Your browser does not support JavaScript!
 23 Sep 2018    11:00 WIB
Beberapa Resiko Yang Dapat Terjadi Karena Stroke
Stroke terjadi ketika pembuluh darah otak mengalami penyumbatan atau pecah. Akibatnya, terjadi penghentian aliran darah ke bagian otak tersebut, yang menyebabkan jaringan otak kekurangan oksigen dan glukosa. Jika penghentian ini hanya terjadi dalam waktu singkat, jaringan otak masih dapat dipulihkan. Tetapi bila penghentian ini terjadi selama 3 atau 4 menit, maka dapat terjadi kematian pada jaringan otak di bagian tersebut, yang menyebabkan kerusakan permanen jaringan otak. Klasifikasi Stroke Stroke Iskemik Sekitar 80% stroke yang terjadi adalah stroke iskemik. Stroke jenis ini terjadi akibat adanya penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan darah yang menyebabkan penghentian aliran darah ke otak. Stroke Hemoragik 20% stroke yang terjadi adalah stroke hemoragik. Stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah lemah di otak. Saat pembuluh darah ini pecah, dapat terjadi kerusakan pada jaringan otak di sekitar pembuluh darah tersebut. Stroke hemoragik merupakan jenis stroke yang lebih berat.   Faktor Resiko Stroke Terdapat 2 jenis faktor resiko stroke, yang dapat dikendalikan dan yang tidak dapat dikendalikan. Faktor resiko yang dapat dikendalikan adalah berbagai hal yang masih dapat dimodifikasi untuk mengurangi resiko stroke, seperti tekanan darah tinggi maupun hiperkolesterolemia yang dapat ditangani dengan mengkonsumsi obat-obatan dan merubah gaya hidup.Sedangkan, faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan adalah berbagai hal yang tidak dapat dimodifikasi seperti usia, ras, atau jenis kelamin. Faktor Resiko yang Dapat Dikendalikan Aterosklerosis Plak lemak yang terbentuk di dalam dinding pembuluh darah dapat menyebabkan penyumbatan atau mempersempit lumen pembuluh darah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan stroke. Hiperkolesterolemia Tingginya kadar kolesterol di dalam darah dapat meningkatkan resiko penyakit jantung dan aterosklerosis. Diabetes Para penderita diabetes mempunyai resiko terkena stroke yang lebih tinggi dikarenakan oleh berbagai komplikasi diabetes, seperti tekanan darah tinggi, hiperkolesterolemia, dan penyakit jantung. Alkoholisme Konsumsi alkohol berlebihan juga dapat menyebabkan peningkatan resiko stroke. Konsumsi alkohol sebaiknya dibatasi 1 gelas per hari pada wanita, dan 2 gelas pada pria. Usia Stroke dapat terjadi pada semua umur, bahkan pada anak-anak. Akan tetapi, lebih sering terjadi pada orang lanjut usia. Setiap penambahan 10 tahun setelah berumur 55 tahun, terdapat peningkatan resiko stroke sebanyak 2 kali lipat. Ras Kematian akibat stroke lebih banyak terjadi pada orang Afrika-Amerika daripada orang kulit putih, karena mereka mempunyai resiko lebih tinggi menderita tekanan darah tinggi, diabetes, dan obesitas. Riwayat Stroke atau Serangan Jantung Sebelumnya Resiko mengalami serangan stroke lebih tinggi pada orang yang pertama mengalami serangan stroke sebelumnya atau pada orang yang pernah mengalami serangan jantung. Kelainan Pembuluh Darah Resiko terjadinya stroke hemoragik meningkat pada orang dengan aneurisma (pelebaran pembuluh darah) pembuluh darah otak. Selain itu, malformasi arteriovenosa (adanya suatu hubungan abnormal antara arteri dan vena) juga merupakan salah satu penyebab terjadinya stroke hemoragik. Patent Foramen Ovale Patent foramen ovale adalah adanya suatu lubang yang menghubungkan antara jantung kiri dan kanan. Kelainan ini biasanya tidak bergejala dan mengenai sekitar 15-20% orang. Akan tetapi, kelainan ini meningkatkan resiko terjadinya stroke melalui masuknya bekuan darah melalui lubang tersebut, yang kemudian akan sampai ke otak dan menyebabkan terjadinya stroke. Penderita patent foramen ovale dapat terkena stroke walaupun tidak memiliki faktor resiko stroke lainnya.
 03 Aug 2018    11:00 WIB
Gejala Jantung Tidak Beraturan
Pernahkah anda merasa berdebar-debar saat anda sedang beristirahat dan tidak melakukan apapun? Hal ini dapat terjadi pada jantung sehat, akan tetapi juga dapat merupakan gejala aritmia atau gangguan irama jantung. Salah satu jenis aritmia yang sering terjadi adalah fibrilasi atrium. Saat fibrilasi terjadi, suatu bagian jantung yang disebut dengan atrium atau bilik jantung yang berfungsi untuk memompa darah ke dalam ventrikel, bergetar dengan cepat dan tidak terkendali. Hal ini menyebabkan atrium tidak mampu memompa darah dengan efektif ke dalam ventrikel. Keadaan ini menyebabkan timbulnya denyut jantung yang cepat dan tidak teratur. Pada keadaan normal, denyut jantung berkisar pada 60-100 kali per menit. Pada fibrilasi atrium, denyut jantung dapat mencapai 400 kali per menit.   Gejala Fibrilasi Atrium Beberapa gejala yang dapat ditemukan pada fibrilasi atrium adalah: Palpitasi atau rasa berdebar-debar Merasakan denyutan jantung anda Nyeri dada atau dada terasa tertekan atau rasa tidak nyaman pada dada anda Nyeri perut Sesak napas Kepala terasa ringan atau perasaan melayang Merasa lelah atau tidak bertenaga Tidak dapat berolahraga atau beraktivitas dalam waktu lama (intoleransi) Kadang-kadang, fibrilasi atrium dapat terjadi dengan gejala yang hilang timbul, berlangsung selama beberapa menit atau jam dan kemudian menghilang dengan sendirinya. Pada fibrilasi atrium kronik, aritmia seringkali terjadi.   Lansia dan Fibrilasi Atrium Fibrilasi atrium lebih sering terjadi pada lansia. Sekitar 11% orang berusia 80 tahun mengalami fibrilasi atrium. Pada sebagian besar kasus, fibrilasi atrium terjadi tanpa adanya gejala apapun dan baru ditemukan sebagai penyebab serangan stroke pada lansia. Fibrilasi atrium juga meningkatkan resiko terjadinya stroke, terutama bila disertai dengan kelainan katup jantung, gagal jantung, diabetes, dan hipertensi. Fibrilasi atrium dapat menyebabkan pembentukan bekuan darah. Bekuan darah ini dapat menyebabkan terjadinya serangan stroke bila keluar dari jantung dan menyebabkan penyumbatan pembuluh darah otak.   Fibrilasi Atrium Pada Remaja Walaupun jarang, fibrilasi atrium juga dapat terjadi pada anak remaja. Fibrilasi dapat merupakan suatu gangguan atau merupakan penanda adanya gangguan kesehatan lainnya bila terjadi berulang kali. Fibrilasi atrium pada remaja jarang sekali ditemukan pada pemeriksaan kesehatan rutin. Pada anak, fibrilasi atrium hampir selalu dimulai dengan rasa berdebar-debar yang kemudian menyebabkan terjadinya henti jantung. Terjadinya fibrilasi atrium pada jantung yang sehat dapat dipicu oleh penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan atau olahraga. Remaja biasanya akan mengatakan adanya rasa berdebar-debar atau nyeri dada dan perut. Segera hubungi dokter anda bila anda mengalami gejala-gejala fibrilasi atrium. Dokter dapat menentukan apakah anda benar-benar mengalami fibrilasi atrium melalui pemeriksaan fisik dan EKG (elektrokardiogram). Baca juga: Buah Delima Untuk Mencegah Penyakit Jantung Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: webmd
 30 Sep 2016    15:00 WIB
Obat Anti Nyeri Dapat Menimbulkan Gangguan Irama Jantung
Obat anti nyeri yang sangat populer penggunaannya saat ini terjadi dapat meningkatkan resiko timbulnya gangguan irama jantung seperti atrial fibrilasi. Studi terbaru yang diterbitkan di BMJ Open, Belanda, telah melakukan penelitian yang melibatkan 8.432 orang dengan usia rata-rata 69 tahun, mempunyai irama jantung yang normal pada awal dimulainya penelitian. Penelitian berlangsung selama 13 tahun dan sebanyak 87 orang mengalami atrial fibrilasi.Secara keseluruhan, para peneliti menemukan bahwa orang dewasa yang mengkonsumsi obat Anti nyeri dari golongan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (Nsaids) mengalami peningkatan resiko terkena atrial fibrilasi sebanyak 80%. Apa yang menjadi penyebab dari atrial fibrilasi memang belum jelas, tetapi teori dari peneliti adalah obat anti nyeri menyebabkan peningkatan tekanan darah dan retensi cairan. Kedua hal tersebut akan mempengaruhi fungsi dari jantung. Obat nonsteroidal anti-inflammatory drugs (Nsaids) seperti ibuprofen dan aspirin juga telah lama diasosiasikan dengan peningkatan resiko penyakit jantung koroner dan serangan jantung. Dr. Bruno H. Stricker, seorang profesor pharmaco-epidemiology di Erasmus University Medical Center in Rotterdam mengatakan agar orang-orang yang sudah berusia lanjut agar lebih berhati-hati saat memilih dan menggunakan obat anti nyeri. "Sebaiknya mereka tidak melakukan apa-apa untuk meredakan nyeri. Nyeri memang mengganggu, tetapi menjadi sekarat akan lebih mengganggu." Baca juga: Tips Mencegah Penyakit Jantung dan Stroke  Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.Sumber: foxnews