Your browser does not support JavaScript!
 01 Sep 2016    18:00 WIB
Depresi Dapat Diketahui Melalui Pemeriksaan Darah, Benarkah?
Dengan melakukan pemeriksaan darah, Anda dapat mengetahui bagaimana keadaan kesehatan Anda, mulai dari kadar kolesterol darah Anda hingga kadar hormonal Anda. Tidak lama lagi, mungkin ada gangguan kesehatan lainnya yang dapat diketahui hanya dengan melakukan pemeriksaan darah, yaitu gangguan depresi. Saat ini, para peneliti sedang mengembangkan suatu pemeriksaan darah yang dapat mengidentifikasi gangguan mood ini.  Selama bertahun-tahun, para dokter telah mendiagnosa para penderita depresi dengan menanyakan penderita berbagai macam pertanyaan untuk mengetahui seberapa sering dan beratnya gejala depresi yang dialami oleh penderita. Beberapa gejala depresi yang dapat ditemukan adalah merasa sedih, perubahan pola tidur atau pola makan, dan merasa sangat lelah. Kendalanya adalah gejala yang dialami oleh penderita seringkali hampir mirip atau tertutupi oleh gejala gangguan kesehatan fisik atau mental lainnya. Selain itu, para dokter juga harus bergantung pada pandangan penderita untuk mengetahui apakah gejala yang mereka alami benar-benar merupakan gejala depresi.  Pada pemeriksaan darah baru ini, akan dilakukan pemeriksaan terhadap suatu biomarker khusus di dalam darah yang disebut dengan RDA marker, suatu molekul pembawa pesan suatu kode genetika DNA tertentu.  Pada sebuah penelitian baru-baru ini, para peneliti menemukan bahwa orang yang menderita depresi dan yang tidak menderita depresi memiliki suatu RDA marker khusus. RDA marker ini dapat membedakan seorang penderita depresi dan bukan seorang penderita depresi (orang dewasa) dengan keakuratan hingga 72-80%, yang mana sama dengan cara diagnosa yang telah sering dilakukan saat ini (bertanya secara langsung pada penderita). Selain itu, pemeriksaan darah ini juga dapat membedakan penderita mana yang akan berespon terhadap terapi kognitif, suatu terapi konseling untuk mengatasi depresi. Para peneliti mengatakan bahwa pemeriksaan darah ini tetap tidak dapat menggantikan pemeriksaan langsung dokter-pasien yang telah dilakukan hingga saat ini. Pemeriksaan ini hanya bertujuan sebagai pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosa.  Baca juga: Dapatkan Tubuh Langsing Singset Dengan Panduan Diet Sesuai Golongan Darah Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: womenshealthmag
 01 Sep 2016    12:00 WIB
Mengapa Tekanan Darah Perlu Diukur Pada Kedua Tangan?
Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang memiliki tekanan darah yang berbeda pada kedua tangannya (tangan kanan dan kiri) memiliki resiko penyakit jantung yang lebih tinggi. Pada penelitian ini, para peneliti menganalisis tekanan darah dari sekitar 3.300 orang, yang berusia 40 tahun atau lebih di Amerika. Penelitian ini hanya memfokuskan pada tekanan darah sistolik, yaitu angka pertama pada hasil pengukuran tekanan darah. Orang yang memiliki tekanan darah sistolik yang berbeda sekitar 10 mmHg atau lebih di antara kedua tangannya memiliki resiko penyakit jantung dan pembuluh darah yang lebih tinggi (sekitar 38%). Mereka dapat mengalami serangan jantung atau stroke dalam kurun waktu 13 tahun dibandingkan dengan orang yang memiliki perbedaan tekanan darah yang lebih sedikit di antara kedua tangannya. Hasil penelitian ini bahkan tetap berlaku setelah para peneliti memperhitungkan juga berbagai faktor lainnya yang dapat mempengaruhi kesehatan jantung seseorang, seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol darah yang tinggi, dan diabetes. Hasil penelitian ini membuat para dokter harus mulai mempertimbangkan untuk mengukur tekanan darah seseorang pada kedua tangannya. Sebuah penelitian lainnya yang dilakukan pada tahun 2012 menemukan adanya suatu hubungan antara perbedaan tekanan darah sistolik pada kedua tangan dengan peningkatan resiko terjadinya gangguan pembuluh darah perifer (tepi) atau peripheral artery disease (PAD), yaitu suatu keadaan di mana terjadi penyempitan pembuluh darah pada anggota gerak (tangan dan kaki). Baca juga: Turunkan Tekanan Darah Anda Dengan Mengkonsumsi Makanan Ini… Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang Sumber: foxnews
 13 Jul 2015    12:00 WIB
Tips Untuk Mencegah Terjadinya Tekanan Darah Tinggi
Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang cukup sering ditemukan, terutama bila Anda juga menderita diabetes. Sebenarnya terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah terjadinya tekanan darah tinggi atau menjaga tekanan darah Anda tetap berada dalam batas normal bila telah menderita tekanan darah tinggi. Di bawah ini, Anda dapat melihat beberapa tips untuk mencegah terjadinya tekanan darah tinggi.   Konsumsi Diet Sehat dan Seimbang Secara umum tidak ada pantangan yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya hipertensi. Yang terpenting adalah membatasi jumlah konsumsi makanan tertentu dan lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, gandum, dan susu rendah lemak. Konsumsi lebih banyak air putih, serat, dan mineral seperti kalsium, kalium, dan magnesium juga baik untuk menjaga tekanan darah yang sehat.   Batasi Konsumsi Garam Batas maksimum konsumsi garam per hari adalah sekitar 2.300 mg (setara dengan 1 sendok teh). Rekomendasi dari AHA (American Heart Association) adalah sekitar 1.500 mg/hari.   Olahraga Teratur Berolahraga paling tidak 30 menit setiap harinya dapat mencegah penumpukan lemak di dalam tubuh sehingga tekanan darah pun tetap normal. Secara umum, seseorang yang memiliki aktivitas fisik yang aktif, memiliki resiko terkena hipertensi yang lebih rendah, yaitu sekitar 20-50% lebih rendah.   Jaga Berat Badan Ideal Kelebihan berat badan dapat meningkatkan resiko terjadinya hipertensi hingga 2-6 kali lipat. Oleh karena itu, menurunkan berat badan hingga mencapai berat badan ideal merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya hipertensi.   Hindari Stress Berusahalah untuk menghindari hal-hal yang membuat Anda merasa stress, walaupun hal ini mungkin agak sulit dilakukan di zaman modern seperti sekarang ini. Sisihkanlah sejumlah waktu untuk bermeditasi, yoga, atau rekreasi bersama keluarga, yang mungkin dapat membantu mengurangi rasa stress yang Anda rasakan.   Berhenti Merokok dan Jangan Konsumsi Minuman Beralkohol Merokok dan sering mengkonsumsi minuman beralkohol dapat meningkatkan resiko terjadinya tekanan darah tinggi dan gangguan jantung. Oleh karena itu, akan lebih baik bila Anda tidak mengkonsumsi keduanya.   Baca juga: Bahaya Tekanan Darah Tinggi Pada Jantung dan Pembuluh Darah   Sumber: americanheartassociation
 14 Dec 1901    04:05 WIB
Siapa Saja Yang Berisiko Terinfeksi Hepatitis C?
Hepatitis C kronis adalah infeksi hati disebabkan oleh virus hepatitis C dalam waktu yang cukup lama. Seseorang yang mengalami infeksi sejak 6 bulan pertama disebut dengan hepatitis akut. Pada kebanyakan orang yang mengidap hepatitis C akut hingga 80% akan berlangsung menjadi penyakit hepatitis C kronis. Faktor risiko Hepatitis C Kebanyakan orang terinfeksi dengan virus hepatitis C ketika darah dari orang yang terinfeksi Hepatitis C masuk ke dalam tubuh mereka. Hal ini sering terjadi ketika orang berbagi jarum saat menggunakan obat-obatan atau lahir dari seorang ibu yang memiliki hepatitis C. Selain itu Anda juga dapat terinfeksi Hepatitis C akibat melakukan hubungan seks dengan seseorang yang memiliki virus. CDC merekomendasikan agar seseorang melakukan pemeriksaan Hepatitis C bila: Anda menerima darah dari donor yang kemudian ditemukan mereka mengidap hepatitis C. Anda pernah menggunakan narkoba melalui suntikan Anda menerima transfusi darah atau transplantasi organ sebelum Juli 1992. Anda menerima produk darah yang digunakan untuk mengobati masalah pembekuan sebelum tahun 1987. Anda lahir antara tahun 1945 dan 1965. Anda melakukan cuci darah dalam jangka waktu yang lama Seseorang yang mengidap HIV. Seseorang yang lahir dari seorang ibu dengan hepatitis C. Sejak Juli 1992, semua darah dan organ yang didonorkan di negara Amerika dilakukan pengujian adanya virus hepatitis C. Menurut CDC, sejak saat itu terjadi penurunan jumlah infeksi hepatitis C hingga 90%.   Sumber: webmd