Your browser does not support JavaScript!
 25 Oct 2018    11:00 WIB
Wow Resiko Bunuh Diri Bisa Terjadi Pada Penderita Bipolar
Gangguan bipolar atau kelainan manik depresi, merupakan suatu keadaan di mana seseorang mengalami episode kegembiraan (manik) dan depresi secara bergantian. Seseorang yang didiagnosa mengalami gangguan bipolar biasanya mengalami satu atau lebih episode depresi bergantian dengan satu atau lebih episode manik atau episode depresi dan manik secara bersamaan (campuran). Manik merupakan suatu keadaan di mana seseorang merasa senang atau gelisah yang disertai dengan energi berlebihan dalam waktu lama (setidaknya selama 1 minggu). Gejala manik adalah peningkatan energi, berbicara dan berpikir dengan cepat, sangat bawel, perhatian mudah teralihkan, ceroboh, perilaku agresif, menganggap atau berpikir dirinya hebat, penurunan kebutuhan tidur, merasa tidak terkalahkan, berselingkuh, pengeluaran berlebihan, dan kepercayaan diri berlebihan. Depresi merupakan suatu keadaan di mana seseorang merasa tidak bersemangat, tidak bertenaga, sedih, atau mudah marah dalam waktu lama, setidaknya selama 2 minggu. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah pesimistis, menarik diri dari lingkungan, adanya pikiran untuk bunuh diri atau berpikir tentang kematian, merasa sedih berlebihan, dan mudah marah atau mudah tersinggung. Penderita gangguan bipolar memiliki resiko tinggi untuk melakukan tindakan bunuh diri bila mereka tidak memperoleh pengobatan yang tepat. Sebanyak hampir 75% pria penderita depresi melakukan tindakan bunuh diri, sedangkan wanita memiliki resiko bunuh diri 2 kali lebih besar daripada pria.Faktor ResikoBeberapa hal yang meningkatkan resiko terjadinya tindakan bunuh diri adalah:•  Mengalami gangguan mental dan penyalahgunaan zat-zat terlarang•  Memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan mental atau penyalahgunaan zat-zat terlarang•  Pernah mencoba melakukan tindakan bunuh diri sebelumnya•  Memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami kekerasan fisik maupun seksual•  Memiliki anggota keluarga atau teman yang pernah mencoba melakukan tindakan bunuh diri•  Memiliki senjata api di rumahJangan pernah meninggalkan orang yang memiliki resiko tinggi atau menunjukkan tanda-tanda akan melakukan tindkaan bunuh diri sendirian. Mintalah bantuan petugas medis dan awasi perilaku orang tersebut. Tanda Adanya Keinginan Untuk Bunuh DiriBeberapa hal yang menandakan bahwa seseorang kemungkinan memiliki keinginan untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah:•  Membicarakan tentang tindakan bunuh diri•  Selalu membicarakan atau memikirkan tentang kematian•  Memberitahukan bahwa dirinya merasa putus asa, tidak berdaya, atau tidak berharga•  Mengatakan berbagai hal seperti "akan lebih baik bila aku tidak ada" atau "aku ingin kabur atau pergi dari semua ini"•  Memburuknya gejala depresi yang dialami•  Perubahan emosi mendadak dari sangat sedih menjadi sangat tenang atau terlihat bahagia•  Memiliki keinginan untuk mati atau melakukan berbagai tindakan berbahaya yang dapat menyebabkan kematian•  Kehilangan minat pada berbagai hal yang biasanya sangat disenangi atau dipedulikannya•  Mengunjungi atau menelepon orang-orang yang disayanginya•  Menyelesaikan berbagai permasalahan atau mengubah surat wasiat.Sumber: webmd
 14 Jun 2018    18:00 WIB
Apakah Saya Beresiko Mengalami Gangguan Bipolar
Gangguan bipolar atau kelainan manik depresi, merupakan suatu keadaan di mana seseorang mengalami episode kegembiraan (mania) dan depresi secara bergantian. Seseorang yang didiagnosa mengalami gangguan bipolar biasanya mengalami satu atau lebih episode depresi bergantian dengan satu atau lebih episode manik atau episode depresi dan manik secara bersamaan (campuran). Mania merupakan suatu keadaan di mana seseorang merasa senang atau gelisah yang disertai dengan energi berlebihan dalam waktu lama (setidaknya selama 1 minggu). Gejala mania adalah peningkatan energi, berbicara dan berpikir dengan cepat, sangat bawel, perhatian mudah teralihkan, ceroboh, perilaku agresif, menganggap atau berpikir dirinya hebat, penurunan kebutuhan tidur, merasa tidak terkalahkan, berselingkuh, pengeluaran berlebihan, dan kepercayaan diri berlebihan. Depresi merupakan suatu keadaan di mana seseorang merasa tidak bersemangat, tidak bertenaga, sedih, atau mudah marah dalam waktu lama, setidaknya selama 2 minggu. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah pesimistis, menarik diri dari lingkungan, adanya pikiran untuk bunuh diri atau berpikir tentang kematian, merasa sedih berlebihan, dan mudah marah atau mudah tersinggung. Berbagai mania dan depresi ini seringkali terjadi bersamaan, sehingga orang tersebut dikatakan memiliki gangguan campuran antara mania dan depresi. Seseorang diduga menderita gangguan bipolar bila orang tersebut mengalami 4 atau lebih episode depresi, mania, dan atau gabungan keduanya dalam waktu 1 tahun.   Penyebab Penyebab pasti gangguan bipolar ini masih tidak diketahui, akan tetapi para ahli menemukan bahwa gangguan bipolar ini dapat diturunkan karena adanya faktor genetika yang berperan. Beberapa penelitian telah menduga bahwa beberapa faktor dapat menyebabkan terjadinya gangguan fungsi otak yang mengakibatkan timbulnya berbagai gejala depresi dan mania tersebut. Beberapa faktor yang diduga berperan adalah stress, penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan, dan kurang tidur.   Siapa yang Beresiko? Gangguan bipolar dapat mengenai pria dan wanita, tidak tergantung pada ras ataupun status sosial ekonomi. Wanita penderita gangguan bipolar biasanya lebih sering mengalami episode depresi dan campuran dibandingkan pria. Pria penderita gangguan bipolar biasanya mengalami episode mania pada saat pertama kali mengalaminya, sedangkan wanita biasanya mengalami episode depresi saat pertama kali mengalaminya. Gangguan bipolar dapat mengenai semua usia, akan tetapi biasanya mulai timbul pada orang berusia 25 tahun.   Apakah Kelainan Ini Diturunkan? Berbagai penelitian telah menemukan bahwa penderita gangguan bipolar biasanya memiliki setidaknya satu anggota keluarga yang juga mengalami gangguan ini. Bila salah satu orang tua menderita gangguan bipolar, maka anaknya memiliki peluang menderita gangguan ini sebesar 10-25%. Bila kedua orang tua menderita gangguan bipolar, maka anaknya memiliki peluang menderita gangguan ini sebesar 10-50%. Bila salah satu anak mengalami gangguan ini, maka kemungkinan anak lainnya menderita gangguan ini adalah sebesar 10-25%. Sebuah penelitian pada kembar identik menemukan bahwa gangguan bipolar tidak hanya disebabkan oleh faktor genetika, karena tidak semua orang kembar menderita gangguan bipolar ini bila kembarannya mengalami gangguan ini, walaupun memiliki resiko hingga 40-70%. Para peneliti menemukan bahwa gangguan bipolar ini tidak hanya disebabkan oleh 1 gen, tetapi oleh beberapa gen, di mana setiap gen ini berperan dalam proses terjadinya gangguan.   Gaya Hidup dan Gangguan Bipolar Kurangnya tidur meningkatkan resiko terjadinya episode mania pada seorang penderita gangguan bipolar. Selain itu, obat anti depresi, terutama bila obat ini diberikan sebagai terapi tunggal juga dapat memicu terjadinya episode mania atau memicu berubahnya episode depresi menjadi mania. Penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan juga dapat memicu timbulnya gejala gangguan bipolar ini. Sebuah penelitian menemukan bahwa sekitar 50% penderita gangguan bipolar juga mengalami penyalahgunaan zat atau alkohol. Penderita gangguan bipolar seringkali menggunakan alkohol atau obat-obatan untuk mengurangi rasa tidak bahagia saat depresi atau sebagai salah satu tindakan ceroboh dan impulsif pada saat episode mania terjadi.   Stress dan Gangguan Bipolar Beberapa orang kadang mengalami gangguan bipolar setelah mengalami kejadian traumatis atau kejadian lainnya yang membuat orang tersebut sangat tertekan dan stress dalam hidupnya. Beberapa hal yang dapat memicu terjadinya gangguan bipolar adalah: Perubahan musim Liburan Pindah kerja Kehilangan pekerjaannya Kuliah Perselisihan dalam keluarga Pernikahan Kematian orang terdekat atau anggota keluarga Stress sendiri sebenarnya tidak menyebabkan terjadinya gangguan bipolar. Akan tetapi pada beberapa orang yang memang telah rentan terhadap gangguan bipolar, mengatasi stress dan memiliki gaya hidup sehat dapat membantu mencegah terjadinya gangguan bipolar ini.   Sumber: webmd  
 26 Mar 2017    08:00 WIB
Apakah pengobatan bipolar menyebabkan peningkatan berat badan ?
Kelainan bipolar bisa diobati oleh berbagai pengobatan. Beberapa pengobatan ini dapat meningkatkan selera makanan atau mengubah metabolism yang menyebabkan berat badan meningkat. Apakah obat-obatan tersebut menyebabkan peningkatan berat badan, atau apakah itu efek sampingnya berbeda-beda pada setiap orang.  Begitu juga seberapa baik obat bipolar ini bekerja untu mengobati gejala-gejala bipolar juga berbeda tiap-tiap orang. Oleh karena ini menemukan pengobatan untuk penyakit bipolar ini memerlukan beberapa percobaan. Pada beberapa kasus, pengobatan yang meningkatkan berat badan mungkin diperlukan sementara sampai anda dapat mengendalikan gejala-gejala yang timbul. Kemudian anda dan dokter anda dapat mencari obat yang dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih panjang, dan menimbulkan efek samping lebih sedikit. Pengobatan untuk kelainan bipolar mencakup mood stabilizers, antidepresan dan antipsikotik. Mood stabiizers Dipakai untuk mengobati kelainan bipolar, termasuk lithium, asam valproic, sodium divalproex, karbamazepin dan lamotrigine. Semua pengobatan ini diketahui meningkatkan berat badan, kecuali lamotrigine Antipsikotik Umumnya diresepkan untuk pengobatan bipolar, mencakup olanzapine, risperidone, quetipine, aripiprazole, ziprasidone dan asenapine. Beberapa pengobatan ini menyebabkan peningkatan berat badan jika dikonsumsi satuan., tetapi kebanyakan penderita bipolar memerlukan lebih dari satu obat untuk mengontrol gejala-gejalanya. Peningkatan berat badan muncul jika obat-obat antipsikotik dikombinasikan dengan mood stabilizer. Anak-anak dan orang dewasa dengan gangguan bipolar yang mendapat pengobatan ini cenderung untuk mengalami peningkatan berat badan dalam waktu singkat. Antidepresan Antidepresan dapat meningkatkan berat badan pada beberapa orang, tetapi reaksi dari pengobatan ini bervariasi untuk tiap-tiap orang. Paroxentine dan mirtazapine dapat menyebabkan peningkatan berat badan lebih cepat dibandingkan pengobatan antidepresan lainnya. Secara umum pengobatan antidepresan diperlukan resepdokter, seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRIs) tidak menyebabkan peningkatan berat badan. Resiko peningkatan berat badan lebih sering terjadi pada orang yang lebih tua, termasuk antidepresan trisiklik dan beberapa monoamine oxidase inhibitor (MAOIs) Beberapa peningkatan berat badan tidak dapat dihindari ketika menggunakan obat-obatan karena diperlukan untuk mengobati gejala-gejala bipolar. Jika peningkatan berat badan merupakan masalah penting untuk anda, anda dapat membicarakan denga dokter anda. Pelajari lagi tips-tips makanan sehat, tetap aktif secara fisik dan menjalani psikoterapi dapat membantu anda mengurangi gejala-gejala bipolar. Bersabar dan berkonsultasilah dengan dokter anda untuk mendapatakan pengobatan yang terbaik untuk gejala-gejala bipolar anda dan dapat mengendalikan berat badan anda.   Sumber : mayoclinic    
 31 Oct 2015    20:00 WIB
Pengaruh Polusi Udara Terhadap Otak
Polusi udara selama ini selalu dikaitkan dengan peningkatan terjadinya penyakit jantung dan paru-paru. Ternyata ada 1 lagi organ yang penting yang terkena dampak polusi udara, yaitu otak. Peneliti di the American Association for the Advancement of Sciences (AAAS) dalam pertemuan tahunan di Chicago mengungkapkan pengaruh polusi udara yang terus menerus terhadap perkembangan otak. Menurut para peneliti, yang menggunakan model tikus yang secara konstan menghirup udara yang berpolusi, dapat mengakibatkan pembesaran pada ventrikel otak yang merupakan tempat berkembangnya kelainan otak seperti schizophrenia dan autis. Para peneliti percaya bahwa peningkatan di dunia tingkat polusi udara mungkin  terkait dengan meningkatnya kasus penyakit sistem saraf pusat selama bertahun-tahun. Menurut Dr. Deborah Cory-Slechta, polusi udara terdiri dari berbagai campuran metal dan gas, yang seringnya terdiri dari berbagai macam ukuran partikel. Partikel yang lebih besar biasanya tidak menyebabkan resiko pada tubuh, karena partikel tersebut bisa dikeluarkan melalui mekanisme batuk. Tetapi partikel yang lebih kecil merupakan suatu ancaman kesehatan yang besar. “Komponen yang paling dikhawatirkan orang-orang adalah partikel yang berukuran sangat kecil, bahkan sangat halus, dan alasannya adalah karena partikel tersebut dapat masuk sampai ke bagian dasar paru-paru dan dapat diserap pembuluh darah” kata  Dr. Cory-Slechta, professor di University of Rochester School of Medicine Dr. Cory-Slechta mengatakan dia tidak sengaja mengambil penelitian tentang kaitan polusi udara dengan otak, setelah beberapa koleganya mengirimkan bagian dari otak tikus yang sudah terkena polusi udara terus menerus. “Para peneliti tersebut ingin mengetahui efek polusi udara terhadap paru-paru pada tikus. Dan mereka tidak menggunakan bagian otaknya, jadi mereka bertanya kepada kami apakah kami ingin melihat bagian otaknya. Kami pun bersedia dan mengambil otak dari tikus-tikus tersebut. Tikus tersebut sudah terekspos polusi udara terus menerus selama berbulan-bulan, dan kemudian kami memeriksa otaknya dan kami tidak bisa menemukan wilayah otak yang tidak memiliki peradangan, tidak satupun.” Demikian dijabarkan oleh Dr. Cory-Slechta. Berharap untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kaitan polusi udara dengan cedera otak, Dr. Cory-Slechta dan tim memulai serial penelitian pada tikus yang diekspos oleh udara yang tercemar dari Rochester, N.Y. Pada bagian ke3 dari studi mereka, para peneliti memberikan paparan pada tikus-tikus yang baru lahir, usia 4-13 hari (yang merupakan masa kritikal pada perkembangan otak tikus). Kemudian mereka memeriksa otak-otak tikus tersebut saat masa paparan berakhir. Setelah otak tikus tersebut dibagi-bagi menurut areanya, para peneliti dapat melihat lebih jelas jika area-area otak tersebut memliki tingkat kerusakan yang berbeda-beda. Tetapi dengan jelas terlihat, terdapat pelebaran ventrikel otak secara signifikan. Ventrikel otak terisi oleh cairan cerebrospinal (LCS) dan berfungsi untuk melindungi keseluruhan otak, membersihkannya dan memberikan energi. Tetapi saat ventrikel ini membesar, berarti mengidikasikan adanya perkembangan yang buruk dari sistem syaraf. Ketika ventrikel otak membesar, mereka akan mendorong jaringan otak yang lain” kata Dr. Cory-Slechta. “Kemudian ada juga bangunan diotak yang disebut ‘white matter’ yang menghubungkan kedua hemisfer otak. Pada anak-anak tikus tersebut,bagian ini menghilang atau bahkan tidak pernah terbentuk atau mati. Kami tidak mengetahui penyebab pastinya, tetapi tanda-tanda ini merupakan karakteristik dari autism dan schizophrenia.” Ventriculomegaly atau pembesaran ventrikel juga diasosiasikan dengan berbagai macam gangguan otak seperti kelainan bipolar dan Alzheimer. Dr. Cory-Slechta mencatat jika kerusakan otak tersebut kebanyakan terjadi pada tikus jantan, yang membawa pada kesimpulan menarik jika autis dan schizophrenia terkait dengan gender.   Sumber: foxnews    
 09 Jun 2015    09:00 WIB
Mengenal Bipolar Syndrom, Gangguan Jiwa Bersifat Episodik
Masih ingat film Silver Lining Playbook yang dimainkan Bradley Cooper? Berperan sebagai Pat Solitano, seorang guru matematika yang sakit hati karena dikhianati istrinya, Pat menjadi tak bisa mengendalikan diri. Emosinya meledak-ledak, mudah tersinggung, dan rapuh. Setelah diperiksa, ia ternyata didiagnosis mengidap bipolar disorder. Sebenarnya penyakit apakah ini?   Gangguan bipolar (bipolar disorder) adalah gangguan pada perasaan seseorang akibat masalah otak, ditandai dengan perpindahan (swing) mood, pikiran, dan perubahan perilaku. Penderita mengalami perubahan mood yang dramatis, dari episode manic dan episode depresi selama periode waktu tertentu. Episode manik ditandai dengan kondisi mood yang sangat meningkat (hipertimik) atau irritable (mudah marah dan tersinggung), episode depresi ditandai dengan mood yang sangat menurun (hipotimik). Di antara kedua episode mood tersebut terdapat masa mood yang normal (eutimik). Istilah bipolar merujuk pada kondisi pasien yang mengalami perpindahan mood antara dua kutub atau spektrum emosi yang berlawanan tersebut.   Awam sering menyebutnya ketidakstabilan mood, tetapi gejala ini baru dapat disebut gangguan bila telah memenuhi kriteria waktu tertentu, seperti untuk episode manic, dibutuhkan kondisi mood hipertimik dalam rentang waktu minimal seminggu atau bahkan kurang dari seminggu. Pada fase ini penderita bipolar menjadi serba aktif, melakukan tindakan-tindakan yang berisiko tinggi, dan kadang-kadang deal bisnis yang berlebihan tanpa berpikir karena judgment-nya terganggu.   Pada episode depresi, dibutuhkan waktu minimal 2 minggu terus-menerus berada dalam kondisi mood hipotimik. Ada beberapa gejala dari episode depresi, di antaranya setiap hari sedih, mengurung diri, pesimis, hingga aktivitasnya menurun. Bahkan, bila penderita bipolar sedang dalam puncak episode depresi, seringkali muncul keinginan untuk bunuh diri. Bisa dipastikan disebut gangguan, bila fungsi pekerjaan atau kehidupan sosialnya terganggu. Saat terjadi gangguan, terkadang pasien perlu dirawat di rumah sakit.   Jadi, bipolar itu adalah gangguan jiwa yang sifatnya episodik, ditandai dengan gejala-gejala episode depresi, manik, dan hipomanik. Tetapi bisa juga campuran, satu rentang tertentu dua gejala bisa ada, depresi dan manik, saling bergantian. Baca juga: Apakah pengobatan bipolar menyebabkan peningkatan berat badan? Sumber: Play Buzz
 18 Apr 2015    11:00 WIB
Gangguan Bipolar Syndrom Masih Bisa Diobati
Bipolar adalah gangguan pada alam perasaan (mood) yang berubah-ubah dalam periode waktu tertentu. Satu ketika, penderita mengalami depresi sehingga menjadi murung, diam, atau menarik dari lingkungan. Di waktu lain, ia mengalami manik (mania) yang ditunjukkan dengan semangat menggebu dalam beraktivitas, tak pernah lelah, dan tak tidur berhari-hari.   Berbeda dengan depresi atau manik yang dialami manusia pada umumnya, gejala pada penderita bipolar terjadi secara berulang dan berlangsung seumur hidup. Gejala yang muncul terkadang bercampur atau berubah sangat cepat. Baca Juga: Sex Sesuai Dosis Pangkas Stress dan Bikin Awet Muda   Gangguan bipolar terdiri dari dua jenis, yakni gangguan bipolar tipe 1 dan bipolar tipe 2. Gangguan bipolar tipe 1 merupakan penyakit kronis yang sering kambuh dan bersifat episodik, dalam arti ada periode sakit dan ada periode normal. Kekambuhan bisa dipicu oleh stresor psikososial, misalnya pertengkaran, percerian, atau kehilangan orang tercinta.   Gangguan bipolar tipe 2 umumnya lebih ringan. Periode kekambuhannya lebih ringan dan ada episode hipomania dan episode depresi mayor. Gejalanya lebih singkat waktunya, dan tidak mencolok.   Gangguan bipolar sering berkembang di akhir masa remaja seseorang atau dewasa awal. Setidaknya setengah dari semua kasus dimulai sebelum usia 25 tahun. Sebanyak 79 persen kasus bipolar disebabkan oleh faktor genetik. Tetapi gen ini baru akan memicu bipolar jika penderita mengalami stres psikososial yang tak mampu diatasinya.   Terdapat beberapa cara untuk mengenali gejala gangguan bipolar, yakni melakukan pemeriksaan dengan cara wawancara klinis dan diagnosis dini. Wawancara psikiatrik adalah tools utama dalam memeriksa status mental individu.   Sama dengan penyakit kronis lainnya, pengobatan yang tepat bisa membuat penderita bipolar hidup normal dan membuat prestasi membanggakan. Mengontrol emosi dan mood penderita adalah cara terbaik untuk pengobatan.   Penderita bipolar juga perlu mendapat kenyamanan dan kehangatan dari orang-orang di sekitarnya. Diperlukan kesabaran dan optimisme dari orang-orang terdekat agar penderita menjalani pengobatan hingga tuntas.   Sumber: Health Care
 10 Mar 2015    16:00 WIB
Bipolar dan Hubungannya Dengan Gangguan Tidur
Perubahan pola tidur yang terjadi selama lebih dari 2 minggu atau yang mengganggu aktivitas anda sehari-hari mungkin disebabkan oleh gangguan kesehatan lainnya. Banyak gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan tidur, mulai dari gangguan fisik hingga gangguan psikologis, seperti gangguan bipolar. Gangguan bipolar merupakan suatu keadaan di mana penderitanya mengalami episode depresi dan mania secara bergantian. Mania merupakan suatu keadaan di mana seseorang merasa sangat bahagia atau marah atau tersinggung. Gangguan bipolar dapat mempengaruhi pola tidur anda, seperti: Menyebabkan terjadinya insomnia, di mana penderitanya tidak mampu atau kesulitan untuk memulai tidur atau sering terbangun dari tidur Gangguan irama sirkardian yang menyebabkan penderitanya kesulitan tidur di malam hari dan mengantuk di siang hari Kelainan tidur pada fase REM (rapid eye movement) yang menyebabkan terjadinya mimpi yang sangat menyeramkan atau aneh Saat berada pada fase depresi, maka anda dapat merasa putus asa, sedih, dan tidak berharga. Ketiga hal ini dapat mengganggu tidur anda. Saat berada pada fase mania, anda dapat merasa sangat bersemangat yang bahkan dapat membuat anda tetap terjaga selama beberapa hari tanpa merasa lelah. Pada sebagian besar penderita bipolar, gangguan tidur merupakan tanda dimulainya fase mania. Walaupun penderita bipolar tidak merasakan hal yang sama dengan orang normal lainnya akibat waktu tidur yang sedikit, tetap akan terjadi beberapa perubahan pada diri anda seperti: Mood berubah-ubah Merasa lelah, tidak enak badan, depresi, dan cemas Kesulitan berkonsentrasi atau membuat keputusan Meningkatkan resiko kematian mendadak Beberapa obat gangguan bipolar memiliki efek samping berupa gangguan tidur. Untuk mengatasinya, anda dapat mengubah pola tidur anda dengan memajukan jam tidur anda di malam hari dan bangun lebih awal keesokkan harinya. Lalu secara perlahan, mundurkanlah jam bangun anda setiap harinya secara perlahan hingga anda mencapai tujuan anda. Selain itu, anda juga dapat menggunakan terapi sinar atau terapi sulih hormon melatonin. Bila anda mengalami gangguan tidur akibat efek samping obat gangguan bipolar, maka segera hubungi dokter anda untuk mengubah jenis obat atau mengubah dosis obat yang anda gunakan, Jangan menghentikan atau merubah dosis obat tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter anda. Beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk membantu memperbaiki pola tidur anda adalah: Kurangi atau hindari mengkonsumsi alkohol dan kafein pada sore atau malam hari Matikan lampu kamar tidur anda dan ciptakan suasana yang tenang dengan suhu ruangan yang nyaman Berolahragalah, tetapi jangan terlalu malam Cobalah berbagai terapi dan olahraga relaksasi   Sumber: webmd