Your browser does not support JavaScript!
 24 Jan 2020    16:00 WIB
Kapan Sebaiknya Anda Mulai Memberikan Makanan Padat Untuk Bayi Anda?
Makanan bayi dianjurkan untuk diberikan saat ASI atau susu formula sudah tidak cukup untuk memuaskan rasa lapar anak. Meskipun makanan yang diberikan bergizi, namun makanan bayi tetap harus dilengkapi dengan ASI dan atau susu formula. ASI harus diberi sebagai sumber utama nutrisi sampai bayi berusia 12 bulan. Masa keemasan pertumbuhan bayi terjadi pada tahun pertama dan tubuh bayi membutuhkan nutrisi dan kalori yang cukup untuk membantu proses tersebut. Bayi belajar makan makanan padat secara alami dan bertahap. Jangan terburu-buru untuk melakukan perubahan tersebut. Dalam 6 bulan pertama atau lebih, ASI menyediakan semua nutrisi yang dibutuhkan bayi. Pada sekitar usia 6 sampai 8 bulan, bayi masih lapar meski sudah diberikan ASI. Sehingga sebaiknya pada usia ini bayi mulai diberikan makanan padat. Bubur sayuran dan buah-buahan, sereal tumbuk adalah contoh dari makanan semi-padat untuk bayi. Bayi memiliki gigi untuk memotong atau menghancurkan potongan-potongan makanan, tetapi belum memiliki geraham sehingga membuatnya sulit untuk menggiling makanan padat. Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dalam menghancurkan makanan bayi sehingga bayi Anda dapat memakannya dengan baik.   Saat bayi mulai bisa duduk tanpa bantuan atau mulai menunjukkan minat kepada makanan yang lain dari yang dimakan itu adalah tanda bahwa ia sudah siap diberi makan makanan padat. Mulailah dengan buah atau sayuran atau sereal, sambil mengenalkan beberapa jenis makanan baru. Dengan cara ini, Anda akan dapat mengidentifikasi sumber alergi apabila terjadi reaksi alergi. Catatan kesehatan WHO merekomendasikan bahwa bayi menerima ASI eksklusif selama enam bulan pertama dalam hidupnya untuk mencapai pertumbuhan perkembangan tubuh dan kesehatan yang optimal. Pada usia enam bulan bayi sudah siap untuk diberikan makanan pendamping. Pengenalan awal makanan padat pada bayi dapat memuaskan rasa lapar bayi sehingga bayi menjadi kurang dalam minum ASI akibatnya bayi sering kurang gizi. Penyerapan zat besi dari ASI menurun di usus kecil bayi saat susu diberikan dengan tambahan makanan lain. Oleh karena itu, penggunaan awal makanan pendamping dapat menyebabkan kekurangan zat besi dan anemia. Sumber: medindia
 12 Jan 2020    16:00 WIB
Ide Resep Makanan Padat Untuk Bayi Anda
Memperkenalkan bayi Anda makanan padat memang menantang serta menyenangkan. Ketika bayi Anda siap untuk memulai makan makanan padat, wajar bagi Anda merasa bingung apa yang dapat anak Anda makan. Apabila Anda sedang mencari beberapa makanan yang mengandung gizi seimbang, di sini ada beberapa ide sarapan sehat yang dapat Anda coba untuk bayi Anda. Berikut adalah beberapa ide sarapan yang sehat dan menarik yang dapat Anda coba: 1.      Oatmeal bubur Pisang Bubur: Ini merupakan sarapan bergizi untuk bayi Anda berumur 6 bulan Yang Anda butuhkan: Oatmeal Pisang matang Air Susu Formula Cara menyiapkannya: Tuangkan oatmeal dan susu formula dalam sebuah wadah. Kocok dengan menambahkan air. Tambahkan pisang tumbuk dan panaskan dalam microwave selama 2 menit. Dinginkan dalam suhu kamar. Anda dapat menambahkan gula Hidangan ini sekarang siap untuk disajikan 2.      Kentang dan Bayam Halus Resep ini cocok untuk bayi berusia 7 bulan Yang Anda butuhkan: Kentang Air Daun bayam Cara menyiapkannya: Buang tangkai kasar bayam dan bilas daun bayam dengan bersih Taruh dalam mangkuk Tambahkan sedikit air dan panaskan dalam microwave selama 2 menit. Aduk dengan rata dan biarkan hingga dingin. Tiriskan kelebihan air dan potong bayam Tambahkan kentang tumbuk Hancurkan sampai halus Bayi Anda pasti akan menyukai hidangan ini 3.      Kacang merah, Wortel Dan Labu halus Ini merupakan pilihan sarapan yang cocok untuk bayi Anda berusia 9 bulan Yang Anda butuhkan: Labu yang dipotong dadu Wortel yang dipotong dadu Kacang merah Susu formula (opsional) Cara menyiapkannya: Bilas dan rebus semua sayuran. Tambahkan dengan air tambahan bila diperlukan. Hancurkan semua sayuran sampai halus Anda dapat menambahkan susu formula yang untuk mendapatkan konsistensi yang diinginkan. Sajikan dalam mangkuk favorit bayi Anda dan bayi Anda akan menikmatinya. Bayi Anda harus mendapatkan kebutuhan nutrisi dan vitamin yang cukup, meski sudah makan makanan padat tetap usahakan bayi Anda untuk minum ASI. Sumber: momjunction
 22 Dec 2019    08:00 WIB
Cara Mengatasi Ruam Popok
Ruam popok adalah salah satu hal yang sering terjadi pada bayi. Hampir semua bayi pernah mengalami ruam popok.  Ruam popok terjadi bukan berarti bahwa Anda adalah orang tua yang lalai, namun karena bayi memiliki kulit yang sensitif. Namun bila Anda tidak mengganti popok yang kotor, hal ini juga akan memperparah ruam popok yang dialami. Bahkan pampers yang dikatakan paling mudah menyerap, tidak mampu menyerap pipis bayi Anda secara sempurna. Urin yang bercampur dengan bakteri dalam tinja akan membentuk amonia yang dapat merusak kulit.  Pengenalan makanan padat yang baru, dapat mengubah komposisi tinja atau frekuensi buang air besar. Hal ini juga dapat menyebabkan terjadinya ruam popok.  Apa cara terbaik untuk mengatasi ruam popok?  Usahakan agar pampers anak Anda bersih dan kering. Anda harus sering kali mengganti pampers bayi Anda.  Bilas area popok dengan baik setiap kali mengganti pampers. Jangan gunakan tisu yang mengandung alkohol atau wewangian. Sebaiknya gunakan bola kapas dan air hangat untuk membersihkan daerah tersebut. Bersihkan dengan perlahan dan lembut.  Keringkan kulit bayi Anda dengan cara di tepuk bukan digosok.  Gunakan salep yang dapat melindungi kulit agar tidak teriritasi oleh urin dan kotoran. Ada beberapa salep yang dapat melindungi kulit seperti petroleum jelly, jelly nonpetroleum, produk lanolin Gunakan pampers yang lebih besar dari ukuran seharusnya dan lebih longgar untuk memberikan sirkulasi udara yang baik. Sebaiknya Anda memilih pampers yang terbaik, cari yang memang sesuai untuk kulit bayi yang sensitif dan mampu menyerap pipis dengan baik.   Ketika cuaca hangat, anak Anda dapat bermain di luar atau di sebuah ruangan dengan lantai yang mudah dibersihkan, untuk sementara tidak perlu menggunakan pampers. Paparan udara akan mempercepat penyembuhan.  Apabila ruam yang ada tidak kunjung sembuh: Mungkin Anda harus membiarkannya tidak menggunakan pampers untuk sementara waktu.  Segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak untuk memberikan penanganan yang tepat   Sumber: babycenter
 10 Nov 2019    11:00 WIB
7 Tingkah Menggemaskan Balita Normal yang Perlu Anda tahu
Terkadang sebagai orang tua kita dibuat terheran-heran saat menghadapi tingkah laku si kecil. Ada saja perilaku mereka yang kerap membuat kita merasa bersalah, tak nyaman atau sedikit banyak percaya bahwa kita satu-satunya orang tua di dunia yang kesulitan mengendalikan perilaku anak kita. Entah itu karena si kecil suka menangis, mengamuk, memukul, mengigit, kerap membantah, suka mengganggu anak lainnya atau terlalu lengket hingga hampir tak bisa dipisahkan dari sisi kita barang sedetik pun. Tak jarang pula para balita itu tiba-tiba bertingkah gemas dan lucu stanpa sebab. Ternyata beberapa kebiasaan yang sering membuat orangtua geleng-geleng kepala tersebut merupakan kebiasaan normal bagi balita. Berikut beberapa kebiasaan balita yang kerap kali dianggap aneh namun ternyata 100 persen normal: 1.       Menggeleng atau mengangguk tanpa sebab Jika anak anda tiba-tiba menggelengkan atau menganggukkan kepalanya tanpa sebab, orangtua tidak perlu panik. Sampai saat ini peneliti belum mampu mengungkap misteri tersebut. Apakah karena mereka sudah bisa melakukannya? Kepala pusing? atau hanya ingin melucu? Yang penting adalah jaga keselamatan kepalanya agar tidak terbentur. 2.       Tidak mengenal rasa takut Balita kita sepertinya belum memahami apa itu bahaya, sehingga mereka kerap terlihat tak memiliki rasa takut akan sesuatu yang berpotensi membahayakan keselamatan mereka. Oleh karenanya, mereka harus selalu dibawah pengawasan orang tua. 3.       Pura-pura batuk dan menangis Tiba-tiba batuk dan menangis ketika orang tua sedang sibuk memang sering dialami olah sebagian besar orang tua. Tak sedikit dari balita yang ternyata hanya berpura-pura batuk atau menangis. Tapi ingat, orang tua tidak boleh marah atau kesal. Balita anda melakukan hal itu karena hanya ingin diperhatikan oleh orang tuanya. 4.       Tiba-tiba menolak Balita anda yang sangat menyukai pisang tiba-tiba menjerit ketika anda mencoba memberikannya? Tenang saja. Hal tersebut juga sering dialami oleh orang tua lain di seluruh dunia. Balita memang mempunyai minat dan keinginan yang berubah-ubah. Jika ia menyukai pisang namun tiba-tiba menolak ketika diberi, mungkin saja ia mempunya pengalaman buruk tentang pisang yang tidak anda ketahui. 5.       Telanjang Beberapa anak memang sangat tidak suka ketika dipakaikan baju dan celana. Tak jarang mereka menangis dan menjerit ketika orang tua mencoba memaksa anak menggunakan pakaian. Namun psikolog mengatakan bahwa kebiasaan ini termasuk normal, mengingat mereka sedang dalam tahap mengenali dirinya. Tapi jangan lengah, Anda harus memastikan bahwa ia tetap harus memakai pakaian ketika keluar dari rumah. 6.       Bermain dengan alat kelamin Setiap anak akan melewati fase eksplorasi alat kelamin karena rasa ingin tahu yang lebih besar. Jika orang tua melihat anaknya memainkan alat kelaminnya, anda tidak perlu panik. Yang harus anda lakukan adalah mengalihkan kegiatan tersebut secara tidak sadar dan menggantinya dengan aktivitas lain yang lebih menarik. 7.       Sulit berpisah dengan orang-orang terdekatnya Dalam tiga tahun pertama kehidupan si kecil, ia akan lebih suka berada dekat dengan bunda atau ayahnya atau jikapun "terpaksa" harus berpisah, hanya untuk waktu yang singkat dan selalu memastikan keduanya terlihat. Kejadian semisal terpisah dari orang tua saat berada di taman bermain atau di keramaian atau saat terkunci di kamar mandi bisa mengakibatkan trauma yang serius dalam kehidupan kanak-kanaknya.
 11 Oct 2019    08:00 WIB
Manjakan Si kecil dengan Teknik Pijat 'I Love You'
Pijat menjadi salah satu obat mujarab untuk menghilangkan pegal-pegal di tubuh. Tak hanya orang dewasa, bayi pun sebenarnya sesekali perlu dipijat untuk menghilangkan rasa pegal di badan. Saat ini pijat bayi sangat digemari karena terbukti membuat bayi lebih sehat, tidak rewel, dan tidur lebih nyenyak. Tak perlu repot mendatangkan terapis, Anda pun bisa memijat si kecil di rumah. Untuk memijat bayi di rumah, Anda bisa mempraktikkan teknik pijat 'I Love You' berikut ini: • Kaki Pijat telapak kaki dari arah tumit ke jari kaki. remas jari satu per satu. Pijat punggung kaki, mulai dari mata kaki sampai jari kaki • Paha dan betis Pegang kedua paha bayi dengan kedua tangan. Putar dari dalam ke luar sambil bergerak turun menuju betis. Kembali ke atas dengan gerakan yang sama. • Dada Telapak tangan terbuka ke tengah dada bayi, lalu geser menyilang ke kanan atas. Kemudian, kembali ke tengah, ke kiri atas, kembali ke tengah, kiri atas, kembali ke tengah, kanan bawah, dan kembali ke tengah. • Perut Gunakan dua atau tiga jari dan gerakkan dengan membentuk huruf I-L-U dari arah bayi (bila dari posisi kita membentuk hurug I-L-U terbalik). urut bagian kiri bayi dari bawah iga ke bawah (huruf I) urut melintang dari kanan bayi ke kiri bayi, kemudian turun ke bawah (huruf L) urut dari kanan bawah bayi, naik ke kanan atas bayi, melengkung membentuk huruf U dan turun lagi ke kiri bayi. Semua geerakan berakhir di perut kiri bayi. • Tangan pijat dari pangkal lengan, lalu turun ke tangan, kemudian kembali memijat dari tangan ke pangkal lengan. • Wajah Angkat bagian belakang kepalanya dengan kedua tangan Anda dan usap-usap kulit kepalanya dengan ujung jari Anda. Gosok-gosok daun telingannya dan usap-usap alis matanya, kedua kelopak matanya yang tertutup, dan mulai dari puncak tulang hidungnnya menyeberang ke kedua pipinya. Pijat dagunya dengan membuat lingkaran-lingkaran kecil. Menurut penelitian bayi prematur yang dipijat beratnya akan naik secara signifikan dibanding dengan bayi yang tidak dipijat. Lebih lanjut, berikut ini manfaat pijat untuk bayi: Meningkatkan berat badan. Pijat bayi bisa melancarakan pencernaan, jadi bayi mudah lapar dan otomatis meningkatkan berat badan. Selain itu, untuk ibu menyusui,secara tidak langsung juga bisa melancarkan ASI.  Jika sang ibu yang memijat, secara tidak langsung akan membangun kedekatan antara ibu dan anak. Membantu mengurangi gejala kembung dan kolik (menangis berlebihan) sehingga bayi akan tidur lebih nyenyak Meningkatkan konsentrasi bayi sebab ketika ia nyenyak tertidur usai dipijat, saat terbangun ia dalam keadaan konsentrasi penuh. Meningkatkan hormon oksitosin. Hormon oksitosin dikenal juga sebagai hormone cinta. Hormone ini menimbulkan rasa nyaman dan kasih saying, sehingga menimbulkan ikatan psikologis yang kuat antara ibu dan bayi Menurunkan hormone kortisol. Hormone kortisol menyebabkan stress. Dengan turunnya hormon kortisol bayi menjadi lebih ceria dan tidak suka menangis. Memijat secara teratur memberikan manfaat mempengaruhi rangsangan syaraf dan kulit dan memproduksi hormone yang berpengaruh dalam menaikkan berat badan. Bila Anda ingin mencoba melakukan pijat bayi pada si kecil, ada beberapa persiapan yang bisa anda lakukan, yaitu : - Pijat bayi pada pagi dan sore hari - Lakukan sebelum waktu tidur - Tunggu paling tidak 30 menit setelah menyusui si kecil sebelum memijat bayi - Gunakan baby oil yang lembut dan sesuai dengan kulit bayi - Saat memijat, putarkan musik yang menenangkan dan redupkan lampu ruangan - Untuk mempererat ikatan dengan si kecil, jaga kontak mata dengan bayi dan bicaralah dengan suara yang menenangkan - Pijat bayi dengan lembut sambil perhatikan ekspresi si kecil untuk melihat cara memijat yang dia sukai 
 12 Sep 2019    16:00 WIB
Penyebab Biang Keringat Pada Bayi dan Cara Mengatasinya
Biang keringat (disebut juga keringat buntet) adalah ruam bintik merah atau pink yang muncul di atas kepala bayi, leher, bahu dan bagian tubuh yang tertutup pakaian, disertai gatal, kulit kemerahan dan gelembung air kecil-kecil. Bintik terlihat seperti jerawat kecil.  Karena penyebab terjadinya biang keringat adalah tersumbatnya kelenjar keringat. Dimana fungsi kelenjar keringat pada bayi belum sempurna seperti pada orang dewasa, makanya kita lebih sering menemukan biang keringat ini pada kulit bayi. Kulit memerah dan rasa gatal yang tak tertahan, membuat bayi rewel. Segera atasi biang keringat pada bayi dan cegah sebisa mungkin. Penyebab Biang Keringat: Ventilasi ruangan kurang baik sehingga udara di dalam ruangan panas atau lembab Pakaian bayi terlalu tebal dan ketat, pakaian yang tebal dan ketat menyebabkan suhu tubuh bayi meningkat. Bayi mengalami panas atau demam. Bayi terlalu banyak beraktivitas sehingga banyak mengeluarkan keringat Pencegahan: Bayi atau anak tetap dianjurkan mandi secara teratur paling sedikit 2 kali sehari menggunakan air dingin dan sabun. Bila berkeringat, sesering mungkin dibasuh dengan menggunakan handuk (lap) basah, kemudian dikeringkan dengan handuk atau kain yang lembut. Setelah itu dapat diberikan bedak tabur. Jangan sekali-kali memberikan bedak tanpa membasuh keringat terlebih dahulu, karena akan memperparah penyumbatan sehingga mempermudah terjadinya infeksi baik oleh jamur maupun bakteri. Hindari penggunaan pakaian tebal, bahan nilon, atau wol yang tidak menyerap keringat Tidak mengoleskan baby oil, baby lotion atau baby cream pada sekujur tubuhnya sepanjang waktu. Gunakanlah produk tersebut sesuai kebutuhan, misalnya jka kulit bayi tampak kering.  Kulit yang kering lebih akan menghambat keluarnya keringat dan memudahkan terjadinya infeksi bakteri Pengobatan: Sebenarnya pengobatan khusus tidak diperlukan, cukup pencegahan dan perawatan kulit yang benar. Bila biang keringat berupa gelembung kecil tidak disertai berupa gelembung kecil tidak disertai kemerahan, kering dan tanpa keluhan dapat diberi bedak setelah mandi. Bila kelainan kulit membasah tidak boleh ditaburkan bedak, karena akan terbentuk gumpalan yang memperparah sumbatan kelenjar sehingga menjadi tempat pertumbuhan kuman. Bila keluhan sangat gatal, luka dan lecet dapat diatasi dengan pemberian antibiotik. Sumber: webmd
 06 Sep 2019    08:00 WIB
Kapan Anda Harus Menghubungi Dokter Saat Anak Anda Flu?
Untuk Anda yang memiliki bayi, mungkin seringkali bayi Anda mengalami pilek atau flu. Pilek memang bukanlah suatu penyakit yang berbahaya. Namun Anda harus waspada apabila terjadi tanda-tanda di bawah ini, maka Anda harus mulai menghubungi dokter Anda: Apabila bayi Anda berusia di bawah 3 bulan. Anda harus menghubungi dokter apabila bayi Anda mengalami demam tinggi melebihi 100,4 derajat Fahrenheit (38 derajat Celsius)  yang diukur melalui dubur Apabila bayi Anda berusia di antara 3 sampai 6 bulan, maka Anda harus menghubungi dokter saat bayi Anda mengalami demam mencapai 101 derajat Fahrenheit (38,3 derajat Celsius) Apabila bayi Anda berusia diatas usia 6 bulan, maka Anda harus menghubungi dokter saat bayi Anda mengalami demam mencapai 103 derajat Fahrenheit (39,4 derajat C) Tidak peduli berapapun usia bayi Anda, hubungi dokter apabila Anda melihat salah satu dari gejala berikut:  Setiap demam yang berlangsung lebih dari dua hari.  Batuk yang memburuk, napas cepat (lebih dari 60 napas menit), mengi, atau terengah-engah. Gejala ini bisa menjadi tanda pneumonia atau respiratory syncytial virus (RSV), penyakit pernafasan yang relatif umum terjadi tetapi berpotensi serius pada bayi di bawah usia satu tahun. Menarik atau menggosok telinganya, menangis saat menyusui atau selama makan, atau menangis ketika sedang ditidurkan. Semua hal ini menunjukkan kemungkinan terjadinya  infeksi telinga.  Mata berair kemungkinan ini salah satu tanda terkena penyakit mata yang menular.  Anak terlalu rewel, kantuk yang tidak biasa, atau perubahan signifikan dalam pola makan atau tidur.   Sumber: babycenter
 19 Jul 2019    11:00 WIB
Kenali Perkembangan Penglihatan Pada Anak
Kemampuan penglihatan normal pada anak mulai dari bayi tidak sama dengan kemampuan penglihatan normal pada orang dewasa. Untuk mencapai penglihatan normal perlu adanya perkembangan penglihatan. Berikut ini adalah perkembangan penglihatan pada anak: Pada saat dilahirkan Bayi sudah dapat melihat walaupun belum dapat melihat secara jelas seperti layaknya orang dewasa. Bayi yang baru saja lahir dapat melihat benda-benda yang besar dan wajah tetapi belum dapat melihat secara rinci. Karena wajah mempunyai daya tarik visual yang kuat. Bayi belum dapat membedakan warna-warna pastel maupun variasi-variasi lainnya yang halus dikarenakan sistem penglihatan yang belum sempurna.  Bayi sudah dapat melihat warna-warna yang terang dan kuat dalam pola kontras antara terang dan gelap.   Penglihatan bayi usia 3-4 bulan Perkembangan penglihatan pada bayi sangatlah pesat pada tahun pertama. Penglihatan biasanya berkembang secara cepat sehingga pada usia 3 hingga 4 bulan Kebanyakan bayi dapat melihat benda-benda kecil Beberapa bayi dapat membedakan berbagai macam warna (terutama warna merah dan hijau) pada usia ini Bayi sudah dapat memfokuskan penglihatan mereka pada benda-benda yang dekat maupun jauh dan dapat membedakan antara wajah manusia asli dan gambar.    Penglihatan bayi usia 4 bulan Kedua mata pada bayi sudah dapat bekerja sama secara baik sehingga dapat memberikan persepsi kedalaman atau penglihatan binokular   Penglihatan bayi usia 12 bulan Penglihatan anak sudah mencapai tingkat penglihatan pada orang dewasa normal.    Perkembangan penglihatan pada bayi tidak selalu mengikuti tahap yang persis sama pada setiap bayi, tapi paling tidak mengikuti pola perkembangan yang sama secara keseluruhan. Dikarenakan perkembangan yang pesat pada tahun pertama, deteksi dini pada masalah penglihatan sangatlah penting adanya sehingga kerusakan permanen pada mata dapat dihindari.
 12 Jul 2019    11:00 WIB
5 Manfaat Tidur Bersama Dengan Bayi Anda
Walaupun berbagai berita di media massa tidak menganjurkan para ibu untuk tidur bersama dengan bayinya karena banyaknya kasus kematian bayi akibat tertindih, akan tetapi berbagai penelitian menemukan beberapa manfaat yang dapat diperoleh dengan tidur bersama anak Anda. Beberapa manfaat tidur bersama dengan bayi Anda adalah meningkatkan rasa percaya diri pada anak, menurunkan resiko terjadinya gangguan perilaku, lebih jarang mengalami "bullying", dan merasa lebih bahagia serta puas dalam kehidupan.   1.      Mendorong Anak Menjadi Lebih Mandiri Banyak orang beranggapan bahwa membiarkan bayi tidur bersama ibunya akan membuat anak menjadi manja dan tidak dapat hidup mandiri; akan tetapi penelitian justru menemukan hal yang sebaliknya. Anak yang tidur bersama dengan orang tuanya justru dapat hidup mandiri lebih cepat.   2.      Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak yang sering tidur bersama orang tuanya biasanya juga memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi, lebih jarang mengalami gangguan perilaku, lebih jarang mengalami "bullying", dan merasa lebih bahagia serta puas dalam kehidupannya. Mereka lebih jarang mengalami gangguan stress bila dibandingkan dengan anak yang jarang atau tidak pernah tidur bersama dengan orang tuanya.   3.      Meningkatkan Kesehatan Fisik dan Mental Selain mengalami berbagai manfaat psikologikal, bayi yang tidur bersama dengan orang tuanya tampaknya juga dapat tumbuh secara maksimal, baik dalam hal emosional, fisik, dan intelektual.   4.      Menurunkan Resiko Stress dan SIDS Pada sebuah penelitian di Amerika, para peneliti menemukan bahwa para bayi yang tidur sendirian memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami SIDS (sudden infant death syndrome) dan gangguan stress. Kedekatan antara ibu dan anak ini tampaknya turut mempengaruhi pernapasan bayi, pola tidur bayi, denyut jantung bayi, dan suhu tubuh bayi. Bayi yang ditinggal sendirian dan menangis akan mengalami peningkatan kadar hormon stress, kortisol, yang dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan otak bayi. Keadaan ini akan membuat bayi menjadi lebih rentan terhadap stress dan berbagai penyakit, termasuk berbagai jenis gangguan mental; serta membuat bayi lebih sulit sembuh dari berbagai penyakit.   5.      Mendekatkan Hubungan Ibu dan Anak Anak yang sering tidur bersama dengan orang tuanya cenderung memiliki hubungan yang lebih dekat dengan keluarganya dan merasa lebih bahagia dibandingkan dengan anak yang biasa tidur sendirian.   Sumber: sheknows
 08 Jun 2019    08:00 WIB
4 Alasan Mengapa Tidak Harus Berikan iPad Untuk Balita
Pada saat Anda memutuskan untuk memiliki anak, ada berbagai topik yang dapat Anda bicarakan dengan pasangan Anda yaitu mengenai cara membesarkan anak. Salah satu topik penting yang harus Anda bicarakan adalah apakah anak harus diberikan iPad sejak dini. Meskipun iPad, tablet, ponsel pintar memiliki beberapa aplikasi untuk anak seperti belajar tentang huruf, warna, angka, hewan dll. Namun Anda juga dapat mengajarkan hal tersebut tanpa aplikasi tersebut kan? Berikut adalah alasan mengapa Anda tidak harus memberikan iPad untuk Balita Anda: 1.      Teknologi dapat menunggu Sebuah penelitian mengatakan bahwa saat masih di dalam kandungan sampai anak berusia tiga tahun, merupakan saat keemasan untuk otak anak Anda berkembang. Apabila Anda memberikan Tab dibawah usia tiga tahun hal ini akan mengganggu perkembangan otak anak Anda. 2.      Mengganggu kesehatan anak Melihat layar tab terlalu lama akan mempengaruhi perkembangan psikologis anak, selain itu menyebabkan belajar bahasa yang terlambat, gangguan motorik dan koordinasi antara tangan dengan mata. 3.      Perubahan perilaku Bayi Anda akan cepat belajar, bahwa jika dia marah-marah dan menangis dia akan mendapatkan iPad. Perilaku ini dalam jangka panjang, akan membuat mereka menjadi sangat bersikeras dan keras kepala. 4.      Pendidikan dini tidak harus melalui media digital Meskipun ada banyak aplikasi yang tak terhitung banyaknya untuk membantu bayi Anda belajar alfabet, angka, warna, hewan dll, namun mengajarkan secara langsung merupakan cara yang baik. Sumber: momjunction