Your browser does not support JavaScript!
 05 Jul 2019    08:00 WIB
Mengenal Apa Itu Diabetes Tipe 2
Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling sering terjadi. Tidak seperti diabetes tipe 1, pada diabetes tipe 2, terdapat insulin di dalam tubuh penderitanya. Akan tetapi, produksi insulin ini tidak mencukupi atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin ini dengan baik (resistensi insulin). Resistensi insulin merupakan suatu keadaan di mana tubuh membentuk insulin dalam jumlah yang cukup tetapi tubuh tidak dapat mengenali dan menggunakan insulin sebagaimana mestinya. Gangguan produksi maupun gangguan penggunaan insulin ini menyebabkan gula tidak dapat digunakan oleh sel-sel tubuh. Hal ini menyebabkan semua sel-sel tubuh tersebut tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Gangguan fungsi sel-sel tubuh dapat menyebabkan berbagai hal, yaitu: Dehidrasi. Peningkatan kadar gula di dalam darah membuat tubuh berusaha mengeluarkannya melalui air kemih, yang menyebabkan peningkatan frekuensi buang air kecil. Pengeluaran gula melalui ginjal ini juga menyebabkan pengeluaran air dalam jumlah besar dan mengakibatkan terjadinya dehidrasi Koma diabetikum hiperosmolar non ketotik. Gangguan ini terjadi bila penderita diabetes tipe 2 yang mengalami dehidrasi berat tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan cairannya. Komplikasi ini dapat membahayakan jiwa penderita Kerusakan berbagai organ dan pembuluh darah. Seiring dengan berlalunya waktu, tingginya kadar gula darah dapat menyebabkan kerusakan pada saraf dan pembuluh darah kecil di mata, ginjal, jantung, dan meningkatkan resiko terjadinya aterosklerosis (pengerasan dinding pembuluh darah akibat penumpukan lemak) pada pembuluh darah besar yang dapat menyebabkan terjadinya stroke dan serangan jantung Siapa Saja yang Beresiko ? Siapa saja dapat menderita diabetes tipe 2. Akan tetapi resiko ini meningkat pada: Orang yang menderita obesitas atau kelebihan berat badan Wanita yang memiliki riwayat diabetes gestasional Ada anggota keluarga yang menderita diabetes tipe 2 Penderita sindrom metabolic (suatu keadaan di mana terjadi peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL, penurunan kadar HDL, dan tekanan darah tinggi) Penuaan. Penuaan membuat berbagai sel tubuh mengalami penurunan toleransi terhadap gula Apa Penyebab Diabetes Tipe 2 ? Walaupun lebih sering terjadi daripada diabetes tipe 1, akan tetapi penyebabnya lebih tidak dimengerti. Hal ini disebabkan oleh banyaknya penyebab yang menyebabkan terjadinya diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 juga dapat diturunkan dalam keluarga, akan tetapi gen yang menyebabkan tidak diketahui. Gejala Diabetes Tipe 2 Gejala diabetes tipe 2 yang dialami oleh penderitanya dapat berbeda-beda. Gejala-gejala yang dapat ditemukan adalah: Peningkatan rasa haus Peningkatan rasa lapar, terutama setelah makan Mulut kering Mual dan kadang muntah Peningkatan frekuensi buang air kecil Badan terasa lemah dan mudah lelah Penglihatan kabur Mati rasa atau kesemutan pada tangan atau kaki Infeksi berulang pada kulit atau saluran kemih   Apakah Saya Menderita Diabetes ? Untuk mengetahui dan menentukan apakah anda menderita diabetes atau tidak, dokter biasanya menyarankan agar anda melakukan pemeriksaan darah, berupa kadar gula darah puasa dan kadar gula darah sewaktu. Komplikasi Diabetes yang Dapat Terjadi Komplikasi pada diabetes biasanya terjadi bila kadar gula darah tidak terkontrol dalam waktu yang cukup lama. Retinopati Retinopati merupakan kelainan pada mata yang terjadi akibat kerusakan pada saraf atau pembuluh darah mata. Penderita diabetes tipe 2 mungkin telah memiliki kelainan pada matanya yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Akan tetapi, tidak semua penderita diabetes mengalami gangguan penglihatan. Mengontrol kadar gula darah dan kolesterol tetap dalam batas normal merupakan salah satu cara pencegahan gangguan mata yang terbaik. Kerusakan Pada Ginjal Semakin lama anda telah menderita diabetes, maka semakin tinggi resiko anda menderita kerusakan pada ginjal. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal pada penderita diabetes lama. Kerusakan Saraf dan Gangguan Pada Pembuluh Darah Kerusakan pada saraf dan pengerasan dinding pembuluh darah dapat menyebabkan timbulnya mati rasa dan gangguan sirkulasi pada kaki. Hal ini menyebabkan peningkatan resiko terjadinya infeksi dan terbentuknya luka terbuka (ulkus), di mana luka sulit menyembuh dan meningkatkan kemungkinan tindakan amputasi. Kerusakan pada saraf dapat menyebabkan terjadinya gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, dan diare.   Sumber: webmd
 27 Oct 2018    11:00 WIB
Sudahkah Sobat Mengenali Jenis-Jenis Diabetes ?
Halo Sahabat, tahukah kalian apa itu Diabetes, yuk kita pelajari. Diabetes mellitus (DM) adalah salah satu penyakit kronis yang dikenal dengan sebutan umum yaitu penyakit kencing manis atau penyakit peningkatan gula darah yang disebabkan oleh gangguan pada kinerja insulin. Sedang insulin (hormon polipeptida) adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh Pankreas yang bertanggung jawab untuk mengontrol jumlah/kadar gula dalam darah dan insulin dibutuhkan untuk merubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi yang diperlukan tubuh manusia, untuk mengatur metabolisme karbohidrat dalam tubuh secara teratur. Jadi ketika seseorang terserang diabetes mellitus, ia tidak dapat memproduksi atau tidak dapat merespon hormon insulin yang dihasilkan oleh organ pankreas, sehingga kadar gula darah meningkat dan dapat menyebabkan komplikasi pada tubuh, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Pada dasarnya semua jenis diabetes mellitus memiliki kesamaan. Biasanya, tubuh anda memecah gula dan karbohidrat yang anda makan menjadi gula khusus yang disebut glukosa. Glukosa mengisi sel-sel dalam tubuh anda. Tetapi sel membutuhkan insulin, hormon, dalam aliran darah anda untuk mengambil glukosa dan menggunakannya untuk energi. Sedangkan diabetes mellitus, membuat tubuh anda tidak menghasilkan cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkannya, bisa juga  kombinasi keduanya. Karena sel-sel tidak dapat mengambil glukosa, sel-sel itu menumpuk di dalam darah anda. Sehingga Kadar glukosa darah menjadi tinggi dan dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal, jantung, mata, atau sistem saraf anda. Itu sebabnya jika diabetes tidak ditangani pada akhirnya dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, kebutaan, dan kerusakan saraf terutama saraf kaki. Sekarang mari kita selidiki lebih dalam jenis-jenis Diabetes: Pertama Diabetes tipe 1 atau disebut juga diabetes yang bergantung pada insulin (IDDM) insulin dependent diabetes mellitus .Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur, namun mayoritas pasien diabetes tipe satu adalah anak-anak   . Diabetes tipe 1 adalah kondisi autoimun. Ini disebabkan oleh tubuh yang menyerang pankreasnya sendiri dengan antibodi. Seseorang yang terkena diabetes tipe 1, pankreasnya rusak dan tidak dapat menghasilkan insulin. Jenis diabetes ini mungkin disebabkan oleh predisposisi genetic (faktor keturunan). Penderita diabetes tipe 1, mengalami beberapa kerusakan pada pembuluh darah kecil seperti di mata yang disebut (retinopati diabetik), saraf (neuropati diabetes), dan ginjal (nefropati diabetik). Bahkan yang lebih serius adalah peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke. Perawatan untuk diabetes tipe 1 melibatkan pengambilan insulin, yang perlu disuntikkan melalui kulit ke dalam jaringan lemak di bawah. Metode menyuntikkan insulin meliputi beberapa hal, yaitu : 1.Suntikan 2.Pena insulin yang menggunakan kartrid yang diisi sebelumnya dan jarum halus 3.Jet injector yang menggunakan udara bertekanan tinggi untuk mengirim semprotan insulin melalui kulit 4.Pompa insulin yang mengeluarkan insulin melalui selang fleksibel ke kateter di bawah kulit perut Memiliki diabetes tipe 1 memang membutuhkan perubahan gaya hidup yang signifikan seperti, Sering menguji kadar gula darah Anda secara efektif, terutama saat banyak makan atau saat setelah suntikan insulin, maka itu perlu memilih makanan dengan cermat dan tepat serta diimbangi dengan olah raga yang rutin. Penderita diabetes tipe 1 dapat menjalani kehidupan yang panjang dan aktif jika mereka memonitor glukosa mereka dengan hati-hati, menjalani gaya hidup yang sehat, dan mematuhi rencana perawatan. Kedua, Diabetes tipe 2, ini adalah bentuk diabetes yang paling umum, terhitung 95% kasus diabetes terdapat pada orang dewasa. Biasanya ini terdapat pada orang-orang yang kelebihan berat badan, karena kegemukan bisa menyebabkan resistensi pada insulin. Pada diabetes tipe 2, pankreas harus bekerja sangat keras untuk menghasilkan lebih banyak insulin. Walau pada akhirnya, tetap saja insulin yang dihasilkan tidak cukup untuk menjaga kadar gula dalam tubuh tetap normal. Hal ini terutama terjadi di bagian lemak, hati, dan sel-sel otot Diabetes tipe 2 sering merupakan bentuk diabetes yang lebih ringan daripada tipe 1. Namun demikian, diabetes tipe 2 masih dapat menyebabkan penyakit komplikasi, terutama menyerang pembuluh darah terkecil di tubuh yang menyebabkan gagal ginjal, rusak saraf, dan mata, juga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Sayangnya tidak ada obat untuk diabetes. Tetapi Diabetes tipe 2 dapat dikontrol dengan menjaga berat badan tetap normal, olahraga rutin, menjaga pola makan yang sehat, dan mengkonsumsi obat diabetes secara teratur. Yang terakhir adalah Diabetes Melitus Gestational (DMG), yaitu diabetes yang hanya terjadi pada masa kehamilan. Ini sering didiagnosis pada kehamilan tengah atau akhir. Karena kadar gula darah yang tinggi pada ibu disirkulasikan melalui plasenta ke bayi, diabetes gestasional harus dikontrol untuk melindungi pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam janin. Diabetes Gestational biasanya sembuh sendiri setelah kehamilan, kecuali jika si ibu memang ada riwayat Diabetes tipe 1 atau tipe 2. Memiliki diabetes gestasional menempatkan ibu pada risiko untuk mengembangkan diabetes tipe 2 di kemudian hari, maupun menimbulkan risiko terhadap perkembangan janin dan risiko kesehatan bayi yang baru lahir di kemudian hari. Resiko pada bayi adalah mengalami kenaikan berat badan abnormal sebelum kelahiran, organ pernapasan pun bermasalah saat lahir, mengalami penyakit kuning, bahkan cacat ataupun meninggal. Risiko untuk ibu termasuk membutuhkan operasi caesar karena bayi terlalu besar, serta kerusakan pada jantung, ginjal, saraf, dan mata. Disarankan Menjalani perawatan rutin semasa kehamilan dan konsultasi dengan dokter kesehatan Anda memang diperlukan namun juga perlu diseimbangkan dengan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang rendah lemak dan rendah kalori, seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian. Selain itu, Anda pun dianjurkan untuk mengonsumsi camilan yang bernutrisi dan memiliki nilai gizi yang cukup untuk ibu hamil, perhatikan juga porsi saat Anda makan. Olah raga ringan seperti senam hamil, jalan kaki, naik sepeda, ataupun berenang dan mengontrol kenaikan berat badan semasa kehamilan. Dan tahukan anda berdasarkan Data International Diabetes Federation (IDF) , jumlah penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan sebesar 10 juta dengan menempati urutan ketujuh tertinggi di dunia.  Dan Menurut data pada tahun 2015 dari Perkumpulan Endokrinologi (PERKENI) menyatakan bahwa jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia telah mencapai 9,1 juta orang. Indonesia disebut-sebut telah bergeser naik dari peringkat 7 menjadi peringkat ke 4 teratas, di tahun 2016 pun Indonesia masih berada di urutan ke 4 negara pengidap diabetes tertinggi di dunia setelah India, China, dan Amerika Serikat. Organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organisation) memperkirakan jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia akan terus melonjak, dari semula 8,4juta orang di tahun 2000 menjadi sekitar 21,3juta orang di tahun 2030. Secara garis besar itulah penjelasan tentang 3 jenis penyakit kronis diabetes mellitus, semoga masyarakat Indonesia makin menyadari betapa bahayanya penyakit Diabetes yang hari demi hari makin bertambah jumlah penderitanya dan mulai menjalani pola hidup sehat dari sekarang.   Sumber : www.webmd.com
 15 Apr 2018    16:00 WIB
Fakta Mengenai Diabetes Tipe 1
Ada dua tipe dari diabetes yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Walaupun keduanya dapat diterapi dengan obat-obatan dan insulin, diabetes tipe 1 bisa lebih berbahaya dibandingkan diabetes tipe 2.   Berikut adalah beberapa fakta mengenai diabetes tipe 1 yang harus Anda ketahui: Diabetes tipe 1 merupakan jenis penyakit autoimunPada kasus diabetes tipe 1, pankreas berhenti memproduksi insulin, yaitu hormon yang membantu Anda mendapatkan energi dari makanan yang Anda konsumsi. Pankreas mempunyai sel yang memproduksi insulin yang disebut sel beta dan ketika sistem imunitas tubuh menyerang sel ini, maka Anda akan terkena dibetes tipe 1. Tidak ada penyebab pasti mengapa hal tersebut bisa terjadi dan sampai saat ini belum ada pengobatan yang dapat mengobati dengan tuntas. Faktor genetik dan lingkungan mempunyai peranan penting dalam menyebabkan penyakit ini. Tidak seperti diabetes tipe 2, diabetes tipe 1 tidak disebabkan oleh pola makan ataupun gaya hidup Anda.   Bisa menyerang siapa sajaKarena diet dan gaya hidup tidak memiliki pengaruh apapun terhadap penyakit ini, siapa saja mulai dari anak-anak sampai orang dewasa dapat terkena penyakit ini. Seseorang yang terdiagnosa diabetes tipe 1 harus bergantung pada insulin seumur hidupnya. Setiap keterlambatan pemberian insulin akan mendatangkan konsekuensi yang mematikan.   Merupakan penyakit yang sangat sulit untuk ditanganikarena ketergantungan seorang penderita diabetes tipe 1 terhadap insulin, dosis pemberian insulin bisa menjadi sangat tinggi. Terkadang pemberian insulin harus melalui jalur infus atau dengan melakukan suntikan berkali-kali. Setiap hari membutuhkan perjuangan yang konstan dan perhatian yang penuh. Kekurangan insulin dapat menyebabkan kadar gula darah menurun drastis atau naik sangat tinggi dan menimbulkan reaksi fatal.   Tanda dan gejala banyak menyerupai diabetes tipe 2Selalu merasa kehausan, buang air kecil sering, pusing, rasa melayang, peningkatan nafsu makan, penurunan berat badan yang tiba-tiba, bau aseton, sering tidak sadar, adalah beberapa gejala dari diabetes tipe 1 dan 2. Diabetes tipe 1 tidak dapat disembuhkan oleh insulin dan perawatannya juga dapat sangat menyulitkan bagi keluarga karena akan sering berhubungan dengan unit gawat darurat dan perawatan intensif. Dengan obat-obatan dan perawatan yang sesuai, penderita diabetes tipe 1 dapat hidup secara normal walaupun memang akan membutuhkan banyak kerja keras dan usaha.   Sumber: magforwomen
 22 Feb 2017    18:00 WIB
Tingkatkan Konsumsi Kopi Harian Dapat Turunkan Resiko Diabetes
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan oleh jurnal Diabetologia mengungkapkan bahwa dengan meningkatkan konsumsi kopi harian Anda dapat melindungi Anda dari diabetes. Menurut para peneliti, mereka yang meningkatkan konsumsi harian kopi menjadi lebih dari satu cangkir perhari selama empat tahun ternyata memiliki resiko 11% lebih rendah terkena diabetes tipe 2. Hasil dari penelitian ini memperkuat penelitian yang sebelumnya sudah dilakukan mengenai kaitan konsumsi kopi dengan penurunan resiko diabetes. Para peneliti mengatakan perubahan konsumsi kopi, apakah itu meningkat atau menurun, mempunyai dampak terhadap resiko diabetes. Dengan membandingkan mereka yang tidak melakukan perubahan pola konsumsi kopi selama empat tahun, dengan mereka yang meningkatkan konsumsi kopi lebih dari satu cangkir perhari ternyata mereka yang meningkatkan konsumsi kopi perhari memiliki resiko 11% lebih rendah. Mereka yang menurunkan konsumsi kopi lebih dari segelas ternyata mengalami peningkatan resiko diabetes sebanyak 17%. Sebagai tambahan, para peneliti memeriksa resiko dan keuntungan yang berhubungan dengan minum kopi tanpa kafein dan tipe teh tertentu, dengan tujuan untuk menentukan apakah kafein memainkan peranan penting. Ternyata secara keseluruhan, para peneliti tidak melihat hubungan antara resiko diabetes dengan tipe minuman. Sedangkan untuk alasan mengapa kopi dengan kafein mampu melindungi kesehatan, para peneliti mengatakan jika kopi dengan kafein dapat mengikat nutrisi tertentu yang sangat menguntungkan tubuh sehingga baik untukmetabolisme dan kesehatan jantung pembulih darah. Tetapi kopi bukanlah minuman tanpa kekurangan. Walaupun penelitian terbaru menunjukkam banyaknya manfaat dari minum kopi, penelitian lain justru menemukan sisi negatif dari minuman ini, bahkan salah satu penelitian mengatakan bahwa kopi dapat meningkatkan kematian di usia muda. Semakin banyak Anda minum kopi, semakin tinggi pula resiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah. Kopi bukanlah obat untuk mencegah penyakit. Oleh karena itu untuk mendapat efek perlindungan dari kopi disarankan untuk minum tidak lebih dari 3 gelas kopi perhari. Dan tentu saja langkah terbaik untuk menghindari diabetes adalah dengan rajin berolahraga dan nutrisi yang baik.Sumber: foxnews
 25 Dec 2016    08:00 WIB
Diabetes Dapat Membuat Otak Mengecil?
Diabetes merupakan salah satu jenis penyakit kronis ternyata memberikan efek kerusakan di seluruh tubuh, dan peneliti juga menemukan sejauh mana kerusakan dapat terjadi. Para peneliti menemukan bahwa semakin lama seseorang mengidap diabetes dan tingkat kemarahannya ternyata dapat mengakibatkan kerusakan otak dan menurunkan kemampuan kognitif. "Kami menemukan pada pasien dengan diabetes berat ternyata mempunyai jaringan otak yang lebih sedikit, diduga karena mengalami atrofi otak" kata Dr. R. Nick Bryan, seorang  profesor di bagian radiologi  the Perelman School of Medicine di the University of Pennsylvania. Para peneliti menyimpulkan bahwa atrofi atau pengecilan otak terkait dengan diabetes. Diabetes diketahui dapat menyebabkan pengecilan pembuluh darah sehingga menyebabkan kematian sel atau organ tertentu. Mekanisme inilah yang menyebabkan kerusakan di pembuluh darah otak, menyebabkan otak kekurangan oksigen dan gangguan kognitif. Pada penelitian ini para peneliti menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) untuk mengukur besar otak dari 614 otak pasien yang mengidap diabetes melitus tipe 2. Para peneliti membandingkan ukuran otak setiap pasien dengan berat dan lamanya mereka mengidap diabetes. Rata-rata para pasien mengidap diabetes selama 10 tahun. Para peneliti menemukan sebagian besar penderita diabetes mengalami kerusakan otak, tetapi tidak banyak dari mereka yang mengalami lesi otak. Daerah yang paling banyak mengalami kerusakan adalah di grey matter, yang merupakan daerah otak yang bertanggung jawab memproses stimulasi dari tubuh. Para peneliti juga menyimpulkan lamanya durasi mengidap diabetes akan sangat mempengaruhi kejadian atrofi otak. Diabters diperkirakan menyerang 25,8 juta anak-anak dan orang dewasa atau 8% dari populasi. 90-95% dari angka tersebut merupakan pengidap diabetes tipe 2 yang disebabkan karena kekurangan insulin atau karena ketidakmampuan tubuh memproduksi insulin sesuaijumlah yang dibutuhkan. Sumber: medicaldaily
 26 Jul 2016    15:00 WIB
Obesitas dan Kekurangan Vitamin D Tingkatkan Resiko Diabetes
Menurut penelitian terbaru, obesitas dan kadar vitamin D yang rendah didalam tubuh akan meningkatkan resiko diabetes. Obesitas memang sudah lama diketahui sebagai salah satu faktor resiko dari diabetes. Ternyata kadar vitamin D yang rendah juga dapat menjadi penyebab terjadinya diabetes. Saat kedua kondisi tersebut berlangsung secara bersamaan maka akan meningkatkan tingkat resistensi dari insulin lebih hebat lagi. Penelitian ini sudah dipublikasikan di jurnal Diabetes Care. Penelitian ini melibatkan hampir 6.000 orang. Peneliti menemukan bahwa orang dengan obesitas dengan kadar vitamin D yang sehat didalam tubuh memiliki resiko 20 kali lebih besar mengalami resistensi insulin dibandingkan dengan orang didalam populasi umum. Bagaimanapun resiko dari resistensi insulin pada orang obesitas dengan kadar vitamin D lebih rendah 32 kali lebih tinggi dari normal. Insufisiensi vitamin D dan obesitas merupakan faktor resiko yang bersifat individual untuk resistensi insulin dan diabetes. Hasil dari penelitian mengkombinasikan kedua faktor ini yang menghasilkan rasio dari resistensi insulin menjadi lebih besar dibandingkan kondisi yang diharapkan. Para ahli merasa jika hasil studi ini diterima, maka sebagian besar dari populasi penderita diabetes dapat mempertahankan kadar gla darah tanpa obat-obatan, cukup dengan menerima suntikan vitamin D secara teratur. Walaupun negara kita kaya dengan sinar matahari dan juga susu, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak penduduk yang mengalami defisiensi vitamin D. Para peneliti yakin bahwa vitamin D akan mengurangi faktor resiko dari diabetes, tetapi tidak dengan penyebab dari diabetes. Pada tahap awal diabetes atau mereka yang memiliki riwayat keluarga diabetes, pengawasan asupan vitamin D mungkin akan membantu menghindari atau memperlambat terjadinya diabetes. Lebih dari 35% pasien yang harus menjalani operasi bariatrik karena diabetes tipe 2 mengalami defisiensi vitamin D. setelah selesai operasi, status vitamin D mereka juga akan dikoreksi menggunakan suplemen vitamin D. hal ini akan menjadi sumber penelitian menarik berikutnya bagaimana vitamin D dapat mempengaruhi waktu pemulihan paska operasi untuk penderita diabetes tipe 2.   Sumber: healthmeup
 20 Jul 2016    08:00 WIB
Bahaya Soda Untuk Ginjal
Siapa yang tidak suka minum minuman ringan bersoda? Meminum minuman ini saat di tengah terik matahari, rasanya amat menyegarkan. Mendapatkan minuman ini pun mudah, minuman bersoda tersedia di kios penjual rokok, restoran, hingga kafe. Namun tahukah Anda apa bahaya minuman semacam ini bila dikonsumsi secara berlebihan? Ternyata cukup 2 kaleng soda dalam sehari dapat membuat ginjal Anda rusak. Jika selama ini kasus yang ada menunjukkan bahwa mengonsumsi minuman bersoda hingga berliter-liter setiap hari bisa berujung pada kematian. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa minum dua kaleng minuman soda sehari sudah bisa menyebabkan kerusakan ginjal Hasil ini didapatkan peneliti di University of Japan setelah mengamati 12.000 karyawan melalui tes urine. Hasilnya menunjukkan bahwa karyawan yang minum dua kaleng minuman soda atau lebih dalam sehari memiliki lebih banyak protein pada urine mereka, dibandingkan dengan karyawan yang meminum sedikit minuman soda atau tidak sama sekali. Adanya protein pada urine adalah pertanda vital adanya kerusakan ginjal. Sekitar 11 persen karyawan yang mengonsumsi banyak minuman ringan diketahui memiliki protein pada urine mereka saat menjalani tes lanjutan selama tiga tahun. Hasil ini tentunya menunjukkan bahwa mengonsumsi minuman bersoda bisa meningkatkan risiko kerusakan ginjal. Namun peneliti menjelaskan bahwa adanya protein pada urine merupakan gejala awal dan masih bisa dirawat atau disembuhkan jika orang tersebut segera memeriksakan diri ke dokter dan mengurangi konsumsi minuman sodanya. Penelitian lain yang dilakukan oleh tikus juga menunjukkan bahwa mengonsumsi fruktosa terlalu banyak bisa berpengaruh buruk terhadap ginjal. Penelitian juga menjelaskan bahwa adanya protein pada urine merupakan tanda awal dari penyakit jantung, stroke, dan gagal jantung. Konsumsi soda yang meningkatkan penyerapan garam oleh sel pada ginjal juga bisa berujung pada diabetes, obesitas, gagal ginjal, dan tekanan darah tinggi, seperti diungkap oleh peneliti di case Western reserve University. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahkan orang yang memiliki ginjal normal juga bisa mengalami risiko kerusakan ginjal jika terlalu banyak minum soda. Jika Anda sering minum soda, bahkan lebih dari dua kaleng sehari, sebaiknya segera periksakan diri dan lakukan check up untuk mengetahui kesehatan ginjal. Akan sangat baik untuk mencegah dan merawat ginjal sejak dini sebelum terlambat. Selain itu minuman soda juga berpengaruh pada organ tubuh lain: Kelebihan gula yang berkontribusi terhadap kelebihan berat badan, yang juga dapat menyebabkan penyakit diabetes mellitus tipe 2, serangan jantung, stroke, dan kanker. Orang yang mengonsumsi minuman soda secara rutin juga berpotensi meningkatkan risiko munculnya batu ginjal, dan penyakit jantung. Kafein, yang ditambahkan ke dalam kebanyakan minuman soda, juga menimbulkan kecanduan. Kafein juga meningkatkan pembuangan kalsium. Pewarna buatan dalam soda juga menyebabkan penyakit gatal, asma, dan reaksi alergi lainnya pada beberapa orang. Ahli kesehatan gigi terus mendorong orang untuk mengurangi konsumsi minuman bersoda, khususnya saat makan, untuk mencegah kerusakan gigi (karena gula), dan erosi gigi (karena asamnya). Baca juga: Minuman Soda Itu Ternyata Pembunuh!
 19 Jul 2016    11:00 WIB
Lingkar Pinggang Dapat Memperkirakan Usia Harapan Hidup
Ternyata ada langkah mudah yang bisa Anda lakukan di rumah yang berguna untuk skrining cepat kondisi kesehatan Anda. Cukup dengan menggunakan pita pengukur. Lingkar pinggang adalah pengukuran sederhana yang akan menunjukkan banyak mengenai usia harapan hidup Anda. Bahkan faktanya analisis poling yang dilakukan terhadap 650.000 orang dewasa menemukan bahwa ukuran lingkar pinggang merupakan ukuran penting ketika Anda ingin mengetahui kondisi kesehatan Anda sebenarnya. Hasil dari pengukuran ini sendiri bersifat independen, sama seperti usia, BMI, aktivitas fisik, riwayat merokok dan penggunaan alkohol. Secara spesifik, data ini menunjukkan bahwa pria dengan lingkar pinggang 110cm ternyata memiliki resiko kematian lebih besar dibandingkan pria yang memiliki lingkar pinggang 95cm. untuk wanita dengan ukuran lingkar pinggang 95cm memiliki resiko 80% lebih besar mengalami kematian dibandingkan wanita yang memiliki lingkar pinggang 70cm. Perkiraan usia harapan hidup akan terus menurun seiring dengan semakin besarnya lingkar pinggang. Lingkar pinggang yang besar merupakan tanda adanya penimbunan lemak di daerah perut, yang berhubungan dengan obesitas. Berbagai penyakit yang terkait dengan obesitas misalnya saja diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, trigliserida tinggi, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung koroner. Apakah Anda sudah tahu caranya mengukur lingkar pinggang? Berikut adalah caranya:  Temukan tulang pinggul di perut Anda Lingkarkan pita pengukur disekitar tubuh Anda setinggi tulang pinggul Anda.  Pita pengukur harusnya paralel dengan lantai. Santai, tarik nafas dan bacanya hasil pengukuran. Jika Anda tidak puas dengan hasilnya, cobalah untuk berikir positif dan melakukan tindakan untuk mengubahnya. Aktif secara fisik, pola makan sehat dan menjaga porsi makan dengan baik akan sangat berpengaruh pada lingkar pinggang Anda dan untuk kesehatan Anda secara menyeluruh.   Sumber: mayoclinic
 21 Jun 2016    15:00 WIB
Penanganan Diabetes Tipe 2 Saat Berpuasa Part 2
Bagi penderita diabetes tipe 2 dengan kadar gula darah yang terkendali baik hanya dengan mengubah pola makan, maka resiko terjadinya gangguan kesehatan tertentu saat berpuasa cukup rendah. Akan tetapi, mereka tetap saja memiliki resiko untuk mengalami hiperglikemia setelah sahur dan berbuka puasa, apalagi bila penderita makan secara berlebihan. Membagi porsi makan menjadi 2-3 kali setiap harinya saat berbuka dapat membantu mencegah terjadinya hiperglikemia. Selain itu, penderita juga dianjurkan untuk tetap berolahraga tetapi dengan intensitas yang lebih ringan dan waktu yang lebih singkat untuk mencegah terjadinya hipoglikemia. Waktu berolahraga juga harus diubah, yaitu 2 jam setelah berbuka puasa. Pada orang lanjut usia yang juga menderita diabetes tipe 2 tetapi tetap ingin berpuasa, maka mereka mungkin memilliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita trombosis (terbentuknya bekuan darah di dalam pembuluh darah).   Bila Penderita Menggunakan Insulin Masalah yang akan dihadapi oleh para penderita diabetes tipe 2 yang menggunakan insulin sama dengan yang akan dihadapi oleh para penderita diabetes tipe 1, hanya saja dengan resiko hipoglikemia yang lebih renah. Tujuannya adalah menjaga kadar insulin basal tetap sesuai dengan kebutuhan dan untuk mengatasi resistensi insulin yang telah ada. Jadi, diperlukan kombinasi antara insulin kerja sedang hingga panjang serta insulin kerja pendek yang diberikan sebelum makan (saat sahur dan berbuka puasa). Walaupun resiko terjadinya hipoglikemia memang lebih rendah, akan tetapi bukan berarti penderita yang menggunakan insulin terbebas dari resiko, terutama bila penderita tersebut telah menggunakan terapi insulin selama bertahun-tahun. Resiko terjadinya hipoglikemia ini terutama paling tinggi pada para penderita diabetes tipe 2 yang telah berusia lanjut. Penderita diabetes tipe 2 yang menggunakan insulin tetapi tetap ingin berpuasa dianjurkan untuk menggunakan kombinasi antara insulin kerja panjang, sedang, dan pendek. Di mana insulin kerja panjang akan disuntikan 2 kali sehari sebelum berbuka dan sahur. Satu suntikan insulin kerja sedang sebelum berbuka puasa. Akan tetapi, beberapa orang penderita mungkin juga membutuhkan suntikan insulin kerja pendek sebelum berbuka puasa untuk mengatasi kelebihan kalori yang dikonsumsi saat berbuka puasa dan sebelum sahur.   Sumber: diabetesjournals
 05 Jun 2016    11:00 WIB
Kurus Pasti Bebas Lemak?
Orang yang berbadan kurus belum tentu terbebas dari lemak jahat.  Para dokter khawatir akan muncul asumsi salah dari orang-orang berbadan kurus yang merasa mereka sehat-sehat saja karena tidak kelebihan berat badan. Padahal keadaan bisa sebaliknya. Beberapa dokter sekarang berpendapat bahwa lemak yang ada di dalam tubuh disekitar organ-organ vital seperti jatung, liver dan pankreas adalah sama berbahayanya dengan lemak yang terlihat di tubuh bagian luar yang menonjol di bawah kulit. Menurut data-data yang ditemukan, orang-orang yang menjaga berat ideal tubuhnya dengan berdiet makanan namun tanpa berolahraga, cenderung memiliki timbunan lemak yang besar di dalam tubuhnya, bahkan meski mereka bertubuh langsing sekalipun. "Konsep keseluruhan tentang pengertian gemuk perlu dijelaskan ulang," ungkap Dr. Bell yang penelitiannya didanai oleh Britain's Medical Research Council (Dewan Penelitian Medis Inggris). Dari hasil scan MRI tersebut didapati pula bahwa orang yang mempunyai skor BMI (Body Mass Index) normalpun bisa menunjukkan kadar lemak yang cukup mengejutkan dalam tubuhnya. Sebanyak 45 persen wanita dengan skor BMI normal diketahui memilik kelebihan lemak di dalam tubuhnya. Sementara untuk pria angka tersebut mencapai lebih dari 55 persen. Para ilmuwan meyakini bahwa secara alami tubuh akan cenderung menumpuk lemak di perut. Dan pada kondisi tertentu, tubuh akan menyimpannya di mana saja bahkan sampai menutupi organ internal tubuh. Para dokter berpendapat jika lemak menutupi organ tubuh maka secara langsung akan mengganggu kerja organ tubuh tersebut, sehingga dalam jangka panjang bisa berakibat fatal. Lemak yang menutupi organ internal tubuh dapat mengirimkan sinyal kimiawi yang salah, terutama jika menutupi organ penting seperti liver dan pankreas. Kondisi ini dapat memicu gangguan fungsi insulin dan mengakibatkan penyakit diabetes hingga jantung. Para dokter tidak yakin secara persis akan bahaya timbunan lemak di dalam organ tubuh, tetapi sebagian dari mereka menduga kondisi tersebut dapat terkait dengan bahaya penyakit diabetes dan jantung. Teori mereka adalah lemak di dalam organ tubuh dapat mengganggu sistem kerja tubuh secara keseluruhan. Lemak yang menyelubungi organ internal dapat mengirimkan sinyal kimiawi yang salah untuk menimbun lemak dalam organ-organ seperti di liver atau pankreas. Kondisi ini pada akhirnya beresiko akan gangguan insulin, diabetes tipe 2 atau penyakit jantung. Untungnya aktivitas fisik seperti berolahraga dan diet sehat secara efektif dapat mengurangi timbunan lemak yang menumpuk di dalam tubuh, terutama pada organ internal tubuh. Jika Anda ingin terlihat langsing sekaligus sehat, maka olahraga dan diet sehat harus menjadi bagian dari hidup Anda.   Sumber: dailynews