsi untuk memfiltrasi cairan serta berbagai zat racun dari dalam tubuh anda. Glomerulosklerosis ini dapat menyebabkan gangguan fungsi filtrasi ginjal yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi ginjal. 3.      Aneurisma Arteri Ginjal Aneurisma merupakan suatu penonjolan pada dinding pembuluh darah besar yang menuju ke ginjal. Salah satu penyebabnya adalah aterosklerosis yang melemahkan dan merusak dinding pembuluh darah. Tekanan darah tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan terbentuknya aneurisma pada dinding pembuluh darah yang lemah tersebut. Aneurisma dapat pecah kapan saja dan menyebabkan perdarahan hebat.   KERUSAKAN PADA MATA Mata memperoleh oksigen dan nutrisi melalui suatu pembuluh darah kecil. Gangguan pada pembuluh darah akibat tekanan darah tinggi dapat menyebabkan gangguan fungsi kelihatan bahkan kebutaan. 1.      Retinopati Retinopati atau kerusakan dinding pembuluh darah mata disebabkan oleh kerusakan dinding pembuluh darah akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam waktu lama. Gangguan ini dapat menyebabkan terjadinya berbagai gangguan penglihatan, seperti perdarahan pada mata, penglihatan kabur, dan hilangnya penglihatan. Bila anda menderita tekanan darah tinggi dan diabetes, maka resiko anda mengalami retinopati menjadi lebih tinggi. 2.      Koroidopati Koroidopati merupakan suatu keadaan di mana terdapat cairan di belakang retina. Hal ini disebabkan oleh kebocoran pembuluh darah yang memperdarahi retina. Koroidopati dapat menyebabkan gangguan penglihatan. 3.      Neuropati Optikus Neuropati optikus merupakan kerusakan pada saraf optikus yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang menuju ke saraf tersebut. Hal ini dapat menyebabkan kematian sel-sel saraf yang mengakibatkan perdarahan pada mata atau hilangnya penglihatan.  Baca juga: Turunkan Risiko Mata Minus Dengan Bahan Alami! Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang. Sumber: mayoclinic