Your browser does not support JavaScript!
 10 Jun 2018    18:00 WIB
8 Tips Mengatasi Batuk di Malam Hari
Batuk di malam hari dapat mengganggu tidur Anda. Jadi bagaimana cara menenangkan batuk dan tenggorokan gatal yang mengganggu tidur Anda? berikut adalah berbagai cara menenangkan rasa gatal di tenggorokan Anda.    •    Minum teh herbal dengan maduMulailah kebiasaan mengkonsumsi secangkir teh non-kafein sebelum pergi tidur. Semua jenis minuman hangat dapat memecah dahak di saluran nafas Anda.    •    Tidur dengan posisi kepala lebih tinggiKetika batuk terjadi di malam hari, maka gravitasi adalah musuh Anda. Semua dahak dan post nasal drip masuk kembali ke dalam saluran nafas Anda dan membuat tenggorokan Anda terganggu saat Anda tertidur. Cobalah melawan gravitasi dengan menambahkan  bantal ketika Anda tidur.    •    Gunakan uapUdara yang kering dapat membuat batuk Anda semakin memburuk. Anda mungkin dapat melegakan sedikit pernafasan Anda saat mandi sebelum tidur atau hanya duduk di kamar mandi yang beruap. Peringatan untuk Anda yang menderita asma, uap air dapat memperburuk batuk Anda .    •    Perhatikan kelembaban lingkunganHumidifier dapat membantu melegakan batuk saat udara terasa kering. Tetapi jika ruangan Anda terlalu lembab juga dapat membuat batuk Anda semakin hebat. Debu dan tungau yang merupakan pemicu alergi dapat terperangkap di udara yang lembab. Anda harus menjaga kelembaban udara berkisar antara 40%-50%. Untuk mengukur tingkat kelembaban udara Anda bisa gunakan alat bernama hygrometer yang tidak terlalu mahal.    •    Persiapkan segala sesuatu di samping tempat tidur AndaUntuk berjaga-jaga jika batuk menyerang Anda di malam hari, maka Anda harus menyiapkan segala sesuatu yang bisa menolong meredakan batuk di samping tempat tidur, misalnya saja air putih, obat batuk dan segala sesuatu yang bisa membantu. Semakin cepat Anda bisa mengatasi batuk, semakin lama waktu yang bisa Anda pakai untuk beristirahat.    •    Menjaga tempat tidur tetap bersihJika Anda batuk dan memiliki kecenderungan alergi, fokuslah pada kebersihan tempat tidur Anda. debu dan tungau yang mungkin ada di kasur dapat memicu munculnya alergi, segera singkirkan hal tersebut supaya batuk Anda berhenti dengan cepat    •    Pertimbangkan obat-obatanObat anti batuk dapat membantu Anda menghilangkan batuk dengan dua cara. Obat batuk jenis ekspektoran dapat membantu menghilangkan dahak dan obat batuk jenis penekan refleks batuk. Tanyakan kepada dokter atau farmasi Anda jenis obat apa yang baik untuk Anda.    •    Temui dokter AndaJika Anda mengalami batuk di malam hari lebih dari 7 hari, maka ini waktunya untuk Anda berkonsultasi dengan dokter. Juga jangan lupa mengambil waktu untuk beristirahat. Dokter Anda akan membantu menemukan penyebab dari batuk Anda dan bagaimana penanganan yang paling tepat.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter Kami di fitur Tanya dokter sekarang   Baca juga: Atasi dengan obat batuk ini. Sumber: webmd
 25 Nov 2017    19:00 WIB
Tips Untuk Meredakan Batuk di Malam Hari
Jika batuk membuat Anda terus terbangun di malam hari, maka hal ini dapat membuat tidur Anda kurang nyenyak dan terganggu. Di bawah ini terdapat 5 hal yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi batuk yang mengganggu tidur Anda di malam hari.    1. Ubah Posisi Tidur Anda Meninggikan sandaran kepala Anda dengan menggunakan 1 atau 2 buah bantal dapat membantu meredakan batuk Anda cukup lama sehingga Anda dapat kembali tertidur.    2. Minum Teh Mengkonsumsi teh panas atau hangat dapat membantu meredakan batuk. Anda dapat mengkombinasikan teh dengan sari buah lemon dan madu untuk membantu meredakan batuk Anda.    3. Hindari Paparan Angin Secara Langsung Jika angin dari pendingin ruangan atau kipas angin Anda langsung mengenai wajah Anda saat tidur, maka pastikan Anda segera mengubahnya karena hal ini dapat memperburuk batuk yang Anda alami.    4. Gunakan Humidifier (Pelembab Ruangan) Alat ini dapat membuat udara di kamar tidur Anda menjadi lebih lembab dan membantu meredakan batuk Anda. Akan tetapi, pastikan Anda selalu membersihkan alat humidifier ini agar tidak ada lumut yang tumbuh di dalamnya serta pastikan Anda selalu mengganti air yang terdapat di dalam alat ini secara teratur.    5. Konsumsi Lozenge Lozenge atau permen pereda gatal di tenggorokan yang banyak dijual bebas di pasaran juga dapat membantu meredakan batuk cukup lama sehingga Anda pun dapat kembali tertidur.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: webmd
 25 Nov 2017    13:00 WIB
Berbagai Pengobatan Untuk Batuk
Pengobatan batuk tergantung dari tingkat keparahan batuk tersebut dan penyebab awalnya.   Pengobatan batuk akutPengobatan batuk akut ditujukan langsung untuk menurunkan kuantitas batuk sebagai tambahan dari mengobati penyebab awalnya.•  Pengobatan simptomatik dari batuk dapat dilakukan melalui pemberian obat batuk, baik yang bisa dibeli bebas atau yang dengan resep dokter.•  Jika dicurigai adanya infeksi bakteri, maka dokter seringkali akan memberikan obat antibiotika. Jika dicurigai penyebabnya adalah virus, maka pasien tidak akan mendapatkan manfaat dari pemberian antibiotika tersebut dan akan diberikan pengobatan yang ditujukan untuk mengatasi gejalanya saja.•  Pada pasien lanjut usia, pasien dengan infeksi bakteri/virus yang parah, dan pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah mungkin membutuhkan rawat inap di rumah sakit untuk mengatasi penyebab masalahnya.   Pengobatan batuk kronisPengobatan batuk kronis juga ditujukan untuk mengatasi kondisi dasarnya. Sangat penting untuk mengetahui bahwa pengobatan yang dijalani mungkin sulit untuk dilakukan dan dapat membutuhkan beberapa pendekatan yang berbeda, serta mungkin juga tidak dapat menghilangkan batuk secara keseluruhan.•  Jika pasien mengalami batuk yang disebabkan oleh asap rokok, alergi atau bahan iritan dari lingkungan, maka batuk dapat diatasi dengan menghilangkan hal-hal tersebut. Mungkin diperlukan waktu beberapa minggu bagi dokter untuk dapat menilai respon dari pendekatan tersebut karena dibutuhkan waktu tertentu untuk memperbaiki kerusakan paru-paru dan saluran pernafasan akibat terkena bahan iritan.•  Jika pasien memiliki penyakit paru-paru, maka ia akan membutuhkan terapi yang terus menerus untuk mengatasi kondisinya tersebut. Terapi yang diberikan tergantung dari jenis penyakitnya. Kepatuhan terhadap pengobatan yang dilakukan sangat penting untuk membantu memperlambat perkembangan penyakit dan untuk mengurangi gejala penyakit tersebut. Pada kasus dimana pengobatan dirumah gagal dilakukan dan gejala semakin memburuk, maka pasien perlu untuk mendapatkan rawat inap supaya terapi tambahan atau terapi lain yang lebih intensif dapat dilakukan.•  Jika batuk dicurigai disebabkan oleh pemberian obat tertentu, maka pasien akan menunjukkan perbaikan bila obat tersebut dihentikan. Untuk itu, dibutuhkan waktu beberapa minggu sampai batuk benar-benar berhenti. Kemudian obat yang dihentikan tersebut dapat diganti dengan obat lainnya.•  Jika batuk dicurigai terjadi akibat reflux gastroesofageal, maka diperlukan terapi untuk menurunkan tingkat keasaman lambung. Hal ini biasanya dapat dilakukan dengan mengubah pola makan dan memberikan obat-obatan. Keberhasilan terapi mungkin membutuhkan waktu tertentu dan pemberian terapi yang berbeda.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: merckmanual
 25 Nov 2017    08:00 WIB
Menderita Flu dan Batuk? Jangan Lakukan Hal Berikut Ini!
Beberapa kebiasaan di bawah ini dapat membuat flu dan batuk Anda semakin memburuk. Oleh karena itu, pastikan Anda mulai menghentikan berbagai kebiasaan buruk berikut ini saat Anda mulai mengalami berbagai gejala flu dan batuk.   1. Merokok Merokok dan menjadi seorang perokok pasif dapat meningkatkan resiko terjadinya infeksi saluran pernapasan dan membuat gejala flu atau batuk yang Anda alami semakin memburuk. Oleh karena itu, pastikan Anda menghentikan kebiasaan merokok Anda selama sakit, atau bahkan selamanya.   2. Stress Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa stress akan membuat Anda lebih mudah terkena infeksi berbagai jenis virus flu dan memperburuk gejala flu dan batuk saat Anda sakit. Selain itu, stress juga dapat mengganggu tidur Anda.   3. Tidak Membersihkan Tangan Dengan Sabun Bila memungkinkan cucilah tangan Anda dengan sabun daripada menggunakan hand sanitizers karena sabun dapat membunuh kuman dengan lebih baik.   4. Terlalu Bergantung Pada Obat-obatan Jika obat dekongestan yang disemprotkan langsung ke hidung digunakan lebih dari beberapa hari, maka obat ini pun akan kehilangan efeknya dan justru membuat hidung Anda menjadi lebih mampet. Oleh karena itu, pastikan Anda menggunakan obat sesuai dengan petunjuk penggunaan obat tersebut.   5. Mengkonsumsi Minuman Berkafein Walaupun akan terasa sangat menggoda untuk mengkonsumsi kopi saat Anda merasa lelah atau mengantuk, akan tetapi pastikan Anda menghindari minuman berkafein tersebut karena dapat membuat Anda mengalami dehidrasi, termasuk minuman beralkohol.   6. Makan Tidak Teratur dan Kurang Minum Saat sakit, nafsu makan Anda mungkin akan ikut terpengaruh, di mana Anda menjadi tidak nafsu makan dan malas minum. Akan tetapi, saat sakit justru merupakan saat-saat di mana tubuh Anda membutuhkan cairan lebih banyak, terutama bila Anda juga mengalami demam.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: webmd
 23 Nov 2017    12:30 WIB
6 Hal yang Akan Membuat Flu Anda Semakin Menjadi Parah
Semua orang pasti pernah mengalaminya, flu yang sangat berat hingga membuat kesulitan bernapas, hidung meler lalu tersumbat, nyeri sendi, dan batuk. Akan tetapi, bila flu Anda tidak juga sembuh setelah berminggu-minggu, maka hal ini mungkin dikarenakan Anda sendirilah yang menyebabkan kekebalan tubuh Anda tidak dapat bekerja dengan baik. di bawah ini Anda dapat melihat beberapa hal yang akan membuat flu berat Anda menjadi semakin berat.   Mengabaikan Gejala Anda Pada awalnya gejala mungkin tidak terlalu berat, akan tetapi bila Anda mengabaikannya dan tidak beristirahat dengan cukup, maka Anda pun akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sembuh. Selain itu, Anda sangat mudah menularkan virus flu Anda pada orang lain saat gejala baru saja mulai bermunculan. Oleh karena itu, pastikan Anda beristirahat dengan cukup sehingga Anda pun bisa lebih cepat sembuh.   Kurang Minum Air Putih Saat Anda menderita flu, menjaga tubuh Anda tetap terhidrasi merupakan hal yang sangat penting. Jika Anda tidak suka minum air putih, Anda dapat mengkonsumsih teh yang tidak mengandung kafein untuk membantu meredakan nyeri tenggorokan dan mengatasi hidung tersumbat. Air panas dengan lemon juga dapat menjadi pilihan lainnya. Jika nafsu makan Anda berkurang karena sakit flu, cobalah mengkonsumsi sup kaldu atau sup ayam untuk membantu mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi yang Anda perlukan. Pastikan juga Anda tidak mengkonsumsi kopi di pagi hari karena akan membuat Anda mengalami dehidrasi.   Kurang Tidur Saat menderita flu, salah satu obat yang paling efektif adalah banyak beristirahat. Tidur dapat membantu tubuh Anda melawan infeksi, jadi saat Anda kurang tidur, maka kemampuan tubuh Anda untuk melawan berbagai infeksi juga akan menurun. Jika Anda hanya tidur selama 5-6 jam setiap harinya, ada baiknya bila Anda menambahkan waktu tidur Anda selama beberapa jam. Dianjurkan untuk tidur setidaknya selama 7-9 jam setiap malamnya. Bila Anda sulit tidur karena hidung tersumbat, maka posisikanlah kepala Anda menjadi lebih tinggi, misalnya dengan menggunakan 2 bantal. Mengkonsumsi teh chamomile dengan madu juga dapat membantu meredakan nyeri tenggorokan dan membuat Anda tidur lebih nyenyak.   Tetap Mengkonsumsi Minuman Beralkohol Banyak orang mengira karena alkohol dapat membunuh kuman, maka minum alkohol saat sakit dapat membantu membunuh kuman. Akan tetapi, ini merupakan anggapan yang salah. Untuk memperoleh efek ini (membunuh kuman), kadar alkohol di dalam tubuh Anda harus mencapai lebih dari 60%, yang akan membunuh Anda juga. Pada kenyataannya, minum alkohol justru dapat menurunkan daya tahan tubuh Anda saat Anda sedang sakit. Hal ini dikarenakan tubuh Anda menganggap alkohol sebagai racun sehingga alkohol akan dimetabolisme pertama kali dan tubuh hanya dapat memetabolisme sekitar 30 ml alkohol setiap jamnya. Jadi saat Anda mengkonsumsi alkohol, tubuh Anda harus melawan infeksi dan memetabolisme alkohol pada waktu yang sama, yang akan membuat proses penyembuhan Anda berjalan lebih lambat. Oleh karena itu, hindarilah minuman beralkohol saat Anda sedang sakit.   Tetap Berolahraga Saat Anda sedang menderita flu berat, berolahraga terlalu banyak justru dapat membuat gejala Anda semakin memburuk. Oleh karena itu, dianjurkan agar Anda mengurangi olahraga Anda sebanyak 50% atau berhentilah berolahraga selama beberapa hari. Berolahraga juga tidak akan membuat demam Anda menurun atau mengurangi rasa lelah yang Anda rasakan. Jika Anda tidak bisa tidak berolahraga walaupun hanya 2-3 hari, maka Anda dapat berjalan kaki selama 20 menit. Hal ini dapat membantu mengatasi hidung Anda yang tersumbat. Selain berjalan kaki, yoga juga sangat dianjurkan karena beberapa pose yoga cukup bermanfaat bila Anda sedang sakit.   Baca juga: 8 Makanan dan Minuman yang Sebaiknya Anda Konsumsi Saat Flu   Terlalu Sering Menggunakan Obat Semprot Hidung Saat obat flu dan batuk yang Anda konsumsi tampaknya tidak efektif, maka Anda mungkin akan beralih pada obat semprot hidung untuk mengatasi hidung tersumbat. Akan tetapi, bila Anda menggunakannya secara berlebihan, maka obat ini justru akan memperburuk gejala Anda. Dan karena flu disebabkan oleh infeksi virus, maka penggunaan antibiotik tidak dapat membantu mengatasi gejala Anda.   Lalu Apa Cara Terbaik Untuk Mengatasi Flu dan Batuk? Cara terbaik adalah mencegah Anda terinfeksi sejak awal. Mencuci tangan selama 20 detik dengan menggunakan sabun antibakteri merupakan salah satu cara terbaik untuk melindungi diri Anda dari flu. Selain itu, jauhilah teman atau anggota keluarga Anda yang sedang menderita flu. Mengkonsumsi makanan bergizi juga dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Jadi, jangan lupa untuk menambahkan ikan, telur, yogurt, dan daging tanpa lemak pada menu makanan Anda.   Ingin tahu informasi lebih lanjut mengenai topik ini? Tanya langsung ke dokter kami di fitur Tanya dokter sekarang.   Sumber: cheatsheet
 13 Jan 2014    11:00 WIB
Dilema Seorang Dokter, antara Pemilihan Antibiotik dengan Kondisi Ekonomi Pasien
Infeksi bakteri sering menyulitkan klinisi, terutama dalam pemilihan obat terbaik yang bisa mencapai tingkat kesembuhan tinggi. Dalam praktek klinis, baik ditempat praktek swasta dokter maupun di rumah sakit, antibiotik diberikan sebagai profilaksis, pre-emptif, terapi empirik maupun terapi definitif. Sebagian besar terapi antibiotik dilakukan sebagai terapi empirik, karena biasanya pasien datang ke tempat praktek swasta dokter maupun ke rumah sakit sudah dengan kondisi infeksi namun belum diketahui hasil mikrobiologinya (mikroba patogen atau kolonisasi). Dalam terapi empirik, antibiotik yang diberikan adalah antibiotik spektrum luas, dengan memperhatikan 3 hal yaitu, patogen yang diperkirakan menyebabkan infeksi, pola resistensi dan penyebaran patogen di rumah sakit (lokal) dan faktor-faktor resiko yang ada pada pasien, termasuk resiko resistensi. Sayangnya tidak semua rumah sakit memiliki data tentang pola penyebaran patogen lokal maupun data tentang resistensi. Pun tidak semua dokter mengetahui peta kuman di sekitarnya dan kondisi imun pasien. Sebagai ilustrasi kasus, pasien laki-laki dewasa, perokok berat,tidak mau makan antibiotik, karena alasannya demam dan batuk-batuk yang di alaminya hanya keletihan dan virus influenza saja. Namun pada hari ke-6, pasien tersebut mengalami sesak nafas yang hebat, sedangkan demam dan batuk tak kunjung reda. Saat dibawa ke praktek swasta, dokter menyarankan agar segera dilarikan ke rumah sakit. Pasien tersebut diketahui menderita pneumonia (CAP). Sampai disini, Panduan antibiotik menurut ATS maupun IDSA untuk terapi antibiotik pasien CAP dengan late onset > 5 hari sudah memiliki resiko mikroba patogen yang resisten (MDR) dan karenanya harus diberikan antibiotik spektruk luas untuk patogen MDR. Untuk terapi CAP dengan late onset > 5 hari, biasanya diberikan kombinasi antibiotik. Untuk bakteri MDR, biasanya ulah dari mikroba cocci Gram positif maupun MRSA (meticilin resistens Staphylococcus aureus). Pilihannya adalah vancomycin atau linezolid. Karena ada studinya dan sesuai dengan panduan internasional (ATS, IDSA), bahwa pemberian baik vancomycin atau linezolid menunjukkan efikasi yang tinggi dan angka kesembuhan lebih baik dibandingkan dengan antibiotik golongan lainnya. Kembali sama pasien diatas, setelah kita jelaskan sama keluarga dan pasiennya sendiri, bahwa kita akan memberikan antibiotik vancomycin, namun kendalanya adalah harga obat yang mahal, sehingga baik keluarga dan pasien sendiri menolak diberikan antibiotik vancomycin dan meminta agar diberikan obat antibiotik yang murah dan setara dengan vancomycin. Sebagai dokter yang merawat, sudah barang tentu, hal ini menjadi dilematis, oleh karena tidak ada antibiotik yang murah tapi kekuatannya setara dengan pilihan vancomycin. Bila pasien menggunakan asuransi ASKES sebenarnya vancomycin sudah tersedia namun sayangnya regulasi dan peraturan dari ASKES bahwa harus ada kultur darah yang mendukung pemberian Vancomycin, sedangkan kita ketahui hasil kultur darah bisa menunggu 7 hari, apakah bijaksana membiarkan pasien tidak mendapat antibiotik hanya karena menunggu dulu hasil kutur selama 1 minggu ? Akhirnya setelah berpikir panjang, diputuskan antibiotik yang akan diberikan adalah cefotaxim generik. Lalu setelah pasien merasa pulih dan sehat, akhirnya pulang pada hari ke-7.     Namun setelah 3 minggu pulang, pasien tersebut kembali lagi ke rumah sakit dengan kondisi infeksi yang berat, demam, batuk-batuk disertai sesak nafas dan nyeri dada. Setelah melalui proses pemeriksaan penunjang, maka diketahui bahwa pasien mengalami kembali pneumonia, bahkan sudah taraf keracunan kuman (sepsis). Akibatnya pasien tidak hanya mengalami kerusakan pada paru-paru, tapi juga menderita gagal organ lainnya seperti hati dan ginjal sebagai akibat komplikasi dari sepsis. Pelajaran dari pasien tersebut bahwa, setiap keputusan pemilihan antibiotik mempunyai dampak terhadap kondisi infeksi pasien. Terulangnya kembali penyakit pneumonia pada penderita tersebut tidak lain karena antibiotik yang dipilihnya sudah tidak sensitif lagi. Sehingga terjadilah proses resistensi antibiotik dan menyebabkan kambuhnya kembali pneumonia yang bahkan sangat berat (pneumonia toksik). Di sisi lain, sebagai dokter, untuk memutuskan antibiotik yang sesuai dengan kondisi infeksi pasien diatas dan harus berdasarkan panduan (ATS, IDSA), juga harus melihat kondisi ekonomi keluarga penderita yang tidak mampu membelinya. Dalam hal ini tinjauan farmakoekonomi sangat berperan, namun tidak semua pasien mengerti dan memahaminya. Ketidak fahaman pasien pun pada akhirnya menyebabkan biaya yang dikeluarkannya bertambah banyak akibat dari kambuhnya kembali penyakit tersebut. Biaya rawat inap, dan belum lagi biaya tambahan bagi keluarga yang menunggu pasien. Padahal sebagai dokter, telah kita berikan informasi kepada pasien dan keluarga bahwa untuk kondisi pneumonia dengan late onset > 5 hari punya resiko kekambuhan terulangnya pneumonia dan antibiotik yang tepat berdasarkan panduan internasional adalah vancomycin dengan angka kesembuhan saat ini masih 100%, dan itu berarti pasien tidak akan mengalami kekambuhan kembali pneumonianya kelak. Oleh sebab itu, melalui artikel ini, mari kita mulai berhitung, mana pilihan kita ? Antara biaya obat antibiotik mahal yang harus dikeluarkan pasien namun dampaknya masa rawat inap yang singkat serta tingkat kesembuhan 100% dibandingkan dengan biaya obat antibiotik yang murah, akan tetapi pasien mengalami kekambuhan kembali penyakitnya sehingga harus masuk rumah sakit lagi ? Belum lagi masa rawat inap nya lebih lama menambah pula biaya yang harus dikeluarkan oleh keluarga dan pasien tersebut. Apapun keputusannya, maka kita harus menerimanya, asalkan dengan pemahaman yang baik dan benar, bukan pada prasangka buruk yang selalu berakhir dengan kerugian yang besar.