Your browser does not support JavaScript!
 24 Sep 2018    11:00 WIB
Efek Cedera Kepala Pada Kemampuan Fisik Anda
Pada sebagian besar kasus, penderita dapat sembuh dengan sempurna paska cedera kepala. Akan tetapi, pada beberapa kasus lainnya, dapat terjadi gejala fisik sisa paska cedera kepala. Di bawah ini Anda dapat melihat beberapa gejala fisik sisa yang mungkin terjadi paska cedera kepala.   Kemampuan Bergerak Kemampuan Anda untuk bergerak dapat terganggu paska cedera kepala. Pergerakan Anda mungkin menjadi sangat lambat dan keseimbangan Anda dapat terganggu. Beberapa orang mungkin akan membutuhkan kursi roda atau alat bantu lainnya karena gangguan koordinasi otot atau keseimbangan, yang membuat mereka tidak dapat berjalan tanpa bantuan.   Kekakuan Otot Anggota gerak Anda mungkin akan terasa kaku atau lemah dan membatasi ruang gerak Anda. Kadangkala, hanya salah satu sisi tubuh yang terkena. Hal ini tergantung pada bagian otak yang mengalami cedera. Kekakuan otot dapat menimbulkan rasa nyeri atau tidak nyaman. Segera cari pertolongan medis bila Anda mengalami hal ini.   Kelemahan Atau Kelumpuhan Otot Kelemahan atau kelumpuhan otot seringkali hanya mengenai salah satu sisi tubuh. Hal ini disebut dengan hemiplegia dan merupakan hal yang biasa terjadi pada orang yang menderita stroke. Keadaan ini akan membuat penderita membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan berbagai aktivitasnya, termasuk saat mandi atau berpakaian. Kelemahan otot juga dapat menyebabkan penderita tidak dapat menahan keinginan untuk buang air kecil atau buang air besar.   Baca juga: Dampak Cedera Kepala Pada Kemampuan Berpikir Seseorang   Ataksia Ataksia merupakan gerakan tidak terkendali, tidak teratur, atau gemetar yang menyebabkan gangguan koordinasi otot untuk bergerak. Tangan penderita mungkin tampak gemetar atau kaku dan menulis dapat menjadi sangat sulit atau bahkan tidak memungkinkan.   Gangguan Sensoris Cedera kepala mungkin akan membuat indera peraba Anda menjadi berkurang atau menghilang atau justru menjadi berlebihan. Penderita juga mungkin akan mengalami kesulitan untuk mengetahui di mana kakinya berada bila tidak melihatnya secara langsung. Penglihatan juga dapat terganggu dan mungkin tidak dapat diperbaiki oleh penggunaan kacamata. Penderita juga dapat memiliki posisi tubuh yang aneh atau cara berjalan yang aneh. Kemampuan indera perasa atau penciuman juga dapat terganggu atau hilang, baik dalam jangka pendek atau jangka panjang.   Fatigue Rasa lelah berlebihan juga sering dialami oleh orang yang baru saja mengalami cedera kepala, termasuk pada cedera kepala ringan. Memakai pakaian atau berjalan dapat terasa sangat sulit paska cedera kepala. Oleh karena itu, dianjurkan untuk beristirahat selama sejangka waktu dan sepanjang beraktivitas hingga keluhan dirasa membaik.   Kesulitan Berbicara Berbicara menjadi lambat, tidak jelas, atau lebih cepat juga sering terjadi paska cedera kepala. Pada awalnya, pembicaraan penderita mungkin sulit untuk dimengerti. Beberapa orang penderita dapat kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Akan tetapi, hal ini bukan berarti mereka telah kehilangan kecerdasannya.   Epilepsi Cedera kepala juga dapat membuat sejumlah orang lebih mudah mengalami kejang epilepsi. Dokter biasanya akan memberikan obat anti kejang selama beberapa tahun untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kekambuhan.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: headway
 27 Jun 2018    08:00 WIB
Mengenal Apa Itu Vertigo Posisional
Apakah vertigo posisional itu?Vertigo posisi atau Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) merupakan gangguan yang sering terjadi yang menimbulkan episode-episode singkat vertigo pada perubahan posisi kepala yang menstimulasi kanalis semisirkularis posterior di telinga bagian dalam. •  Seseorang tiba-tiba merasa dirinya atau lingkungan sekitarnya berputar ketika ia menggerakan kepalanya•  Seseorang dapat merasa mual dan muntah, serta bola matanya dapat bergerak abnormalVertigo merupakan suatu sensasi berputar yang khas. Seseorang dengan vertigo akan merasa dirinya, lingkungannya, atau keduanya bergerak atau berputar. Apakah penyebab dari vertigo posisional?Perubahan posisi kepala, terutama saat membalikkan kepala di bantal saat hendak bangun tidur pagi hari, atau saat mendongakkan kepala saat meraih rak tinggi, merupakan pemicu paling banyak terjadinya serangan ini. BPPV biasanya terjadi karena partikel kalsium yang normalnya terjapat pada bagian tertentu di telinga bagian dalam (utrikulus dan sakulus) berpindah ke bagian lain di telinga bagian dalam (yaitu ke kanalis semisirkularis posterior). Apa saja gejala dari vertigo posisional?Pada BPPV akan terjadi episode-episode singkat vertigo. Seseorang dengan vertigo akan merasa dirinya, lingkungannya, atau keduanya bergerak atau berputar. Vertigo jenis ini dapat menakutkan, tetapi biasanya tidak berbahaya dan hilang dengan sendirinya. Serangan dapat disertai dengan rasa mual, muntah, dan gerakan abnormal bola mata tertentu (nystagmus). Episode vertigo dimulai 5-10 detik setelah gerakan kepala dan berlangsung kurang dari satu menit. Serangan biasanya mereda dengan sendirinya dalam waktu beberapa minggu. Terkadang, serangan dapat menetap untuk beberapa bulan dan dapat menyebabkan dehidrasi karena adanya mual dan muntah. Tidak terjadi bising (tinitus) atau hilangnya pendengaran. Apa saja pengobatan untuk vertigo posisional?BPPV mudah untuk diobati. Partikel-partikel dapat dikeluarkan dari kanalis semisirkularis posterior dan kembali ke tempat asalnya. Reposisi partikel ini dibuat dengan melakukan manuver Epley. Manuver ini segera menyembuhkan vertigo pada sekitar 90% penderita. Pengulangan manuver ini dapat menyembuhkan sekitar 5% penderita lainnya. Pada beberapa orang, vertigo dapat muncul kembali. Jika hal ini terjadi, manuver ini dapat kembali dilakukan. Seseorang dapat diajari untuk melakukan manuver ini sendiri di rumah jika seandainya vertigo muncul kembali. Pada sekitar 5% penderita yang tidak sembuh dengan manuver ini, dapat diberikan obat-obatan. Pada kasus yang jarang, pembedahan diperlukan. Terkadang kanalis horizontal terkena, dan berguling seperti batang kayu dapat mengurangi gejala. Ingin mengetahui tentang pengobatan vertigo posisional menggunakan kursi epley? Silahkan baca di sini Baca juga: Latihan untuk mengatasi Vertigo Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang
 28 Jun 2017    15:00 WIB
Jatuh Dapat Sebabkan Cedera Kepala Berat Pada Anak, Benarkah?
Sebuah penelitian baru pada lebih dari 43.000 orang anak menemukan bahwa jatuh merupakan penyebab tersering dari terjadinya cedera kepala pada anak-anak. Para peneliti menemukan bahwa pada anak berusia kurang dari 2 tahun, jatuh merupakan penyebab terbesar dari cedera kepala pada anak, yaitu sekitar 77%. Pada anak yang berusia antara 2-12 tahun, jatuh merupakan penyebab terjadinya lebih dari 38% cedera kepala. Sebagian besar penyebab dari cedera kepala berat adalah akibat kecelakaan mobil dan sepeda. Oleh karena itu, peneliti mengatakan bahwa penggunaan helm saat bersepeda dan sabuk pengaman saat berkendara merupakan salah satu cara untuk menjaga otak anak Anda. Para peneliti menemukan bahwa di antara anak-anak yang mengalami cedera kepala pada kecelakaan kendaraan bermotor, hampir setengahnya tidak menggunakan sabuk pengaman di dalam mobil. Sementara itu, pada anak-anak yang mengalami cedera kepala akibat kecelakaan saat bersepeda, sebagian besarnya tidak menggunakan helm saat bersepeda (lebih dari 80%). Pada remaja yang berusia antara 13-17 tahun, cedera kepala paling sering disebabkan oleh tindakan kekerasan, olahraga, dan kecelakaan lalu lintas. Pada penelitian ini, para peneliti tidak menyertakan gegar otak dalam kriteria cedera kepala. Cedera kepala yang dimaksud pada penelitian ini adalah cedera kepala yang menyebabkan terjadinya perdarahan pada otak. Di antara anak-anak yang menjadi peserta penelitian ini, sekitar 16.000 orang (37%) telah melakukan pemeriksaan CT scan kepala, yang terdiri dari 32% di antaranya berusia kurang dari 2 tahun, 32% di antaranya berusia antara 2-12 tahun, dan 53% di antaranya berusia antara 13-17 tahun. Secara keseluruhan, sekitar 7% di antara anak-anak yang pernah melakukan tindakan CT scan kepala tersebut mengalami cedera kepala akibat trauma dan sekitar 3% lainnya mengalami patah tulang tengkorak. Para peneliti pun menemukan bahwa cedera kepala yang paling sering ditemukan adalah berbagai jenis perdarahan otak, di mana setengah dari anak-anak ini menderita beberapa kali cedera kepala dan sekitar 78 orang (0.2%) anak yang menjadi peserta penelitian ini pun meninggal akibat cedera kepala. Di antara anak-anak yang mengalami cedera kepala akibat trauma, sekitar 17% di antaranya telah melakukan tindakan pembedahan otak dan 43% di antaranya telah melakukan tindakan ini lebih dari sekali. Pada penelitian ini, para peneliti telah mengumpulkan data dari tahun 2004-2006 dari unit gawat darurat di 25 rumah sakit yang berbeda di Amerika. Para peneliti pun menemukan telah terjadi penurunan angka kejadian cedera kepala setelah para anak juga diwajibkan untuk menggunakan sabuk pengaman saat berada di dalam mobil dan telah tersedianya air bag pada mobil.     Sumber: webmd