Your browser does not support JavaScript!
 23 Jul 2019    18:00 WIB
Gejala dan Komplikasi Toksoplasmosis Kongenital
Gejala Toksoplasmosis KongenitalToksoplasmosis kongenital merupakan suatu keadaan di mana seorang bayi yang baru saja lahir telah menderita infeksi toksoplasma. Hal ini biasanya disebabkan karena sang ibu mengalami infeksi toksoplasma saat hamil. Jika bayi anda mengalami toksoplasmosis kongenital, gejala yang dialaminya dapat berbeda-beda tergantung pada kapan anda (ibu) terinfeksi oleh toksoplasma. Jika anda (ibu) terinfeksi oleh toksoplasma pada awal terjadinya kehamilan (saat pembuahan, yaitu saat sperma dan sel telur bertemu) atau sebelum kehamilan berusia 27 minggu, maka gejala yang timbul dapat lebih berat. Gejala yang dapat terjadi adalah:•  Adanya penumpukkan cairan otak di dalam kepala (hidrosefalus)•  Kerusakan otak•  Epilepsi•  Jaundice (kulit dan bagian putih mata bayi berwarna kuning)•  Tuli•  Cerebral palsy (suatu keadaan yang terjadi akibat gangguan pada perkembangan otak)•  Gangguan pertumbuhan•  Infeksi mata atau gangguan penglihatan Jika anda (ibu) terinfeksi oleh toksoplasma setelah kehamilan berusia 27 minggu, gejala toksoplasmosis mungkin tidak tampak saat bayi baru lahir dan baru muncul di kemudian hari, kadang-kadang beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian. Gejala yang dapat terjadi adalah:•  Gangguan penglihatan•  Kesulitan belajar•  Hilangnya pendengaran Pada sebagian besar kasus, bayi yang terlahir dengan toksoplasmosis kongential dapat diobati dengan pemberian antibiotika sehingga bayi dapat bertumbuh dan berkembang dengan normal.Komplikasi Toksoplasmosis KongenitalSekitar 4% bayi dengan toksoplasmosis kongenital dapat mengalami komplikasi berat pada beberapa tahun pertama kehidupannya. Komplikasi berat yang dapat terjadi adalah:•  Gangguan penglihatan permanen (hilangnya penglihatan sebagian atau total, walaupun jarang)•  Kerusakan otak permanen Berbagai komplikasi lainnya yang dapat terjadi pada mata bayi anda adalah:•  Retinokoroiditis yaitu suatu keadaan yang menyebabkan setidaknya satu lesi (luka) okular (mata), walaupun sangat jarang terjadi•  Toksoplasmosis okular yaitu suatu kondisi yang dapat terjadi saat anak berusia 9 tahun, atau dapat pula terjadi saat anak berusia akhir 20 atau 30 tahun Pemeriksaan mata secara teratur dapat membantu menemukan berbagai gangguan di atas sedini mungkin, akan tetapi tidak dapat memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi.Sumber: webmd
 24 Jan 2019    14:00 WIB
Kehamilan dan Epilepsi
Tentunya anda sering bertanya apakah wanita penderita epilepsi dapat hamil atau apakah mereka dapat tetap mengkonsumsi berbagai obat anti kejang selama kehamilannya atau apakah yang harus dilakukan bila serangan kejang terjadi saat kehamilan. Memang tidak mudah bagi wanita penderita epilepsi untuk hamil. Terdapat beberapa hal yang menjadi penyebabnya, yaitu: Peningkatan resiko kemandulan. Hal ini disebabkan oleh lebih tingginya wanita penderita epilepsi untuk menderita sindrom ovarium polikistik (adanya beberapa kista di dalam indung telur) Menstruasi tidak teratur Periode anovulasi, di mana tidak adanya produksi sel telur setiap bulannya, sehingga menyulitkan proses pembuahan karena tidak ada sel telur yang dapat dibuahi oleh sperma Efek samping obat anti kejang seringkali mempengaruhi produksi hormon oleh indung telur yang menyebabkan penurunan kesuburan Gangguan keseimbangan hormon yang mendukung kehamilan Berbagai hal di atas menyebabkan wanita penderita epilepsi untuk hamil. Bila akhirnya kehamilan terjadi, maka serangan kejang harus dikendalikan dengan baik. Kejang dapat mengganggu perkembangan bayi anda. Saat anda kejang, bayi anda mungkin mengalami kekurangan oksigen, yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya keguguran atau kelahiran mati. Wanita penderita epilepsi dianjurkan untuk mengkonsumsi setidaknya 400 mcg asam folat sebelum dan selama hamil.   Obat Anti Kejang yang Dapat Digunakan Selama Kehamilan Sebagian besar obat anti kejang menyebabkan terjadinya kelainan bawaan pada bayi. Walaupun terdapat beberapa obat yang memiliki resiko yang lebih rendah. Asam valproat dan fenobarbital beresiko tinggi menyebabkan terjadinya spina bifida (kelainan saraf) pada bayi. Sementara, karbamazepin dan lamotrigine mempunyai resiko yang lebih rendah. Selama kehamilan, terjadi peningkatan metabolisme obat. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya serangan kejang akibat dosis obat yang rendah di dalam darah. Untuk mengatasi hal ini diperlukan dosis obat yang lebih besar, akan tetapi hal ini dapat meningkatkan resiko pada bayi anda. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan ketat oleh dokter anda selama kehamilan. Penggunaan kombinasi obat anti kejang selama kehamilan dapat meningkatkan resiko gangguan kesehatan pada bayi anda. Oleh karena itu, dokter biasanya hanya menyarankan penggunaan satu macam obat anti kejang. Bila anda mengkonsumsi dua atau lebih obat anti kejang saat ini dan ingin hamil, maka sebaiknya berkonsultasilah dahulu dengan dokter anda mengenai apa yang harus dilakukan. Penurunan atau penggantian obat anti kejang biasanya mulai dilakukan 1 tahun sebelum kehamilan. Penurunan dosis obat dilakukan secara bertahap. Penggantian obat anti kejang pun dilakukan secara bertahap. Jangan coba untuk menghentikan obat-obatan anda atau mengganti obat anda tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter anda karena hal ini dapat membahayakan diri anda dan bayi anda.   Pilihan Persalinan Wanita penderita epilepsi yang akan melahirkan memerlukan pengawasan lebih ketat karena kemungkinan terjadinya kejang selama proses persalinan, akan tetapi hal ini bukan berarti wanita penderita epilepsi tidak dapat melahirkan secara normal. Jika anda mengalami serangan kejang saat proses persalinan, dokter dapat memberikan obat anti kejang melalui infus. Akan tetapi, obat anti kejang dapat menyebabkan otot-otot rahim berelaksasi. Relaksasi otot rahim dapat menyebabkan terhambatnya proses persalinan. Bila hal ini terjadi maka dokter akan melakukan tindakan bedah Caesar. Baca juga: Tips Tidur Nyenyak Selama Kehamilan Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang
 03 Feb 2018    18:00 WIB
Berbagai Jenis Epilepsi
Epilepsi terjadi akibat adanya pelepasan muatan listrik berlebihan di otak secara tiba-tiba yang menyebabkan timbulnya kejang berulang. Bentuk serangan yang terjadi bervariasi. Pada sebagian orang dengan epilepsi serangan dapat berupa pandangan kosong selama beberapa detik, sedangkan yang lainnya mengalami kejang. 2% dari penduduk dewasa pernah mengalami kejang, dan sepertiga dari kelompok tersebut mengalami epilepsi. Jenis-jenis dari epilepsi:    •    Epilepsi Umum    •    Epilepsi Petit MalEpilepsi petit mal adalah epilepsi yang menyebabkan gangguan kesadaran secara tiba-tiba, di mana seseorang menjadi seperti bengong tidak sadar tanpa reaksi apa-apa, dan setelah beberapa saat bisa kembali normal melakukan aktivitas semula.    •    Epilelpsi Grand MalSerangan jenis ini merupakan serangan paling hebat, yang ditandai dengan hilangnya kesadaran sementara dan kejang muncul ketika aktivitas abnormal menyebar ke kedua sisi otak. Serangan ditandai dengan adanya spasme otot, timbul kekakuan dan hentakan-hentakan diseluruh tubuh, penderita terjatuh, dengan kuat akan memutar kepala ke satu sisi, mengatupkan giginya, dan terkadang juga hilangnya kontrol dalam berkemih. Penderita    •    Epilepsi Myoklonik JuvenilEpilepsi myoklonik Juvenil adalah epilepsi yang mengakibatkan terjadinya kontraksi singkat pada satu atau beberapa otot mulai dari yang ringan tidak terlihat sampai yang menyentak hebat seperti jatuh tiba-tiba, melemparkan benda yang dipegang tiba-tiba, dan lain sebagainya.    •    Epilepsi Parsial (Sebagian)    •    Epilepsi Parsial SederhanaSerangan jenis ini tidak menimbulkan hilangnya kesadaran. Serangan dapat menyebabkan gangguan emosi atau adanya perubahan dari sesuatu yang dilihat, didengar, dirasakan, dikecap, atau dicium. Selain itu juga dapat terjadi hentakan-hentakan bagian dari tubuh yang involunter, misalnya tangan atau kaki, dan juga gejala sensorik seperti kesemutan, vertigo, dan kilatan cahaya. Gangguan sensasi, gerakan atau emosi yang abnormal    •    Epilepsi Parsial KompleksSerangan jenis ini mengganggu kesadaran sesaat.  Serangan dapat berupa tatapan kosong dan gerakan-gerakan tanpa tujuan, misalnya menggosok-gosok tangan, mengunyah-ngunyah, menelan, berjalan melingkar, mengeluarkan suara-suara yang tak berarti, tidak mampu memahami apa yang orang lain katakan, dan menolak bantuan. Kebingungan berlangsung selama beberapa menit, dan diikuti dengan pemulihan total.    •    Status epileptikus merupakan gangguan kejang yang paling serius dan bersifat darurat, karena kejang tidak berhenti. Aktivitas listrik abnormal terjadi di seluruh otak, menyebabkan serangan tonik klonik menyeluruh. Status epileptikus dinyatakan jka serangan menetap lebih dari 5 menit atau jika penderita tidak sadar penuh diantara serangan. Sumber: merckmanual  
 20 Nov 2017    18:30 WIB
Tips Perawatan Anak Dengan Epilepsi
Merawat anak dengan epilepsi tentunya membutuhkan perhatian yang lebih daripada anak sehat lainnya. Selain itu, juga dibutuhkan kesabaran lebih dalam merawat dan menghadapi perubahan emosi pada anak dengan epilepsi.   Perubahan Emosional Pada Anak Dengan Epilepsi Anak-anak dengan penyakit kronis biasanya selalu mengalami perubahan emosi. Anak dengan epilepsi biasanya mempunyai rasa percaya diri yang rendah dan seringkali depresi. Rendahnya rasa percaya diri ini dapat disebabkan oleh rasa marah, frustasi, dan malu yang terjadi akibat diejek oleh anak-anak lainnya. Beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk mengatasi hal ini adalah: Buatlah anak anda mengerti tentang penyakitnya Latihlah anak untuk berpikir positif mengenai hal-hal yang dapat mereka lakukan dan bahwa penyakitnya bukanlah sesuatu hal yang memalukan Beritahulah anak anda mengenai beberapa hal yang mungkin terjadi selama beraktivitas Beritahulah anak anda bahwa menjadi orang yang sedikit berbeda daripada orang lainnya bukanlah sesuatu hal yang buruk Beberapa hal yang dapat anda lakukan bagi anggota keluarga anda yang lain adalah: Beritahukan pada anak anda yang lainnya mengenai penyakit yang diderita oleh saudaranya Bila anak anda yang lain merasa ditelantarkan, berikanlah waktu khusus bersama mereka Beritahukan kepada seluruh keluarga anda mengenai keadaan penyakit anak anda Bila diperlukan, anda dapat melakukan konsultasi bersama dengan keluarga anda   Kepatuhan Minum Obat Kepatuhan minum obat bagi penderita epilepsi sangatlah penting. Konsultasikan dengan dokter anda mengenai hal ini dan apa saja yang harus dilakukan untuk membantu anak anda agar lebih patuh minum obat. Di bawah ini terdapat beberapa tips yang dapat anda lakukan, yaitu: Ketahuilah kapan anak anda harus minum obat. Anda dapat menanyakan hal ini pada dokter anda Tanyakan juga pada dokter anda mengenai apa yang harus dilakukan bila anak anda lupa minum obat atau waktu minum obatnya telah lewat Ketahuilah efek samping obat yang dapat terjadi dan tanyakan pada dokter anda tentang apa yang harus dilakukan bila efek samping obat tersebut terjadi Tanyakan pada dokter anda apa yang harus dilakukan bila anak anda demam, karena demam dapat memicu terjadinya kejang Beritahukan pada pihak sekolah bahwa anak anda menderita epilepsi dan anak anda harus minum obat pada waktu yang telah ditentukan Bawalah selalu obat anak anda ke mana pun anda pergi   Berenang dan Epilepsi Hal lainnya yang harus mendapat perhatian ekstra anda adalah bila anak anda berada di dekat air, baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Untuk air di dalam rumah seperti di kamar mandi, ada beberapa hal yang harus anda perhatikan, yaitu: Jangan pernah biarkan kamar mandi terkunci Pintu kamar mandi harus terbuka ke arah luar Jauhkan alat-alat yang terhubung dengan listrik dari air Bila anak anda menyukai olahraga renang, maka pastikan agar anak anda tidak pernah berenang sendirian dan bila anak anda mengalami kejang selama berenang, segera keluarkan anak anda dari air.   Baca juga: Cara Membuat Anak Tidur di Siang Hari  
 26 Aug 2017    15:00 WIB
Penyebab Epilepsi dan Pemicu Kejang
Epilepsi adalah suatu kondisi di mana terjadi serangan kejang berulang. Diagnosa epilepsi dipertimbangkan bila seseorang mengalami serangan kejang lebih dari satu kali. Epilepsi dapat disebabkan oleh adanya cedera pada jaringan otak atau seringkali penyebabnya tidak diketahui. Proses Terjadinya KejangKejang terjadi bila terdapat suatu hantaran impuls listrik melebihi batas normalnya. Hal ini kemudian menyebar ke area otak yang berdekatan dengannya dan menyebabkan suatu aktivitas impuls listrik yang abnormal. Impuls listrik ini kemudian dihantarkan ke otot-otot yang kemudian menyebabkan kedutan atau kejang. Penyebab EpilepsiEpilepsi lebih sering mengenai anak-anak dan dewasa muda. Sekitar 30% penderita epilepsi adalah anak-anak. Hanya sedikit sekali epilepsi yang diketahui penyebabnya dan biasanya diakibatkan oleh cedera pada otak. Di bawah ini terdapat beberapa penyebab epilepsi, yaitu:• Kekurangan oksigen saat lahir• Cedera kepala saat lahir atau kecelakaan saat anak-anak atau dewasa• Tumor otak• Penyakit genetik yang menyebabkan cedera otak, seperti sklerosis tuberosa• Infeksi seperti meningitis atau ensefalitis• Stroke atau kerusakan otak lainnya• Kadar gula darah atau natrium yang tidak normalHanya sekitar 30% kasus epilepsi yang diketahui penyebabnya, sedangkan sisanya tidak dapat ditemukan penyebabnya. Pemicu KejangWalaupun penyebab epilepsi sulit diketahui, namun terdapat beberapa hal yang dapat memicu terjadinya kejang pada penderita epilepsi. Beberapa hal yang dapat memicu terjadinya kejang adalah:• Tidak patuh minum obat• Konsumsi alkohol berlebihan• Penggunaan obat-obatan terlarang, misalnya ekstasi• Kurang tidur• Obat-obatan lain yang dapat menyebabkan terjadinya kejang• Menstruasi. Pada sebagian wanita penderita epilepsi, kejang seringkali terjadi saat menstruasi. Penambahan dosis obat atau penggantian obat dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kejang saat menstruasi. Sumber: webmd
 22 Aug 2017    12:00 WIB
Epilepsi dan Penanganan Kejang
Apa yang Harus Anda Lakukan Bila Anda Menderita Epilepsi ?• Beritahu kepada keluarga, teman kerja, atau tetangga anda bahwa anda menderita epilepsi, sehingga mereka dapat mengetahui apa yang harus dilakukan bila anda mengalami kejang• Hindari tempat-tempat dengan banyak benda berbahaya, terutama bila anda bekerja di pabrik• Tetap aktif. Anda tetap dapat berolahraga, tetapi jangan berolahraga sendirian. • Jangan mengganti atau mengubah dosis obat anti kejang sebelum berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter anda. Jenis obat anti kejang yang digunakan tergantung pada jenis epilepsi yang diderita, sedangkan dosis obatnya tergantung pada usia, berat badan, jenis kelamin, dan berbagai hal lainnya• Perhatikanlah efek samping obat dan interaksi antar obat yang mungkin terjadi. Bila anda mengkonsumsi obat anti kejang dan ingin mengkonsumsi obat lainnya, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter anda• Hindari alkohol. Alkohol dapat menurunkan efektivitas obat anti kejang dan dapat menurunkan ambang batas kejang, sehingga kejang lebih mudah terjadi Apa yang Harus Anda Lakukan Pada Orang Dewasa yang Mengalami Serangan Kejang ?• Longgarkan baju di bagian leher. Lepaskan kancing atau dasi• Jangan mencoba untuk menahan atau memegang orang tersebut. Hal ini justru dapat menyebabkan cedera• Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut orang tersebut. Hal ini juga dapat menyebabkan cedera• Berikan ruang yang cukup bagi penderita kejang. Mintalah kepada orang di sekelilingnya untuk menjauh dan memberikan ruang bagi penderita• Jauhkan benda-benda yang berbahaya dari penderita, seperti kaca, perabotan, atau benda tajam lainnya• Miringkan tubuh penderita setelah kejang berhenti untuk mencegah terjadinya aspirasi (masuknya benda asing ke paru-paru) muntahan dan menjaga saluran pernapasan tetap terbuka• Jangan tinggalkan penderita sendirian setelah kejang karena penderita biasanya merasa bingung dan disorientasi setelah kejang• Hubungi petugas kesehatan bila kejang berlangsung lebih dari 5 menit atau kejang berulang dalam waktu singkat atau bila penderita tidak sadar setelah kejang atau bila penderita mempunyai penyakit lainnya, seperti penyakit jantung atau diabetes Apa yang Harus Anda Lakukan Bila Anak Anda Mengalami Serangan Kejang ?Tergantung pada jenis kejang yang terjadi, terdapat beberapa penanganan yang berbeda. Kejang Tonik Klonik/Grand Mal Seizure (Dengan Penurunan Kesadaran Saat Kejang)• Jauhkan anak dari benda-benda berbahaya (benda tajam, panas, dan keras)• Letakkan benda lunak atau bantal di bawah leher anak anda• Miringkan tubuh anak anda ke satu sisi untuk menjaga saluran pernapasannya tetap terbuka• Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut penderita• Jangan memberikan minum atau obat apapun ke dalam mulut penderita saat atau sesaat setelah kejang berhenti• Jangan mencoba untuk memegangi lidah anak• Jangan mencoba menghentikan kejang atau memegangi tubuh anak anda saat kejang• Temani dan tenangkan anak anda saat kejang berhenti• Hubungi dokter segera bila kejang berlangsung lebih dari 5 menit, anak mengalami kejang untuk pertama kali, kejang terjadi lebih dari satu kali, bila anak anda terluka atau bila anak anda tetap tidak sadar setelah kejang berhenti Kejang Absence/Petit Mal Seizure (Dengan Penurunan Kesadaran Saat Kejang)• Awasi anak anda saat serangan terjadi• Catatlah seberapa sering anak mengalami serangan• Tenangkan dan temani anak anda bila ia merasa takut atau bingung setelah kejang berhenti Kejang Parsial (Tanpa Penurunan Kesadaran Saat Kejang)• Awasi anak anda saat serangan terjadi• Tenangkan dan temani anak anda bila ia merasa takut atau bingung setelah kejang berhenti• Bila terjadi kejang menyeluruh, lakukanlah penanganan seperti penanganan kejang tonik klonik Kejang Parsial (Dengan Penurunan Kesadaran Saat Kejang)• Temani anak anda selama serangan terjadi• Beritahu anak dan orang di sekitar tentang apa yang terjadi• Bila anak sedang beraktivitas atau berjalan, ajak anak pindah ke tempat yang aman Kejang Mioklonik (Dengan Penurunan Kesadaran Saat Kejang)• Temani anak anda selama serangan terjadi• Beritahu anak dan orang di sekitar tentang apa yang terjadi• Bila anak sedang beraktivitas atau berjalan, ajak anak pindah ke tempat yang aman• Bila kejang baru pertama kali terjadi, segera lakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya Renjatan Mioklonik (Tanpa Penurunan Kesadaran)• Perhatikan apa anak terjatuh atau tidak• Tenangkan dan temani anak anda• Bila kejang baru pertama kali terjadi, segera lakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya Atonik• Tenangkan anak anda dan perhatikan apakah terjadi cedera• Segera lakukan pemeriksaan untuk mencari penyebabnya
 17 Aug 2017    12:00 WIB
Berbagai Jenis Kejang Epilepsi
Berdasarkan aktivitas di dalam otak, kejang pada epilepsi dibagi menjadi 2 yaitu menyeluruh (generalized) dan sebagian (parsial). Kejang Menyeluruh (Generalized)Kejang menyeluruh terjadi akibat adanya impuls listrik pada seluruh bagian otak. 1. Kejang Tonik Klonik/Grand MalPada kejang jenis ini, biasanya terjadi penurunan kesadaran dan pasien pingsan. Penurunan kesadaran kemudian diikuti oleh kekakuan seluruh tubuh (tonik) selama 30-60 detik, yang kemudiaan dilanjutkan dengan hentakan atau kejang di seluruh tubuh (klonik) selama 30-60 detik, pasien kemudian tertidur. Pada kejang tonik klonik dapat terjadi berbagai cedera seperti lidah yang tergigit dan mengompol juga sering terjadi.2. Kejang AbsenceKejang jenis ini menyebabkan penurunan kesadaran dalam waktu singkat (hanya beberapa detik) yang kadang disertai atau tanpa gejala. Penderita yang kebanyakan adalah anak-anak biasanya tiba-tiba berhenti berbicara atau berhenti mengerjakan sesuatu dan tampak seperti melamun selama beberapa detik sebelum kemudian melanjutkan kembali aktivitasnya. Penderita biasanya tidak menyadari apa yang terjadi dan hanya merasa waktu cepat sekali berlalu.3. Kejang MioklonikMerupakan kejang yang bersifat sporadik pada kedua bagian tubuh (anggota gerak). Penderita biasanya merasakan adanya suatu gelombang listrik singkat atau bila berat penderita dapat menjatuhkan benda apapun yang sedang dipegang atau malah melemparnya.4. Kejang KlonikAdalah sentakan berulang dan teratur pada kedua bagian tubuh pada saat yang bersamaan.5. Kejang TonikTerjadi kekakuan pada otot di seluruh tubuh.6. AtonikHilangnya tonus otot menyeluruh secara tiba-tiba, khususnya pada tangan dan kaki, yang membuat penderita terjatuh. Kejang Sebagian (Parsial)Kejang sebagian atau parsial terbagi menjadi kejang simpleks, kompleks, dan kejang fokal yang kemudian berkembang menjadi kejang menyeluruh. Pada kejang simpleks, penderita tidak mengalami penurunan kesadaran, sedangkan pada kejang kompleks, penderita mengalami penurunan kesadaran. 1. Kejang SimpleksBerdasarkan gejala yang terjadi, kejang simpleks terbagi menjadi 4, yaitu:• Motorik. Pada kejang simpleks motorik terjadi kekakuan dan gerakan menyentak• Sensorik. Pada kejang simpleks sensorik terjadi suatu sensasi abnormal yang dapat mengenai kelima indra (penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecapan, dan peraba). Sensasi abnormal ini seringkali disebut dengan aura• Otonom. Kejang simpleks otonom mengenai sistem saraf otonom yang mengatur berbagai fungsi organ seperti jantung, lambung, usus, sistem saluran kemih. Oleh karena itu, gejala yang biasa dialami penderita adalah rasa berdebar-debar, rasa tidak enak pada perut, diare, gangguan kontrol berkemih. Rasa tidak nyaman atau adanya sensasi aneh pada perut sering dialami oleh penderita epilepsi lobus temporal• Psikologis. Kejang simpleks psikologis biasanya berhubungan dengan ingatan (perasaan de javu), emosi (takut atau senang), atau fenomena psikologis lainnya2. Kejang KompleksPada kejang jenis ini, pasien mengalami penurunan kesadaran. Penderita dapat melakukan gerakan berulang yang tidak bertujuan, seperti bibir mencucu, mengunyah, merasa gelisah, dan tidak bisa diam (berjalan bolak-balik).3. Kejang yang BerevolusiMerupakan kejang yang pada awalnya merupakan kejang sebagian, tetapi kemudian berubah menjadi kejang menyeluruh jenis tonik klonik.Sebagian besar penderita epilepsi dengan kejang parsial dapat diobati dengan obat-obatan atau tindakan pembedahan.     Sumber: webmd
 20 Dec 2016    11:00 WIB
Diet Ketogenik Bagi Penderita Epilepsi
Diet ketogenik merupakan salah satu pengobatan epilepsi yang telah ada sejak dulu dan kini mulai digunakan kembali. Diet ketogenik adalah diet tinggi lemak rendah karbohidrat. Tujuan dari diet ketogenik adalah untuk memperoleh kadar keton yang tinggi di dalam darah. Keton merupakan suatu produk hasil metabolisme lemak, yang diduga dapat mengurangi terjadinya serangan kejang pada penderita epilepsi. Anak biasanya tidak mengalami peningkatan berat badan, tetapi pertumbuhan anak mungkin agak terhambat selama melakukan diet ini. Dibutuhkan kepatuhan dan kerja sama dari orang tua dan anak untuk menjalankan diet ketogenik. Diet ketogenik biasanya dilakukan pada anak berusia 2-12 tahun dengan kejang tonik klonik menyeluruh yang tidak dapat dikendalikan dengan kombinasi dua atau tiga obat anti kejang dengan dosis maksimal. Diet biasanya dimulai di rumah sakit untuk mengatasi beberapa hal yang tidak diinginkan pada awal diet dimulai seperti mual, muntah, dehidrasi, kadar gula darah rendah, dan kejang. Diet diawali dengan pemberian makanan tinggi lemak hingga tercapai kadar keton yang cukup tinggi di dalam darah. Selama terapi diet ketogenik, obat-obat anti kejang tetap diberikan, tetapi dosisnya disesuaikan untuk mengurangi efek sedasi. Diet ketogenik biasanya dilakukan selama 2 bulan, kemudian dinilai efektivitasnya. Bila dinilai efektif maka diet dapat dilakukan sampai selama 2 tahun. Selama menjalankan diet ini, dosis obat anti kejang dapat diturunkan hingga tercapai dosis yang sesuai. Bila diet ketogenik tidak berhasil mengurangi serangan kejang, maka sebaiknya konsultasikan kembali dengan dokter anda mengenai terapi lain yang dapat dilakukan. Penderita epilepsi yang melakukan diet ketogenik harus mendapatkan pengawasan ketat dari keluarga dan dokter untuk memonitor makanan yang dimakan serta efek diet ketogenik pada penderita.
 30 Oct 2015    09:00 WIB
Terapi Pembedahan Pada Epilepsi
Terapi pembedahan pada epilepsi biasanya dilakukan pada penderita dengan serangan kejang yang tidak dapat dikendalikan dengan obat maupun diet. Secara umum, terdapat dua macam tindakan pembedahan yang dapat dilakukan untuk pengobatan epilepsi, yaitu pembedahan untuk mengangkat area otak yang menimbulkan kejang atau pembedahan untuk menghambat perjalanan impuls saraf penyebab kejang. Tindakan pembedahan hanya dapat dilakukan bila area otak penyebab kejang telah diketahui dengan jelas dan bahwa area otak tersebut tidak berfungsi untuk mengatur berbagai fungsi penting, seperti bahasa, sensasi, dan gerakan. Diperlukan pemeriksaan menyeluruh sebelum tindakan pembedahan dilakukan.   Indikasi Tindakan Pembedahan Tindakan pembedahan diindikasikan pada: Penderita dengan serangan kejang yang menyebabkan disabilitas Penderita dengan serangan kejang yang tidak dapat dikendalikan oleh obat-obatan Bila efek samping obat sangat berat dan sangat mempengaruhi kualitas hidup penderita Tindakan pembedahan biasanya tidak diindikasikan apabila penderita memiliki penyakit berat lainnya, seperti kanker atau penyakit jantung.   Jenis Teknik Pembedahan Epilepsi Terdapat berbagai jenis teknik pembedahan yang dapat dilakukan pada epilepsi. Jenis pembedahan yang dilakukan tergantung pada jenis kejang dan area otak penyebabnya.   1.      Reseksi Lobus Otak besar terbagi menjadi empat bagian, yaitu frontal, parietal, temporal, dan oksipital. Epilepsi lobus temporal merupakan jenis epilepsi yang paling sering terjadi padan anak-anak dan dewasa. Pada reseksi lobus temporal, dilakukan pengangkatan lobus temporal, yang merupakan sumber kejang. Bagian anterior (depan) dan medial (tengah) dari lobus temporal merupakan bagian yang paling sering terkena. Reseksi ekstratemporal merupakan pengangkatan area di luar lobus temporal.   2.      Lesionektomi Merupakan tindakan pembedahan untuk mengangkat suatu lesi tertentu di otak yang menjadi penyebab kejang. Lesi otak tersebut dapat berupa tumor otak atau suatu malformasi arteriovenosa (adanya hubungan abnormal antara arteri dan vena). Kejang biasanya berhenti setelah lesi ini diangkat.   3.      Korpus Kalosotomi Korpus kalosum merupakan kumpulan serabut saraf yang menghubungkan kedua hemisfer otak. Tindakan pembedahan ini menyebabkan terputusnya hubungan antara kedua hemisfer otak dan menyebabkan impuls listrik penyebab kejang tidak dapat menyebar ke seluruh bagian otak. Tindakan pembedahan ini biasanya dilakukan pada penderita epilepsi dengan serangan kejang yang tidak terkontrol dan seringkali menyebabkan cedera serius.   4.      Hemisferektomi Fungsional Merupakan modifikasi dari hemisferektomi radikal, yang mengangkat satu hemisfer otak seluruhnya. Pada hemisferektomi fungsional, dilakukan pemutusan hubungan antara kedua hemisfer otak, tetapi hanya bagian otak tertentu yang diangkat. Tindakan pembedahan ini biasanya hanya dilakukan pada anak berusia di bawah 13 tahun yang salah satu hemisfer otaknya tidak berfungsi dengan normal.   5.      Transeksi Subpial Multipel Tindakan ini dilakukan apabila sumber kejang terdapat pada area otak yang tidak dapat diangkat. Pada tindakan pembedahan ini, dokter melakukan pemotongan dangkal pada jaringan otak yang menyebabkan hambatan pada penghantaran impuls saraf penyebab kejang, tetapi tidak mengganggu fungsi normal otak.   Tingkat Keberhasilan Pembedahan Tingkat keberhasilan tindakan pembedahan ini bervariasi antara 50-80%. Beberapa penderita menjadi bebas kejang setelah operasi. Beberapa penderita mengalami penurunan serangan kejang. Pada beberapa kasus, tindakan pembedahan dapat tidak berhasil dan penderita masih mengalami serangan kejang berulang yang tidak berkurang. Bila hal ini terjadi, dapat dianjurkan tindakan operasi kedua. Setelah tindakan pembedahan, penderita masih harus mengkonsumsi obat anti kejang selama setahun atau lebih. Setelah serangan kejang dapat dikendalikan, maka dosis obat dapat diturunkan atau bahkan dihentikan.   Komplikasi Pembedahan Pada Epilepsi Seperti pada setiap tindakan pembedahan lainnya, terdapat beberapa resiko pada tindakan pembedahan pada epilepsi. 1.      Akibat Tindakan Pembedahan Setiap tindakan pembedahan dapat menyebabkan infeksi, perdarahan, dan bahkan reaksi alergi akibat obat anestesi yang digunakan. 2.      Gangguan Neurologis Tindakan pembedahan juga dapat memperburuk berbagai keluhan yang telah ada atau malah menimbulkan keluhan baru. Berbagai keluhan yang mungkin terjadi adalah gangguan penglihatan, ingatan, berbicara, dan gerakan. 3.      Kegagalan Tindakan Pembedahan Walaupun dengan berbagai pemeriksaan yang dilakukan sebelum pembedahan, tindakan pembedahan masih mungkin gagal. Pada beberapa kasus, dapat terjadi kejang fokal setelah tindakan pembedahan. Akan tetapi, hal ini belum tentu merupakan tanda bahwa tindakan pembedahan telah gagal. Sebaiknya berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter anda sebelum menentukan tindakan pembedahan mana yang harus dilakukan. Sumber: webmd
 24 Apr 2015    09:00 WIB
Idap Dravet Sindrom Jika Tertawa dan Bahagia Anak ini Akan Mati
Apa jadinya jika ada seorang Ibu yang tidak menginginkan anaknya bahagia? Adalah yang dialami oleh Rebecca Dandy seorang ibu dari anak berusia 5 tahun (Neve) yang harus menelan kenyataan pahit, ketika dokter mendiagnosis sebuah penyakit langka yang tidak memperbolehkan Neve untuk terlalu bahagia sebab hal ini dapat membuatnya kejang dan hilang nyawa seketika.   Sindrom Dravet sendiri dalam dunia kedokteran dikenal dengan nama Severe Myoclonic Epilepsy of Infancy (SMEi). Sindrom yang pertama kali dijelaskan oleh seorang ahli bernama Charlotter Dravet pada tahun 1978. Dalam Revisi ILAE klasifikasi epilepsi sindrom SME pada bayi dinamakan 'sindrom Dravet'.   Neve mengalami kondisi ini sejak bayi (18 bulan). Selain tidak boleh tertawa, Neve juga diminta untuk menjaga asupan makanannya. Ia tidak boleh mengalami perubahan suhu yang drastis. Untuk itulah, orangtuanya tidak pernah membawa Neve pergi terlalu  jauh. Neve juga sebisa mungkin tidak boleh mengalami sakit seperti flu dan batuk.   Hingga saat ini Neve tidak pernah sekalipun merayakan ulah tahunnya, tak pernah bermain bersama teman atau menghabiskan liburan bersama anggota keluarga lain. Bukan saja Neve yang dibuat susah, sang ibu pun seringkali merasa sedih dan batinnya menjerit ketika harus menghadapkan Neve pada kondisi demikian. Betapa tidak, disaat orangtua lain berlomba-lomba membuat anaknya bahagia, hal serupa justru tidak dialami Rebecca.   Diakui sang ibu seringkali ia merasa tegang ketika harus menjalani pemeriksn rutin dan mengantar Neve ke dokter, "Neve mungkin terlihat seperti gadis paling bahagia yang pernah kamu  temui. Dia selalu tersenyum dan tertawa (kecil). Namun perasaan itu seperti merawat bom waktu, karena benar-benar menegangkan," ujar sang ibu.   Namun demikian, hal ini tetap membuat Rebecca,kuat karena ada begitu banyak orang-orang yang mendukungnya, bahkan dukungan tersebut datang dari teman-teman dalam pertemuannya, yakni pertemuan dengan orangtua yang anaknya juga menderita sindrom Dravet. Baca Juga: Hee Ah Lee , Menjadi Seorang Pianis Handal dengan Hanya Empat Jari   Sumber : Dailymail