Your browser does not support JavaScript!
 06 Mar 2019    11:00 WIB
Tegas Bukan Berarti Kasar, Para Orang Tua Harus Tau Nih!
Ketegasan merupakan sikap yang diperlukan dalam berperilaku dan juga berkomunikasi. Seseorang yang memiliki sikap dan cara berkomunikasi yang tegas mampu menyampaikan perasaan dan pikiran mereka dengan sikap pantas dan langsung tepat sasaran. Memiliki ketegasan adalah hal yang sangat penting terutama dalam mendidik anak. Dengan bersikap tegas para orangtua mampu mendidik anak menjadi pribadi yang lebih baik. Namun  kebanyakan orang tua sulit membedakan antara bersikap tegas dengan kasar. Untuk membantu Anda dalam memutuskan dalam bersikap, berikut adalah perbedaan antara tegas dan kasar: Bersikap tegas Bersikap tegas adalah kemampuan untuk mengekspresikan diri dengan lebih efektif, mampu mempertahankan pendapat sendiri namun juga mampu menghargai hak dan keyakinan orang lain. Ketegasan melibatkan semua keterampilan berkomunikasi yang Anda miliki, yaitu kata-kata, tindakan, bahasa tubuh, nada suara, dan ekspresi wajah. Ketika seseorang berkomunikasi dengan tegas, semua unsur ini bekerja secara harmonis. Singkatnya, ketegasan adalah percaya diri tanpa menjadi agresif. Hal ini berarti Anda sebagai orang tua harus mampu membuat peraturan yang nantinya harus dituruti oleh anak Anda. Namun dalam peraturan tersebut Anda harus memperhatikan kondisi anak Anda. Berikan anak Anda kesempatan dalam menjelaskan keadaanya mengapa dia sampai menyalahi sebuah aturan. Misal suatu saat anak Anda mendapatkan nilai yang terlalu bagus, padahal sebagai orang tua selalu mengharapkan anak-anaknya memiliki prestasi di kelas. Jangan langsung memarahi dia, tanyakan terlebih dahulu berikan dia kesempatan untuk menjelaskan. Bisa saja dia memiliki nilai jelek karena guru yang mengajar kurang kompeten, tidak memberikan kisi-kisi karena tidak ikut les atau mungkin kondisi tubuhnya yang kurang fit pada saat ujian. Berikan kesempatan untuknya menunjukkan bahwa dia mampu mendapat nilai yang baik pada ujian berikut. Sikap kasar Dalam sikap kasar tidak ada rasa menghormati terhadap orang lain seperti menghormati perasaan, keyakinan, dan juga pandangan mereka. Seseorang yang kasar cenderung akan bersikap sarkastis, marah, kejam. Saat bersikap kasar biasanya disertai dengan teriakan, bahasa ofensif, ancaman, gerakan mengintimidasi seperti menunjuk atau bahkan mendorong. Dalam kondisi ini, biasanya orang tua berkata kasar pada anak, tidak segan memukul dan melakukan hal buruk lain seperti tidak memberi makan malam atau memotong uang jajan. Anda memang boleh memberikan sedikit hukuman bila anak Anda berbuat salah namun bukan menyiksanya. Sikap kasar yang terlalu berlebihan dapat merusak mental anak, sehingga anak cenderung menjadi pribadi yang rentan akan depresi, menjadi pendiam atau mungkin menjadi seorang pemberontak. Perhatikan bahwa orang tua tegas selalu dapat mengendalikan kemarahan mereka. Saat anak berbuat salah, dapat dimengerti kenapa Anda merasa ingin marah. Namun sekali lagi orangtua yang tegas mampu menghargai perasaan anak. Berusahalah untuk mengendalikan kemarahan Anda, berikan dia kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Orang tua yang tegas mampu mengkritik sikap anak namun tidak menjatuhkan mental anak. Cara orang tua dalam mendidik yang tegas namun jauh dari kasar akan membentuk karakter anak menjadi pribadi yang lebih baik. Karakter anak yang terbentuk adalah tergantung bagaimana  orang tua mendidik dan membimbing anak. Baca juga: Ingin Anak Lebih Cerdas? Coba Tips Berikut Ini! Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: lifehack
 26 Jul 2018    11:00 WIB
7 Cara Mengajarkan Anak Anda Rasa Tanggung Jawab
1.      Berikan Tugas Memberikan anak berbagai tugas rumah tangga yang sesuai dengan usianya merupakan salah satu cara sederhana untuk mengajari anak Anda rasa tanggung jawab.   2.      Biarkan Anak Membuat Keputusan Sendiri Membiarkan anak Anda membuat keputusan sendiri dapat mengajarkan pada anak Anda rasa tanggung jawab dan membuat mereka menjadi lebih mandiri. Bila anak Anda masih kecil, maka Anda dapat membantunya dengan memberikan beberapa pilihan yang boleh ia lakukan dan biarkan ia yang memilih apa yang ingin dilakukannya.   3.      Ajarkan Anak Menjadi Lebih Mandiri Satu-satunya cara untuk membuat anak Anda memiliki rasa tanggung jawab dan lebih mandiri adalah dengan latihan. Dengan memberikan berbagai tugas sesuai dengan usianya, misalnya membiarkan anak memakai sendiri pakaiannya, dapat membuat anak menjadi lebih mandiri.   4.      Jadilah Teladan yang Baik Anak biasanya akan meniru perilaku orang tuanya. Jadi, bila Anda ingin mengajarkan rasa tanggung jawab pada anak Anda, maka Anda pun harus menunjukkan rasa tanggung jawab dan menjadi teladan yang baik bagi anak Anda. Beberapa hal yang dapat menunjukkan pada anak Anda bahwa Anda merupakan seseorang yang bertanggung jawab adalah dengan menepati setiap janji yang Anda buat atau datang tepat waktu.   5.      Gunakan Buku Cerita Anak Berbagai buku cerita anak mengandung banyak nilai moral yang baik bagi perkembangan psikologis seorang anak. Jadi, Anda dapat menggunakan buku cerita sebagai salah satu sarana untuk memberitahu anak Anda apa itu rasa tanggung jawab. Berbagai karakter dan situasi yang menarik dapat membuat anak Anda mampu mempertahankan perhatiannya. Selain itu, anak Anda mungkin tidak akan marah pada Anda karena ia tidak merasa sedang "dikuliahi" oleh Anda.   6.      Dampingi Anak di Masa Sulit Walaupun insting pertama Anda adalah untuk langsung melindungi dan memberitahu anak Anda apa yang harus dilakukannya, akan tetapi lebih baik bila Anda mendampinginya melalui masa sulit tersebut hingga ia pun memperoleh kesimpulan atau keputusannya sendiri. Biarkan anak Anda berpikir dan menyelesaikan permasalahannya sendiri, akan tetapi pastikan ia tahu bahwa Anda selalu mendukungnya.   7.      Beritahu Padanya Apa Manfaat Rasa Tanggung Jawab Tujuan akhir dari pengajaran Anda adalah untuk membuat anak Anda melakukan tanggung jawabnya karena ia memang ingin melakukannya, bukan hanya karena ia diminta untuk bersikap demikian. Oleh karena itu, jelaskanlah pada anak Anda bahwa dengan melakukan berbagai tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya maka keluarganya pun akan merasa sangat terbantu.   Sumber: sheknows
 22 Jul 2016    12:00 WIB
Tips Agar Anak Mau Makanan Sehat
Apakah anak Anda selalu menunjukkan tantrum saat di meja makan? Apakah anak Anda lebih memilih makanan yang tidak sehat? Sebagai orang tua terkadang kita tergoda untuk menyerah kepada tantrum anak. Tetapi bagaimana jika si anak hanya memilih junk food daripada makanan di rumah? Kebiasaan makan dibentuk sejak dini. Anda bisa melakukan kebiasaan baik di rumah agar anak tak lagi menolak makan makanan sehat. Cara ini bisa Anda lakukan agar anak mau makan sayur, buah, daging dan ikan, serta berbagai asupan sehat lainnya yang diperlukan untuk tumbuh kembangnya. Saat makan harus menjadi saat yang menyenangkan. Mempunyai waktu makan yang tetap Memperkenalkan satu jenis makanan setiap kali makan Jujur menceritakan tentang makanan yang Anda tawarkan kepadanya Hindari pemberian makanan yang terasa asin misalnya wafer, keripik dan kudapan  dalam kemasan lainnya Hindari minuman berkarbonasi Jangan jadikan makanan sebagai bagian dari disiplin, misalnya memberikan coklat sebagai hadiah saat si anak berhasil melakukan sesuatu. Makanlah bersama-sama dengan anak Anda, berikan contoh yang baik kepada anak Anda. Variasikan jenis makanan yang diberikan kepada anak Anda, semakin bervariasi makanan yang dimakan si anak, semakin kaya jenis nutrisi yang masuk ke tubuhnya. Buatlah makanan semenarik mungkin. Presentasi makanan sama pentingnya dengan kandungan nutrisi makanan tersebut. Presentasi makanan yang menarik akan menambah selera makan anak Anda. Utamakan kandungan nutrisi makanan Lakukan olahraga bersama anak Anda Bermain, misalnya saat Anda berbelanja, ajaklah anak Anda dan perkenalkan berbagai jenis buah-buahan dan sayuran. Agar anak Anda mau makan sehat juga sangat tergantung kepada Anda sendiri. Jika Anda sering memberikan junk food kepada anak Anda, maka dia akan memilih junk food dibanding makanan lainnya. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam memberikan makanan kepada anak Anda.Sumber: healthmeup
 06 Jan 2016    15:00 WIB
Menjadi Orang Tua Bahaya Bagi Kesehatan Anda, Masa Sih???
Tahukah Anda bahwa mengurus anak, keluarga, dan bekerja ternyata tidak hanya membuat para wanita merasa stress dan lelah tetapi juga dapat membuat usia mereka menjadi lebih pendek? Hal inilah yang mendorong para peneliti di Harvard University untuk mencari tahu apa sebenarnya hubungan antara peran ganda tersebut dengan banyaknya wanita yang meninggal sebelum berusia 75 tahun.   Baca juga: 5 Cara Merawat Anak Dengan ADHD   Pada penelitian ini, para peneliti menganalisis data riwayat pekerjaan, pernikahan, dan mengasuh anak dari sekitar 7.500 orang wanita di Amerika. Mereka kemudian menemukan bahwa resiko seorang wanita untuk meninggal di antara usia 55-75 tahun sangat bervariasi, tergantung pada riwayat pekerjaan, pernikahan, dan mengasuh anak. Wanita yang telah menikah dan memutuskan untuk kembali bekerja setelah merawat anaknya memiliki resiko kematian dini yang paling rendah, yaitu hanya sekitar 5%. Sementara itu, para ibu tunggal yang tidak pernah bekerja justru memiliki resiko kematian dini tertinggi, yaitu sekitar 12%. Resiko kematian dini pada wanita yang telah menikah tetapi tidak bekerja adalah kurang dari 7%, sedangkan bagi ibu tunggal yang bekerja, resiko kematian dini adalah sekitar 8%. Akan tetapi, para peneliti tidak menganalisis hubungan antara kematian dini pada wanita dengan berapa lama seorang wanita bekerja atau apakah mereka puas dengan kehidupannya di rumah. Para peneliti menemukan bahwa wanita yang hidup paling lama merupakan para wanita yang memiliki paling banyak dukungan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: health.harvard
 14 Oct 2015    12:00 WIB
Cara Mendisiplinkan Anak
Mendidik anak disiplin sangatlah penting untuk dilakukan oleh para orang tua. Dengan mendidiknya disiplin, hal itu berarti mempersiapkannya untuk terjun ke dunia luas yang cukup keras. Jika anak terbiasa dimanjakan dan sering berleha-leha, suatu saat dia akan mengalami shock saat harus berkecimpung di dunia sosial secara langsung. Berikut akan diberikan tips-tips mengenai cara membuat putra-putri Anda disiplin dan mengatasi saat mereka melawan Memberi hadiah setelah dia melakukan sesuatu yang baik Jika dia tiba-tiba berinisiatif membersihkan halaman rumah Anda atau membereskan kamarnya sendiri, coba berikan pujian. Anda bisa melakukannya dengan mengatakan “Wah, sekarang halamannya jadi lebih bagus sayang, terima kasih”. Hal tersebut akan membuatnya merasa dihargai dan kemungkinan besar akan mengulanginya lagi hal positif tersebut. Memberikan pujian untuk kebaikan yang dia lakukan lebih efektif untuk mendidiknya daripada menghukumnya saat dia salah. Buat aturan yang jelas Dengan memberikan aturan yang jelas, Anda bisa langsung memperingatkannya jika dia melakukan kesalahan. Beda halnya jika Anda tidak membuat peraturan tersebut, anak Anda tidak tahu mengenai hal tersebut dan Anda juga tidak memiliki wewenang yang kuat untuk menyalahkan dan membuatnya disiplin karena dia memang tidak mengetahui hal itu. Menghindari perdebatan Jika putra atau putri Anda ingin membela dirinya saat Anda menyalahkannya, cobalah untuk membuat jawaban yang tidak membuatnya terpojok. Di sisi lain, cobalah bertindak dengan mempertimbangkan yang dia rasakan. Seandainya ia berteriak “ini nggak adil!”, coba katakan “ya, ibu mengerti”. Dengan begitu, Anda sebagai orang tua tidak akan terkesan ingin menang sendiri dan putra putri Anda akan merasa lebih dimengerti dan tidak mendebat lagi. Tenangkan diri Anda ketika emosi Saat anak Anda ingin melakukan sesuatu yang menurut Anda kurang tepat dan membuat Anda sedikit marah, coba pergi sebentar dan tenangkan diri Anda. Mungkin Anda bisa mengatakan “Sepertinya aku kurang setuju. Nanti akan ku beritahu kalau sudah ku pertimbangkan.” Setelah tenang, coba ajak dia bicara dan katakan pendapat Anda serta beritahu dia konsekuensi dari apa yang akan dia lakukan. Anda tidak perlu marah, cukup jadikan hal itu permasalahan yang harus dihadapi anak Anda. Tetap konsisten dengan peraturan yang Anda buat Melihat putra-putri Anda senang tentu saja juga membuat Anda bahagia. Namun, jangan sampai hal ini membuat peraturan yang Anda buat mengendur. Jika dia bermain Play Station melebihi waktu yang ditentukan, jangan ragu untuk membuatnya disiplin. Mereka belum benar-benar bisa menghandle dan mengatur kegiatannya, dan Anda yang lebih mengetahui tentang hal itu. Buatlah perjanjian dengan anak Anda Ada baiknya si kecil juga ikut serta dalam menentukan konsekuensi apa yang akan didapatkan jika mereka berbuat salah atau tidak disiplin. Ingatkan tentang konsekuensi ini jika anak mulai tidak konsistem dengan kewajiban-kewajibannya. Jika anak melanggar, orangtua juga harus tegas dalam menjalankan konsekuensi tersebut. Disiplinkan diri Anda Satu cara yang paling mudah dilakukan untuk belajar adalah meniru. Orang tua adalah yang paling sering mereka temui dan amati setiap harinya, itulah mengapa perilaku anak tidak pernah jauh dari orang tuanya. Maka dari itu, coba berikan contoh yang baik, buat diri Anda disiplin terlebih dahulu sebelum mendisiplinkan putra-putri Anda. Jelaskan mengenai pentingnya sikap disiplin Jangan sampai anak Anda merasa terpaksa dalam menjalankan aturan-aturan yang Anda telah sepakati bersama. Secara perlahan, jelaskan pada si kecil mengenai pentingnya sikap disiplin baik dalam kehidupan mereka sendiri saat ini maupun untuk kedepannya saat mereka dewasa. Tanamkan pada anak mengenai disiplin sedini mungkin. Pasti akan lebih nyaman jika mereka mau menerapkan sendiri sikap disiplin tanpa paksaan. Dengan mendidik anak untuk disiplin, akan membiasakannya untuk hidup dengan bekerja keras. Hal tersebutlah yang akan mereka hadapi nanti. Jangan buai mereka dengan kemudahan-kemudahan karena hal itu hanya akan membuat mereka cengeng dan tidak tangguh. Baca juga: Cara Cegah Kekerasan Anak